Taat Pada Ulil Amri

Taat Pada Ulil Amri

Surah an-Nisaa’ ayat 59 sering jadi justifikasi orang-orang yang menghalangi upaya penerapan Syariah Islam di bumi Indonesia. Argumen mereka sederhana saja, Allah telah memerintahkan kita untuk taat kepada pemerintah (yang termaktub dalam ayat adalah istilah ulil amri), maka tidak boleh ada sedikitpun upaya untuk menolak atau mengkritisi setiap kebijakan dan peraturan yang dikeluarkan oleh pemerintah.

Dengan cara berpikir seperti ini, konsekuensinya adalah jangan pernah menolak atau mengkritisi kebijakan pemerintah, walaupun menyengsarakan rakyat, terima saja. Demikian pula, terima saja jika pemerintah melegalkan perzinaan, judi dan berbagai aktivitas nista lainnya. Lebih lanjut, jika pemerintah menerapkan sistem demokrasi dan meninggalkan aturan Islam, terima saja, Islam kan memerintahkan kita taat kepada pemerintah.

Benarkah cara berpikir seperti itu? Benarkah surah an-Nisaa’ ayat 59 mendukung cara berpikir seperti itu? Mari kita tengok penjelasan Imam Ibn Katsir rahimahullah.

Imam Ibn Katsir rahimahullah dalam kitab tafsir beliau Tafsir al-Qur’an al-Karim menjelaskan makna أطيعوا ٱللّه adalah اتبعوا كتابه, dan makna وأطيعواْ ٱلرسول adalah خذوا بسنته, sedangkan pada frase وأولى ٱلأَمر منكم Imam Ibn Katsir menjelaskannya dengan فيما أمروكم به من طاعة الله، لا في معصية الله؛ فإنه لا طاعة لمخلوق في معصية الله. Artinya, ketaatan kepada ulil Amri terbatas pada kebijakan mereka yang sesuai dengan ketetapan Allah, dalam kemaksiatan (menentang ketetapan Allah ta’ala) tak ada ketaatan kepada makhluk. Imam Ibn Katsir melanjutkan penjelasan beliau dengan mengutip hadits shahih yang berbunyi إنما الطاعة في المعروف.

Penjelasan Imam Ibn Katsir ini semakin dikuatkan dengan lanjutan ayat yang berbunyi فإن تنازعتم فى شىء فردوه إلى ٱللّه وٱلرسول. Imam Mujahid rahimahullah yang dikutip oleh Imam Ibn Katsir menjelaskan maksudnya adalah إلى كتاب الله وسنة رسوله.

Ayat ini pun tidak berdiri sendiri, ia adalah bagian dari wahyu Allah yang terdapat dalam al-Qur’an dan as-Sunnah ash-Shahihah. Artinya, untuk memahami ayat ini, tidak bisa tidak kita harus memahami Islam secara menyeluruh.

Dari pemahaman ini bisa kita simpulkan bahwa menasihati pemerintah (baik secara terang-terangan ataupun sembunyi-sembunyi) terhadap setiap kebijakan mereka yang melanggar ketetapan Allah adalah sebuah kewajiban. Merupakan sebuah kewajiban juga untuk menjelaskan kepada umat kekeliruan dan penyimpangan yang dilakukan oleh pemerintah, dengan tujuan agar umat tidak tertipu dan bisa menyadari bahwa pemerintah saat ini tidak menjalankan aturan Allah dan Rasul-Nya.

Saya perlu tegaskan, tidak berarti tulisan saya ini bertujuan menginspirasi terorisme, karena Islam dan terorisme tidaklah sama. Sikap kritis kita terhadap pemerintah tetaplah harus dilakukan secara syar’i, sesuai tuntunan Allah dan Rasul-Nya. Wallahu a’lam.

*****

About iroelizzta

santai tapi pasti

Posted on 17 Maret 2012, in ulum At-Tafsir. Bookmark the permalink. Tinggalkan komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: