Maulid Nabi

Kita sering mendengar orang mengatakan ”Maulid Nabi”. Tetapi kenyataanya ada juga yang belum faham artinya. Maulid nabi ialah  hari kelahiran Rasulullah Muhammad SAW, yang dulu dilahirkan pada hari Senin 12 Robi’ul Awwal tahun 52 sebelum hijrah, bertepatan dengan tanggal  20 April 571 M. Kita sebagai ummat Muhammad harus merasa gembira dan senang atas kelahiran sosok manusia yang sempurna, yang membebaskan kita dari Zaman Jahiliyyah menuju Zaman Islamiyyah, dan yang nantinya akan memberi Syafa’at (Pertolongan) pada ummat seluruh dunia. Rasulullah adalah sang suri tauladan bagi kita semua, dan yang patut di contoh akhlaknya, di dalam kitab Al-Barzanji disebutkan bahwa Rasulullah mempunyai sifat pemalu, sifat tawadlu’, dan senang dengan fakir miskin. Rasulullah akan memenuhi undangan orang kaya maupun miskin, tidak menghina seseorang karena kemiskinannya, dan mau menjenguk orang yang sakit.
Sebagai ummat Rasulullah kita dianjurkan untuk memuliakan Maulid Nabi Muhammad SAW, seperti sabda Rasulullah yang berarti : “Barang siapa yang memuliakan hari kelahiranku, maka Aku akan memberi Syafa’at di hari Qiamat nanti”.
Dalam kitab Faraidlus Saniyyah karya KH. Sya’roni Ahmadi tercantum beberapa dalil yang menerangkan keutamaan memuliakan hari Kelahiran Rasulullah diantaranya dari Shahabat Abu Bakar As-Shiddiq berkata : “Barang siapa menafkahkan satu dirham dari hartanya untuk memuliakan hari kelahiran Rasulullah maka kelak Dia akan menjadi temanku di surga”. Dan dari Shahabat Umar Al-Faruq berkata : “Barang siapa memuliakan hari kelahiran Rasulullah maka sama juga Dia menghidupkan agama Islam”. Dan dari Shahabat Utsman bin Affan Dzun Nurain mengatakan bahwa : “Barang siapa yang menafkahkan satu dirham untuk membaca sejarah lahirnya Rasulullah, maka pahalanya seakan-akan ikut pada waktu terjadinya perang Badar dan Hunain”. Dan dan Shahabat Ali bin Abi Thalib mengatakan : “Barang siapa memuliakan hari kelahiran Rasulullah maka Dia tidak akan keluar dari dunia ini (meninggal) kecuali dengan membawa iman”. Dan dari Imam Syafi’I juga mengatakan : “Barang siapa yang mengumpulkan saudara-saudaranya untuk memuliakan hari lahirnya Rasulullah dan berbuat baik, maka Allah akan membangkitkan orang tersebut di hari qiyamat bersama para Shodiqin dan orang-orang yang Syahid dan orang-orang Sholeh dan orang tersebut akan dimasukkan kedalam Surga Na’im.
Sebagai wujud memulikan Rasulullah paling tidak kita membaca riwayat atau sejarah Rasulullah dengan khusyu’ dan dengan penuh penghayatan. Karena kandungan isinya seperti dalam kitab:  Simthud Durror, Al-Barzanji, Ad-Diba’, Burdah, dan lain-lain-nya itu terkandung makna-makna yang sangat indah, dan di dalamnya menerangkan sifat-sifat Nabi, sabda-sabda Nabi, tindakan-tindakan Nabi dan ketetapan Nabi. Selain itu juga mempunyai kadar sastra yang sangat tinggi. Dan paling tidak kalau kita mendengar nama nabi Muhammad disebut, sebaiknya kita membaca shalawat kepada beliau. Hal ini seperti dalam hadits Nabi dalam kitab Irsyadul ‘Ibad :
قَالَ رَسُوْلَ اللهِ صَلى الله عليه وسلم : مَنْ ذُكِرْتُ عِنْدَهُ فَلَمْ يُصَلِّى عَلَىَّ فَذالِكَ اَبْخَلُ النَّاسِ.
Artinya : “Barang siapa yang menyebut namaku (Rasulullah) didekat orang, maka orang tersebut tidak membaca shalawat kepadaku (Rasulullah) maka orang itu adalah arang yang paling bahil-bahilnya manusia”.
Hadits ini sudah jelas, bahwa nama Rasulullah itu memang benar-benar mulia, sampai-sampai dianjurkan untuk membaca shalawat.
Pada umumnya kaum muslim sekarang ini, khususnya para remaja sekarang, tidak tahu apa yang seharusnya mereka lakukan untuk memuliakan Nabi, terlebih-lebih ketika sejarah Rasulullah dilantunkan atau dibaca. Seperti sekarang, banyak orang-orang khususnya  remaja yang datang ke pengajian Maulid tidak untuk memuliakan Rasulullah, tapi malah untuk ajang mencari jodoh dan itu tidak disadari oleh mereka, apakah tidak malu dengan Rasulullah? Karena nantinya kita sebagai ummatnya akan dibanggakan di hari qiyamat nanti. Kalau kita masih punya malu, mulai dari sekarang kita benahi akhlak kita mulai dari sedikit demi sedikit, contoh-lah akhlak Rasulullah yang mulia dalam kehidupan kita sehari-hari.
Berdasarkan keterangan di atas tentunya kita sudah dapat memahami betapa besarnya hikmah yang kita dapatkan sebab memuliakan Rasulullah, dan betapa pentingnya hikmah itu untuk kita. Perlu diketahui bahwa hikmah yang kita dapatkan tidak hanya di dunia saja tapi di akhirat pun kita juga  mendapatkannya, asal kita benar-benar memuliakan Rasulullah dan meneladani sifat-sifat beliau.

About iroelizzta

santai tapi pasti

Posted on 7 Maret 2012, in artikelku. Bookmark the permalink. Tinggalkan komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: