METODE PENELITIAN TAFSIR STRUKTURAL

METODE PENELITIAN TAFSIR STRUKTURAL

(Analisis Struktural Tafsir Jalalain)


 

A. Pendahuluan

Metode penelitian tafsir yang selama ini dikenal terdapat empat klasifikasi, yaitu (1) tafsir tahlily ‘analitis’, (2) tafsir ijmaly ‘global’, (3) tafs muqaran ‘perbandingan’, dan (4) tafsir maudhu’i ‘tematik’ (Al-‘Aridl 1994:4). Keempat konsep ini mudah disebutkan, tetapi tidak begitu mudah menuntun orang ke pemahaman seluk-beluk metode untuk diturunkan ke teknik yang dimaksud, karena keempat konsep tersebut masih memerlukan teknik yang bersifat operasional. Maka ancangan, metode, dan teknik yang dipakai oleh kalangan linguistik struktural terutama yang dipelopori oleh de Saussure dan dikembangkan oleh Bloomfield, dan lain-lain dapat dijadikan sebagai alternatif dalam menafsirkan ayat-ayat Alqur’an. Teknik yang dimaksud adalah (1) teknik substitusi (ganti), (2) teknik ekspansi (perluas), (3) teknik intrupsi (sisip), (4) teknik delisi (lesap), dan (5) teknik permutasi

Bila ditelaah, para mufassir yang telah menghasilkan beberapa kitab tafsir yang cukup populer di kalangan kita, seperti kitab tafsir al-Kasysyaf oleh al-Zamakhsyari, kitab tafsir Jalalain oleh Jalaluddin al-Mahalli dan Jalaluddin al-Suyuti, kitab tafsir al-Baidhowi, dan lain-lain telah meggunakan ancangan linguistik struktural. Sebuah karya yang lebih dahulu dari pada munculnya konsep linguistik struktural tersebut perlu menjadi perhatian untuk dikaji lebih mendalam agar tidak terjadi stagnasi metodologis terutama dalam membedah struktur kalimat pada setiap ayat.

Contoh penafsiran dalam Tafsir al-Kasysyaf:

ولله المشرق والمغرب

(1a) bagi Allah timur dan barat (Al-Zamakhsyari II: 118)

Al-Zamakhsyari menafsirkan ayat tersebut adalah sebagai berikut.

و[بلاد] المشرق و[بلاد] المغرب [كلها] لله

(1b) Dan [negeri] timur dan barat [serta seluruh negeri adalah] milik Allah

Contoh (la) menunjukkan bahwa al-Zamakhsyari dalam menafsirkan ayat menggunakan teknik permutasi (teknik balik), yaitu membalik kata Allah yang semula berada di depan kalimat lalu ditempatkan diakhir kalimat. Di samping itu contoh tersebut juga menunjukkan adanya penyisipan kata bilad ‘negeri’ dan al-ardh kulluha ‘seluruh negeri’. Penyisipan ini dalam analisis linguistik struktural disebut dengan istilah teknik intrupsi (sisip).

Contoh lain di dalam kitab tafsir Jalalain dapat disimak pada potongan ayat berikut ini.

أيتها العير انكم لسارقون

(2a) Hai [unta], sesungguhnya kamu adalah orang-orang yang mencuri

أيتها [القافلة] انكم لسارقون

(2b) Hai [kafilah], sesungguhnya kamu adalah orang-orang yang mencuri

Contoh (2a) menunjukkan adanya penggantian kata, yaitu al-‘ir-u yang asalnya bermakna unta, lalu diganti dengan al-kafilat-u ‘kafilah’. Contoh di atas menunjukkan bahwa pengarang Kitab Tafsir Jalalain (al-Suyuti dan aI-Mahalli) telah menggunakan teknik ganti (substitusi) dalam mengurai maksud ayat.

Dua contoh penafsiran di atas membuktikan bahwa para penafsir Alqur’an telah menggunakan analisis ilmiah terhadap satuan lingual kebahasaan dengan ancangan analisis linguistik struktural dalam membedah makna yang terkandung di dalam Alqur’an. Maka tulisan ini memfokuskan dua hal penting yaitu: (1) mengungkap bentuk metode dan teknik penafsiran secara struktural yang dipergunakan di dalam menafsirkan ayat Alqur’an, dan (2) urgensi metodologis dalam menafsirkan satuan lingual pada setiap ayat Alqur’an.

Tujuan pembahasan ini adalah untuk (1) mendeskripsikan metode dan teknik penafsiran pada Kitab Tafsir Jalalain, dan (2) mengetahui pentingnya penggunaan metode dan teknik penafsiran dan Kitab Tafsir Jalalain terhadap satuan lingual kebahasaan.

Sedangkan kegunaannya dapat disebutkan sebagai berikut: Pertama, metode dan teknik penafsiran ayat Alqur’an yang dilakukan oleh para penafsir klasik sebenarnya banyak variasinya yang perlu diungkap. Secara teoretik dan metodologis mereka belum mengungkapkan jenis maupun macamnya, tetapi secara praktis para penafsir telah membuat pola-pola yang dapat diamati sesuai dengan metode linguistik struktural yang dikembangkan sekarang ini. Maka dalam kitab tafsir Jalalain, perlu diadakan identifikasi secara metodologis, terutama yang terkait dengan penggunaan metode dan teknik analisis (penafsiran) satuan lingual kebahasaan. Kedua, memberikan sumbangan secara teoretik terhadap kajian metodologis Ilmu Tafsir dan Ilmu Alqur’an. Hal ini dimaksudkan sebagai upaya untuk memberikan sumbangan -bahkan- mengisi kekosongan metodologis terhadap penafsiran ayat Alqur’an sesuai dengan teori-teori linguistik baru. Ketiga, memberikan masukan sesuai dengan ancangan teoretik terhadap pengembangan metodologis untuk dapat dipertimbangkan sebagai sebuah metode yang layak dipakai dalam menafsirkan ayat-ayat Alqur’an.

 

B. Mengenal Tafsir Jalalain

Kitab Tafsir Jalalain disusun oleh dua ulama terkemuka yang kemudian dikenal dengan nama dua Jalal (jalalain) sebagai penanda nama sebuah kitab. Mereka itu adalah Jalaluddin al-Mahalli dan Jalaluddin al-Suyuthi. Nama lengkap Jalaluddin al-Mahalli adalah Jalaluddn Muhammad ibn Ahmad ibn Ibrahim ibn Ahmad ibn Hasyim al-Mahalli al-Mishri al-Syafi’i. Sedangkan Jalaluddin al-Suyuthi nama lengkapnya adalah Abd al-Rahman ibn kamal al-Din Abi Bakr ibn Muhammad ibn Sabiq al-Din ibn Fahr al-Din ibn Utsman ibn Nasir al-Din Muhammad ibn Saif al-Din al-Khidhiri Jalaluddin al-Suyuthi al-Mishri al-Syafi’i. al-Mahalli lahir di Kairo pada tahun 791 H/1389 M dan wafat pada tahun 864 H.

Kitab tafsir ini sebelum selesai di tangan Jalaluddin Al-Mahalli kemudian disempurnakan oleh Jalaluddin Abd Al-Rahman Al-Suyuthi. Di samping Al-Mahalli dikenal sebagai seorang mufasir, dia juga dikenal faqih, ahli kalam (theolog), ahli ushul, ahli nahwu, dan menguasai mantiq (logika).

Sedangkan Jalaluddin Al-Suyuthi, lahir lima belas tahun sebelum meninggalnya Al-Mahalli, Tepatnya pada tahun 849H/1445 M dan wafat pada tanggal 9 Jumadal ‘Ula tahun 991 H.Al-Suyuthi termasuk penulis produktif dan banyak karyanya yang cukup monomental dan referensi inti di pesantren di Indonesia dan perguruan tinggi Islam. Di antara karyanya yang dikenal luas adalah al-ltqon fi Ulum Alqur’an dan al-Durr al-Manshur fi Tafsiri bi al-Ma’tsur.

Tafsir Jalalain ditulis dengan menggunakan pendekatan bi al-ra’y yaitu menafsirkan Alqur’an berdasarkan ra’y dan ijtihad. Maka logis bila para ulama membuat klasifikasi Tafsir Jalalain ke dalam kategori tafsir bi al-ra’y. Kitab tafsir tersebut merupakan salah satu kitab pegangan di kalangan ahl al-Sunnah di antara kitab-kitab tafsir bi al-ra’y lain seperti Tafsir al-Baidhawy, Tafsir al-Fahr al-Razy, Tafsir Abu Su’ud, Tafsir al-Alusi, Tafsir al-Naisaburi dan kitab-kitab tafsir bi al-ra’y lainnya yang berkembang di kalangan ahl al-Sunnah.6 Pengkategorian kitab Tafsir Jalalain ke dalam kitab tafsir bi al-ra’y ini juga diungkap oleh Mana’ Qaththan dalam bukunya ”Mabahits fi ‘Ulum Alqur’an”.

Semula kitab ini ditulis oleh Jalaluddin al-Mahalli yang dimulai dari awal surah al-Kahfi sampai dengan akhir surat Annas. Setelah itu beliau menafsirkan surah al-Fatihah sampai selesai, kemudian beliau wafat sehingga tidak sempat menafsirkan surat-surat sesudahnya. Hasil karya Al-Mahalli yang belum selesai dan terpublikasikan secara luas, kemudian dilanjutkan oleh Jalaluddin al-Suyuthi dengan pola dan gaya yang sama sebagaimana ditulis oleh Al-Mahalli. Beliau memulai tafsirnya dari surah al-Baqarah sampai dengan akhir surah al-lsra’. Dan tafsir surah al-Fatihah beliau letakkan pada akhir tafsir Jalaluddin al-Mahalli agar terletak berurutan dengan karyanya. Namun, seringkali silang pendapat dikalangan mufassir dalam menentukan kadar kerja mereka masing-masing.

Adapun metode penafsiran Tafsir Jalalain adalah sebagai berikut.

  1. Mengutip suatu ayat sampai selesai satu ayat kemudian disertai penjelasannya. Terkadang dalam satu ayat (satu ayat belum selesai dikutip) terdapat sisipan penjelasan maupun analisisnya
  2. Analisis dalam Tafsir al-Jalalain terkadang berupa murādif, penjelasan makna suatu lafadz tertentu dari ayat Alqur’an, qira’ah, i’rab kalimat, tidak di jelaskannya fawatih al-suwar (penafsirnya menyerahkan pengertiannya kepada Allah), dan masih banyak lagi.

 

C. Metode dan Teknik Linguistik

Metode dalam ilmu pengetahuan adalah cara yang bersistem untuk memudahkan pelaksanaan suatu kegiatan guna mencapai tujuan yang ditemukan. Sistem merupakan suatu susunan yang berfungsi dan bergerak; ilmu memiliki objek yang dapat dikaji secara sistematis (Fatimah Djajasudanna 1993:57). Metode dan teknik adalah dua istilah yang digunakan untuk menunjukkan dua konsep yang berbeda tetapi berhubungan langsung satu sama lain.

Metode adalah cara yang harus dilaksanakan; teknik adalah cara melaksanakan metode. Sebagai cara, kejatian teknik ditentukan adanya oleh alat yang dipakai (Sudaryanto 1993:9). Metode kajian kebahasaan dapat dibedakan antara metode kajian padan dan metode kajian distribusional (lihat Sudaryanto 1993; Edi Subroto 1992; Fatimah Djajasudarma 1993).

1. Metode Padan

Metode Padan –sering pula disebut metode identitas- ialah metode yang dipakai untuk mengkaji atau menentukan identitas satuan lingual penentu dengan memakai alat penentu yang berada di luar bahasa, terlepas dari bahasa, dan tidak menjadi bagian dari bahasa yang bersangkutan (lihat Sudaryanto 1993). Sudaryanto (1993) membagi metode padan atas lima macam, yaitu:

  • Metode referensial (referential [identity] method), di mana alat penentunya adalah kenyataan atau segala sesuatu (yang bersifat luar bahasa) yang ditunjuk oleh bahasa.
  • Metode fonetis artikulatoris (articulatory phonetic [identity] method), di mana alat penentunya organ atau alat ucap pembentuk bunyi bahasa.
  • Metode translasional (translational [identity] method), di mana alat penentunya bahasa atau lingual lain.
  • Metode ortografis (ortographic [identity] method), di mana alat penentunya perekam dan pengawet bahasa atau tulisan.
  • Metode pragmatis (pragmatic [identity] method}, di mana alat penentunya adalah lawan bicara.

2. Metode Distribusional

Metode Distribusional sebenarnya adalah metode analisis linguistik yang dikembangkan oleh kalangan linguistik strukturalisme model Amerika, yang lebih dikenal dengan sebutan kaum “Neo-Bloomfieldians”. Metode ini pada dasarnya merupakan reaksi terhadap Metode Padan yang pada umumnya dipakai di dalam linguistik tradisional. Karena cara bekerjanya berdasarkan logika yang bersifat spekulatif, maka Metode Padan itu ditentang habis-habisan oleh linguistik struktural.

Metode distribusional atau metode agih (istilah  Sudaryanto), yaitu menganalisis sistem bahasa atau keseluruhan kaidah yang bersifat mengatur di dalam bahasa berdasarkan perilaku atau ciri-ciri khas kebahasaan satuan-satuan lingual tertentu.

Teknik-teknik analisis yang tercakup dalam metode distribusional antara lain dapat berupa:

1)  Teknik Urai Unsur Terkecil ‘Ultimate Constituent Analysis’ (UCA)

Teknik Urai Unsur Terkecil dimaksudkan mengurai suatu satuan lingual tertentu atas unsur-unsur terkecilnya. Unsur terkecil yang mempunyai makna biasanya disebut “morfem”. Dalam bahasa Arab unsur terkecil biasa disebut dengan istilah harf. Contoh : Berlari, unsur terkecilnya adalah “ber-” dan “lari”. Contoh lain dalam Bahasa Arab: Haza manzilatuka ‘ini rumahmu’, unsur terkecilnya adalah haza ‘ini’, manzil-u ‘rumah’, dan ka ‘kamu’

2) Teknik Pilah Unsur Langsung ‘Immediate Constituent Analysis’ (ICA)

Teknik ini berdekatan dengan teknik urai unsur terkecil, yaitu memilah atau mengurai suatu konstruksi tertentu (morfologis atau sintaksis) atas unsur-unsur langsungnya. Contoh: Ia pergi ke Jogja (“ia”, ‘pergi”, dan “ke Jogja”).

3) Teknik Lesap (delisi)

Teknik delisi adalah suatu unsur atau suatu satuan lingual yang menjadi unsur dari  sebuah konstruksi (morfologis atau fraseologis) dilesapkan atau dihilangkan serta akibat-akibat struktural apa yang terjadi dari pelesapan itu. Teknik ini pada hakekatnya adalah pengurangan unsur dari sebuah konstruksi. Contoh: Tadi pagi, ia pergi ke Jogjakarta

Konstruksi “pergi ke Jogjakarta”, apakah unsur “ke” pada contoh di atas bersifat wajib atau tidak. Bila “ke” dihilangkan maka akan menjadi: “pergi Jogjakarta”.

4) Teknik Ganti (substitusi)

Teknik ganti (substitusi) yaitu menyelidiki adanya kepararelan atau kesejajaran distribusi antara satuan lingual atau antara bentuk linguistik yang satu dengan satuan lingual lainnya. Contoh: ”Mereka pergi ke sekolah”, dan ”Amin pergi ke sekolah”

Kata “Mereka” sekelas, sekategori, dan sejenis dengan kata “Amin”, maka pernyataan itu berdasarkan fakta bahwa dalam satuan kalimat dan kekata tertentu keduanya saling menggantikan atau saling digantikan,

5) Teknik Perluas (ekspansi)

Teknik perluas adalah teknik memperluas satuan lingual tertentu (yang dikaji atau yang dibahas) dengan “unsur” satuan lingual tertentu baik perluasan ke kiri atau ke kanan. Teknik berguna untuk: (a) mengetahui identitas satuan lingual tertentu, dan (b) mengetahui seberapa jauh satuan lingual yang dikaji itu dapat diperluas baik ke kiri maupun ke kanan. Contoh : “Rumah baru dapat diperluas menjadi “rumah [yang] baru”, “dalam rumah baru”, “dalam sebuah rumah baru”, “di dalam rumah yang baru”, dan sejenisnya.

6) Teknik Sisip (interupsi)

Teknik sisip adalah kemungkinannya menyisipkan suatu unsur atau satuan lingual tertentu terhadap suatu konstruksi yang sedang kita analisis. Contoh : Orang besar, bisa disisipi “yang” atau “yang agak”, orang [yang] besar, orang [yang agak] besar, dan seterusnya.

7) Teknik Balik (permutasi)

Teknik balik ialah kemungkinannya unsur-unsur (langsung) dan sebuah satuan atau konstruksi (morfologis atau fraseologis) dibalikkan urutannya. Teknik ini bertujuan menguji tingkat keketatan relasi antarunsur (langsung) suatu konstruksi atau satuan lingual tertentu. Contoh: (1) Bir baru, berbeda dengan “baru bir” dan (2) Ali memukul Norton, berbeda dengan “Norton memukul Ali”.

Frase “bir baru” yang termasuk frase endosentris atributif benar-benar berbeda dan “baru bir” (belum produksi yang lain) yang dipakai dalam konstruksi mempertentangkan. Kalimat Ali memukul Norton, berbeda dengan Norton memukul Ali, karena kalimat pertama Ali berperan sebagai agentif (pelaku) dan Norton sebagai pasientif (penderita), sedangkan dalam kalimat kedua Norton berperan sebagai agentif (pelaku) dan Ali sebagai pasientif (penderita).

Konstruksi ini tidak gramatikal. Maka “ke” tersebut bersifat wajib.

 

D. Analisis

Untuk mendeskripsikan pola atau bentuk penafsiran di dalam kitab Tafsir Jalalain dan mungkin sebagian terdapat data tafsir al-Kasyasyaf sebagai data tambahan di sini hanya dipergunakan lima teknik yang termasuk kategori Metode Distribusional. Kedua teknik seperti Teknik Urai Unsur Terkecil ‘Ultimate Constituent Analysis’ (UCA) dan Teknik Pilah Unsur Langsung ‘Immediate Constituent Analysis’ (ICA) tidak menjadi fokus analisis sekalipun kedua teknik tersebut juga dipergunakan di dalam kitab tafsir Jalalain, al-Kasysyaf, al-Baidhowi, dan lain-lain seperti analisis i’rab. Bahkan di dalam kitab tafsir al-Miqbas oleh Ibn Abbas juga di analisis fawatih al-suwar.

Kelima teknik yang menjadi fokus analisis di dalam tulisan ini adalah (1) teknik substitusi (ganti), (2) teknik ekspansi (perluas), (3) teknik interupsi (sisip), (4) teknik delisi (lesap), dan (5) teknik balik (permutasi).

1. Teknik Substitusi (teknik ganti)

a. Bentuk Analisis Struktural

Teknik substitusi yang dipergunakan di dalam penafsiran ayat Alqur’an dibagi menjadi empat kategori, yaitu (1) kategori partikel, baik berupa harf maupun isim dlamir dhahir, (2) kategori fi’il (verba), (3) kategori isim (nomina), dan (4) kategori idlāfah (bentuk frasa nomina).

Kategori huruf ‘partikel’ terdiri atas harf jar, harf syarth, harf tamanni, dan isim dhahir, contoh harf ‘partikel’ “bi” disubstitusikan dengan “an”:

(3a)

الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي خَلَقَ السَّمَوَاتِ وَالْأَرْضَ وَجَعَلَ الظُّلُمَاتِ وَالنُّورَ ثُمَّ الَّذِينَ كَفَرُوا [بِـٍٍ]رَبِّهِمْ يَعْدِلُونَ

(3b)

…. ثُمَّ الَّذِينَ كَفَرُوا [عن]رَبِّهِمْ يَعْدِلُونَ

(3a)

Segala puji bagi Allah telah menciptakan langit dan bumi, dan mengadakan gelap dan terang, kemudian orang-orang yang kafir “dengan” Tuhannya mereka mempersekutukan-Nya (QS.Al-An’am, 6:1)

(3b)

…  Kemudian orang-orang kafir [terhadap] Tuhannya merekamempersekutukan-Nya

Contoh 3a menunjukkan bahwa partikel bi ‘dengan’ disubstitusikan dengan partikel ‘an ‘terhadap’. Dengan demikian partikel ‘bi’ tidak menunjukkan arti yang sebenarnya mengingat bahwa partikel tersebut berkolokasi (berdampingan) dengan kata rabbihim. Karena partikel bi biasanya digunakan terhadap sesuatu yang memiliki kesetaraan.  Sementara arti bi yang berkolokasi dengan Tuhan menunjukkan arti hubungan yang berdekatan atau tidak berjarak, yaitu antara rabb dan him ‘mereka atau hamba’. Namun ayat tersebut menunjuk pada pembangkangan orang-orang kafir terhadap Tuhannya, sehingga dari segi semantis dilihat dari konteks ayat tidak menunjuk pada relasi yang berdekatan atau berjarak antara hamba yang mendurhakai dengan Tuhannya.

Bentuk fi’il ‘verba’ unzirakum disubstitusikan dengan ukhawwifakum, contoh:

(4a)

قُلْ أَيُّ شَيْءٍ أَكْبَرُ شَهَادَةً قُلِ اللَّهُ شَهِيدٌ بَيْنِي وَبَيْنَكُمْ وَأُوحِيَ إِلَيَّ هَذَا الْقُرْءَانُ [لِأُنْذِرَكُمْ] بِهِ وَمَنْ بَلَغَ أَئِنَّكُمْ لَتَشْهَدُونَ أَنَّ مَعَ اللَّهِ ءَالِهَةً أُخْرَى قُلْ لَا أَشْهَدُ قُلْ إِنَّمَا هُوَ إِلَهٌ وَاحِدٌ وَإِنَّنِي بَرِيءٌ مِمَّا تُشْرِكُونَ

(4b)

… وَأُوحِيَ إِلَيَّ هَذَا الْقُرْءَانُ [لِأُخوفكُمْ] بِهِ وَمَنْ بَلَغَ …

(4a)

Katakanlah: “Siapakah yang lebih kuat persaksiannya? Katakanlah: “Allah, Dia yang menjadi saksi antara aku dan kamu. Dan Alqur’an ini diwaliyukan kepadakn supaya dengannya aku memberi peringatan kepadamu  dan  kcpada  orang-orang yang  sampai  Alqur’an (kepadanya). Apakah sesungguhnya kamu mengakui bahwa ada tuhan-tuhan   yang   lain   di   samping   Allah?”. Katakanlah: “Sesungguhnya Dia adalah Tuhan Yang Maha Esa dan sesungguhnya aku berlepas diri dari apa yang kamu persekutukan (dengan Allah). (QS.Al-An’am, 6:19).  

(4b)

… dan Alqur’an ini diwahyukan kepadaku supaya dengannya [aku memberi peringatan] kepadamu dan kepada orang-orang yang sampai Alquran (kepadanya)….  

Bentuk nomina akinnatan dan waqran disubstitusikan dengan ughtiyatan  dan shamaman, contoh:

(5a)

وَمِنْهُمْ مَنْ يَسْتَمِعُ إِلَيْكَ وَجَعَلْنَا عَلَى قُلُوبِهِمْ [أَكِنَّةً] أَنْ يَفْقَهُوهُ وَفِي ءَاذَانِهِمْ [وَقْرًا] وَإِنْ يَرَوْا كُلَّ ءَايَةٍ لَا يُؤْمِنُوا بِهَا حَتَّى إِذَا جَاءُوكَ يُجَادِلُونَكَ يَقُولُ الَّذِينَ كَفَرُوا إِنْ هَذَا إِلَّا أَسَاطِيرُ الْأَوَّلِينَ(25)

(5b)

… وَجَعَلْنَا عَلَى قُلُوبِهِمْ [أَغطية] أَنْ يَفْقَهُوهُ وَفِي ءَاذَانِهِمْ [صمما] …

(5a)

Dan di antara mereka ada orang yang mendengarkan [bacaan]mu, padahal Kami telah meletakkan tutupan di atas hatimu (sehingga mereka tidak) memahaminya dan (Kami letakkan) sumbatan di telinganya. Dan jikapun mereka melihat segala tanda kebenaran mereka tetap tidak man beriman kepadanya. Sehingga apabila mereka datang kepadamu untuk membantahmu, orang-orang kafir itu berkata: Alqur’an ini tidak lain hanyalah dongengan orang-orang dahulu (QS.Al-An’am, 6:25).  

(5b)

Dan di antara mereka ada orang yang mendengarkan (bacaan)mu, padahal Kami telah meletakkan [tutupan] di atas hatimu (sehingga mereka tidak) memahaminya dan (Kami letakkan) [sumbatan] di telinganya…  

b. Urgensi Metodologis

Teknik ini dipergunakan untuk menyelidiki adanya kepararelan atau kesejajaran distribusi antara kosa kata (mufradat) yang satu dengan lainnya. Tafsir Jalalain lebih banyak menggunakan teknik ini dalam menafsirkan ayat Alqur’an. Di antara kegunaannya adalah (1) untuk memperjelas maksud satuan lingual dalam sebuah ayat, (2) untuk melihat relasi semantik senonimik baik dalam bentuk satuan lingual tertentu maupun kalimat dalam sebuah ayat, dan (3) untuk melihat adanya fitur distingtif (penanda pembeda) untuk melihat relasi semantik antonimik dalam mengemukakan makna ayat yang dimaksud.

Relasi semantik sinonimik sebagai upaya menambah perbendahaan kosa kata dalam sebuah penafsiran, di antaranya adalah:

Bentuk Fiil ‘Verba’

Bentuk Isim ‘Nomina’

No

Ayat

Tafsir

No

Ayat

Tafsir

1

أنذركم

أخوفكم

1

أكنة

أغطية

2

تنسون

تتركون

2

وقرا

صمما

3

ختم

طبع

3

لقاء الله

البعث

4

نصرف

نبين

4

الساعة

القيامة

5

تمترون

تشكون

5

الموتى

الكفار

6

ضل

غاب

6

البأساء

شدة الفقر

7

أرئيتم

أخبروني

7

الضراء

المرض

8

يجحدون

يكذبون

8

ضر

بلاء

9

ينأون

يتباعدون

9

بغتة أو جهرة

ليلا أو نهارا

10

10

كلمات الله

مواعيده

 

2. Teknik Perluas (Ekspansi)

a. Bentuk Analisis Struktural

Teknik perluas ini dipergunakan untuk memperluas kosa kata tertentu dalam sebuah ayat dengan “unsur” satuan lingual tertentu. Perluasan bisa terjadi ke sebelah kiri atau ke kanan. Teknik ini terbagi menjadi dua kategori, yaitu: (1)  bentuk perluas ke sebelah kiri, dan (2) bentuk perluas ke sebelah kanan. Contoh

(6a)

يُخَادِعُونَ اللَّهَ وَالَّذِينَ ءَامَنُوا وَمَا يَخْدَعُونَ إِلَّا أَنْفُسَهُمْ وَمَا [يَشْعُرُونَ …]

(6b)

يُخَادِعُونَ اللَّهَ وَالَّذِينَ ءَامَنُوا وَمَا يَخْدَعُونَ إِلَّا أَنْفُسَهُمْ وَمَا ]َ يعلمونَ ان خداعهم راجع اليهم]

(6a) Mereka tidak menipu kecuali kepada diri mereka sendiri, namun mereka tidak merasa (QS 2:9)
(6b) Mereka tidak menipu kecuali kepada diri mereka sendiri, namun mereka tidak [mengetahui bahwa tipuan mereka akan kembali kepada mereka sendiri]

Kata yasy’urūn pada contoh 6a berarti sadar, kata ini disubstitusikan dengan kaya ya’lamūn yang berarti mengetahui. Antara menyadari dan mengetahui memiliki relasi semantik sinonimik, karena ada kesamaan arti bahwa keadaan sadar adalah mengetahui apa yang terjadi. Demikian pula kata tahu berarti dalam keadaan sadar. Kata ini dinegasikan dengan kata tidak yang berarti tidak sadar atau tidak tahu.

Kalimat mereka tidak sadar merupakan bentuk kalimat yang dipersingkat strukturnya. Dari segi arti kalimat ini dapat diperluas strukturnya ke sebelah kiri sebagaimana contoh 6b, [ …dan mereka tidak mengetahui bahwa tipuannya akan kembali kepada mereka sendiri]. Kalimat lanjutan ini merupakan bentuk penjelasan secara konkret terhadap kalimat sebelumnya.

Contoh 6c dapat diperluas pula ke sebelah kanan sekaligus dengan mengganti struktur kalimat pada ayat berikut, contoh:

(6c)

… وَ[هم في ذلك] يَخْدَعُونَ أَنْفُسَهُمْ [حيث يمنونها الاباطيل ويكذبونها فيما يحدثونها به] وَمَا يشعرون

(6c)

[Dan mereka dalam hal itu] menipu diri mereka sendiri [dengan mengharapkan perbuatan sesat dan mendustakan diri mereka sendiri melalui pembicaraan mereka].

Contoh 6c menggunakan teknik perluas baik ke sebelah kiri maupun ke sebelah kanan. Atau dengan kata lain bisa dilakukan ekspansi sebelum dan sesudah kalimat dengan mengubah struktur bentuk negatif menjadi positif atau dari jumlah fi’liyah menjadi jumlah ismiyah. Huruf nafi ‘tidak’ yang bertujuan untuk menegasikan suatu pembicaraan dilesapkan bersamaan dengan kata illā ‘kecuali’.

Contoh lain pada surat Al-Baqarah dapat disimak sebagai berikut.

(7a)

فِي قُلُوبِهِمْ مَرَضٌ فَزَادَهُمُ اللَّهُ مَرَضًا …

(7b)

فِي قُلُوبِهِمْ مَرَضٌ فَزَادَهُمُ اللَّهُ مَرَضًا [بما أنزله من القرآن لكفرهم به] …

(7a)

Di dalam hati mereka terdapat penyakit, lalu Allah menambahkan penyakit itu

(7b)

Di dalam hati mereka terdapat penyakit, lalu Allah menambahkan penyakitnya [–dengan diturunkannya Alqur’an akibat kekufurannya—]

Penambahan kalimat [—disebabkan atas diturunkannya Alqur’an oleh Allah akibat  kekufurannya—] merupakan bentuk perluasan ayat ke sebelah kiri. Bentuk perluasan ini merupakan penjelas terhadap diktum ayat yang memerlukan keterangan lebih lanjut. Teknik ini biasanya dipergunakan untuk menafsirkan ayat-ayat yang berbentuk majaz, perbandingan, dan metaforis.

b. Urgensi Metodologis

Teknik Perluas adalah teknik memperluas kosa kata tertentu dalam sebuah ayat dengan “unsur” satuan lingual tertentu baik perluasan ke sebelah kiri atau ke kanan. Teknik dipergunakan untuk: (1) mengetahui identitas suatu ayat tertentu, (2) mengetahui seberapa jauh ayat Alqur’an yang dikaji itu dapat diperluas baik ke kiri maupun ke kanan, dan (3) mengetahui maksud tuturan suatu ayat yang lebih luas.

3. Teknik Interupsi (sisip)

a. Bentuk Analisis Struktural

Teknik ini memungkinkan untuk menyisipkan suatu unsur atau satuan lingual baik berupa partikel (huruf jar, huruf nasab, dan lain sebagainya) tertentu terhadap suatu konstruksi ayat Alqur’an. Unsur atau satuan lingual yang dimaksud dapat berupa harf (partikel), fi’il (verba), isim (nomina), jumlah (kalimat). Teknik intrupsi dari bentuk fiil (verba) bisa berupa (1) sisipan preposisi+verba dan  intrupsi dari bentuk isim (nomina).

Contoh:

(8a)

وَالَّذِينَ كَذَّبُوا بِآيَاتِنَا صُمٌّ وَبُكْمٌ [—] فِي الظُّلُمَاتِ مَنْ يَشَأِ اللَّهُ يُضْلِلْهُ وَمَنْ يَشَأْ يَجْعَلْهُ عَلَى صِرَاطٍ مُسْتَقِيمٍ

 

(8b)

وَالَّذِينَ كَذَّبُوا بِآيَاتِنَا صُمٌّ وَبُكْمٌ [عن النطق] فِي الظُّلُمَاتِ مَنْ يَشَأِ  اللَّهُ [اضلاله] يُضْلِلْهُ وَمَنْ يَشَأْ [هدايته] يَجْعَلْهُ عَلَى صِرَاطٍ مُسْتَقِيمٍ

 

(8a)

Dan orang-orang yang mendustakan ayat-ayat Kami adalah pekak dan bisu, (mereka berada) dalam gelap gulita. Barang siapa yang dikehendaki Aliali niscaya disesatkan-Nya. Dan barangsiapa yang dikehendaki oleh Allah, niscaya Dia menjadikannya berada di atas jalan yang lurus (QS.Al-An’am, 6: 39)

(8b)

Dan orang-orang yang mendustakan ayat-ayat Kami adalah pekak dan   bisu [dari mengucapkan kebenaran], mereka berada dalam gelap gulita. Barang siapa yang dikehendaki Allah [kesesatannya]niscaya disesatkan-Nya. Dan barangsiapa yang dikehendaki oleh All all [untuk diberi-Nya petunjuk] niscaya Dia menjadikannya berada di atas jalan yang lurus.

b. Urgensi Metodologis

Teknik ini dipergunakan untuk mengukur keintian suatu kalimat dalam sebuah ayat. Jika dalam sebuah kalimat atau ayat terdapat satuan lingual yang tidak dapat dilesapkan maka satuan lingual tersebut termasuk kategori inti. Namun sebaliknya jika bisa dilesapkan maka termasuk kategori periferal.

4. Teknik Lesap (Delisi)

a. Bentuk Analisis Struktural

Teknik lesap (delisi) memungkinkan suatu unsur atau suatu satuan lingual yang menjadi unsur dan sebuah konstruksi sebuah ayat Alqur’an dilesapkan atau dihilangkan serta akibat-akibat struktural apa yang terjadi dari pelesapan itu. Teknik ini pada hakekatnya adalah pengurangan unsur dari sebuah konstruksi ayat Alqur’an. Pelesapan bisa terjadi baik pelesapan berupa huruf (preposisi) maupun pelesapan berupa jumlah mu’taridhah (anak kalimat).

          Contoh:

(8a)

ويوم نحشرهم جميعا ثم نقول للذين أشركوا أين شركاؤكم الذين كنتم تزعمون —

(8b)

ويوم نحشرهم جميعا ثم نقول للذين أشركوا أين شركاؤكم الذين كنتم تزعمونـ–[–ـه شركاء]

(8a)

Dan (ingatlah) hari yang di waktu itu Kami menghimpun mereka semuanya, kemudian kami berkata kepada orang-orang musyrik: Di manakah sembahan-sembahan kamu yang dahulu kamu duga (QS. Al-An’am, 6:22)

(8b)

Dan (ingatlah) hari yang di waktu itu Kami menghimpun mereka semuanya, kemudian kami berkata kepada orang-orang musyrik: Di manakah sembahan-sembahan kamu yang dahulu kamu duga [—sekutu-sekutu kami—]

b. Urgensi Metodologis

Teknik ini dipergunakan untuk melihat unsur satuan ayat Alqur’an yang bersifat inti (ashalah) dan yang bersifat periferal (taba’ah) suatu konstruksi gramatikal. Keintian (ashalah) dan ke-periferalan menuntuk hukum pokok dan hukum yang mengikuti jika hal itu terkait dengan aspek yuridis.

5. Teknik Permutasi (Balik)

a. Bentuk Analisis Struktural

Teknik permutasi (balik) ialah kemungkinannya unsur-unsur (langsung) dari sebuah satuan atau konstruksi ayat Alqur’an dibalikkan urutannya. Teknik ini bertujuan menguji tingkat keketatan relasi antarunsur (langsung) suatu konstruksi ayat atau satuan lingual tertentu. Teknik ini berlaku baik pada susunan (jumlah) yang didahului oleh harf syarth maupun didahului khabar muqaddam.

Contoh :

(9a)

قَالَ يَاقَوْمِ أرْهِطِي أَعَزّ عَلَيْكُمْ مِنَ اللهِ وَاتَّخَذْتمُوُهُ وَرَاءَكُمْ ظِهْرِيًّا إنَّ رَبِّيْ ِبمَا تَعْمَلُوْنَ مُحِيْطٌ

(9a) Syu’aib menjawab: “Hai kaumku, apakah keluarga lebih terhormat menurut pandanganmu dari pada Allah, dan [kamu menjadikan Allah di belakang punggungmu]. Sesungguhnya (pengetahuan) Tuhanku meliputi apa yang kamu kerjakan. (QS. Hud 11:92).

Ayat di atas diuraikan oleh Al-Zamakhsyari dengan menggunakan teknik permutasi dan teknik substitusi sebagai berikut.

(10a)

وَاتَّخَذْتمُوُهُ وَرَاءَكُمْ ظِهْرِيًّا

(10b)

ونسيتموه وجعلتموه كالشئ المنبوذ وراء الظهر لا يعبأ به

(10c)

وجعلتم الله خلف ظهوركم لا تطيعونه ولا تعظمونه كالشئ المنبوذ وراء الظهر لا يعبأ به

(10a)

Dan kamu jadikan Allah di belakang punggungmu

(10b)

Dan kamu melupakan Allah dan kamu jadikan-Nya seperti sesuatu yang terbuang di belakang punggung yang tidak diperhitungkan (keberadaannya)

(10c)

Dan kamu jadikan Allah di belakang punggungmu yang tidak kamu taati dan agungkan seperti sesuatu yang terbuang di belakang punggung yang tidak diperhitungkan (keberadaannya). . (Al-Zamakhsyari, I/30)

 Kata وَرَاءَكُمْ ظِهْرِيًّا pada contoh ayat (14a) oleh al-Zamakhsyari (14c) dipermutasikan (dibalik) bahwa bentuk pronomina yang semula berada di tengah kata lalu diletakkan di belakang kata, sedangkan kata وَرَاءَ diganti (substitusi) dengan خلف sehingga menjadi خلف ظهوركم ‘di belakang punggungmu’. Dengan pola demikian ini tampak semakin jelas maksud ayat tersebut.

b. Urgensi Metodologis

Teknik permutasi biasanya dipergunakan untuk bentuk-bentuk susunan inversi, seperti kalimat berstruktur khabar muqaddam (mendahulukan khabar dan mengakhirkan mubtada’) dan mendahulukan objek (maf’ul bil) dari pada fi’il-nya.

E. Simpulan

Berdasarkan data dan analisis data diperoleh kesimpulan sebagai berikut. Pertama, Metode Distribusional yang kemudian diturunkan ke dalam teknik-teknik analisis lingual seperti substitusi (teknik ganti), ekspansi (teknik perluas), intrupsi (teknik sisip), delisi (teknik lesap), dan teknik permutasi (balik) dipergunakan untuk memahami maksud ayat oleh kalangan para penafsir, terutama tafsir-tafsir bi al-ra’y seperti Jalalain, al-Kasysyaf, dan lain-lain. Kedua, penggunaan keempat macam bentuk teknik tersebut yang paling menonjol adalah teknik substitusi-intrupsi-ekspansi-delisi. Teknik substitusi untuk menjelaskan padanan kata atau relasi semantik senonimiknya, teknik intrupsi dipergunakan untuk menjelaskan bentuk-bentuk majas (kalimat-kalimat yang dipenggal untuk pemadatan makna), teknik perluas dipergunakan untuk menjelaskan maksud ayat agar dipahami lebih luas, dan teknik delisi dipergunakan untuk menjelaskan ayat yang memiliki nilai keintian dan ketidakintian (periferal).

Daftar Pustaka

Al-Aridl, Ali Hasan. 1994. Sejarah dan Metodologi Tafsir. Jakarta: PT Raja Grafindo Persada.

Al-Suyuti, Abdurrahman Jalaluddin. tt. Tafsir Alqur’an Al-Adhim. Beirut: Dar al-Fikr.

Altenbernd, Lynn, dan  Lislie L.Lewis. 1970. A Handbook for The Study of Poetry. London: Collier-MacMillan Ltd.

Al-Zamakhsyari, Abu Qasim Muhammad Jarullah Mahmud ibn Umar. 1966. Al-Kasysyaf an Haqaq-i al-Tanzil wa ‘Uyu al-Aqawil fi al-Wujuh al-Tanzil. Kairo: Maktabah Mustafa Al-Babi Al-Halabi.

Subroto, HD. Edi. 1992. Pengantar Metode Penelitian Linguistik Struktural. Surakarta: Universitas Sebelas Maret Press.

Fatimah Djajasudarma. 1993. Metode Linguistik: Ancangan Metode Penelitian dan Kajian. Bandung: Eresco.

Saussure, Ferdinand de. 1988. Pengantar Linguistik Umum. Yogyakarta: Gadjah University Press.

Sudaryanto. 1992. Metode Linguistik: Ke Arah Memahami Metode. Yogyakarta: Duta Wacana University Press.

________. 1993. Metode dan Aneka Teknik Analisis Bahasa: Pengantar Penelitian Wahana Kebudayaan Secara Linguistik. Yogyakarta: Duta Wacana University Press.

_______. Linguistik: Identitas, Cara Penanganan Objeknya, dan Hasil Kajiannya. Yogyakarta: Duta Wacana University Press.

Verhaar, J.W.M. 1996. Asas-Asas Linguistik Umum. Yogyakarta: Gadjah Mada University Press.

About iroelizzta

santai tapi pasti

Posted on 29 Mei 2012, in ulum At-Tafsir. Bookmark the permalink. Tinggalkan komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: