Ikhlas BeramaL

IKHLAS

PENDAHULUAN

  1. Latar Belakang

Sesungguhnya yang ada dalam dunia ini semua adalah tanda-tanda kekuasaan Allah SWT. Tanda-tanda tersebut merupakan bukti kekeuasaan Allah yang paling jelas bahwa allah adalah zat yang agung lagi maha kuasa. Allah telah menjadikan semuanya terasa indah sehingga sesuai dengan pandangan mata. Semua terwujud begitu saja tanpa kita harus meminta terlebih dahulu kepada sang pencipta. Mata, tangan dan kaki yang merupakan anugerah dari sang pencipta tidak pernah kita sadari bahwa semua itu adalah bentuk dari nikmat yang tak terhingga. Dan Allah hanya menginginkan manusia utuk menjaganya dan untuk melakukan perbuatan yang baik terhadap yang makluk lainnya yang ada di bumi dan jngan sampai membuat kerusakan di bumi.

Selain itu manusia juga diperintah untuk beramal baik dengan manusia lainnya agar tercipta kerukunan antar sesamanya sehingga tercipta kerukunan yang indah diantara satu dengan yang lainnya.

Oleh karena itu manusia harus dituntut untuk berbuat ikhlas dalam beramal agar dalam beramal tersebut tidak terjadi riya’, karena riya’ merupakan salah satu dari sebab yang bisa merusak amal.

Dalam makalah ini penulis ingin menjelaskan tentang keutamaan ikhlas dan motivasi beramal kepada para pembaca, agar para pembaca dapt melakukan semua perbuatan dengan ikhlas. Selain memberi motivasi untuk beramal penulis juga menerangkan tentang penyakit beramal yaitu  riya’.

  1. Rumusan Masalah
    1. Apakah  semua amal harus ada niatnya ?
    2. Bagaimana kiat-kiat agar bisa baramal dengan ikhlas ?
    3. Apa saja bahaya riya’ itu ?

 PEMBAHASAN

 

  1. Niat/Motivasi Beramal

 

عَنْ أَمِيْرِ الْمُؤْمِنِيْنَ أَبِى حَفْصٍ عُمَرَ بْنِ الْخَطَّا بِ يَنِ نُفَيْلِ بْنِ عَبْدِ الْعُزَّى بْنِ رِيَاحِ بْنِ رَزَ احِ بْنِ عَدِ يِّ بْنِ عَدِ يِّ بْنِ كَعْنِ بْنِ لُؤَيِّ بْنِ غَالِبِ الْقُرَيْثِىِّ العَدَ وِيِّ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ قَالَ: سَمِعْتُ رَسُوْلَاللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُوْلُ: أِنَّمَااْلأَ عْمَالُ بِالنِيَاتِ وَأِ نَّمَا لِكُلِّ اْمْرِىءٍِ مَانَوَى فَمَنْ كَانَتْ هِجْرَ تُهُ أِلَى اللهِ وَرَ سُوْ لِهِ فَهِجْرَ تُهُ أِلَى اللهِ وَرَسُوْلِهِ وَمَنْ كَانَتْ هِجْرَ تُهُ لِدُنْيَا يُصِيْبُهَا أَوْامْرَ أَ ةٌ يَنْكِحُهَا فَهِجْرَ تُهُ أِلَى مَا هَجْرَ أِلَيْهِ. (متفق على صحته)

 

Artinya :

“Amir AL-Mu’min, Abu Hafs Umar bin Al-Khathtab r.a. bin Nufail, bin abdul Uzza, Bin Riyah, bin Abdullah bin Qurd Rajah bin “Adiy Ka’ab bin Luay, bin Galib keturunan Quraisy Al-Adawy, dia berkata bahwa dia mendengar Rasulullah SAW telah bersabda “Sesungguhnya sah atau tidaknya suatu amal, bergantung pada niatnya. Dan yang dianggap bagi amal tiap orang apa yang ia niatkan. Maka barang siapa berhijrah (menguasai dari daerah kafir ke daerah Islam) semata-mata karena taat kepada Allah dan Rasullullah.

 

Rasulullah mengeluarkan hadits di atas untuk menjawab pertanyaan salah seorang sahabat berkenaan dengan peristiwa hijrahnya Rasulullah Saw. Dari Mekah ke Madinah, yang diikuti  oleh sebagian besar sahabat. Dalam hijrah itu ada salah seorang laki-laki yang turut juga hijrah. Akan tetapi niatnya  bukan untuk kepentingan  perjuangan Islam, melainkan menikahi seorang wanita yang bernama Ummu Qais. Wanita itu rupanya sudah bertekan akan turut hijrah, sedangkan pada mulanya kali-laki itu memilih tinggal  di Mekah. Ummu qais hanya bersedia di kawini di empat tujuan hijrahnya Rasulullah Saw. Yakni Madinah, sehingga laki-laki itu pun ikut hijrah ke Madinah.[1]

 

Berkenaan dengan niat, sebagian ulama mendefinisikan niat menurut syara’, sebagai berikut:

   اَلِنِّيَةُ هِيَ قَصَدُ شَىْءٍ مُقْتَرَ نًا بِفِعْلِه ومحلها القلب

Artinya : Niat adalah menyengajakan berbuat sesuatu disertai (berbarengan) dengan perbuatan.

 

Para ulama telah sepakat bahwa niat sangat penting dalam menentukan sahnya suatu ibadah. Niat termasuk rukun pertama dalam setiap melakukan ibadah. Tidaklah sah suatu ibadah, seperti shalat, zakat, puasa, haji, dan lain-lain, bila dilakukan tanpa niat atau dengan niat yang salah.[2]

 

Niat dalam arti motivasi, juga sangat menentukan diterima atau tidaknya suatu amal oleh Allah SWT. Shalat umpamanya, yang dianggap sah menurut pandangan syara’ karena memenuhi berbagai syarat dan rukunnya, belum  tentu diterima dan berpahala kalau motivasinya bukan karena Allah, tetapi karena manusia, seperti ingin dikatakan rajin, tekun, dan sebagainya. Motivasi dalam melaksanakan setiap amal harus betul-betul ikhlas, hanya mengharapkan rida Allah saja.

sebagaimana firman Allah SWT.:

!$tBur (#ÿrâÉDé& žwÎ) (#r߉ç6÷èu‹Ï9 ©!$# tûüÅÁÎ=øƒèC ã&s! tûïÏe$!$# uä!$xÿuZãm (#qßJ‹É)ãƒur no4qn=¢Á9$# (#qè?÷sãƒur no4qx.¨“9$# 4 y7Ï9ºsŒur ß`ƒÏŠ ÏpyJÍhŠs)ø9$# ÇÎÈ

Artinya : “Padahal mereka tidak disuruh kecuali supaya menyembah Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya dalam (menjalankan) agama yang lurus, dan supaya mereka mendirikan shalat dan menunaikan zakat; dan yang demikian Itulah agama yang lurus.”(Q.S. Al-Bayyinah: 5)

 

Niat atau motivasi itu bertempat di dalam hati. Siapapun tidak akan mengetahui motivasi apa yang ada dalam hati seseorang ketika ia mengerjakan sesuatu, kecuali dirinya dan Allah saja. Dengan demikian, Allah SWT. mengetahui siapa di antara hamba-hamba-Nya yang memiliki motivasi baik ketika ia beribadah atau sebaliknya.

 

Dengan Demikian, seseorang yang melakukan suatu amal dengan baik menurut pandangan manusia, tetapi motivasinya salah atau tidak ikhlas, hal itu akan sia-sia karena Allah tidak akan melihat bentuk zahirnya, tetapi melihat niat yang ada dalam hatinya. Rasulullah Saw. Bersabda  yang   artinya:

Dari Abu Hurairah r.a, ia berkata, Rasulullah SAW, bersabda, Sesungguhnay  Allah AWT, tidak melihat bentuk badan danrupamu, tetapi melihat (memperhatikan niat dan keikhlasan dalam) hatimu.”(HR. Muslim)

 

Jadi, tidaklah heran seseorang ketika hidup di dunia sudah melakukan amal kebaikan, namun di akhirat tidak menemukan apa-apa karena perbuatan tersebut tidaklah  secara Ikhlas sehingga amalnya bagaikan debu yang bertebaran, Bagaimanapun Allah mengetahui segala sesuatu yang ada dalam hati seseorang, dan tidak akan menerima begitu saja amal setiap orang sebelum melihat motivasi sebenarnya.

 

  1.  Riya

قَالَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: اِنَّ اَخْوَ فَ مَا اَخَا فُ عَلَيْكُمْ الشِّرْ كُ اْلاَصْغَرُ وَالرَّيَاءُ. اَخْرَجَهُ اَحْمَدُ بِاسْنَا دٍ حَسَنٍ

 Artinya :

Dari Mahmud bin labid dia berkata : Rasulullah bersabda: sesungguhnya perkara yang akau khawatirkan menimpa kepadamu ialah  syirik kecil dan riya’ Riwayat Ahmad dengan sanad hasan.

 

Riya artinya usaha dalam melaksanakan ibadah bukan dengan niat menjalankan kewajiban dan menunaikan perintah Allah SWT, melainkan  bertujuan untuk dilihat orang, baik untuk kemasyhuran, mendapat pujian, atau harapan-harapan lainnya dari selain Allah.

 

Dan dalam kamus umum bahasa Indonesia riya berarti sombong ataupun congkak. Sebagaimana telah disinggung dalam bahasa, niat orang yang beribadah dengan riya tidak akan mendapat pahala dari Allah SWT. Hal itu karena dalam ibadahnya tidak lagi murni karena Allah melainkan karena makhluk-Nya. Tak heran kalau riya sebagaimana bunyi hadis di atas dikategorikan sebagai syirik kecil. Dengan kata lain, hakikat amal mereka adalah penipuan belaka, dan itulah di antara perbuatan yang biasa dilakukan orang-orang munafik.

 

Imam Al-Ghazali, dalam kitab Ihya Ulum Ad-Din, membagi riya menjadi beberapa tingkat, yaitu:

  1. Tingkatan paling berat, yaitu orang yang tujuan setiap ibadahnya hanyalah untuk riya semata-mata dan tidak mengharapkan pahala. Misalnya, seseorang yang melakukan shalat kalau di hadapan orang banyak, sedangkan apabila sendirian dia tidak melaksanakannya, bahkan kadang-kadang shalat tanpa berwudlu terlebih dulu.
  2. Orang yang beramal dan mengharapkan pahala, tetapi harapannya sangat lemah karena dikalahkan oleh riya. Dia beramal ketika dilihat orang, sedangkan bila sendirian amalnya sangat sedikit. Misalnya seseorang yang memberikan sedekah banyak di hadapan orang, tetapi kalau sendirian ia memberikan sedikit saja sedekahnva.
  3. Niat memperoleh pahala dan riya seimbang. Kalau dalam suatu ibadah hanya terdapat salah satunya saja, misalnya menclapat pahala, tetapi ia tidak bisa riya, ia tidak mau melakukan ibadah. Demikian pula sebalikiiya. Hal itu berarti merusak perbuatan baik, yakni bercarnpurnya pahala dan dosa.
  4. Riya (dilihat orang) hanya pendorong untuk melakukan ibadah, sehingga jika tidak dilihat orang pun, dia tetap melakukan ibadah. Hanya saja ia merasa lebih semangat kalau dilihat orang.

 

Syaqiq bin Ibrahim, yang diikuti oleh Abu Laits Samarqandi, berpendapat bahwa ada tiga perkara yang menjadi benteng amal, yaitu:

  1. Hendaknya mengakui bahwa aural ibadahnya adalah pertolongan Allah SWT., agar penyakit ujub dalam hatinya hilang;
  2. Semata-mata hanya mencari rida Allah SWT. agar hawa nafsunya teratur.
  3. Senantiasa hanya mengharap rida Allah SWT. agar tidak timbal rasa tamak atau riya.

 

Selain itu, riya pun akan menghapus pahala amal ibadah sebagaimana firman Allah :

öNs9r& ts? ’n<Î) Z~yJø9$# .`ÏB ûÓÍ_t/ Ÿ@ƒÏäÂuŽó Î) .`ÏB ω÷èt/ #Óy›qãB øŒÎ) (#qä9$s% %cÓÉ<uZÏ9 ãNçl°; ô]yèö/$# $uZs9 $Z6Î=tB ö@ÏF»s)œR ’Îû È@‹Î6y™ «!$# ( tA$s% ö@yd óOçFøŠ|¡tã bÎ) |=ÏGà2 ãNà6ø‹n=tæ ãA$tFÉ)ø9$# žwr& (#qè=ÏG»s)è? ( (#qä9$s% $tBur !$uZs9 žwr& Ÿ@ÏG»s)çR ’Îû È@‹Î6y™ «!$# ô‰s%ur $oYô_̍÷zé& `ÏB $tR̍»tƒÏŠ $uZͬ!$oYö/r&ur ( $£Jn=sù |=ÏGä. ãNÎgøŠn=tæ ãA$tFÉ)ø9$# (#öq©9uqs? žwÎ) WxŠÎ=s% óOßg÷ZÏiB 3 ª!$#ur 7OŠÎ=tæ šúüÏJÎ=»©à9$$Î/ ÇËÍÏÈ

Artinya : “Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu menghilangkan (pahala) sedekahmu dengan menyebut-nyebutnya dan menyakiti (perasaan si penerima), seperti orang yang menafkahkan hartanya Karena riya kepada manusia dan dia tidak beriman kepada Allah dan hari kemudian. Maka perumpamaan orang itu seperti batu licin yang di atasnya ada tanah, Kemudian batu itu ditimpa hujan lebat, lalu menjadilah dia bersih (Tidak bertanah). mereka tidak menguasai sesuatupun dari apa yang mereka usahakan; dan Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang kafir. (Qs. Al-Baqarah : 264)

 

Namun demikian, berbagai ancaman dan celaan terhadap orang yang riya tidak boleh membuat kita enggan melakukan amal ibadah karena takut termasuk orang yang riya dan amalnya menjadi sia-sia. Pepatah Arab mengatakan:

مَنْ خَافَ الذُّلَّ فِى الذُّ وَمَنْ خَافَ الْخَطَأَ فَى الْخَطَاءِ

Artinya : Barang siap yang takut kehinaan, (sesunggunya) ia telah hina, dan barang siapa yang takut  salah (sesungguhnay) ia telah bersalah.

 

Dengan kata lain, orang yang takut kehinaan dan kesalahan sehingga tidak mau berbuat apa-apa sesungguhnya ia telah hina dan berbuat kesalahan. Begitu pula, orang yang tidak mau beribadah karena takut dikatakan riya sesungguhnya itu termasuk orang yang riya.

 

Menurut Abu Bakar Al-Wasith, melenyapkan riya dalam beramal adalah utama. Akan tetapi jika belum dapat melakukan, kita tidak boleh berputus asa atau menghalangi kita untuk tidak melakukan amal tersebut karena takut riya.  Sebaiknya tetaplah beramal seraya memohon ampun atas riyanya, dengan harapan Allah SWT.

 

 

 

Bagaimana cara mengobati riya’ :

  1. Mengetahui dan memahami keagungan Allah SWT.
  2. Selalu mengingat akan kematian.
  3. Banyak berdo’a dan merasa takut dari perbuatan riya’
  4. Terus menerus mengerjakan amal sholih.

 

Beberapa perkara yang tidak termasuk riya’ :

  1. Seseorang yang beramal dengan ikhlas, namun mendapat pujian dari manusia tanpa ia dikehendaki.
  2. Seseorang yang memperindah penampilan karena keindahan islam.
  3. Beramal karena memberi teladan bagi orang lain.
  4. Orang yang semangat beramal ketika berada ditengah orang-orang yang lagi semangat beramal. [3]

PENUTUP

 

Kesimpulan

Ikhlas adalah sikap manusia untuk menyengaja dengan perkataan, perbuatan, dan jihadnya, karena Allah semata dan karena mengharapkan keridhaan-Nya.

Riya artinya usaha dalam melaksanakan ibadah bukan dengan niat menjalankan kewajiban dan menunaikan perintah Allah SWT, melainkan  bertujuan untuk dilihat orang, baik untuk kemasyhuran, mendapat pujian, atau harapan-harapan lainnya dari selain Allah.

 

 DAFTAR PUSTAKA

 

Mahrus Ali, Terjemah Bulughul Maram, Mutiara Ilmu, Surabaya, 1995, h. 653

Umar al Jawi Ibnu Nawawi, Tausyih ala Ibnu Qosim, Toha Putra, Semarang.

Yahya bin Syaraf bin Hasan bin Husain An-Nawawi Ad-Dimasyqiy, Abu Zakaria., Riyadlus Sholhin, Semarang.

 


[1]. Riyadlussholihin, hal 2

[2]. Tausyih ala Ibnu Qosim, hal 55

About iroelizzta

santai tapi pasti

Posted on 29 Mei 2012, in islam..... Bookmark the permalink. Tinggalkan komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: