Karakter Nabi Muhammad

Karakter Nabi Muhammad

            Tercatat dalam sejarah dunia bahwa Nabi Muhammad adalah termasuk salah seorang yang sukses membawa perubahan besar pada bangsanya. Sukses dalam mengentaskan bangsanya dari kebodohan, kemiskinan, dan permusuhan. Sukses membawa kaumnya dari kesesatan menuju ajaran yang sempurna untuk kehidupan dunia dan akhirat. Kesuksesan yang dibawanya telah mencengangkan dunia. Hanya orang besar yang bisa membawa perubahan besar. Hanya orang benar yang bisa mengemban amanat kebenaran. Sungguh merupakan suatu perpaduan yang sangat sempurna antara karakter sang pembawa risalah dengan risalah yang dibawanya. Muhammad disiapkan untuk sesuatu yang agung. Muhammad disiapkan untuk sesuatu yang suci. Muhammad diciptakan untuk menjadi tokoh dunia.

 

Pertama, shidiq

Nabi Muhammad adalah seorang yang jujur, benar, tidak pernah berbohong dan tidak pernah mengajari umatnya untuk berbohong. Dalam sebuah hadits yang diriwayatkan Ibnu Mas’ud, Nabi bersabda:

إن الصدق يهدي إلى الـبر وإن البر يهدي إلى الجنـة وإن الرجل ليصـدق حتى يكتب عند الله صـديقا, وإن الكذب يهدي إلى الفجور وإن الفجور يهدي إلى النار وإن الرجل ليكذب حتى يكتب عند الله كذابا

            Artinya: “Sesungguhnya kejujuran akan mengantarkan pada jalan kebaikan dan kebaikan akan mengantarkan pada jalan surga. Dan seseorang yang selalu berbuat jujur akan ditulis di sisi Allah sebagai orang yang jujur. Sedangkan kebohongan akan mengantarkan pada kejahatan dan kejahatan akan mengantarkan pada jalan neraka. Dan orang yang berbohong akan ditulis di sisi Allah sebagaj seorang pembohong.”

Nabi terkenal dengan kejujurannya. Kejujuran inilah yang bisa membuat Islam cepat dipeluk oleh bangsa Arab. Kejujuran inilah yang membuat Abu Thalib bersikeras melindungi Nabi Muhammad dari gangguan kafir Quraisy, walaupun ia sendiri belum bisa memeluk ajaran Nabi Muhammad. Karena Abu Thalib yakin bahwa Muhammad yang jujur tidak akan membawa berita yang bohong bahkan dalam masalah kepercayaan. Kejujuran inilah yang bisa menentramkan jiwa Khadijah ketika Nabi menerima wahyu pertama kali. Khadijah yakin mengenai kejujuran Muhammad, sehingga yang diterimanya pun tidak sampai merupakan kedustaan.

 

Masyarakat yang dibangun oleh Nabi adalah masyarakat yang dipenuhi dengan jiwa-jiwa yang jujur, yang selalu dibayangi oleh Allah yang Maha Mengetahui dalam segala aktifitasnya. Dalam keramaian maupun dalam keadaan sepi. Di hadapan banyak orang maupun dalam kesendirian. Bukan masyarakat yang penuh dengan kebohongan. Masyarakat yang dibangun adalah masyarakat yang satu dalam kata dan perbuatannya, bukan masyarakat yang berkata yes  dalam ucapannya namun dalam hatinya menolak. Al-Qur`an sangat mengecam orang-orang yang tidak sekata dan seamalan.

Artinya: “Wahai orang-orang yang beriman, kenapakah kamu mengatakan sesuatu yang tidak kamu kerjakan? Amat besar kebencian di sisi Allah bahwa kamu mengatakan apa-apa yang tidak kamu kerjakan.” (ash-Shaff: 2-3)

Masyarakat yang ingin dibangun Nabi adalah masyarakat yang selalu melakukan apa yang pernah mereka katakan, yang selalu menepati apa yang pernah mereka janjikan. Bukan masyarakat yang mengumbar janji namun mereka dengan mudah melupakan jika meraih ambisi. Bukan masyarakat yang menggombali karena untuk sebuah misi. Bukan masyarakat yang mimpi tanpa bukti.

Kedua, amanat

Nabi adalah orang yang dapat dipercaya. Tidak ada yang meragukan ke- aminan seorang Muhammad. Kaum muslimin dan orang-orang kafir Makkah semua mengakui hal tersebut. Sebuah kasus misalnya ketika semua kabilah berebut dan bersitegang tentang siapa yang akan menaruh Hajar Aswad di dinding Ka’bah setelah terkena banjir, maka Muhammad-lah yang menjadi pilihannya. Dalam memikul amanat besar tersebut, beliau tidak lantas semena-mena. Namun beliau meminta kabilah untuk menyiapkan kain panjang. Hajar Aswad ditaruh di tengahnya dan setiap dari kabilah Arab memegang sudut-sudut kain tersebut. Kepercayaan yang diberikan kepada beliau tidak lantas membuat beliau lupa akan keadilan. Amanat yang dipercayakan kepada beliau tidak lantas membuat beliau lupa akan kebijaksanaan. Amanat yang diberikan kepada beliau tidak lantas membuat lupa akan orang yang memberi amanat. Karakter al-Amin inilah  yang membuat Nabi sukses menjadi agamawan sekaligus negarawan. Dengan al-Amin-nya semua umat Islam pada saat itu rela mengorbankan segala yang dimilikinya untuk Islam. Mereka yang mempunyai kekuatan siap melindungi Islam dengan kekuatannya. Mereka yang berilmu siap menumpahkan pikirannya untuk kemajuan Islam. Bahkan mereka yang tidak mempunyai apapun rela menjalankan hukum Islam dengan ta’at dan ikhlas. Mereka percaya bahwa pengorbanan mereka tidak akan sia-sia. Mereka percaya bahwa pengorbanan mereka tidak salah amanat. Mereka percaya pengorbanan mereka adalah untuk kepentingan Islam secara keseluruhan, bukan hanya dinikmati oleh sekelompok manusia tertentu. Mereka yakin bahwa semua pengorbanan mereka hasilnya akan mereka nikmati kembali. Mereka berkorban dan mereka yang akan menikmati hasilnya. Tidak pernah terlintas dibenak mereka bahwa Nabi dan orang–orang dekatnya akan menikmati hasil jerih payah rakyatnya tanpa peduli nasib mereka.

Allah berfirman:

            Artinya: “Sesungguhnya Allah menyuruh kamu menyampaikan amanat kepada yang berhak menerimanya, dan (menyuruh kamu) apabila menetapkan hukum di antara manusia supaya kamu menetapkan dengan adil. Sesungguhnya Allah memberi pengajaran yang sebaik-baiknya kepadamu. Sesungguhnya Allah adalah Maha Mendengar lagi Maha Melihat.” (an-Nisa`: 58)

Alangkah bahagianya sebuah bangsa yang dipenuhi dengan jiwa-jiwa yang amanah. Di sana ada kepercayaan, di sana ada ketenangan, di sana tidak ada saling mencurigai, tidak ada saling menuduh dan menuding untuk kepentingannya sendiri.

 

Ketiga, tabligh

Nabi bersifat menyampaikan wahyu. Apa yang diterima dari Allah selalu disampaikan kepada umatnya. Tak ada satu perintahpun yang tidak disampaikan kepada mereka. Apa yang datang dari Allah selalu disosialisasikan pada umatnya. Baik berupa perintah maupun larangan, kabar gembira atau kabar yang menyedihkan.

$pkš‰r’¯»tƒ ãAqߙ§9$# õ÷Ïk=t/ !$tB tA̓Ré& šø‹s9Î) `ÏB y7Îi/¢‘ ( bÎ)ur óO©9 ö@yèøÿs? $yJsù |Møó¯=t/ ¼çmtGs9$y™Í‘ 4 ª!$#ur šßJÅÁ÷ètƒ z`ÏB Ĩ$¨Z9$# 3 ¨bÎ) ©!$# Ÿw “ωöku‰ tPöqs)ø9$# tûï͍Ïÿ»s3ø9$# ÇÏÐÈ

            Artinya: “Hai rasul, sampaikanlah apa yang diturunkan kepadamu dari Tuhanmu. Dan jika tidak kamu kerjakan (apa yang diperintahkan itu, berarti) kamu tidak menyampaikan amanat-Nya. Allah memelihara kamu dari (gangguan) manusia. Sesungguhnya Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang kafir.” (al-Ma`idah: 67)

Karakter ini yang kemudian menjadi konsep amar ma’ruf nahi munkar, menyeru kepada kebaikan dan mencegah dari kemunkaran. Nabi mengajarkan kepada umatnya untuk saling mengingatkan dan menasehati. Untuk saling mengajak dan mencegah. Nabi tidak mengajarkan manusia untuk memikirkan kebahagiaan pribadi. Nabi mengajarkan umatnya untuk menciptakan kebahagiaan kolektif. Kebahagiaan bersama di dunia dan di akhirat. Pepatah mengatakan teman sejati bukanlah yang selalu membenarkan kita. Teman sejati adalah yang berkata benar kepada kita ( ليس الصديق من يُصّدقك ولكن الصديق من يَصُدقك  ).

Bangsa yang diimpikan Nabi adalah sebuah bangsa besar yang saling peduli, bukan bangsa individual. Bukan  bangsa yang hanya memikirkan pribadi, bukan bangsa yang hanya memikirkan golongannya. Namun bangsa yang berpandangan bahwa kepentingan rakyat jauh lebih penting dari kepentingan pribadi dan golongannya. Bahwa kepentingan bangsannya itulah yang harus diutamakan.

 

 

Keempat, fathanah

Nabi adalah orang yang cerdas dan pandai. Kecerdasan ini sangat mempengaruhi kesuksesan Nabi dalam dakwahnya. Dan kecerdasan inilah yang selanjutnya Nabi juga terkenal dengan negarawan handal. Muhammad Husain Haikal dalam bukanya Hayatu Muhammad menegaskan bahwa metode dakwah Nabi penuh dengan ilmiah. Nabi mampu meyakinkan pada pengikutnya bahwa yang menciptakan alam ini bukanlah berhala yang disembah oleh orang–orang Quraisy, bukanlah api yang dipuja oleh mereka yang menganut paganisme. Alam dan isinya, satu sama lain saling berhubungan. Perputaran dan ketertiban hukum alam ini sangat menakjubkan. Matahari tidak mengejar bulan, malam juga tidak akan mendahului siang dan lain sebagainya. Hal ini menunjukan bahwa yang menciptakan alam ini adalah Dzat yang Maha Esa, yaitu Allah SWT. Ajaran Muhammad merupakan perpaduan kebenaran yang dilukiskan dengan bahasa yang sangat indah. Sehingga membuat orang–orang Arab bangkit dari kejahiliyahannya, bangkit dari kebodohannya. Jiwa mereka meningkat lebih tinggi, berhubungan dengan Dzat yang Maha Mulia. Kecerdasan ini pula yang menjadi rahasia kenapa umat Islam dianjurkan untuk berhijrah, dan kenapa hijrah pertama kali harus ke Abisinia yang berada di bawah kekuasaan Najasyi. Ketika ditanya kenapa harus ke Abisinia ya Rasulullah? Beliau menjawab, “Tempat itu diperintah seorang raja dan tak ada orang yang dianiaya di situ. Itu bumi jujur sampai nanti Allah membukakan jalan buat kita”. Nabi berhijrah bukan karena takut menghadapi musuh. Nabi berhijrah bukan karena pengecut. Nabi berhijrah karena pada saat itu umat Islam masih sangat lemah dan belum sebanding dengan kekuatan kafir Quraisy. Nabi berhijrah guna mengumpulkan kekuatan, menggalang solidaritas. Dan pada saat yang tepat nanti akan kembali ke Makkah untuk mendakwahi mereka. Islam mengajarkan umatnya untuk menjadi bangsa yang pandai, bangsa cerdas. Islam tidak membiarkan umatnya berada dalam jurang kebodohan.

من أراد الدنيا فعليه بالعلم , ومن أراد الأخرة فعليه بالعلم , ومن أرادهما فعليه بالعلم

            Artinya: “Barangsiapa yang ingin menguasai dunia, maka ia harus berilmu. Barangsiapa yang menginginkan akhirat, maka ia harus berilmu. Dan barangsiapa  yang menginginkan keduanya, maka ia harus berilmu.”

 

 

About iroelizzta

santai tapi pasti

Posted on 30 April 2012, in sejarah peradaban islam. Bookmark the permalink. Tinggalkan komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: