MACAM-MACAM HERMENEUTIKA BESERTA TOKOHNYA

MACAM-MACAM HERMENEUTIKA BESERTA TOKOHNYA

Hermeneutika bisa dikatakan sebagai metode untuk penafsiran. Adapaun lingkar hermeneutika ada 3 yaitu: penggagas/ pembuat teks, teks itu sendiri, dan pembaca, dan menghasilkan suatu yang diinginkan yaitu sebuah makna.

 

Makna

Penggagas/ pembuat teks

 

Teks                                                pembaca

  1. 1.      Macam-macam hermeneutika

Adapun hermeneutika macam-macam hermeneutika itu ada 3 yaitu:

1)         Hermeneutika teoritis ( epistimologi ) yang mana hermeneutika ini mencari makna atau pemahaman yang benar. Maksudnya adalah makna yang diinginkan olah penggagas teks tersebut. ( makna yang obyektif atau makna yang valid menurut pengarang atau penggagas teks ). Berkaitan dengan hermeneuitika ini Schleiermacher melakukan ini denag dua pendekatan yaitu pendekatan linguistic ( dari sisi bahasa ) yaitu dengan cara analisis teks secara langsung. Dan pendekatan psikologi yaitu mengarah pada unsur psikologis yang obyektif sang penggagas ( harus mengetahui psikologis sang penggagas teks ) mengandaikan seorang penafsir atau pembacanya itu harus menyamakan posisinya dengan dengan penggagasnya untuk mencapai makna yang obyektif,dengan pendekatan psikologis menyatakan bahwa penafsiran dan pemahaman adalah mengalami kembali proses-proses mental dari pengarang teks atau reexperiencing the mental prosesses of the teks author.  Pendapat senada juga di setujui oleh Dilthey dengan pendekatan histori menyatakan bahwa makna sebagai produk dari aktifitas penafsiran bukan dityentukan oleh subjek yang transcendental tetapi lahir dari realitas hidup yang menyejarah. Dilthey juga yang diinginkan adalah makna yang obyektif dari ekspresi sejarah munculnya teks. Dengan demikian maka teks itu sebetulnya merupakan representasi dari kondisi historikalitas penulis atau pengarang teks. Kemudian dilanjutkan oleh Emilio Betti yag menyatukan pendekatan-pendekatannya antara Schleiwrmacher dan Delthey menjadi asatu yaitu pendekatan linguistic, pendekatan psikologis dan pendekatan historis yang menghasilkan makna yang obyekfif pula.

2)   Hermeneutika filsafat ( ontotlogi ), proses pemahaman itu atau pra pemahaman yaitu pertemuan antar pembaca dan teks. Hermeneutrika fifosofis berpendapat dengan tegas bahwa penafsir atau pembaca telah memiliki prasangka atau pra pemahaman atas teks yang dihadapi sehingga tidak mungkin untuk menghasilkan makna yang obyektif atau makna yang sesuai dengan penggagas teks. Hermeneutika tidak bertujuan untuk memeperoleh makna yang obyektif sebagaimana teori hermeneutika melainkan pada pengungkapan mengenai dassein manusia dalam temporalitas dan historikalitasnya. Implikasinya konsep mengenai apa yang yang terlibat dalam penafsiran pada akhirnya bergeser dari reproduksi sebuah teks yang sudah ada sebelumnya menjadi partisipasi dalam komunikasi yang sedang berlangsung antara masa lalu dan masa kini. Istilah lain bahwa jika teorihermeneutika bertujuan untuk memproduksi makna sebagaimana makna awal, yaitu makna yang diinginkan penulis atau penggagas teks, maka filsafat hermeneutika bertujuan memproduksi makna yang sama sekali baru. Tokoh yang mendukung aliran ini adalah Heidegger dan Gadamer. Herdegger lebih ddahulu membuka jalan dengan menggeser. Konsep hermeneuitika ini dari wilayah metodologis-epistimologis ke wilayah ontologism atau istilah  lain bahwa hermeneutika adalah bukan  a way of knowing tetapi a mode of being. Dan kemudian Gadamer berjalan melewati jalan tersebut denagn menyatakan bahwa penafsiran adalah peleburan horizon-horizon ( fusion of horizon ) yaitu horizon penulis atau pengarang dan penafsir atau pembaca, masa lalu dan masa kini. Dengan demikian makna teks sebagai produk aktifitas penafsiran pasti akan melampaui penulis atau pengarang teks itu sendiri.

3)   Hermeneutika kritis ( mengungkap kepentingan / kepentinagn penggagas ) karena dalam hermeneutika ini teks dianggap medium mengusai ( curiga ). Kalau dilihat  secara umum, sebutan kritis di sini adalah penaksiran atu hubungan-hubungan yang telah ada pada pandangan standar, yang berasal dari pengetahuan mengenai sesuatu yang lebih baik, yang telah ada sebagai potensi atau tendensi di masa kin. Sedangkan secara spesifik, istilah hermeneutika kritis ini menunjuk kepada adanya sebuah relasi dengan teori kritis madzab Frankfurt. Dikatakan hermeneutika kritis karena sedut pandangnya yang mengkritik standar konsep-konsep penafsiran yang ada pada sebelumnya, yaitu hermeneutika teoritis dan hermeneutika filisofis. Kedua hermeneutika yang mempunyai sudut pandang yang berbeda ternyata sama-sama mempunyai sikap setiap terhadap teks, artinya sama-sama berusaha menjamin kebenaran makna teks. Ini yang kemudian menjadi lading hermeneutika kritik, yang justru lebih cenderung mencurigai teks yang diasumsikan sebagai tempat persembunyian kesadaran-kesadaran palsu. Hermeneutika kritis lebih cenderung pada penyelidikan dengan membuka selubunh-selubung penyebab adanya distorsi dalam pemahaman dan komunikasi yang berlangsung dalam interaksi kehidupan sehari-hari.  Adapun tokoh yang setuju dengan sudut pandang ini adalah Habermas. Ia lalu mempertimbangkan factor-faktor di luar teks yang dianggap membantu mengkonstitusikan konteks teks.

HANS GEORG. GADAMER ( Hermeneutika sebagai peleburan horizon )

Hans George gadamer dilahirkan di Breslau, Jerman. Pada tanggal 11 februari 1900. Ayahnya seorang professor Kimia.  Teori hermeneutika di tangan Gadamer  memesuki babak baru yang sangat penting. Berpijak pada hermeneutika sebagai persoalan ontologis sebagaimana proyek Heidegger, dia mendefinisikan hermeneutika tidak lain sebagai usaha filosofis untuk mempertanggungjawabkan pemahaman sebagai proses ontologism manusia. Gadamer menolak konsep hermeneutika sebagai metode, meskipun hermeneutika meneurutnya adalah penafsiran dan pemahaman, namun dia tidak menyatakan bahwa penafsiran dan pemahaman itu bersifat metodis atau sebuah aturan mencapai kebenaran. Gadamer ingin mencapai kebenaran melalui dialektika. Dialektika adalah proses pemahamnan dari hasil peleburan antara horizon-horizon, yakni horizon teks  dengan horizon pembaca atau penaafsir. Di sini menunjukkan bahwa hermeneutika adalah peristiwa dialektik atau dialektikal ( dialog ). Selanjutnya Gadamer menyebutkan bahwa ada empat konsep tentang manusia yang memperkaya hermeneutika atau penafsiran dan pemahaman, yaitu bildung atau kebudayaan, pertimbangan praktis yang baik, pertimbangan,dan taste atau selera.

Kebudayaan

Secara bahasa kata bersinonim dengan kata formation, yakni dari bahasa latin yang artinya bentuk atau formasi. Kata bildung itu sendiri dari bahasa jerman, yaitu bild, yang artinya gambaran atau model.

Sedangkan secara definisi bildung diartikan dengan tingkah laku pikiran kita yang mengalir secara harmonis.

Pertimbangan poraktis yang baik

Maksudnya adalah pandangantentang kebaikan umum, cinta komunitas, masyarakat atau keamanan. Sensus kommunis adalah kebijakan dalam pergaullan social seringkali sensus communis ini diterjemahkan secara sederhana sebagai hati, kalbu atau suara hati. Sensus ini berkaitan dengan aspek moralitas.

Pertimbangan

Adalah kemampuan untuk memahami hal-hal khusus sebagai contoh yang universal. Kemampuan ini akan melibatkan perasaan, konsep, prinsip dan hokum-hukum yang dapat diolah oleh manusia.

Taste atau selera

Adalah kemampuan intelektual untuk membuat deferensiasi atau pembedaan. Selera tidak terbatas pada apa yang indah secara alami dan berkaitan dengan seni, tetapi meliputi seluruh moralitas dan perilaku atau tabiat.

Historikalitas pemahaman dan konsekuensinya.

Selain sebagai peristiwa dialek atau dialektikal, hermeneutika sebagai penafsiran dan pemahaman bersifat historical atau menyejarah. Ini menunjukkan bahwa sebuah penafsiran dan pemahaman adalah menyejarah, pemahaman senantiasa mempunyai kaitan dengan masa sehingga pemahaman tidak ada yang permanen atau fixes. Sejarah efektif ini melihat tentang adanya kerangka penafsiran dan pemahaman sesuai dengan waktunya, yaitu waktu lampau tatkala pengarang penulis teks. Dalam menulis, penulis atau pengarang tidak dengan kesadaran kosong tetapi dia mempunyai cara melihat latar belakang lainnya yang telah melekat sebelumnya. Kemudian tatkala teks masa lampau sudah terpublikasi maka teks tak lagi milik penulis atau pengarang teks saja. Kemudian waktu kini di mana penafsir atau pembaca dengan cara melihat dan latar belakangnya sendiri dan berdialog dengan teks masa lampau sehingga menghasilkan makna masa kini sesuai konteksnya.

Pengembangan dan pemikiran tentang konsep  ini, sesungguhnya Gadamer bertumpu dan bertolak dari dua pemikiran Heidegger, yakni bahwa pemahaman selalu mempunyai struktur yang bergiat dalam semua aktifitas pemahaman dan penafsiran, yang nanti oleh Gademer disebut dengan prasangka. Atau pra pemahaman dan bahwa secara intrinsic manusia adalah historical.

Berangkat dari historikalitas penafsiran atau pemahaman di atas maka konsekuensi hermeneutikanya adalah sebagai berikut:

v  Tidak ada penafsiran atau pemahaman yang tanpa prasangka.

Menurur Gadener sebagaiman dikutip oleh bleicher, bahwa semua penafsiran atau pemahaman bersifat prasangka. Ini berarti bahwa gagasan membebaskan penafsiran dan pemahaman dari prasangka adalah sesuatu yang anah. Menurut Gadamer melenyapkan prasangka dan mencapai obyektifitas dalam penafsiran dan pemahaman sebagaiman diungkapkan oleh beberapa tokoh yang telah disebutkan di depan, sebenarnya berakar sejak jaman pencerahan filsafat yang mempertentangkan antara rasio di satu pihak dengan prasangka dan otoritas di lain pihak. Dan yang demikian menurut Gadamer tidaklah perlu.

Prsangka oleh Gadamer berasal dann diklasifikasikan menjadi 3 yaitu:

  • Vorhabe ( latar belakang pendidikan dan agama ), sebagai contoh seorang protestssan dan orang islam berbeda dalam menafsirkan atau memahami tentang takdir.
  • Vorsichit  ( sudut pandang tertentu tentang teks tersebut ), ex tatkala melihat peristiwa kecelakaan mobil, maka sseorang dokter akan melihat sisi yang berbeda dari seorang makelar mobil meski sama-sama melihat kejadian yang sama.
  • Vorgriff  ( konsep-konsep yang ada di kepala penafsir atau pembaca ), penafsir atau pembaca akan menjelaskan obyek tafsir sesuai dengan apa yang diketahui, sesuai dengan konsep yang telah dibuatnya sendiri. Ex matoa adalah seperti buah rambutan yang tanpa rambut.

Adanya konsep distansi temporal

Bagi Gadamer adanya ketegangan antara horizon-hotizon, antara penulis atau pengarang teks dan penafsir atau pembaca, anatara masa lalu dan masa sekarang, merupakan titik pusat dalam hermeneutika. Adapun tugas hermeneutika di sini adalah untuk memperantai horizon tersebut, dengan tujuan membiarkan teks berbicara sendiri dalam dunia kininya penafsir atau pembaca setelah melalui proses dialog sebagaimana yang sudah dijelaskan di atas.

Bukan memahami pengarang teks

Hermeneutika sebagai kegiatan penafsiran dana pemahaman adalah bukan memahami penulis atau pengarang teks, tetapi justru memahami teks itu sendiri.

Rekontruksi masa lalu

Penafsiran dan pemahaman adalah masalah rekontruksi dunia dari suatu teks. Di dalam memahami suatu teks lama atau masa lalu, perlulah ditimbangkan prapengandaian hermeneutika bahwa merekontruksi  konteks sejarah adalah tugas pertama penafsiran dan pemahaman. Teks adalah suatu kreasi historis di dalam suatu bahasa yang bersifat historis dan oleh manusia yang beresifat historis pula.

Signifikansi aplikasi

Struktus historikalitas di dalam pemahaman mensugestikan pentingnay sebuah factor yang seringkali diabaikan dalam hermeneutika, yaitu aplikasi. Mengutip karya JJ. Rambach yang telah ditulis oleh Palmaer bahwa penafsiran harus mencakup 3 kekuatan yaitu: subtilitas intellegansi ( pemahaman ) subtilitas explicandi ( eksplikasi atau penjelasan ) dan subtilitas applicandi (  aplikasi atau penerapan ).

Linguistikalitas pemahaman

Seperti telah kita ketahui bahwa secara sederhana hermeneutika menunjukkan pada tindak penafsiran atau pemahaman. Pemahaman dan penafsiran adalah peleburan anatara horizon-horizon yang berbeda. Peleburan horizon-horizon ini tidak dapat digambarkan tanpa menggunakan mediasi bahasa.

About iroelizzta

santai tapi pasti

Posted on 29 Mei 2012, in artikelku. Bookmark the permalink. 2 Komentar.

  1. lengkap banget tokoh2 nya

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: