Kejujuran Itu Harus Diperjuangkan

KH. Salahuddin Wahid 

Siapa sangka kalau perjalanan hidup KH. Salahuddin Wahid jauh dari kehidupan pesantren? Pada tahun 1950-an, ketika masih usia 8 tahun, dirinya mengikuti ayahandanya KH. Wachid Hasyim ke Jakarta. Namun dikala bocah itu masih lucu-lucunya menjadi pelajar kelas IV SD, ayahandanya keburu dipanggil oleh Allah SWT untuk pulang kepangkuanNya. “Ayah saya itu terkenal sangat disiplin. Saat di Tebuireng, saya pernah memecahkan bola lampu. Lalu saya disel di gudang,” tuturnya mengkisahkan. “Ketika tahu kalau saya kencing di gudang, saya malah diikat di pohon depan rumah,” kenangnya sambil melepas tawa lirih.

Pria kelahiran Jombang 11 September 1942 ini, lantas menghabiskan masa studinya hingga SMA di Jakarta. Dirinya tumbuh sebagaimana umumnya remaja kota. Bergaul secara lumrah-lumrah saja dengan teman sepermainannya, serta bisa menyalurkan bakat dengan sangat leluasa. Maka tak ayal jika Salahuddin remaja pernah bergabung ke dalam sebuah group band metropolitan. “Saya memang hobi main musik. Banyak lagu-lagu mulai pop, dangdut, jazz, keroncong, gambus dan lagu-lagu religi yang saya hafal,” ungkapnya dengan senyum dikulum.

Meskipun demikian, Salahuddin Wahid tak pernah mealpakan untuk belajar ilmu agama. Bekal itu ditimba dari ibunda tercinta Nyai Solichah dan guru privat yang didatangkan ke rumah. Ketika masa liburan puasa, dirinya pergi ke Jombang dan mengaji ke Mbah Bisri Sansuri di pondok pesantren Denanyar. “Ngaji al-Qur’an sama Mbah Bisri itu susahnya minta ampun. Baca surah al-Fatihah saja bisa diulang-ulang hingga berpuluh-puluh kali,” tukasnya. “Kepribadian Mbah Bisri itu memang sangat luar biasa. Hidupnya bersih, tekadnya lurus, tak punya niatan yang macam-macam. Beliaulah sosok kyai yang benar-benar kyai,” ucapnya memuji.

Selepas SMA, tepatnya di tahun 1962, lelaki yang gemar mendaki gunung ini melanjutkan kuliah ke ITB jurusan arsitektur. Masa kuliahnya kebilang cukup lama – 17 tahun. Karena setelah dijalaninya 5 tahun, dirinya cuti untuk menikah. Setelah sepuluh tahun, baru kembali ke kampus dan selesai pada tahun 1979. Sejak itulah dirinya bekerja sebagai seorang arsitek. ”Bekerja sebagai arsitek pun, selalu saya niati beribadah. Apapun pekerjaannya, kalau diniati baik hasilnya akan baik pula,” simpulnya.

Banyak sekali pengalaman yang bisa direngkuh dari dunia kerjanya tersebut. Di tahun 1969, ayah tiga anak ini malah pernah menjadi Direktur Utama Perusahaan Kontraktor hingga tahun 1977. Setahun kemudian dirinya menjadi Direktur Utama Perusahaan Konsultan Teknik sampai pada tahun 1997. Di sela-sela itu, tepatnya di tahun 1995 s/d 1996 juga menjabat sebagai Assosiate Director Perusahaan Konsultan Properti Internasional.

Tak hanya itu saja. Lelaki yang sejak usia 15 tahun sudah aktif di Kepanduan Ansor ini, juga dikenal sebagai orang yang karib dengan dunia organisasi. Terbukti di tahun 1989 hingga 1990, dirinya tercatat sebagai Ketua DPD DKI Inkindo (Ikatan Konsultan Indonesia). Setahun kemudian, malah diangkat sebagai Sekretaris Jenderal DPP Inkindo sampai dengan tahun 1994. Di saat itu juga merangkap sebagai Pemred Majalah Konsultan, serta menjadi wakil dalam Pertemuan Konsultan Internasional. Di tahun 1994 ini pula, dirinya dipilih sebagai Ketua Departemen Konsultan Manajemen Kadin hingga tahun 1998. Di sela-sela itu, tepatnya pada tahun 1995, dirinya juga mendirikan Ikatan Konsultan Manajemen Indonesia.

Tahun 1997, barangkali merupakan tahun terakhir baginya untuk berurusan dengan dunia kontraktor. Sebab di tahun itulah telah diputuskannya untuk berhenti dari dunia kerja. Tetapi pengalamannya dari berbagai seminar dan pelatihan kepemimpinan, membuatnya beranjak ke dunia yang lain. Tak berselang lama dari tahun tersebut, dia diminta menjadi anggota MPR sampai tahun 1999. Di saat itulah dirinya mulai aktif menulis di berbagai media massa hingga sekarang. Bahkan di tahun 2000 terpilih sebagai Wakil Ketua Komnas HAM hingga tahun 2007.

Kegiatan Gus Sholah – demikian dirinya kerap dipanggil – memang berjibun dan sangat beragam. Di tahun 1982 dirinya mendirikan Yayasan Baitussalam sekaligus sebagai Ketua hingga pada tahun 1991. Kemudian menjadi anggota Badan Pengawas Yayasan Baitussalam hingga tahun 1994. Pada tahun 1985 dirinya juga mendirikan Yayasan Wahid Hasyim. Dan pada tahun 1999 dipercaya menjadi Sekretaris Badan Pendiri Yayasan Wahid Hasyim tersebut. Di tahun itu pula, dia terpilih menjadi salah seorang Ketua PBNU sampai pada tahun 2004.

Sebelumnya, sejak tahun 1993 hingga sekarang, Gus Sholah juga tercatat sebagai Pengurus IKPNI (Ikatan Keluarga Pahlawan Nasional Indonesia). Pada tahun 1995 s/d 2005 duduk di Dewan Penasehat ICMI. Pada tahun 2000 hingga sekarang, masih menjabat sebagai Ketua Badan Pendiri Yayasan Forum Indonesia Satu. Pada tahun 2002, juga menjadi anggota Dewan Pembina YLBHI (Yayasan Lembaga Bantuan Hukum Indonesia) sampai tahun 2005. Pada periode yang sama pula, dirinya merangkap menjadi Ketua MPP ICMI dan Ketua Umum Badan Pengurus Yayasan Pengembangan Kesejahteraan Sosial.

Yang menarik, perahu kehidupan suami Nyai Farida (putri KH Saifuddin Zuhri – mantan Menag RI) ini justru melabuhkannya ke dunia pesantren. Sejak dua tahun kemarin, Gus Sholah diserahi tugas sebagai Pengasuh Pondok Pesantren Tebuireng Jombang. ”Ya.. mungkin Pak Ud (KH. Yusuf Hasyim, red) menganggap, bahwa sayalah orang yang paling cocok untuk memangku amanah tersebut,” selanya. ”Ini benar-benar pekerjaan baru buat saya. Sebab lagunya beda, iramanya beda, tempatnya beda. Untungnya saya orangnya mudah beradaptasi. Situasi apapun insya Allah saya gampang mengikuti,” tambahnya.

Awal mula yang dilakukan Gus Sholah, adalah melihat yang ada terlebih dahulu. Lalu disusunlah rencana strategis untuk memajukan pesantren Tebuireng. Di samping bekerjasama dengan Unesa, juga dibantu oleh Konsorsium Pendidikan Islam (KPI). “Saya terlatih untuk mengenali masalah terlebih dahulu. Dari sanalah saya bisa mencari inti masalah, serta dapat menemukan pemecahan masalahnya,” tegasnya. “Setelah tahu apa yang harus saya capai, baru saya cari orang-orang yang bisa membantunya,” katanya menambahkan.

Sebagai targetnya, difokuskan pada perbaikan mutu, agar bisa bersaing dan memiliki output yang terbaik. Santri tamatan Tebuireng harus percaya diri, jujur, berakhlak mulia, komunikatif, tidak sombong, mau bekerja keras dan hemat. Tahun ini akan dibuka pula kelas model pesantren salaf. Para santri di kelas ini hanya dikhususkan untuk mendalami kitab kuning semata. “Saya memang tak pintar membaca kitab kuning. Namun demikian, saya sangat mempercayai akan pentingnya mengkaji kitab-kitab tersebut,” tukasnya. “Saya rasa pondok yang nggak ada salafnya itu, bukanlah pesantren. Ya.. bisa dianggap masih separoh pesantrenlah…,” tambahnya bernada kelakar.

Terobosan lain yang akan dilakukannya, adalah mendirikan Ma’had ‘Aly – yang kurikulumnya berlainan dengan IKAHA. Juga pengembangan bidang ekonomi dan life skill bagi para santri. Termasuk memajukan perpustakaan sekolah, yang ada di bawah naungan pesantren Tebuireng. ”Saya ingin setiap santri di sini, setiap Minggunya bisa membaca satu buku. Setelah itu mereka wajib membuat ringkasan atau resensi dari buku tersebut,” harap lelaki yang sejak kecil hobi membaca beragam buku ini.

Meskipun kini sibuk mengurusi pesantren, tetapi dirinya tak pernah berpaling untuk tetap memikirkan rakyat dan kondisi kepemimpinan bangsa. Prinsip utama dalam memilih seorang pemimpin, menurutnya, dia adalah sosok yang berkarakter baik dan punya kemampuan lebih. Setidaknya, dirinya memiliki watak yang jujur. Sebab kejujuran adalah inti dari akhlak. Namun kejujuran itu tidak akan datang begitu saja, melainkan harus diperjuangkan dengan sabar dan sungguh-sungguh. Di samping itu, seorang pemimpin harus mempunyai keberanian dalam menentukan sikap, tegas dalam mengambil keputusan, tidak peragu, kehidupannya sederhana, serta harus senantiasa berpihak kepada rakyat.

Selama ini belum sepenuhnya prasyarat tersebut dimiliki para pemimpin kita. Kebijakan yang ada, belumlah diarahkan kepada keberpihakan terhadap rakyat. ”Ada yang karakternya memang agak ideal, tetapi sayangnya mereka justru tak diterima oleh rakyat,” tegasnya. ”Oleh karenanya, kita perlu memberikan pengertian dan pemahaman kepada mereka, agar tidak keliru dalam memilih pemimpin bangsa,” jelasnya.

Di sisi lain, lembaga-lembaga penegak hukum belum bisa diharapkan masyarakat. Hukum kurang tegak dan masih rapuh. Budaya hukum pun juga masih lemah. Makanya dibutuhkan orang-orang yang jujur; baik dalam pemerintahan ekskutif, legislatif maupun yudikatif. ”Sebab kalau pemerintah baik, jujur dan tidak korup, berarti separoh pekerjaan sudah terlampaui,” tandasnya.

Yang terpenting dari itu semua, kata Gus Sholah, adalah birokrasi yang bersih. Sebab birokrasi menentukan segala macam kegiatan sosial kemasyarakatan. Tertib tidaknya dan efisien tidaknya segala hal itu, tergantung pada birokrasi. Di sisi lain, harus serius pula dalam menangani dunia pendidikan. Sudah terlalu lama bangsa ini mengabaikan pendidikan. Terutama terhadap pendidikan Islam, yang selama ini terasa dianaktirikan.

Jika seandainya Anda terpilih menjadi pemimpin bangsa ini? ”Saya akan memprioritaskan, yang pertama adalah pendidikan. Kedua, pendidikan. Dan ketiga, pendidikan,” tandasnya. ”Namun perlu diingat, bahwa rumah tangga yang baik itu, bukanlah berarti rumah tangga yang memiliki rumah yang baik,” kilahnya berfilosofi.

About iroelizzta

santai tapi pasti

Posted on 29 Februari 2012, in islam..... Bookmark the permalink. Tinggalkan komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: