Sekolah Berbasis Hati


dari Scola Matterna

menuju Scola in Quanta Theis

 

Perlu waktu ribuan tahun untuk menggeser paradigma ‘scola matterna’ menjadi scola in loco parentis kemudian menjelma almamater. Alam pikiran Yunani Kuno memang sangat berpengaruh dalam banyak hal. Bahkan hingga abad Daulah Islamiah dan era renaissance – sebagai embrio zaman revolusi industri, ide-ide filsafat Yunani turut memberi warna.

Dalam hal konsep pelembagaan pendidikan, selain bangsa Cina di Timur, bangsa Yunani di Barat adalah komunitas-komunitas pertama dalam sejarah yang menggeser model scola matterna (pengasuhan ibu sampai usia tertentu) menjadi scola in loco parentis (lembaga tempat mendidik anak di luar rumah sebagai pengganti ibu) lalu akhirnya almamater.    Nah, sekolah-sekolah dan juga kampus-kampus modern saat ini umumnya sangat membanggakan almamater tersebut.

Pergeseran model dan modul yang kemudian menjadi sistem lembaga pendidikan memang terus berkembang dari zaman ke zaman. Kelahiran bentuk dasar sistem dan model lembaga pendidikan modern ternyata dibidani oleh konsep didactica magna Comenius dan model klasikal Pestalozzi. Oleh karena itu, di Eropa mulai abad 18 berkembanglah sistem pendidikan ‘sekolah’ yang menjadi embrio bagi model-model sekolah di seluruh penjuru dunia saat ini.

Sebelum model sekolah modern ala Eropa diperkenalkan, sebenarnya dunia Timur (Cina, Arab dan India) sudah memiliki sistem pendidikan yang mapan. Kalau Yunani memiliki Iycium dan Academia, maka Cina mempunyai sistem Biara, India mengembangkan Asrama, sedangkan dunia Islam (Arab) atas dasar ‘iqra’ ma’na bi qolbi’, diproses melalui candradimuka ‘Darul Arqom’ tak sampai 4 abad kemudian lahirlah Universitas Al Azhar. Konon Al Azhar ini pernah dinobatkan sebagai universitas tertua di dunia. Sistem pendidikannya banyak diadopsi oleh lembaga-lembaga pendidikan besar di Eropa selama berabad-abad. Maka siapakah yang seharusnya layak berbangga; Umat Islam ataukah manusia Barat?

Manusia; Mesin Berpikir?

Lembaga pendidikan, baik yang mengembangkan sistem iqra’ ma’na bi qolbi’ ala Islam maupun ma’na bi qori’ ala Barat, seharusnya mereproduksi dan menduplikasi proses pencerahan pemikiran. Dalam sejarah perkembangannya semenjak konsep didactica magna Comenius dan model klasikal Pestalozzi diperkenalkan, sistem pendidikan dunia terus-menerus dibimbing Barat ke arah modernitas. Pendekatan-pendekatan ilmiah yang berkembang dalam era ini tidak pernah beranjak dari sekat-sekat eksperimental-objektif, empiris, teoritis, kumulatif dan non-etis. Metode kualitatif dan kuantitatif dijaga ketat batasan-batasannya. Sedemikian rupa sehingga realitas sebuah gejala senantiasa dipahami dan dimaknai melalui ukuran dan kubus-kubus ilmiah yang diciptakan oleh logika inderawi yang sebenarnya juga sangat terbatas.

Maka peradaban modern sebenarnya adalah buah karya Barat yang menduplikasi dua kutub pemikiran bercorak materialistik; yaitu model dialektika historis-materialisme ala Marx yang mencita-citakan masyarakat komunis, dan logika materialisme-kapitalis ala Machiavelli yang mengarahkan dunia menuju masyarakat global-kapitalistik. Oleh sebab itu tidaklah terlalu menakjubkan bila ‘cogitu ergo sum’ (aku berpikir maka aku ada) pernah tergagas dari pemikiran seorang Rene Descartes – seraya menyusun analogi, bahwa bumi serta alam semesta hakikatnya hanyalah sebuah mesin raksasa dan manusia tak lebih dari seonggok mesin yang berpikir. Yang paling menakjubkan, adalah sistem pendidikan modern ternyata dibangun berdasarkan filosofi ini. Dunia adalah mesin raksasa dan manusia tidak lebih daripada seonggok mesin yang berpikir.

Mesin berpikir tersebut dibangun berdasarkan anasir-anasir objektivitas, eksperimentasi, empiris, teoritis, kumulatif, non-etis dan kuantitatif. Bahkan dia juga mereproduksi anasir-anasir tersebut sebagai out-putnya. Siklik-berputar-putar bagaikan ritual suku Dogon memuja bintang Sirius. Lantas, kalau manusia hanyalah seonggok mesin, maka dimanakah hati?

Madrasah; Sekolah Hati

Ya.. Sekolah Hati! Adakah sistem pendidikan untuk melatih kepekaan dan kecerdasan hati? Islam bersama komunitas ulul-albabnya harus membangun sebuah sistem pendidikan yang paripurna. Sebab manusia bukanlah seonggok mesin yang berpikir, dan bukan pula sekadar cogito ergo sum – apalagi homo homini lupus.

Sebagai sebuah realitas yang kompleks, manusia memiliki keajaiban-keajaiban, baik fisik, psikis maupun ruhaniah yang tak terperikan. Sebagaimana dinyatakan Liebniz, bahwa manusia adalah sebuah realitas yang penuh dengan monas-monas (potensi-potensi). Salah satu potensi itu adalah dorongan jiwa untuk mencari dan mengenal Tuhan. Al-Qur’an mengatakan “wa idzaa sa-alaka ‘ibadi ‘anni fainni qarib” (dan bila hamba-hambaKu bertanya kepadamu tentang Aku, maka jawablah bahwasannya Aku adalah dekat) – (QS. Al-Baqarah (2): 186).

Manusia yang berusaha mengenal dan mendekat kepada Allah, berarti dia sedang berjalan menuju kesempurnaan iman. Maka Islam mengenal konsep al-insan al-kamil (manusia yang dibekali potensi untuk menuju kesempurnaan). Sedemikian rupa sehingga sistem dan proses berpikir manusia tidak mungkin hanya dapat diuraikan melalui pendekatan IQ (Kecerdasan Intelegensia), EQ (Kecerdasan Emosional) dan SQ (Kecerdasan Spiritual). Ketiga ‘Q’ tersebut terlampau sempit untuk dapat menjangkau misteri keajaiban berpikir dan merasa. Karena ketiganya hanya beroperasi di wilayah otak (think) semata.

Ada sebuah proses – sebut saja ilham – yang tidak bisa secara persis dijelaskan melalui pendekatan berpikir objektif-empiris. Bahkan intuisi-spiritus sekalipun tidak mampu menjangkau. Perasaan-perasaan subjektif-afektifial semacam rasa cinta, empati, rasa ikhlas, rasa tenteram serta sejumlah perasaan bersifat subjektif terhadap eksistensi Tuhan, pada hakikatnya adalah sebuah realitas gejala yang secara artifisal hanya dapat dijelaskan melalui pendekatan yang bersifat ruhaniah.

Pendekatan bersifat ruhaniah ini hakikatnya bergerak dan berpusar pada domain quanta hati. Quanta hati selalu bergerak mengembangkan potensi-potensi kecerdasannya. Dalam terminologi al-Qur’an dikenal istilah aql (akal hati), shadr (kecermatan hati), fu’ad (kecerdasan hati), bashirah (matahati) dan lubb (inti hati). Guna mengolah potensi-potensi kecerdasan hati ini diperlukan sebuah proses riyadhah untuk menuju penyucian jiwa (tazkiyatun nafs). Metode dzikir perlu dikembangkan guna memperkuat daya vibrasi quanta hati agar peka menerima ilham dan ilmu. Metode ini dikenal sebagai Qalbun Quotient (QQ) atau Laduni Quotient (LQ).

Maka untuk mencapai sebuah proses pencerdasan yang paripurna tersebut, potensi hati harus tercerahkan kemudian terselamatkan (qalbun salim). Bila pendekatan IQ, EQ dan SQ ditempatkan pada posisi koordinatnya dan kemudian LQ menjadi pembimbingnya, maka sekolah berbasis hati akan terwujud. Secara operasional pendekatan sekolah berbasis hati ini mengarahkan gerakannya dalam pemberdayaan; 1. Proses riyadhah dan taqarub kepada Allah tanpa putus. 2. Gerakan quanta ikhlas tanpa putus. 3. Amal istiqamah tanpa putus. 4. Referensi keilmuan yang sahih. 5. Tadabur qauliah dan kauniah tanpa putus (menjiwai observasi empiris-ilmiah).

Maka bagaimanakah mengaplikasikan konsep tersebut dalam sistem pendidikan yang saat ini hanya berkumpar pada pemberdayaan potensi kecerdasan otak semata? Apakah sistem pendidikan modern bisa dikatakan berkarakter? Memang benar berkarakter, tetapi nir-ideologi alias tanpa isi dan tanpa azas. Karena yang dibangun hanyalah format-format dan wadah-wadah yang menjebak, bukan isinya. Pondok pesantren misalnya, sebagian sistemnya adalah warisan budaya Hindu-Budha (sistem asrama dan hirarki santri-kiayi = cantri-pandhita, dan lainnya) sebagai format wadahnya, namun contentnya adalah muatan berkarakteristik Islam. Akan tetapi sistem yang khas salaf ini kemudian berangsur menuju – atau ditambah – konsep Barat melalui model lembaga pendidikan formal klasikal Pestalozzi.

Alhasil, IQ, EQ, SQ, LQ, sekolah, scola matterna, pondok pesantren, santri, asrama, Hindu, Budha, dan akhirnya Islam! Lalu kapankah konsep scola matterna digeser oleh realitas ‘scola in quanta theis’ – sebuah sekolah yang berbasis energi religius, energi hati dan energi ketuhanan?

Ah.. gamangnya memandang sistem pendidikan kita saat ini!

About iroelizzta

santai tapi pasti

Posted on 4 Maret 2012, in artikelku. Bookmark the permalink. Tinggalkan komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: