AQUANETTA

AQUANETTA

Hidup dan nasib bisa tampak berantakan, misterius,fantastis dan sporadis, namun setiap elemennya adalah subsistem keteraturan dari sebuah desain holistic yang sempurna. Menerima kehidupan bearti menerima kenyataan bahwa tak ada hal sekecil apapun yang terjadi karena kebetulan. Ini fakta penciptaan yang tak terbantahkan. ( Harun yahya dalam novel Edensor,buku ketiga dari tetralogi Laskar pelangi ).

            Di dalam menjalani kehidupan, terkadang kita bisa mencecap saat anggur terasa begitu manis dan masa ketika harus menelan pil pahit. Karena itu, kita tidak boleh bersikap hitam putih dalam segala situasi. Janganlah bersikap selalu kontra atau menolak sama sekali terhadap setiap hal. Berbagai macam pegangan dalam menjalani hidup ini,kadang kita harus keras, kadang harus lembut, begitulah kita memang di haruskan untuk menganalisa semua keadaan.

            Mungkin banyak di antara kita yang sering mendengar sahabat atau orang disekitar kita yang mengatakan “ aku menjalani hidup ini dengan mengalir saja,seperti air “ namun bagi sebagian orang akan menjawab prinsip tersebut dengan mengatakan “ Air memang demikian ! tetapi anda dan saya bukan benda mati seperti air. Kita adalah manusia yang berhadapan dengan benda mati maupun benda hidup sekaligus”. Demikianlah, setiap diri mempunyai prinsip dan cara pandang yang berbeda tergantung lingkungan yang mengelilingi dan logika yang membangunnya.

            “Jangan melihat air pada prasangka lumrah manusia saja “ ujar seorang sahabat ketika  itu. Tapi prasangka lumrah yang bagaimana ci ? bukankah air memang demikian ? air akan selalu mengalir dari tekanan tinggi ke tekanan rendah _ tetapi manusia_ oleh sebab tekanan keadaan bisa melakukan hal yang sebaliknya. Air bisa menerjang semua yang menghalangi gerakan arusnya, dan apabila manusia seperti air maka itu artinya manusia bebas menerjang apapun juga yang menjadi penghalangnya,menerjang hokum, moralitas, dan bahkan agama, tanpa peduli baik, buruk, benar atau salah asal tujuannya bisa tercapai.

            “ seyogyanya pemuda hari ini sebagai generasi penerus mau dan mampu mempunyai sifat seperti air “ ngendikane bapak kyai Tamyiz ketika membacakan tafsir jalalain surat ar-ra’d ayat 17. “Allah telah menurunkan air (hujan) dari langit,maka mengalirlah air di lembah-lembah menurut ukurannya, maka arus itu membawa buih yang mengembang . . . . . .”

Ya, beliau mengajak kita sebagai pemuda untuk membaca,mencari dan memahami apa itu ‘air’.  Beliau mendidik_ tidak hanya mengajar para santrinya, menyediakan perhatian dan pemikiran-pemikirannya. Menjadikan sesuatu itu lebih bermakna, lebih kaya warna.

            Air _ ia akan selalu mengalir dari tempat yang tinggi ke tempat yang rendah. Demikianlah, manusia di tuntut untuk bergerak, memberi kemanfaatan di semua lapisan, tinggi ataupun rendah status sosialnya. Ia pun akan mencari celah dengan sendirinya meskipun bertemu batu arang, ia akan berbelok untuk kemudian meneruskan perjalanannya kembali.

            Air _ Ia menempati ruang, meski di tuangkan ke dalam wadah berbentuk apapun, air akan selalu mengikuti bentuk wadah itu. Ia dapat memosisikan dirinya sesuai situasi dan kondisi yang sedang di alaminya, manusia sewajarnya juga mampu untuk menyesuaikan diri satu sama lain agar terjalin komonikasi yang saling di pahami.

            Air _ memberikan jalan pada hambatan dengan segala kerendahan hati, karena ia sadar bahwa tak ada satu kekuatan apapun yang dapat mencegah perjalanannya menuju lautan. Ia menang dengan mengalah, ia tak pernah menyerang namun selalu menang pada akhir perjuangannya.

Air _ meninggalkan basah. Demikian juga dengan manusia, pengaruhnya di tuntut untuk tetap eksis meski ia telah tiada, baik karena sudah berpindah ataupun wafat. Contoh konkret kita dapat meneladani ( karena tidak akan bisa menyamai ) KH.Abdullah Faqih yang wafat 29 Februari kemarin. Beliau kiai pengasuh pesantren dengan ilmu keislaman yang cukup dan ahklak yang mulia, mewakafkan dirinya untuk masyarakat dan tidak pernah mementingkan diri sendiri. Beliau sanggup membumikan ajaran islam. Ajaran yang masih paling asli hingga detik ini. Beliau masih meninggalkan ‘basah’ yang akan senantiasa di kenang, yang bahkan mampu melebihi kemampuan air itu sendiri. Semoga Allah SWT menempatkan beliau di tempat yang indah di sisi-Nya.

Alhasil, mungkin masih banyak lagi pelajaran yang dapat kita petik dalam kehidupan kita ini yang sebenarnya bertaburan hikmah dimana-mana. Belum lagi, apabila kita belajar dari hikmah orang lain, yang juga tak terkira banyaknya. Setidaknya itu merupakan pembuktian empiris dari firman-firman-Nya, baik secara qouliyyah maupun kauniyyah.Teruslah berjalan, teruslah mengalir maka akan semakin jernih pula aliranmu,itulah jiwa pemuda yang mesti di bangun.

Jika rasa ini laksana air, maka biarkan ia mengalir.

Meski dipaksa menjadi es, maka ia akan beranomali.

Meluap-luap sebelum mendekati titik beku.

Meski di paksa menjadi uap, maka ia akan berpencar

Di udara secara perlahan, setitik demi setitik.

Dan ketahuilah bahwa

Air tidak akan pernah lenyap,

Walau dalam wujud berbeda.

Keep istiqomah……. !!!!

Iklan

About iroelizzta

santai tapi pasti

Posted on 30 Maret 2012, in renungan. Bookmark the permalink. Tinggalkan komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: