Pengertian al-Qur’an

a. Dalam kitab Mabahits  fi Ulumil Qur’an karya Manna’ Kholil al-Qattan, secara bahasa al-Quran    berasal dari kata Qara’a (قرأ) yang berarti mengumpulkan, menghimpun, dan kata Qira’ah berarti menghimpun huruf – huruf dan kata – kata satu dengan yang lain dalam suatu ucapan yang tersusun rapih. Kata qira’ah merupakan masdar ( infinitif ) dari kata ara’a, ira’atan, dan qur’anan.

b. menurut Ulama Ushul Fikih/Bahasa, al-Quran adalah firman Allah yang mngandung mu’jizat dan ditturunkan kepada nabi Muhammad SAW dengan bahasa arab, yang dimulai dari suratal-fatihah dan ditutup dengan surat an-Nas, pahala bag yang membacanya dan dinukilkan secara mutawatir kepada generasi – generasi sesudah nabi.

Sedangkan menurut Ulama Ilmu Kalam al-Qur’an adalah kalam Allah yang bersifat qadim, bukan makhluk dan terbebas dari sifat – sifat kebendaan. Al-qur’an merupakan sifat qadim yang berhubungan dengan kalimat – kalimat azali dari awal surat al – Fatihah sampai surat  an – Nas

 

  1. 2.      al-Qur’an adalah otentik dan terjaga keasliannya sampai sekarang.

Al-Quran Al-Karim diturunkanselama 22 tahun atau tepatnya dua puluh dua tahun, dua bulan dan dua puluh dua hari. Faktor-faktor yang menunjukkan otentisitas Al-Qurandalam sejarah adalah

Read the rest of this entry

Kalimat Tauhid

Adalah sebuah pertanyaan yang menarik , tak banyak orang yang tahu secara detail tentang tarkib dari kalimah tauhid لا اله الا الله. Teman kami yang lebih suka menyebut sirinya dengan sebutan cah cilix’s mengajukan pertanyaan yang sederhana namun membingungkan juga, terbukti butuh beberapa hari untuk mejawab pertanyaan terebut. Telah kami cari dari di beberapa kitab nahwu dari al jurumiyah sampai alfiyah, bahkan dari kitab tauhid _kalau kalu ada, tinggal ngopy aja_ namun juga masih menyulitkan. _saya yang terlalu bodoh atau pertanyaannya memang sulit_ terbilang sulit Read the rest of this entry

Ikhlas BeramaL

IKHLAS

PENDAHULUAN

  1. Latar Belakang

Sesungguhnya yang ada dalam dunia ini semua adalah tanda-tanda kekuasaan Allah SWT. Tanda-tanda tersebut merupakan bukti kekeuasaan Allah yang paling jelas bahwa allah adalah zat yang agung lagi maha kuasa. Allah telah menjadikan semuanya terasa indah sehingga sesuai dengan pandangan mata. Semua terwujud begitu saja tanpa kita harus meminta terlebih dahulu kepada sang pencipta. Mata, tangan dan kaki yang merupakan anugerah dari sang pencipta tidak pernah kita sadari bahwa semua itu adalah bentuk dari nikmat yang tak terhingga. Dan Allah hanya menginginkan manusia utuk menjaganya dan untuk melakukan perbuatan yang baik terhadap yang makluk lainnya yang ada di bumi dan jngan sampai membuat kerusakan di bumi. Read the rest of this entry

METODOLOGI PENELITIAN TAFSIR JALALAIN

Prolog

Siapa yang tidak kenal dengan tafsir yang satu ini, ya, tafsir jalalain, namanya tidak lagi asing ditelinga khalayak umum, apalagi dikalangan instansi yang berbau agama, terlebih pesantren. Karena, dipesantren tafsir ini bisa dikatakan menu wajib yang yang harus santap para santri pesantren di seluruh indonesia, bahkan tidak terkecuali perguruan-perguruan tinggi diseluruh nusantara.[1]

Isinya yang begitu padat dan tidak terlalu bertele-tele serta pembahasannya yang bersifat global dianggap pas untuk dipelajari bagi para pemula, hususnya para satri.  Sehingga memberi pemahaman secara utuh dan tidak menjerumuskan para pembaca pada bahasan yang bertele-tele.  Maka tafsir ini sangat cocok untuk dipelajari untuk memahami secara global mengenai kandungan ayat-ayat Al-Qur’an.

 

PEMBAHASAN

METODOLOGI PENELITIAN TAFSIR JALALAIN

A. Tafsir Jalalain

Nama asli tafsir ini adalah Tafsil Al-Qur’anil Adzim sebagaimana yang tertera pada cover depan, dibawahnya disertakan dua pengarangnya, yakni Imama Jalaluddin Al-Mahally dan Imam Jalaluddin as-Suyuthi. Karena ada dua nama jalaludin pada pengarang tafsir ini, maka kata jalal di tatsniyahkan sehingga menjadi Jalalain, yang kemudian dijadikan nama populer untuk tafsir ini, tafsir Jalalain.[2] Read the rest of this entry

Iman dalam Lingkungan

BAB I

PENDAHULUAN

 Islam adalah rahmatalil’alamin, yang didalamnya mengandung ajaran cinta dan kasih sayang terhadap sesama. Semuanya itu telah dicontohkan oleh nabi Muhammad Saw lewat akhlaq mulia beliau.

Manusia merupakan makhluk sosial yang tidak mungkin bisa hidup sendiri. Manusia memerlukan orang lain dalam rangka memenuhin kebutuhan hidupnya. Karena tidak mungkin seoranng manusia bisa memenuhi kebutuhan hidupnya tanpa bantuan orang lain.

Tingkat keimanan seseorang dapat dilihat dari sejauh mana ia bisa merealisasikan dalam kehidupannya sehari-hari. Hal itu bisa terlihat dari bagaimana ia mencintai sesamanya, baik dalam bertutur kata, bergaul dengan tetangga, maupun dalam bagaimana ia menghadapi tamunya.

Dalam ajaran Islam, tetangga memiliki peran dan arti penting dalam kehidupan seorang Muslim. Islam mengajarkan, hak tetangga atas tetangga lainnya begitu agung.

 

Dalam makalah ini penulis mencoba membahas yang berkaitan dengan realisasi iman dalam kehidupan sosial.

 

 BAB II

PEMBAHASAN

 

  1. Cinta Sesama Muslim Sebagian dari Iman

وعن ان عمر رضى الله عنهما : أن رسول الله ص.م. قا ل : المسلم أخوالمسلم لايظلمه ولا يسلمه , من كا ن فى حاجة أخيه كا ن الله فى حssا جته , ومن فرج عن مسلم كربة فرج الله عنه بها كربة من كرب يوم القيامة , ومن ستر مسلما ستره الله يوم القيامة .(متفق عليه)                                                                                        

Dari Ibnu Umar ra., ia berkata : Rasulullah saw. Bersabda : “sesama muslim itu bersaudara. Karena itu, jangan menganiaya dan mendiamkannya. Siapa saja yang memperhatikan kepentingan saudaranya, maka Allah akan memperhatikan kepentingannya. Siapa saja yang melapangkan satu kesulitan terhadap sesama muslim, maka Allah akan melapangkan satu kesulitan dari beberapa kesulitan di hari kiamat. Dan siapa saja yang menutupi kejelekan orang lain, maka Allah akan menutupi kejelekannya di hari kiamat.” (HR. Bukhari dan Muslim)

 Ciri Seorang Muslim tidak Mengganggu Orang Lain

Salah satu ciri seorang muslim yang baik adalah orang lain akan selalu nyaman berada dekat dengannya. Karena mereka merasa aman dari gangguan tangan dan lisannya seperti sabda nabi berikut:

وعن عبد الله بن العا ص رضى الله عنهما عن النبى ص.م. قا ل : المسلم من سلم المسلمون من لسانه ويده , والمهاجر من هجر ما نهى الله عنه . (متفق عليه )

Dari Abdullah bin ‘Amr bin Al-‘Ash ra., dari Nabi saw., beliau bersabda : “Orang Islam adalah orang yang menjaga umat Islam lainnya selamat dari lisannya dan tangannya. Dan orang yang berhijrah adalah orang yang meninggalkan apa saja yang dilarang Allah.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Hadits diatas mempunyai dua kandungan pokok yaitu bagaimana seorang muslim membangun hubungan dengan muslim lainnya (hablum minan nas) yang harmonis dan membina aktivitas dalam membina bingkai ketaatan kepada tuhannya (hablum minallah).

Seseorang yang telah mengucapkan dua kalimat syahadat sudah termasuk muslim. Akan tetapi, untuk dikatakan sebagai muslim yang sebenarnya ia harus memiliki tingkah laku yang sesuai dengan syariat islam. Tanpa harus memilih ataupun membedakan syariat yang disukai atau tidak disukai olehnya.

Dari hadits diatas, kita mendapatkan sebuah pesan yang berorientasikan moral (moral oriented) bahwa muslim yang sebenarnya selain menjaga hubungan dengan sang Kholiq, tetapi ia juga akan selalu menjaga hubungannya dengan sesamanya.

Keimanan seseorang tidak  bisa dikatakan sempurna apabila ia hanya terpaku terhadap kewajibannya kapada Allah Swt, tetapi ia masih meremehkan hubungan dengan sesama manusia. Karena pada dasarnya ajaran islam tidak hanya beorientasi pada hubungan illahiyah saja, tetapi juga berorientasi pada hubungan insaniyah. Meskipun semuanya bermuara kepada ketaatan kepada Allah Swt. Oleh karena itu berperilaku baik kepada sesama manusia merupakan bagian dari ajaran islam yang tidak pantas bila diabaikan.

Seorang muslim yang baik tidak akan menyakiti orang lain. Adapun menyakiti orang lain itu bermacam-macam. Hadits diatas hanya menyebutkan dua anggota tubuh secara simbolik, yaitu tangan dan lisan. Karena dua anggota tubuh inilah yang paling banyak menyakiti orang lain.

Oleh sebab itu, seorang muslim sejati akan selalu menjaga orang lain agar tidak terdzalimi oleh keburukan lisannya maupun keburukan yang ditimbulkan oleh kedua tangannya. Dengan kata lain ia harus menjaga agar orang lain merasa nyaman hidup berdampingan dengannya.

Menyakiti orang lain dengan tangan, misalnya dengan memukulnya, merusak harta bendanya dan lain-lain. Adapun menyakiti orang lain dengan ucapan atau lisannya, misalnya dengan fitnah, cacian, umpatan, hinaan, dan lain-lain. Perasaan sakit yang disebabkan oleh ucapan lebih sulit dihilangkan dari pada sakit akibat pukulan fisik. Tidak jarang terjadinya perpecahan, perkelahian, bahkan peperangan di berbagai daerah akibat tidak dapat mengatur lisan sehingga menyebabkan orang lain sakit hati.

Oleh karena itu seseorang harus berhati-hati untuk tidak menyakiti orang lain, kapanpun, dimanapun, dan dengan cara apapun. Sebagaimana sabda Rasulullah Saw :

وعن أبى هريرة رضى الله عنه قا ل : قا ل رسول الله ص.م. : المسلم أخو المسلم لايخونه ولا يكذبه ولا يخذ له , كل المسلم على المسلم حرام : عرضه , وما ل, ودمه , التقوى ههنا , بحسب امرئ من الشر أن يحقر أخاه المسلم .

(رواه الترمذى)

Dari Abu Hurairah ra., ia berkata : Rasulullah saw. Bersabda :”sesama muslim, jangan menghianati, mendustai dan membiarkannya. Sesama muslim haram mengganggu kehormatan, harta dan darahnya. Taqwa itu ada di sini (sambil menunjuk dadanya). Seseorang cukup dianggap jahat apabila ia menghina saudaranya yang muslim.” (HR. Tirmidzi) 

Tidak mengganggu dan menyakiti orang lain adalah salah satu ciri keimanan seseorang.

 

  1. Realisasi Iman dalam  Menghadapi Tamu, Tetangga, dan Bertutur kata

وعن أ بى هريرة رضى الله عنه عن النبي ص.م. قا ل : من كان يؤمن بالله واليوم الاخر فليكرم ضيفه , ومن كا ن يؤمن با لله واليوم الاخر فليصل رحمه , ومن كا ن يؤمن با لله واليوم الاخر فليقل خيرا أو ليصمت , متفق عليه .

Dari Abu Hurairah ra., dari Nabi saw., beliau bersabda : “Siapa saja yang beriman kepada Allah dan hari akhir, hendaklah ia memuliakan tamunya. Siapa saja beriman kepada Allah dan hari akhir, hendaklah ia menyambung tali persaudaraan. Dan siapa saja beriman kepada Allah dan hari akhir, hendaklah ia berkata yang baik atau diam !” (HR.Bukhari dan Muslim)

وعن ابن عمر وعائشة رضى الله عنهما قالا : قا ل رسول الله ص.م. مازا ل جبريل يوصينى بالجار حتى ظننت أنه سيورثه . (متفق عليه )

Dari Ibnu Umar ra., mereka berkata : Rasulullah saw., bersabda : “Malaikat Jibril selalu berpesan kepadaku untuk senantiasa berbuat baik kepada tetangga, sehingga aku menyangka bahwa tetangga itu akan ikut mewarisinya.” (HR.Bukhari dan Muslim)