Kedudukan Dan Fungsi Hadits Terhadap Al-Qur’an

Prolog

Manusia diciptakan sebagai khalifah dimuka bumi ini[1] sebagai pemelihara kelangsungan mahluk hidup dan dunia seisinya. Dalam rangka itulah Allah membuat  sebuah undang-undang yang nantinya manusia bisa menjalankan tugasnya dengan baik, manakala ia bisa mematuhi perundang-undangan yang telah dituangkan-Nya dalam kitab suci Al-Qur’an.

Pada kitab suci orang muslim ini, telah dicakup semua aspek kehidupan, hanya saja, berwujud teks yang sangat global sekali, sehingga dibutuhkan penjelas sekaligus penyempurna akan eksistensinya. Maka, Allah mengutus seorang nabi untuk menyampaikannya, sekaligus menyampaikan risalah yang ia emban. Dari sang Nabi inilah yang selanjutnya lahir yang namanya hadits, yang mana kedudukan dan fungsinya amat sangatlah urgen sekali.

Terkadang, banyak yang memahami agama setengah setengah, dengan dalih kembali pada ajaran islam yang murni, yang hanya berpegang teguh pada sunnatulloh atau Al-Qur’an, lebih-lebih mengesampingkan peranan al Hadits, sehingga banyak yang terjerumus pada jalan yang sesat, dan yang lebih parah lagi, mereka tidak hanya sesat melainkan juga menyesatkan yang lain.[2]

Oleh karena itu, mau tidak mau peranan penting hadits terhadap Al-Qur’an dalam melahirkan hukum syariat islam tidak bisa di kesampingkan lagi, karena tidak mungkin  umat islam memahami ajaran islam dengan benar jika hanya merujuk pada Al-Qur’an saja, melainkan harus diimbangi dengan al Hadits, lebih-lebih dapat disempurnakan lagi dengan adanya sumber hukum islam yang mayoritas ulama’ mengakui akan kehujahannya, yakni ijma’ dan qiyas. Sehingga, seluruh halayak islam secara umum dapat menerima ajaran islam seccara utuh dan mempunyai aqidah yang benar, serta dapat diperyangungjawabkan semua praktik peribadatannya kelak.

 

Pembahasan

Kedudukan Dan Fungsi Hadits Terhadap Al-Qur’an

  1. A.  Pengertiaqn Hadits

Hadits dipandang dari kacamata etimologis berarti sesuatu yang baru, lawan kata dari al Qodim yang berarti yang dahulu. Sedangkan secara terminologi  Hadits  atau yang dikenal dengan as-Sunnah, bila memang diartikan sama antara hadits dan sunnah, yaitu segala sesuatu yang disandarkan kepada pribadi Nabi, baik berupa perkataan, perbuatan, maupun ketetapan dari beliau ataupun yang lainnya.[3]

Pada sumber lain disebutkan, bahwa hadits dan sunnah ada yang mengatakan sinonim, tapi ada juga yang mengatakan berbeda, karena hadits lebih khusus (hanya bersepak terjang pada perkataan dan perbuatan Nabi), sedangkan Sunnah lebih umum, meliputi keseluruhan yang datang dari Nabi.[4]

  1. B.  Pengertian Al-Qur’an

Alqur’an secara bahasa diambil dari lafal “قرأ”, yang berarti bacaan atau yang dibaca,yang mana  ia diambil dari mashdar yang memiliki arti maf’ul yaitu maqru’= yang dibaca .[5] Sedangkan menurut istilah Al-Qur’an adalah :

كلام الله سبحانه وتعالى غير مخلوق، المنزل على النبي محمد – صلى الله عليه وسلم – باللغة العربية المعجزة المؤيدة له، المتحدى به العرب المتعبد بتلاوته، المنقول إلينا بالتواتر

Kalam Allah yang bukan termasuk mahluk, diturunkan kepada Nabi Muhamad saw. Dengan bahasa arab, sebagai mu’jizat baginya, dan bernilai ibadah bila dibaca, serta bditurunkan secara mutawatir.[6]

Dari definisi diatas, maka dapat ditarik kesimpulan bahwa :

  • Al-Qur’an adalah Kalam Allah, maka kalam selain Allah tidak bisa dinamakan Al Qur’an, seperti perkataan manusia, malaikat, ataupun jin.
  • Al-Qur’an diturunkan kepada nabi Muhammad, hal ini mengecualikan kitab-kitab samawi yang diturunkan pada selain nabi Muhammad, semisal injil, zabur ataupun Taurat.
  • Mempunyai nilai mu’jizat, maka hadits atau hadits qudsi[7] tidak bisa dinamakan Al-Qur’an.
  • Yang bernilai ibadah dengan membacanya. Hal ini mengecualikan ayat-ayat AL-Qur’an yang telah termansuh, seperti ayat :

الشيخ والشيخة إذا زنيا فارجموهما البتة نكالا من الله والله عزيز حكيم

Artinya : Orang tua laki-laki dan orang tua perempuan apabila keduanya berzina, maka rajamlah keduanya secara pasti, sebagai peringatan darii Allah, Allah maha perkasa lagi maha bijaksana.[8]

Karena ayat ini telah di nasah dengan keberadaan surat An Nur ayat ayat 2 :

èpu‹ÏR#¨“9$# ’ÎT#¨“9$#ur (#rà$Î#ô_$$sù ¨@ä. 7‰Ïnºur $yJåk÷]ÏiB sps($ÏB ;ot$ù#y_ ( Ÿwur /ä.õ‹è{ù’s? $yJÍkÍ5 ×psùù&u‘ ’Îû Èûïϊ «!$# bÎ) ÷LäêZä. tbqãZÏB÷sè? «!$$Î/ ÏQöqu‹ø9$#ur ̍ÅzFy$# ( ô‰pkô¶uŠø9ur $yJåku5#x‹tã ×pxÿͬ!$sÛ z`ÏiB tûüÏZÏB÷sßJø9$# ÇËÈ

Artinya : perempuan yang berzina dan laki-laki yang berzina, Maka deralah tiap-tiap seorang dari keduanya seratus dali dera, dan janganlah belas kasihan kepada keduanya mencegah kamu untuk (menjalankan) agama Allah, jika kamu beriman kepada Allah, dan hari akhirat, dan hendaklah (pelaksanaan) hukuman mereka disaksikan oleh sekumpulan orang-orang yang beriman.

  1. C.  Kedudukan Hadits terhadap Al-Qur’an

Al-Qur’an merupakan kitab suci yang menjadi pedoman pokok seluruh umat islam disemua penjuru dunia dalam hal syari’at agama. Sebagaimana Al-Qur’an, Hadits pun mempunyai kedudukan tinggi dalam perannya menjadi landasan dasar hukum syariat, yakni menempati kedudukan yang kedua setelah Al-Qur’an.[9]

Hal ini didasarkan pada Firman Allah Surat An Nisa’ ayat 59 :

$pkš‰r’¯»tƒ tûïÏ%©!$# (#þqãYtB#uä (#qãè‹ÏÛr& ©!$# (#qãè‹ÏÛr&ur tAqߙ§9$# ’Í<‘ré&ur ͐öDF{$# óOä3ZÏB ( bÎ*sù ÷Läêôãt“»uZs? ’Îû &äóÓx« çnr–Šãsù ’n<Î) «!$# ÉAqߙ§9$#ur bÎ) ÷LäêYä. tbqãZÏB÷sè? «!$$Î/ ÏQöqu‹ø9$#ur ̍ÅzFy$# 4 y7Ï9ºsŒ ׎öyz ß`|¡ômr&ur ¸xƒÍrù’s? ÇÎÒÈ

Artinya :  Hai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan taatilah Rasul (Nya), dan ulil amri di antara kamu. kemudian jika kamu berlainan Pendapat tentang sesuatu, Maka kembalikanlah ia kepada Allah (Al Quran) dan Rasul (sunnahnya), jika kamu benar-benar beriman kepada Allah dan hari kemudian. yang demikian itu lebih utama (bagimu) dan lebih baik akibatnya.

Dr. Muhammad Ajjaj al Khotib mengatakan bahwa kedudukan hadits sejajar dengan Al-Qur’an, dengan dalih keberadaannya merupakan wahyu dan hukumnya wajib untuk diamalkan isinya, juga karena fungsi hadits adalah sebagai penjelas dari isi al-Qur’an sendiri, maka tidak mungkin mmemahami  AL-Qur’an tanpa adanya Hadits disampingnya.[10]

D. Fungsi Hadits terhadap Al-Qur’an

Sebagaimana yang telah dijelaskan pada pembahsan yang lalu, bahwa Al-Qur’an merupakan dasar syariat yang bersifat sangat global sekali, sehingga bila hanya monoton menggunakan dasar Al-Qur’an saja tanpa adanya penjelasan lebih lanjut maka akan  banyak sekali masalah yang tidak terselesaikan ataupun menimbulkan kebingungan yang tak mungkin terpecahkan. Semisal pada kenyataan praktik sholat, dalam Al-Qur’an hanya tertulis perintah untuk mendirikan sholat, tanpa ada penjelasan berapa kali solat dilaksanakan dalam sehari semalam, lebih-lebih apa saja syarat dan rukun sholat, dan lain sebagainya. ;orang yang hanya berpegang pada Al-Qur’an saja tidak mungkin bisa mengerjakan sholat, bagaimana praktik sholat, apa saja yang harus dilakukan dalam sholat, apa saja yang harus dijauhi ketika melakukan sholat, dan lain-lain.

Maka, disinilah urgensitas hadits, yang mempunyai peran penting sebagai penafsir dan  penjelas dari keglobalan isi Al-Qur’an, sehingga manusia dapat mempelajari dan memahami islam secara utuh.

Lebih spesifik lagi, setidaknya ada 4 fungsi yang menjadi peran penting hadits terhadap Al-Qur’an, yaitu :

  1. Sebagai Penguat kandungan Hukum Al-Qur’an

Istilah ini lebih dikenal dengan Bayan taqriry atau dengan kata lain bayan ta’qidy atau bayan al itsbat, yaitu penjelasan hadits terhadap Al-Qur’an yang bersifat menguatkan atau mengukuhkan. Ini terjadia apabila isi kandungan hadits sama dengan yang ada pada ayat Al-Qur’an, sehingga hadits seakan hanya berperan sebagai penguat atau pengokoh atas hukum yang terkandung dalam Al-Qur’an. Contoh dalam surat Al-Maidah ayat 6, Allah berfirman :

$pkš‰r’¯»tƒ šúïÏ%©!$# (#þqãYtB#uä #sŒÎ) óOçFôJè% ’n<Î) Ío4qn=¢Á9$# (#qè=Å¡øî$$sù öNä3ydqã_ãr öNä3tƒÏ‰÷ƒr&ur ’n<Î) È,Ïù#tyJø9$# (#qßs|¡øB$#ur öNä3řrâäãÎ/ öNà6n=ã_ö‘r&ur ’n<Î) Èû÷üt6÷ès3ø9$# 4 bÎ)ur öNçGZä. $Y6ãZã_ (#r㍣g©Û$$sù 4 bÎ)ur NçGYä. #ÓyÌó£D ÷rr& 4’n?tã @xÿy™ ÷rr& uä!%y` Ӊtnr& Nä3YÏiB z`ÏiB ÅÝͬ!$tóø9$# ÷rr& ãMçGó¡yJ»s9 uä!$|¡ÏiY9$# öNn=sù (#r߉ÅgrB [ä!$tB (#qßJ£Ju‹tFsù #Y‰‹Ïè|¹ $Y6ÍhŠsÛ (#qßs|¡øB$$sù öNà6Ïdqã_âqÎ/ Nä3ƒÏ‰÷ƒr&ur çm÷YÏiB 4 $tB ߉ƒÌãƒ ª!$# Ÿ@yèôfuŠÏ9 Nà6ø‹n=tæ ô`ÏiB 8ltym `Å3»s9ur ߉ƒÌãƒ öNä.tÎdgsÜãŠÏ9 §NÏGãŠÏ9ur ¼çmtGyJ÷èÏR öNä3ø‹n=tæ öNà6¯=yès9 šcrãä3ô±n@ ÇÏÈ

Artinya :  Hai orang-orang yang beriman, apabila kamu hendak mengerjakan shalat, Maka basuhlah mukamu dan tanganmu sampai dengan siku, dan sapulah kepalamu dan (basuh) kakimu sampai dengan kedua mata kaki, dan jika kamu junub Maka mandilah, dan jika kamu sakit atau dalam perjalanan atau kembali dari tempat buang air (kakus) atau menyentuh perempuan, lalu kamu tidak memperoleh air, Maka bertayammumlah dengan tanah yang baik (bersih); sapulah mukamu dan tanganmu dengan tanah itu. Allah tidak hendak menyulitkan kamu, tetapi Dia hendak membersihkan kamu dan menyempurnakan nikmat-Nya bagimu, supaya kamu bersyukur.

Kandungan ayat tersebut senada dengan hadits nabi yang mengatakan :

لاَ تُقْبَلُ صَلاَةُ أَحَدِكُمْ إِذَا أَحْدَثَ حَتَّى يَتَوَضَّأَ

Artinya : Tidak diterima sholat salah satu dianytara kalian yang masih mempunyai hadats (kecil) sehingga berwudlu.[11]

                        Pada kasus seperti ini, maka fungsi hadits hanya mengukuhkan hukum yang terkandung dalam ayat tersebut, Karena antara keduannya mempunyai isi yang sama.

  1. Sebagai Penjelas Kandunag Ayat Al-Qur’an
    1. Menjelaskan keglobalan ayat Al-Qur’an

Yaitu hadits memberi penjelasan lebih terperinci mengenai beberapa aspek yang berhubungan dengan ibadah. Mulai dari hukum, tata cara, syarat-syarat, hingga waktu dan ketentuan-ketentuannya. Karena didalam Al-Qur’an belum ada keterangan mengenai kesemua itu, sebagian baru dapat dimengerti melalui hadits nabi. Sebagai contoh : Al-Qur’an hanya memerintahkan untuk mengerjakan sholat :

(#qßJŠÏ%r&ur no4qn=¢Á9$# (#qè?#uäur no4qx.¨“9$# (#qãèx.ö‘$#ur yìtB tûüÏèÏ.º§9$# ÇÍÌÈ

Artinya :  dan dirikanlah shalat, tunaikanlah zakat dan ruku’lah beserta orang-orang yang ruku’.[12]

Pada ayat ini masih sangat global, ayat ini hanya memerintahkan untuk mendirikan sholat, sedangkan untuk tatacara, rukun-rukunnya, hal apa saja yang harus ditinggalkan sama sekali belum ada dalam Al-Qur’an, maka diperjelas dengan perkataan Nabi :

صَلُّوا كَمَا رَأَيْتُمُونِى أُصَلِّى

Artinya : Sholatlah kalian semua sebagaimana aku sholat.

Maka dengan penjelasan Nabi dan prektek langsung beliau terhadap pekerjaan sholat, jelaslah sudah bagaimana tata cara melakukan sholat, apa saja yang harus dipenuhi, apa yang harus dijauhi, dan lain sebagainya.

  1. Memberi batasan atas kemuthlakan  ayat Al-Qur’an

Sebagai contoh Firman Allah dalam Al-Qur’an mengatakan :

ä-͑$¡¡9$#ur èps%͑$¡¡9$#ur (#þqãèsÜø%$$sù $yJßgtƒÏ‰÷ƒr& Lä!#t“y_ $yJÎ/ $t7|¡x. Wx»s3tR z`ÏiB «!$# 3 ª!$#ur ͕tã ÒOŠÅ3ym ÇÌÑÈ

Artinya :  laki-laki yang mencuri dan perempuan yang mencuri, potonglah tangan keduanya (sebagai) pembalasan bagi apa yang mereka kerjakan dan sebagai siksaan dari Allah. dan Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.[13]

Pada ayat ini hanya menjelaskan memotong tangan secara muthlak, belum dijelaskan sampai batas apakah pemotongan tangan tersebut, akhirnya pada hadits nabi memberi batasan, bahwa pemotongan tangan dilakukan sampai batas pergelangan tangan.

  1. Menghususkan ayat yang masih umum

Pada surat Al An’am ayat 82, dijelaskan bahwa orang yang tidak mencampur adukkan imannya dengan kedzaliman, maka ia akan mendapatkan keamanan.

tûïÏ%©!$# (#qãZtB#uä óOs9ur (#þqÝ¡Î6ù=tƒ OßguZ»yJƒÎ) AOù=ÝàÎ/ y7Í´¯»s9’ré& ãNßgs9 ß`øBF{$# Nèdur tbr߉tGôg•B

Artinya : orang-orang yang beriman dan tidak mencampuradukkan iman mereka dengan kezaliman (syirik), mereka Itulah yang mendapat keamanan dan mereka itu adalah orang-orang yang mendapat petunjuk.

Kata “kedzaliman” pada ayat ini masih bersifat umum, sehingga masih membutuhkan penjelasan. Kemudian hadits nabi datang dengan menghususkan bahwa yang dimaksud dzalim disini adalah kemusyrikan.

لما نزلت ( الذين آمنوا ولم يلبسوا إيمانهم بظلم ) . شق ذلك على المسلمين فقالوا يا رسول الله أينا لا يظلم نفسه ؟ قال ( ليس ذلك إنما هو الشرك ألم تسمعوا ما قال لقمان لابنه وهو يعظه ( يا بني لا تشرك بالله إن الشرك لظلم عظيم )

  1. Menjelaskan yang masih samar (belum jelas).

Seperti hadits nabi yang menjelaskan maksud ayat Al-Qur’an

$pkš‰r’¯»tƒ tûïÏ%©!$# (#qãZtB#uä |=ÏGä. ãNä3ø‹n=tæ ÞÉ$|ÁÉ)ø9$# ’Îû ‘n=÷Fs)ø9$# ( ”çtø:$# Ìhçtø:$$Î/ ߉ö6yèø9$#ur ωö7yèø9$$Î/ 4Ós\RW{$#ur 4Ós\RW{$$Î/ 4 ô`yJsù u’Å”ãã ¼ã&s! ô`ÏB ÏmŠÅzr& ÖäóÓx« 7í$t6Ïo?$$sù Å$rã÷èyJø9$$Î/ íä!#yŠr&ur Ïmø‹s9Î) 9`»|¡ômÎ*Î/ 3 y7Ï9ºsŒ ×#‹ÏÿøƒrB `ÏiB öNä3În/§‘ ×pyJômu‘ur 3 Ç`yJsù 3“y‰tGôã$# y‰÷èt/ y7Ï9ºsŒ ¼ã&s#sù ë>#x‹tã ÒOŠÏ9r& ÇÊÐÑÈ   .

Artinya :  Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu qishaash berkenaan dengan orang-orang yang dibunuh; orang merdeka dengan orang merdeka, hamba dengan hamba, dan wanita dengan wanita. Maka Barangsiapa yang mendapat suatu pema’afan dari saudaranya, hendaklah (yang mema’afkan) mengikuti dengan cara yang baik, dan hendaklah (yang diberi ma’af) membayar (diat) kepada yang memberi ma’af dengan cara yang baik (pula). yang demikian itu adalah suatu keringanan dari Tuhan kamu dan suatu rahmat. Barangsiapa yang melampaui batas sesudah itu, Maka baginya siksa yang sangat pedih.[14]

Ternyata yang dimaksudkan dengan benang hitam adalah malam hari, sedangkan benang putih adalah siang hari.

لما نزلت { حتى يتبين لكم الخيط الأبيض من الخيط الأسود } . عمدت إلى عقال أسود وإلى عقال أبيض فجعلتهما تحت وسادتي فجعلت أنظر في الليل فلا يستبين لي فغدوت على رسول الله صلى الله عليه و سلم فذكرت له ذلك فقال ( إنما ذلك سواد الليل وبياض النهار )

  1.  Sebagai Tambahan Hukum Syariat Islam.

Dalam hal ini, para ulama’ masih berbeda pendapat. Perbedaan pendapat ini tidak mempertentangkan kedudukan dan keabsahan hadits sebagai hukum tambahan terhadap hukumyang telah ada dalam Al-Qur’an, melainkan pada cara analisa dan menetapkan hukum sebagai tambahan , dan mencari metode untuk menetapkan hukum sebagai tambahan itu.[15]

  1.  Sebagai perombak hukum yang ada pada Al-Qur’an.

Hal ini masyhur dengan sebutan me-Nasah hukum, yakni keberadaan Hadits sebagai perombak hukum   yang sekiranya


[1] “ingatlah ketika Tuhanmu berfirman kepada Para Malaikat: “Sesungguhnya aku hendak menjadikan seorang khalifah di muka bumi.” mereka berkata: “Mengapa Engkau hendak menjadikan (khalifah) di bumi itu orang yang akan membuat kerusakan padanya dan menumpahkan darah, Padahal Kami Senantiasa bertasbih dengan memuji Engkau dan mensucikan Engkau?” Tuhan berfirman: “Sesungguhnya aku mengetahui apa yang tidak kamu ketahui.”(Q.S. Al Baqoroh : 30)

[2] Merekalah yang dimaksud sebagai kaum “Inkarus Sunnah” yaitu orang-orang yang masih meragukan otorites as-Sunnah sebagai sumber kedua penetapan hukum syariat islam,  yang kemudian mereka disinyalir oleh Abu Shuhbah sebagai kelompok dari aliran khawarij dan kaum rafidloh yang tidak memakai standart yang benar dalam kajian ilmiyah (Muhammad Muhammah Abu Syuhbah, Fi Rihab as Sunnah al Kutub as Sihah as Sittah, Kairo : Majma’ al Buhuts al Islamiyyah, 1969 h. 11)

[3] Ilmu Tafsir dan Hadits IAIN Sunan Ampel, CV, Aneka Bahagia Surabaya 1993. Hal : 41

[4]  Hafidz Hasan al Mas’udi, Minhatul Mughits Fi Ilmil Mushtolahil Hadits, Alawiyyah h. 5

[5]  Teungku Muhammad Hasbi as Shiddiqy, Sejarah Al-Qur’an dan Tafsir, cet.4 (Semarang : PT. Pustaka Rizki Putra) h. 1

[6]  Muhammad Ghilan, Atsar at Ta’lim  al-Qur’an alKarim, j.1 (tt : Maktabah Syamilah) h. 7

[7]  Hadits Qudsi adalah wahyu yang bersumber dari Allah, akan tetapi disampaikan dengan redaksi dari nabi. Ada beberapa perbedaan antara Al-Qur’an dengannya, diantaranya ia tidak diriwayatkan secara mutawatir, membacanya tidak dililai ibadah, redaksional dari nabi sendiridan lain-lain. Adapun jumlahnya tidak banyak disbanding dengan hadits nabi ataupun Al-Qur’an, hanya berkjisar 200-an lebih. Lihat Dr. Muhammad at Thohan, Taisir Mustholah al Hadits juz 1 (tt : Maktabah Syamilah) h. 67

[8]  Imam Malik, Al Muwaththo’ juz 3, cet. 2 (tt : Maktabah Syamilah) h. 56

[9] M. Nur Ichwan, Studi Ilomu Hadits (Semarang : Rasail Media) h. 36

[10]  Dr. Muhammad Ajjaj al Khotib, Ushul al Hadits, cet. 4 (Jakarta : Gema Media Pramata, 2007) h. 35

[11]  Hadits Shohih Muslim, juz 1 h. 130 hadits ke-559

[12] Q.S. Al Baqoroh ayat 43.

[13] Q.S. Al Maidah ayat 38

[14] Qishaash ialah mengambil pembalasan yang sama. qishaash itu tidak dilakukan, bila yang membunuh mendapat kema’afan dari ahli waris yang terbunuh Yaitu dengan membayar diat (ganti rugi) yang wajar. pembayaran diat diminta dengan baik, umpamanya dengan tidak mendesak yang membunuh, dan yang membunuh hendaklah membayarnya dengan baik, umpamanya tidak menangguh-nangguhkannya. bila ahli waris si korban sesudah Tuhan menjelaskan hukum-hukum ini, membunuh yang bukan si pembunuh, atau membunuh si pembunuh setelah menerima diat, Maka terhadapnya di dunia diambil qishaash dan di akhirat Dia mendapat siksa yang pedih.

[15]  Muhamad Nor Ikhwan, Studi ilmu Hadits (cet 1; Semarang : Rasail : 2007) h. 44

About iroelizzta

santai tapi pasti

Posted on 29 Mei 2012, in Makalah Ulumul Hadits. Bookmark the permalink. Tinggalkan komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: