AKHLAK

AKHLAK

A. Pengertian

 

Akhlak (  ( أخلاق ) adalah kata jamak dari khuluq (خلق ). Kata khuluq adalah lawan dari kata khalq, khuluq merupakan bentuk batin sedangkan khalq adalah bentuk lahir. Khalq bisa dilihat dengan mata lahir ( bashar ) sedangkan khuluq dilihat dengan mata batin ( bashirah ). Keduanya dari akar kata yang yang sama yaitu khalaqa. Keduanya berarti penciptaan, karena memang keduanya telah tercipta melalui proses. Khuluq atau akhlaq adalah sesuatu yang telah tercipta atau terbentuk melalui sebuah proses, sehingga dengan kata lain akhlak disebut juga dengan kebiasaan.

الخلق حال للنفس داعية لها إلى أفعالها من غير فكر ولا روية[1]

Akhlak adalah gerakan jiwa yang mendorong melakukan perbuatan dengan tanpa butuh  pikiran dan pertimbangan

Syaikh Muhamad bin Ali as-Syarif al-Jurjani mengartikan akhlak sebagai stabilitas sikap jiwa yang melahirkan tingkah laku dengan mudah tanpa melalui proses berpikir.[2]

Abu Hamid al- Ghazali dalam bukunya Ihya’ Ulum al-Din mendefinisikan akhlak sebagai berikut:

فَالْخُلُقُ عِبَارَةٌ عَنْ هَيْئَةٍ فِى النَّفْسِ رَاسِخَةٍ عَنها تَصْدُرُ الأَفْعَالُ بِسُهُوْلَةٍ وَيُسْرٍ مِنْ غَيْرِ حَاجَةٍ إِلَى فِكْرٍ وَرُوِيَّةٍ[3]

Akhlak merupakan ungkapan tentang keadaan yang melekat pada jiwa dan darinya timbul perbuatan-perbuatan dengan mudah tanpa membutuhkan kepada pikiran dan pertimbangan.

Dari beberapa definisi di atas , akhlak mengandung empat unsur yaitu adanya perbuatan baik dan buruk, adanya kemampuan melaksanakan, mengetahui perbuatan yang baik dan yang buruk, dan adanya kecenderungan kondisi jiwa pada salah satu perbuatan yang terpuji maupun yang tercela.

Dengan demikian siapa saja yang berbuat kebaikan misalnya menyerahkah hartanya akan tetapi dimotivasi oleh kebutuhan yang mendadak bukan didorong oleh keadaan yang sudah menancap di dalam jiwanya, maka perbuatan itu tidak bisa dikatakan sebagai akhlak dermawan. Demikian juga orang dalam melakukan perbuatan dengan terpaksa maka tidak bisa dikatakan sebagai akhlak. Orang yang tidak pernah memberikan sesuatu karena ketidakmampuannya maka juga tidak bisa disebut sebagai orang bakhil.

B. Pembagian Akhlak

Keadaan jiwa yang ada pada seseorang itu adakalanya melahirkan  perbuatan yang terpuji dan ada kalanya perbuatan yang tercela. Oleh karena itu akhlak ditinjau dari sifatnya dibagi dua, Pertama,akhlak terpuji     ( mahmudah ) atau kadang disebut dengan akhlak yang         ( karimah ).Kedua, akhlak tercela ( mazdmumah ).

Ukuran untuk menentukan akhlak terpuji atau akhlak tercela itu adalah pertama, syara’ yakni aturan atau norma yang ada di al-Qur`an dan al-Sunnah. Kedua, Akal sehat.  Sedangkan untuk menciptakan akhlak yang baik dibutuhkan adanya keseimbangan antara empat kekuatan        ( daya ), yaitu kekuatan ilmu, kekuatan marah, kekuatan syahwat dan kekuatan adil terhadap kekuatan ilmu, marah dan syahwat.

Kebaikan Kekuatan ilmu adalah untuk membedakan mana perkataan yang benar dan tidak benar, mana keyakinan yang benar dan yang palsu dan mana perbuatan yang terpuji dan tidak terpuji. Apabila kekuatan ilmu ini direalisasikan maka akan melahirkan  al-hikmah ( kebijaksanaan, wisdom ) .

Kebaikan daya marah adalah manakala pelepasan daya marah itu sesuai dengan batas yang dituntut oleh al-hikmah. Daya marah digunakan untuk mempertahankan agama, kehormatan dan lain sebagainya. Dengan adanya daya marah itulah jihad diperintahkan. Kebaikan daya syahwat manakala pelepasannya di bawah kendali akal dan syara’,. Tanpa adanya daya syahwat kehidupan ini akan berhenti karena tidak ada lagi syahwat untuk makan,minum maupun nikah. Adapun kekuatan adil berfungsi menekan daya marah dan daya syahwat agar senantiasa dibawah kontrol akal dan syara’.

Kondisi jiwa yang dapat mendorong perbuatan tanpa dipikir dan dipertimbangkan ada dua, bawaan dan pembentukan. Sebagai contoh ada seseorang yang berpembawaan  mudah tertawa karena menyaksikan hal-hal atau peristiwa kecil. Demikian juga ada seseorang yang berpembawaan mudah marah gara-gara perkara sepele.

C. Pembentukan akhlak

Ada dua pendapat apakah akhlak itu bisa dirubah dan dibentuk. Pendapat pertama mengatakan bahwa akhlak itu tidak dapat dirubah. Sebagaimana bentuk lahir (khalq) tidak dapat dirubah, misalnya badan yang pendek tidak bisa ditinggikan dan badan yang tinggi tidak dapat dipendekkan, maka akhlak yang merupakan bentuk batin demikian juga tidak dapat dirubah. Pendapat kedua mengatakan bahwa akhlak dapat dibentuk dan dirubah yaitu dengan cara mujahadah dalam menundukkan daya syahwat dan daya marah. Pendapat kedua ini dikuatkan dengan alasan seandainya akhlak tidak dapat dirubah maka segala bentuk maidlah, pesan dan pendidikan (ta`dib) tidak ada gunanya. Sementara semua ini diperintahkan oleh agama termasuk perintah untuk memperbaiki akhlak.

Ada dua cara untuk membentuk akhlak yang baik, Pertama, melalui pemahaman terhadap hukum dan norma syariat serta pemahaman terhadap pemikiran yang rasional dan logis. Dengan pemahaman ini seseorang diharapkan dengan sendirinya mampu membedakan mana perkataan   ( sumber sam’iyyat ) yang benar dan yang tidak benar, bisa membedakan keyakinan yang syah dan yang batal dan bisa membedakan perbuatan yang terpuji dan tercela. Pemahaman ini pada ahirnya diharapkan dapat memunculkan hikmah                ( wisdom, kebijaksanaan ). Proses pemahaman ini dapat dilakukan melalui proses pengajaran dengan berbagai metode seperti ceramah, cerita, diskusi, nasihat, penugasan dan lain sebagainya.

Proses pemahaman ini dapat dilakukan oleh diri sendiri maupun orang lain. Bagi yang sudah menyadari akan penyakit dan keburukan akhlaknya, tentu dapat melakukan pemahaman secara mandiri dengan cara berfikir dan bertadabbur, membaca dan memahami teks syar’iyyah maupun mendengarkannya melaui majlis-majlis mauidlah dan ta’lim. Namun bagi yang belum mempunyai kesadaran dan keinsyafan tentu dibutuhkan pihak luar untuk ikut memberikan pemahaman.

Kedua, melalui pembiasaan atau pengalaman langsung. Dengan pembiasaan ini seseorang dilatih dan dipaksa untuk mengendalikan daya marah dan syahwatnya dengan melakukan akhlak yang terpuji. Misalnya seseorang dipaksakan dan dilatih bersedekah agar menjadi orang yang dermawan. Demikian orang dilatih dan dibiasakan untuk menghormati dan menghargai orang lain agar menjadi orang yang tawadlu’. Namun demikian pembiasaan jangan sampai melampaui batas akal dan syara,. Sebagai contoh dermawan yang gebablasan akan memunculkan akhlak yang tercela yaitu boros. Demikian juga keberanian yang kebanlasan akan memunculkan akhlak yang tercela yaitu tahawur (nekad).


[1] Ibnu Maskawaih, Tahdzib al-Akhlaq,Bab I, al-Maktabah al-Syamilah, hal. 10

[2]Ali Abdul Halim Mahmud, Tarbiyah Khuluqiyah, (Solo: Insani Press,2003), cet. I, hlm. 37.

[3]Al-Ghazali, Ihya’ Ulum ad-Din, juz. III, op.cit., hlm. 52.

About iroelizzta

santai tapi pasti

Posted on 7 April 2012, in Ilmu Kalam. Bookmark the permalink. Tinggalkan komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: