BBM Naik, Terima Atau Tolak ?

BBM Naik, Terima Atau Tolak ?

April 2012, pemerintah akan menetapkan kenaikan BBM, yang mula-mula 4000 menjadi 6000. Bagaimanakah sikap kita untuk mensiasatinya dengan adanya berbagai gejolak dari masyarakat.

Kalau kita kaitkan dengan realita kehidupan, sebenarnya kenaikan BBM kan sudah sering berkali-kali, dari pemerintahan dahulu sampai sekarang. Sejak awal ingin mengembalikan kejayaan Indonesia dengan wilayah kita yang berpotensi, tambang minyak kita yang banyak. Cenderung pemerintah tidak mengarahkan pada lifting, pemerintah hanya cenderung dengan kebijakan yang bersifat instan. Dengan adanya kenaikan harga minyak dunia, pemerintah kita jadi ikut-ikutan naik. Seharusnya memberi konpensasi kepada masyarakat yg semestinya. Kita seharusnya berfikir bagaimana caranya wilayah pertambangan ke depan itu harus kembali ke jayanya seperti pada zaman Pak Soeharto yang tidak importer minyak, tapi eksportir sekitar tahun 1990an.

Pertambangan semua itu diurusi pusat, kita itu hanya pelaksana, misal blok  cepu , seperti amanat dalam UU pertambangan, daerah sumber minyak, diberikan partisipasi, penyertaan modal. Jadi daerah sebenarnya tidk bisa mengambil apa-apa, karena semuanya adalah ranah pusat. Sebenarnya daerah bisa ikut mnbantu ketika daerah diberi hak untk mengolah sumur-sumur tua, seperti Blora ini ada skitr 600an sumur sumber minyak. Andai saja itu bisa tereksploitir semuanya, walaupun per hari katakanlah 2000 barel itu kan bisa tapi faktanya sulit. Misal hak itu kan diberi pada BUMD /koperasi, nyatanya hak yang sudah tertera pada amnat undang-undang tersebut. Tekniknya juga sulit seperti koprasi di Sambong, pengurusan perizinan, dari daerah ok, gubernur ok tapi PT migas aja yang sulit.

Seolah-olah pemerintah pusat itu melepas kepalanya tapi ekornya diganduli, sehingga kebijakannya menjadi bertolak belakang. Begitu sumur tua diberi hak nya untuk dikelola daerah, sumber yg diurusi BPE yg menangani sumur tua itu kita konkritkn, tapi hasilnya pasif. Karena apapun perizinan itu pusat. Sebetulnya semua daerah diberi otoritas penuh untuk mengolah sumber daya alam, saya yakin bisa, tapi dampaknya diantara banyak darah yang kaya sumber daya alam derajat fiskalnya lain-lain, jadi perbedaan kabupaten, .kota, provinsi, yang kaya dan miskin itu akan rata, padahal tujuan pemda kan tidak seperti itu.  Tujuanya kan smuanya sama rata. Seperti pemda yandg diamanati sumur tua itu ya di konkritkan aja lah, untuk menambahi lifting, dan pemasukan daerah.

Untuk mengatasi kenaikan bbm,, 1 hal y sebenarnya juga langkah ranah pusat tapi daerah juga harus menyetirnya ,pertma adalah, misal blora ini,umum indonesia, penduduk masyarakatnya yang paling dominan adalah tani hampir 60 % khususnya NTP (nilai  tukar petani ). Amanat sangat erat sekali dengan diklaritas harga. Misal kemarin pupuk naik , harga dasar gabah cenderung lmbat naik, apalgi akan naiknya bbm semakin terpuruk NTP ptani, nilai harga produks petani ini hilang dengan naiknya inflasi ini, misal naik bbm 1500. NTP petani itu harus naik sekitar Rp. 500 -700, kalau tidak ya NTP akan hilang.

Sesuai visi misi bupati demi memajukan kabupaten blora. Pemberdayaan ekonomi lokal  blora yang mengutamakan 4 pilar, infrastruktur, kesehatan, pendidikan ,dan pertanian. Artinya dari tani ini ,, pemberdayaaan ekonomi local yang menyangkut juga perdagangan , pertama peningktan bagaimana pemberdayaan yg kurang itu meningkat ,Ini sedikit demi sedikit sudah menata, pusat keramain itu, kita sudah coba menyetir yang akan menjadi sentral.  msal  alun-alun, saya sendiri  sebagai pembina pkl alun-alun, nanti kita tata tempatnya dengan bagus, ditujukan pada orang blora, terus stasiun kawa’, kec. Jepon dan cepu. Harapanya itu penglaman pada waktu reses thun 1997/1998. Itu yang paling kuat adalah orang umkm, dia tahan krisis, begitu terkena krisis, dia sabar dan kuat.

Untuk sector perdagangan selain penataan dan pengelolaan, dan produksi local, blora melebihkan pada pengenalan masyarakat blora kepada warga Negara Indonesia.

Mulai tahun ini untuk suar ( blora keluar ).itu kita periksa, selama ini momen-momen expo  internasional blora belum pernah ikut karena ga ada dana untuk berpatisipasi. Kita usahakan tahun ini, dengan konsep bagaimana kita dikenal kalau tidak mengenalkan diri. expo internasional  kan banyak seperti nakraf Jakarta, bali, jogga, solo. Tahun ini kita member uang ke debin transkop. Dan sudah mendaftar pada 6 titik, untuk komoditas local. Kemarin juga ada temen investor dari surabaya, dia juga punya perhatian khususnya pada pengrajin ukiran blora.  Sampai-sampai dia membuka outlite citra line di Surabaya. Kemarin dia saya temukan dengan pak gun, dinas yg mngurusinya. Harapanku nanti di saat expo-expo yg bersifat internasional, temenku biar ikut mendanai pameran itu, biar pada ajang itu kita terlihat menarik atas dana hasil koordinasi antara dinas dan investor itu. Nah kalaupun ada bayar luah, silahkan mengampu ke dinas, atau saya, temenku, toh barangnya nanti ngambilnya di blora.

Akhir-akhir ini, Kata warga ada polisi yang menjaga SPBU, fakta lapangan banyak orang mencari pedagang eceran tapi mulai langka. Saya rasa ada prioritas, namanya pedagang kecil harus tau diri , ya kekuatan mereka itu untuk beli, katakanlah 20 liter… masih wajar pakai dligen atau ngangsu pake motor dengan memenuhinya, terus beli di pom lagi sampe penuh kemudian di tab di rumah.. sampai beberapa liter,, menjadi pedagang harus bisa mensiasati situasi dan kondisi yg ada.

About iroelizzta

santai tapi pasti

Posted on 30 Maret 2012, in indonesiaku. Bookmark the permalink. Tinggalkan komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: