Yang Muda Yang Berkarya, Masih Relevankah?

Beberapa hari terakhir menunjukkan perkembangan kasus korupsi di Indonesia semakin terang benderang. Kasus demi kasus mulai terungkap. Kita sebut saja Kasus Century, Wisma Atlet, Hambalang, Freeport, Tambang gas Cepu, Lapindo, dan banyak kasus lainnya. Aliran dana sebagai fee terhadap orang-orang yang memegang dan menentukan suatu kebijakan mulai terungkap di publik. Dan tidak sedikit dari kasus yang terungkap adalah seseorang yang usianya di bawah 50 tahun terlibat dalam kasus tersebut. Yang sudah masuk dalam proses hukum dan opini publik sebut saja beberapa wakil rakyat, oknum kepala daerah mulai terekspos. Mulai dari kasus korupsi sampai etika moral terungkap di media cetak dan elektronik. Kondisi ini dapat menyebabkan kemunduran bangsa dan dapat mengubur mimpi para pendiri bangsa ini, yaitu membangun bangsa indonesia yang kuat. Bukan bangsa yang lemah dan tidak memiliki kekuatan membangun masyarakat menjadi lebih baik.

Tidak sedikit pula orang yang usianya masih relativ muda memiliki segudang prestasi dan memberikan manfaat bagi diri, keluarga, masyarakat dan bangsa. Sebut saja Muhammad al-Fatih merupakan seorang sultan yang mementingkan kekuatan dalam dan luar para tentaranya. Mempunyai kepakaran dalam bidang ketentaraan, sains, matematik dan menguasai enam bahasa (bahasa Turki, Greek, Hebrew, Arab, Parsi dan Latin) pada ketika berumur 21 tahun. Dan dengan kepemimpinannya mampu menaklukkan kota konstantinopel.

Era Muhammad al-Fatih dan M. Nazaruddin tentu saja jauh berbeda. Persoalan mendasar adalah sistem kenegaraan yang diterapkan pada kedua orang tersebut. Eranya Nazaruddin, kasus korupsi dan suap begitu kental dalam mencapai tujuan. Istilahnya kalau suap tidak dilakukan maka tujuan yang diinginkan tidak akan tercapai, ataupun kalau tercapai akan banyak kesulitan yang terjadi. Seperti sudah menjadi ‘budaya’ dalam masyarakat, mulai dari kalangan pejabat, sampai masyarat biasa. Era Nazaruddin berada dalam sistem kapitalisme yang memang memelihara ‘budaya’ korupsi dan suap. Permasalahan seperti Nazaruddin tidak hanya terjadi sekarang, tetapi sejak perioda pemerintahan sebelumnya kejadian serupa sering terjadi. Ketika aparat yang mencakup kepolisian, kejaksaan, kehakiman, wakil rakyat, kepala daerah serta pengusaha terlibat dalam permasalahan korupsi dan suap, maka permasalahan korupsi di Indonesai tidak akan tuntas.

Solusinya bagaimana ?

Sebuah permasalahan apabila tidak menyelesaikan akar masalahnya, maka masalah itu tidak akan terselesaikan. Yang terjadi saat ini adalah baru menyentuh masalah cabang saja. Ketika seseorang dihukum penjara karena mencuri barang untuk sekedar makan tapi tidak diupayakan bagi orang tersebut untuk disediakan lapangan pekerjaan yang layak agar tidak mencuri lagi. Sehingga penjara semakin penuh dengan orang-orang yang melanggar hukum, tetapi kasus pencurian yang ada di masyarakat tidak berkurang. Belum lagi kasus-kasus yang lain.

Semestinya yang dilakukan adalah solusi yang menyeluruh dan bukanlah solusi parsial. Analoginya adalah ketika ada rumah yang bobrok dan pada musim hujan terjadi kebocoran, maka solusinya bukan mengganti genteng yang bocor. Karena itu tidak akan menyelesaikan masalah, tetapi solusinya adalah membangun ulang rumah yang bobrok itu dengan bangunan yang kuat. Begitu juga yang terjadi bagi masalah korupsi dan suap, selama penyelesaian kasusnya parsial maka sebenarnya akar masalahnya akan terus tumbuh dan berkembang. Harus dibangun sistem negara yang kuat dan kontrol dengan baik terhadap pengaturan masyarakat.

Iklan

About iroelizzta

santai tapi pasti

Posted on 2 Maret 2012, in artikelku. Bookmark the permalink. Tinggalkan komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: