Monthly Archives: Maret 2012

Hikmah Sholat

Hikmah Sholat Ditinjau Dari Segi Keagamaan  

A.Prolog

            Sholat merupakan ibadah yang sangat istimewa dalam islam.Perintah sholat yang diturunkan kepada Rosululloh saw dan umatnya berbeda dengan ibadah-ibadah lainnya.Perintah sholat diterima rosululloh saw dalam peristiwa isro’ mi’roj,ketika berhadapan langsung dengan Allah swt,pertemuan terjadi sepanjang masa.Dari sisi ini tidak terlalu mengherankan kalau seseorang yang selalu taat mendirikan sholat dengan sempurna,akan terjamin hidupnya,senantiasa bahagia dan tentram lahir batinnya.

            Begitu istimewanya ibadah sholat ini sampai-sampai ditegaskan dalam hadist rosululloh saw yang diriwayatkan oleh Naufal bin Muawiyah bahwa siapa saja yang luput satu kali saja dalam mengerjakan sholatnya diibaratkan dengan kehilangan seluruh keluarga dan harta bendanya.Berangkat dari sisi ini pula kiranya Sayyid Husain Nashir mengemukakan bahwa ritus uatama dalam agama islam adalah sholat yang akan mengintegrasikan kehidupan manusia ke dalam rukhaniyah,dan sholat inipun disebut tiang agama serta ibadah yang pertama kali ditimbang di akhirat kelak.Para ulama pun sepakat bahwasannya kewajiban islam yang paling penting setelah iman adalah sholat.

            Bagi ahli taqwa sholat ibarat surga Allah di buminya.Maka,siapa saja yang meninggalakn sholat ia tak dapat memasuki surga-Nya di akhirat kelak.Bagi ahli taqwa dalam sholatnya meraka dikasyafkan keadaan langit dan bumi serta rahasia-rahasia-Nya,sehingga tidak ada lagi fatamorgana  yang membius selain-Nya.Dunia beserta materi  pendukungnya ,tidak berarti sama sekali.Merka,para ahli taqwa tersebut yakin seyakin-yakinnya bahwasannya sholat adalah mutiara yang sangat berharga.Kekayaan ini hanya bisa dirasakan oleh hamba-hambanya yang dikaruniai kenikmatan dalam sholat.

B.Pembahasan

Hikmah Dibalik Perintah Sholat

 

            Banyak sekali hikmah yang disyariatkan dalam sholat.Sungguh beruntung hamba Allah yang dapat menangkap hikmah-hikmah tersebut,kemudian dijiwai secara menyeluruh dan diamalkan secara total.Diantara hikmah –hikmah tersebut antara lain :

1.Dapat Mencegah Perbuatan Keji dan Mungkar

            Sholat yang dilakukan secara ikhlas dan khusuk akan membuahkan perilaku yang baik dan terpuji  ,dan terjauhkan dari perbuatan keji dan mungkar .Allah saw berfirman “Sesungguhnya sholat itu dapat mencegah perbuatan keji mungkar .”(Qs .Al-ankabut [29]:45)

            Sholat bisa mencegah keji dan kemungkaranApa itu keji ?Keji adalah perbuatan-perbuatan universal yang ditolak oleh semua manusia di dunia.Dan kekejian itu bersifat nyata .Contoh segarnya adalah perzinaan.Bahkan,pezina pun tidak dapat menerima tindakan orang yang menzinai istrinya.Sholat,apabila dilakukan dengan penuh kesungguhan dan kekusyuan mampu mencegah seseorang melakukan kekejian seperti tersebut.Dan apa itu mungkar ? mungkar adalah kekejian yang sifatnya halus ,dan biasanya dibungkus dengan kepentingan kepentingan yang kelihatanya bukan kekejian (namun esensinya adalah kekejian ).Contoh segarnya adalah uang pelican untuk mempelancar segala urusan .Sepintas bukan merupakan kejahatan tapi hakikatnya bisa menjadi kejahatan   atau membuka kejahatan baru yang sulit untuk dihentikan [1]

            Tetapi,bagaimana jika tetap saja berbuat keji dan mungkar ,sementara ia rajin sholat ,berarti ia berarti ia belum ikhlas dan khusuyuk dalam mengerjakan sholat .Belum ada ketundukan yang total kepada sang pencipta ,belum dapat menghadirkan Allah dalam hatinya .Karena itulah perlu diperbaharui dan diperkokoh kembali dalam niatnya dalam menunaikan sholat.

2.Sebagai Sarana Memohon Pertolongan  

            Pada saat mengalami gangguan ,manusia membutuhkan sarana untuk mengatasi permasalahan .Sholat adalah salah satu sarana yang diberikan oleh Allah kepada hambanya yang beriman .Allah swt berfirman ,Jadiknanlah sabar dan sholat sebagai penolongmu.Dan sesungguhnya yang demikian itu sungguh berat,kecuali bnagi orang-orang yang khusuk.Yaitu orang-orang yang meyakini bahwa mereka akan menemui tuhannya,dan bahwa mereka akan kembali kepadanya.Qs.Al-Baqoroh (2:45-46).

3.Menjadikan Manusia Tangguh

            Sholat yang dilakukan dengan sungguh-sungguh dan penuh penghayatan dapat menjadikan manusia tangguh,tidak  kikir,dan tidak mudah berkeluh kesah.”Sesungguhnya manusia diciptakan bersifat keluh kesah lagi kikir.Apabila ditimpa kesusahan ia berkeluh kesah,kecuali orang-orang yang mengerjakan sholat,yang mereka itu konsisten mengerjakan sholatnya Qs.Al-Ma’arij(70:19-23)

4.Dapat Membersihkan Dosa

            Sholat dapat membersihkan dosa seseorang sebagaimana air membersihkan kotoran yang menempel pada badan kita.Ilustrasi yang sangat indah dib erikan oleh nabi saw.

            Sabda nabi, kalau didekat rumahmu ada sungai yang mengalir dan kamu mandi lima kali sehari,apakah masih ada kotoran yang menempel…? Para sahabta menjawab tentu saja tidak.Nabi melanjutkan,begitulah dengan sholat ia membersihkanmu dari dosa seperti mandi membersihkan kotoran.

            Dalam redaksi yang lain disebutkan “perumpamaan sholat lima waktu seperti sebuah sungai dekat pintu rumah seseorang yang airnya mengalir dan melimpah,dan ia mandi di sungai itu lima kali setiap hari (HR.Bukhori dan Muslim)

            Disimpulkan oleh Al-Ghozali bahwa bersuci tidak sekedar mencuci anggota badan,namun ada empat tahap yaitu:[2]

a.Membersihkan jasmani dari hadas dan najis

b.Membersihkan anggota badan dari kejahatan dari perbuatan dosa

c.Membersihkan hati dari akhlak tercela

d.Membersihkan batin dari selain Allah swt

5.Ditempatkan Pada Jaminan Atau Naungan Allah swt

            Konsep islam menyebutkan bahwa seseorang masuk surga bukan karena semata-mata amalnya,namun karena rahmat dari Allah swt.Dan masing –masing orang akan mempertanggung jawabkan apa yang ia lakukan di dunia.Satu sama lain tidak bisa saling membantu dan menjamin.Namun,Allah memberi sarana untuk memperoleh lindungan,yaitu amal sholeh,salah satunya adalah sholat.Ada tiga golongan manusia yang berada dibawah jaminan Allah swt  yaitu laki-laki yang keluar dari masjid  Allah,laki-laki yang keluar untuk berperang di jalan allah,dan laki-laki yang keluar untuk menunaikan haji.(Shoheh al-Jami’ dalam al-Qohthani,1998).

6.Membuat Hati Tenang

            Sholat sejatinya merupakan bentuk dzikir kepada Allah swt.Sebagai dzikir sholat dapat berfungsi mendatangkan ketenangan dan menghilangkan setres serta kecemasan.Allah swt berfirmanyaitu” orang-orang yang beriman dan hait mereka mmenjadi tentram dengan mengingat allah.Ingatlah,hanya dengan mengingat allah hati menjadi tentram (Qs. Ar-Ra’du [13] :28)

7.Dijauhkan Dari Neraka Saqar

            Salah satu cara terhindar dari neraka adalah mendirikan sholat,sebuah amal yang mumkin dianggap berat oleh manusia.Allah swt berfirman “ Apakah yang memasukkan kamu ke dalam neraka saqar…? Mereka menjawab: Kami dahulu tidak termasuk orang-orang yang mengerjakan sholat (QS.AL-Muddatstir [74] 42-43).

            Syariat sholat yang disampaikan oleh rosululloh saw kepada umatnya bukanlah amaliah yang ditujukan untuk membebani diri.Dengan kemuliyaannya mustahil beliau memerintahkan umatnya melakukan sesuatu yang tidak mebawa manfaat.Justru banyak hikmah dan pelajaran yang dapat kita ambil dari sholat , miulai dari tata cara kesempurnaan saat berwudlu ,mensucikan anggota tubuh,gerakan,membaca tasbih,sholawat dan doa dan hinggaa hasil proyeksi tingkat kekusyuan baik secara lahir maupun batin.

            Hal ini sekaligus akan meberikan pengertian kepada segenap kaum muslimin bahwa sholat adalah ibadah yang menjadi fondamen penting dalam islam(tiang agam). Yang meninggalkannya dianggap meruntuhkannya.

“Sholat itu tiang agama,barang siapa yang mendirikan sholat sesungguhnya ia telah mendirikan agama dan barang siapa meninggalkan sholat sungguh ia telah meruntuhkan agama.(HR.Baihaqi dari Umar Ra.).

            Dari uraian tersebut di atas sangat terasa betapa manfaat aqliyah maupun naqliyah dari sholat ini,dan untuk lebih menegaskan dan meyakinkan lagi penulis ingin mencontohkan hal ini dalam sholat tahajjud yaitu mukjizat-mukjizat dalam sholat tahajjud.

            Manfaat sholat tahajjud sudah dijelaskan dalam beberapa hadist rosululloh saw. Sebuah hadist dari Umar bin Khottob menjelaskan bahwa bagi mereka yang melakukan tahajjud di waktu malam dan khusyu’ dalam menjalankannya,allah akan memberikan Sembilan macam keistimewaan,yang lima macam diberikannya di dunia dan yang empat macam di berikannya di akhirat kelak.[3]

Lima keistimewaan di dunia antara lain:

  • Allah akan menjaganya dari bencana bencana
  • Tampak bekas ketaatannya di wajahnya
  • Ia akan disenangi oleh hamba-hamba yang sholeh bahkan oleh semua orang
  • Kata-katanya mengandung hikmah
  • Allah memberikannya rejeki kepahaman terhadap agam

Sedangkan empat keistimewaan yangh akan di dapatkan di akhirat kelak adalah:

  • Dibangkitkan dari kubur dengan wajah yang putih dan cemerlang
  • Dimudahkan baginya hisab
  • Berjalan di atas sirod atau jembatan di akhirat laksan kilat (bagai petir menyambar)
  • Diberikan kitab catatan amalnya melalui tangan kanan pada hari kiamat

Demikianlah mu’jizat bagi orang yang menjalankan sholat tahajjud yang mana apabila  seseorang rutin menjalakannya mereka akn mendapatkan manfaat-manfaat dari sholat tahajjud itu sendiri.Selain itu orang yang rajin menjalankan sholat tahajjud mereka akan mendapatkan surge yang sangat istimewa .Rosululloh saw bersabda: Allah akan memberikan rahmat pada seorang suami yang bangun pada malam hari unutuk menunaikan sholat kemudian membangunkan istrinya.Sebaliknya allah swt akan memberikan rahmat pada permpuan yang bangun pada malam hari untuk menunaikan sholat malam kemudian ia membangunkan suaminya.(HR.Abu Daud).

           

C.Epilog

            Sholat merupakan kebutuhan pokok yang paling mendasar bagi manusia,dengan sholat manusia secara tidak langsung berhubungan dengan tuhannya.Memang kinin rituakl sholat berdasarkan lahirnya dapat kita temui dengan sangat mudah dalam aktivitas ibadah seorang muslim.Tetapi basgaimana kesempurnaan sholat tersebut dilakukan dengan memperhatikan ketawajuhan saat menghadapnya .Rosululloh bersabda:”Ilmu yang pertama kali diangkat dari muka bumi adalah kekhusyuan (HR.Tabrani)

            Dari makalah ini dapat disimpulkan bahwasannya sholat mempunyai hikmah yang banyak sekali yang mana hikmah tersebut mempunyai manfaat bagi kehidupan manusia .Selain iitu juga bisa menarik manusia untuk menjalankan sholat yang mana sholat mempunyai manfaat bagi kesehatan jiwa dan raga manusia.

            Secara singkat dapat dikemukakan bahwasannya sekala kompetensi yang ada pada ibadah sholat itu dimulai dari ketaatan ritual dan berlanjut pada realisasi esensinya dalm kehidupan pribadi manusia.Kemudian berlanjut lagi pada esensi-esensi dalam kehidupan sosial dan seterus-terusnya .Jadi ritual itu pentin g dan esensipun juga tak kalah pentingnya.ritual formal adalah raganya ibadah ,sedang esensi adalah jiwa dan rohnya ibadah kalau orang hanya hidup dengan raganya ,ia mati dalam kehidupannya,dan sebali[knya kalau jiwanya saja yang hidup sementara raganya tidak tampak  anda sudah sangat pandai un tuk menebaknya .

            Maka dari itu setelah kita mengetahui hikmah yang terkandung dalam ibadah sholat kita seharusnya bisa meningkatkan ketaqwaan kepada sang khaliq ,semoga kita dapat meningkatkan ibadah kita dan selalu dijaga oleh allah swt.Amin…


[1]  Abdul Halim Roji ,Harun Al-Rosyid,Sholat hakekat,hikmah dan urgensinya(hal.39)

[2] Ibnu Rif’ah Ash-Shilawy,Panduan Lengkap Ibadah Sholat,2009

[3]  Abdul Halim Roji, Harun Al-Rosyid,Sholat Hakekat,Hikmah dan Urgensinya, (hal:10)

Iklan

POLEMIK KENAIKAN HARGA BBM

POLEMIK KENAIKAN HARGA BBM

“ Dan ……….

Akhirnya kebijakan itupun membawa korban anaknya sendiri”

Pada akhirnya rencana Pemerintah untuk menaikkan harga BBM membawa korban meninggalnya seorang demonstran yang menentang kebijakan tersebut. (Kabar Malam TV One, pkl. 21.45). Rencana kenaikan harga BBM telah menjadi polemik tersendiri di dalam negeri yang memunculkan pro kontra tidak hanya pada tataran konsep dan gagasan, tetapi telah manifes ke dalam gerakan-gerekan massa yang cenderung besar dan tidak melulu kondusif. Instabilitas yang muncul tidak hanya berada dalam ruang sosial, melainkan juga dalam ranah politik dan bahkan birokratik.

Instabilitas sosial muncul ditandai dengan banyaknya demonstrasi menentang rencana kebijakan kenaikan harga BBM yang diiringi munculnya tindakan yang mengarah kepada kekerasan.Instabilitas ranah ini dicirikan dengan tindakan-tindakan seperti baku dorong dan pukul, pembakaran (foto –biasanya presiden dan wakil presiden–, pos polisi, dan kendaraan), pelemparan (mulai dari tomat, telur busuk, hingga batu dan molotov), hingga penembakan baik peluru karet maupun peluru beneran. Sementara instabilitas politik menyeruak dengan menampilkan fragmen politik antara partai politik yang mendukung dan menolak rencana kenaikan BBM lengkap dengan strategi, taktik dan basa basinya baik di dalam parlemen maupun extra parlementarian. Kontestasi politik pro dan kontra ini pada akhirnya sedikit banyak dapat mendorong berubahnya konstelasi politik dari yang sudah mapan sebelumnya. Sebagai ilustrasi, komposisi kursi di parlemen antara koalisi partai pendukung pemerintah dan partai oposisi masih mungkin berubah ubah, walaupun Ketua FPD DPR RI telah mengklaim didukung 65% suara di DPR. (http://www.antaranews.com/berita/303763/demokrat-optimistis-menangkan-voting-meski-pks-bersebrangan. accesed at wed, Mar 29 ’12, 8pm).

Instabilitas birokratik dipentaskan oleh kepala daerah dan/atau wakil kepala daerah yang ikut bergabung dalam massa aksi menolak rencana kebijakan di atas. Sebuah sejarah baru yang mengiringi rencana kenaikan harga BBM tahun ini dengan jumlah cukup fenomenal yang menurut Gamawan Fauzi sebanyak 21 pimpinan daerah (http://www.jpnn.com/index.php?mib=berita.detail&id=122450, accesed at wed, Mar 29 ’12, 8.15pm).

Tulisan ini tidak berpretensi untuk menjelaskan berbagai hal tentang kebijakan penaikan harga BBM oleh pemerintah, tetapi hanya sebatas catatan pendamping untuk menambah pemahaman kita tentang hal tersebut dengan memanfaatkan telaah literer berpendekatan kualitatif. Dengan demikian diharapkan kita mendapatkan pemahaman yang lengkap terhadap polemik yang hampir menggusur rating sinetron di televisi.

 

SILANG PENDAPAT TENTANG “SUBSIDI”

Rupanya perbedaan pemaknaan dari kata yang satu ini dapat menimbulkan akibat yang panjang, termasuk dalam polemik tentang rencana kenaikan harga BBM salah satunya juga dipicu dari pemaknaan akan “subsidi BBM” yang berbeda. Subsidi BBM dapat disederhanakan sebagai hasil dari Penjualan Produk-produk BBM dikurangi dengan Biaya Menghasilkan BBM.

Dari sini muncul pemaknaan Pertama, jika Biaya Menghasilkan BBM lebih tinggi dari Penjualan Produk BBM, maka harus diberikan subsidi. Anggapan demikian dibangun atas asumsi :

–          penyesuaian dengan harga minyak dunia;

–          pembayaran subsidi secara tunai; dan

–          perhitungan terpisah antara Subsidi BBM dengan Pendapatan Minyak dalam postur APBN.

Jika asumsi-asumsi ini diilustrasikan secara matematis dengan contoh jenis premium maka menjadi : “Penjualan Premium” di dalam negeri Rp. 4.500,-/ltr, sementara untuk “Mengadakan Premium” dg harga internasional plus biaya lainnya sebesar Rp. 6.509,43. Maka untuk penjualan dalam negeri terjadi defisit sebesar Rp. Rp. 2009,43,-. Dalam setahun akan menjadi Rp. 2009,43 x 63 milyar ltr = Rp. 126,59 T. Inilah makna yang diberikan oleh Pemerintah sehingga mengatakan jika harga premium dipertahankan Rp. 4.500,- maka pemerintah akan merugi karena harus membayar subsidi sebesar 126,59 T dan APBN akan jebol. Selain itu, dalam postur APBN, perhitungan pemerintah meletakkan anggaran “Subsidi BBM” dalam kelompok pengeluaran yang tidak terkait sama sekali dengan anggaran “Pendapatan Minyak” (Pos DBH dan Net Migas) yang masuk dalam kelompok pendapatan. Sehingga subsidi dianggap dibayar tunai.

Makna yang Kedua, dimunculkan oleh beberapa kalangan salah satunya diwakili oleh Kwik Kian Gie yang beranggapan bahwa subsidi bukanlah pengeluaran tunai. Berkebalikan dengan asumsi-asumsi yang pertama, pemaknaan yang kedua ini lebih menganggap bahwa harga minyak mentah yang kita hasilkan sendiri tidak harus tunduk pada harga internasional yang ditetapkan oleh NYMEX di New York. Disamping itu, jika perhitungan “Subsidi BBM” sebagai pengeluaran dikaitkan secara langsung dengan “Pendapatan Minyak” hasil pembelian Pertamina kepada Pemerintah sebagai pemasukan, maka subsidi BBM akan dapat diperhitungkan secara langsung dan tidak perlu menyamakan subsidi dengan uang tunai yang harus dikeluarkan. Jika anggapan ini kita matematiskan maka akan menjadi :

Pertamina membeli dari :

(http://kwikkiangie.com/v1/2012/03/kontroversi-kenaikan-harga-bbm/)

Disini terlihat bahwa Pemerintah menerima hasil penjualan minyak mentah kepada Pertamina sebesar Rp. 224,569 T, di sisi lain Pemerintah harus membayar defisit Pertamina sebesar Rp. 126,63 T. Maka sebetulnya Pemerintah masih kelebihan uang tunai sebesar 97,939 T. Dengan demikian sejatinya harga BBM saat ini tidak merugikan negara sehingga tidak perlu naik.

Demikianlah dua arus besar yang saat ini sedang berpolemik terkait dengan rencana kenaikan BBM. Terlepas dari persoalan makna subsidi seperti di atas, satu hal lagi yang dapat kita anggap penting dalam permasalahan ini adalah mentalitas kita dalam menghadapi kekuatan asing yang dalam hal ini ditunjukkan oleh penentuan harga minyak dunia yang dilakukan oleh NYMEX.

 

BERHITUNG DAMPAK

Setiap kali terjadi kenaikan harga BBM pasti akan mempunyai dampak yang panjang dan cakupan yang luas terutama dalam sektor ekonomi. Menghadapi hal itu, pemerintah telah menyiapkan empat paket kebijakan kompensasi yang diyakini akan dapat meredam dampak kenaikan harga BBM. Empat paket kompensasi tersebu adalah Bantuan Langsung Sementara Masyarakat (BLSM) yang diberikan kepada masyarakat miskin sejumlah Rp. 150.000 setiap bulan selama sembilan bulan. Dengan ini diharapkan akan dapat menjadi pelipur lara (kalau tidak penebus dosa) bagi warga miskin sebagai kelompok paling rentan akan dampak BBM.

Disamping itu, pemerintah juga meyiapkan program lain, seperti Bantuan Siswa Miskin (BSM), beras bagi masyarakat miskin, dan pemberian kupon transportasi bagi masyarakat miskin. Lantas, pertanyaannya adalah apakah dengan paket kompensasi itu akan dapat menyelamatkan masyarakat miskin dari dampak kenaikan harga BBM? Bukankah bantuan-bantuan serupa selama ini lebih banyak mendidik masyarakat kita untuk menjadi pengemis sekaligus memapankan mentalnya sebagai “miskin”?. Karena mereka terlalu sering diberi ikan tanpa pernah diberi kail, terlalu sering dididik menjadi pecundang dari pada diajari menjadi pemenang.

Jika dicermati secara mendalam, bahwa dampak kenaikan harga BBM tentu tidak akan selesai dengan hanya paket kompensasi yang rancang pemerintah. Mengingat bahwa dampak tersebut berpengaruh terhadap seluruh sendi kehidupan. Inflasi yang akan muncul jika harga BBM mengalami kenaikan Rp. 1500/ltr menurut perhitungan BPS akan menyebabkan inflasi bertambah 0,93%, sementara Kajian UI inflasi bertambah 0.99%. Sektor industri tidak kalah dahsyat menerima dampak ini. Menurut DPC Serikat Pekerja Nasional (SPN) Kota Pekalongan, kenaikan harga BBM akan mengancam 4.000 buruh terkena PHK (Suara Merdeka, 29 Maret 2012). Disektor perdagangan akan berdampak pada kenaikan harga di tingkat retail sebesar 10%. Sementara Kementrian Perindustrian menghitung bahwa dengan kenaikan harga BBM sebesar Rp. 1.500 /33% maka akan menurunkan keluaran (out put) sektor industri pengolahan non migas sebesar 0,12%.

Melihat betapa komplek dampak yang muncul akibat kenaikan harga BBM ini, maka lagi-lagi masyarakat di bawahlah (miskin) yang paling menjadi sasaran empuk. Ya, kalau Pemerintah Daerahnya cerdas dan tanggap menangkap gejala ini dan segera merancang perencanaan antisipatifnya seperti yang dibuat oleh Pemprov Jawa Timur yang menyiapkan dana 1 T untuk memback up ketersediaan dan kemudahan distribusi bahan pangan. Jika tidak, maka wajar jika mbok Painem (52 th) hanya bisa berkeluh kesah sambil menunggu lapak kopi kothoknya di Jetis yang tidak juga banyak pembeli. Ketika ditanya mengepa berkeluh kesah, maka jawabnya adalah karena seluruh harga bahan dagangan naik. Sementara giliran harga jualan dinaikkan, maka omelan dari para pembeli yang didapat. Inilah dilema masyarakat kecil menyambut Penaikan Harga BBM. Wassalam.

BBM Naik, Terima Atau Tolak ?

BBM Naik, Terima Atau Tolak ?

April 2012, pemerintah akan menetapkan kenaikan BBM, yang mula-mula 4000 menjadi 6000. Bagaimanakah sikap kita untuk mensiasatinya dengan adanya berbagai gejolak dari masyarakat.

Kalau kita kaitkan dengan realita kehidupan, sebenarnya kenaikan BBM kan sudah sering berkali-kali, dari pemerintahan dahulu sampai sekarang. Sejak awal ingin mengembalikan kejayaan Indonesia dengan wilayah kita yang berpotensi, tambang minyak kita yang banyak. Cenderung pemerintah tidak mengarahkan pada lifting, pemerintah hanya cenderung dengan kebijakan yang bersifat instan. Dengan adanya kenaikan harga minyak dunia, pemerintah kita jadi ikut-ikutan naik. Seharusnya memberi konpensasi kepada masyarakat yg semestinya. Kita seharusnya berfikir bagaimana caranya wilayah pertambangan ke depan itu harus kembali ke jayanya seperti pada zaman Pak Soeharto yang tidak importer minyak, tapi eksportir sekitar tahun 1990an.

Pertambangan semua itu diurusi pusat, kita itu hanya pelaksana, misal blok  cepu , seperti amanat dalam UU pertambangan, daerah sumber minyak, diberikan partisipasi, penyertaan modal. Jadi daerah sebenarnya tidk bisa mengambil apa-apa, karena semuanya adalah ranah pusat. Sebenarnya daerah bisa ikut mnbantu ketika daerah diberi hak untk mengolah sumur-sumur tua, seperti Blora ini ada skitr 600an sumur sumber minyak. Andai saja itu bisa tereksploitir semuanya, walaupun per hari katakanlah 2000 barel itu kan bisa tapi faktanya sulit. Misal hak itu kan diberi pada BUMD /koperasi, nyatanya hak yang sudah tertera pada amnat undang-undang tersebut. Tekniknya juga sulit seperti koprasi di Sambong, pengurusan perizinan, dari daerah ok, gubernur ok tapi PT migas aja yang sulit.

Seolah-olah pemerintah pusat itu melepas kepalanya tapi ekornya diganduli, sehingga kebijakannya menjadi bertolak belakang. Begitu sumur tua diberi hak nya untuk dikelola daerah, sumber yg diurusi BPE yg menangani sumur tua itu kita konkritkn, tapi hasilnya pasif. Karena apapun perizinan itu pusat. Sebetulnya semua daerah diberi otoritas penuh untuk mengolah sumber daya alam, saya yakin bisa, tapi dampaknya diantara banyak darah yang kaya sumber daya alam derajat fiskalnya lain-lain, jadi perbedaan kabupaten, .kota, provinsi, yang kaya dan miskin itu akan rata, padahal tujuan pemda kan tidak seperti itu.  Tujuanya kan smuanya sama rata. Seperti pemda yandg diamanati sumur tua itu ya di konkritkan aja lah, untuk menambahi lifting, dan pemasukan daerah.

Untuk mengatasi kenaikan bbm,, 1 hal y sebenarnya juga langkah ranah pusat tapi daerah juga harus menyetirnya ,pertma adalah, misal blora ini,umum indonesia, penduduk masyarakatnya yang paling dominan adalah tani hampir 60 % khususnya NTP (nilai  tukar petani ). Amanat sangat erat sekali dengan diklaritas harga. Misal kemarin pupuk naik , harga dasar gabah cenderung lmbat naik, apalgi akan naiknya bbm semakin terpuruk NTP ptani, nilai harga produks petani ini hilang dengan naiknya inflasi ini, misal naik bbm 1500. NTP petani itu harus naik sekitar Rp. 500 -700, kalau tidak ya NTP akan hilang.

Sesuai visi misi bupati demi memajukan kabupaten blora. Pemberdayaan ekonomi lokal  blora yang mengutamakan 4 pilar, infrastruktur, kesehatan, pendidikan ,dan pertanian. Artinya dari tani ini ,, pemberdayaaan ekonomi local yang menyangkut juga perdagangan , pertama peningktan bagaimana pemberdayaan yg kurang itu meningkat ,Ini sedikit demi sedikit sudah menata, pusat keramain itu, kita sudah coba menyetir yang akan menjadi sentral.  msal  alun-alun, saya sendiri  sebagai pembina pkl alun-alun, nanti kita tata tempatnya dengan bagus, ditujukan pada orang blora, terus stasiun kawa’, kec. Jepon dan cepu. Harapanya itu penglaman pada waktu reses thun 1997/1998. Itu yang paling kuat adalah orang umkm, dia tahan krisis, begitu terkena krisis, dia sabar dan kuat.

Untuk sector perdagangan selain penataan dan pengelolaan, dan produksi local, blora melebihkan pada pengenalan masyarakat blora kepada warga Negara Indonesia.

Mulai tahun ini untuk suar ( blora keluar ).itu kita periksa, selama ini momen-momen expo  internasional blora belum pernah ikut karena ga ada dana untuk berpatisipasi. Kita usahakan tahun ini, dengan konsep bagaimana kita dikenal kalau tidak mengenalkan diri. expo internasional  kan banyak seperti nakraf Jakarta, bali, jogga, solo. Tahun ini kita member uang ke debin transkop. Dan sudah mendaftar pada 6 titik, untuk komoditas local. Kemarin juga ada temen investor dari surabaya, dia juga punya perhatian khususnya pada pengrajin ukiran blora.  Sampai-sampai dia membuka outlite citra line di Surabaya. Kemarin dia saya temukan dengan pak gun, dinas yg mngurusinya. Harapanku nanti di saat expo-expo yg bersifat internasional, temenku biar ikut mendanai pameran itu, biar pada ajang itu kita terlihat menarik atas dana hasil koordinasi antara dinas dan investor itu. Nah kalaupun ada bayar luah, silahkan mengampu ke dinas, atau saya, temenku, toh barangnya nanti ngambilnya di blora.

Akhir-akhir ini, Kata warga ada polisi yang menjaga SPBU, fakta lapangan banyak orang mencari pedagang eceran tapi mulai langka. Saya rasa ada prioritas, namanya pedagang kecil harus tau diri , ya kekuatan mereka itu untuk beli, katakanlah 20 liter… masih wajar pakai dligen atau ngangsu pake motor dengan memenuhinya, terus beli di pom lagi sampe penuh kemudian di tab di rumah.. sampai beberapa liter,, menjadi pedagang harus bisa mensiasati situasi dan kondisi yg ada.

AQUANETTA

AQUANETTA

Hidup dan nasib bisa tampak berantakan, misterius,fantastis dan sporadis, namun setiap elemennya adalah subsistem keteraturan dari sebuah desain holistic yang sempurna. Menerima kehidupan bearti menerima kenyataan bahwa tak ada hal sekecil apapun yang terjadi karena kebetulan. Ini fakta penciptaan yang tak terbantahkan. ( Harun yahya dalam novel Edensor,buku ketiga dari tetralogi Laskar pelangi ).

            Di dalam menjalani kehidupan, terkadang kita bisa mencecap saat anggur terasa begitu manis dan masa ketika harus menelan pil pahit. Karena itu, kita tidak boleh bersikap hitam putih dalam segala situasi. Janganlah bersikap selalu kontra atau menolak sama sekali terhadap setiap hal. Berbagai macam pegangan dalam menjalani hidup ini,kadang kita harus keras, kadang harus lembut, begitulah kita memang di haruskan untuk menganalisa semua keadaan.

            Mungkin banyak di antara kita yang sering mendengar sahabat atau orang disekitar kita yang mengatakan “ aku menjalani hidup ini dengan mengalir saja,seperti air “ namun bagi sebagian orang akan menjawab prinsip tersebut dengan mengatakan “ Air memang demikian ! tetapi anda dan saya bukan benda mati seperti air. Kita adalah manusia yang berhadapan dengan benda mati maupun benda hidup sekaligus”. Demikianlah, setiap diri mempunyai prinsip dan cara pandang yang berbeda tergantung lingkungan yang mengelilingi dan logika yang membangunnya.

            “Jangan melihat air pada prasangka lumrah manusia saja “ ujar seorang sahabat ketika  itu. Tapi prasangka lumrah yang bagaimana ci ? bukankah air memang demikian ? air akan selalu mengalir dari tekanan tinggi ke tekanan rendah _ tetapi manusia_ oleh sebab tekanan keadaan bisa melakukan hal yang sebaliknya. Air bisa menerjang semua yang menghalangi gerakan arusnya, dan apabila manusia seperti air maka itu artinya manusia bebas menerjang apapun juga yang menjadi penghalangnya,menerjang hokum, moralitas, dan bahkan agama, tanpa peduli baik, buruk, benar atau salah asal tujuannya bisa tercapai.

            “ seyogyanya pemuda hari ini sebagai generasi penerus mau dan mampu mempunyai sifat seperti air “ ngendikane bapak kyai Tamyiz ketika membacakan tafsir jalalain surat ar-ra’d ayat 17. “Allah telah menurunkan air (hujan) dari langit,maka mengalirlah air di lembah-lembah menurut ukurannya, maka arus itu membawa buih yang mengembang . . . . . .”

Ya, beliau mengajak kita sebagai pemuda untuk membaca,mencari dan memahami apa itu ‘air’.  Beliau mendidik_ tidak hanya mengajar para santrinya, menyediakan perhatian dan pemikiran-pemikirannya. Menjadikan sesuatu itu lebih bermakna, lebih kaya warna.

            Air _ ia akan selalu mengalir dari tempat yang tinggi ke tempat yang rendah. Demikianlah, manusia di tuntut untuk bergerak, memberi kemanfaatan di semua lapisan, tinggi ataupun rendah status sosialnya. Ia pun akan mencari celah dengan sendirinya meskipun bertemu batu arang, ia akan berbelok untuk kemudian meneruskan perjalanannya kembali.

            Air _ Ia menempati ruang, meski di tuangkan ke dalam wadah berbentuk apapun, air akan selalu mengikuti bentuk wadah itu. Ia dapat memosisikan dirinya sesuai situasi dan kondisi yang sedang di alaminya, manusia sewajarnya juga mampu untuk menyesuaikan diri satu sama lain agar terjalin komonikasi yang saling di pahami.

            Air _ memberikan jalan pada hambatan dengan segala kerendahan hati, karena ia sadar bahwa tak ada satu kekuatan apapun yang dapat mencegah perjalanannya menuju lautan. Ia menang dengan mengalah, ia tak pernah menyerang namun selalu menang pada akhir perjuangannya.

Air _ meninggalkan basah. Demikian juga dengan manusia, pengaruhnya di tuntut untuk tetap eksis meski ia telah tiada, baik karena sudah berpindah ataupun wafat. Contoh konkret kita dapat meneladani ( karena tidak akan bisa menyamai ) KH.Abdullah Faqih yang wafat 29 Februari kemarin. Beliau kiai pengasuh pesantren dengan ilmu keislaman yang cukup dan ahklak yang mulia, mewakafkan dirinya untuk masyarakat dan tidak pernah mementingkan diri sendiri. Beliau sanggup membumikan ajaran islam. Ajaran yang masih paling asli hingga detik ini. Beliau masih meninggalkan ‘basah’ yang akan senantiasa di kenang, yang bahkan mampu melebihi kemampuan air itu sendiri. Semoga Allah SWT menempatkan beliau di tempat yang indah di sisi-Nya.

Alhasil, mungkin masih banyak lagi pelajaran yang dapat kita petik dalam kehidupan kita ini yang sebenarnya bertaburan hikmah dimana-mana. Belum lagi, apabila kita belajar dari hikmah orang lain, yang juga tak terkira banyaknya. Setidaknya itu merupakan pembuktian empiris dari firman-firman-Nya, baik secara qouliyyah maupun kauniyyah.Teruslah berjalan, teruslah mengalir maka akan semakin jernih pula aliranmu,itulah jiwa pemuda yang mesti di bangun.

Jika rasa ini laksana air, maka biarkan ia mengalir.

Meski dipaksa menjadi es, maka ia akan beranomali.

Meluap-luap sebelum mendekati titik beku.

Meski di paksa menjadi uap, maka ia akan berpencar

Di udara secara perlahan, setitik demi setitik.

Dan ketahuilah bahwa

Air tidak akan pernah lenyap,

Walau dalam wujud berbeda.

Keep istiqomah……. !!!!

Al-Qur’an dan Penurunannya

BAB I

PENDAHULUAN

Al-Quran  yang  secara  harfiah  berarti  “bacaan  sempurna”  merupakan  suatu  nama  pilihan  Allah  yang  sungguh tepat,karena tiada satu bacaan pun sejak  manusia  mengenal  tulisbaca  lima  ribu  tahun  yang  lalu  yang  dapat  menandingi Al-Quran Al-Karim, bacaan sempurna lagi mulia itu. [1]

Tiada bacaan semacam Al-Quran yang dibaca oleh ratusan  juta orang  yang  tidak  mengerti  artinya  dan  atau tidak dapat menulis dengan aksaranya. Bahkan dihafal  huruf  demi  huruf oleh orang dewasa, remaja, dan anak-anak.

Tiada   bacaan   melebihi   Al-Quran  dalam  perhatian  yang diperolehnya, bukan saja sejarahnya secara umum, tetapi ayat demi  ayat,  baik  dari segi masa, musim, dan saat turunnya,sampai kepada sebab-sebab serta waktu-waktu turunnya.

Tiada bacaan seperti Al-Quran yang  dipelajari  bukan  hanya susunan  redaksi  dan  pemilihan  kosakatanya,  tetapi  juga kandungannya yang tersurat, tersirat  bahkan  sampai  kepada kesan  yang  ditimbulkannya.  Semua  dituangkan dalam jutaan

jilid  buku,  generasi  demi  generasi.  Kemudian  apa  yang dituangkan   dari   sumber   yang  tak  pernah  kering  itu,berbeda-beda   sesuai   dengan   perbedaan   kemampuan   dan kecenderungan  mereka,  namun  semua  mengandung  kebenaran. Al-Quran layaknya sebuah  permata  yang  memancarkan  cahaya yang berbeda-beda sesuai dengan sudut pandang masing-masing.

Tiada   bacaan   seperti   Al-Quran   yang  diatur  tata cara membacanya, mana yang dipendekkan, dipanjangkan,  dipertebal atau  diperhalus  ucapannya,  di mana tempat yang terlarang, atau boleh, atau harus memulai dan berhenti,  bahkan  diatur lagu dan iramanya, sampai kepada etika membacanya.

Tiada  bacaan  sebanyak  kosakata  Al-Quran  yang  berjumlah 77.439 (tujuh  puluh  tujuh  ribu  empat  ratus  tiga  puluh sembilan)  kata, dengan jumlah huruf 323.015 (tiga ratus dua puluh tiga ribu  lima  belas)  huruf  yang  seimbang  jumlah kata- katanya,  baik  antara  kata  dengan padanannya, maupun kata dengan lawan kata dan dampaknya.

 Sebagai contoh kata  hayat terulang  sebanyak   antonimnya maut, masing-masing 145 kali, akhirat terulang 115  kali  sebanyak  kata  dunia;  malaikat terulang   88   kali   sebanyak   kata   setan;  thuma’ninah

(ketenangan)  terulang   13   kali   sebanyak   kata   dhijg (kecemasan); panas terulang 4 kali sebanyak kata dingin.

Kata  infaq  terulang  sebanyak kata yang menunjuk dampaknya yaitu ridha (kepuasan) masing-masing  73  kali;  kikir  sama dengan  akibatnya  yaitu  penyesalan  masing-masing 12 kali, zakat  sama  dengan   berkat   yakni   kebajikan   melimpah,

masing-masing   32  kali.  Masih  amat  banyak  keseimbangan lainnya, seperti kata yaum  (hari)  terulang  sebanyak  365, sejumlah   hari-hari   dalam  setahun,  kata  syahr  (bulan) terulang 12 kali juga sejumlah  bulan-bulan  dalam  setahun. Allah berfirman :

 “Allah menurunkan kitab Al-Quran dengan penuh kebenaran dan keseimbangan (QS Al-Syura [42]: 17).”

 Adakah suatu bacaan ciptaan makhluk  seperti  itu?  Al-Quran menantang:

 “Katakanlah, Seandainya manusia dan jin berkumpul untuk  menyusun semacam Al-Quran ini, mereka tidak akan berhasil menyusun semacamnya walaupun mereka bekerja sama” (QS Al-Isra,[17]: 88).

Orientalis H.A.R. Gibb  pernah  menulis  bahwa:  “Tidak  ada seorang   pun  dalam  seribu  lima  ratus  tahun  ini  telah memainkan ‘alat’ bernada nyaring  yang  demikian  mampu  dan berani,  dan demikian luas getaran jiwa yang diakibatkannya, seperti yang dibaca Muhammad (Al-Quran).”  Demikian  terpadu dalam    Al-Quran    keindahan   bahasa,   ketelitian,   dan keseimbangannya,  dengan  kedalaman  makna,   kekayaan   dan kebenarannya,  serta kemudahan pemahaman dan kehebatan kesan

yang ditimbulkannya.

BAB II

PEMBAHASAN

Sejarah Turunnya dan Tujuan Pokok Al-Quran

Agama Islam, agama yang kita anut dan dianut oleh ratusan juta kaum Muslim di seluruh dunia, merupakan way of life yang menjamin kebahagiaan hidup pemeluknya di dunia dan di akhirat kelak. Ia mempunyai satu sendi utama yang esensial: berfungsi memberi petunjuk ke jalan yang sebaik-baiknya. Allah berfirman,

Sesungguhnya Al-Quran ini memberi petunjuk menuju jalan yang sebaik-baiknya (QS, 17:9).

Al-Quran memberikan petunjuk dalam persoalan-persoalan akidah, syariah, dan akhlak, dengan jalan meletakkan dasar-dasar prinsip mengenai persoalan-persoalan tersebut; dan Allah SWT menugaskan Rasul saw., untuk memberikan keterangan yang lengkap mengenai dasar-dasar itu:

Kami telah turunkan kepadamu Al-Dzikr (Al-Quran) untuk kamu terangkan kepada manusia apa-apa yang diturunkan kepada mereka agar mereka berpikir (QS 16:44).

Disamping keterangan yang diberikan oleh Rasulullah saw., Allah memerintahkan pula kepada umat manusia seluruhnya agar memperhatikan dan mempelajari Al-Quran:

Tidaklah mereka memperhatikan isi Al-Quran, bahkan ataukah hati mereka tertutup (QS 47:24).

Mempelajari Al-Quran adalah kewajiban. Berikut ini beberapa prinsip dasar untuk memahaminya, khusus dari segi hubungan Al-Quran dengan ilmu pengetahuan. Atau, dengan kata lain, mengenai “memahami Al-Quran dalam Hubungannya dengan Ilmu Pengetahuan.”( Persoalan ini sangat penting, terutama pada masa-masa sekarang ini, dimana perkembangan ilmu pengetahuan demikian pesat dan meliputi seluruh aspek kehidupan.

Kekaburan mengenai hal ini dapat menimbulkan ekses-ekses yang mempengaruhi perkembangan pemikiran kita dewasa ini dan generasi-generasi yang akan datang. Dalam bukunya, Science and the Modern World, A.N. Whitehead menulis: “Bila kita menyadari betapa pentingnya agama bagi manusia dan betapa pentingnya ilmu pengetahuan, maka tidaklah berlebihan bila dikatakan bahwa sejarah kita yang akan datang bergantung pada putusan generasi sekarang mengenai hubungan antara keduanya.”[2]

Tulisan Whithead ini berdasarkan apa yang terjadi di Eropa pada abad ke-18, yang ketika itu, gereja/pendeta di satu pihak dan para ilmuwan di pihak lain, tidak dapat mencapai kata sepakat tentang hubungan antara Kitab Suci dan ilmu pengetahuan; tetapi agama yang dimaksudkannya dapat mencakup segenap keyakinan yang dianut manusia.

Demikian pula halnya bagi umat Islam, pengertian kita terhadap hubungan antara Al-Quran dan ilmu pengetahuan akan memberi pengaruh yang tidak kecil terhadap perkembangan agama dan sejarah perkembangan manusia pada generasi-generasi yang akan datang.

Periode Turunnya Al-Quran

Al-Quran Al-Karim yang terdiri dari 114 surah dan susunannya ditentukan oleh Allah SWT. dengan cara tawqifi, tidak menggunakan metode sebagaimana metode-metode penyusunan buku-buku ilmiah. Buku-buku ilmiah yang membahas satu masalah, selalu menggunakan satu metode tertentu dan dibagi dalam bab-bab dan pasal-pasal. Metode ini tidak terdapat di dalam Al-Quran Al-Karim, yang di dalamnya banyak persoalan induk silih-berganti diterangkan.

Persoalan akidah terkadang bergandengan dengan persoalan hukum dan kritik; sejarah umat-umat yang lalu disatukan dengan nasihat, ultimatum, dorongan atau tanda-tanda kebesaran Allah yang ada di alam semesta. Terkadang pula, ada suatu persoalan atau hukum yang sedang diterangkan tiba-tiba timbul persoalan lain yang pada pandangan pertama tidak ada hubungan antara satu dengan yang lainnya. Misalnya, apa yang terdapat dalam surah Al-Baqarah ayat 216-221, yang mengatur hukum perang dalam asyhur al-hurum berurutan dengan hukum minuman keras, perjudian, persoalan anak yatim, dan perkawinan dengan orang-orang musyrik.

Yang demikian itu dimaksudkan agar memberikan kesan bahwa ajaran-ajaran Al-Quran dan hukum-hukum yang tercakup didalamnya merupakan satu kesatuan yang harus ditaati oleh penganut-penganutnya secara keseluruhan tanpa ada pemisahan antara satu dengan yang lainnya. Dalam menerangkan masalah-masalah filsafat dan metafisika, Al-Quran tidak menggunakan istilah filsafat dan logika. Juga dalam bidang politik, ekonomi, sosial dan kebudayaan. Yang demikian ini membuktikan bahwa Al-Quran tidak dapat dipersamakan dengan kitab-kitab yang dikenal manusia.

Tujuan Al-Quran juga berbeda dengan tujuan kitab-kitab ilmiah. Untuk memahaminya, terlebih dahulu harus diketahui periode turunnya Al-Quran. Dengan mengetahui periode-periode tersebut, tujuan-tujuan Al-Quran akan lebih jelas.

Para ulama ‘Ulum Al-Quran membagi sejarah turunnya Al-Quran dalam dua periode: (1) Periode sebelum hijrah; dan (2) Periode sesudah hijrah. Ayat-ayat yang turun pada periode pertama dinamai ayat-ayat Makkiyyah, dan ayat-ayat yang turun pada periode kedua dinamai ayat-ayat Madaniyyah. Tetapi, di sini, akan dibagi sejarah turunnya Al-Quran dalam tiga periode, meskipun pada hakikatnya periode pertama dan kedua dalam pembagian tersebut adalah kumpulan dari ayat-ayat Makkiyah, dan periode ketiga adalah ayat-ayat Madaniyyah. Pembagian demikian untuk lebih menjelaskan tujuan-tujuan pokok Al-Quran.

Periode Pertama

Diketahui bahwa Muhammad saw., pada awal turunnya wahyu pertama (iqra’), belum dilantik menjadi Rasul. Dengan wahyu pertama itu, beliau baru merupakan seorang nabi yang tidak ditugaskan untuk menyampaikan apa yang diterima. Baru setelah turun wahyu kedualah beliau ditugaskan untuk menyampaikan wahyu-wahyu yang diterimanya, dengan adanya firman Allah:

“Wahai yang berselimut, bangkit dan berilah peringatan” (QS 74:1-2).

Kemudian, setelah itu, kandungan wahyu Ilahi berkisar dalam tiga hal. Pertama, pendidikan bagi Rasulullah saw., dalam membentuk kepribadiannya. Perhatikan firman-Nya:

Wahai orang yang berselimut, bangunlah dan sampaikanlah. Dan Tuhanmu agungkanlah. Bersihkanlah pakaianmu. Tinggalkanlah kotoran (syirik). Janganlah memberikan sesuatu dengan mengharap menerima lebih banyak darinya, dan sabarlah engkau melaksanakan perintah-perintah Tuhanmu (QS 74:1-7).

Dalam wahyu ketiga terdapat pula bimbingan untuknya:

Wahai orang yang berselimut, bangkitlah, shalatlah di malam hari kecuali sedikit darinya, yaitu separuh malam, kurang sedikit dari itu atau lebih, dan bacalah Al-Quran dengan tartil (QS 73:1-4).

Perintah ini disebabkan karena Sesungguhnya kami akan menurunkan kepadamu wahyu yang sangat berat (QS 73:5).

Ada lagi ayat-ayat lain, umpamanya:

Berilah peringatan kepada keluargamu yang terdekat. Rendahkanlah dirimu, janganlah bersifat sombong kepada orang-orang yang beriman yang mengikutimu. Apabila mereka (keluargamu) enggan mengikutimu, katakanlah: aku berlepas dari apa yang kalian kerjakan (QS 26:214-216).

Demikian ayat-ayat yang merupakan bimbingan bagi beliau demi suksesnya dakwah.

Kedua, pengetahuan-pengetahuan dasar mengenai sifat dan af’al Allah, misalnya surah Al-A’la (surah ketujuh yang diturunkan) atau surah Al-Ikhlash, yang menurut hadis Rasulullah “sebanding dengan sepertiga Al-Quran”, karena yang mengetahuinya dengan sebenarnya akan mengetahui pula persoalan-persoalan tauhid dan tanzih (penyucian) Allah SWT.

Ketiga, keterangan mengenai dasar-dasar akhlak Islamiah, serta bantahan-bantahan secara umum mengenai pandangan hidup masyarakat jahiliah ketika itu. Ini dapat dibaca, misalnya, dalam surah Al-Takatsur, satu surah yang mengecam mereka yang menumpuk-numpuk harta; dan surah Al-Ma’un yang menerangkan kewajiban terhadap fakir miskin dan anak yatim serta pandangan agama mengenai hidup bergotong-royong.

Periode ini berlangsung sekitar 4-5 tahun dan telah menimbulkan bermacam-macam reaksi di kalangan masyarakat Arab ketika itu. Reaksi-reaksi tersebut nyata dalam tiga hal pokok:

  1. Segolongan kecil dari mereka menerima dengan baik ajaran-ajaran Al-Quran.
  2. Sebagian besar dari masyarakat tersebut menolak ajaran Al-Quran, karena kebodohan mereka (QS 21:24), keteguhan mereka mempertahankan adat istiadat dan tradisi nenek moyang (QS 43:22), dan atau karena adanya maksud-maksud tertentu dari satu golongan seperti yang digambarkan oleh Abu Sufyan: “Kalau sekiranya Bani Hasyim memperoleh kemuliaan nubuwwah, kemuliaan apa lagi yang tinggal untuk kami.”
  3. Dakwah Al-Quran mulai melebar melampaui perbatasan Makkah menuju daerah-daerah sekitarnya.

Periode Kedua

Periode kedua dari sejarah turunnya Al-Quran berlangsung selama 8-9 tahun, dimana terjadi pertarungan hebat antara gerakan Islam dan jahiliah. Gerakan oposisi terhadap Islam menggunakan segala cara dan sistem untuk menghalangi kemajuan dakwah Islamiah.

Dimulai dari fitnah, intimidasi dan penganiayaan, yang mengakibatkan para penganut ajaran Al-Quran ketika itu terpaksa berhijrah ke Habsyah dan para akhirnya mereka semua –termasuk Rasulullah saw.– berhijrah ke Madinah.

Pada masa tersebut, ayat-ayat Al-Quran, di satu pihak, silih berganti turun menerangkan kewajiban-kewajiban prinsipil penganutnya sesuai dengan kondisi dakwah ketika itu, seperti:

Ajaklah mereka ke jalan Tuhanmu (agama) dengan hikmah dan tuntunan yang baik, serta bantahlah mereka dengan cara yang sebaik-baiknya (QS 16:125).

Dan, di lain pihak, ayat-ayat kecaman dan ancaman yang pedas terus mengalir kepada kaum musyrik yang berpaling dari kebenaran, seperti:

Bila mereka berpaling maka katakanlah wahai Muhammad: “Aku pertakuti kamu sekalian dengan siksaan, seperti siksaan yang menimpa kaum ‘Ad dan Tsamud” (QS 41:13).

Selain itu, turun juga ayat-ayat yang mengandung argumentasi-argumentasi mengenai keesaan Tuhan dan kepastian hari kiamat berdasarkan tanda-tanda yang dapat mereka lihat dalam kehidupan sehari-hari, seperti:

Manusia memberikan perumpamaan bagi kami dan lupa akan kejadiannya, mereka berkata: “Siapakah yang dapat menghidupkan tulang-tulang yang telah lapuk dan hancur?” Katakanlah, wahai Muhammad: “Yang menghidupkannya ialah Tuhan yang menjadikan ia pada mulanya, dan yang Maha Mengetahui semua kejadian. Dia yang menjadikan untukmu, wahai manusia, api dari kayu yang hijau (basah) lalu dengannya kamu sekalian membakar.” Tidaklah yang menciptakan langit dan bumi sanggup untuk menciptakan yang serupa itu? Sesungguhnya Ia Maha Pencipta dan Maha Mengetahui. Sesungguhnya bila Allah menghendaki sesuatu Ia hanya memerintahkan: “Jadilah!”Maka jadilah ia (QS 36:78-82).

Ayat ini merupakan salah satu argumentasi terkuat dalam membuktikan kepastian hari kiamat. Dalam hal ini, Al-Kindi berkata: “Siapakah di antara manusia dan filsafat yang sanggup mengumpulkan dalam satu susunan kata-kata sebanyak huruf ayat-ayat tersebut, sebagaimana yang telah disimpulkan Tuhan kepada Rasul-Nya saw., dimana diterangkan bahwa tulang-tulang dapat hidup setelah menjadi lapuk dan hancur; bahwa qudrah-Nya menciptakan seperti langit dan bumi; dan bahwa sesuatu dapat mewujud dari sesuatu yang berlawanan dengannya.”[3]

Disini terbukti bahwa ayat-ayat Al-Quran telah sanggup memblokade paham-paham jahiliah dari segala segi sehingga mereka tidak lagi mempunyai arti dan kedudukan dalam rasio dan alam pikiran sehat.

Periode Ketiga

Selama masa periode ketiga ini, dakwah Al-Quran telah dapat mewujudkan suatu prestasi besar karena penganut-penganutnya telah dapat hidup bebas melaksanakan ajaran-ajaran agama di Yatsrib (yang kemudian diberi nama Al-Madinah Al-Munawwarah). Periode ini berlangsung selama sepuluh tahun, di mana timbul bermacam-macam peristiwa, problem dan persoalan, seperti: Prinsip-prinsip apakah yang diterapkan dalam masyarakat demi mencapai kebahagiaan? Bagaimanakah sikap terhadap orang-orang munafik, Ahl Al-Kitab, orang-orang kafir dan lain-lain, yang semua itu diterangkan Al-Quran dengan cara yang berbeda-beda?

Dengan satu susunan kata-kata yang membangkitkan semangat seperti berikut ini, Al-Quran menyarankan:

Tidakkah sepatutnya kamu sekalian memerangi golongan yang mengingkari janjinya dan hendak mengusir Rasul, sedangkan merekalah yang memulai peperangan. Apakah kamu takut kepada mereka? Sesungguhnya Allah lebih berhak untuk ditakuti jika kamu sekalian benar-benar orang yang beriman. Perangilah! Allah akan menyiksa mereka dengan perantaraan kamu sekalian serta menghina-rendahkan mereka; dan Allah akan menerangkan kamu semua serta memuaskan hati segolongan orang-orang beriman (QS 9:13-14).

Adakalanya pula merupakan perintah-perintah yang tegas disertai dengan konsiderannya, seperti:

Wahai orang-orang beriman, sesungguhnya minuman keras, perjudian, berhala-berhala, bertenung adalah perbuatan keji dari perbuatan setan. Oleh karena itu hindarilah semua itu agar kamu sekalian mendapat kemenangan. Sesungguhnya setan tiada lain yang diinginkan kecuali menanamkan permusuhan dan kebencian diantara kamu disebabkan oleh minuman keras dan perjudian tersebut, serta memalingkan kamu dari dzikrullah dan sembahyang, maka karenanya hentikanlah pekerjaan-pekerjaan tersebut (QS 5:90-91).

Disamping itu, secara silih-berganti, terdapat juga ayat yang menerangkan akhlak dan suluk yang harus diikuti oleh setiap Muslim dalam kehidupannya sehari-hari, seperti:

Wahai orang-orang yang beriman, janganlah kamu memasuki satu rumah selain rumahmu kecuali setelah minta izin dan mengucapkan salam kepada penghuninya. Demikian ini lebih baik bagimu. Semoga kamu sekalian mendapat peringatan (QS 24:27).

Semua ayat ini memberikan bimbingan kepada kaum Muslim menuju jalan yang diridhai Tuhan disamping mendorong mereka untuk berjihad di jalan Allah, sambil memberikan didikan akhlak dan suluk yang sesuai dengan keadaan mereka dalam bermacam-macam situasi (kalah, menang, bahagia, sengsara, aman dan takut). Dalam perang Uhud misalnya, di mana kaum Muslim menderita tujuh puluh orang korban, turunlah ayat-ayat penenang yang berbunyi: Janganlah kamu sekalian merasa lemah atau berduka cita. Kamu adalah orang-orang yang tinggi (menang) selama kamu sekalian beriman. Jika kamu mendapat luka, maka golongan mereka juga mendapat luka serupa. Demikianlah hari-hari kemenangan Kami perganti-gantikan di antara manusia, supaya Allah membuktikan orang-orang beriman dan agar Allah mengangkat dari mereka syuhada, sesungguhnya Allah tiada mengasihi orang-orangyang aniaya (QS 3:139-140).

Selain ayat-ayat yang turun mengajak berdialog dengan orang-orang Mukmin, banyak juga ayat yang ditujukan kepada orang-orang munafik, Ahli Kitab dan orang-orang musyrik. Ayat-ayat tersebut mengajak mereka ke jalan yang benar, sesuai dengan sikap mereka terhadap dakwah. Salah satu ayat yang ditujukan kepada ahli Kitab ialah: Katakanlah (Muhammad):

“Wahai ahli kitab (golongan Yahudi dan Nasrani), marilah kita menuju ke satu kata sepakat diantara kita yaitu kita tidak menyembah kecuali Allah; tidak mempersekutukan-Nya dengan sesuatu apa pun, tidak pula mengangkat sebagian dari kita tuhan yang bukan Allah.” Maka bila mereka berpaling katakanlah: “Saksikanlah bahwa kami adalah orang-orang Muslim” (QS 3:64).

Dakwah menurut Al-Quran

Dan ringkasan sejarah turunnya Al-Quran, tampak bahwa ayat-ayat Al-Quran sejalan dengan pertimbangan dakwah: turun sedikit demi sedikit bergantung pada kebutuhan dan hajat, hingga mana kala dakwah telah menyeluruh, orang-orang berbondong-bondong memeluk agama Islam. Ketika itu berakhirlah turunnya ayat-ayat Al-Quran dan datang pulalah penegasan dari Allah SWT:

 Hari ini telah Kusempurnakan agamamu dan telah Kucukupkan nikmat untukmu serta telah Kuridhai Islam sebagai agamamu (QS 5:3).

Uraian di atas menunjukkan bahwa ayat-ayat Al-Quran disesuaikan dengan keadaan masyarakat saat itu. Sejarah yang diungkapkan adalah sejarah bangsa-bangsa yang hidup di sekitar Jazirah Arab. Peristiwa-peristiwa yang dibawakan adalah peristiwa-peristiwa mereka. Adat-istiadat dan ciri-ciri masyarakat yang dikecam adalah yang timbul dan yang terdapat dalam masyarakat tersebut.

Tetapi ini bukan berarti bahwa ajaran-ajaran Al-Quran hanya dapat diterapkan dalam masyarakat yang ditemuinya atau pada waktu itu saja. Karena yang demikian itu hanya untuk dijadikan argumentasi dakwah. Sejarah umat-umat diungkapkan sebagai pelajaran/peringatan bagaimana perlakuan Tuhan terhadap orang-orang yang mengikuti jejak-jejak mereka.

Sebagai suatu perbandingan, Al-Quran dapat diumpamakan dengan seseorang yang dalam menanamkan idenya tidak dapat melepaskan diri dari keadaan, situasi atau kondisi masyarakat yang merupakan objek dakwah. Tentu saja metode yang digunakannya harus sesuai dengan keadaan, perkembangan dan tingkat kecerdasan objek tersebut. Demikian pula dalam menanamkan idenya, cita-cita itu tidak hartya sampai pada batas suatu masyarakat dan masa tertentu; tetapi masih mengharapkan agar idenya berkembang pada semua tempat sepanjang masa.

Untuk menerapkan idenya itu, seorang da’i tidak boleh bosan dan putus asa. Dan dalam merealisasikan cita-citanya, ia harus mampu menyatakan dan mengulangi usahanya walaupun dengan cara yang berbeda-beda. Demikian pula ayat-ayat Al-Quran yang mengulangi beberapa kali satu persoalan. Tetapi untuk menghindari terjadinya perasaan bosan, susunan kata-katanya –oleh Allah SWT– diubah dan dihiasi sehingga menarik pendengarannya. Bukankah argumentasi-argumentasi Al-Quran mengenai soal-soal yang dipaparkan dapat dipergunakan di mana, kapan dan bagi siapa saja, serta dalam situasi dan kondisi apa pun?

Argumen kosmologis (cosmological argument) –yang oleh Immanuel Kant dikatakan sebagai suatu argumen yang sangat dikagumi dan merupakan salah satu dalil terkuat mengenai wujud Pencipta (Prime Cause)– merupakan salah satu argumentasi Al-Quran untuk maksud tersebut. Bukankah juga penolakan Al-Quran terhadap syirik (politeisme) meliputi segala macam dan bentuk politeisme yang telah timbul, termasuk yang dianut oleh orang-orang Arab ketika turunnya Al-Quran?

Dapat diperhatikan pula, bahwa tiada satu filsafat pun yang memaparkan perincian-perinciannya dari A sampai Z dalam bentuk abstrak tanpa memberikan contoh-contoh hidup dalam masyarakat tempat ia muncul atau berkembang. Cara yang demikian ini tidak mungkin akan mewujud; kalau ada, maka ia hanya sekadar merupakan teori-teori belaka yang tidak dapat diterapkan dalam suatu masyarakat.

Tidakkah menjadi keharusan satu gerakan yang bersifat universal untuk memulai penyebarannya di forum internasional. Tapi, cara paling tepat adalah menyebarkan ajaran-ajarannya dalam masyarakat tempat timbulnya gerakan itu, dimana penyebar-penyebarnya mengetahui bahasa, tradisi dan adat-istiadat masyarakat tadi. Kemudian, bila telah berhasil menerapkan ajaran-ajarannya dalam suatu masyarakat tertentu, maka masyarakat tersebut dapat dijadikan “pilot proyek” bagi masyarakat lainnya. Hal ini dapat kita lihat pada Fasisme, Zionisme, Komunisme, Nazisme, dan lain-lain. Dengan demikian, tidak ada alasan untuk mengatakan bahwa ajaran-ajaran Al-Quran itu khusus untuk masyarakat pada masa diturunkannya saja.

 

 

 

BAB III

PENUTUP

Kesimpulan

Dari sejarah diturunkannya Al-Quran, dapat diambil kesimpulan bahwa Al-Quran mempunyai tiga tujuan pokok :

  1. Petunjuk akidah dan kepercayaan yang harus dianut oleh manusia yang tersimpul dalam keimanan akan keesaan Tuhan dan kepercayaan akan kepastian adanya hari pembalasan.
  2. Petunjuk mengenai akhlak yang murni dengan jalan menerangkan norma-norma keagamaan dan susila yang harus diikuti oleh manusia dalam kehidupannya secara individual atau kolektif.
  3. Petunjuk mengenal syariat dan hukum dengan jalan menerangkan dasar-dasar hukum yang harus diikuti oleh manusia dalam hubungannya dengan Tuhan dan sesamanya. Atau dengan kata lain yang lebih singkat, “Al-Quran adalah petunjuk bagi selunih manusia ke jalan yang harus ditempuh demi kebahagiaan hidup di dunia dan di akhirat.”

Daftar Pustaka

M.A.,Dr. M. Quraish Shihab. WAWASAN AL-QURAN, Tafsir Maudhu'i atas Pelbagai                                                                        Persoalan Umat. Penerbit Mizan

M.A.,Dr. M. Quraish Shihab. MEMBUMIKAN AL-QURAN, Fungsi dan Peran Wahyu    

dalam Kehidupan Masyarakat.Penerbit Mizan, Cetakan 13, Rajab   1417/November 1996


[1] Dr. M. Quraish Shihab, M.A, Tafsir Maudhu'i atas Pelbagai Persoalan Umat. Mizan

[2] Whitehead, Science and the Modern World, hal. 180.

[3] Lihat ‘Abdul Halim Mahmud, Al-Tafsir Al-Falsafiy fi Al-Islam, Dar Al-Kitab Al-Lubnaniy, Beirut, 1982, h. 73-74.