PERJUANGAN MELAWAN PENINDASAN DAN INTERVENSI

PERJUANGAN MELAWAN

 PENINDASAN DAN INTERVENSI

VEREENINGDE OOST-INDISCHE COMPAGNIE (VOC)

(Book Review “A History Of Modern Indonesia” : M.C. Recklefs)

Oleh : M. Ja’far Nashir, M.Ag

 

 

  1. I.             PENDAHULUAN

Masuknya perdagangan Belanda yang selanjutnya membentuk konspirasi (Perserikatan Maskapai Hindia Timur)  yang terwadah dalam VOC (Vereeningde Oast-Indische Compagnie) ke Indonesia pada tahun 1602, mempunyai pengaruh yang sangat kuat. Misi dagang mereka adalah untuk memonopoli perdagangan yang ada di Indonesia. Karena Indonesia pada saat itu mempunyai kekayaan alam yang sangat luar biasa.

VOC pada abad XVII mempunyai dua pusar fokus perhatian. Pertama, Maluku, tempat kekuasaannya kini menjadi relatif kokoh, Kedua, Jawa dimana terjadi peristiwa-peristiwa yang juga akan membuka jalan bagi dijalankannya suatu politik intervensi oleh pihak Belanda.

Keinginan menguasai Indonesia ini ditempuh dengan berbagai cara, salah satunya adalah dengan menggunakan intervensi kepada raja-raja yang saat itu berkuasa di Indonesia. Mulai dari wilayah Barat sampai ke wilayah timur. Namun perlawanan demi perlawanan untuk melawan penindasan dan intervensi VOC tersebut sangat besar di Indonesia. Mulai dari tokoh-tokoh yang ada diwilayah Timur Indonesia (Hasanudin di Makasar), sampai dengan  perlawanan Trunajaya (Madura Barat / Surabaya).

Namun karena kekuatan dan kebesaran Belanda (VOC), maka perlawanan demi perlawanan bisa disingkirkan. Ini juga karena kedekatan VOC dengan raja-raja yang menguasai pada saat itu.

 

  1. II.          PERJUANGAN MELAWAN PENINDASAN (HEGEMONY)
    1. a.      Indonesia Bagian Timur (Maluku & Makasar) (1630 – 1800)

Keinginan untuk menguasai Indonesia timur oleh VOC pada abad XVI sangat kuat. Tujuannya adalah menguasai rempah-rempah yang ada di Maluku. Namun keinginan tersebut baru mencapai keberhasilan yang sangat kecil. Kegagalannya tersebut karena ditentang oleh persekutuan lokal, yang terdiri dari kaum Muslim Hitu (Ambon bagian utara) dan pasukan-pasukan Ternate yang ada di Hoamoal (Semenanjung Seram bagian barat) dengan dukungan bangsa Makasar, Gowa.[1]

Perlawanan dari dua wilayah tersebut terhadap monopoli VOC berlangsung sampai dengan meninggalnya Kakiali (tokoh penggerak perlawanan terhadap VOC di Hitu) tahun 1643. Walapun sebenarnya kerajaan Ternater (Maluku) sejak tahun 1938 sudah menjadi sekutu dari VOC.[2] Setelah menguasai Ternate, VOC dengan bantuan tentara Ternate melancarkan serangan ke Makasar (Gowa) di Sulawesi Selatan. Karena Makasarlah yang selama ini dianggap sebagai penghalang VOC menguasai daerah Hitu dan Hoamoal. Kasultanan ini menurut Ricklefs memiliki kekuatan militer yang besar yang harus diperhatikan VOC secara lebih serius daripada musuh-musuhnya di Maluku Selatan.[3]

Untuk menguasai Makasar, VOC terlebih dahulu bersekutu dengan pangerah Bugis dari Bone, La Tenritatta to ‘Unru  / Arung Palakka (1634 – 1696). Dukungan ini disebabkan karena, walaupun kekuasaan Gowa memberikan otonomi yang luas daerah-daerah yang menjadi wilayahnya, namun penguasa Gowa telah menimbulkan perasaan benci dikalangan daerah-daerah wilayahnya. Hal tersebutlah yang mendasari Bugis menerima ajakan VOC untuk menghancurkan Makasar (Gowa).

Sultan Hasanudin (1653 – 1669), menunai kekalahan yang besar pada tahun 1669, setelah digempur oleh pasukan VOC dengan sekutunya pasukan Bugis. Sejak saat itulah Arung Palakka menjadi orang terkuat yang menguasai Sulawesi Selatan dibawah monopoli VOC.

Pada tahun 1670-an VOC telah berhasil mengkonsolidasikan kedudukannya di Indonesia Timur. Pihak Belanda pada waktu masih menghadapi persekongkolan-persekongkolan dan perlawanan, tetapi tidak ada satu kekuatan besarpun yang menentang mereka di kawasan itu. Ternate, Tedore, dan Gowa, sudah tidak lagi menjadi kekuatan besar yang dikawatirkan.

Dalam menguasai Nusa Tenggara pada sekitar tahun 1681, VOC menjadikan Roti sebaga basis kekuatannya, dengan kedatangan VOC orang-orang Roti mengambil keuntungan yang besar, disamping dalam bidang perdagangan, juga dalam bidang pendidikan. Namun karena daerah ini sektor renpah-rempahnya tidak banyak, maka VOC tidak begitu semangat dalam monpolinya.

Pada abad XVIII Sulawesi Selatan di terjadi persaingan yang besar antara negara Bugis dan Makasar. VOC tidak dapat berbuat banyak kecuali mempertahankan posisinya di Makasar dan di Bugis, Bone. Persaingan tersebut muncul ketida keturunan keluarga raja Bugis dari Wojo, Arung Singkang (1700-1765) kembali dari Kutai (Kalimantan Tmur) yang ditaklukkannya tahun 1762, – daerah tersebut menjadi basis orang Bugis – untuk merebut kembali Bugis. Namun usaha tersebut gagal, sampai Arang Singkang dipukul mundur ke Wojo. Sampai abad XIX, VOC tetap menguasai Makasar dan Bone, namun tidak berhasil meletakkan pengaruhnya yang penting atas daerah Wojo.

 

  1. b.      Jawa (Mataram) (1640 – 1682)

Konsentrasi VOC selanjutnya adalah di Jawa. Kerajaan besar yang menguasai Jawa pada saat itu adalah Mataram, mataram merupakan suatu masalah yang sangat berbeda. Kerajaan ini jauh lebih besar daripada negeri manapun yang pernah diserang VOC dan mempunyai wilayah pedalaman yang luas, sehingga kekuatan angkatan laut VOC tidak banyak berarti. Negeri ini menjadi semakin penting bagi VOC bukan karena ekspor utama VOC berasal dari sana atau karena menjadi pusat ‘penyelundupan’, tetapi lebih-lebih karena kerajaan ini menjadi pemasok beras, lebih-lebih karena kerajaan ini menjadi pemasok beras, yang tanpa itu Belanda dan sekutunya tidak dapat hidup, dan juga pemasok kayu, yang dengan tanpa itu mereka tidak dapat membangun kapal-kapal mereka. Kerajaan ini juga merupakan suatu ancaman yang potensial bagi keamanan Batavia.[4]

Mataram selama penguasaan Sultan Agung pada awalnya memberikan keleluasaan pada VOC untuk berdagang, sampai diberikan ijin mendirikan came di Jepara. Namun pada kahirnya menolak keberadaan VOC di Jawa. Selama pemerintahan Amangkurat I (1646 – 1677) sebagai pengganti Sultan Agung, keberadaan VOC pun masih sangat dibatasi dan bahkan VOC bisa masuk kewilayah Jawa dengan ditarik pajak. Pada tahu 1660 Amangkurat I menutup perdagangan dengan VOC, dikarenakan VOC menyerang Palembang. Namun pada tahun 1661 pelabuhan-pelabuhan dibuka kembali.

Usaha Amangkurat I untuk menguasai daerah pesisir Jawa bagia utara, dan keinginan untuk memonopoli perdagangan VOC tentu saja mempunyai kaitan yang sangat kuat. Menurut Ricklef Amangkurat I mempunyai empat sasaran kuat, yaitu :

(1) Menjamin supaya pajak dari perdagangan daerah pesisir langsung tersalur ke istana, (2) Menegakkan kembali hubungan ‘vasal’ VOC yang menurut keyakinannya telah ditetapkan di dalam perjanjian tahun 1646, (3) Menerima hadiah-hadiah VOC yang dapat meningkatkan kemegahan dan keagungan istananya, misalanya : kuda persia, dsb, dan (4) Menerima uang VOC untuk meringankan kekurangan dana yang kronis di kerajaannya.[5]

Pengambilan keputusan tersebut oleh Amangkurat I dikarenakan, ia tidak ingin kekuasaan pesisir utara Jawa, terutama perdagangannya – setelah ia buka kembali jalur perdagangan – berkembang pesat sehingga dikhawatirkan mereka akan tidak setia dan tidak membayar pajak lagi kepada kerajaan.

Sebenarnya sejak awal pemerintahannya Amangkurat I sangat kejam, bahkan ia tidak ingin adanya persaiangan di kerajaan. Orang-orang yang tidak sejalan dengannya dibunuh dengan sadis, bahkan putranya sendiri (Amangkurat II) dijadikannya saingan dan pernah akan dibunuh. Ini pulalah yang memicu ketidak senangan rakyat bahkan kerabat kerajaan kepada Amangkurat I. Pangeran Madura, Trunajaya (1649-1680) misalnya sangat tidak suka kepada Amangkurat I. Sehingga Trunajaya mempersiapkan kekuatan untuk menggulingkan Amangkurat I – yang pada akhirnya dibantu oleh oarang-orang Gowa yang lari ke Jawa setelah Gowa dikuasai oleh VOC.

Sebenarnya pada tahun 1677, Amangkurat I sudah kerjasaman dengan VOC (yang dipimpin oleh Speelman) dan berhasil memukul mundur perlawanan Trunajaya, namun karena orang-orang Islam tidak suka pada VOC yang beragama kristen berakibat dukungan pada Trunajaya semakin kuat. Sehingga Trunajaya menyerang kembali pada tahun yang sama, dan pada akhirnya Mataran di plered jatuh ketangan Trunajaya – semua harta benda kerajaan dikuras habis dan dibawa ke Kediri. Kekosongan kerajaan dimanfaatkan Pangeran Puger (Pakubuwana I) saudara Amangurat II mendudukinya dengan julukan ‘susuhunan ingalaga’. Selama pelariannya ke daerah Tegal Amangkurat I jatuh sakit, tahta diberikan kepada putra mahkota Amangkurat II. Dengan bantuan VOC, Amangkurat II menyerang Trunajaya di Kediri, dan membuahkan hasil hingga pada tahun 1679 Trunajaya tertangkap kemudian dihabisi (dibunuh) pada tahun 1680.

Selama penyerangan itu Pangeran Puger menguasai Mataram yang ada di Plered. Sehingga Amangkurat II membangun kerajaan di Kartasura. Namun pada tahun 1681 Pangeran Puger mengakui kedaulatan Saudaranya, dan menyerahkan kembali Mataran yang ada di Plered. Dengan keberhasilan tersebut Amangkurat II tidak terlepas dai bayang-bayang VOC. Bahkan pembangunan kerajaanpun dibiayai VOC – yang selama pemerintahan ayahnya menjaga jarak berhubungan dengan VOC.

 

  1. c.       Jawa, Madura, dan VOC (1680 – 1745)

Amangkurat II (1677-1703) sebagai penguasa setelah Amangkurat I sebagaimana dijelaskan oleh Ricklefs dalam kekuasaannya benar-benar merupakan ciptaan VOC[6]. Bahkan pada tahun 1680 tersebar desas-desus di antara rakyat jawa bahwa ia sesungguhnya bukanlah putra mahkota yang dahulu, melainkan putra Speelman (Gubernur Jenderal VOC) yang menyamar. Hal tersebut dikarenakan karena kedekatannya dengan VOC yang salah satu tujuannya adalah bahwa VOC akan membantu raja memerangi pemberontakan-pemberontakan kecil. Namun setelah pemberontakan reda atau lenyap, VOC ditinggalkan.

Dampak dari pemutusan dengan VOC dan karena hutang negara yang banyak, menyebabkan barang-barang VOC menumpuk digudang. Ini berakibat suburnya kembali pasar-pasar lokal yang selama penguasaan VOC lumpuh sama sekali, sebaliknya import candu dan tektil VOC menumpuk tidak bisa dipasarkan. Selama penguasaan Speelman (Gubernur Jenderal Belanda) – yang menjadikan masuknya candu, banyak perbudakan dan lan sebagainya –  ternyata berjalan tanpa sepengetahuan Pemerintah Hindia Belanda.

Disamping itu datang dan berkuasanya VOC di Jawa dan Madura tidak membuat masyarakat menjadi terlena begitu saja, sebagai contoh di Kartosuro muncul gerakan anti VOC yang dimotori oleh Surapati yang berasal dari Bali yang tinggal di Batavia. Strategi yang digunakan adalah pertama-tama menjadi perampok, kemudian dengan tidak diduga menyerah lalu masuk menjadi militer VOC, yang pernah membantu menangkap putra Sultan Banten yang melarikan diri pada tahun 1683. Namun pada tahun 1684 Surapati belik menyerang VOC, yang kemudian diserang balik oleh VOC. Dalam pelariannya Surapati menetap di Pasuruan dan menguasai Jawa Timur Selatan (di Sungai Brantas).

Dengan kekuasaan dan kedekatannya pada raja-raja di Jawa, VOC tidak mau melepaskan begitu saja Surapati, sehingga VOC pun mengerahkan raja-raja dibawah pengaruhnya untuk memburu Surapati. Amangkurat II misalnya, pada awalnya melindungi Surapati namun karena tekanan dan ketidak-inginannya Amangkurat II dimusuhi oleh VOC, maka pada akhirnyapun Amangkurat II tidak mau lagi melindungi VOC. Ini adalah bukti bagaimana besarnya pengaruh VOC terhadap raja-raja yang berkuasa di Jawa.

Tidak seperti Amangkurat II, sebagai penggantinya Amangkurat III (1703-1708) sampai meninggal menentang berunding (kerjasama) dengan VOC sehingga ia diasingkan (dibuang) dan ia diklaim pula oleh VOC sebagi sekutu Surapati. Berbeda dengan Amangkurat III, Pakubuwana I – yang sejak dinobatkannya Amangkurat III sudah tidak setuju – pada saat ia berkuasa pada tahun 1705 membuat kontrak dengan VOC, yang bertujuan melunasi hutang kerajaan. Belanda (VOC) mau menghapuskan hutang-hutang kerajaan sebagai gantinya adalah sebuah kesepakatan, yaitu :

a)      Pengakuan ulang atas batas-batas Batavia, termasuk Priangan;

b)      Pengakuan bahwa Cirebon sebagai daerah perwalian VOC;

c)      Diserahkannya separuh Madura bagian timur;

d)      Ditegaskannya kekuasaan VOC atas Semarang (tempat dimana akhirnya VOC memindahkan markas besarnya di wilayah pesisir pada tahun 1708);

e)      Diberikannya hak membangun benteng-benteng dimanapun dipulau Jawa;

f)        Diberikannya hak membeli beras sebanyak yang diinginkan;

g)      Disahkannya monopoli atas import Candu dan Tekstil;

h)      800 kayon (1300 matric ton) beras gratis pertahun selama 25 tahun;

i)        Ditempatkannya kembali suatu garnisun VOC di istana atas biaya raja;

j)        Larangan pelayaran bagi orang-orang Jawa ketimur lebih jauh dari Lombok, ke utara tidak lebih jauh dari Kalimantan dan ke barat tidak lebih jauh dari Lampung (Sumatera Selatan)[7].

Persekongkolan menentang raja di Kartasura semakin besar, bahkan sampai pada daerah-daerah terpencil. Hal ini dimanfaatkan Cakraningrat III untuk melawan Kartasura dan memperluas wilayahnya. Sehingga pada tahun 1717 meletuslah perang yang kejam selama enam bulan, namun VOC berhasil nenaklukkan kembali Surabaya. Cakraningrat III sebagaimana dikatakan Ricklefs mempunyai sikap yang tidak jelas kepada VOC (kepada VOC ia menyatakan kesetiaannya yang meragukan)[8].

Sepeninggal Pakubuwana I, giganti putranya Amangkurat IV (1719-1926) yang menurut VOC merupakan penguasa yang ditinggalkan rakyatnya. Naiknya Amangkurat IV diwarnai dengan perang suksesi II dari saudara-saudara dan pamannya, namun dapat dipukul mundur dengan bantuan VOC. Dari sini nampaklah jelas bahwa kekuasaan VOC terhadap monopoli perdagangan (dengan mengandalkan kekuatan dan materi) mampu menaklukkan hati raja-raja Jawa dengan mempergunakan perselisihan diantara mereka.

Dalam kekuasaan Amangkurat IV, Cakraningrat IV (1718-1746) dari Madura yang berada dalam wilayah kekuasaannya. Selalu membuat sensai untuk lepas dari Kartasura dan bahkan memilih berada dalam kekuasaan VOC. Namun VOC sendiri tidak menghendaki adanya perpecahan diantara kedua belah pihak. Ini mengindikasikan bahwa VOC memang tidak mau kehilangan kedua-duanya. Karena bagaimanapun ketika Madura dibawah kekuasaan Kartasura, maka otomatis dibawah kendalinya juga.

Sebagai pengganti Amangkurat IV, Pakubuwana II (1726-1749) selama pemerintahannya sangat bergantung kepada VOC, ini disebabkan karena hutang yang begitu besar kepada VOC. Ada dua dilema yang dirasakan sulit oleh Pakubuwana II : disatu sisi bagaimana caranya mengelak sehingga tidak dipersalahkan membebani rakyat karena ketergantungannya kepada VOC, dilain sisi dengan seperti itu tanpa melukai perasaan pihak Belanda. Dengan ditekan oleh orang dalam seperti patih Natakusuma Pakubuwana II mengambil pilihan yang salah menetapkan untuk memutuskan hubungan dengan VOC. Namun pada akhirnya pada tahun 1742 ditaklukkan dan ia kembali menjalin hubungan dengan VOC.[9]

 

  1. d.      Jawa dan VOC (1745 – 1792)

Pada tahun 1743 Pakubuwana II mengambil keputusan untuk meninggalkan istana Kartasura yang sudah mengalami banyak kekacauan. Kira-kira dua belas kilometer ke arah timur, di Sungai Sala. Namun nampaknya kerajaan baru tersebut tidak stabil seperti kerajaan lama. Empat pangeran yang lain tetap memberontak (tidak mengakui kekuasaan Pakubuwana II). Dalam situasi yang sulit ini muncullah Gubernur Jenderal van Imhoff (yang pada kenyataannya tidak bisa menengarai perselisihan tetapi mempercepat meletusnya perang yang besar).

Pangeran Mangkubumi (Hamengkubuwana I / 1749 – 1792)  merasa sangat terpukul dengan adanya perjanjian yang dibuat oleh Pakubuwana II dan VOC. Pada bulan Mei 1746 dia melancarkan pemberontakan, dan meletuslan perang Suksesi Jawa III (1746-1756). Ditengah pembenrontakan ini Pakubuwana II wafat dan digantika putranya Pakubuwana III (1749-1788) yang pengukuhannya dibacakan oleh van Hohendroff, namun sebelum upacara penobatannya terlaksana Mangkubumi telah dinyatakan sebagai raja oleh pengikutnya,, yang bermarkas di Yogyakarta. Dimulailan pemerintahan yang panjang, dan dikatakan M.C. Recklefs sebagai penguasa yang paling cakap dari keluarga kerajaan Mataram sejak Sultan Agung[10].

Dari tahun 1750 – 1754, pemberontakan semakin kuat. Para bembesar kerajaan Surakarta semakin banyak yang meninggalkan Pakubuwana III; bahkan putra mahkota juga bergabung dengan pemberontak. Akan tetapi tidak ada satupun yang memperoleh kemenangan akhir, dan kedua belah pihak mulai menarik kesimpulan bahwa kemenangan semacam itu tidak mungkin diperoleh. VOC dapat mempertahankan Pakubuwana III, tetapi tidak mampu menguasai kerajaan untuknya. Demikian pula halnya pihak pemberontak berhasil memperoleh kemenangan namun tidak dapat menyingkirkan raja dari Surakarta.

Pada tahun 1755 Pakubuwana diajak berunding oleh Mangkubumi untuk pembagian kekuasaan, maka muncullah Perjanjian Giyanti yang didalamnya Hamengkubuwana I mempunyai kekuasaan separoh wilayah Jawa Tengah. Kejadian ini menggambarkan kegagalan kebijakan VOC di Jawa. Ini menunjukkan bahwa bagaimanapun ketika kerajaan di Jawa tidak saling serang dan konflik diselesai dengan damai, maka pihak luar tidak akan bisa berbuat banyak.

Ketika Pakubuwana III wafat pada tahun 1788, kedudukannya digantikan oleh putranya Pakubuwana IV (1788-1820). Dengan pergantian ini Hamengkubuwana I merasa cemas karena Pakubuwana IV mempunyai keinginan untuk mempersatukan kembali kerajaan. Dengan kondisi ini dibantu VOC Hamengkubuwana I menyerang Kartasura. Namun dalam perjalanannya Pakubuwana IV, Hamengkubuwana I pada tahun 1790 dibuat perjanjian baru pembagian permanen atas Jawa Tengah. Yang perjanjian tersebut atas desakan dari pihak VOC.

Pada tahun 1792 Hamengkubuwana I wafat pada usia kira-kira 80 tahun setelah menjadikan Yogyakarta sebagai sebuah kerajaan yang makmur, permanen, dan kuat. Dia mewariskan suatu tradisi kejayaan yang ingin diteruskan oleh puteranya yang bergelar Sultan Hamengkubuwana II (1792-1810, 1811-1812, 1826-1828).

 

  1. III.       ANALISIS

Ketertarikan VOC pada Indoensia – yang pada awalnya hanya ingin memonopoli perdagangan – pada perkembangannya berubah menjadi penjajahan dalam bentuk kekerasan. Dari apa yang dipaparkan Ricklefs tersebut diatas, memang tidak sampai kepada bagaimana Pemerintah Belanda (dengan alat VOC) menguasai negara Indonesia. Namun setidaknya ada beberapa catatan yang penting untuk dikaji dan didiskusikan. Diantaranya adalah tidak dijelaskannya secara rinci bagaimana kultur yang mempengaruhi kehidupan bangsa Indonesia – yang pada waktu itu berbentuk kerajaan-kerajaan.

Berbicara tentang raja dan kekuasaannya tidak dapat dipisahkan dari konsep spiritual yang berasal dari kultur India, yaitu kepercayaan adanya kesejajaran antara makrokosmos dan mikrokosmos, antara jagat raya dan dunia manusia. Negara kosmit sangat erat hubungannya dengan konsep raja yang bersifat dewa, yaitu anggapan bahwa raja adalah titisan atau keturunan dewa. Konsep raja – dewa (ratu-binathara) ini pada periode-periode kerajaan Islam tidak lagi menempatkan raja pada kedudukan yang sama dengan Tuhan, melainkan sebagai khalifatullah, sebagai wakil Tuhan di dunia. Namun demikian, penurunan kedudukan ini tidak mengubah kekuasaan raja terhadap rakyatnya.

Ratu-binathara memiliki tiga macam wakyu[11], yaitu wahyu nubuwah, wahyu kukumah, dan wahyu wilayah[12]. Yang dimaksud dengan wahyu nubuwah adalah wahyu yang mendudukkan raja sebagai wakil Tuhan; wahyu kukuwah menempatkan raja sebagai sumber hukum dengan wewenang murbamisesa[13]. Kedudukannya sebagai sang murbawisesa (penguasa tertinggi) ini mengakibatkan raja memiliki kekuasaan tidak terbatas dan segala keputusannya tidak boleh ditentang, karena dianggap sebagai kehendak Tuhan. Wahyu wilayah, yang melengkapi dua macam wahyu yang telah disebutkan di atas, mendudukkan raja sebagai yang berkuasa untuk memberi padam pangauban, artinya memberi penerangan dan perlindungan kepada rakyatnya[14].

Disamping raja memiliki kekuasaan yang besar, kerajaan-kerajaan yang tersebar di Nusantara khususnya Jawa, juga memiliki kekuasaan yang dilaksanakan dan meliputi beberapa bidang. Dalam bidang pemerintahan; Patih dalem adalah orang pertama dibawah Raja. Hubungan Patih kerajaan dengan raja diumpamakan sebagai keris dan warangka (sarung keris)-nya atau sebagai madu dan rasa manisnya. Ini berarti, bahwa dalam segala tindakan; raja dan patih dalem harus selalu seia-sekata.

Dalam bidang keprajuritan, Senapati merupakan orang pertama dibawah raja. Walaupun pangkat Senapati sebenarnya dibawah patih kerajaan, tetapi karena keduanya merupakan warana (tira : pelindung) raja, maka jika menghadap raja kedua-duanya duduk berjajar[15]. Disamping dua tokoh tersebut, Pujangga keraton yang kedudukannya dibawah Patih kerajaan dan Senapati termasuk orang yang dekan dengan raja. Jika datang menghadap, tempat duduknya tidak jauh dari raja. Pujangga keraton mendapat tempat terhormat, karena kemahirannya dalam berbagai bidang dan ia berhak menerima serta menyimpan rahasia raja. Dengan gambaran tersebut tidaklah mengherankan jika suatu kerajaan tidak akan berjalan dengan seimbang jikalau raja dan patihnya bahkan pengikut-pengikutnya tidak sejalan dan berbeda pendapat sebagaimana terjadi di kerajaan Mataram.

Masuknya Islam ke Indonesia sangat mempengaruhi kehidupan bangsa Indonesia, terutama di Jawa (kerajaan Demak dan Mataram), di Banda Aceh, di Kalimantan (kerajaannya Kutai), dan di Sumatera Selatan (kerajaannya Gowa), dll. Yang sebenarnya kultur Islam ini pulalah yang sebagaimana diceritakan Prof. Dr. James Rush tentang penelitian yang dilakukan oleh Snouck Horgronye (seorang peneliti Belanda) untuk disampaikan kepada Pemerintahan Belanda sebagai acuan dalam menaklukkan daerah-daerah di Indonesia, seperti penelitiaannya tentang kultur masyarakat Aceh.[16]

Sebagaimana penaklukan Makasar oleh VOC yang disampaikan oleh Sartono Kartodirdjo bahwa ketertarikan VOC salah satunya adalah dikarenakan Makasar berkembang pesat sebagai pusat perdagangan. Ini adalah sebagai dasar untuk menguasai wilayah Makasar (yang pada waktu itu dibawah kekuasaan kerajaan Gowa). Perkembangan tersebut dikarenakan ada beberapa factor histories yang mempercepat, antara lain :

Pertama, Pendudukan Malaka oleh Portugis mengakibatkan migrasi perdagangan Melayu, antara lain ke Makasar, Kedua, Aliran migrant Melayu bertambah besar setelah Aceh mengadakan ekspedisi terus-menerus ke Johor dan pelabuhan-pelabuhan di Semenanjung Melayu, dan Ketiga, Blokade Belanda terhadap Malaka dihindari oleh pedagang-pedagang baik dari Indonesia maupun dari India, Asia Barat dan Asia Timur.[17]

Di pulau Ternate, sebagaimana disampaikan juga oleh Sartono Katodirdjo bahwa Belanda mampu menguasai dan menduduki pula tersebut dan sekaligus mendapat dukungan yang kuat dari masyarakat disana dikarenakan mampu membantu mengusir Spanyol dari Ternate. Belanda juga menyerang orang Spanyol di Tedore, Belanda berhasil juga merebut Makian dan Motir, sehingga tempat-tempat inipun mereka dirikan benteng-benteng[18]. Disini dapat dilihat besarnya penguasaan Belanda (VOC) terhadap Indonesia Timur.

Di pulau Jawa, khususnya di kerajaan Mataram, hubungan pedagang-pedagang Belanda (VOC) dengan Mataram dimulai pada hari-hari terakhir pemerintahan Panembahan Seda Krapyak. Kompeni Belanda itu diijinkan mendirikan loji yang sederhana di Jepara. Sikap bersahabat dengan VOC ini mula-mula diikuti oleh pengganti Panembahan, yang dikenal dengan nama Sultan Agung, tetapi pada perkembangan selanjutnya hubungan itu berubah menjadi permusuhan besar[19].

Fenomena yang menarik pada saat Amangkurat II berkuasa yang mengakibatkan tercapainya Perjanjian pada tahun 1677 dengan VOC yang mengawali berkurangnya kekuasaan Mataram, adalah dengan ditandainya pemakaian sebutan berdasarkan ketentuan kekerabatan yang dilakukan oleh raja terhadap pemimpin VOC. Kepada C. Speelman (Gubernur Jenderal VOC), raja memanggilnya “bapa”, yang berarti bapak. Selain itu sejak pertemuannya dengan Speelman raja mulai berkenalan dengan pakaian Eropa[20].

Kondisi yang semacam itu dalam kultur Jawa adalah penghormatan yang besar terhadap seseorang yang dihormati dan dicintai (berbeda dengan kultur yang sebenarnya). Padahal awal masuknya VOC ke Jawa sangat ditentang sebagaimana disebutkan di atas. Ini juga mengindikasikan bahwa kharisma seorang raja Jawa sudah berada di bawah orang-orang (penguasa) Belanda. Karena apapun alasannya sebagai seseorang yang dianggap bapak, maka orang yang menganggap tersebut akan terus berlindung dibawah ketiaknya. Inilah kehancuran simbol kekuatan yang sangat dibanggakan bagi rakyat Mataram.

Selain itu bagaimana kondisi pendidikan saat pendudukan VOC (baik di Maluku dan di Jawa) tidak dibahas secara detail oleh M.C. Rickleft. Sebagaimana dijelaskan oleh I Djumhur, bahwa setelah VOC mengusir Portugis dari tanah Ambon, maka pada tahun 1607 didirikanlah sekolah pertama disana. Yang pelajarannya berupa : membaca, menulis dan sembahyang. Sete;ah perkembangannya anak-anak ambon banyak yang dikirim ke Belanda untuk belajar, sekembalinya dari sana mereka diangkat menjadi guru-guru di Ambon. Pada tahun 1627 sekolah-sekolah di Ambon sudah mencapai 16 sekolah dan di pulau-pulau sekitarnya 18 sekolah, dengan jumlah murid seluruhnya 1300.[21]

Sekolah diluar Ambon dan Maluku tidak banyak, terbatas hanya didaerah-daerah bekas pendudukan Portugis (kena pengaruh agama Katolik dari Portugis dan Spanyol). Sekolah di Jawa misalnya, tidak sebanyak di Maluku dan Ambon. Itu dikerenakan hubungan antara Kompeni dengan rakyat Jawa tidak serapat di Maluku. Ini disebabkan karena dua hal, yaitu :

1)      Rakyat di Pulau Jawa sedikit sekali menghasilkan rempah-rempah untuk keperluan pasar dunia. Untuk mendapatkan rempah-rempah itu tidak perlu VOC mengadakan hubungan langsung dengan rakyat. Sudah cukup bila berhubungan dengan kepala-kepalanya saja.

2)      Rakyat di Pulau Jawa tidak kena pengaruh Portugis. Agama Katolik tidak masuk ke Pulau Jawa, jadi tidak ada alasan bagi Kompeni untuk mempengaruhi rakyat di Pulau Jawa.[22]

Dengan dua alasan itulah, maka Pulau Jawa tidak ada susunan persekolahan dan gereja yang seluas di Maluku. Kalaupun ada penduduk yang memeluk agama Nasrani, itu hanya dibeberapa kota saja termasuk Batavia (Jakarta). Di Batavia sekolah pertama didirikan pada tahun 1617, lima tahun kemudian sekolah mempunyai murid : 92 laki-laki dan 45 perempuan dengan guru-gurunya orang Belanda.

Kondisi semacam itu terjadi karena di Pulau Jawa pada saat itu (sekitar abad XVII) penyebaran agama yang kuat adalah agama Islam. Dimana Sultan Agung sebagai penguasa Mataram setelah runtuhnya Sultan Fatah di Demak, sangat kuat keagamaannya. Penguasa Muslim Jawa pada saat itu cenderung menjadi pendukung ilmu pengetahuan Islam, tradisi akademik dalam masyarakat sangat nampak. Ini terbukti dengan banyaknya santri-santri yang mengelana pergi dari satu pesantren ke pesantren yang lain dalam rangka menuntut ilmu pengetahuan dari seorang guru yang lebih terkenal.[23]

Tradisi tersebut sudah muncul sejak penyebaran agama Islam oleh Walisongo di Jawa. Ketika Belanda tiba di Jawa seperempat abad XVII, mereka pada awalnya tidak turut campur dengan sistem pendidikan Islam dikalangan penduduk bumi putera. Agaknya kolonial baru ini mengizinkan sistem tersebut berjalan sebagaimana ia dibangun oleh dan selama kekuasaan Mataram.[24] Gambaran ini menunjukkan bahwa pada saat VOC (Belanda) menguasai Pulau Jawa sistem pendidikan sudah berjalan, walaupun hanya berbentuk pesantren-pesantren tidak formal seperti setelah Belanda menguasai Jawa.

 

  1. IV.        KESIMPULAN
    1. a.       Penguasaan VOC (Vereeningde Oast-Indische Compagnie) di Indonesia Timur, mula-mula dari Maluku kemudian baru ke Makasar. Disamping itu menguasai juga Ternate danTidore serta Nusa Tenggara. Daerah-daerah tersebut diminati oleh VOC (Vereeningde Oast-Indische Compagnie) untuk monopoli perdagangannya dikarenakan disamping berlimpah hasil rempah-rempahnya, juga dikarenakan menjadi pusat perdagangan (khususnya Makasar).
    2. b.      Di Jawa penguasaan VOC (Vereeningde Oast-Indische Compagnie) meliputi kerajaan-kerajaan yang ada di Jawa seperti, Mataram (yang kemudian pecah menjadi Surakarta dan Yogyakarta), Surabaya (Madura Barat), dan juga Cirebon (yang waktu itu dalam kekuasaan Mataram).
    3. c.       Keinginan VOC (Vereeningde Oast-Indische Compagnie) menguasai Indonesia adalah salah satunya dikarenakan wilayah Nusantara yang berupa kepulauan merupakan wilayah yang sangat berlimpah rempah-rempahnya.
    4. d.      Mudahnya raja-raja di kepulauan Nusantara (khususnya Jawa) dikuasai VOC, dikarenakan adanya kelemahan-kelemahan antara lain :
      1. 1.      Kultur kerajaan yang diwarisi bangsa India, yang menjunjung tinggi rajanya menyebabkan ketika seorang raja sudah dapat ditaklukkan lawan, maka semua rakyatnya tidak ada yang berani melawan.
      2. 2.      Adanya suksesi kerajaan, yang tentu saja mengakibatkan siapapun yang menjadi raja dapat dipastikan terjadi ketidak senangan bagi mereka yang tidak menyukainya (walaupun itu sudah pasti karena sistem kerajaan penerusnya adalah putra mahkota). Sehingga terjadi pemberontaka-pemberontakan yang mengkibatkan krisis ekonomi dan kepemimpinan.
      3. 3.      Dengan kondisi yang semacam itu, VOC (Vereeningde Oast-Indische Compagnie) dapat memanfaatkan peluangnya dengan baik (dikarenakan disamping VOC mempunyai kuasa dalam perdagangan, juga mempunyai kekuatan militer yang besar).
      4. e.       Perlawanan demi perlawanan yang dilakukan oleh bangsa Indonesia terhadap monopoli VOC (Vereeningde Oast-Indische Compagnie) sangat banyak. Walapun pada akhirnya semuanya dapat ditaklukkan oleh VOC (karena kecerdikan, pengalaman dan kelicikannya). Mulai dari Makasar (Sultan Hasanudin), Madura (Trunajaya) dan masih banyak lagi.
      5. f.        Keuntungan setelah Belanda (VOC) menguasai Ambon dan Maluku adalah, didirikannya sekolah-sekolah untuk rakyat. Kuatnya pengaruh VOC di Ambon, karena pada saat sebelum VOC menguasai Ambon dan Maluku, kultur yang dibangun pada saat itu mengikuti Portugis dan Spayol (yang beragama Nasrani). Ini yang membedakan dengan Pulau Jawa (yang saat itu sudah kuat dengan agama Islamnya)
      6. g.       Sistem Pendidikan di Pulau Jawa sebelum Belanda datang sudah berkembang besar, walaupun tidak diformalkan menjadi sekolah negara dan hanya berbentuk pesantren-pesantren. Namun itu menunjukkan bahwa keinginan untuk mengajar dan belajar, sudah ada sejak Islam masuk ketanah Jawa. Yang dikembangkan oleh Walisongo dan diteruskan oleh Sultan Agung (Mataram).

 


DAFTAR PUSTAKA

 

A. Sartono Kartodihardjo, Prof. Dr., Pengantar Sejarah Indonesia Baru 1500-1900, Cet. III, Jakarta, PT Gramedia, 1992.

Abdurrahman Mas’ud, MA. Ph.D, Intelektual Pesantren (perhelatan agama dan tradisi), Yogyakarta, LKis, 2004

Darsiti Soeratman, Prof. Dr., Kehidupan Dunia Keraton Surakarta 1830-1930, Yogyakarta, Yayasan Untuk Indonesia, 2000.

H.J. De Graaf, Geschiedenis van Indonesie, Bandung, W. van Hoeve, 1949.

I Djumhur dan H. Danasuparta, Sedjarah Pendidikan, Cet. Ketiga, Bandung, Tjerdas, 1959

Kapakapa (tt),  MS. Radya Pustaka No. Kat 97.

M.C. Recklefs, A History of Modern Indonesia, Terj. Drs. Dharmono Hardjowidjono, “Sejarah Indonesia Modern”, Yogyakarta, Gadjah Mada University Press, 1998.

Penjelasan Prof. Dr. James Rush Dalam Kuliah Penelitian Sejarah Kelas Non-Reguler Anggatan 2004 di Pasca Sarjana IAIN Walisongo Semarang tahun Akademik 2004/2005 hari : Sabtu, tanggal : 26 Maret 2005 mengenai Opium To Java (Candu Tempo Doloe).

Sartono Kartodirdjo, Marwati Djoened Poeponegoro, Nugroho Notosusanto, Sejarah Nasional Indonesia III, edisi ke-2, Jakarta, Balai Pustaka, 1977.

Soemasaid Moertono, State and State Craff in Old Java : A Study of The Later Mataram Period 16 to 19 Century, Monograph Series, Modern Indonesia Project, Ithaca, New-York : South east Asia Program. Departement of Asian Studies Cornell University, 1968.

 


[1] M.C. Recklefs, A History of Modern Indonesia, Terj. Drs. Dharmono Hardjowidjono, “Sejarah Indonesia Modern”, Yogyakarta, Gadjah Mada University Press, 1998. hlm. 94.

[2] Ibid.  hlm. 95

[3] Ibid. hlm 97.

[4] Ibid. hlm 104.

[5] Ibid. hlm. 108-109.

[6] Ibid., hlm. 123.

[7] Ibid. hlm. 131.

[8] Ibid., hlm. 133

[9] Ibid., hlm. 140-141.

[10] Ibid., hlm. 147-148.

[11] Wahyu berarti ruh atau kekuatan Illahi; petunjuk dari Tuhan yang oleh orang Jawa dianggap sebagai rahmat atau karunia untuk suatu kedudukan. Lihat : Soemasaid Moertono, State and State Craff in Old Java : A Study of The Later Mataram Period 16 to 19 Century, Monograph Series, Modern Indonesia Project, Ithaca, New-York : South east Asia Program. Departement of Asian Studies Cornell University, 1968, hlm. 56.

[12] Kapakapa (tt),  MS. Radya Pustaka No. Kat 97. hlm. 19-20.

[13] Berartri menguasai dan bertindak dengan kekerasan; murba = menguasai; wisesa = kekuasaan tinggi; misesa = melakukan kekuasaan tertinggi, bentindak dengan kekerasan.

[14] Prof. Dr. A. Sartono Kartodihardjo, Pengantar Sejarah Indonesia Baru 1500-1900, Cet. III, Jakarta, PT Gramedia, 1992. hlm. 03.

[15] Ibid., hlm. 8-9.

[16] Penjelasan Prof. Dr. James Rush Dalam Kuliah Penelitian Sejarah Kelas Non-Reguler Anggatan 2004 di Pasca Sarjana IAIN Walisongo Semarang tahun Akademik 2004/2005 hari : Sabtu, tanggal : 26 Maret 2005 mengenai Opium To Java (Candu Tempo Doloe).

[17] Prof. Dr. A. Sartono Kartodihardjo, Op_Cit. hlm. 68-69.

[18] Sartono Kartodirdjo, Marwati Djoened Poeponegoro, Nugroho Notosusanto, Sejarah Nasional Indonesia III, edisi ke-2, Jakarta, Balai Pustaka, 1977. hlm. 350.

[19] Prof. Dr. Darsiti Soeratman, Kehidupan Dunia Keraton Surakarta 1830-1930, Yogyakarta, Yayasan Untuk Indonesia, 2000. hlm. 17

[20] H.J. De Graaf, Geschiedenis van Indonesie, Bandung, W. van Hoeve, 1949. hlm. 206-207

[21] I Djumhur dan H. Danasuparta, Sedjarah Pendidikan, Cet. Ketiga, Bandung, Tjerdas, 1959. hlm. 93-94.

[22] Ibid. hlm. 94.

[23] Abdurrahman Mas’ud, MA. Ph.D, Intelektual Pesantren (perhelatan agama dan tradisi), Yogyakarta, LKis, 2004. hlm. 61-69.

[24] Ibid. hlm. 69.

About iroelizzta

santai tapi pasti

Posted on 7 April 2012, in indonesiaku. Bookmark the permalink. Tinggalkan komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: