Tak Masuk Mengajar

Tak Masuk Mengajar

Ujian semester genap tinggal  menghitung jari, santri, asatidz, karyawan mulai sibuk  untuk mempersiapkan ujian madrasah diniyyah. Sebut saja nama madrasah dan pesantren itu Darus Salam, madrasah diniyyah yang berada di tengah keramaian kota Solo. Madin Darus Salam merupakan salah satu madrasah yang bernuansa pesantren yang telah menghasilkan tokoh-tokoh agama yang tersebar luas di kota tersebut. Kepala madinnya adalah KH. Muzakky Lc, MA., sekaligus pengasuh  pesantren. Beliau sangat alim, tegas, disiplin dan bijaksana.  Beliau masih muda, dan baru saja lulus dari Pasca sarjana di luar negeri. Walaupun beliau masih berumur muda untuk seorang pengasuh, beliau sudah mampu mengemban tugasnya dengan baik.

Menjelang ujian, banyak ustadz yang sering tidak masuk, siswanya pun begitu, banyak yang membolos sekolah. Setiap akan akhir tahun, umumnya kegiatan belajar mengajar mengendur, karena ada kesibukan-kesibukan di luar maupun dalam madrasah.

Suatu malam, sebelum berangkat mengajar, salah seorang asatidz, namanya Ust. Ashobi’ mendapati sedikit kebimbangan. Bapak  yang disiplin dan penakut ini sedang mempertimbangkan diantara dua pilihan yang akan dipenuhinya. Kedua pilihan tersebut adalah berangkat mengajar santri dan berangkat ke pernikahan tetangga dekat.

Dalam hati ia berkata, “bila aku tidak menghadiri walimatul ars mulai habis maghrib ini, takut akan omongan warga, tapi bila tidak masuk ke madrasah, mendapatkan omongan yang mencekeram dari pak Muzakky.”

Dengan sedikit kebingungan, dia meminta pendapat kepada istrinya. Dia menceritakannya dan istrinya setuju dengan berangkat ke rumah tetangga saja, karena takut akan omongan warga. Dia pun mantap dengan pilihan istri tercintanya itu.

Pada siang hari sebelum itu, pak ashobi’ sengaja mematikan HPnya agar tidak bisa dihubungi bapak Muzakky yang tegas itu.

Di madrasah, seperti biyasa, sehabis jama’ah isya’, KH. Muzakky mengabsen asatidz, dan ternyata yang tidak masuk dua orang, yaitu ustadz Ashobi’ dan Ust. Qodamain. Beliau pun sedikit geram karena keduanya tidak izin. Dengan langkah yang cepat, pak Muzakky mengambil telpon dan menghubungi keduanya. Pertama, yang dihubungi adalah Pak ashobi’, tetapi berkali-kali ditelpon tapi tidak nyambung.  Beliau sangat marah.

Setibanya di walimah, Pak ashobi’ berdiri ikut menyambut tamu yang mulai memenuhi acara itu. Ditengah penyambutan, dia terkejut dengan datangnya pak Qodamain.  “ Lho pak, ikut kesini tho ?‘’

‘’ ga’ enak pak sama tetangga sendiri, masak sama tetangga sediri tidak ikut menyambut ,” ujar Ashobi’.

“ Betul betul betul pak, tapi by the way, apa bapak sudah meminta izin kepada Pak Muzakky ?” tanya Qodamain.

“ ya gimana lagi pak, aku takut, ga’ berani meminta izin kepadanya, ya dari siang tadi HPku tak mati’in supaya tidak ada yang menghubungi sementara,” sambung Ashobi’.

About iroelizzta

santai tapi pasti

Posted on 30 April 2012, in artikelku. Bookmark the permalink. Tinggalkan komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: