METODOLOGI PENELITIAN TAFSIR JALALAIN

Prolog

Siapa yang tidak kenal dengan tafsir yang satu ini, ya, tafsir jalalain, namanya tidak lagi asing ditelinga khalayak umum, apalagi dikalangan instansi yang berbau agama, terlebih pesantren. Karena, dipesantren tafsir ini bisa dikatakan menu wajib yang yang harus santap para santri pesantren di seluruh indonesia, bahkan tidak terkecuali perguruan-perguruan tinggi diseluruh nusantara.[1]

Isinya yang begitu padat dan tidak terlalu bertele-tele serta pembahasannya yang bersifat global dianggap pas untuk dipelajari bagi para pemula, hususnya para satri.  Sehingga memberi pemahaman secara utuh dan tidak menjerumuskan para pembaca pada bahasan yang bertele-tele.  Maka tafsir ini sangat cocok untuk dipelajari untuk memahami secara global mengenai kandungan ayat-ayat Al-Qur’an.

 

PEMBAHASAN

METODOLOGI PENELITIAN TAFSIR JALALAIN

A. Tafsir Jalalain

Nama asli tafsir ini adalah Tafsil Al-Qur’anil Adzim sebagaimana yang tertera pada cover depan, dibawahnya disertakan dua pengarangnya, yakni Imama Jalaluddin Al-Mahally dan Imam Jalaluddin as-Suyuthi. Karena ada dua nama jalaludin pada pengarang tafsir ini, maka kata jalal di tatsniyahkan sehingga menjadi Jalalain, yang kemudian dijadikan nama populer untuk tafsir ini, tafsir Jalalain.[2]

Ada dua hal yang menjadi latar belakang ditulisnya kitab tafsir ini, pertama keprihatinan sang mufassir akan merosotnya bahasa arab dari kurun ke kurun dikarenakan banyaknya bahasa ajam (selain arab) yang masuk ke negara arab, seperti bahasa persi, turki, dan india. Sehingga mempengaruhi kemurnian bahasa Al-Qur’an sendiri, bahasa arab semakin sulit untuk difahami oleh orang arab asli karena susunan kalimatnya berangsur-angsur semakin berbelok kepada gramatika lughot ajam. Kosa katapun banyak bermunculan dari lughot selain arab, sehingga menyulitkan untuk mengerti yang mana bahasa arab dan yang mana bahasa ajam. Hal inilah yang dikelnal “Zuyu’ al Lahn” (keadaan dimana perubahan mudah ditemui) sehingga banyak kaidah-kaidah nahwu dan shorof dilanggar. Kedua, Al-Qur’an telah diyakini sebagai sumber bahasa arab yang paling autentik, maka untuk mendapatkan kaidah yang benar, pegkajian dan pemahaman terhadap Al-Qur’an harus dilakukan.[3]

Tafsir ini semula ditulis oleh imam jalaludin al-mahally, mulai dari surat Al-Isro’ hingga akhir dari surat An-Naas, kemudian setelah beliau selesai menafsrkan surat Al-Fatihah, ternyata beliau sudah didahului panggilan dari sang pencipta, kemudian dilanjutkan oleh  Imam Jalauddin as-Suyuti, beliau menyempurnakan tafsir Al-Mahally, yakni menafsirkan ayat Al-Qur’an  mulai dari surat Al-Baqoroh  hingga ahir surat Al-Isro’. Akan tetapi, banyak yang salah faham mengenai masalah ini, banyak yang mengira bahwa Al-Mahally-lah yang mengarang jalalain mulai awal hingga pertengahan, selebihnya diteruskan oleh As-Suyuthi, ini adalah pemahaman yang salah, sebagaimana dikatakan oleh Syekh Manna’ Al-Qaththan dalam kitabnya Mabahits fi Ulumil Qur’an.[4]

Oleh karena itu, As-Suyuthi menaruh surat Al-Fatihah berada di bagian belakang, tidak seperti tafsir-tafsir yang lain yang mendahulukan surat ini sebelum yang lainnya, karena beliau berkehendak supaya surat Al-Fatihah berkelompok menjadi satu dengan surat-surat yang lain yang telah ditafsirakan oleh gurunya, Al-Mahally.[5]

Secara historis, tafsir ini sudah masuk ke tanah melayu pada abad ke-17 masehi, bahkan  diperkirakan suda populer pada masa itu. Ini terbukti dengan banyaknya manuskrip tafsir tersebut di musium nasional jakarta. Pada abad ini, Abdur Rouf Singkel telah membuat tafsir dalam bahasa melayuyang berjudul Turjuman al Mustafid (penjelasan masalah yang berguna), yang dianggap kitab tafsir pertama ditanah melayu yang mempunyai hubungan dengan tafsir jalalain. Pada mulanya, turjuman al-Mustafid dianggap saduran fersi melayu dari tafsir al-Baidlawi. Kesimpulan itu ternyata tidak tepat karena ternyata turjuman al Mustafid adalah saduran fersi melayu dari tafsir jalalin yang dilengkapi dengan beberapa kutipan dari tafsir al-Baidlawi dan uraian yang luas tentang surat al-Kahfi dari tafsir al-Khazin. Kenyataan tersebut memberi dugaan bahwa tafsir jalalain sudah dikenal sebelum penyaduran itu.[6]

B. Biografi Singkat Al-Mahally

Nama lengap beliau adalah Muhammad bin Ahmad bin Ibrahim bin Ahmad bin Hashim al-Jalal, Abu Abdillah bin al-Syihab, Abi al-’Abbas bin al-Kamal al-Ansari, al-Mahalli, al-Qahiri, al-Syafii. Gelaran al-Mahalli ini merupakan nisbahnya kepada sebuah bandar Mesir terkenal yang disebut al-Mahallah al-Kubra al-Gharbiyah. Beliau dilahirkan dilahirkan di mesir pada bulan Syawal tahun 791H., dan wafat pada tahun 864 H. di mesir, dan dimakamkan disana juga.[7]

Jalaluddin Al-Mahalli adalah seorang mufasir (ahli tafsir) berkebangsaan Mesir. Ia lebih dikenal dengan julukan Jalaluddin Al-Mahalli yang berarti orang yang mempunyai keagungan dalam masalah agama. Sedangkan sebutan Al-Mahalli dinisbahkan pada kampung kelahirannya, Mahalla al-Kubra, yang terletak di sebelah barat Kairo, tak jauh dari Sungai Nil.

Sejak kecil tanda-tanda kecerdasan sudah menonjol pada diri Mahalli. Ia ulet menyerap berbagai ilmu, mulai dari tafsir, ushul fikih, teologi, fikih, matematika, nahwu dan logika. Mayoritas ilmu tersebut dipelajarinya secara otodidak, hanya sebagian kecil yang diserap dari ulama-ulama salaf pada masanya, seperti al-Badri Muhammad bin al-Aqsari, Burhan al-Baijuri, A’la al-Bukhari dan Syamsuddin bin al-Bisati.[8]

Dalam kitab Mu’jam Al-Mufassirin, As-Sakhawi menuturkan bahwa Al-Mahalli adalah sosok imam yang sangat pandai dan berfikiran jernih. Kecerdasannya di atas rata-rata.[9]

 

C. Karya-karya Al-Mahally

Sebagaimana as-Suyuthi, Al Mahally juga merupakan penulis aktif, banyak sekali karya-karyanya. Diantaranya adalah :

  • Kanzur Roghibin
  • Syarh al Minhaj
  • Al badrut tholi’ fi hilli jam’il jawami’
  • Syarh Waroqot
  • Al anwar al mudli’ah
  • Al qoulul  mufid fi an Nailis sa’id
  • At Thib an-nabawi
  • Tafsir Jalalain
  • Dan masih banyak yang lainnya.[10]

D. Biografi Singkat As-Suyuthi

Nama lengkap beliau adalah Jalaluddin  Abdur Rahman bin Abu Bakar bin Muhammad bin sabiq ad-Din al Khudlairy as-Suyuthi.[11] Beliau dilahirhan pada bulan rojab tahun 849 H. Dan meninggal padamalam jum’at, tanggal 19 Jumadil Ula tahun 911 H.

Ketika As-Suyuthi masih berumur 5 tahun, ayahnya meninggal dunia. Walaupun begitu ia tetap memiliki semangat tinggi dan kecerdasan yang luar biasa dalam menuntut ilmu. Maka tidaklah mengherankan jika ia mampu menhafal Al-Qur’an ketika usianya belum genap 8 tahun, kemudian ia juga mampu menghafal kitab Al-Umdah, Minhaj Al-Fiqih, dan Alfiyah Ibnu Malik.

Selain tekun belajar, ia juga rajin beribadah dan berdo’a. Tak sekalipun As-Suyuthi membuang waktu ketika menuntut ilmu. Suatu ketika, ia menunaikan ibadah haji dan meminum air zam-zam, lalu berdo’a agar ilmunya dalam bidang fiqih setingkat Al-Baqillani dan dalam bidang hadits sekaliber dengan Ibnu Hajar Al-Asqalani.

Dalam pengembaraannya mencari ilmu, As-Suyuthi singgah ke beberapa negeri seperti Syam, Hijaz, Yaman, India dan Maroko.[12] Ia berguru kepada sejumlah ulama besar, bahkan seorang muridnya pernah menghitung guru beliau hingga mencapai 51 guru,[13] diantaranya:

  • Jalaluddin Al-Mahalli
  • Ahmad bin Ali Ayamsahi (ulama fara’id)
  • Al-Bulqaini (ulama fiqih)
  • As-Syamani (ulama hadits, ushul fiqih, teologi dan nahwu)
  • Al-Izzu Hanbali (ulama hadits, bahasa Arab, sejarah)

Selain guru laki-laki, As-Suyuthi juga meresap ilmu dari sejumlah ilmuwan perempuan, diantaranya:

  • ‘Aisyah binti Jarullah
  • Ummu Hani binti Abul Hasan
  • Shalihah binti Ali
  • Niswan binti Abdullah Al-Kanani
  • Hajar binti Muhammad Al-Mishriyyah

 

 

 

E. Karya-karya As-Suyuthi

As-Suyuthi mulai menulis ketika masih berusia 17 tahun. Namun ia baru memusatkan diri dalam berkarya ketika usianya menginjak 40 tahun. Ia beruzlah di tempat tinggalnya, Raudlatul Miqyas, di tepian Sungai Nil. Ia termasuk ulama yang sangat produktif dalam berkarya. Ia memiliki ratusan kitab dalam berbagai bidang keilmuan, mulai dari tafsir, hadits, fiqih, bahasa Arab, sastra, tasawuf, hingga ilmu sejarah. Ad Dawudy, salah seorang murid As-Suyuthi, mengatakan bahwa jumlah karya As-Suyuthi mencapai 500 buah. Karya As-Suyuti diantaranya:

  • Al-Itqan fi Ulum Al-Qur’an
  • Ad-Durr Al-Manshur fi At-Tafsir bil-Ma’tsur
  • Tarjuman Al-Qur’an fi At-Tafsir Al-Musnad
  • Asrar At-Tanzil
  • Lubab An-Nuqul fi Asbab An-Nuzul
  • At-Takhbirfi Ulum At-Tafsir
  • Mufhamat Al-Qur’an fi Mubhamat Al-Qur’an
  • Al-Iklil fi Istinbat At-Tanzil
  • Al-Hasyisyah fi Tafsir Al-Baidhawi
  • Takmilah Tafsir As-Syaikh Jalaluddin Al-Mahalli
  • Dan masih banyak lagi lainnya, yang tidak mungkin bila disebutkan disini.[14]

 

F. Metode  dan Corak Tafsir Jalalain

Sebagaimana yang telah diketahui, bahwa metode penafsiran setidaknya ada 4 macam, yakni tahlily, ijmaly, muqoron, dan maudlu’iy. Metode Tahlily adalah salah satu metode tafsir yang bermaksud menjelaskan kandungan ayat-ayatn al-qur’an dari seluruh aspeknya. Metode Ijmali, adalah metode tafsir yang menafsiran ayat-ayat al-qur’an dengan cara mengemukakan makna global. Sedang metode Muqoron meneankan kajiannya pada aspek perbandingan(komparasi) tafsir alqur’an. Terahir metode Maudlu’i atau tematik, yaitu metode yang pembahasannya berdasarkan tema-tema tertentu yang terdapat dalam al-qur’an. [15]

Dari definisi yang ada, maka tafsir jalalin dapat digolongkan ada tafsir yang menggunakan metode ijmali, karena sang mufassir telah memaparkan penjelasannya secara global pada tafsir ini, serta dapat digolongkan juga pada metode tahlily, dengan dalih penafsirannya yang mencakup beberapa aspek keilmuan, seperti segi bahasa, maksud sebuah ayat, asbab an Nuzul, dan lain lain.

Sebagaimana yang telah tertulis dalamensiklopedi islam : “Dengan latar belakang seperti itu, dapat difahami  cara penafsiran yang dilakuka kitab ini. Selain menjelaskan maksud sebuah kata, ungkapan atau ayat, kitab ini menjelaskan factor kebahasaan dengan menggunakan cara-cara berikut : langsung menerangkan kata dari segi sharafnya jika hal itu di anggappentig untuk diperhatikandengan mengambil bentuk struktur bentuk (wazan) katanya, menerangkan makna kata atau padanan kata (sinonim) jika dianggap belum dikenal atau mengandung makna yang agak husus, dan menjeaskan fungsi kata (subyek, obyek, predikat atau yang lain) dalam kalimat. Menurut ilmu tafsir, cara penafsiran seperti itu disebut metode tahlily.”[16] Sebagaimana contoh-contoh yang insya allah akan diterangkan pada pembahasan selanjutnya.

Adapun mengenai corak tafsir ini, kami lebih condong untuk menamainya dengan corak  sastra budaya kemasyarakata. Karena didalamnya tidak hanya terdapat penjelasan mengenai kebahasaan, akan tetapi juga banyak membahas cerita-cerita kemasyarakatan pada zaman dahulu, sebagaimana kisah-kisah israiliyyat yang terdapat didalamnya.

 

 

G. Tehnik Penafsiran Tafsir Jalalain

Ada beberaa metode yang digunakan menafsirkan pada tafsir jalalain, diantaranya sebagaia berikut :

  1. Pada awal surat, mufassir menerangkan tentang nama surat, banyaknya ayat (beserta perbedaan pendapat tentang banyaknya, jika ada), serta tergolong madaniyah atau makkiyah-kah surat tersebut. Serta terkadang menyebutkan pengecualian-pengecualian pada beberapa ayat yang bukan termasuk makiyah, atau tidak termasuk Madaniyah. Contoh : Pada surat Al-Baqoroh,

)سورة البقرة(

 مدنية مائتان وست أو سبع وثمانون آية

tertera bahwa ia termasuk surat Madaniyyah, banyaknya ayat ada 286 atau 287, karena ada perbedaan pendapat mengenai banyaknya ayat pada surat ini.

سورة التوبة

[ مدنية إلا الآيتين الأخيرتين فمكيتان وآياتها 129 نزلت بعد المائدة ]

Begitu juga yang tertulis pada awal surat Al-Fatihah,

)سورة الفاتحة(

مكية سبع آيات بالبسملة إن كانت منها والسابعة صراط الذين إلى آخرها وان لم يكن منها فالسابعة غير المغضوب إلى آخرها

beliau mengatakan ada 7 ayat, tapi yang diperdebatkan adalah keberadan basmalah.[17]

 

  1. Banyak menyebutkan tentang Asbabun Nuzul tentang suatau ayat, baik disebutkan sebelum ayat atau sesudahnya. Contoh :  Pada Surat Al-Falaq, telah disebut asbabun Nuzul sebelum ayatnya

(سورة الفلق)

مكية أو مدنية وآياتها خمس نزلت هذه السورة والتي بعدها لما سحر لبيد اليهودي النبي صلى الله عليه و سلم في وتر به إحدى عشرة عقدة فأعلمه الله بذلك وبمحله فأحضر بين يديه صلى الله عليه و سلم وأمر بالتعوذ بالسورتين فكان كلما قرأ آية منها انحلت عقدة ووجد خفة حتى انحلت العقد كلها وقام كأنما نشط من عقال

Atau sesudah disebutkan ayatnya, seperti :

( ومن أظلم ) اي لا أحد أظلم ( ممن منع مساجد الله أن يذكر فيها اسمه ) بالصلاة والتسبيح ( وسعى في خرابها ) بالهدم أو التعطيل نزلت إخبارا عن الروم الذين خربوا بيت المقدس أو في المشركين لما صدوا النبي صلى الله عليه و سلم عام الحديبية عن البيت

  1. Penafsiran ayat-ayat mutasyabihat, mufassir lebih banyak memilih untuk diam, serta mengembalikan kepada yang maha mengetahui. Contoh pada permulaan-permulaan ayat, sepertia الم, طه, يس, كهيعص,  dan lain-lain, mufassir hanya memberikan komentar الله اعلم بمراده بذلك “ Allah lebih tahu mengenai apa yang dimaksudkan akan hal itu”.

 

 

  1. Menafsirkan suatau kata dengan kata yang muroddif (sinonim) dengannya. Contoh :

( اهدنا الصراط المستقيم ) أي أرشدنا إليه

Kata اهدي  dan ارشد  sama-sama berarti menunjukkan. Hal ini banyak dijumpai pada tafsir jalalain, baik dalam bentuk verba, maupun nomina. Di antara kegunaannya adalah (1) untuk memperjelas maksud satuan lingual dalam sebuah ayat, (2) untuk melihat relasi semantik senonimik baik dalam bentuk satuan lingual tertentu maupun kalimat dalam sebuah ayat, dan (3) untuk melihat adanya fitur distingtif (penanda pembeda) untuk melihat relasi semantik antonimik dalam mengemukakan makna ayat yang dimaksud.[18] Berikut kami sertakan beberapa contoh tentang hal terkait :

Bentuk Fiil ‘Verba’

Bentuk Isim ‘Nomina’

No

Ayat

Tafsir

No

Ayat

Tafsir

1

أنذركم

أخوفكم

1

أكنة

أغطية

2

تنسون

تتركون

2

وقرا

صمما

3

ختم

طبع

3

لقاء الله

البعث

4

نصرف

نبين

4

الساعة

القيامة

5

تمترون

تشكون

5

الموتى

الكفار

6

ضل

غاب

6

البأساء

شدة الفقر

7

أرئيتم

أخبروني

7

الضراء

المرض

8

يجحدون

يكذبون

8

ضر

بلاء

9

ينأون

يتباعدون

9

بغتة أو جهرة

ليلا أو نهارا

  1. Memaparkan perbedaan qiro’ah yang ada diantara kalangan ulama’ Contoh :

( فتلقى آدم من ربه كلمات ) ألهمه إياها وفي قراءة بنصب آدم ورفع كلمات أي جاءه

Pada ayat ini, dibaca “Adamu” dan “Kalimatin”, sedangkan pada qiro’ah yang lain, ada yang membaca “Adama” dan “Kalimatun”. Oleh karena itu, mufassir memaparkannya supaya diketahui bahwa pada ayat ini ada yang berbeda dalam hal bacaan.

 

  1. Menjelaskan tentang susunan kalimat pada suatu ayat. Contoh :

( ذلك ) اي هذا ( الكتاب ) الذي يقرؤه محمد ( لا ريب ) ولاشـك

 ( فيه ) أنه من عند الله وجملة النفي خبر مبتدؤه ذلك والإشارة به للتعظيم ( هدى ) خبر ثان أي هاد ( للمتقين ) الصائرين إلى التقوى بامتثال الأوامر واجتناب النواهي لاتقائهم بذلك النار

 

  1. Terkadang menjelaskan suatu ayat dengan ayat lain yang saling berkaitan. Contoh :

( يومئذ ) يوم المجيء ( يود الذين كفروا وعصـوا الرسـول لو ) اي أن

( تسوى ) بالبناء للمفعول والفاعل مع حذف إحدى التاءين في الأصل ومع إدغامها في السين اي تتسوى ( بهم الأرض ) بأن يكونوا ترابا مثلها لعظم هوله كما في آية أخرى ( ويقول الكافر يا ليتني كنت ترابا ) ( ولا يكتمون الله حديثا ) عما عملوه وفي وقت آخر يكتمونه ويقولون ( والله ربنا ما كنا مشركين )

 

  1. Terkadang juga mengutip satu ayat sampai selesai, kemudian bari dilanjutkan dengan penafsiran, walaupun kebanyakan menggunakan sistem interupsi. Contoh :

( قل أعوذ برب الناس ) خالقهم ومالكهم خصوا بالذكر تشريفا لهم ومناسبة للاستعاذة من شر الموسوس في صدورهم

Contoh dengan sistem interupsi :

( ذلك ) اي هذا ( الكتاب ) الذي يقرؤه محمد ( لا ريب ) ولاشك

( فيه ) أنه من عند الله وجملة النفي خبر مبتدؤه ذلك والإشارة به للتعظيم

 

  1. Menggunakan metode ekspansi (memperpanjang), contoh :

( وما يشعرون ) يعلمون أن خداعهم لأنفسهم

  1. Banyak sekali menjelaskan tentang kisah-kisah isroiliyyat, walaupun tidak disertakan keterangan apakah kisah itu dinuqil dari hadits yang dapat diterima atau tidak.[19]  Contoh :

( و ) اذكر ( إذ قال موسى لقومه ) وقد قتل لهم قتيل لا يدرى قاتله وسألوه أن يدعو الله أن يبينه لهم فدعاه

( قالوا الآن جئت بالحق ) نطقت بالبيان التام فطلبوها فوجدوها عند الفتى البار بأمه فاشتروها بملء مسكها ذهبا

 

 

 

 

 

Daftar Pustaka

As Shabuni, Syeh Muhammad Ali Ikhtisar Ulumul Qur’an Praktis Jakarta : Pustaka Amani, 2001

KH. Drs. A. Dimyathi Nazrudin Badruzzaman, MA. Kisah-Kisah Isro’iliyat dalam tafsir Munir ( Sinar baru Algensindo cet. 1 : 2005)

 

Faishol , Muhammad Analisis Struktural Tafsir Jalalain.h. 5

M. Alfatis Suryadilaga, dkk. Metodologi ilmu tafsir (Teras : 2005)h. 41

Sirojuddin Abbas, Sejarah dan Keagungan Madzhab Syafi’I  halaman 229, (Pustaka Tarbiyah Baru, cetakan ke-17, 2010) h. 231

Amin, Ghofur Saiful , Profil Para Mufasir al-Qur’an, Yogyakarta, Puataka Insan Madani, 2008.

Tafsir Jalalain bi Hamisy al-Qur’an al-Karim,Muassasah Ar-Royyan. h.ا

Adz Dzahabi, Dr. Muhammad Husain At Tafsir Wa al Mufassirun, Maktabah Syamilah juz 4 h.68

 

Abdulloh Taufiq, Ambari hasan Muarif, Dahlan Abdul Aziz, Ensilkopedi Islam cetakan ke-7, Jakarta : PT. Ichtiar Baru, 2001.

 


[1] Sirojuddin Abbas, Sejarah dan Keagungan Madzhab Syafi’I , (Pustaka Tarbiyah Baru, cetakan ke-17, 2010) h. 229

[2] Abdulloh Taufiq, Ambari hasan Muarif, Dahlan Abdul Aziz, Ensilkopedi Islam, (PT. Ichtiar Baru : 2001) cetakan ke-7. H. 198

 

[3] Ibid

[4] Adz Dzahabi, Dr. Muhammad Husain At Tafsir Wa al Mufassirun, Maktabah Syamilah juz 4 h.68

[5] Ibid

[6] Op.cit h. 199

[7] Tafsir Jalalain bi Hamisy al-Qur’an al-Karim,Muassasah Ar-Royyan. h.ا

[8] Op.cit

[9] Amin, Ghofur Saiful , Profil Para Mufasir al-Qur’an, Yogyakarta, Puataka Insan Madani, 2008.

[10] Lihat juga karya-karya beliau lebih banyak lagi beserta guru dan murid-murid beliau di” جلال الدين المحلي – ويكيبيديا، الموسوعة الحرة”

[11] Op.cit h.ج

[12] Sirojuddin Abbas, Sejarah dan Keagungan Madzhab Syafi’I  halaman 229, (Pustaka Tarbiyah Baru, cetakan ke-17, 2010) h. 231

[13] Adz Dzahabi, op.cit h.39

[14] Syeikh Muhammad Ali As-Shabuni Terjemah At-Tibyan fi ‘Ulumil Qur’an, , judul:Ikhtisar Ulumul Qur’an Praktis, diterjemahkan oleh Muhammad Qadirun Nur, Penerbit Pustaka Amani Jakarta, th. 2001. Lihat juga sejarah, guru, murid, serta banyak lagi karya-karya di

“جلال الدين السيوطي – ويكيبيديا، الموسوعة الحرة”

 

[15] M. Alfatis Suryadilaga, dkk. Metodologi ilmu tafsir (Teras : 2005)h. 41

[16] Ensiklopedi Islam, op.cit h.199

[17] Jika basmalah termasuk ayat dari surat Fatihah, maka ayat yang ke-7 adalah “Shirathal ladzina an’amta…” tapi jika ia tidak termasuk surat Fatihah, maka ayat yang ke-7 adalah “Ghoiril maghdzubi…”.

[18] Faishol , Muhammad Analisis Struktural Tafsir Jalalain.h. 5

[19] Kisah-kisah israiliyat dapat dikalsifikasikan kedalam 3 bagian, pertama yang dapat diakui kebenarannya, karena dinuqil dari hadits-hadits yang dapat diterima, kedua kisah israiliyat yang masih diperselisihkan antara para ulama, dan yang ketiga cerita isra’iliyat yang tidak bisa dibenarkan, dan harus diluruskan.

Lihat KH. Drs. A. Dimyathi Nazrudin Badruzzaman, MA. Kisah-Kisah Isro’iliyat dalam tafsir Munir ( Sinar baru Algensindo cet. 1 : 2005)

About iroelizzta

santai tapi pasti

Posted on 29 Mei 2012, in ulum At-Tafsir. Bookmark the permalink. 4 Komentar.

  1. Makasih yo mas, yang ane cari ketemu disini.

  2. Matur nuwun ya mas iroel , semoga jadi amal shlih panjenengan yang diterima oleh Allah SWt, saya merasa banyak tambahan materi untuk berdakwah , teruama sejarah qira’ah sab’ah . masih akan ditambah lagi kan materi qiroa’h sab’ahnya ?

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: