Nasab, Nisab, Nasib Kampus Khozin

Tema diatas muncul dari kontemplasi panjang dalam benak penulis, karena mau tidak mau tiga elemen inilah yang menjadi sebuah bibit proses dan hasil pada sebuah entitas, apalagi ketika menerawang tentang sebuah kampus yang masih membutuhkan seabrek pengalaman, sistim atau metodolog  yang nantinya dibenturkan dengan dunia realita.
Dalam kesempatan kali ini penulis ingin menerawang perihal kondisi dan situasi dalam perjalanan kampus ini hingga pada saat ini. Sebelum menerawang lebih jauh, penulis akan menggunakan tiga terma (nasab, nisob dan nasib) sebagai pijakan awal untuk memakainya sebagai pisau analisis hingga nantinya sampai pada sebuah kongklusi.

1.      Asal-muasal atau Nasab kampus Khozin
Bila melihat proses munculnya  kampus ini, bisa dikatakan kampus ini mempunyai embrio yang positif dalam perkembang biakannya (STAISA). pandangan ini dibuktikan dengan adanya lulusan tahun pertama dan kedua mampu menembus ruang lingkup masyarakat luas semisal ada sudah menjadi dosen, Ketua Tsanawiyah dan Aliyah dan bahkan sudah masuk dalam sertifikasi. Kiprah mereka ini membuktikan bahwa lulusan dari kampus ini mempunyai peran penting dalam dunia kemasyarakatan.
Selain itu, kampus pertama ini muncul karena tuntutan masyarakat setempat sebagai wadah untuk pengembangan daya intelektual yang lebih tinggi walaupun tidak serta merta menafikan adanya legalisasi formal.
Dari racang bangun ini, kampus Khozinatul Ulum muncul dan berkembang dari nasab (keturunan) yang baik, artinya tumbuh perkembangannya memang benar-benar menjadi solusi terhadap problematika atau sebagai penambal kebutuhan masyarakat.

2.    Nisab (bagian)
Melihat perkembangan yang ada, kampus Khozinatul ulum mempunyai nisab (bagian) yang istimewa, karena dalam perkembangan selanjutnya ia mampu berdiri sendiri dan mengalami perubahan yang signifikan dengan mempunyai gedung sendiri dengan bangunan yang sangat megah selain itu juga mempunyai payung kuat dibawah lindungan yayasan al-Amin. Maka, bisa dikatakan nisab kampus ini sangat banyak, dan lebih dari cukup. Maka, jika melihat dari titik tolak ini, kemajuan dan kemundurannya tergantung kepada perhatian, pengaturan ataupun pengelolaan terhaddap nisab atau bagian yang diberikan kepadanya.

3.    Nasib
Setelah kita melihat nasab (asal muasal keturunan) kampus Khozinatul Ulum yang begitu cerah ,bisa dikatakan kampus ini mempunyai darah biru, selain itu bagian (nisab) yang diperoleh oleh kampus tersebut juga istimewa. Maka bisa dikatakan bahwa nasib yang diterima juga akan baik.
Namun, sebuah hasil tidak bisa hanya dilihat dari nasab dan nisobnya saja, tapi ada entitas lain yang mempengaruhi hingga nasib khozin tidak terlalu memperihatinkan.
Dari rancang bangun ini, yaitu untuk menggapai nasib yang baik, setidaknya ada ikhtiyar dari semua pihak lebih-lebih dari mahasiswa, dosen, atau jajaran atasan untuk  mencari solusi terhadap kendala-kendala yang berkembang.
Selain itu, perlu diciptakannya rasa memiliki terhadap kampus, sehingga ada usaha yang maksimal untuk memajukannya, kemudian perlu ditanamkannya disiplin waktu, sehingga komitmen belajar mengajar bisa tercipta. Dan akhirnya, nasib yang selama ini agak terasa memperihatinkan bisa berubah menjadi nasib yang membahagiakan.

About iroelizzta

santai tapi pasti

Posted on 7 Maret 2012, in pendidikan. Bookmark the permalink. Tinggalkan komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: