Tingkatan Rujukan Imam as-Syafi’i

Tingkatan Rujukan Imam as-Syafi’i Rahimahullah Secara Berurutan Dalam Ijtihad

Siapa yang tak kenal Imam Muhammad ibn Idris asy-Syafi’i rahimahullah? Beliau adalah seorang ‘aalim, mujtahid muthlaq, pakar ushul fiqih, hadits, tafsir dan bahasa. Beliau juga merupakan pendiri salah satu madzhab fiqih terbesar saat ini, yaitu madzhab Syafi’i. ‘Ulama pun sepakat mendudukkan beliau sebagai mujaddid abad ke-2 hijriyah.

Kali ini saya akan menyampaikan sebagian metode beliau dalam melakukan ijtihad. Referensi saya adalah kitab Tafsir al-Imam asy-Syafi’i karya Dr. Ahmad ibn Mushthofa al-Farran. Salah satu rujukan yang digunakan oleh Dr. Ahmad ibn Mushthofa al-Farran adalah kitab asy-Syafi’i Hayatuhu wa ‘Ashruhu karya Syaikh Muhammad Abu Zahrah, selain rujukan-rujukan yang lain tentunya. Silakan disimak.

Imam asy-Syafi’i rahimahullah membagi ‘ilm menjadi dua, yaitu ‘ilm ‘aammah dan ‘ilm khaashshah. ‘Ilm ‘aammah merupakan ilmu yang wajib diketahui oleh setiap muslim yang mukallaf, seperti kewajiban shalat lima waktu dan puasa Ramadhan serta keharaman zina dan meminum khamr. Sedangkan ‘Ilm khaashshah ini merupakan kajian para fuqaha’ dan mujtahid, hukumnya fardhu kifayah untuk dipelajari.

Dalam proses ijtihad, Imam asy-Syafi’i menggunakan beberapa tingkatan rujukan yang digunakan secara berurutan. Maksudnya, beliau akan menggunakan tingkatan pertama terlebih dulu, jika tidak ada baru beliau menggunakan tingkatan kedua, demikian seterusnya.

Berikut tingkatan rujukan yang digunakan oleh Imam asy-Syafi’i:

1. Merujuk kepada al-Kitab dan as-Sunnah ash-Shahihah. Imam asy-Syafi’i meletakkan al-Kitab dan as-Sunnah ash-Shahihah dalam satu tingkatan, karena as-Sunnah berfungsi untuk menjelaskan isi al-Kitab dan memperincinya. Dan mencukupkan diri dengan al-Qur’an jika tidak ada tambahan penjelasan dari as-Sunnah ash-Shahihah.

2. Merujuk kepada Ijma’ ‘Ulama jika tidak terdapat dalam al-Kitab dan as-Sunnah ash-Shahihah. Ijma’ ‘Ulama yang dimaksud adalah ijma’ ‘ulama yang memiliki ‘ilm khaashshah (faqih dan mujtahid). Dan ijma’ ini haruslah tidak berdasarkan ra’y (pendapat ‘aqli, tanpa nash yang jelas), karena jika berdasarkan ra’y tentulah ‘ulama akan berselisih dan tidak akan bersepakat (ber-ijma’).

3. Perkataan sebagian shahabat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berdasarkan ra’y, tanpa diketahui ada satu orang shahabat pun yang menyelisihinya. Menurut Imam asy-Syafi’i, ra’y shahabat lebih baik dari ra’y selain mereka, termasuk ra’y beliau sendiri. Dengan syarat, periwayatan ra’y shahabat tersebut aman dari berbagai kekeliruan.

4. Perselisihan pendapat shahabat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam satu perkara. Yang dipilih adalah yang paling mendekati al-Kitab dan as-Sunnah ash-Shahihah atau yang dikuatkan oleh qiyas.

5. Melakukan qiyas pada satu perkara yang telah diketahui hukumnya berdasarkan empat tingkatan sebelumnya.  Yaitu qiyas terhadap perkara yang sudah ada nash-nya dalam al-Kitab dan atau as-Sunnah ash-Shahihah, atau diketahui hukumnya berdasarkan ijma’, atau qiyas terhadap perkara yang diketahui hukumnya berdasarkan perkataan sebagian shahabat tanpa ada yang menyelisihinya dan yang terdapat perselisihan di antara mereka.

Demikian, semoga bermanfaat.

*****

About iroelizzta

santai tapi pasti

Posted on 17 Maret 2012, in Ushul Fiqh. Bookmark the permalink. Tinggalkan komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: