Kader Ulama’

KATA PENGANTAR

            Puji syukur kehadiran Allah Swt yang mana memberikan rahmat kepada kami serta kemudahan dalam menyusun karya ilmiah ini. Karena begitu banyak hambatan dan rintangan selama kami menyusun karya ini. Sholawat serta salam tak lupa kami sanjungkan kepada Rasulullah Saw atas keberkahannya dan sebagai penolong di akhirat nanti. Dalam waktu yang singkat kami berusaha untuk menyelesaikan karya ilmiah yang telah diberikan kepada kami. Kami adalah manusia yang tak luput dari kekurangan dan sudah pastinya karya tulis ilmiah kami ini masih banyak kekurangan dalam merangkum sebuah tulisan mengenai manajemen kaderisasi Ulama, serta peran penting seorang Ulama sebagai pemimpin umat yang mampu mengaplikasikan ilmu pengetahuannya dalam khidupan sehari-hari. Akan sulit sekali mencari pengganti seorang Ulama apabila tidak dipersiapkan sedini mungkin.

            Allah mencabut ilmu di bumi bukan dengan menghilangkan secara langsung dari ingatan orang orang yang berilmu, melainkan mencabutnya dengan mematikan satu demi satu para Ulama. Hingga akhirnya ilmu yang mereka ketahui belum dikuasai umat, maka sedikit demi sedikit ilmu itu akan hilang.

            Dari karya yang sangat sederhana ini semoga kita bisa menambil manfaat yang terkandung di dalamnya, sehingga kita tetap menjadi manuia yang cinta Ulama dan mempertahankan keilmuan Ulama. Amin.

  BAB I

PENDAHULUAN

  1. 1.      LATAR BELAKANG

Dalam Al-qur’an surat Maryam ayat 4 – 6 yang artinya: ia berkata “Ya Tuhanku, Sesungguhnya tulangku telah lemah dan kepalaku telah ditumbuhi uban, dan aku belum pernah kecewa dalam berdoa kepada Engkau, Ya Tuhanku. Dan Sesungguhnya aku khawatir terhadap mawaliku sepeninggalku, sedang isteriku adalah seorang yang mandul, Maka anugerahilah aku dari sisi Engkau seorang putera. yang akan mewarisi aku dan mewarisi sebahagian keluarga Ya’qub; dan Jadikanlah ia, Ya Tuhanku, seorang yang diridhai”.

Dan hadist Nabi yang diriwayatkan oleh imam bukhari, muslim, ahmad dan turmudzi, “sesungguhnya allah akan mencabut ilmu pengetahuan, tidak dengan mencabutnya langsung dari manusia, melainkan dengan mewafatkan Ulama”.

Dari dua sumber di atas, mendorong kami untuk menelisik lebih dalam betapa pentingnya sebuah kaderisasi Ulama, melihat peran penting ulama di mata umat. Sehingga wacana keilmuan di muka bumi ini tidak lenyap setelah wafatnya ulama, terutama dalam keilmuan agama. Semakin banyak manusia yang faham tentang agama, maka semakin baik pula tatanan kehidupan manusia itu. Maka peran pesantren sangatlah penting dalam pengkaderan Ulama karena pondok pesanten merupakan lembaga yang memiliki misi utama menyelenggarakn kaderisasi ulama sejak awal berdirinya.

  1. 2.      RUMUSAN MASALAH
    1. Seberapa pentingnya seorang ulama di mata Umat?
    2. Mengapa harus diadakan pengkaeran Ulama?
    3. Siapa yang mengemban pengkaderan tersebut?
    4. Apa dukungan pemerintah dalam pengkaderan Ulama?

 

  1. 3.      TUJUAN
    1. mengetahui siapakah Ulama dan peran pentingnya.
    2. Mengetahui bahwa misi utama pondok pesantren adalah menyiapakan kader ulama sebagai pewaris Nabi.

 

 

BAB II

PEMBAHASAN

 

Judul                        : manajemen Kaderisasi Ulama

Pengarang              : M. Ishom El Saha

Tahun                      : 2008

Dimensi                  : HVS 60gr, 16 X 20 cm

Tebal Buku            : 128 Halaman + cover

ISBN                        : 978-602-8070-15-7

Penerbit                 : Transwacana Jakarta

  1. 1.    Ikhtisar Buku Manajemen Kaderisasi Ulama

Buku berjudul Manajemen Kaderisasi Ulama yang ditulis oleh M. Ishom El Saha terbagi menjadi enam bagian dalam pembahasannya. Bagian pertama adalah bagian yang menjelaskan latar belakang pentingnya kaderisasi Ulama yang terangkum dalam judul kaderisasi Ulama adalah sebuah keniscayaan. Pada bagian yang kedua adalah sebuah pembahasan yang menekankan pondok Pesantren sebagai wadah kader Ulama yang terangkum dalam judul mempertegas komitmen pondok Pesantren untuk melakukan kaderisasi Ulama. Bagian yang ketiga M. Ishom El Saha menjelaskan tentang peran andil pemerintah dalam kaderisasi Ulama Pesantren. Bagian keempat adalah merencanakan kaderisasi Ulama. Bagian kelima merupakan proses akhir dari sebuah kaderisasi Ulama yang dirangkum oleh penulis dalam judul desain kaderisasi Ulama dari profesi ke spesialisasi. Dan bagian yang terakhir adalah sebuah lampiran contoh dalam program penguatan tradisi ke-Ulama-an untuk kader Ulama pondok pesantren.

Dari pembahasan pembahasan yang dipaparkan mengajak kita untuk berkeyakianan bahwa seorang Ulama adalah sesosok pemimpin yang tidak hanya memimpin umat dalam agama saja walaupun ia adalah seorang yang alim dalam agama.

  1. a.    Bagian pertama:

Kaderisasi Ulama: sebuah keniscayaan

Pada bagian pertama M. Ishom El Saha memberikan gambaran bagaimana pentingnya sebuah kaderisasi Ulama, karena Ulama adalah pewaris Nabi. Dan yang paling mendasar bahwa seorang Ulama merupakan panutan umat yang perannya sangat penting dan srategis dalam pembangunan bangsa. Hal ini karena kekokohannya dibidang agama dan besarnya kharisma yang ditampakkan oleh seorang Ulama. Ketaatan umat pada seorang Ulama, bukan sesuatu yang direncanakan dan dibuat buat, tetapi tumbuh dengan sendirinya. Jadi apabila seseorang hafal sepotong dua potong ayat atau hadist kemudian dikhutbahkan atau diceramahkan, orang tersebut belum masuk kelas Ulama. Pada bagian ini pula penulis menyebutkan peran Ulama. Karena dengan ketiadaan Ulama akan menjadikan umat memilih pemimpinnya yang bodoh. Sehingga dari kebodohan pemimpinnya tersebut akan menjadikan kesengsaraan umat itu sendiri.

Dalam pengkaderan biasanya identik dengan organisasi yang mutlak mensyaratkan kaderisasi. Kecuali organisasi itu adalah organisasi diri sendiri. Demikian halnya dalam pengkaderan Ulama juga wajib hukumnya untuk membentuk organisasi sebagai wahana penkaderan yang dimaksudkan. Dari organisasi ini haruslah memperhatikan beberapa faktor baik faktor penggerak suksesnya sebuah pengkaderan dan faktor-faktor yang menjadikan gagalnya pengkaderan. Diantara faktor-faktor yang menjadikan gagalnya kaderisasi antara lain:

  1. Pelatih atau senior tidak memiliki kemampuan melatih
  2. Pelatih atau senior tidak memiliki kemauan melatih
  3. Tidak ada anggota atau kader untuk dilatih

Dari berbagai faktor-faktor ini perlu adanya penanggulanagn yang intensif supaya tujuan awal dari sebuah organisasi yang menitik beratkan sebuah kader akan terwujud.

  1. b.    Bagian kedua:

Mempertegas komitmen pondok pesntren untuk melakukan kaderisasi Ulama

Dimanakah organisasi yang kita percaya untuk mengemban amanat sebagai wadah pengkaderan seorang Ulama?. Pada bagian kedua, M. Ishom El Saha mendapuk pondok pesantenlah sebagai salah satu lembaga pendidikan yang menampung kader kader Ulama.

Salah satu misi utama penyelengaraan Pesantren sejak awal berdirinya ialah melakukan kegiatan kaderisasi keilmuan sebagai wujud kesadaran kolektif masyarakat islam dalam menghadapi perubahan zaman. Selain itu pondok Pesantren adalah lembaga tafaqquh fi al-din. Hal ini sesuai sekali dengan kreteria bagaimana seorang Ulama adalah orang yang luas kefahamannya dalam ilmu agama. Tak hanya itu, Ulama adalah panutan umat yang mampu mengaplikasikan ilmunya dalam kehidupan sehari-harinya. Dan di pondok Pesantren sangatlah kondusif sekali sebagai praktek dalam konsep berilmu dan bermasyarakat.

  1. c.    Bgian ketiga:

Dukungan pemerintah dalam melakukan kaderisasi Ulama Pesantren

mungkin akan lebih mudah apabila dalam pengkaderan ini dibantu oleh pemerintah. Seperti yang telah di canangkan oleh derektorat pendidikan Diniyah dan Pondok Pesantren depag RI sejak beberapa tahun lalu. Yaitu dengan mencanangkan program muadalah Pesantren.

Muadalah merupakan program penyetaraan dengan pendidikan pondok Pesantren dengan pendidikan formal setingkat Aliyah/SMA di dalam maupun di luar negeri. Dari program ini pondok Pesantren memperoleh asumsi yang besar dari pemerintah dalam hal kurikulum yang sesuai dengan ketetapan menteri penidikan, namun dari kurikulum ini depertemen agama tidak melunturkan kekhasan Pesantren. Hanya ada beberapa mata pelajaran yang wajib diajarkan dan disertakan dalam pendidikan Pesantren muadalah.

  1. d.    Bagian keempat:

Merencanakan kaderisasi Ulama

Pada bagian keempat dari buku yang ditulis oleh M. Ishom El Saha ini menjelaskan bagaimanakah merencanakan kaderisasi Ulama. Berawal dari siapa yang sepatutnya menjadi seorang panutan di mata umat. Diantara kader kader yang sudah ditatar dengan baik dalam ruang lingkup pondok Pesantren, ternyata kaderisasi yang baik lahir dari kepemimpinan yang baik pula. Menurut white, hudgson dan crainer pemimpin atau menejer adalah manusia-manusia super lebih dari yang lain, kuat, gigih, dan tahu segala sesuatu.

Dari bagian ini pula banayk sekali para ahli berpendapat dalam teori teorinya yang super dalam memberikan kreteria pada seorang pemimpin yang layak untuk menjadi panutan di masyarakat. Dan dari pendapat tersebut, apabila diperhatikan dapat dikategorikan sebagai teori kepemimpinan dengan sudut pandang personal-situasionaI karena pandangannya tidak hanya pada masalah situasi yang ada, tetapi juga dilihat interaksi antar individu maupun antar pemimpin dengan kelompoknya.

Dalam perencanaan dan pelaksanaan kaderisasi, ada beberapa tahapan yang harus diprogramkan kedepannya. Karena kaderisasi Ulama harus dilakukan secara terencana. Walaupun itu sangat tidak nampak sekali dalam perencanaanya. Diantara tahapan tahapan yang perlu dilakukan dalam pengkaderan tersebut adalah

  1. Mendalami potensi diri calon kader Ulama
  2. Menerapkan pendidikan mentoring
  3. Mengarahkan spesialisasi calon kader Ulama
  4. Mempertajam wawsan calon kader Ulama
  5. Mengadakan evaluasi secara teratur
  6. e.    Bagian kelima:

Desain kaderisasi Ulama: dari profesi kespesialisasi

Dalam melaksanakan kaderisasi Ulama, sangat diperlukan pengenalan realitas diri manusi dan diri sendiri. Pengenalan ini mencakup kesadaran subyektif dan kemampuan obyektif sebagai sebuah fungsi dialektis yang berlansung terus menerus dalam hubungannya dengan kenyataan. Sehingga dalam pengkaderan itu ada tiga unsur sekaligus dalam hubungan dialektisnya yang terus menerus. Tiga hal itu adalah pengajar, pelajar atau anak didik dan realitas dunia.

Setelah Itu Perlulah Metode yang berupa pelatihan, tekknik, cara penyajian, proses serta alat penunjang yang diramu sebagai perwujudan yang mutlak dilakukan dalam pengkaderan. Teknik tersebut dapat berupa ceramah (presentasi), diskusi kelompok, studi kasus, bermain peran, curah pendapat, sharing pengalaman,dan lain sebagainya.

  1. f.     Bagian contoh:

Program penguatan tradisi ke-Ulama-an untuk kader Ulama pondok Pesantren

Fungsi pondok Pesantren sebagai lembaga pendidikan Islam ialah sebagai pusat tafaqquh fi al din, dalam upaya mendidik dan mempersiapkan kader Ulama yang sangat dibutuhkan masyarakat. Namun, peran dan fungsi Ulama secara kuantitatif masih sangat terbatas jika dibandingkan dengan banayk dan derasnya problem-problem sosial yang muncul di tengah masyarak.

 Untuk menghadapi berbagai persoalan tersebut, perlu dilakukan berbagai upaya: pertama, perubahan paraigma keagamaan, dari model keberagamaan yang etis ke populis, dari keagamaan yang menekankan ritualistik ke berdimensi sosialistik, dari eksklusif ke inklusif. Kedua, perlu upaya regenerasi dan kaderisasi Ulama secara sistematis. ketiga, perlu ditingkatkan intensitas penyelenggaraan halaqah dan forum diskusi para kader Ulama dalam merespon dan memeberi solusi alternatif pada masalah-masalah yang berkembang di masyarakat.

Sehubungan dengan berbagai masalah di atas, maka dibuatlah program penguatan tradisi ke-Ulama-an untuk kader Ulama pondok Pesantren.

 BAB III

PENUTUP

  1. KESIMPULAN

Dari uraian singkat diatas dapat disimpulkan bahwa Ulama adalah pemimpin yang harus ada pewarisnya. Sehingga perlu adanya pengkaderan untuk mempersiapkan para kader peimpin dalam menghadapi permasalahan-permasalah yang timbul di masyarakat.

Pondok pesantren adalah salah satu lembaga yang memiliki misi kaderisasi ulama dalam fungsinya tafaqquh fi al din (spesialisasi keilmuan agama).

  1. DAFTAR PUSTAKA

 El saha M. Ishom, 2008, Manajemen Kaderissai Ulama. Jakarta: Transwacana

Masyhud M. Sulthon, dkk, 2088 Manajemen Pondok Pesantren.jakarta: Diva Pustaka

http://pusat-akademik.blogspot.com/2008/10/menulis-sinopsis-ikhtisar-dan-ringkasan.html

http://multi-sharing.blogspot.com/2011/11/reproduksi-karya-ilmiah.html

 

 

About iroelizzta

santai tapi pasti

Posted on 11 Maret 2012, in islam..... Bookmark the permalink. Tinggalkan komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: