Air Mata di Pinggiran Pasar

Air Mata di Pinggiran Pasar

Bekas-bekas lapak dagangan berserakan di sekitar bongkaran pasar. Papan,usuk,balok,serta bekas atap porak poranda tak tertentu arah. Gundukan-gundukan barangdagangn masih tercecer di setiap sudut bekas tempat jualan para pedagan. Puluhan aparat keamanan terlihat berlalu-lalang mengantisipasi agar tidak ada gerakan warga atau para pedagang maupun mahasiswa yang ingin menggagalkan pembongkaran pasar yang sudah dilegalkan atau diprogramkan pemerintahan setempat.
Sore itu suasana pasar sedikit lengang. Para aparat keamanan memanfaatkan waktu itu untuk santai dengan menyeruput kopi panas atau sekedar memakan bakwan sebagai ganjal perut . Mereka bersenda gurau denagn kawan-kawannya untuk mengusir kejenuhan setelah seharian penuh berjaga-jaga di area pasar.
Matahari mulai tenggelam. Sinar merahnya melukis sore yang indah itu. Debu-debu remukan dinding took berterbangan ketika serombongan truk yang mengangkut pasukan antihuru-hara melintas di area pasar. Perlahan-lahan rombongan truk itu pun berhenti kemudian pasukan doreng yang dilengkapi dengan senjata api berloncatan dari aas truk.
Tain, salah  satu penghuni pasar, berdiri mematung di bekas tempat berjulannya. Ia sebelumnya membereskan puing-puing tokonya yang masih berserakan. Ia kaget ketika melihat serombongan aparat keamanan memenuhi lokasi bongkaran pasar.
“Memangnya mereka akan perang kemana ? Zaman seperti ini masih ada tembak-tembakan aja,” kata Tain dalam hati.
Tain heran dengan pandangan yang ada di hadapanya. Ia tak percaya ada ratusan aparat keamanan datang ke lokasi pembongkaran pasardengan persenjataan lengkap.
“Untuk apa senata-senjata itu? Siapa yang akan ditembak?” gerutunya.
Tain hanyalah pedagang pakaian yang menempati area pasar itu sejak puluhan tahun yang lalu. Usahanya dirintis mulai dari nol. Dulu ketika ia membuka usahanya, lelaki berperawakan pendek dan sedikit gemuk ini meminjam uang dari dengan tempo selama lima tahun. Ia menggadaikan akta tanahnya sebagai jaminan. Seiring dengan perkembangan daerah dan semakin padatnya penduduk daerah itu,usaha Tain mengalami perkembangan yang sangat pesat. Ia mempunyai puluhan pelanggan dengan omzet perharinya mencapai tiga sampai empat juta. Disaat usahanya berada di masa kejayaan, munculah kabar aka nada relokasi pasar dari pasar tradisional ke pasar baru yang btelah dibangun oleh pemerintah.
Dingin merasuk ke dalam kios sangat terasa. Tain pun mengambil jaketnya yang tebal untuk mengusir udara dingin yang menggigil. Ia setiap hari harus memaki jaketnya untuk menghadapi musim dingin bulan itu. Sebotol air mineral ia minum agar membasahi tenggorokannya yang kering setelah berorasi di depan para pedagang yang lain.
Seorang pedagang mendatangi Tain yang sedang menyandarkan punggungnya di tumpukan karung yang berisi pakaian bekas dagangannya. Ia terengah-engah menyampaikan informasi penting kepada Tain.
“Mas Tain, besok pagi relokasi pasar akan dilaksanakan. Ini edarannya,” kata pedagang tersebut sambil menyodorkan selembar kertas yang berisi imbauan agar para pedagang segera meninggalkan dagangannya. Dalam edaran itu juga disebutkan bahwa para pedagang diberi waktu smapi hari besok untuk mengemasi dagangan dan membongkar lapaknya.
“Kita tetap bertahan di pasar ini! Kita lawan ketidakadilan ini!” teriak Tain yang diiyakan para oleh para pedagang.
Setelah tiba di rumah, ia menceritakan semua yang akan terjadi besok kepada anak satu-satunya yang bernama Wildan. Dan anaknya itu adalah seorang aktivis mahasiswa di kampus kota itu. Wildan langsung menghubungi teman-temannya untuk ikut berunjuk rasa di depan gedung DPRD. Teman-temannya pun siap dan membuat bermacam-macam slogan untuk berunjuk rasa.
Matahari mulai muncul. Sinar merahnya melukisi pagi yang berkabut. Awan tipis sedikit menodai pancaran suci matahari. Remang sunarnya sejenak menyuramkan masa depan usaha mereka. Sekitar lima puluhan mahasiswa mulai berjalan dari alun-alun kota ke gedung DPRD. Ratusan aparat keamanan pun menghalangi tekat mahasiswa itu di depan para anggota DPR yang mulai keluar dari kantornya.unjuk rasa para mahasiswa pun diusir dengan keras oleh para aparat itu, karena kalahnya jumlah mhasiswa dengan para aparat, akhirnya para mahasswa mundur dan berjalan menuju pasar. Dengan melewati alun-alun kota itu, para mahasiswa semakin semangat untuk mempertahankan pasar sebagai tulang punggung para pedagang dan untuk membantu para pedagang yang mulai dipenuhi rasa takut.
Baru dua jam mereka menjalankan aktivitas daganganya,tiba-tiba muncul puluhan truk yang mengangkut pasukan keamanan dengan persenjataan lengkap. Mereka berhamburan dari atas truk lalu mengusir para pedagang dengan bentakan-bentakan agar mereka segera meninggalkan dagangannya.
“Ayo bubar! Cepat tinggalkan tempat ini!Pasar kalian akan segera dibongkar!” serupara aparat keamanan.
Para mahasiswa mencoba menghalangi para aparat yang mulai memporak-porandakan isi pasar. Para mahasiswa kewalahan menghadapi aparat itu. Ada yang dipukul,diinjak, bahkan ada yang ditembak. Pasar pun penuh dengan warna merah, karena darah para mahasiswa yang mati dan terluka.
Para aparat tidak mempedulikan mereka yang mengiba. Pasukan antihuru-hara dan satpol PP yang ikut membantu penertiban pasar juga ikut beraksi. Mereka membabi buta menggulingkan lapak dan barang dagangan para penghuni pasar. Dan dalam sekejap para pedagang pun keluar dari area pasar dengan jerit histeris menolak pembongkaran pasar.
Lima kendaraan berat bergerak menembus lapak-lapak,kios-kios yang berjajar di pasar. Satu persatu roboh oleh serudukan moncong kuningnya. Kepulan membumbung ke angkasa setelah took-toko permanen yang terbuat dari beton dan ubin runtuh dan rata dengan tanah.
Linangan air mata para pedagang menetes di remukan lapak. Mereka memunguti sisa-sisa dagangan yang tersisa yang masih layak di jual.

Iklan

About iroelizzta

santai tapi pasti

Posted on 7 Maret 2012, in pendidikan. Bookmark the permalink. Tinggalkan komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: