Hidup Seperti Lautan

KH. Moh. Hasan Mutawakkil Alallah, SH. MM

Barangkali, sejarah akan selalu mencatat nama dan peristiwa yang terpenting saja dalam kehidupan. Dan, kalaupun ada nama KH. Moh. Hasan Mutawakkil Alallah, SH.MM dalam sejarah bangsa ini, itu karena pimpinan Pondok Pesantren Zainul Hasan Genggong Pajarakan Probolinggo ini telah memahatkan sejarahnya sendiri.

Namanya begitu penting, ketika dirinya ditunjuk oleh Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) untuk menjembatani pertemuan antara penguasa Orde Baru yakni presiden Soeharto dan Ketua PBNU Gus Dur – panggilan akrab Alm. KH. Abdurrahman Wahid – yang saat itu saling berseberangan. Peristiwa tahun 1996 yang merupakan simbol wujud rekonsiliasi (islah) Nasional antara Pemerintah dan NU itu pun lantas dikenal dengan “Salaman Genggong”.

Lantas, apa kelebihan KH. Mutawakkil ini sehingga para kyai lebih memercayakan kesuksesan moment penting itu pada dirinya? Anak pasangan KH. Hasan Saifourridzal dan Nyai Hajjah Himami Habshowati ini, ternyata memiliki hubungan yang dekat dengan keluarga Cendana, lewat jalinan bisnis yang dilakoninya.

Sementara di kalangan kyai NU, ia dikenal sebagai santri sekaligus kyai muda yang tawadlu’ dengan ulama’ sepuh. Dia dinilai cakap dan berhasil dalam mengemban beberapa amanat yang dipasrahkan kepadanya. Langkah besar pertama diawal sejarah perjalanan hidupnya terjadi tahun 1991, saat kyai Mutawakkil dipercaya PBNU untuk menjadi tuan rumah pergelaran Musyawarah Nasional (Munas) LPS NU Pagar Nusa – tepat pada peringatan 100 hari wafatnya almarhum KH. Hasan Saifourridzal.

Berkat keberhasilannya itu, selang setahun kemudian, tepatnya bulan Oktober 1992, ia kembali dipercaya Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama (PWNU) Jawa Timur sebagai shahibul bait Konferensi Wilayah (Konferwil) NU Jawa Timur. Konferwil yang tengah mengagendakan pergantian fungsionaris PWNU Jawa Timur beserta penyusunan program lima tahun ke depan itu, lantas mengantarkan Drs. KH. A. Hasyim Muzadi terpilih sebagai ketua Tanfidziyah PWNU Jawa Timur masa khidmat 1992-1997. Dari Konferwil ini, Kyai Mutawakkil mulai memperoleh kepercayaan membantu kyai Hasyim di PWNU Jawa Timur dan juga di Pusat Koperasi Pondok Pesantren (Puskopontren) Jawa Timur. Selain itu, ia juga pernah menghidupkan Jami’atul Qura oleh PBNU dengan menyelenggarakan Munas di Genggong.

Tapi, berbekal pengalaman seperti itu masih dirasa belum cukup baginya. Sebab mempertemukan dua tokoh yang berseberangan, bukanlah persoalan gampang. Demi meyakinkan Pak Harto, dia harus menembus tembok birokrasi yang tebal dan mesti menghadapi warning (peringatan) dari tentara untuk keamanan. Sementara dengan Gus Dur, ia seperti berhadapan dengan benteng kepribadian yang kokoh.

Maka, dipilihlah acara Musyawarah Kerja Nasional Rabithah Ma’ahid Al-Islamiyah (RMI) – perhimpunan pesantren-pesantren NU – sebagai tilas sejarah bangsa di awal November 1996 itu. Dalam acara yang dibuka oleh Gus Dur itu, Kyai Mutawakkil juga mengundang Presiden HM. Soeharto dan sejumlah Menteri ke Ponpes Zainul Hasan Genggong Probolinggo. Tentu saja, acara itu juga disaksikan seluruh ulama’ NU.

Drama yang sangat mendebarkan itu pun seperti berlangsung lambat. Barisan tentara keamanan berikut persenjataannya disiagakan. “Bahkan di belakang dan depan rumah saya ada beberapa tank yang ikut berjaga,” tuturnya.

Pertemuan keduanya, diperkirakan berlangsung formal dan kaku. Ada keraguan dalam hatinya – juga sejumlah ulama’, kalau-kalau Presiden enggan bertemu apalagi berjabat tangan dengan Gus Dur. “Syukur alhamdulillah, dengan senyumnya yang khas, bagitu turun dari mobil kepresidenan di pintu gerbang pesantren, Pak Harto bersalaman dan berbincang akrab dengan Gus Dur,” ujarnya. “Bahkan sebelum naik mimbar VVIP Munas RMI, Pak Harto menggandeng tangan kanan dan menuntun Gus Dur berjalan menuju ndalem kesepuhan,” tambahnya dengan nada haru.

Peristiwa “Salaman Genggong”, bagi KH Mutawakil adalah sebuah pelajaran yang begitu penting dan sangat mengesankan dirinya hingga saat ini. “Peristiwa itu memberi pelajaran penting bagi saya, bahwa kita tidak boleh hanya mengandalkan rasio dan strategi yang bersifat rasional, namun juga harus percaya barokah dari para ulama,” katanya mengenang.

Keyakinannya pada barokah ulama’ itu, dikarenakan dirinya telah lama hidup di pesantren. Pria yang dilahirkan di Probolinggo, 22 April 1959 itu pun merasa bersyukur karena telah dipondokkan ayahnya sejak kecil. Sebab, pendidikan semasa bocah itulah yang menjadi pondasi langkahnya menjalani kehidupan. “Hidup di pesantren, mendidik saya menjadi pribadi mandiri. Tidak selalu tergantung kepada orang lain, terutama mengandalkan uluran tangan dan bantuan dari orangtua,” terangnya.

Ketika baru berusia sebelas tahun, Mutawakkil kecil sudah dipondokkan ayahandanya ke Ponpes Madrasatul Ilmi Syari’ah Sarang, Rembang Jawa Tengah pimpinan Kyai Imam. Namun pendidikannya di pesantren ini berjalan singkat, hanya 9 bulan. Anak kedua dari enam bersaudara itu pun lantas melanjutkkan pendidikan agamanya di Ponpes Hidayatul Mubtadi’ien Lirboyo Kediri, sekaligus menempuh pendidikan menengah pada Madrasah Tsanawiyah dan Aliyah Lirboyo. Saat di Lirboyo, ia sudah menyenangi pelajaran Nahwu, Sharaf, Balaghah (ilmu alat), Ilmu Fiqh, Tafsir dan Hadits.

Selama sebelas tahun (1979-1981), dirinya mendalami agama di bawah asuhan KH. Marzuki dan Romo Kyai Mahrus Ali. Pemuda Mutawakkil juga sempat mengenyam pendidikan tinggi di Fak. Syari’ah Universitas Tribhakti Kediri dan ikut aktfi di organisasi PMII (Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia). Setelah berhasil menggamit Sarjana Mudanya, dirinya melanjutkan kuliah di Universitas Islam Indonesia (UII) Yogyakarta. Baru setahun menempuh kuliah, dirinya mendapat beasiswa untuk belajar di Al Azhar Kairo, Mesir.

Pada tahun 1983, ia berkesempatan untuk mencari pengalaman study tour ke luar negeri, semisal ke Frankrut-Jerman, Polandia, Belgia dan Belanda. Saat itu, suami Nyai Hj. Muhibbatul Lubabah ini mengambil inisiatif untuk study banding dengan biaya sendiri. Karena tidak mempunyai biaya yang cukup, suami ayah enam putri itu kemudian mencari tambahan dana dengan bekerja apa saja. “Saat itu saya bekerja menjadi pelayan restoran di beberapa negara yang saya kunjungi,” tuturnya sambil senyum dikulum.

Dari pengalaman itu, ia mendapat pelajaran berharga. ”Ternyata akhlak Islam ada di Barat, bukan di Saudi,” tukasnya singkat. Kesimpulan itu dilontarkan setelah memperhatikan hubungan kerja antara buruk dan majikan. “Akhlak yang ada di Saudi itu tidak sesuai dengan tuntunan Islam. Walau pun tidak semua, mereka rata-rata kasar, tidak menghargai, egois dan tidak memberikan hak sepenuhnya pada pekerja. Itu kasusnya banyak dan saya lihat dengan mata kepala sendiri,” katanya menyodorkan bukti.

Di tengah keasyikannya menikmati pengalaman keilmuan itu, secara mendadak dia diminta pulang karena ayahnya sakit. Demi dharma bhaktinya kepada orangtua, dia rela mengorbankan kesempatan emasnya mengakhiri kuliahnya di ibukota Mesir itu. Tak berselang lama, ayahnya wafat. Sejak saat itulah, Mutawakkil mulai mengajar dan mengasuh santriwan-santriwati di pesantren menggantikan ayahnya.

Sebelum meninggal, ayahnya memberikan wasiat kehidupan yang tak kan pernah bisa dilupakannya. “Hendaklah kamu selalu ikhlas dan mengharap ridho Allah semata dalam tiap langkah perjuanganmu. Jangan mengutamakan ridho manusia,” ucapnya lirih menirukan pesan ayahnya.

Membuat semua orang senang dan puas, terangnya, adalah sesuatu yang mustahil. “Walaupun kita sampai menjadikan kaki di atas dan kepala di bawah agar semua orang senang, kita tak kan pernah berhasil. Sebab keinginan manusia itu sesuatu yang tiada batasnya,” katanya. Maka yang menjadi prioritas utama, lanjutnya menjelaskan, adalah diridhoi Allah dan tidak melanggar syari’at.

Dalam menjalani kehidupan selanjutnya, dia pun mencoba melakukan seperti apa yang diwasiatkan sang ayah kepadanya. “Ayah menginginkan agar saya memiliki hati seperti lautan. Selalu ada gelombang, walaupun tidak ada sampan atau perahu di situ,” ujarnya. Garam lautan, lanjutnya, juga bisa dimanfaatkan oleh semua orang. Di dalamnya ada kandungan mutiara dan beraneka ragam kekayaan laut yang tidak ternilai. “Tapi hebatnya, air laut tak pernah berubah rasa, walaupun dimasuki oleh limbah dan sampah,” terang mantan Ketua RMI tahun 1999-2004 itu.

Pesan filosofis itu begitu dihayati dan diamalkannya. Maka, penguatan akidah islamiyah berhaluan ahlussunnah wal jamaah pun begitu kokoh dia tancapkan mengakar ke dalam hatinya. Sehingga apa pun bentuk perjuangannya, selalu dalam niatan mencari ridho ilahi dan mengikuti sunnah nabi.

Maka, ketika menjadi Ketua Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama’ (PWNU) Jatim, dirinya tidak hanya membangun pondasi keimanan dan ketakwaaan, tapi juga konsen pada masalah-masalah keumatan yang lain. “Kita harus mampu merespon persoalan-persoalan kemasyarakatan dengan kreativitas yang tinggi. Baik di bidang keagamaan, ekonomi, pendidikan, teknologi dan politik, dalam hal ini politik kebangsaan,” tuturnya. “Islam akan kuat jika dibangun oleh iman dan takwa yang kokoh, serta ditopang oleh kekuatan ekonomi,” tuturnya.

Dirinya juga berkeinginan untuk memajukan koperasi pesantren. “Namun itu tidak mudah. Kita masih kekurangan SDM yang bisa mengelola ekonomi,” ucapnya prihatin. Sebenarnya dengan tersebarnya kopontren di beberapa pesantren, terangnya, hal itu sudah merupakan langkah maju untuk menjadikan pesantren sebagai sentral keagamaan dan sentral ekonomi umat. “Islam akan kuat jika dibangun oleh iman dan takwa yang kokoh, serta ditopang oleh kekuatan ekonomi,” tukas Ketua Pusat Koperasi Pondok Pesantren (Puskopontren) wilayah Jawa Timur ini

Iklan

About iroelizzta

santai tapi pasti

Posted on 29 Februari 2012, in islam..... Bookmark the permalink. Tinggalkan komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: