Iman dalam Lingkungan

BAB I

PENDAHULUAN

 Islam adalah rahmatalil’alamin, yang didalamnya mengandung ajaran cinta dan kasih sayang terhadap sesama. Semuanya itu telah dicontohkan oleh nabi Muhammad Saw lewat akhlaq mulia beliau.

Manusia merupakan makhluk sosial yang tidak mungkin bisa hidup sendiri. Manusia memerlukan orang lain dalam rangka memenuhin kebutuhan hidupnya. Karena tidak mungkin seoranng manusia bisa memenuhi kebutuhan hidupnya tanpa bantuan orang lain.

Tingkat keimanan seseorang dapat dilihat dari sejauh mana ia bisa merealisasikan dalam kehidupannya sehari-hari. Hal itu bisa terlihat dari bagaimana ia mencintai sesamanya, baik dalam bertutur kata, bergaul dengan tetangga, maupun dalam bagaimana ia menghadapi tamunya.

Dalam ajaran Islam, tetangga memiliki peran dan arti penting dalam kehidupan seorang Muslim. Islam mengajarkan, hak tetangga atas tetangga lainnya begitu agung.

 

Dalam makalah ini penulis mencoba membahas yang berkaitan dengan realisasi iman dalam kehidupan sosial.

 

 BAB II

PEMBAHASAN

 

  1. Cinta Sesama Muslim Sebagian dari Iman

وعن ان عمر رضى الله عنهما : أن رسول الله ص.م. قا ل : المسلم أخوالمسلم لايظلمه ولا يسلمه , من كا ن فى حاجة أخيه كا ن الله فى حssا جته , ومن فرج عن مسلم كربة فرج الله عنه بها كربة من كرب يوم القيامة , ومن ستر مسلما ستره الله يوم القيامة .(متفق عليه)                                                                                        

Dari Ibnu Umar ra., ia berkata : Rasulullah saw. Bersabda : “sesama muslim itu bersaudara. Karena itu, jangan menganiaya dan mendiamkannya. Siapa saja yang memperhatikan kepentingan saudaranya, maka Allah akan memperhatikan kepentingannya. Siapa saja yang melapangkan satu kesulitan terhadap sesama muslim, maka Allah akan melapangkan satu kesulitan dari beberapa kesulitan di hari kiamat. Dan siapa saja yang menutupi kejelekan orang lain, maka Allah akan menutupi kejelekannya di hari kiamat.” (HR. Bukhari dan Muslim)

 Ciri Seorang Muslim tidak Mengganggu Orang Lain

Salah satu ciri seorang muslim yang baik adalah orang lain akan selalu nyaman berada dekat dengannya. Karena mereka merasa aman dari gangguan tangan dan lisannya seperti sabda nabi berikut:

وعن عبد الله بن العا ص رضى الله عنهما عن النبى ص.م. قا ل : المسلم من سلم المسلمون من لسانه ويده , والمهاجر من هجر ما نهى الله عنه . (متفق عليه )

Dari Abdullah bin ‘Amr bin Al-‘Ash ra., dari Nabi saw., beliau bersabda : “Orang Islam adalah orang yang menjaga umat Islam lainnya selamat dari lisannya dan tangannya. Dan orang yang berhijrah adalah orang yang meninggalkan apa saja yang dilarang Allah.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Hadits diatas mempunyai dua kandungan pokok yaitu bagaimana seorang muslim membangun hubungan dengan muslim lainnya (hablum minan nas) yang harmonis dan membina aktivitas dalam membina bingkai ketaatan kepada tuhannya (hablum minallah).

Seseorang yang telah mengucapkan dua kalimat syahadat sudah termasuk muslim. Akan tetapi, untuk dikatakan sebagai muslim yang sebenarnya ia harus memiliki tingkah laku yang sesuai dengan syariat islam. Tanpa harus memilih ataupun membedakan syariat yang disukai atau tidak disukai olehnya.

Dari hadits diatas, kita mendapatkan sebuah pesan yang berorientasikan moral (moral oriented) bahwa muslim yang sebenarnya selain menjaga hubungan dengan sang Kholiq, tetapi ia juga akan selalu menjaga hubungannya dengan sesamanya.

Keimanan seseorang tidak  bisa dikatakan sempurna apabila ia hanya terpaku terhadap kewajibannya kapada Allah Swt, tetapi ia masih meremehkan hubungan dengan sesama manusia. Karena pada dasarnya ajaran islam tidak hanya beorientasi pada hubungan illahiyah saja, tetapi juga berorientasi pada hubungan insaniyah. Meskipun semuanya bermuara kepada ketaatan kepada Allah Swt. Oleh karena itu berperilaku baik kepada sesama manusia merupakan bagian dari ajaran islam yang tidak pantas bila diabaikan.

Seorang muslim yang baik tidak akan menyakiti orang lain. Adapun menyakiti orang lain itu bermacam-macam. Hadits diatas hanya menyebutkan dua anggota tubuh secara simbolik, yaitu tangan dan lisan. Karena dua anggota tubuh inilah yang paling banyak menyakiti orang lain.

Oleh sebab itu, seorang muslim sejati akan selalu menjaga orang lain agar tidak terdzalimi oleh keburukan lisannya maupun keburukan yang ditimbulkan oleh kedua tangannya. Dengan kata lain ia harus menjaga agar orang lain merasa nyaman hidup berdampingan dengannya.

Menyakiti orang lain dengan tangan, misalnya dengan memukulnya, merusak harta bendanya dan lain-lain. Adapun menyakiti orang lain dengan ucapan atau lisannya, misalnya dengan fitnah, cacian, umpatan, hinaan, dan lain-lain. Perasaan sakit yang disebabkan oleh ucapan lebih sulit dihilangkan dari pada sakit akibat pukulan fisik. Tidak jarang terjadinya perpecahan, perkelahian, bahkan peperangan di berbagai daerah akibat tidak dapat mengatur lisan sehingga menyebabkan orang lain sakit hati.

Oleh karena itu seseorang harus berhati-hati untuk tidak menyakiti orang lain, kapanpun, dimanapun, dan dengan cara apapun. Sebagaimana sabda Rasulullah Saw :

وعن أبى هريرة رضى الله عنه قا ل : قا ل رسول الله ص.م. : المسلم أخو المسلم لايخونه ولا يكذبه ولا يخذ له , كل المسلم على المسلم حرام : عرضه , وما ل, ودمه , التقوى ههنا , بحسب امرئ من الشر أن يحقر أخاه المسلم .

(رواه الترمذى)

Dari Abu Hurairah ra., ia berkata : Rasulullah saw. Bersabda :”sesama muslim, jangan menghianati, mendustai dan membiarkannya. Sesama muslim haram mengganggu kehormatan, harta dan darahnya. Taqwa itu ada di sini (sambil menunjuk dadanya). Seseorang cukup dianggap jahat apabila ia menghina saudaranya yang muslim.” (HR. Tirmidzi) 

Tidak mengganggu dan menyakiti orang lain adalah salah satu ciri keimanan seseorang.

 

  1. Realisasi Iman dalam  Menghadapi Tamu, Tetangga, dan Bertutur kata

وعن أ بى هريرة رضى الله عنه عن النبي ص.م. قا ل : من كان يؤمن بالله واليوم الاخر فليكرم ضيفه , ومن كا ن يؤمن با لله واليوم الاخر فليصل رحمه , ومن كا ن يؤمن با لله واليوم الاخر فليقل خيرا أو ليصمت , متفق عليه .

Dari Abu Hurairah ra., dari Nabi saw., beliau bersabda : “Siapa saja yang beriman kepada Allah dan hari akhir, hendaklah ia memuliakan tamunya. Siapa saja beriman kepada Allah dan hari akhir, hendaklah ia menyambung tali persaudaraan. Dan siapa saja beriman kepada Allah dan hari akhir, hendaklah ia berkata yang baik atau diam !” (HR.Bukhari dan Muslim)

وعن ابن عمر وعائشة رضى الله عنهما قالا : قا ل رسول الله ص.م. مازا ل جبريل يوصينى بالجار حتى ظننت أنه سيورثه . (متفق عليه )

Dari Ibnu Umar ra., mereka berkata : Rasulullah saw., bersabda : “Malaikat Jibril selalu berpesan kepadaku untuk senantiasa berbuat baik kepada tetangga, sehingga aku menyangka bahwa tetangga itu akan ikut mewarisinya.” (HR.Bukhari dan Muslim)

 

 

 

 

 

About iroelizzta

santai tapi pasti

Posted on 29 Mei 2012, in islam..... Bookmark the permalink. Tinggalkan komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: