Mewujudkan Kedokteran Sebagai Layanan Medis Humanistis

Dokter adalah salah satu profesi yang kini banyak diminati orang. Bahkan bisa dibilang menjadi prodi nomor satu di seluruh perguruan tinggi di Indonesia yang memiliki fakultas kedokteran. Hal ini mengundang perhatian besar, sebenarnya apa motif yang melatarbelakangi paradigma ini. Dokter dianggap memiliki pengetahuan yang lebih di semua bidang, dan masyarakat menilai hidup seorang dokter lebih terjamin dibandingkan dengan profesi yang lain. Padahal pada hakikatnya yang membuat keterjaminan itu adalah ilmu yang dimiliki bukan karena profesinya.

Jadi salah besar bila salama ini masyarakat hanya mengukur dokter dari sisi ekonomi saja. Namun perlahan pandangan ini mengalami perubahan dari waktu ke waktu. Perubahan yang mendasar berasal dari mahasiswa kedokteran itu sendiri. Menjalani pendidikan dokter perlahan meniupkan angin pengabdian kepada masyarakat secara mendalam. Dokter bukan lagi menjadi profesi yang prestisius tetapi lebih dari itu yaitu seorang pengabdi dan pelayan masyarakat. Sebagai pengabdi dan pelayan masyarakat jiwa kemanusiaan seorang dokter dituntut untuk ikut merasakan penderitaan dan kesakitan yang dialami oleh masyarakat. Selain itu dokter juga memiliki tanggung jawab besar untuk ikut menjaga keberlangsungan hidup orang banyak dari segi kesehatan. Sungguh bukan pekerjaan mudah. Profesi dokter bukan hanya sekedar profesi karena titel yang disandang tetapi lebih kepada penghargaan dan kepercayaan yang diberikan oleh Allah serta khalayak untuk berjuang membangun masyarakat sehat baik jasmani maupun rohani. Oleh karena itu sudah sepantasnya mahasiswa kedokteran berperan aktif melalui berbagai wadah dalam rangka mewujudkan isyarat alamiah yang ada di bahu nya.

Sejarah telah membuktikan bahwa dokter memang memiliki andil besar dalam usaha perbaikan nasib masyarakat, salah satunya ialah melalui organisasi pemuda pertama Budi Utomo yang digagas oleh dr. Sudiro Husodo yang kemudian diimplementasikan oleh dr. Sutomo dan rekan dokter yang lain pada tanggal 20 Mei 1908. Lahirnya organisasi pemuda pertama ini dianggap sebagai tonggak awal perjuangan pada masa itu sehingga kini dikenal sebagai hari Kebangkitan Nasional. Hari Kebangkitan Nasional memiliki arti penting yang ditekankan kepada para pejuang muda, termasuk mahasiswa kedokteran.

Sejak dulu, dokter telah diperkenalkan kepada dunia luar melalui perjuangan dan rasa kemanusiaan yang tinggi. Profesi dokter menjadi dasar perjuangan karena dianggap memiliki nilai kesetaraan dalam pelaksanaan tugasnya yang menghapuskan jiwa jajahan pada masyarakat. Pekerjaan yang digeluti seorang dokter terlepas dari agama, ras, budaya, politik bahkan ekonomi sekalipun. Karena kesetaraan itulah seorang dokter harus mampu mendekatkan diri dengan masyarakat serta lingkungan luar dalam misi kemanusiaan dengan memegang semangat kebangsaan serta nasionalisme yang tinggi.

Paradigma Kesehatan Indonesia

Paradigma adalah cara pandang orang terhadap diri dan lingkungannya yang akan memengaruhinya dalam berpikir, bersikap, dan bertingkah laku. Bagi seorang pemimpin, paradigma yang digunakannya dalam memimpin akan memengaruhi secara langsung segenap keputusannya.

Di bidang kesehatan, apa yang menjadi paradigma pemimpin tersebut akan tercermin dalam program pembangunan kesehatan yang dicanangkannya. Pertama, paradigma biomedis. Di awal kemerdekaan, situasi derajat kesehatan rakyat Indonesia relatif rendah. Kondisi objektif ini menyebabkan terbangunnya paradigma biomedis yang mengedepankan aspek kuratif dalam pembangunan kesehatan.

            Hal mana ditandai dengan gencarnya pembangunan pelayanan kedokteran, pembangunan rumah sakit, pendistribusian obat-obatan dengan membuka peluang seluas-luasnya bagi industri farmasi, baik nasional maupun asing untuk berkiprah.

Namun, ketika paradigma biomedis dalam pembangunan kesehatan terus dipakai, berbagai distorsi pun terjadi: Meningkatnya jumlah SDM kesehatan tidak dibarengi dengan distribusi yang proporsional; Meningkatnya jumlah sarana pelayanan kesehatan (rumah sakit, puskesmas, posyandu) tidak didukung dengan sistem pelayanan yang terstruktur; Terbukanya peluang bagi industri farmasi tidak menjadikan obat generik dan obat-obat esensial sebagai primadona pengobatan.

Akumulasinya adalah terjadinya anarkisme dalam pelayanan kesehatan di Indonesia: tenaga kesehatan terkonsentrasi di daerah yang menguntungkan bagi profesinya; rumah sakit dijadikan sumber PAD; dan obat-obatan berubah menjadi komoditi komersial. Kedua, paradigma sehat. Keprihatinan atas terjadinya berbagai distorsi dalam pembangunan kesehatan dengan paradigma biomedis ini, menyebabkan pemimpin Indonesia pada periode Orde Baru melakukan koreksi atas paradigma yang digunakan dalam pembangunan kesehatan.

Hal yang memperparah kondisi ini adalah terbukanya pasar pelayanan kesehatan bagi pihak asing untuk masuk ke Indonesia melalui pintu asuransi kesehatan komersial, transfer of knowlegde and technology, dan kerja sama manajemen rumah sakit. Ketiga, paradigma sehat berdaulat. Karena itu, saat ini dan ke depan, Indonesia harus memiliki paradigma pembangunan kesehatan yang mumpuni untuk mengatasi berbagai problematika kesehatan yang telah terjadi secara struktural dan sistemik.

Nilai-nilai baik pada paradigma biomedis (ketersediaan sarana dan tenaga kesehatan yang proporsional) harus dioptimalkan. Nilai-nilai baik pada paradigma sehat (menjadikan aspek kesehatan sebagai mainstream pembangunan nasional, serta pelaksanaan sistem pelayanan kesehatan yang terstruktur yang ujung tombaknya adalah dokter keluarga) harus dikedepankan.

Indonesia butuh paradigma pembangunan kesehatan yang mendukung terwujudnya kedaulatan kesehatan bagi rakyat Indonesia. Pembangunan kesehatan dengan Paradigma Sehat Berdaulat adalah pembangunan kesehatan yang memungkinkan seluruh sumber daya kesehatan di Indonesia bekerja optimal untuk menjamin terwujudnya hak-hak kesehatan bagi seluruh rakyat Indonesia.

Pendidikan Kedokteran bagi Rakyat Kecil

Buruknya layanan medis selama ini dapat dijadikan bahan refleksi bagi pendidikan kedokteran bahwa rekrutmen siswa (calon mahasiswa ) yang berasal dari keluarga berkekayaan besar sedang gagal atau terbukti banyak “menyakiti” masyarakat, terutama masyarakat miskin.

Dengan praktik dehumanisasi yang berembrio dari pendidikan kedokteran berbasis kapitalis ini, selayaknya sekarang siswa miskin diberi keleluasaan bersaing masuk dalam iklim pembelajaran di Fakultas Kedokteran negeri tanpa beban biaya yang sangat mencekiknya.

            Justru dari dokter dari keluarga miskin inilah, layanan medis berganti atmosfer menjadi layanan medis humanistis yang terwujud dalam idiom “profesi untuk orang miskin”.

Data 72 Fakultas Kedokteran negeri dan swasta di Indonesia walau menghasilkan 5 ribu sampai 6 ribu dokter umum setiap tahunnya, kenyataannya pemerintah tidak juga memenuhi kebutuhan dokter di layanan kesehatan primer.

Buktinya masih banyak puskesmas  tanpa dokter, karena dokter yang berasal dari kalangan berpunya dapat dipastikan juga akan kembali lagi ke lingkungannya yang notabene lingkungan menengah ke atas.

Banyak dokter “berpunya” yang tidak mau ditempatkan di daerah yang kurang menguntungkan, daerah pelosok dan daerah dengan tingkat ekonomi kurang. Padahal, betapa banyak tenaga dokter dibutuhkan di daerah-daerah tersebut.

Pemerataan dokter ini mendesak dilakukan karena setiap warga negara berhak untuk hidup sehat. Jika tidak segera dilakukan, pelaksanaan sistem jaminan kesehatan semesta pada 2014 yang memberikan akses layanan kesehatan gratis bagi rakyat miskin dan kurang mampu terancam gagal akibat tidak ada dokter di daerah-daerah tertentu.

Benar-benar tidak adil. Kalangan ekonomi bawah jelas yang paling menderita. Sudah tenaga dokter di daerah kurang, mereka sendiri pun tidak mampu berkuliah di Fakultas Kedokteran Negeri dan menjadi dokter bagi daerahnya. Ditambah lagi, biaya kesehatan semakin melambung. Semuanya benar-benar menjepit masyarakat ekonomi bawah.

Kita lihat saja pada Film Indonesia yang berjudul Alangkah Lucunya Negeri Ini, film tersebut menceritakan tentang kondisi rakyat Indonesia di pelosok nusantara yang masih jauh dari modernitas dan pengabdian seorang dokter yang sangat mengharukan bagi pemerhati kesehatan dan infrastruktur negara tercinta ini.

Sungguh rakyat kecil tidak banyak menuntut. Mereka hanya ingin keadilan, termasuk kesempatan yang sama dalam mengenyam pendidikan yang layak. Pendidikan kedokteran seharusnya tidak hanya milik mereka yang berpunya, tapi juga yang berasal dari kalangan rakyat kecil yang berprestasi. Sudah saatnya mereka bangun dan tidak lagi bermimpi.

 

About iroelizzta

santai tapi pasti

Posted on 11 Desember 2013, in artikelku. Bookmark the permalink. 7 Komentar.

  1. tingkatkan pendidikan kedokteran di negeri ini,,,, jngan sampai cuma modal uang…

  2. pendidikan dokter harus mulai diajarkan bagi kaum miskin, karena mereka mempunyai rasa peduli yang lebih, bukan hanya soal uang saja. Tetapi kegigihan dan semangatnya adalah modal utama untuk menciptakan Indonesia negara sejahtera..

  3. Ilmu yg paling utama adalah pengetahuan dan ilmu kedokteran,, karena keduanya berjalan bersama dari nabi adam sampai hari qiyamat

  4. Dokter harusnya sebagai pelayan masyarkat dan harus dengan penuh pengabdian,, jangan hanya untuk mencari kembalian modal saja…

  5. Mengapa harus begitu? dokter kan juga manusia,, jangan terlalu memojokkan dokter lah, dia juga butuh makan, minum. mereka mencoba mengamalkan ilmu yg dipeljari selama masa kuliah ataupun praktik.

  6. kejadian yg terjadi pada bulan kemarin tentang malpraktik, itu merupakan kelalaian seorang dokter, mungkin mereka kelelahan akibat melayani pasien-pasien. cobalah bagaimana kita kalo menjadi dokter, apa yg akan kita kerjakan ketika kita mlkukan kesalahan seprti kmaren??

  7. Semua yng terjadi itu,, mari kita ambil pelajarannya. gag usah kita debatkan sana sini yg tidk menemukan solusi. kejadian malpraktik mnjdi acuan bg smua dokter untuk selalu berhati-hati dlm bertindak. trims…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: