Keistimewaan Shalat dalam Ranah Keagamaan

Keistimewaan Shalat dalam Ranah Keagamaan


 

  1. Prolog                                                                                                                      

Segala yang disyariahkan Allah, terlepas apakah itu yang hukumnya wajib atau sunnah, semua pasti memiliki manfaat-manfaat yang sifatnya visible dan invisible. Manfaat yang bersifat visible adalah manfaat yang bisa dijelaskan secara nalar,dibuktikan melalui proses pengujian dan analisa. Sedang manfaat yang bersifat invisible adalah manfaat yang tidak bisa dijelaskan dengan penjelasan nalar secara keseluruhan, tetapi dijelaskan dengan ayat-ayat al-Qur’an dan hadits-hadits Rasulullah saw. Semua manfaat tersebut pastinya tidak dapat terhitung lagi jumlahnya karena begitu banyaknya. Karena itu tidak berlebihan kalau kita menyebutnya dengan istilah “rahasia Allah” , dan rahasia Allah ini luasnya melebihi luas daratan maupun lautan.[2]

Shalat merupakan salah satu pilar penompang bangunan Islam. Allah telah mewajibkan shalat atas setiap muslim dan tidak memberikan dispensasi untuk meninggalkannya. Allah hanya berkenan memberikan dispensasi dalam pelaksanaannya. Seperti yang kita ketahui dan harus diyakini kebenarannya, bahwasanya shalat itu memberikan efek positif bagi hidup dan kehidupan manusia. Karena Allah tidak pernah mewajibkan sesuatu kecuali yang akan dapat mendatangkan manfaat kepada umat manusia. Contoh segarnya adalah shalat. Shalat akan dapat mengantarkan manusia pada Khaliqnya, pada penciptanya, yang bermunajat kepada-Nya, memohon kepada-Nya, meminta dipenuhi segala kebutuhannya, dan kemudian Allah mengabulkannya sehingga dia hidup dalam penjagaan dan karunia-Nya, baik di dunia maupun di akhirat kelak.

Balasan ibadah shalat bagi kaum muslimin tidaklah bisa dihitung. Ibadah yang dengannya Allah menempatkan orang yang melakukannya menjadi orang yang paling dicintai-Nya.

Selanjutnya, dalam makalah ini penulis akan memaparkan  tentang keistimewaan-keistimewaan shalat yang mana dengan ini semoga kita semua menjadi pribadi yang taat dan selalu dalam ridha Allah SWT.

 

  1. Keistimewaan Shalat

Shalat yang merupakan ibadah yang sangat istimewa dalam Islam. Perintah shalat yang diturunkan kepada Rasulullah saw. dan umatnya berbeda dengan ibadah-ibadah lainnya. Perintah shalat diterima Rasulullah saw. dalam peristiwa Isra’ Mi’raj, ketika berhadapan langsung dengan Allah Azza waJalla, pertemuan antara seorang hamba dengan Tuhannya yang belum pernah terjadi sepanjang masa. Dari sisi ini tidak terlalu mengherankan kalau seseorang yang selalu taat mendirikan shalat dengan sempurna akan terjamin hidupnya, senantiasa bahagia dan tentram lahir batinnya.

Begitu  berharga dan  istimewanya ibadah shalat ini, sampai-sampai ditegaskan dalam hadits Rasulullah saw yang diriwayatkan oleh Naufal bin Mu’awiyah bahwa siapa saja yang luput satu kali saja dalam mengerjakan shalatnya diibaratkan dengan kehilangan seluruh keluarga dan harta bendanya. Berangkat dari sisi ini pula kiranya Sayyed Hosen Nashr (1983) mengemukakan bahwa ritus utama dalam agama Islam adalah shalat yang akan mengintegrasikan kehidupan manusia ke dalam ruhaniah. Para ulama pun sepakat bahwa kewajiban Islam yang paling  penting setelah iman adalah shalat.

Dalam suatu hadits yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari dari Umar ra disebutkan bahwa shalat adalah merupakan tiang agama. Lengkapnya hadits ini sebagai berikut :

الصلاة عماد الدين فمن أقامها فقد أقام الدين ومن هد مها فقد هدم الين

“Shalat itu adalah tiang agama, siapa yang menegakkannya berarti telah menegakkan agama dan siapa yang meninggalkannya berarti merobohkan agama”.

Dalam hadits lain disebutkan bahwa shalat adalah merupakan tonggak agama Islam, demikian hadits yang diriwayatkan oleh Abu Nu’aim dari Bilal bin Yahya.

Bagi ahli taqwa, shalat ibarat surga Allah di bumi-Nya, siapa saja yang meninggalkan shalat, ia tidak dapat memasuki surga-Nya di akhirat kelak. Bagi ahli taqwa dalam shalatnya mereka dikasyafkan keadaan langit dan bumi serta rahasia-rahasia-Nya, sehingga tidak ada lagi fatamorgana yang membius selain-Nya. Dunia beserta materi pendukungnya, tidak berarti sama sekali. Mereka para ahli taqwa tersebut yakin seyakin-yakinnya bahwa sesungguhnya shalat adalah mutiara yang sangat berharga. Kekayaan ini hanya bisa dirasakan oleh hamba-hamba-Nya yang dikaruniai kenikmatan dalam shalat.[3]

Mengenai  keistimewaan shalat dapat kita perhatikan dari berbagai ayat al-Qur’an dan Sunnah Rasul dan dapat pula ditinjau dari berbagai hal, diantaranya :

a)      Mampu menolong dan memberi syafaat di hari kiamat nanti

Shalat merupakan sebaik-baik sarana untuk mendapatkan pertolongan dalam urusan agama maupun dunia hal ini dapat dihayati dari firman Allah :  “Mintalah pertolongan (kepada Allah) dengan sabar dengan (mengerjakan ) shalat,” (al-Baqarah: 45)

Sesungguhnya shalat merupakan jalinan hubungan antara seorang hamba dengan Rabbnya, ketika kita sedang mengerjakan shalat, kita sedang berdiri di hadapan Sang Khaliq yang menciptakan kita. Kita sedang memohon dan memohon pertolongan kepada-Nya, kemudian Diapun mengabulkannya. Allah berfirman : “Bukankah Dia (Allah) yang memperkenankan  (do’a) orang yang dalam kesulitan apabila ia berdo’a kepada-Nya, dan yang menghilangkan kesusahan dan menjadikan kamu (manusia) sebagai khalifah (pemimpin) di bumi?….” ( An-Naml : 62)

Rasulullah berwasiat kepada Ibn Abbas dalam sabdanya:

عن أبي العباس عبدالله بن عباس رضي الله عنه قال كنت خلف النبي صلى الله عليه وسلم يوماً فقال ” يا غلام , إني أعلمك كلمات : احفظ الله يحفظك , احفظ الله تجده تجاهك , إذا سألت فاسأل الله وإذا استعنت فاستعن بالله , واعلم أن الأمة لو اجتمعت على أن ينفعوك بشيء لم ينفعوك إلا بشيء قد كتبه الله لك , وإن اجتمعوا على أن يضروك بشيء لم يضروك إلا بشيء قد كتبه الله عليك , رفعت الأقلام وجفت الصحف رواه الترمذي وقال : حديث حسن صحيح وفي رواية غير الترمذي : احفظ الله تجده أمامك تعرف إلى الله في الرخاء يعرفك في الشدة , واعلم أن ما أخطأك لم يكن, ليصيبك وما أصابك لك يكن ليخطئك , واعلم أن النصر مع الصبر , وأن الفرج مع الكرب , وأن مع العسر يسراً.

Dari Abu Al ‘Abbas, ‘Abdullah bin ‘Abbas ra  ia berkata : Pada suatu hari saya pernah berada di belakang Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Sallam, beliau bersabda : “Wahai anak muda, aku akan mengajarkan kepadamu beberapa kalimat : Jagalah Allah, niscaya Dia akan menjaga kamu. Jagalah Allah, niscaya kamu akan mendapati Dia di hadapanmu. Jika kamu minta, mintalah kepada Allah. Jika kamu minta tolong, mintalah tolong juga kepada Allah. Ketahuilah, sekiranya semua umat berkumpul untuk memberikan kepadamu sesuatu keuntungan, maka hal itu tidak akan kamu peroleh selain dari apa yang sudah Allah tetapkan untuk dirimu. Sekiranya mereka pun berkumpul untuk melakukan sesuatu yang membahayakan kamu, niscaya tidak akan membahayakan kamu kecuali apa yang telah Allah tetapkan untuk dirimu. Segenap pena telah diangkat dan lembaran-lembaran telah kering.” (HR. Tirmidzi, ia telah berkata : Hadits ini hasan, pada lafazh lain hasan shahih. Dalam riwayat selain Tirmidzi : “Hendaklah kamu selalu mengingat Allah, pasti kamu mendapati-Nya di hadapanmu. Hendaklah kamu mengingat Allah di waktu lapang (senang), niscaya Allah akan mengingat kamu di waktu sempit (susah). Ketahuilah bahwa apa yang semestinya tidak menimpa kamu, tidak akan menimpamu, dan apa yang semestinya menimpamu tidak akan terhindar darimu. Ketahuilah sesungguhnya kemenangan menyertai kesabaran dan sesungguhnya kesenangan menyertai kesusahan dan kesulitan. [HR.Tirmidzi no. 2516] [4]

Yang termasuk bentuk penjagaan seorang hamba kepada Rabbnya yaitu melaksanakan shalat, dengan shalat seorang hamba bisa selalu mengingat Allah. Dan pelajaran yang dapat diambil dari hadits di atas ialah siapa yang konsekwen melaksanakan perintah-perintah Allah, selalu menjaga dan mengingat-Nya. nicsaya Allah akan menjaganya di dunia dan akhirat.

Allah Ta’ala sangat berkuasa untuk apa saja yang hendak ditimpakan kepada hamba-Nya. Dia berkuasa memberikan rejeki kepada kita, berkuasa pula memberikan manfaat atau madharat kepada kita, bahkan nafas kita ini tak akan bisa bergerak tanpa ijin dari-Nya, selain karena kekuasaan-Nya pula. Kita sangat membutuhkan Dia dalam segala urusan, baik yang besar maupun kecil yang kita hadapi dalam hidup dan kehidupan kita. Tidakkah pernah kita berada dalam kesulitan dan kesempitan, lalu melalui beberapa perenungan  mengetahui bahwa hanya Allah-lah yang mampu memberikan jalan keluar dan kemudahan sehingga menjadikan kita rajin memohon kepada-Nya ? sesungguhnya shalat merupakan do’a demi do’a.

Selain daripada itu, shalat juga dapat memberi syafaat serta menjadi naungan dan perhiasan di hari kiamat kelak.

Pada hari kiamat nanti matahari diturunkan sampai mendekati kita, anda dapat membayangkan betapa panasnya di kala itu. Manusia tenggelam dalam peluh mereka sendiri. Keadaan segawat itu membuatnya sudah tak mengenali lagi ibunya, bapaknya, anaknya, saudaranya, teman-temannya, yah…..mereka sudah lupa semuanya. Yang ada dibenaknya hanya sangat berharap secepatnya keluar dari tempat dan dari penderitaan yang berkepanjangan seperti itu.

Namun orang-orang mukmin dan muslim yang mengerjakan amal saleh, utamanya shalat, akan dinaungi Allah Ta’ala dalam naungan-Nya. Imam Bukhari dan Muslim meriwayatkan dari Abu Hurairah ra. Bahwa Rasulullah saw. Bersabda:

سبعة يظلهم الله في ظله يوم لاظل الا ظله الا مام العا د ل وشاب نشأ في عبا د ة ربه ورجل قلبه معلق بالمساجد ورجلا ن تحا با في الله اجتمعا عليه و تفر قا عليه ورجل طلبته امرأة ذات منصب وجمال فقا ل اني أخا ف الله ورجل تصد ق أخفى حتى لا تعلم شماله ما تنفق يمينه ورجل ذكر الله خا ليا فقا ضت عيناه

Ada tujuh golongan yang akan dinaungi oleh Allah pada hari ketika tidak ada naungan kecuali naungan-Nya, (yaitu) pemimpin yang adil, pemuda yang tumbuh dalam ibadah kepada Allah, laki-laki yang hatinya terikat dengan masjid, dua orang yang mencintai karena Allah yang keduanya bersatu atau berpisah karena-Nya, seorang laki-laki yang diajak berbuat zina oleh seorang wanita yang punya kedudukan dan berparas cantik namun dia menolak dengan mengatakan : “aku takut kepada Allah”, seorang laki-laki yang menyedekahkan sesuatu lalu dia menyembunyikannya sehingga tangan kirinya tidak tahu apa yang diinfakkan oleh tangan kanannya, serta seseorang yang senantiasa mengingat Allah dalam kesendiriannya lalu kedua matanya berlinang-linang air matanya.” (Muttafaq alaih)

Mencermati hadits tersebut mudah dipahami bahwa ketujuh orang tersebut tidaklah lepas dari ibadah shalat. Yang mana shalat tersebut adalah media penghambaan mereka kepada Allah sebagai bentuk rasa syukur dan ketaatan terhadap segala perintah-Nya.

Shalat akan menjadi perhiasan di akhirat dikuatkan oleh Hadits Rasulullah saw :

تبلغ الحلية من المؤمن حيث يبلغ الوضوء

Sinaran wajah seorang mukmin pada hari kiamat itu sesuai dengan kadar wudhunya.” (HR. MUSLIM)

Betapa sejuknya sabda Rasulullah tersebut di atas, dimana beliau akan mengetahui orang-orang muslim, pengikutnya yang setia, dari sinaran yang akan menyinari seluruh anggota badan yang terkena aliran air wudhu, sehingga beliau akan menyambut dan mempersilahkan mereka ketika mendekat untuk minum dari telaga beliau.

b)     Sarana terkabulkannya suatu do’a

Kalau kita cermati dengan seksama dewasa ini banyak sekali kesusahan dan sangat besar pula tekanan-tekanan yang dijumpai oleh seseorang dalam menata hidup dan kehidupannya. Namun yang sangat perlu dicatat dengan tinta tebal adalah dikabulkannya do’a sudah barang tentu setelah seorang muslim itu pertama-tama memenuhi seruan Rabb-Nya dengan mengerjakan ketaatan kepada-Nya. Allah berfirman :

واذا سألك عبا دى عنى فاءني قريب  أجيب دعوة الداع اذا دعان فليستجيبوا لي وليوءمنو بي لعلهم يرشدون                                                                                                                                   ((186

Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu tentang Aku, maka (jawablah) bahwasanya Aku adalah dekat. Aku mengabulkan permohonan orang yang berdo’a apabila ia memohon kepada-Ku, maka hendaklah ia memenuhi (segala perintah)-Ku dan kendaklah mereka beriman kepada-Ku, agar selalu dalam kebenaran.”  (al-Baqarah : 186)

Sesunguhnya shalat itu merupakan bentuk ketaatan pertama dan utama. Maka barangsiapa yang menyia-nyiakannya berarti dia telah melaksanakan tindak kemaksiatan, bisa mungkin hal ini yang menyebabkan permohonan menjadi mardud.[5]

 

 

c)    Dapat menghapuskan dosa

Siapakah diantara kita yang tak memiliki dosa-dosa ? dan siapakah diantara kita yang tak menginginkan dosa-dosanya itu diampuni, dibersihkan, dihapuskan ?

Diriwayatkan oleh Abu Hurairah ra. bahwa Rasulullah saw. Bersabda :

وعن أبي هريرة رضي الله عنه قل : سمعت رسول الله ص.م يقول أ رأتم لوأن نهرا بباب أحدكم يغتسل منه كل يوم خمس مرات هل يبقى من درنه شيء ؟ قلوا : لايبقى من درنه شيء, قال : فذلك مثل الصلوات الخمس يمحوالله بهن الخطايا , متفق عليه .

perumpamaan shalat lima waktu adalah seperti sebuah sungai yang mengalir dengan air melimpah di depan pintu rumah salah seorang dari kalian, dia mandi di sungai itu setiap hari lima kali. Bagaimana pendapat kalian, apakah hal itu masih menyisakan noda pada tubuh kalian ?” Mereka menjawab : “tentu tidak.” Beliau kemudian menjawab :”sesunguhnya shalat lima waktu itu menghilangkan dosa-dosa sebagaimana air itu menghilangkan kotoran.” (HR. Bukhari Muslim) [6]

d)   Kunci untuk masuk surga

Ada satu riwayat yang amat patut untuk dicermati, yang dapat diambil guna dan manfaatnya, yaitu riwayat Robi’ah bin Ka’ab al-Aslami salah seorang sahabat Rasulullah saw. Suatu ketika beliau bermalam bersama Rasulullah saw, beliau selalu berkhidmat kepada Rasulullah saw. Beliau datang kepada Rasulullah membawakan air wudhu dan beberapa keperluan lainnya. Baginda Rasulullah sangat berkenan hatinya. Sehingga Rasulullah bersabda : “mintalah sesuatu !” dengan penuh semangat dan harapan Robi’ahpun memohon agar bisa mendampingi Rasulullah saw kelak di surga. Mendengar permintaan tersebut Rasulullah ingin meyakinkan dengan bertanya : “atau kau meminta yang lainnya ?” Robi’ah menjawab mantap : “Tidak ya Rasulullah, itulah permintaanku.” Kemudian Rasulullah mengabulkannya, seraya memberitahukan kuncinya dengan sabda beliau : “bila semikian bantulah aku agar bisa memenuhi permintaanmu dengan cara memperbanyak sujud (shalat)” (HR. Muslim)

e)      Amalan yang dimintai pertanggung jawaban pertama kali sebagai kunci keberhasilan di akhirat

Amalan yang berhubungan antara hamba dengan Allah, maka yang pertama kali dihisab darinya adalah shalat. sebagaimana dalam hadits di bawah ini.

وعن أبى هريرة رضي الله عنه قال: قال رسول الله ص.م : اء ن أول ما يحا سب به العبد يوم القيامة من عمله صلاته , فان صلحت فقد أفلح وأنجح, وان فسدت فقد خاب وخسر , فان انتقص من فريضته شيئا قال الرب عز    وجل : أنظروا هل لعبدي من تطوع  فيكمل بها ما انتقص من الفريضة ثم تكون سا ئر أعماله على هذا, رواه                الترمذي وقال, حديث حسن .

“Dari Abu Hurairah ra., ia berkata:“ Rasulullah bersabda: “Sesungguhnya yang pertama kali akan dihisab dari amal perbuatan manusia pada hari kiamat adalah shalatnya. Apabila shalatnya baik maka dia akan  bahagia  dan sukses, dan apabila jelek maka dia akan  tertipu dan merugi, jika  shalat fardhunya terdapat kekurangan  Rabb ‘Azza Wa Jalla  berfirman: “Lihatlah, apakah hamba-Ku mempunyai  shalat  sunnat ? maka fardhu yang kurang itu dapat disempurnakan dengannya.” Selanjutnya semua amal manusia akan dihisab dengan cara demikian.” (HR. Tirmidzi dan ia mengatakan hadits hasan)[7]

Hadits Abu Hurairah di atas juga menunjukkan keutamaan shalat sunnah secara khusus, bahwa dia dijadikan sebagai penyempurna dari kekurangan yang terjadi dalam shalat wajib, baik kekurangan dari sisi pelaksanaan zhahir maupun kekurangan dari sisi batin dan roh shalat tersebut, yaitu kekhusyuan.

.        Dalam sabdanya yang lain disebutkan, yang artinya :

 

“Dari Anas ra:”Nabi saw bersabda: sesungguhnya yang mula-mula difardhukan oleh Allah atas manusia dalam urusan agama mereka ialah shalat, dan yng pertm kali yang akan dihisab darinya juga shalat. Allah berfirman: “lihatlah olehmu shalat hamba-Ku, maka jika ia sempurna ditulis sempurna, dan jika ia kurang, Allah berfirman: “adakah bagi hamba-Ku shalat sunnat ? maka jika ada baginya shalat sunnat, disempurnakanlah yang wajib dengan sunnat.” (HR. Abu Ya’la)

 

Dan di lain riwayat juga disebutkan:

 

“Amalan yang mula-mula dihisab dari  seorang hamba di hari kiamat ialah “SHALAT”, jika shalatnya diterima maka diterimalah amal-amal yang lain, jika ditolak maka ditolaklah  amalan-amal yang lainnya” (H.R Ath-Thabrany)

Dari hadits tersebut di atas, jelas bahwa perilaku atau amal yang dimintai pertanggung jawaban pertama kali adalah shalat. Yang mana shalat merupakan rukun Islam kedua dan merupakan amalan yang paling utama dan paling dicintai oleh Allah Ta’ala. Oleh karena itu, pegang teguhlah akan shalat itu. Janganlah disia-siakan atau di mudah-mudahkan. Sebagaimana yang kita ketahui shalat adalah tiang agama. Ibarat sebuah rumah,  haruslah diketahui, bahwasanya rumah itu apabila telah patah tiangnya, tiadalah berguna lagi dinding-dindingnya dan kasau-kasaunya. Tidak lain halnya dengan ibadah shalat.

Setiap orang pasti akan meninggalkan kehidupan dunia ini, dan setiap perjalanan tentulah memerlukan bekal yang memadai dan cukup. Perjalanan itu adalah sebuah perjalanan paling panjang dan tak akan pernah kembali lagi ke tempat pemberangkatannya semula. Barang siapa yang sampai kehabisan bekal, dia akan mengalami kerugian yang sangat besar dan takkan tergantikan. Maka sudah seharusnya seseorang yang ingin perjalanannya selamat jangan sampai lengah karena umurnya berjalan terus sebagaimana jalannya awan. Allah berfirman :

وتزودوا فاءن خير الزاد التقوى. واتقون يأولى الألبا ب  (179)

Berbekallah ! sesungguhnya sebaik-baiknya bekal adalah taqwa. Bertaqwalah kepada-Ku hai orang-orang yang berakal.” (al-Baqarah :197)

Ayat di atas menjelaskan, bahwa sebaik-baiknya bekal adalah taqwa. Taqwa disini berarti menjalani segala apa yang diperintahkan-Nya dan menjauhi segala apa yang dilarang-Nya. Perintah Allah yang paling utama setelah iman adalah shalat, sebagaimana banyaknya keterangan sebelumnya.

  1. 3.    Epilog

Berdasarkan uraian-uraian  singkat diatas, maka mudah dipahami betapa mulia dan istimewanya ibadah yang disyariahkan Allah yakni shalat. karena banyak kajian-kajian yang membahas bahwasanya shalat merupakan ibadah yang sangat istimewa dalam Islam. Yang perlu diperhatikan dalam tema ini, syari’at shalat yang disampaikan oleh Rasulullah saw. Kepada umatnya bukanlah amaliah yang ditujukan untuk membebani diri. Dengan kemuliaannya, mustahil tidak membawa manfaat. Justru banyak sekali hikmahnya baik yang nampak di dunia ini maupun di akhirat kelak.

Hal ini sekaligus akan memberikan pengertian kepada segenap kaum muslimin bahwa shalat adalah ibadah yang menjadi fondamen penting dalam Islam (tiang agama). Yang meninggalkannya dianggap meruntuhkan agama.

Kemudian, keterangan yang ada dalam tulisan di atas merupakan suatu tonggak untuk memotifasi kita munuju jalan yang selalu dalam kasih sayang dan ridha-Nya. Pada akhirnya, penulis mengharapkan dengan adanya tulisan singkat ini semoga menjadikan kita lebih memperhatikan dan mengutamakan perintah yang mulia dan agung ini.

 

 

 


 


 

[2] Abdul Halim Raji & Harun Ar-Rasyid, Shalat Hakikat, Hikmah dan Urgensinya,Bina Cinta Alam, Kediri, 2009, hlm. 1

[3] Ibid, hlm. 3

[4] Matnul Arba’in An-Nawawi  oleh Imam Yahya bin Syarafiddin An-Nawawi, hadits ke-19, Pustaka ‘Alawiyah:Semarang, hlm. 13

[5] Op.cit, hlm. 168-169

[6] Lihat Riyadhus Shalihin oleh As-Syaikh Abi Zakaria Yahya bin Syaraf An-Nawawi,Maktabah Haramain, 2005, cet. 3, hlm. 444

[7] Ibid , hlm. 454.

Iklan

About iroelizzta

santai tapi pasti

Posted on 29 Mei 2012, in islam..... Bookmark the permalink. Tinggalkan komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: