Asbabun NuzuL

BAB I

PENDAHULUAN

1.1  Latar Belakang

Al-quran adalah mukjizat bagi umat islam yang diturunkan kepada nabi Muhammad Saw untuk disampaikan kepada umat manusia. Al Quran sendiri dalam proses penurunannya mengalami banyak proses yang mana dalam penurunannya itu berangsur-angsur dan bermacam-macam nabi menerimanya. Sebagaimana dalam perjalanan pembukuan al Quran yang banyak mengalami hambatan sampai banyaknya para penghafal al quran yang meninggal, maka dalam proses aplikasi nilai-nilai yang terkandung di dalamnya juga sangat banyak kendalanya. Kita mengenal turunnya al quran sebagai tanggal 17 Ramadhan. Maka setiap bulan 17 Ramadhan kita mengenal yang namanya Nuzulul Quran yaitu hari turunnya al Quran. Dalam penurunan al Quran terjadi di dua kota yaitu Madinah dan Mekkah. Surat yang turun di Mekkah disebut dengan Makkiyah sedangkan surat yang turun di Madinah disebut dengan surat Madaniyah. Dan juga dalam pembedaan itu terjadi banyak perbedaan antara para ahli Quran apakah ini surat Makkiyah atau surat Madaniyah. Maka dari permasal;ahan diatas tercetus dalam benak kami ingin mengulas tentang Nuzulul Quran sejarah turunnya Al-Quran. Maka untuk itu pertanyaan ini akan mengantarkan pembahasan kami tentang turunnya al-Quran.

1.2  Rumusan Masalah

  1. Asbabul Nuzul Al-Qur’an ?
  2. Turunnya Al-Qur’an surat pertama sampai terakhir ?
  3. Perjalanan pembukuan Al-Qur’an ?
  4. Ilmu Makkiyah dan Madaniyah ?

1.3 Tujuan

  1. Dasar pengetahuan baru dalam sejarah Islam
  2.  Sebagai pemenuhan tugas mata kuliah Studi Qur’an
  3. Sebagai langkah awal dalam memahami seluk beluk turunnya Al-Qur’an
  4. Sebagai salah satu sarana penunjang dalam proses belajar mengajar
  5. Sebagai sarana telaah pendidikan.

BAB II

PEMBAHASAN

 

2.1       Asbabul Nuzul Al-Qur’an

Al-quran diturunkan untuk memberi petunjuk kepada manusia ke arah tujuan yang terang dan jalan yang lurus dengan menegakkan asas kehidupan yang di dasarkan pada keimanan kepada Allah dan risalahnya. Juga memberitahukan hal yang telah lalu, kejadian-kejadian yang sekarang serta berita-berita yang akan datang.

Sebagian besar Quran pada mulanya diturunkan untuk tujuan umum ini, tetapi kehidupan para sahabat bersama rasulullah telah menyaksikan banyak peristiwa sejarah, bahkan kadang terjadi di antara mereka peristiwa khusus yang memerlukan penjelasan hukum Allah atau masih kabur bagi mereka. Kemudian mereka bertanya kepada Rasulullah untuk mengetahui hukum Islam mengenai hal itu. Maka Quran turun untuk peristiwa khusus tadi atau untuk pertanyan yang muncul itu. Hal seperti itulah yang dinamakan asbabul nuzul.

  1. Perhatian para ulama terhadap Asbabun Nuzul

Para penyelidik ilmu-ilmu Quran menaruh perhatian besar terhadap pengetahuan tentang Asbabun Nuzul. Untuk menafsirkan Quran ilmu ini diperlukan sekali, sehingga ada pihak yang mengkhususkan diri dalam pembahasan mengenai bidang itu. Yang terkenal diantaranya ialah Ali bin Madini, guru Imam bukhari, kemudian al-Wahidi dalam kitabnya Asbabun Nuzul, kemudian al-jabari yang meringkaskan kitab al-wahidi dengan menghilangkan isnad-isandnya, tanpa menambahkan sesuatu. Menyusul Syaikhul Islam Ibn Hajar yang mengarang satu kitab mengenai Asbabun Nuzul, satu juz dari naskah kitab ini didapatkan oleh As-suyuti, tetapi ia tidak dapat menemukan seluruhnya, kemudian As-suyuti yang mengatakan tentang dirinya: dalam hal ini, aku telah mengarang satu kitab lengkap, singkat dan sangat baik serta dalam bidang ilmu belum ada dalam satu kitab pun dapat menyamainya. Kitab ini dinamakan libabul manqul fi asbabin nuzul.

  1. Pedoman mengetahui Asbabun Nuzul

Pedoman dasar para ulama dalam mengetahui Asbabun Nuzul ialah riwayat shahih yang berasal dari riwayat Rasulullah atau dari sahabat. Itu disebabkan pemberitahuan seorang sahabat mengenai hal seperti ini, maka hal itu bukan sekedar pendapat (ra’yi) tetapi ia mempunyai hukum marfu’ (disandarkan pada Rasulullah). Al-wahidi mengatakan : tidak halal berpendapat mengenai asbabun nuzul kitab Al-Quran kecuali dengan berdasarkan pada riwayat atau mendengar langsung dari orang-orang yang menyaksikan turunnya, mengetahui sebabnya dan membahas tentang pengertiannya serta bersungguh-sungguh dalam mencarinya. Inilah jalan yang ditempuh oleh ulama salaf. Mereka amat berhati-hati untuk mengatakan sesuatu mengenai asbabun nuzul tanpa pengetahuan yang jelas. Muhammad bin sirin mengatakan : ketika kutanyakan kepada Ubaidah mengenai satu ayat Al-Quran. Di jawabnya bertaqwalah kepada Allah dan berkatalah yang benar orang-orang yang mengetahui mengenai apa Al-Quran itu diturunkan telah meninggal.

Maksudnya, para sahabat. Apabila seorang tokoh ulama macam ibn sirin, yang termasuk tokoh tabiin terkemuka sudah demikian berhati-hati dan cermat mengenai riwayat dan kata-kata yang menentukan, maka hal itu menunjukkan orang harus mengetahui dengan benar asbabun nuzul tersebut. Oleh karena itu yang dapat dijadikan pegangan dalam asbabun nuzul adalah riwayat ucapan-ucapan sahabat yang bentuknya seperti musnad, yang secara pasti menunjukkan asbabun nuzul. As-suyuti berpendapat bahwa bial ucapan para tabiin menunjukkan secara jelas bahwa asbabun nuzul, maka ucapan itu dapat diterima. Dan mempunyai kedudukan mursal bila penyandaran kepada tabiin itu benar dan itu dan ia termasuk salah seorang imam tafsir yang mengambil ilmunya dari para sahabat, seperti mujahid, Ikrimah dan said bin jubair serta didukung oleh hadis mursal lain.

Al-wahidi telah menetang ulama-ulama zamannya atas kecerobohan mereka terhadap riwayat asbabun nuzul. Bahkan ia menuduh ia pendusta dan mengingatkan mereka atas ancaman berat, dengan mengatakan : sekarang, setiap orang suka mengada-ngada dan berbuat dusta. Ia menempatkan kedudukannya dalam kebodohan, tanpa memikirkan ancaman berat bagi orang yang tidak mengetahui sebab turunnya ayat.

  1. Definisi Sebab Nuzul

            Setelah diselidiki, sebab turunnya sesuatu ayat itu berkisar pada dua hal:

  1. Bila terjadi suatu peristiwa, maka turunlah ayat Al-Quran mengenai peristiwa itu. Hal itu seperti diriwayatkan dari ibn Abbas, yang mengatakan, ketika turun : dan peringatkanlah kerabat-kerabatmu yang terdekat, Nabi pergi dan naik ke bukit safa, lalu berseru: wahai kaumku! Maka mereka berkumpul ke dekat nabi. Ia berkata lagi bagaimana pendapatmu bila aku beritahukan kepadamu bahwa dibalik gunung ini ada sepasukan berkuda yang hendak menyerangmu, percayakah kamu apa yang kukatakan? Mereka menjawab: Kami belum pernah melihat engkau berdusta.

Dan nabi melanjutkan: Aku memperingatkan kamu tentang siksa yang pedih. Ketika itu Abu Lahab lalu berkata. Celakalah engkau: apakah engkau mengumpulkan kami hanya untuk urusan ini? Lalu ia berdiri maka turunlah ayat ini: celakalah kedua tangan Abu Lahab

  1. Bila Rasullah ditanya tentang suatu hal, maka turunlah ayat Al-Quran yang mengenai hukum terebut. Hal itu seperti khaulah binti salabah dikenakan zihar oleh suaminya, aus bin samit. Lalu ia datang kepada Rasulullah mengadukan hal tersebut. Aisah berkata: maha suci Allah yang pendengarannya meliputi segalanya. Aku mendear ucapa khaulah binti salabah.sekalipun tidak seluruhnya, ia mengadukan suaminya kepada Rasulullah katanya: Rasulullah suamiku telah menghabiskan masa mudaku dan sudah beberapa kali aku mengandung karenanya, sekarang, setelah aku menjadi tua dan tidak beranak lagi, ia menjatuhkan zihar kepadaku! Ya Allah sesunggauhnya aku mengadu kepadamu. Aisyah berkata: tiba-tiba jibril turun membawa ayat-ayat ini: Sesungguhnya Allah telah mendengar perkataan perempuan yang mengadu kepadamua tentang suaminya. Yakni aus bin samit.

Tetapi hal ini tidak berarti bahwa setiap orang harus mencari sebab turunnya setiap ayat, karena tidak semua ayat Al-Qur’an diturunkan karena timbul suatuperistiwa dan kejadian, atau karena suatu pertanyaan. Tetapi ada diantara ayat Al-Quran yang diturunkan sebagai permulaan, tanpa sebab mengenai akidah, iman, kewajiban Islam dan syariat Allah dalam kehidupan pribadi dan sosial. Al-jabari menyebutkan: Al-Quran ditrunkan dalam dua kategori, yang tirun tanpa sebab, dan yang turun karena suatu peristiwa atau pertanyaan. Oleh sebab itu, maka Asbabun nuzul di definisikan sebagai sesuatu hal yang karenanya Al-Quran diturunkan untuk menerangkan status hukumnya, pada masa hari itu terjadi, baik berupa peristiawa maupun pertanyaan.

Rasanya suatu hal yang berlebihan bila kita memperluas pengertian asbabun nuzul dengan membentuknya dari berita-berita tentang generasi terdahulu dan peristiwa-peristiwa masa lalu. As-suyuti dan orang-orang yang banyak memperhatikan Asbabun Nuzul mengatakan bahwa ayat itu tidak turun disaat-saat terjadinya sebab. Ia mengatakan demikian itu karena hendak atau membatalkan apa yang dikatakan oleh wahidi dalam menafsirkan suah Al-Fiil, bahwa sebab turun surat tersebut adlah kisah datangnya orang-orang habsyah. Kisah ini sebenarnya sedikit pun tidak termasuk asbabun nuzul. Melainkan termasuk kategori berita peristiwa masa lalu, seperti halnya kisah kaum nabi Nuh, kaum samud, pembangunan ka’bah dan lain-lain yang serupa itu. Demikian pula mengenai ayat dan Allah telah mengambil Ibrahim menjadi kesayangannya, Asbabun nuzulnya adalah karena Ibrahim dijadikan kesayangan Allah. Seperti sudah di ketahui, hal itu sedikit pun tidak termasuk kedalam Asbabun Nuzul

  1. Faedah Mengetahui Asbabun Nuzul

            Ketika seseorang mengalami kesukaran memahami makna sesuatu ayat al-Quran, ke manakah mereka akan merujuk? Berdasarkan pendapat Ibnu Taimiyah, beliau “mengetahui sebab turunnya ayat-ayat al-Quran akan membantu seseorang itu memahami kandungan makna dan kejelasan maksud ayat-ayat tersebut. Mengetahui asbabun nuzul sangat besar pengaruhnya dalam memahami makna ayat-ayat dalam Al-Qur’an. Oleh karena itu, para ulama sangat berhati-hati dalam memahami asbabun nuzul, sehingga banyak ulama yang menulis tentang itu. Diantara kitab termasyhur yang membahas tentang asbabun nuzul adalah; Asbabun Nuzul, karya Imam Al-Wahidi, Lubabun Nuqul fi Asbabin Nuzul karya Imam Suyuthi. Beberapa faedah mengetahui asbabun nuzul antara lain:

  1. Dapat mengetahui hikmah disyari’atkannya hokum. Imam Al-Wahidi mengatakan, ”Tidak mungkin orang bisa mengetahui tafsir suatu ayat tanpa mengetahui kisah dan penjelasan mengenai turunnya lebih dahulu”.
  2. Kekhususan hukum disebabkan oleh sebab tertentu. Ibnu Taimiyyah mengatakan, ”Mengetahui asbabun nuzul sangat membantu untuk memahami ayat. Sesungguhnya dengan mengetahui sebab akan mendapatkan ilmu musabbab”.
  3. Mengetahui nama orang, dimana ayat diturunkan berkaitan dengannya, dan pemahaman ayat menjadi lebih jelas.
  4. Menghindarkan anggapan menyempitkan dalam memandang hukum yang nampak lahirnya menyempitkan.

Ibnu Jarîr meriwayatkan dalam Jâmi’ul Bayâni Fit Ta’wîlil Qur’âninya(3/94):

“Abu Kuraib telah bercerita kepada kami(Ibnu Jarîr), katanya(Abu Kuraib): “Abû Dâwud telah bercerita kepada kami((Abu Kuraib) dari Sufyan dari Ja’far bin Iyas dari Sa’îd bin Jubair dari Ibnu ‘Abbâs, katanya(Ibnu ‘Abbâs): “dahulu mereka tidak mau memberi sebagian kecil hartanya kepada kerabat mereka dari kalangan Musyrikin, lalu turunlah:

لَيْسَ عَلَيْكَ هُدَاهُمْ وَلَكِنَّ اللَّهَ يَهْدِي مَنْ يَشَاءُ وَمَا تُنْفِقُوا مِنْ خَيْرٍ فَلأنْفُسِكُمْ وَمَا تُنْفِقُونَ إِلا ابْتِغَاءَ وَجْهِ اللَّهِ وَمَا تُنْفِقُوا مِنْ خَيْرٍيُوَفَّ إِلَيْكُمْ وَأَنْتُمْ لا تُظْلَمُونَ (٢٧٢)

272. Bukanlah kewajibanmu menjadikan mereka mendapat petunjuk, akan tetapi Allah-lah yang memberi petunjuk (memberi taufiq) siapa yang dikehendaki-Nya. dan apa saja harta yang baik yang kamu nafkahkan (di jalan Allah), maka pahalanya itu untuk kamu sendiri. dan janganlah kamu membelanjakan sesuatu melainkan karena mencari keridhaan Allah. dan apa saja harta yang baik yang kamu nafkahkan, niscaya kamu akan diberi pahalanya dengan cukup sedang kamu sedikitpun tidak akan dianiaya (dirugikan).

Ketarangan

Kata Ibnu Jarîr: “Hadis di atas para rawinya adalah rawi shahih”. Pendapat Ibnu Jarîr juga dikuatkan kerajihannya dengan Hadis yang dinisbahkan Ibnu Katsîr dalam Tafsîr al-Qur’ân al-‘Adzîmnya(1/323) kepada: “an-Nasâ’î”. Imâm Jalâludin ash-Suyûthî juga menisbahkan dalam Lubâb an-Nuqûli fî Asbâb an-Nuzûlinya(Bab I, Surat ke-2: al-Baqarah) kepada: “an-Nasâ’î, al-Hakim, al-Bazzâr, ath-Thabrânî dan Ibnu Abî Hâtim”, yang bersumber dari Ibnu ‘Abbâs. Asy-Syaikh Muqbil bin Hadî al-Wadi’î juga menisbahkan dalam ash-Shahîh al-Musnad min Asbâb an-Nuzûlnya(Surat al-Baqarah, ayat: 272) kepada: “at-Tirmidzî, al-Haitsamî, adz-Dzahabî dan al-Hâkim”.

  1. Redaksi Sebab Nuzul

Bentuk redaksi yang menerangkan sebab nuzul itu terkadang berupa pernyataan tegas mengenai sebab dan terkadang pula berupa pernyataan yang hanya mengandung kemungkinan mengenainya. Bentuk pertama ialah jika perawi mengatakan : “Sebab nuzul ayat ini adalah begini”, atau menggunakn fa ta’qibiyah (kira-kira seperti “maka”, yang menunjukkan urutan peristiwa) yang dirangkaikan dengan kata “turunlah ayat”, sesudah ia menyebutkan peristiwa atau pertanyaan. Misalnya, ia mengatakan “telah terjadi peristiwa begini”, atau “Rasulullah ditanya tentang hal begini,m maka turunlah ayat ini.” Dengan demikian, kedua bentuk di atas merupakan mernyataan yang jelas tentang sebab. Contoh-contoh untuk kedua hal ini akan kami jelaskan lebih lanjut.

Bentuk kedua, yaitu redaksi yang boleh jadi menerangkan sebab nuzul atau hanya sekedar menjelaskan kandungan hukum ayat ialah bila perawi mengatakan: “Ayat ini turun mengenai ini.” Yang dimaksudkan dengan ungkapan (redaksi) ini terkadang sebab nuzul ayat dan terkadang pula kandungan hukum ayat tersebut. Demikian juga bila ia mengatakan “Aku mengira ayat ini turun mengenai soal begini” atau “Aku tidak mengira ayat ini turun kecuali mengenai hal yang begini.” Dengan bentuk redaksi demikian ini, perawi tidak memastikan sebab nuzul. Kedua bentuk redaksi tersebut mungkin menunjukkan sebab nuzul dan mungkin pula menunjukkan yang lain. Contoh pertama ialah apa yang diriwayatkan dari Ibn Umar, yang mengatakan:

“Ayat istri-istri kamu adalah ibarat tanah tempat kamu bercocok tanam (Al Baqarah [2]:223) turun berhubungan dengan menggauli istri dari belakang.”

Contoh kedua ialah apa yang diriwayatkan dari Abdullah bin Zubair, bahwa Zubair mengajukan gugatan kepada seorang laki-laki dari kaum Ansar yang pernah ikut dalam Perang Badar bersama Nabi, di hadapan Rasulullah tentang saluran air yang mengalir dari  tempat yang tinggi; keduanya mengaliri kebun kurma masing-masing dari situ. Orang Ansar berkata: “Biarkan airnya mengalir.” Tetapi Zubair menolak. Maka kata Rasulullah: “Airi kebunmu itu Zubair, kemudian biarkan air itu mengalir ke kebun tetanggamu.” Orang Ansar itu marah, katanya: Rasulullah, apa sudah waktunya anak bibimu itu berbuat demikian?” Wajah Rasulullah menjadi merah. Kemudian ia berkata: “Airi kebunmu Zubair, kemudian tahanlah air itu hingga memenuhi pematang; lalu biarkan ia mengalir ke kebun tetanggamu.” Rasulullah dengan keputusan ini telah memenuhi hak Zubair, padahal sebelum itu mengisyaratkan keputusan yang memberikan kelonggaran kepadanya dan kepada orang Ansar itu. Ketika Rasulullah marah kepada orang Ansar, ia memenuhi hak Zubair secara nyata. Maka kata Zubair. “Aku tidak mengira ayat berikut turun mengenai urusan tersebut: Maka demi Tuhanmu, mereka pada hakekatnya tidak beriman hingga menjadikan kamu hakim terhadap perkara yang mereka perselisihkan.” (An-Nisa’[4]:65).

Ibn Taimiyah mengatakan: “Ucapan mereka bahwa ‘ayat ini turun mengenai urusan ini’, terkadang dimaksudkan sebagai penjelasan mengenai sebab nuzul, dan terkadang dimaksudkan bahwa urusan itu termasuk ke dalam cakupan ayat walaupun tidak ada sebab nuzulnya. Para ulama’ berselisih pendapat mengenai ucapna sahabat: ‘Ayat ini hadis musnad seperti kalau dia menyebutkan sesuatu sebab yang karenanya ayat diturunkan ataukah berlaku sebagai tafsir daripada sahabat itu sendiri dan bukan musnad? Bukhari memasukkanya ke dalam kategori hadis musnad, sedang yang lain tidak memasukkanya. Dan sebagian besar hadis musnad itu menurut istilah atau pengertian ini, seperti musnad Ahmad dan yang lain-lain. Berbeda halnya bila sahabat menyebutkan sesuatu sebab yang sesudahnya diturunkan ayat. Bila demikian, maka mereka semua memasukkan pernyataan seperti ini ke dalam hadis musnad. Zarkasyi dalam Al Burhan menyebutkan: “Telah diketahui dari kebiasaan para sahabat dan tabi’in bahwa apabila salah seorang dari mereka berkata: ‘ Ayat ini utrun mengenai urusan ini’, maka yang dimaksudkan ialah bahwa ayat itu mengandung hukum urusan tersebut; bukanya urusan itu sebagai sebab penurunan ayat. Pendapat sahabat ini termasuk ke dalam jenis penyimpulan hukum dengan ayat, bukan jenis pemberitaan mengenai suatu kenyataan yang terjadi.”

 2.2      Turunnya Surat Al-Qur’an Pertama sampai Terakhir

Hari pertama turun al-qur’an dan tempatnya.

A.Para ulama berbeda pendapat tentang surah yang pertama kali turun:

  1. Dikatakan bahwa tertib surah itu tauqifi dan di tangani langsung oleh nabi sebagaimana di beitahukan jibril kepadanya atas perintah tuhan. Dengan demikian, Qur’an pada masa nabi telah tersusun surah-surahnya secara terib sebagaimana terib ayat-ayat nya, seperti yang ada di tangan kita saat ini, yaitu mushaf usman yang tidak ada seorang sahabat  pun menentangnya, ini telah menunjukan terjadi kesepakatan( ijma) atas tertib surah, tanpa suatu perselisihan apapun.

Yang mendukung pendapat ini ialah, bahwa Rasulilloh telah membaca beberapa       surah secara tertib di dalam salat nya, ibn abi syaibah meriwayatkan bahwa nabi pernah membaca beberapa surah mufassal (surah-surah pendek) dalam satu rokaat.

Telah di riwayatkan melalui iBn wahab berkata “aku mendengar Rabi’ah di tanya orang, ‘mengapa surah baqarah dan ali imron di dahulukan , padahal sebelum kedua surah itu telah di turunkan delapan puluh sekian surah makki, sedang keduanya di turunkan di madinah” ia menjawab: kedua surah itu memang di dahulukan dan Qur’an di kumpulkan menurut pengetahuan dari oraang yang mengumpulkannya. ‘kemudian katanya: ini adalah sesuatu yang mesti terjadi dan tidak perlu di pertanyakan.

  1. Dikatakan bahwa tertib surah berdasarkan para ijtihad para sahabat, mengingat  adanya perbedaan tertib di dalam mushaf-mushaf mereka, misalnya mushaf ali disusun menurut tertib nuzul yakni dimulai dengan iqra’, kemuin mudatsir lalu nun , Qalam kemudian muzammil, dan seterus nya hingga akhir surah makki dan madani.
  2. Dikatakan bahwa sebagaian  surah  itu terbitnya tauqifi dan sebagian lain nya berdasarkan ijtihad para sahabat, hal ini karna terdapat dalil yang menunjukan tertib sebagian surah pada masa nabi. Misalnya, keterangan yang mnunjukan tertib as-sab’ut tiwal dan al-mufassol pada masa hidup Rasululloh.

Di riwayaan,

Bahwa Rasululloh berkata:bacalah olehmu dua surah yang bercahaya, baqarah dan ali’imran

Di riwayatkan lagi:

Bahwa jika hendak pergi ke tempat tidur, Rasululloh mengumpulkan kedua telapak tangannya kemudian meniup lalu membaca Qul huwallohhua ahad dan mu’awwidzatain.

Dengan demikian, tetaplah tertib bahwa surah-surah itu  bersifat taufiqqi, seperti halnya tertib ayat-aat Abu Bakar ibnu hambali menyebutan: “alloh telah menurunkan Qur’an seluruhnya ke langit  dunia, kemudin ia menurunkan nya secara berangsur-angsur selam dua puluh sekian tahun. Sebuah surat turun karena suatu urusan yang terjadi dan ayat pun turun sebagai jawaban bagi orang yang bertanya, sedangkan jibril senantiasa memberi tahukan kepada nabi dimana surah dan ayat tersebut harus di tempatkan. Dengan demikian susunan surah-surah, seperti halnya susunan ayat-ayat dan logat-logat al-qur’an, seluruhnya berasal dari nabi, oleh karena itu barang siapa mendahulukan  sesuatu surah atau mengakhirkannya, ia telah merusak tatanan al – quran.

B. Ayat yang terakhir turunya

Ayat yang pengabisan turunnya menurut pendapat jumhur ialah:

Surah al-ma’idah yang artinya;pada hari ini telah aku sempurnakan bagimu agamamu dan aku telah cukupkan untukmu nikmat ku dan telah aku pilih islam menjadi agama mu.

Apa yang kami terangkan ini adalah pendapat yang masyhur dalam msyarakat. Dan pndapat ini memberi pengertian bahwa akhit turun al-Quran, ialah pada hari arafah. Menurut sebagian ahli, bahwa ayat yang tersebut di atas ini turun di arafah. Dan di antara hari arafah dengan wafat rasul masih lama lagi yaitu 81 malam.

Al-kirmani dalam al-burhan mengatakan: tertib surah seperti kita kenal sekarang ini adalah menurut alloh pada lauh mahfud, Qur’an sudah meniru tartib ini , dan menurut tertib ini pula  nabi membacakan di hadapan jibril setiap tahun apa yang di kumpulkannya dari jibril itu, nabi membacakan di hadapan jibril menurut tertib ini pada tahun kewafatanya sebanyak dua kali. Dan ayat yang terakhir kali turun ialah surah al-bqorah ayat 281: dan peliharalah dirimu dari (azab  yang terjadi) hari yang pada waktu itu semua dikembalikan pada alloh. Lalu jibril memerintahkan kepadanya untuk meletakan ayat ini di antara ayat riba dan ayat tentang utang-piutang.

Surah-surah Al-Qur’an itu ada empat bagian:

1)      At-tiwal

2)      Al-mi’un

3)      Al-masani

4)      Al-mufassJumlah surah al-Qur’an ada 114 surah. Dan di katakan pula 113, karena surah anfal dan bara’ah dianggap satu surah, adapun jumlah ayat nyasebanyak 6.200.ayat terpanjang adalah ayat tentang utang-piuang, sedang surah terpanjang adalah surah al-baqarah.

2.3 Pengumpulan Al-Qur’an

Yang dimaksud dengan pengumpulan Al-qur’an menurut  Ulama’ ada 2 pengertian. Pertama, mengumpulkan dengan arti menghafal. Kedua, pengumpulan Al-qur’an pada tulisan.

  1. Pengumpulan al-Qur’an dalam dada (menghafal)

Al-qur’an diturunkan kepada nabi yang ummy. Otomatis,maka himmah nabi hanya tercurahkan untuk menghafal dan melahirkannya, agar ia dapat dihafal sebagaimana diturunkan kepadanya. Lantas beliau membacakannya kepada manusia agar mereka dapat  seorang buta huruf berpegang kepada orang yang hafal dan mengingatnya. Karena dia tidak sifat kekhususannya yaitu memiliki daya ingat yang kuat serta cepat menghafal, bahkan hatinya begitu terbuka. Orang-orang arab biasa membuat ratusan ribu syair,sedikit sekali diantara mereka yang tidak bisa berhitung atau mengetahui rentetan nasab,atau tidak hafal syair-syair yang digantung yang sulit menghafalnya.kemudian datang Al-qur’an yang ternyata dengan kuatnya penjelasan kehebatan hokum-hukum serta kehebatan kerajaannya,dapat mengalahkan syair-syair mereka bahkan mampu mengalahkan akal dan pikiran mereka,sehingga mereka mengalihkan perhatiannya kepeda kitab mulia itu karena mereka telah menemukan cahaya kehidupan didalam Al-qur’an.

Usaha keras Nabi untuk menghafal Al-qur’an terbukti setiap malam beliau membaca Al-qur’an dalam sholat sebagai ibadah membaca dan merenungkan maknanya maka tidak heran jika Rosulullah menjadi sayyid para huffazh.hatinya yang mulia itu penuh dengan Al-qur’an.beliau jadi tempat bertanya bagi setiap kaum muslimin yang kesulitan tentang Al-qur’an.demikiam pula para sahabat.mereka selalu berlomba-lomba membaca dan mempelajari Al-qur’an mereka mencurahkan segala kemampuan untuk membaca dan menghafalkannya mereka mengajarkannya pada para istri dan anak-anak mereka.

B. Pengumpulan al-Qur’an pada tulisan

Keistimewaan kedua untuk Al-qur’an adalah pengumpulan dan penulisannya pada lembaran-lembaran para penulis adalah orang-orang pilihan diantara sahabat.rasulullah memilih mereka yang telah terbukti ketakwaannya.diantara mereka adalah Zaid bin Tsabit,Ubay bin Ka’ab,Mu’adz bin Jabal,Mu’awiyah bin Abi Sufyan dan Khulafaur Rasyidin,dan yang lain dari golongan sahabat.Cara penulisan Al-Qur’an oleh mereka yaitu dengan menuliskan Al-qur’an pada pelepah kurma,pohon,daun,kulit,tulang dan lain-lain.

C. Pengumpulan al-Qur’an pada masa Abu Bakar

Setelah wafatnya Rosullah Abu Bakar menduduki kursi kholifah dan menghadapkan perhatiannya kepada peristiwa-peristiwa besar pada masa itu murtadnya sebagian orang arab. Maka dia menyediakan pasukan-pasukan untuk menghadapi orang-orang murtad ini. Peperangan yang dilakukan terhadap penduduk yaman pada tahun kedua belas hijrah. Disini berkumpul sejumlah besar sahabat yang qari Al-qur’an. Dalam peperangan ini syahid tujuh puluh orang sahabat yang qari Al-quran, melihat hal yang demikian ini maka umar bin khattab merasa khawatir dia dating dating abu bakar membicarakan agar supaya Al-quran ini di kumpulkan dan di tulis dikhawatirkan akan tersia-sia karena banyaknya ahli qiraat yang terbunuh dalm pertempuran di Yamamah tersebut.

D. Pengumpulan al-Qur’an pada masa Ustman

Latar belakang pengumpulan Al-quran pada masa utsman tidak sebagaimana sebab yang melatarbelakangi pengumpulan Al-quran pada masa Abu bakar. Pada masa Ustman ini islam telah tersebar luas. Kaum muslimin hidup berpencar diberbagai penjuru kota maupun pelosok. Di setiap kampun terkenal qiraah sahabat yang mengajarkan Al-quran kepada penduduk kampung itu, penduduk syam memakai qiraah Ubai bin kaab sedangkan penduduk kufah menggunakan qiraah Abdullah bin mas’ud yang lainnya lagi memakai qiraah Abu musa Al-asy’ari maka timbul perbedaan bentuk qiraah di kalangan mereka sehingga membawa pada pertentangan dan perpecahan diantara mereka bahkan terjadi sebagian mereka mengkafirkan sebagian yang lain. Berita itu sampai kepada Ustman, krmudian beliau berfikir dan merencanakan untuk membendung sebelum kegilaan itu meluas, kemudian beliau mengumpulkan para sahabat yang alim dan jenius serta mereka yang terkenal pandai memadamkan dan meredakan fitnah dan persengketaan itu. Mereka bersepakat untuk membuat mushaf yang banyak dan membagikannya ke setiap pelosok dan kota sekaligus memrintahkan manusia membakar selain mushaf itu sehingga tidak ada lagi lorong yang nmenjerumuskan mereka ke persengketaan.

E. Perbedaan pengumpulan Al-Qur’an oleh Abu Bakar dan oleh Ustman

Dari uraian di atas kita dapat membedakan yang di lakukan oleh kdua khalifah tersebut itu. Pengumpulan Al-quran pada masa Abu bakar adalah memindahkan ayat-ayat al-quran dari pelepah kurma, kulit dan lainnya kdalam satu mushaf. Sementara sebab pengumpulannya adalah karena gugurnya para huffazh sedangkan pengumpulan Al-quran pada masa Ustman adalah sekedar memperbanyak salinan mushaf yang telah dikumpulkan pada masa Abu bakar untk dikirimkan ke berbagai wilayah islam. Adapun sebab pengumpulan Al-quran adalah terjadinya perbedaan qiraah dalam membaca Al-quran.

F. Pedoman yang amat tepat dalam pengumpulan al-Quran

Dalam pedomannya proses pengumpulan al-Quran suatu metode yang dianggap paling tepat ada dua yaitu sebagai berikut;

  1. Sesuatu yang telah di hafal oleh para sahabat
  2. Sesuatu yang telah ditulis dihadapan rasulullah.

2.5       Definisi Ilmu Makky dan Madany

Ilmu Makiyy wal Madany adalah ilmu yang membahas tentang surat-surat dan ayat-ayat yang diturunkan di Mekkah dan yang diturunkan di Madinah.

Di kalangan ulama terdapat beberapa pendapat tentang dasar yang untuk menentukan Makiyyah atau Madaniyah suatu surat atau ayat.

A.        Ciri-ciri khas Surat Makkiyah

Sesuai dengan dhabit qiasi yang telah ditetapkan,maka cirri-ciri khas untuk surat Makkiyah ada 2 macam:

a.Cirri-ciri khas yang bersifat qath’I bagi surat Makkiyah ada 6. Sebagai berikut

  1. Setiap surat yang terdapat ayat sadjah di dalamnya,adalah surat Makkiyah. Sebagian ulama mengatakan,bahwa jumlah ayat sajdah ada 16 ayat.
  2. Setiap surat yang di dalamnya terdapat kata “kalla”adalah Makkiyah.
  3. Setiap surat yang terdapat di dalamnya lafal:             dan tidak ada                                                  ,adalah makkiyah,kecuali surat al-Hajj. Surat al-Hajj ini sekalipun pada ayat 77 terdapat                     Tetapai surat ini tetap dipandang Makkiyah.
  4. Setiap surat yang terdapat kisah-kisah Nabi dan umat manusia yang terdahulu,adalah Makkiyah,kecuali surat al-Baqarah.
  5. Setiap surat yang terdapat di dalamnya kisah Nabi Adam dan iblis adalah makkiyah,kecuali surat al-Baqarah.
  6. Setiap surat yang di dahului dengan hurup Tahajji (hurup abjad),adalah Makkiyah,kecuali surat al-Baqarah dan Ali Imran.

Yang dimaksud dengan huruf Tahajji, misalnya: ………………. .,……………….

Tentang surat al-Ra’du masih dipermasalahkan,tetapi menurut pendapat yang lebih kuat, bahwa saurat al-Ra’du itu Makkiyah, karena melihat gaya bahasa dan kandungannya. Karena cirri diatas dengan beberapa pengecualian merupakan cirri-ciri yang qath’i bagi surat Makkiyah, yang tepat benar penerapannya.

b.Ciri-ciri Khas yang bersifat Aghlabi bagi Surat Makkiyah

Ada beberapa cirri khas lagi bagi surat Makkiyah,tetapi hanya bersifat Aghlabi, artinya pada umumnya cirri tersebut menunjukan Makkiyah,yaitu:

  1. Ayat-ayat dan surat-suratnya pendek-pendek (ijaz),nada perkataannya keras dan agak bersanjak.
  2. Mengandung seruan untuk beriman kepada Allah dan hari Kiamat dan menggambarkan keadaan Surga dan Neraka.
  3. Mengajak manusia untuk berakhlak yang mulia dan berjalan diatas jalan yang baik.
  4. Membantah orang-orang yang Musyrik dan menerangkan kesalahan-kesalahan kepercayaan dan perbuatannya.
  5. Terdapat banyak lafal sumpah.

B.        Ciri-ciri khas bagi surat Madaniyah

Ciri-ciri khas yang membedakan antara surat Madaniyah dan Makkiyah ada yang bersifat Qath’I dan ada yang bersifat Aghlabi.

a.Ciri-ciri surat Madaniyah yang bersifat qath’I adalah sebagai berikut :

  1. Setiap surat yang mengandung izin berjihad atau menyebut hal perang dan menjelaskan hukum-hukumnya,adalah Madaniyah.
  2. Setiap surat yang memuat penjelasan secara rinci tentang hukum pidana,faraid,hak-hak perdata,peraturan-peraturan yang berhubungan dengan perdata,kemasyarakatan dan kenegaraan adalah Madaniyah.
  3. Setiap surat yang menyinggung hal ikhwal orang-orang munafik,adalah Madaniyah, kecuali surat al-Ankabut yang diturunkan di Mekkah, hanya sebelas ayat yang pertama dari surat al-Ankabut ini adalah Madaniyah, dan ayat-ayat tersebut menjelaskan perihal orang-orang munafik.
  4. Setiap surat yang membantah kepercayaan/pendirian/tata cara keagamaan Ahlul Kitap (Kristen dan Yahudi) yang dipandang salah, dan mengajak mereka agar tidak berlebih-lebihan dalam menjalankan agamanya,adalah Madaniyah. Seperti surat al-Baqarah,Ali-Imran,al-Ni’sa,al-Maidah dan al-Taubat.

b. Adapun ciri-ciri khas yang bersifat Aghlabi untuk Madaniyah antara lain:

  1. Sebagaian surat-suratnya panjang-panjang,sebagian ayat-ayatnya pun panjang-panjang dan gaya bahasanya pun cukup jelas di dalam menerangkan hukum-hukum agama.
  2. Menerangkan secara rinci bukti-bukti dan dalil-dalil yang menunjukkan hakikat-hakikat keagamaan.

BAB III

PENUTUP

 

3.1 Kesimpulan

Dari uraian diatas dapatlah kita tarik kesimpulan bahwasannya al Quran mengandung banyak nilai-nilai kehidupan maka dari itu kita patutlah mempelajarinya. Al Qur’an sebagai mukjizat yang di anugrahkan kepada nabi Muhammad adalah salah satu kitap Allah yang paling sempurna diantara kitap suci yang lain. Al Quran diturunkan kepada nabi Muhammad melalui beberapa cara yang mana dalam penurunan Al-Quran itu sendiri diberikan secara berangsur-angsur atau bertahap. Di dalam penurunan al-Quran terjadi di dua kota pusat Islam pada zaman dahulu, kota itu adalah Mekkah dan Madinah dan dari kedua kota tersebut al Quran memiliki cirri-ciri tersendiri dalam bahasanya  karena hal itulah disebut Makkiyah surat Quran yang turun di Mekkah dan Madaniyah surat Quran yang turun di Madinah.

Turunnya al Quran kita kenal dengan istilah nuzulul Quran yang sebagaian orang besar di peringati pada tanggal 17 bulan Ramadhan. Sebagai kalamullah sudah sepantasnya lah kita mencintai,memelihara,mempelajari segala nilai-nilai yang terdapat pada Al-Quran tersebut dengan sebaik mungkin,   salah satu wujud bahwa kita mencintai al Quran dengan cara banyak membaca Al-Quraana serta mengamalkan nilai yang ada di dalamnya. Maka untuk itu marilah kita bersama-sama berusaha untuk memahami apa yang terkandung dalam al Quran sebagai kitap suci kita yang diturunkan oleh Allah kepada nabi Muhammad.

About iroelizzta

santai tapi pasti

Posted on 30 April 2012, in Ulumul Qur'an. Bookmark the permalink. Tinggalkan komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: