Penyebab ‘Ulama Menyelisihi Hadits-Hadits Shahih

Penyebab ‘Ulama Menyelisihi Hadits-Hadits Shahih

Salah satu karya Syaikhul Islam Ibn Taimiyah rahimahullah yang sangat menarik perhatian saya adalah kitab beliau yang berjudul Raf’ul Malaam ‘anil A-immatil A’laam (رفع الملام عن الأئمة الأعلام). Kitab beliau ini memberi perhatian serius tentang sebab-sebab ikhtilaf para ‘ulama dan cara umat Islam menyikapi perbedaan pendapat para imam tersebut. Perlu saya jelaskan di awal bahwa ‘ulama atau imam yang dimaksud di sini adalah para ‘ulama dan imam mujtahid, yang punya kemampuan memahami al-Qur’an dan as-Sunnah dengan metodologi yang benar.

Syaikhul Islam di awal kitab beliau ini menjelaskan kewajiban umat Islam untuk bersikap loyal terhadap sesama kaum muslimin –setelah loyalitas kepada Allah ta’ala dan Rasul-Nya shallallahu ‘alaihi wa sallam–, terlebih lagi kepada para ‘ulama. Karena ‘ulama merupakan pewaris para Nabi (ورثة الأنبياء), yang Allah jadikan mereka laksana bintang yang menjadi penunjuk jalan dalam kegelapan di daratan dan lautan. Bahkan umat Islam telah sepakat menjadikan ‘ulama sebagai panutan bagi mereka dalam petunjuk dan ilmu pengetahuan (وقد أجمع المسلمون على هدايتهم ودرايتهم).

Syaikhul Islam pun menegaskan –dan ini yang sangat penting– bahwa tak ada seorang pun dari para imam yang memiliki kewenangan untuk menyelisihi sunnah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam secara sengaja, sedikit apalagi banyak. Seluruh ‘ulama telah sepakat (متفقون اتفاقا يقينيا) akan wajibnya ittiba’ kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Setiap orang boleh diikuti perkataannya, boleh pula ditinggalkan, kecuali Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Jika ada seorang ‘ulama yang kedapatan pendapatnya menyelisihi hadits-hadits shahih, menurut Imam Ibn Taimiyah rahimahullah, tentu ada ‘udzr (sebab yang bisa ditolerir) yang menyebabkannya meninggalkan hadits-hadits shahih tersebut. Ini tentu berbeda dengan para pengikut hawa nafsu yang meninggalkan dan menyelisihi hadits-hadits shahih sekehendak hati mereka, tanpa ada ‘udzr.

Menurut Syaikhul Islam, ada tiga ‘udzr yang menyebabkan ‘ulama menyelisihi hadits-hadits shahih, yaitu:

1. Tidak meyakini bahwa itu merupakan perkataan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam (عدم اعتقاده أن النبي صلى الله عليه وسلم قاله).

2. Tidak meyakini  bahwa yang dimaksud dalam hadits tersebut adalah seperti itu (عدم اعتقاده إرادة تلك المسألة بذلك القول).

3. Meyakini bahwa hukum dalam hadits shahih tersebut telah terhapus (اعتقاده أن ذلك الحكم منسوخ).

Dari tiga ‘udzr tersebut, bisa dijabarkan lagi dalam beberapa sebab yang menjadikan seorang ‘ulama menyelisihi hadits-hadits shahih. Sebab-sebab tersebut adalah:

1. Belum sampainya hadits tersebut kepadanya (من لم يبلغه الحديث).

2. Menurutnya derajat hadits tersebut belum jelas (من لم يثبت عنده).

3. Meyakini bahwa hadits tersebut dha’if (اعتقاد ضعف الحديث).

4. Ia berkomitmen dengan syarat-syarat khusus dalam pengambilan sebuah hadits (التزام شروط خاصة في الأخذ به).

5. Lupa dengan hadits tersebut (نسيان الحديث).

6. Belum mengetahui dilalah hadits tersebut (عدم المعرفة بدلالة الحديث).

7. Meyakini hadits tersebut tidak memiliki dilalah (اعتقاد عدم دلالة الحديث).

8. Meyakini adanya penyanggah terhadap dilalah hadits tersebut (اعتقاد وجود المعارض له).

9. Meyakini hadits tersebut kontradiktif dengan hadits lain (اعتقاد معارضة الحديث لغيره).

10. Menganggap hadits tersebut bertentangan dengan dalil lain yang menunjukkan kelemahannya, atau ke­-mansukh-annya, dan seterusnya (معارضته بما يدل على ضعفه أو نسخه إلخ).

Inilah sepuluh sebab yang disebutkan oleh Syaikhul Islam sebagai kemungkinan penyebab seorang ‘ulama meninggalkan atau menyelisihi hadits-hadits shahih. Untuk memahami secara jelas masing-masing sebab di atas tentulah perlu pendalaman. Di kitab Raf’ul Malaam ‘anil A-immatil A’laam, Syaikhul Islam telah menjelaskan secara detail sepuluh sebab di atas. Silakan merujuk ke kitab tersebut untuk mendalaminya.

Selain sepuluh sebab di atas, masih ada sebab-sebab lain. Menurut Syaikhul Islam, mungkin saja seorang ‘ulama mempunyai hujjah tertentu untuk meninggalkan pengamalan suatu hadits yang belum kita ketahui. Seorang ‘ulama terkadang menunjukkan hujjah-nya, terkadang tidak menampakkannya. Kalaupun ia menampakkannya, terkadang sampai kepada kita, terkadang juga tidak. Jika pun sampai kepada kita, terkadang kita dapat memahami hujjah sang ‘ulama, terkadang juga tidak. Baik hujjah tersebut benar, ataupun keliru.

Namun bagi kita, Syaikhul Islam memberi pesan, kita tak boleh menyimpang dari pendapat yang jelas hujjah-nya berdasarkan hadits shahih, yang telah disepakati oleh sebagian ‘ulama, lalu beralih kepada pendapat lain yang dimiliki oleh seorang ‘ulama yang belum nampak hujjah­-nya, meskipun ia lebih ‘alim.

Wallahu a’lam bish shawwab.

*****

Iklan

About iroelizzta

santai tapi pasti

Posted on 17 Maret 2012, in Ushul Fiqh. Bookmark the permalink. Tinggalkan komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: