KERINDUAN BUNGA PADA SI TANGKAI

KERINDUAN BUNGA PADA SI TANGKAI

Bunga itu saat aku bersamanya mampu diam tak bersuara
Mungkin karena seluruh tubuh ini menyaksikan
Entah, apa yang aku tahu bila tubuh ini tak disampingnya
Masih tak bersuarakah
Mungkin itu yang terjadi atau suara yang tiada henti
Akhirnya ku memang tak memahami
Membuatku lemah tiada arti
Hanya engkaulah yang berarti
Karena engkau mampu menemani disegala ruang waktu dan dimensi

Syair-syair yang tak beraturan tersebut bagi para pembaca atau pengamat tulisan, mungkin saat ditanya apa maksud dari bait itu? Yang ada pasti mempunyai kesimpulan dengan mengatakan bait ini telah menyimpan sebuah kisah percintaan atau dalam bahasa sederhana syair tentang glora pencinta merindukan cintanya kenapa tak kunjung datang. Kenapa tidak, bisa dibayangkan siapa yang mampu menemani disegala ruang waktu dan dimensi kalau bukan kerena ada cinta.
Bolehlah mereka mengatakan seperti itu karena memang penulis memiliki kesamaan dalam mengartikan bait tersebut dan itu merupakan hal yang wajar bagaimana bisa seperti itu, bisa jadi karena judulnya dan bisa juga katanya atau malah subtasi sebagian dari bait tersebut untuk mengatakan bahwa ini merupakan syair yang memiliki kisah tentang percintaan.
Senada dengan itu, sebelum para pembaca memiliki kesimpulan yang dangkal terkait bait tersebut,  marilah kita peran aktifkan kembali salah satu ilmu yang  membahasan tentang latar belakan sebuah masalah, dalam konteks mahasiswa prodi tafsir hadits pasti ilmu ini boleh dikata sudah menjadi makanan pokok sebab untuk mendapatkan pemahaman tak buram terhadap objek kajian tafsir hadits yaitu al-Qur`an dan Hadits ilmu ini tidak bisa dilupakan begitu saja yakni ilmu asbabul nuzul.
Tentu, dari sini pembaca sudah mulai bisa meraba-raba apa yang telah diharapkan oleh pengarang syair. Bukankah diterangkan bahwa ilmu asbabul nuzul merupakan ilmu yang menunjukkan hubungan dan dialektika antara nash (teks) dan realitas. Karena Asbab an-nuzul memberikan materi baru bagaimana peran teks dalam merespon realitas yang melingkupinya. Teks juga menjelaskan bagaimana ayat atau sejumlah ayat diturunkan ketika ada satu peristiwa khusus yang mengharuskan munculnya teks tersebut. Sangat sedikit ayat-ayat yang diturunkan tanpa ada sebab eksternal. Sehingga dalam memahami makna teks dituntut adanya pengetahuan awal tentang realitas yang memproduksi teks-teks tersebut hal inilah yang pernah dikemukan oleh Nasr Hamid Abu Zaid dalam bukunya Tekstualitas al-Qurán: Kritik Terhadap Ulumul Qurán.
Mungkin dari secuil gambaran diatas bisa kita tarik kedalam pusaaran syair tak beraturan itu dengan sebuah pertanyaan apakah teks syair tersebut termasuk golongan yang tak memiliki asbabul nuzul ataukah sebaliknya? Kerana dari awal penulis juga tidak memberikan penegasan bagi siapa saja yang mengatakan bahwa ia merupakan kisah percintaan dan itu bisa kita lihat melalui kata hal itu sudah wajar. Kalau boleh jujur kondisi ini sudah menjadi permainan penulis bagi para pembaca agar nantinya dalam memahami sebuah tulisan tidak terjadi yang namanya fatamorgana atau pemahaman yang buram.
Kemungkinan besar setiap teks penulisan pasti memiliki latar belakang, meskipun kita tahu bahwa dalam pembagian ilmu asbabul nuzul ada sebagian ayat al-Qur`an yang tak memiliki sebab tersebut. Namun, pada kenyatanya kebanyakan ia memiliki asbabul nuzul dari sinilah awal cerita bahwa teks syair tersebut juga memiliki latar belakang yang tidak bisa kita abaikan begitu saja. Kisah itu dimulai dari canda tawa antara para mahasiswa yang sekarang menjadi salah satu mahasiswa perguruan tinggi di kabupaten yang memiliki khas kuliner sate ayam masyarakat biasanya menyebutnya Blora.
Lokasi kampus tersebut bila dipandang dari tata ruang kota bisa dibilang cukup strategis dalam upaya pengembangan baik dalam hal pengembangan intelektual mahasiswa maupun pengembangan pasar. Karena faktor yang selama ini menjadi titik lemah dari pengembangan keduanya adalah akses yang tak mendukung, untuk saat ini kondisi tersebut sudah tidak lagi menjadi halangan karena akses sudah terjawab dengan berbagai potensi. Mungkin yang perlu kita lihat dan telaah kembali adalah kisah lanjutan dari canda tawa antar mahasiswa melalui alat hasil produk globalisasi yaitu pesan singkat sebut saja sms.
Dari lanjutan canda tawa tersebut penulis mendapatkan sebuah pengalaman yang harus segera mendapatkan pertolongan. Kenapa tidak, sebelum melangkah lebih jauh dalam upaya pengembangan kampus yang mulai jauh dari tahun berdirinya mulai tercium bau kelunturan atau keretakan ditiga elemen penting yang selama ini bau-membau untuk saling mengisi dan mewarnai dunia kampus kita.
Siapa saja ketiga elemen tersebut? Penulis tidak harus menyebutkan satu-persatu. Mungkin ini sudah mewakili perencanaan, pelaksanaan, dan pengawasan. Dari ketiga elemen tersebut terasa sudah mulai bartanya-tanya mau dibawa kemana kerinduan si bunga pada tangakai yang tak kunjung ada kejelasan baik terkait apapun kondisi kampus. Bunga di sini kalau melihat latar belakangnya biasa diposisikan sebagai mahasiswa yang meridukan kejelasan statusnya dan si tangkai sendiri adalah mereka yang bagi penulis memiliki kelebihan sekaligus perencanaan yang tidak bisa kita ragukan lagu kredibelitasnya.
Mungkin inilah saatnya semua melihat pesan singkat tersebut kerena ini bukan hanya satu-dua kali penulis terima dari sebagian mahasiswa, bila dihitung hingga tulisan ini terurai sudah sepuluh kali lebih. Meski teks yang digunakan tidaklah sama akan tetapi penulis memiliki keyakinan bahwa maksud dan tujuan mereka sama, pada menanyakan kejelasan status kedepanya atau harus menggantung seperti ini terus. Seperti ini pertanyaanya, kita itu kapan lulusnya ya, ada juga menanyakan kita itu kapan ya kknya kok malah mundur terus.
Padahal, hemat penulis tidaklah seharusnya pertanyaan itu keluar begitu saja dan lari entah kemana hingga tak punya muara untuk mengadu. Dari sanalah latar belakang munculnya teks syair tak beraturan tersebut. Penulispun tanpa sadar dengan segala kelemahnya, jemari-jemari yang tak seharusnya mengetahui menulis dengan tanpa aturan hingga membentuklah bait-bait syarir diatas. Mungkin karena sangking rindunya bunga-bunga (Mahasiswa) pada si tangkai yang seharusnya mengatakan saling mengisi dan mengevaluasi atau menyadari kondisi yang dialami oleh kampus kita adalah ibarat anak kecil yang baru beranjak jalan jadi sama-sama butuh yang namanya ketelatenan dalam upaya pengembangan.
Kalau boleh jujur penulis mempunyai gagasan yang tiada arti bagi siapa, akan tetapi bagi yang merasa membutuhkan ini cukup berarti. Untuk menempuh itu dibutuhkan yang namanya kesetaraan pemahaman terhadap kejelasan status kedepan elemen kampus, dengan jalan bagaimana? Dengan salah satu jalan yang memungkinkan untuk kita lakukan yaitu membuat sebuah forum yang didalamnya sama-sama memiliki pemahaman dan kesadaran maju atau mundurnya kampus baik dari segi pengembangan atau status mahasiswa itu bisa terwujud dengan adanya komitmen gotong royong dalam bahasa gaulnya terciptanya komunikasi yang tidak putus ditengah jalan alais kerinduan yang tak terobati.
Bukan berarti penulis merupakan satu-satunya orang yang memiliki kasadaran tersebut, akan tetapi di sini mencoba melihat dari aspek kondisi luar bukan kondisi dalamnya kerena dipicu dari keterbatasan cara pandang penulis yang tak lepas dari sebuah kelemahan. Nah, dari sedikit cerita kosong diatas dapat kita ambil sebuah pelajar dalam menyongsong masa depan bahwa kita tidak bisa begitu saja melupakan semboyan gotong royong untuk menjawab kerinduan yang tak kunjung terobati.

About iroelizzta

santai tapi pasti

Posted on 7 Maret 2012, in pendidikan. Bookmark the permalink. Tinggalkan komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: