keAsrian Kota Malang

HUBUNGAN ANTARA
MANUSIA DAN
BINATANG DI DAERAH
MALANG  oleh Paul David Murray
Kerjasama antara:
Sydney University
Universitas Muhammadiyah Malang
dan ACICIS

Malang 1998
ABSTRAKSI

Pendahuluan

“Terus terang, perlakuan yang diterima binatang yang ada di Indonesia sangat mengejutkan saya.” (turis)

Penelitian ini saya maksudkan supaya orang seperti saya dapat lebih memahami perlakuan terhadap binatang di Indonesia.

Topik ini saya gambarkan secara garis besar saja karena penggambaran yang lebih berbobot membutuhkan waktu yang lebih banyak.

Alasan-alasan saya untuk meneliti topik ini sebagai berikut :

Menurut pengalaman dan pengamatan saya, banyak binatang yang berada di Indonesia menerima perlakuan yang kejam dan memprihatinkan dari masyarakat Indonesia. Ini tidak berarti bahwa semua orang Indonesia sengaja mencari dan memperlakukan seekor binatang secara kejam, melainkan banyak orang kurang peduli pada keselamatan dan kesejahteraan binatang.

Selain itu, ada yang berpendapat bahwa perlakuan yang kejam terhadap binatang dapat mempengaruhi bagaimana seseorang akan memperlakukan orang lain.

Pandangan-pandangan tersebut dipengaruhi oleh apa yang saya lihat di Indonesia, misalnya, binatang dalam keadaan kesehatan yang parah. Selain itu, banyak burung yang ditangkap dan dimasukkan ke dalam sangkar kemudian diletakkan  di depan rumah atau toko pemilik burung.

Oleh karena pandangan tersebut, saya meneliti tentang apa yang mempengaruhi  manusia untuk memperlakukan binatang secara kejam dan secara baik. Hal tersebut termasuk dalam penjelasan-penjelasan di bawah ini :

•    Binatang dan Umpatan.
•    Binatang dan Islam.
•    Binatang dan Pertanda.
•    Pendapat Salah Satu Jagawana Gunung Bromo.
•    Pandangan-Pandangan Anggota Pencinta Alam (UnMuh) terhadap binatang.
•    Perlakuan Terhadap Burung.

Binatang dan umpatan

Banyak umpatan dalam bahasa Indonesia menggunakan perumpamaan dengan nama binatang. Saya memperoleh keterangan-keterangan ini dari daftar pertanyaan yang saya edarkan dan dari umpatan-umpatan seseorang yang saya dengar di jalan atau di tempat lain.
Saya tidak mengalami banyak masalah waktu mencari keterangan-keterangan tersebut, kecuali kadang-kadang remaja putri dan orang-orang tua merasa ragu untuk mengisi daftar pertanyaan tersebut.

Saya berikan beberapa contoh umpatan, sebagai berikut :

Kerbau

“Dasar kerbau, badanmu saja gede tapi tidak bisa bekerja!!”

Umpatan ini ditunjukkan pada seseorang yang malas bekerja. Selain itu, kata ini menggambarkan seseorang yang berbadan besar dan berpikir tolol, misalnya, waktu saya menonton pertarungan tinju antara Mike Tyson dan lawannya, Mike Tyson sering digambarkan oleh penontonnya sebagai seekor kerbau.

Monyet

“Monyet! Bawa motor sembarangan, memangnya jalan ini punya nenekmu.”

Umpatan ini dapat digunakan untuk orang yang bertindak secara sembarangan. Selain itu, umpatan tersebut juga digunakan untuk orang yang menjengkelkan kita.

Mengapa nama binatang digunakan sebagai umpatan?

Beberapa komentar sebagai berikut:

•    “Karena binatang lebih jelek daripada manusia.”

•    “Karena sifat atau tingkah laku mereka keterlaluan, tidak pantas dilakukan manusia. Sifat atau tingkah laku tersebut lebih pantas dilakukan binatang.”

•    “Sebab binatang adalah mahluk yang tidak punya akal.”

Setelah saya mewancarai banyak orang, ternyata sebagian besar orang berpendapat bahwa ada perbedaan yang besar antara binatang dan manusia, terutama dalam hal tingkah laku.
Oleh karena itu, penggunaan nama binatang sebagai umpatan sangat beralasan sekali  untuk digunakan sebagai kata-kata yang sangat menghina dalam bahasa Indonesia.

Dengan demikian dapat dikatakan bahwa penggunaan nama binatang sebagai umpatan membuktikan banyak binatang dianggap sebagai makhluk yang memiliki tingkah laku jelek dan tidak mempunyai akal.

Islam

Karena sebagian besar penduduk Indonesia memeluk agama Islam, maka ada kemungkinan ajaran agama Islam mempengaruhi perlakuan yang diterima oleh binatang. Misalnya, perlakuan terhadap anjing, babi, serta semut. Selain itu, ada peraturan mengenai makan daging dan penyembelihan binatang.

Salah satu contoh sebagai berikut:

“Diharamkan atas kamu (memakan bangkai, darah, daging babi, dan sesuatu yang disembelih bukan atas nama Allah, (hewan) yang tercekik, yang mati dipukul, yang mati terjatuh, yang mati tertanduk, dan yang diterkam binatang buas, kecuali yang (sempat) kamu menyembelihnya, dan (diharamkan juga) yang disembelih atas nama berhala; mengundi nasib dengan anak panah; demikian itu adalah fasik.”  S. Al MAA-IDAH: 3

Beberapa pendapat terhadap surat tersebut dapat mengakibatkan seseorang menghindari dan membenci babi atau hanya membenci daging babi.

Juga, semut ditandai sebagai pertanda gotong royong. Beberapa orang yang saya wawancarai menegaskan bahwa orang Islam yang sangat taat, tidak suka mematikan semut.

Jelas sekali bahwa pendapat atau perlakuan seseorang terhadap binatang dapat dipengaruhi oleh interpretasinya terhadap apa yang tertulis dalam Al Quran.
Binatang dan Pertanda

Sudah lama di daerah Malang ada hubungan antara binatang dan pertanda. Binatang dapat menandakan kesejahteraan, kekayaan, keuntungan dan sebagainya. Kadang-kadang pertanda tersebut dapat mempengaruhi perlakuan yang diterima oleh binatang.

Beberapa contoh sebagai berikut:

•    Angsa sering dipelihara oleh orang karena dianggap kepekaan angsa dapat merasakan pengaruh hantu dan pencuri yang ada di sekitarnya. Kalau angsa tersebut berbunyi tiada henti, maka orang mengetahui hantu atau pencuri mendekatinya. Oleh karena itu angsa menerima perlakuan yang baik karena angsa berharga dan berfungsi sebagai alat peringatan.

•    Dalam filsafat Jawa, kalau seorang laki-laki memiliki banyak turangga (kuda), maka dia dianggap menambah tahap kesempurnaannya dan mengangkat strata sosialnya.

•    Kalau seseorang digigit ular dalam mimpinya, maka ini menandakan orang yang tergigit dicintai oleh seseorang.

•    Kejatuhan cecak melambangkan membawa sial.

•    Kupu-kupu berada di dalam rumah melambangkan mendapat rejeki dan akan kedatangan tamu.

Selain contoh tersebut, teman saya memelihara dua ekor ikan Jengis Khan dan berbagai macam burung peliharaan yang digunakan untuk menarik kekayaan dan kesejahteraan. Menurut pengalaman teman saya, setelah dia membeli binatang ini dia menjadi lebih kaya. Karena itu, dia ingin membeli binatang seperti ini lagi.

Biasanya, binatang yang memiliki pertanda yang baik diperlakukan secara baik. Dapat dikatakan pula bahwa perlakuan terhadap binatang didasarkan pada kemampuan binatang itu. Misalnya, kemampuan untuk menarik kekayaan, kesejahteraan serta mengangkat strata sosial seseorang.

Jagawana Gunung Bromo

Arwoko adalah Jagawana berpengalaman yang sudah bertugas melindungi taman nasional Bromo selama 12 tahun. Dia berpengetahuan luas tentang manajemen binatang, turis, kebakaran, serta kehutanan.
Beberapa pernyataan yang telah dia berikan kepada saya, seperti :

•    Binatang yang berada di taman nasional Bromo dilindungi oleh undang-undang supaya binatang tersebut tidak dipunahkan. Akan tetapi kalau jumlah binatang sudah banyak sekali, maka binatang tersebut tidak harus dilindungi oleh undang-undang.
•    Kalau binatang tersebut ke luar dari kawasan yang telah ditentukan, maka undang-undang yang melindunginya tidak berlaku.
•    Undang-undang tersebut berdasarkan penelitian.
•    Hanya binatang seperti harimau dilindungi oleh undang-undang di luar batasan taman nasional.
•    Sedikit orang yang percaya pada binatang yang memiliki pertanda. Misalnya burung perkutut.

Undang-undang yang melindungi binatang yang ada di taman nasional, tidak memfokuskan perlindungan terhadap binatang secara keseluruhan. Binatang-binatang  ini hanya dilindungi oleh undang-undang kalau binatang tersebut tidak ke luar dari batas kawasan yang telah ditentukan. Kesimpulannya, ada batasan antara lingkungan manusia dengan lingkungan binatang dimana kedua lingkungan ini tidak boleh bersatu.

Pencinta Alam

Beberapa anggota tertarik pada Pencinta Alam Unmuh, karena:

•    Misi dan tujuannya untuk melestarikan alam.
•    Memenuhi keinginan untuk berpetualangan di alam bebas.
•    Memenuhi kebutuhan untuk bersosialisasi.
•    Karena kita bagian dari alam.
•    Karena kehidupan kita tidak terlepas dari alam.

Mereka semua berpendapat bahwa binatang langka harus dilindungi oleh undang-undang.

Juga, ada banyak orang yang berpendapat bahwa binatang yang tidak langka harus dilindungi oleh undang-undang karena:

•    “Binatang yang lain juga harus dilindungi dari perlakuan yang kejam, supaya binatang ini populasinya tidak menurun dan akhirnya menjadi binatang langka.”
•    “Karena binatang tersebut juga bermanfaat.”
•    “…harus tetap dijaga kelestarian binatang-binatang yang ada.”
•    “Pada dasarnya semua makhluk hidup yang ada di dunia punya hak hidup.”

Anggota-anggota tersebut, berpikir panjang bagaimana binatang harus diperlakukan secara sewajarnya oleh masyarakat. Selain itu, sebagian besar sudah memiliki pengetahuan tentang perlindungan terhadap binatang dan permasalahan yang melanda binatang.

Juga, anggota-anggota tersebut terlibat dalam program ekplorasi dan kampanye tentang perlindungan binatang. Misalnya, menyelamatkan burung elang Jawa dengan menjaga ekosistemnya.

Pada dasarnya, anggota-anggota tersebut lebih peduli pada binatang daripada orang awam.

Burung

Di Malang banyak orang memelihara burung sebagai hobi. Ada yang menyukai burung berwarna-warni dan ada yang menyukai burung yang sering berkicau. Selain itu, ada yang lebih suka pada burung yang memiliki simbol.

Pada tahun ini, krisis moneter yang melanda Indonesia mengakibatkan lebih banyak orang menganggap burung sebagai salah satu mata pencaharian. Dengan kata lain, harga seekor burung menjadi lebih tinggi dilihat dari warnanya atau bunyi kicauannya.

Krisis moneter ini juga mengakibatkan lebih banyak burung langka ditangkap dan dijual. Misalnya, burung elang Jawa.

Walaupun demikian, banyak pemilik burung sangat peduli pada burung peliharaannya. Sampai mereka merelakan uangnya hanya sekedar untuk dibelikan makanan untuk burung peliharaannya daripada membelikan makanan untuk istrinya.

Beberapa burung memiliki pertanda. Misalnya:
•    Burung perkutut yang dapat menarik kekayaan dan kesejahteraan.
•    Burung prenjak yang menandakan seseorang akan beruntung dan berhasil atau mereka akan kedatangan tamu.
•    Burung gagak yang menandakan kematian dan kesakitan.

Kadang-kadang pertanda yang dimiliki seekor burung dapat mempengaruhi perlakuan yang diterima oleh burung tersebut. Misalnya, burung gagak dibenci oleh orang yang percaya pada pertanda yang dimiliki oleh burung itu.

Dengan demikian, dampak dari krisis moneter ini juga telah banyak mempengaruhi sebagian manusia dalam memperlakukan binatang. Contohnya, dulu burung peliharaan seperti burung perkutut dipakai sebagai pertanda untuk menarik kekayaan dan kesejahteraan, tetapi pada saat krisis moneter melanda Indonesia maka sebagian orang lebih mementingkan untuk mendapatkan uang daripada memperhatikan burung sebagai pertanda.

Kesimpulan

Di daerah Malang ini saya menemukan bermacam-macam pendapat tentang binatang. Ada yang suka, tidak suka, benci atau tidak peduli pada binatang. Masing-masing pendapat tersebut dapat mempengaruhi perlakuan terhadap binatang secara kejam maupun secara baik.

Pendapat-pendapat tersebut dapat dipengaruhi oleh berbagai faktor, yaitu, kosa kata bahasa Indonesia yang digunakan dalam umpatan-umpatan, agama dan pertanda yang dimiliki oleh binatang tertentu.

Biasanya binatang yang menerima perlakuan yang baik dihargai oleh pemiliknya, misalnya, burung dan kuda. Namun, meskipun pemiliknya menghargai binatang peliharaannya dengan baik, burung yang dimasukkan ke dalam sangkar tidak dapat lagi terbang bebas seumur hidupnya dan kuda yang menarik kereta kadang-kadang menderita kelelahan dan kehausan.

Di samping itu, banyak perlakuan yang baik hanya  didasarkan atas kepentingan diri sendiri, misalnya, pemiliknya ingin mendapatkan uang, kekayaan, keamanan dan sebagainya. Oleh karena itu, kebanyakan orang yang memperlakukan binatang dengan baik lebih menyukai apa yang dapat dihasilkan oleh kemampuan binatang itu, misalnya, uang, kesejahteraan dan sebagainya. Apakah ini penghargaan terhadap binatang yang benar?

Dengan demikian, di daerah Malang ini terdapat bermacam-macam pendapat dan pandangan dari orang-orang yang saya wawancarai tentang binatang. Dimana  dapat mempengaruhi perlakuan yang akan diterima oleh binatang, misalnya, pendapat terhadap ajaran agama Islam, umpatan dan pertanda yang dimiliki oleh binatang tertentu. Yang jelas, kehidupan binatang di daerah Malang ini susah sekali.

KATA PENGANTAR

Tugas lapangan ini tidak seperti tugas lapangan biasa. Tugas lapangan ini adalah semacam sarana yang saya gunakan untuk memperlancar dan mengembangkan ketrampilan bahasa Indonesia saya.  Juga, pada waktu yang sama menambah pengetahuan saya terhadap kebudayaan Indonesia sehingga akan berkembang karena saya sering bergaul atau berwawancara dengan orang Indonesia.

DAFTAR ISI

BAB 1   : PENDAHULUAN                        Hal.3

BAB 2   : UMPATAN                                Hal.8

BAB 3   : ISLAM                                      Hal.17

BAB 4   : BINATANG DAN PERTANDA  Hal.26

BAB 5   : BEBERAPA WAWANCARA DENGAN
ORANG DI MALANG             Hal.30

BAB 6   : JAGAWANA GUNUNG BROMO
Hal.35
BAB 7   : PENCINTA ALAM                    Hal.39

BAB 8   : BURUNG                                  Hal.44

BAB 9   : KESIMPULAN                          Hal.48

BIBLIOGRAFI

LAMPIRAN

BAB 1
PENDAHULUAN

Latar Belakang

Saya akan mencoba menggambarkan topik ini secara garis besar karena penggambaran yang lebih berbobot membutuhkan lebih banyak waktu daripada yang saya miliki. Mudah-mudahan saya akan diberi kesempatan lain untuk meneliti lapangan lagi.

Saya bermaksud untuk meneliti topik ini supaya orang seperti saya dapat lebih memahami perlakuan terhadap binatang di Indonesia. Alasan-alasan saya sebagai berikut.

Menurut pengalaman saya, sebagian orang dari negara maju yang pernah tinggal atau berlibur di Indonesia berpendapat bahwa binatang yang berada di Indonesia menerima perlakuan yang kejam dan memprihatinkan dari masyarakat Indonesia. Ini tidak berarti semua orang Indonesia sengaja mencari dan memperlakukan seekor binatang secara kejam, tapi bahwa banyak orang kurang peduli pada keselamatan dan pesejahteraan binatang. Selain ini, orang yang prihatin ini berpendapat bahwa sebagian kecil orang Indonesia sama sekali tidak peduli pada perlindungan binatang. Pendapat orang tersebut mengakibatkannya berpikir bahwa sebagian penduduk di Indonesia adalah orang kejam. Di samping itu, ada orang dari negara maju yang berpendapat bahwa perlakuan yang kejam terhadap binatang dapat mempengaruhi bagaimana seseorang akan memperlakukan orang lain.

Pendapat-pendapat orang dari negara maju ini terpengaruh oleh apa yang dilihatnya waktu mereka berada di Indonesia. Anjing dan kucing, kedua-duanya sangat disayangi sebagian besar orang dari negara maju, dapat dilihat dalam keadaan kesehatan yang parah sekali. Kuda dan keledai terpaksa menarik kereta dan barang pada hari yang dilanda cuaca yang sama sekali tidak enak. Walaupun pekerjaan ini keras sekali pemiliknya kuda dan keledai ini kadang-kadang lupa memberikan makanan atau minuman pada binatangnya. Kelupaan ini mengakibatkan binatang yang ramah ini sangat menderita kelelahan. Juga, banyak burung yang indah disangkarkan orang Indonesia dan dipertunjukkan di depan rumah atau toko pemilik burung ini.

Banyak orang dari negara maju, termasuk saya, sering menghabiskan waktu membicarakan perlakuan yang diterima oleh binatang yang berada di Indonesia. Pada umumnya, orang Barat tidak dapat memahami mengapa sebagian binatang ini tidak diperlakukan secara baik. Oleh karena pandangan Barat tersebut saya akan memfokuskan perhatian saya pada perlakuan binatang (yaitu: bagaimana binatang diperlakukan oleh orang) di Malang. Indonesia adalah negara yang sangat luas dan besar, oleh karena itu lebih mudah kalau saya meneliti pendapat-pendapat orang yang berada di daerah Malang.

Saya berharap bahwa laporan ini akan dibaca oleh orang Barat yang berencana untuk berlibur atau tinggal di Indonesia supaya mereka mendapatkan pengertian yang lebih dalam terhadap topik tersebut.

Saya juga memiliki alasan-alasan pribadi untuk meneliti topik tersebut. Saya seseorang vegetaris (tidak makan daging) dan pencinta binatang. Oleh karena gaya hidup saya ini, saya butuh untuk mendapatkan pengertian dan pengetahuan yang lebih dalam mengenai perlakuan terhadap binatang di Indonesia. Saya berpendapat bahwa kalau saya dapat memahami mengapa binatang tersebut menerima perlakuan yang kejam ,maka perasaan frustrasi dan kemarahan saya akan dapat dilampiaskan karenanya.

Selain alasan-alasan tersebut saya akan meneliti pertanda-pertanda yang dimiliki oleh binatang. Bagi masyarakat Jawa banyak binatang memiliki arti khusus. Masing-masing mempunyai makna dan arti tersendiri. Setahu saya, arti dan makna tersebut ditandai dengan simbol binatang. Simbol-simbol tersebut dapat dikategorikan, yaitu, simbol kekuatan, simbol kesejahteraan, simbol kematian serta sakit dan simbol sosial. Setiap kategori simbol ini dapat ditemukan dalam lingkungan hidup orang-orang Malang hampir setiap hari.

Tujuan

Saya akan mencoba menggambarkan topik tersebut dari beberapa sisi, yaitu pengaruh dari agama, kosa kata bahasa Indonesia dan pertanda-pertanda lainnya. Selain itu saya akan mencoba menggambarkan pendapat umum secara garis besar tentang perlakuan terhadap berbagai jenis binatang dan apakah ini akan mempengaruhi perlakuan yang diterima oleh binatang tersebut.

Beberapa pertanda yang dimiliki oleh binatang tersebut menarik sekali, karena saya ingin mengetahui apakah pertanda-pertanda tersebut dapat mempengaruhi perlakuan yang diterima binatang. Misalnya, apakah seekor binatang yang menandakan kematian menerima perlakuan yang lebih kejam daripada perlakuan yang diterima seekor binatang yang menandakan kekayaan. Juga, saya tertarik pada sikap-sikap orang biasa terhadap binatang kesayangan dan undang-undang berlaku serta hak-hak binatang.

Metode

Keterangan akan dicari dengan melakukan pewawancaraan baik resmi maupun tidak resmi dan dengan quisioner. Sebagian besar orang yang diwawancarai atau mengisi quisionernya tinggal di Malang. Akan tetapi, ada yang berasal dari luar Jawa.

Halangan

Pada awalnya saya berencana untuk berpergian ke berbagai daerah di Jawa Timur dan Sulewesi Selatan untuk meneliti  tetapi karena ketidakamanan sosial, politik dan kerusuhan mahasiswa rencana tersebut tidak jadi.

Selain itu, saya menghadapi banyak orang yang menegaskan bahwa meneliti sikap terhadap binatang sama dengan membuang waktu. Mereka sama sekali tidak dapat memahami mengapa saya memilih topik tersebut.

Saya diejek oleh beberapa orang yang berpikir bahwa saya sombong karena pendapat saya terhadap binatang sangat berbeda daripada pendapat-pendapat biasa.

BAB 2
UMPATAN

UMPATAN DENGAN NAMA BINATANG

Banyak umpatan dalam bahasa Indonesia berdasarkan pada perumpamaan dengan nama binatang. Saya menemukan keterangan ini dengan menggunakan daftar pertanyaan yang saya sudah edarkan. Sekarang, banyak umpatan sudah saya ketahui karena saya sangat dibantu oleh pemuda laki-laki yang mengisi daftar pertanyaan tersebut dengan semangat. Juga, kalau saya mendengar umpatan yang digunakan seseorang di jalan atau di tempat lain, maka umpatan itu saya catatkan.

Harus dikatakan bahwa kadang-kadang seseorang dari kaum wanita, terutama yang remaja, tidak ingin membantu saya. Dia sangat tidak mau memberitahukan umpatan kepada saya. Akan tetapi, waktu teman perempuan saya menanyakan umpatan kepada orang yang malu ini, tiba-tiba dia mengingat banyak umpatan dan daftar pertanyaan tersebut diisinya. Juga, beberapa orang tua merasa ragu mengisi daftar pertanyaan tersebut juga. Sikap orang tersebut menunjukkan kekasaran kata-kata ini. Di samping itu, tindakan perempuan tersebut menunjukkan salah satu aspek kebudayaan Indonesia, yaitu banyak perempuan muda ini takut dianggap oleh orang lain sebagai gadis yang tidak sopan.

DAFTAR UMPATAN

ANJING

“Anjing kamu!!!”

“Anjing kau!!”

Umpatan ini digunakan untuk memaki orang yang betul-betul membuat kita marah, amat sangat marah.

TAHI KUCING

Pada waktu (23 Sept 1998) demontrasi terhadap penghapusan dwifungsi ABRI umpatan yang berasal dari orang Ambon ini diteriakkan seorang demonstran.  Artinya dan kasarnya umpatan ini hampir sama dengan umpatan “Anjing!” tetapi menurut pendapat banyak orang Malang umpatan “Tahi kucing!” tidak sekasar “Anjing!”. Saya tidak tahu apakah demonstran ini berasal dari Ambon atau dari tempat lain karena asalnya mahasiswa yang marah ini tidak jelas. Kalau demonstran tersebut berasal dari Ambon maksudnya membuat sensasi untuk menarik perhatian orang lain, tetapi kalau dia berasal dari pulau lain dia bermaksud untuk mengurangi ketidaksopannya supaya orang lain tidak terlalu banyak dijengkelkannya.

KERBAU

“Dasar kerbau, badanmu saja gede tapi tidak bisa bekerja!”

Umpatan ini ditunjukkan pada seseorang yang malas bekerja. Selain itu, kata ini menggambarkan seseorang yang berbadan besar dan berpikir tolol, misalnya, waktu saya menonton pertarungan tinju antara Mike Tyson dan lawannya, Mike Tyson sering digambarkan oleh penontonnya sebagai seekor kerbau.

MONYET

“Monyet! Bawa motor sembarangan, memangnya ini jalan punya nenekmu”

“Monyet orang itu!”

Umpatan ini dapat digunakan untuk orang yang bertindak secara semberangan. Selain itu, umpatan tersebut dapat digunakan untuk orang yang membuat kita jengkel.
Salah satu orang yang mengisi quisionernya menulis, “Ditujukan kepada orang yang tidak kita sukai atau yang membuat kita sakit hati atau kesal.”

BUAYA

“Kamu memang laki-laki buaya, selalu saja berganti-ganti cewek.”

“Kamu buaya darat dan laut.”

Umpatan ini digunakan untuk orang laki-laki yang pintar menggoda orang perempuan. Juga, orang laki-laki yang mempunyai, atau ingin mendapatkan, banyak pacar.

KELELAWAR
KALONG

“Kamu manusia atau kelelawar? Tiap malam kerjanya hanya ngelayap/ keluyuran/ begadang.”

“Kaya kalong aja lo (kamu).”

Ini digunakan untuk orang yang tidak tidur sampai larut malam. Orang seperti ini menghabiskan waktunya dengan jalan-jalan, begadang, minum kopi, dan sebagainya. Biasanya pada siang dan sore hari orang seperti ini beristirahat dan menyiapkan kegiatannya untuk malam mendatang.

BEBEK

“Hai Tina! Jalanmu seperti bebek.”

Kata ini digunakan sebagai baik umpatan maupun godaan. Biasanya, kata ini dianggap oleh perempuan sebagai umpatan. Kata tersebut tidak diterima oleh banyak perempuan dengan baik karena biasanya yang mengatakan umpatan ini adalah buaya amatir (lihat: Buaya) yang berkumpul di depan bioskop, warung kopi, dan sebagainya.

BURUNG HANTU

“Matamu seperti burung hantu!!”

Ini ditunjukkan pada seseorang yang melihat orang lain dengan mata tajam.

BABI

“Ooooo babi lu.”

“Dasar babi lu!!!”

Ini digunakan untuk orang yang rakus, menyebelkan dan sebagainya. Pada dasarnya umpatan ini ditunjukkan pada seseorang yang sangat menjengkelkan.

Mengapa banyak umpatan menggunakan perumpamaan dengan nama binatang?

Komentar yang diberikan sebagai berikut:

“Anggapan bahwa binatang lebih rendah dari manusia.”

“Binatang juga merupakan makhluk yang rendah karena tidak mempunyai akal budi seperti manusia.”

“Karena binatang lebih rendah daripada manusia, binatang seperti babi, anjing atau kutu (bangsat) dianggap binatang yang menjijikkan. Ada juga binatang yang biadab seperti buaya dan celeng (babi hutan).”

“Karena banyak sifat nama binatang yang bisa dijadikan sebagai sifat/tingkah laku manusia, dengan demikian orang dapat lebih mudah mengerti.”

“Karena prilaku mereka seperti binatang yang tidak punya perasaan tanpa memperhatikan keadaan dirinya di  sekitarnya.”

“Karena sebagian dari umpatan-umpatan tersebut menunjukkan sikap/sifat dan kelakuan dari orang-orang yang diberi umpatan tersebut, sama dengan binatang yang disebutkan.”

“Karena mungkin banyak dari binatang-binatang itu memiliki sifat-sifat yang untuk kita sebagai manusia, menimbulkan bermacam-macam rasa atau perasaan dari masing-masing binatang itu, seperti: rasa marah, kesal, rasa tidak senang, kecewa, putus asa dan segala macam rasa yang tidak atau sangat tidak menyenangkan bagi kita, sehingga kita mengeluarkan kata-kata atau umpatan itu untuk melampiaskan kekecewan atau kemarahan dan segala macam perasaan yang tidak menyenangkan kita.”

“Karena binatang lebih jelek dari pada manusia.”

“Karena umpatan itu digunakan jika dalam keadaan marah, sebel dan sebagainya, dan orang yang marah tidak peduli dengan kata-kata yang digunakan yang kebanyakan nama binatang.
Anggapan bahwa binatang lebih rendah dari manusia.”

“Karena sifat atau tingkah laku mereka keterlaluan, tidak pantas dilakukan manusia. Sifat atau tingkah laku tersebut lebih pantas dilakukan binatang.”

“Sebab binatang adalah makhluk yang tidak punya akal.”

Wawancara dengan Arek (umur 24 th, Orang Jawa) mengenai apakah pendapat-pendapat demikian dapat mempengaruhi perlakuan terhadap binatang?

Dia berpendapat bahwa umpatan-umpatan tersebut berhubungan dengan perlakuan yang diterima binatang. Selain itu, Arek berpikir bahwa banyak pengumpat memperlakukan binatang secara kejam karena pikirannya terpengaruh oleh penggunaan nama binatang ini sebagai umpatan. Dalam kata lain, kalau umpatan yang menggunakan perumpamaan dengan nama binatang adalah umpatan jelek, maka binatang itu jelek juga.

Arek juga berkata bahwa banyak orang berpendapat bahwa binatang adalah makhluk yang bodoh, tidak berguna, tidak dihargai, tidak memiliki otak bagus dan hanya dapat disuruh.
Akibatnya, menurut Arek adalah perlakuan binatang yang kejam terjadi di mana mana di Jawa Timur.

Selanjutnya diceritakannya tentang perlakuan binatang di desanya. Arek bercerita tentang anjing yang kadang-kadang disiram dengan bensin lalu dibakar oleh orang dari desanya. Kekejaman ini dianggap oleh orang ini hiburan bagus karena anjing tersebut menjadi bola api yang berlarian.

Waktu saya menanyakan anak-anak desa yang menyaksikan kekejaman ini dan apakah ini dapat mempengaruhi pertumbuhannya, dia menjawab pertumbuhannya akan dipengaruhi dan mereka akan menjadi orang dewasa yang lebih kejam terhadap binatang dan manusia.

Arek tidak malu mengakui masalah perlakuan terhadap binatang ini dan bahwa pandangan demikian adalah salah satu bagian kebudayaan Indonesia yang sulit sekali diubah.

KESIMPULAN

Komentar-komentar tersebut menggambarkan perbedaan besar antara binatang dan manusia. Menurut pendapat banyak orang ada tingkah laku yang pantas dilakukan manusia dan ada yang tidak pantas dilakukan manusia. Kalau kelakuan/sifat seseorang tidak pantas dilakukan manusia, maka ada kemungkinan orang itu akan dipanggil nama seekor binatang. Selain ini, hampir semua orang yang mengisi kuisionarnya berpendapat bahwa binatang-binatang adalah makhluk yang, lain daripada manusia, rendah dan tidak memiliki akal. Oleh karena pendapat tersebut banyak orang mengira penggunaan nama binatang sebagai umpatan beralasan. Sebab itu, nama binatang-binatang dianggap pantas digunakan sebagai kata-kata yang sangat menghina dalam bahasa Indonesia.

Dengan demikian dapat dikatakan penggunaan nama binatang sebagai umpatan membuktikan banyak binatang dianggap sebagai makhluk yang memiliki berbagai sikap yang jelek dan tidak mempunyai akal.

BAB 3
ISLAM

Pengantar

“Dihalalkan bagimu binatang ternak, kecuali yang akan dibacakan kepadamu (larangannya). Tidak dibolehkan berburu ketika kamu sedang ihram. Sesungguhnya Allah menetapkan hukum terhadap apa yang dihendaki-Nya.”
S.     AL MAA-IDAH: 1

Karena sebagian besar penduduk Indonesia memeluk agama Islam, maka ada kemungkinan ajaran agama Islam terhadap binatang pasti mempengaruhi perlakuan yang diterima oleh binatang. Perlakuan yang diterima oleh beberapa jenis binatang, misalnya, anjing, lebah, babi, serta semut terpengaruh ajaran agama Islam. Selain ini ada peraturan mengenai makanan daging dan penyembelihan binatang.

Al Quran

Di dalam buku kitab agama Islam ditulis aturan dan cerita tentang binatang, misalnya, aturan diet dan cerita tentang gajah. Beberapa lain sebagai berikut.

Sepanjang bulan suci ada peraturan mengenai perlakuan terhadap beberapa binatang tertentu, yaitu, binatang yang dihadiahkan kepada Ka’bah untuk mendekatkan diri kepada Allah, misalnya, unta, kambing dan biri-biri.

“……jangan melanggar (kehormatan) bulan-bulan haram, jangan (pula) bintang hadiah dan hewan yang diberi kalung…..”   S. AL MAA-IDAH: 2

Peraturan mengenai makanan juga ditulis di dalam Al Quran. Orang Islam dilarang makan daging babi dan daging dari binatang yang tidak dimatikan atau disembelih secara halal.

“Diharamkan atas kamu (memakan) bangkai, darah, daging babi, dan sesuatu yang disembelih bukan atas nama Allah, (hewan) yang tercekik, yang mati dipukul, yang mati terjatuh, yang mati tertanduk, dan yang diterkam binatang buas, kecuali yang (sempat) kamu menyembelihnya, dan (diharamkan juga) yang disembelih atas nama berhala; mengundi nasib dengan anak panah; demikian itu adalah fasik.”   S. AL MAA-IDAH: 3

Ada beberapa buku tentang babi yang diterbitkan. Salah satunya berjudul Babi Halal Babi Haram. Buku tersebut mencoba membuktikan babi adalah binatang yang kotor. Pengantar dalam buku tersebut berbunyi: “Dapat dipastikan bahwa babi adalah binatang yang paling kotor, karena hidupnya selalu berada di dalam lingkungan yang kotor, najis dan merupakan sarang penyakit. Anda tentu sering melihat babi berjalan di belakang ternak atau binatang lain untuk makan tahinya yang ditinggalkan. Lebih dari itu, babi gemar sekali makan bangkai tikus.” Sumber: Babi Halal Babi Haram oleh Abdurrahman Al Baghdadi

Jelas sekali bahwa sebagian besar kaum Islam sama sekali tidak menyukai Babi. Ini dapat mengakibatkan orang tersebut menghindari babi.

Saya diberitahu oleh banyak teman bahwa binatang tersebut yang disembelih oleh orang atas nama Allah harus disembelih secara cepat dengan menggunakan pisau yang sangat tajam supaya binatang tersebut tidak menderita. Walaupun binatang tersebut masih disembelih, cara penyembelihan tersebut menggambarkan orang-orang Islam  yang peduli pada binatang dan tidak menyukai melihat binatang menderita.

Walaupun orang tersebut peduli pada penderitaan binatang, banyak binatang diciptakan oleh Tuhan untuk digunakan oleh manusia.

“Dan Dia menciptakan binatang ternak untuk kamu, yang padanya menghangatkan (badan) dan beberapa manfaat, dan sebahagiannya kamu makan.”   S. AN NAHL: 5

“Dan(Dia ciptakan) kuda, bagal dan keledai untuk kamu mengendarainya dan sebagai perhiasan.”   S. AN NAHL: 8

“Dan Dialah yang menundukkan lautan supaya kamu dapat memakan daripadanya daging yang lembut, dan kamu keluarkan daripadanya perhiasan yang dapat kamu pakai……..”   S. AN NAHL: 14

Beberapa binatang lain diceritakan di Al Quran. Salah satu binatang tersebut adalah binatang lebah.

“Dan Tuhanmu mengilhamkan kepada lebah, “Buatlah rumah-rumah (sarang) di gunung-gunung dan di pohon-pohon dan dari apa yang dapat mereka jadikan atap,

kemudian makanlah bermacam-macam buah-buahan, maka laluilah jalan-jalan Tuhanmu dengan patuh.” Keluarlah dari perutnya minuman yang bermacam-macam warnanya, dan padanya obat bagi manusia……..”   S. AN NAHL: 68,69

Selain binatang tersebut surat AN-NAML bercerita tentang semut yang ditandai sebagai pertanda gotong royong. Banyak orang yang saya wawancarai menegaskan bahwa orang Islam yang sangat taat tidak suka mematikan semut karena cerita tersebut.

Juga surat AL-ANKABUT bercerita tentang sarang laba-laba sebagai berikut:

“Perumpamaan orang-orang yang menjadikan berhala-berhala menjadi pelindung yang diharapkan pertolongannya selain dari Allah, sama seperti laba-laba dengan sarangnya. Bahwasanya rumah-rumah yang paling rapih, adalah sarang laba-laba. Itupun kalau mereka mengerti.”  S. AL-ANKABUT: 41

Selain yang tersebut, ada cerita tentang seekor laba-laba yang membantu Muhammad s.a.w. bersembunyi di dalam gua. Katanya, Muhammad s.a.w. dikejar oleh orang kafir dan dia memasuki gua tersebut. Setelah dia masuk seekor laba-laba membuat sarang besar supaya orang kafir tersebut mengira tidak mungkin Muhammad s.a.w. dapat memasuki gua itu.

Binatang gajah diceritakan di dalam Al Quran juga.

“Apakah engkau tidak tahu, bagaimana Tuhanmu telah bertindak terhadap Pasukan Gajah?

Bukankah telah digagalkanNya rencana jahat mereka itu?

DikirimkanNya kawanan burung-burung kepada mereka.

Lalu kawanan burung-burung itu menghujani mereka dengan batu-batu dari tanah tembikar yang mengandung racun.

Lalu Dia menjadikan mereka seperti daun-daunan yang sudah musnah dimakan ulat.”  S. AL QURAISY: 1,2,3,4,5

Binatang anjing menandakan sesuatu dalam agama Islam juga. Menurut agama Islam orang Islam tidak boleh dikenai air liur anjing1 . Kalau dikenai, maka bagian tubuhnya yang terkena harus dicuci sebanyak tujuh kali dengan air dan pasir. Menurut banyak orang yang saya wawancarai ajaran agama ini dapat menimbulkan perasaan kejengkelan atau kebencian terhadap anjing.

Oleh karena itu perlakuan yang diterima anjing dapat dipengaruhi ajaran agama Islam karena banyak orang kurang semangat memperlakukan anjing dengan baik akibat ajaran tersebut. Selanjutnya, dapat dikatakan ajaran tersebut membuat anjing dianggap oleh orang Islam (yang taat) sebagai makhluk yang haram dan najis.

Beberapa pendapat

Walaupun ada satu Al Quran, ada bermacam-macam pendapat dari orang awam terhadap apa yang tertulis dalam Al Quran. Beberapa pendapat itu sebagai berikut.

Saya mewawancarai seorang Ibu kos yang menyukai anjing walaupun dia beragama Islam. Dia tidak mempunyai masalah dengan anjing asal anjing tersebut bersifat diam dan tidak selalu bermain-main.

Komentar dari Agus yang berumur 45 tahun, penjabat bank, sebagi berikut:
“Binatang sama dengan manusia yaitu ciptaan dari Tuhan, jadi perlakuan terhadap binatang tersebut tidak boleh kejam.”

Juga, lewat sarana lain saya menemukan pandangan lain. Waktu cemarah agama yang disiarkan di radio pada tanggal 26 Nopember 1998 seorang tokoh agama Islam memberikan nasihat yang berdasarkan pada adanya perbedaan besar antara manusia dan binatang. Dia menegaskan seorang ibu yang tidak merindukan anaknya bukan manusia. Selanjutnya dikatakannya ibu sedemikian itu sama dengan binatang.

Orang tersebut menggambarkan secara tidak langsung binatang sebagai makhluk yang sangat rendah dan tidak memiliki perasaan apa saja. Oleh karena itu dapat dikatakan salah satu pandangan Islam terhadap binatang menganggap binatang sebagai makhluk yang jauh lebih rendah daripada manusia.

Selain pandangan tersebut saya diberitahu pendapat-pendapat lain. Salah satu mahasiswa dari Universitas Muhammadiyah Malang yang saya wawancarai (Husein, 23th) menegaskan bahwa semua binatang harus kita perlakukan dengan baik karena semuanya diciptakan Tuhan.

Dikatakannya ajaran agama Islam mengenai diet dan bukan tentang perlakuan terhadap binatang. Menurut dia sebagian besar orang Malang berpendapat bahwa berberapa jenis binatang (terutama babi dan anjing) harus dibenci. Selain itu, dia menegaskan bahwa pandangan terhadap binatang ini diakibatkan oleh kesalahpahaman ajaran agama, misalnya hanya air liur anjing harus dihindari bukan binatangnya. Menurut dia ini harus diubah oleh penyadaran oleh tokoh-tokoh agama.

Kesimpulan

Dengan demikian dapat dikatakan bahwa dalam agama Islam berbagai jenis binatang bertanda, misalnya, anjing dapat menandakan makhluk yang haram dan najis dan semut dapat menandakan kegotongroyongan. Pertanda tersebut dapat mempengaruhi perlakuan yang diterima binatang tersebut, misalnya, menurut pengamatan saya kadang-kadang seekor anjing dilempari dengan batu atau dihindari oleh orang Islam. Di samping itu, saya diberitahu oleh teman bahwa orang Islam yang sangat taat tidak suka membunuh semut.

Selain itu, dapat dikatakan bahwa ada bermacam-macam pendapat terhadap binatang dan bahwa pendapat tersebut dapat mempengaruhi perlakuan yang diterima oleh binatang, misalnya, ada orang yang benci pada anjing dan ada orang Islam yang menyukai anjing, misalnya, Ibu kos tersebut yang saya wawancarai.

Juga, binatang seperti kuda, bagal dan keledai diciptakan untuk dikendarai oleh manusia. Ada kemungkinan perlakuan terhadap binatang tersebut terpengaruh oleh pernyataan tentang binatang tersebut yang ada di dalam Al Quran. Kalau pernyataan tersebut tidak ada, mungkin binatang ini tidak akan digunakan untuk menarik kereta dan sebagainya.

Selanjutnya, dapat dikatakan bahwa ada bermacam-macam pendapat terhadap ajaran agama Islam dan kadang-kadang pendapat tersebut dapat mempengaruhi perlakuan yang diterima oleh binatang.

BAB 4
BINATANG DAN PERTANDA

Pengantar

Sudah lama di daerah Malang ada hubungan antara binatang dan pertanda. Pertanda ini dapat mempengaruhi obat tradisional (jamu), kesejahteraan, kekayaan, keuntungan dan sebagainya. Oleh sebab ini perlakuan terhadap binatang yang bertanda dapat dipengaruhi oleh pertanda tersebut.

Pertanda-pertanda

Beberapa kepercayaan terhadap penggunaan binatang sebagai obat tradisional dapat mempengaruhi perlakuan yang diterima binatang. Misalnya, di berberapa toko jamu di Malang kita dapat melihat janin kidang yang terendam di cairan. Langganan dapat membeli dan minum cairan ini untuk menyembuhkan berbagai penyakit. Kalau langganan ini tidak mempunyai kepercayaan ini, maka ada kemungkinan besar janin kidang tersebut akan dilahirkan dan mumpunyai kehidupan biasa. Dengan demikian dapat dikatakan bahwa kehidupan janin kidang tersebut dapat dipengaruhi oleh kepercayaan terhadap jamu tersebut.

Selain pertanda tersebut, salah satu antara teman saya meletakkan sebuah patung kuda kecil di atas meja tulisnya. Ini menandakan kemajuan dan perkembangan perusahaannya. Dia sangat menyukai kuda dan berpendapat bahwa binatang ini seharusnya tidak boleh diperlakukukan secara kejam.

Selain ini, banyak orang mempercayai susu kuda liar sangat berkhasiat untuk penyembuhan segala penyakit dan kejantanan. Ada banyak iklan untuk susu ini di majalah-majalah seperti Liberty.

Di Jawa berada beberapa binatang yang menandakan sesuatau antara angsa, ular dan beberapa jenis burung  (lihat bab: Burung). Angsa sering dipelihara orang karena dianggap kepekaan angsa dapat merasakan pengaruh hantu dan pencuri yang ada di sekitarnya. Kalau angsa ini berbunyi tiada henti, maka orang mengetahui hantu atau pencuri mendekatinya. Oleh karena itu banyak angsa menerima perlakuan yang baik karena angsa itu berharga dan berfungsi sebagai alat peringatan. Sebaliknya, ular ditandai dengan kematian atau kesusahan. Menurut kebudayan Jawa ular selalu minta mati kalau masuk rumah karena ular sulit mati akibat selalu berganti kulit. Oleh karena ini ular dibenci dan menerima perlakuan yang kejam dari banyak orang.

Beberapa orang Jawa yang saya wawancarai menegaskan bahwa mereka membenci ular tanpa alasan. Mereka tidak tahu mengapa mereka memperlakukan ular secara kejam dan belum pernah ditanyai mengenai bagaimana mereka memperlakukan ular. Menurut pendapat saya, ada kemungkinan kebencian terhadap ular ini sudah menjadi kebiasaan budaya dan alasan budaya bersejarah sudah dilupai orang tersebut.

Selanjutnya, dalam filsafat Jawa, kalau seorang laki-laki memiliki banyak turangga (kuda), maka dapat dikatakan bahwa seorang laki-laki tersebut menambah kesempurnaan dan strata sosial seorang tersebut akan teringkat. Oleh karena ini masih ada orang laki-laki yang berduit yang menyukai memelihara turangga.

Di samping itu, ada banyak pertanda lain yang dapat mempengaruhi kehidupan sehari-hari orang Malang. Beberapa contoh sebagai berikut:

•    Kalau seseorang digigit ular dalam mimpinya, maka ini menandakan orang yang tergigit dicintai seseorang.
•    Kejatuhan cecak melambangkan membawa sial.
•    Kupu kupu berada di dalam rumah melambangkan mendapat rejeki.
•    Ikan Arwane melambangkan rejeki.

Walaupun ular dalam mimpi itu menandakan yang tergigit dicintai, sebagian besar orang yang saya wawancarai menegaskan bahwa mereka masih sama sekali tidak menyukai ular. Pertanda ini tidak mempengaruhi pendapat-pendapat terhadap ular. Tampaknya ular mimpi tidak sama dengan ular nyata.

Salah satu antara teman saya sependapat dengan orang tersebut. Dia memelihara dua ekor ikan Jengis Khan dan berbagai burung khususnya untuk menarik kekayaan dan kesejahteraan. Menurut pendapat teman saya ini setelah dia membeli binatang ini dia menjadi lebih kaya. Karena ini dia ingin membeli binatang seperti ini lagi.

Kesimpulan

Ada berberapa orang yang saya wawancarai yang menghargai binatang dan sangat mencintai binatang kesayangannya dengan baik. Juga, ada yang percaya pada pertanda-pertanda yang dimiliki oleh binatang dan memperlakukan binatang tersebut secara baik karenanya.

Akan tetapi, biasanya kalau seseorang mengatakan dirinya sendiri menghargai binatang, maka penghargaian itu biasanya berdasarkan apa yang dapat dihasilkan oleh penggunaan binatang itu, misalnya, seekor burung yang dapat menarik kesejahteraan secara mistik atau seekor kuda liar yang dapat membantu perkembangan perusahaan.

BAB 5
BEBERAPA WAWANCARA DENGAN ORANG DI MALANG

Wawancara dengan Sukarjo (35th)

Menurut pendapat Sukarjo sebagian besar orang Malang tidak memperlakukan binatang secara baik akibat mereka lebih beranggapan binatang sebagai barang daripada makhluk. Katanya, ini dapat mempengaruhi perlakuan yang diterima oleh binatang.

Lagi pula, dia menegaskan bahwa sebagian besar orang berpendapat bahwa ada perbedaan yang sangat besar antara manusia dan binatang sampai binatang tidak dihargai oleh orang. Menurut dia, kalau seekor binatang yang sakit sekali berada di pinggir jalan, maka ada kemungkinan besar binatang itu akan diabaikan oleh orang dan tidak dibantu karena binatang dianggap sebagai makhluk yang rendah. Menurut dia pendapat terhadap binatang ini adalah salah satu bagian kebudayaan Malang.

Sebaliknya, dia menegaskan bahwa binatang yang menandakan sesuatu yang baik, misalnya seekor burung Perkutut (lihat bab: Burung) yang dapat menarik kesejahteraan, akan menerima perlakuan yang baik supaya orang yang dekat burung itu akan mendapatkan kesejahteraan. Dia berkata bahwa burung tersebut sangat dihargai oleh banyak orang dan selalu diperlakukan dengan baik. Pendapat-pendapat terhadap binatang seperti ini, menurut Sukarjo, mengakibatkan satu-satunya perlindungan  yang akan diberikan ke pada binatang.

Selain ini, waktu saya bertanya apakah dia berpendapat bahwa anak yang memperlakukan binatang secara kejam akan menjadi dewasa yang memperlakukan orang lain secara kejam karena anak tersebut menjadi terbiasa dengan kekejaman, dia menjawab bahwa isterinya takut sekali tinggal di Indonesia. Maksudnya tidak begitu jelas dan dia tidak mau terus-menerus menjawab pertanyaan seperti ini.

Wawancara dengan Agus (42th)

“Semua orang punya alasan tersendiri.”

Agus menegaskan bahwa dia sangat benci pada kucing karena dia berpendapat bahwa kucing adalah binatang kotor yang mengotorkan lingkungan manusia. Selain ini, Agus menegaskan bahwa kucing terlalu banyak melahirkan anak kucing. Ini membuat Agus merasa frustrasi.

Kalau dia melihat seekor kucing di jalan dia melampiaskan frustrasinya dengan melemparkan batu ke pada kucing tersebut.

Wawancara dengan Endang (21th)

Orang muda ini menegaskan bahwa sebagian besar orang menyukai binatang tetapi tidak sebanyak orang dari orang Barat. Oleh karena ini, orang tersebut tidak begitu rela mengobati binatang yang sakit.

Sebaliknya, dia bercerita tentang orang kaya yang mempunyai kebun binatang pribadi. Kata Endang, orang kaya tersebut selalu memperlakukan binatangnya dengan baik.

Dia perpendapat bahwa banyak burung ditembak oleh orang yang mencari makanan.

Selain ini, dia menegaskan bahwa kalau seekor binatang menandakan sesuatu, pertanda ini dapat mempengaruhi perlakuan yang diterima binatang tersebut. Misalnya, seekor binatang yang menandakan kekayaan akan menerima perlakuan yang baik dari orang yang percaya pada pertanda tersebut.

Juga, dia berpendapat semua binatang harus dilindungi oleh undang-undang. Akan tetapi, menurut Endang ini akan menimbulkan kesadaran terhadap perlakuan binatang hanya kalau undang-undang tersebut dilaksanakan oleh pemerintah dengan tegas.

Beberapa komentar yang diberikan oleh orang lain sebagai berikut:

•    “Semua hewan yang hidup di alam ini harus dilindungi asal saja hewan tersebut tidak merugikan orang atau penduduk di sekitarnya.”

•    “Ada sebagian orang yang menjadikan binatang sebagai mata pencaharian, sebagai alat untuk mencari uang.”

•    “Banyak orang menuruti hobinya memburu binatang sekedar dibunuh.”

•    “Kadang-kadang binatang menjengkelkan dan merusak lingkungan.”

•    “Sifat manusia sendiri yang sangat kejam.”

•    “Kambing dan sapi adalah hewan yang menguntungkan manusia.”

BAB 6
JAGAWANA GUNUNG BROMO

Wawancara dengan Arwoko, Jagawana, Tengger Laut Pasir, Bromo.

Latar Belakang

Arwoko adalah Jagawana berpengalaman yang sudah bertugas melindungi taman nasional Bromo selama 12 tahun. Dia berpengetahuan tentang manajemen binatang, turis, kebakaran dan kehutanan.

Setiap hari dia harus menjaga kawasan tertentunya supaya tidak ada masalah di sana. Tugas ini termasuk menangkap pemburu gelap dan pencuri kayu, mematikan kebakaran dan menjaga turis supaya turis dan binatang yang ada tidak saling melukai.

Apa Yang Dikatakannya

Dikatakan Arwoko binatang yang berada di taman nasional Bromo dilindungi oleh undang-undang supaya binatang tersebut tidak dipunahkan. Akan tetapi, kalau jumlah ekor seekor binatang sudah banyak sekali, maka binatang tersebut tidak harus dilindungi oleh undang-undang.

Salah satu jenis binatang yang dilindungi adalah Kera Hitam. Akan tetapi, kalau binatang tersebut ke luar kawasan tertentu, maka undang-undang yang melindunginya tidak berlaku. Orang yang melukai atau mematikan kera ini di luar kawasan tertentunya tidak akan dihukum oleh pemerintah. Dikatakannya hanya binatang seperti harimau dilindungi oleh undang-undang di luar batasan taman nasional.

Juga, dia menambahkan, undang-undang tersebut berdasarkan penelitian dan sama sekali tidak terpengaruh oleh kepercayaan sebagian masyarakat terhadap binatang yang bertanda.

Selain itu, Arwoko menegaskan bahwa tidak ada banyak orang yang percaya pada binatang yang bertanda. Menurut dia 1 orang antara 1000 orang percaya pada binatang yang bertanda. Dia juga berpendapat bahwa tidak ada hubungan antara pertanda yang berdasarkan binatang dan perlakuan yang diterima binatang itu.

Menurut Arwoko sebagian besar binatang yang ada di taman nasional Bromo menerima perlakuan yang baik dari orang lokal karena mereka sadar tentang binatang, taman nasional Bromo dan kepentingannya. Juga, orang lokal tersebut menyadari banyak turis mengeluarkan banyak uang di daerah itu dan kalau banyak binatang dimatikan, maka jumlah pengunjung ke sana akan menurun.

Dia menegaskan bahwa kadang-kadang seseorang memperlakukan binatang secara kejam karena orang tersebut dijengkelkan oleh tindakan binatang, misalnya orang tersebut digigit atau diejar oleh seekor binatang. Biasanya binatang yang menerima perlakuan yang kejam ini adalah anjing, kucing, kambing dan sebagainya. Binatang ini tidak dilindungi oleh undang-undang dan menurut Arwoko tidak harus dilindungi karena binatang tersebut tidak begitu penting. Kalau seseorang mau memperlakukan binatang yang tidak dilindungi ini secara kejam sekehendak hati mereka, perlakuan yang sekejam ini tidak mendapat perhatian khusus dari pemerintah karena perlakuan terhadap binatang tersebut  sangat tergantung pemiliknya. Menurut Arwoko hanya binatang langka yang harus dilindungi karena binatang langka betul-betul bernilai.

Kesimpulan

Jagawana yang berpengalaman ini berpendapat bahwa tidak ada hubungan antara pertanda yang dimiliki seekor binatang dan perlakuan yang diterima binatang tersebut. Sebenarnya, banyak orang biasa yang sudah saya wawancarai menegaskan bahwa kadang-kadang perlakuan binatang berhubungan dengan pertanda-pertanda yang  dimiliki binatang.

Pernyataan Arwoko tersebut tidak menggambarkan pendapat-pendapat umum secara sebenarnya. Saya sudah menemukan banyak pendapat yang bertentangan dengan pernyataan Arwoko. Ini menggambarkan orang yang bertugas di sana sebagai orang yang tidak memahami pendapat-pendapat orang biasa.

Undang-undang yang melindungi binatang yang ada di taman nasional tidak memfokuskan perlindungan pada binatang tersebut secara total. Binatang ini hanya dilindungi oleh undang-undang kalau binatang tersebut tidak ke luar batasan kawasan tertentu. Ini mencerminkan pendapat-pendapat orang berpendidikan yang saya wawancarai. Orang berpendidikan ini berpendapat bahwa binatang harus dilindungi oleh undang-undang asal binatang tersebut tidak menggangu manusia atau masuk tempat di mana banyak orang berada. Rupanya, ada lingkungan manusia dan ada lingkungan binatang dan kedua lingkungan ini tidak dapat bersatu.

BAB 7
PENCINTA ALAM

Latar belakang

Anggota Pencinta Alam menyukai melakukan olah raga dan kegiatan yang termasuk lingkungan alam, misalnya, bertenda, bertualang dan pendakian gunung.

Saya membagi-bagikan kuisoner kepada anggota Pencinta Alam di Universitas Muhammadiyah Malang untuk mengetahui pendapat-pendapat anggotanya terhadap salah satu bagian lingkungan alam, yaitu binatang. Ketuanya senang sekali pada penelitian terhadap binatang dan menegaskan bahwa jarang ada seseorang yang mau meneliti sikap-sikap terhadap binatang karena kebanyakan orang Indonesia kurang mengetahui secara dalam tentang binatang.

Keterangan yang ditemukan

Menurut kuisioner yang dikembalikan banyak anggota tertarik pada Pencinta Alam karena:

•    Misinya atau tujuannya untuk melestarikan alam.
•    Memenuhi keinginan untuk bertualang.
•    Memenuhi kebutuhan untuk bersosialisasi.
•    Karena kita bagian dari alam.
•    Karena kehidupan kita tidak terlepas dari alam.

Mengenai binatang langka mereka semua berpendapat bahwa binatang  ini harus dilindungi oleh undang-undang agar binatang tersebut tidak dipunahkan oleh manusia.

Di damping itu, banyak yang berpendapat bahwa semua jenis binatang harus dilindungi oleh undang-undang. Beberapa pendapat sebagai berikut:

•    “Binatang yang lain juga harus dilindungi dari perlakuan yang kejam, supaya binatang ini populasinya tidak menurun dan akhirnya menjadi binatang langka.”
•    “Karena binatang tersebut juga bermanfaat.”
•    “Manusia bisa memanfaatkan binatang sesuai apa yang dibutuhkannya karena memang untuk itulah binatang diciptakan, tapi harus tetap dijaga kelestarian binatang binatang yang ada.”
•    “Tergantung cara hidup binatang tersebut.”
•    “Pada dasar semua makluk hidup yang ada di dunia punya hak hidup.”
•    “….kalau binatang semua itu diperlakukan kejam maka kemungkinan besar semua binatang akan punah.”

Sebagian besar anggota tersebut berpikir panjang terhadap binatang dan bagaimana binatang harus diperlakukan oleh masyarakat. Selain ini, sebagian besar menegaskan bahwa mereka sudah memiliki pengetahuan terhadap perlindungan binatang dan permasalahan yang melanda binatang. Misalnya, mereka sudah mengetahui bahwa binatang berperan penting dalam lingkungan alam dan kalau binatang tidak ada, maka rantai makan akan terputus.

Selain ini, ada yang berpendapat bahwa binatang bukan makhluk yang rendah kalau dilihat dari pandangan lain, misalnya, kalau binatang merupakan salah satu rantai makan dalam ekosistem tertentu, maka binatang tersebut merupakan makhluk yang tidak rendah karena mereka diperlukan untuk kelangsungan kehidupan dan alam di ekosistem tersebut. Beberapa anggota lain menyampaikan pendapat seperti ini juga, yaitu, kalau dilihat dari pandangan lain daripada pandangan manusia yang biasa, maka binatang bukan makhluk yang rendah.

Anggota Pencinta Alam tersebut juga terlibat dalam kegiatan perlindungan binatang. Salah satu anggotanya berkata bahwa setiap anggota Pencinta Alam baik langsung atau tidak langsung, terlibat dalam perlindungan terhadap binatang-binatang tersebut. Anggota-anggota tersebut terlibat dalam program ekplorasi dan kampanye tentang perlindungan tumbuh-tumbuhan dan binatang. Salah satu contoh adalah anggota Pencinta Alam tersebut berupaya untuk menyelamatkan burung elang jawa dengan menjaga ekosistemnya.

Akan tetapi, pada tanggal 17 dan 18 Oktober sebagian anggota Pencinta Alam tersebut berliburan di salah satu pantai selatan. Di sana, beberapa orang menangkap banyak kepiting kecil supaya anggota tersebut dapat mengadakan perlombaan kepiting di depan kantor Pencinta Alam di universitas. Ini mengakibatkan banyak kepiting tersebut dibawa ke Malang dan dimatikan pada saat lomba tersebut selesai.

Selain itu, ada yang berpendapat bahwa binatang adalah makhluk yang rendah. Beberapa komentar yang diberikan sebagai berikut.
•    “Binatang memang makhluk yang rendah, karena mereka hanya mempunyai insting tanpa otak dan perasaan.”
•    “Ya, karena tidak punya pikiran.”

Kesimpulan

Anggota Pencinta Alam lebih peduli pada perlindungan binatang daripada banyak orang awam lain. Mereka lebih mengetahui tentang binatang, kecuali yang berpendapat bahwa binatang tidak mempunyai pikiran atau otak. Juga, sebagian terlibat dalam kegiatan perlindungan binatang.

Akan tetapi, kadang beberapa anggota masih dapat memperlakukan binatang secara kejam, misalnya, kepiting tersebut. Mengapa begitu? Apakah apa yang dikatakannya retorik atau apakah mereka masih terpengaruh perilaku orang Indonesia lain? Yang jelas, kematian kepiting tersebut tidak sesuai dengan prinsip Pencinta Alam.

Walaupun ada yang masih memperlakukan binatang secara kejam sebagian besar peduli banyak pada binatang, lain daripada orang biasa.

BAB 8
BURUNG

Pengantar

Di Malang banyak orang memelihara burung sebagai hobi. Orang-orang tersebut mempunyai berbagai alasan untuk memelihara burung. Ada yang menyukai burung berwarna-warni dan ada yang menyukai burung yang sering berbunyi. Selain ini, ada orang yang lebih suka pada burung yang memiliki simbol, misalnya, burung perkutut.

Tentang Burung

Banyak pemilik burung menyukai memperlihatkan burungnya di depan rumah atau tokonya. Biasanya, pemilik burung sangat peduli pada burungnya. Burung tersebut disangkarkan di dalam sangkar yang indah dan dipertunjukkan di tempat yang bagus.

Salah satu tempat di mana burung dijual adalah Pasar Burung Malang. Di Pasar Burung Malang ada bermacam-macam jenis burung.  Di sana, burung yang mahal dan burung yang murah dapat dibeli. Biasanya, Harganya tergantung kwalitas burungnya dan banyaknya peminat masyarakat terhadap burung tersebut. Di bawah ini kami menyajikan beberapa harga 1 burung dari pasar burung Surabaya untuk Nopember sebagai berikut:

•    Hwa Mei jantan bakalan                  : Rp 100.000,-
•    Hwa Mei Betina bakalan                  : Rp 50.000,-
•    Poksay                                          : Rp 125.000,-
•    Kenari Holland jantan/betina             : Rp 400.000,-
•    Kenari Taiwan jantan                        : Rp 250.000,-
•    Kenari Taiwan betina                         : Rp 125.000,-
•    Black Throat Impor jantan                 : Rp 750.000,-
•    Black Throat Impor betina                 : Rp 200.000,-
•    Robin bakalan                                    : Rp 50.000,-
•    Sanma bakalan                                  : Rp 75.000,-
•    Cucakrowo bakalan                          : Rp 350.000,-
•    Murai batu Medan bakalan              : Rp 125.000,-
•    Punglor merah anakan                      : Rp 125.000,-
•    Punglor kembang bakalan               : Rp 350.000,-
•    Singing Finc                                         : Rp 500.000,-
•    Yelow Crown                                      : Rp 500.000,-

Saya diberitahu oleh orang di Pasar Burung Malang bahwa crisis moneter yang melanda Indonesia mengakibatkan lebih banyak orang menganggap burung sebagai salah satu mata pencaharian. Dalam kata lain, harga seekor burung menjadi lebih penting daripada warnanya atau bunyinya.

Ini mengakibatkan beberapa jenis burung yang langka ditangkap oleh pemburu. Sebagian pemburu tersebut adalah orang yang kurang mampu yang harus menjual burung ini supaya keluarganya mendapatkan uang untuk makanan. Salah satu contoh adalah burung elang Jawa (Spizaetus bartelsi) yang ditawarkan di Blok M, Jakarta Selatan. Diperkirakan hanya ada 250 sampai 300 ekor burung Jawa yang masih liar dan kalau burung tersebut tidak dilindungi oleh pemerintah dengan tegas maka akan dipunahkan.1

Walaupun demikian, banyak pemilik masih sangat peduli pada burungnya. Salah satu orang di Pasar Burung Malang menegaskan bahwa beberapa pemilik lebih peduli pada burungnya daripada isterinya. Katanya, kalau uangnya pemilik tersebut sedikit sekali, maka pemilik tersebut akan membelikan burungnya makanan daripada membelikan isterinya makanan.

Di damping ini, banyak orang suka pada burung yang memiliki simbol. Beberapa contoh sebagai berikut.

Burung perkutut dianggap oleh kebanyakan orang sebagai salah satu jenis burung yang paling bagus. Menurut kebanyakan orang burung tersebut dapat menarik kekayaan dan kesejahteraan. Telur dari juara perkutut dapat berharga  satu juta rupiah lebih. Selain ini, tersiar kabar angin bahwa seseorang menawarkan sebuah mobil BMW pada pemilik juara burung perkutut dan tawarannya ditolak oleh pemilik burung tersebut.

Burung prenjak menandakan seseorang akan beruntung dan berhasil atau mereka akan kedatangan tamu1 . Di daerah perdesaan kalau burung ini berbunyi berulang kali di depan sebuah rumah, maka pemilik rumah akan membersihkan rumahnya karena akan kedatangan tamu.

Sebaliknya, burung gagak menandakan kematian dan kesakitan2 . Kalau burung ini berbunyi dekat sebuah rumah, maka pemilik rumah itu akan takut dan sedih. Dia akan berdoa supaya tidak ada masalah.

Kesimpulan

Dengan demikian dapat dikatakan bahwa kadang-kadang perlakuan yang diterima burung terpengaruh oleh simbol yang dimiliki oleh burung itu.

Juga, dapat dikatakan bahwa pendapat-pendapat terhadap burung terpengaruh krisis moneter yang melanda Indonesia ini. Oleh karena itu, banyak burung dilihat sebagai barang berharga dan bukan sebagai burung yang indah, misalnya, burung elang Jawa.

BAB 9
Kesimpulan

Di daerah Malang ini saya menemukan bermacam-macam pendapat terhadap binatang. Ada yang suka, tidak suka, benci atau tidak peduli pada binatang. Masing-masing pendapat tersebut dapat mempengaruhi perlakuan terhadap binatang secara kejam maupun secara baik.

Pendapat-pendapat tersebut dapat dipengaruhi oleh berbagai faktor, yaitu, kosa kata bahasa Indonesia yang digunakan dalam umpatan-umpatan, agama dan pertanda yang dimiliki oleh binatang tertentu.

Biasanya binatang yang menerima perlakuan yang baik dihargai oleh pemiliknya, misalnya, burung dan kuda. Tetapi sebenarnya walaupun pemiliknya menghargai binatang yang dipeliharanya dengan baik, burung yang disangkarkan tidak dapat terbang bebas lagi seumur hidupnya dan kuda yang menarik kereta kuda kadang-kadang menderita kelelahan dan kehausan.

Di samping itu, banyak perlakuan yang baik hanya  berdasarkan atas kepentingan diri sendiri, misalnya, pemiliknya ingin menarik uang, kekayaan, keamanan dan sebagainya. Oleh karena itu dapat dikatakan kebanyakan orang yang memperlakukan binatang dengan baik karena lebih menyukai apa yang dapat dihasilkan oleh kemampuan binatang itu, misalnya, uang, kesejahteraan dan sebagainya. Apakah ini penghargaan yang benar?

Beberapa orang (termasuk Sukarjo dan Arek) menegaskan bahwa ada kemungkinan orang yang dibesarkan dalam lingkungan hidup yang kejam terhadap binatang dapat menjadi orang dewasa yang cenderung untuk memperlakukan orang lain secara kejam juga. Ini menimbulkan banyak pertanyaan, mengenai; apakah perlakuan terhadap binatang yang kejam dapat mempengaruhi hubungan antara manusia?

Juga, saya menemukan adanya hubungan antara beberapa pendapat orang yang saya wawancarai terhadap apa yang tertulis di dalam Al Quran dan perlakuan yang diterima oleh binatang.

Perlakuan terhadap binatang yang kejam yang terpengaruh oleh kosa kata bahasa Indonesia (misalnya umpatan) menimbulkan beberapa pertanyaan yang menarik. Misalnya, apakah lebih banyak binatang diperlakukan dengan baik kalau umpatan yang menggunakan perumpamaan dengan nama binatang diganti dengan umpatan yang lain?

BIBLIOGRAFI

•    “Babi Halal Babi Haram” oleh Abdurrahman Al Baghdadi.
Cetakan keempat Juli 1992. Penerbit: Gema Insana Press
Jakarta.

•     Makalah Binatang dan Pertanda oleh Arif Budi Wurianto.
Universitas Muhammadiyah Malang, Indonesia (1998).

•      “Fauna” No. 001/Desember 1998. Penerbit: Jawa Pos Media
Group. Percetakan: PT. Jawa Pos Percetakan Graha Pena
Jk. A.Yani 88 Surabaya.

•      Al Quran, Terjemah Indonesia. Penyusun: Drs. H.A. Nazri Adlany,
Drs. H. Hanafie Taman, Drs. H.A. Faruq Nasution.
Cetakan keduabelas. Penerbit: Sari Agung, Jakarta.

•      Al Quran, Terjemah Indonesia. Penyusun: Bachtiar Surin
Penerbit: Fa. SUMATRA, Jl. Kopo No. 67, Bandung.

LAMPIRAN

Daftar Umpatan

Contoh:
•    Umpatan : Sifat orang yang dipanggil dengan umpatan tersebut.
•    Bunglon : Pendiriannya tidak tetap.
•    Kera: Dia kurang ajar, sangat menjengkelkan.
•    Buaya: Pintar dalam segala hal (cinta).
•    Kelelawar/ kalong: Sering keluar pada malam hari.
•    Kancil: Pintar memperdaya orang.
•    Babi: Sangat menjengkelkan.
•    Udang (otak udang): Bodoh.
•    Ular (Mulut seperti ular berbisa): Sering memfitnah.
•    Monyet: Sangat menjengkelkan.
•    Lintah: Apabila orang tersebut mengambil keuntungan yang besar. Meminjamkan uang dengan bunga yang tinggi.
•    Ayam kampus : mahasiswi yang tidak bermoral, kampus pelacur.
•    Srigala: Suka makan temannya sendiri/ menjerumuskan temannya sendiri.
•    Jangkrik: Orang yang sangat menjengkelkan.
•    Tikus: Orang yang tidak pernah mandi/badannya bau.
•    Kuda liar: Terlalu genit.
•    Cacing (cacing kepanasan): Orang yang biasanya sedang bingung/gelisah.
•    Burung: Orang yang suka jalan-jalan ke sana ke mari.
•    Kerbau: Dia malas bekerja atau bodoh.
•    Babi hutan : Lalai/ Tidak disiplin.
•    Burung hantu (matanya seperti burung hantu): Melihat seseorang dengan mata yang tajam.
•    Anjing: Orang yang sangat menjengkelkan.
•    Kuda Cuki: Orang yang kurang ajar atau sangat menjengkelkan
•    Ular : Orang yang licik dan suka menjilat.
•    Kambing: Orang yang jorok atau tidak pernah mandi sehingga badannya bau sekali.
•    Kucing (“Seperti kucing kena siram kamu!”): Orang yang ketakutan karena terbukti bersalah.
•    Bangsat: Orang yang nakal atau membuat kita kecewa.
•    Celeng (babi hutan): Orang yang sangat menjengkelkan.
•    Kadal: Orang yang suka membohongi.
•    Badak (“Dasar muka badak”): Orang yang tidak mempunyai malu.
•    Singa edan: Orang yang sering marah.
•    Ikan kapap (“Dia playboy kelas kakap’): Seseorang yang berada.

Iklan

About iroelizzta

santai tapi pasti

Posted on 6 Maret 2012, in artikelku. Bookmark the permalink. Tinggalkan komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: