Cahaya itu Tertutup Tebalnya Karat di Hati


BENCANA ALAM seakan tak henti-hentinya memporak-prandakan negeri ini. Bahkan di bulan Ramadhan kemarin, bencana itu masih saja datang mendera. Selama ini, kita hanya menganalisisnya dari sisi gejala alam. Tetapi tidakkah hal itu terkait pula dengan sesuatu yang sifatnya spiritual? Untuk mengupas lebih dalam masalah ini, kami sengaja meluncurkan serentetan pertanyaan kepada Habib Luthfi Yahya Pekalongan. Sebab kata beliau, bencana itu akibat dari banyaknya manusia yang lupa kepada Allah SWT. Berikut petikan wawancaranya:

 

 

 

 

Dalam konteks spiritual, apa sebenarnya penyebab dari banyaknya bencana yang menimpa negeri ini?

Hal itu dikarenakan umur dunia itu memang sudah tua. Dan ini menunjukkan, bahwa selain Allah itu memang lemah dan pasti akan mengalami kehancuran. Sebagai pendukung untuk mempercepat kehancuran tersebut, adalah ulah manusia sendiri. Sebab manusia sudah banyak yang melupakan Allah. Rasa takut kepada Allah dan kekuatan semangat untuk mengikuti tuntunan Rasulullah, juga pada mengendur. Karena kelalaian itulah, sehingga membuat manusia gampang melakukan maksiat.

Artinya bahwa perilaku maksiat manusia itu bisa mempercepat terjadinya bencana?

Ambil misal saja dengan adanya beragam alat musik. Alat-alat itu tidak akan berbunyi kalau tidak digerakkan oleh tangan manusia. Ketika orang itu dalam kondisi takut kepada Allah SWT dan cinta kepada RasulNya, maka dia akan sungkan untuk membunyikannya meskipun alat-alat tersebut berada di depannya. Maka alat-alat itupun akan diam dan tak bersuara. Nah, maka tanamkan dulu kepada manusia rasa cinta kepadaNya dan bukan dengan menghancurkan alat musiknya. Sebab akibat dari ulah manusia itulah sehingga Allah memberi peringatan-peringatan berupa bencana alam, agar mereka mau kembali kepada Allah dan mengikuti jalan rasulNya. Jadi dengan adanya berbagai bencana itu, adalah supaya umat manusia mau kembali kepada Allah SWT.

Dan kini bencana-bencana itu telah terjadi. Lalu apa yang seharusnya dilakukan oleh para pemimpin negeri ini untuk mengatasinya?

Mengapa semua itu harus ditimpakan semata kepada mereka? Janganlah kita hanya membebankan semua itu kepada para Umara’ saja. Marilah masing-masing kita bertanya pada diri sendiri. Sebab jika seorang peminum hanya takut pada polisi, dia bisa saja tak melakukannya sewaktu ada polisi yang lewat. Tetapi di tempat lain, dia bisa melakukan mabuk-mabukan kembali. Sebab rasa cinta terhadap kemaksiatan masih tumbuh di hatinya. Tetapi jika di hatinya tumbuh rasa takut kepada Allah, meskipun minuman itu berada di depannya tentu dia tak akan pernah menyentuhnya. Jadi… adanya berbagai bencana tersebut merupakan tanggung jawab kita semua.

Berarti setiap individu berkewajiban untuk mencegah adanya kemaksiatan yang ada di negeri ini?

Iya. Tapi jangan lantas main hakim sendiri. Sebab kita ini bernegara. Punya aturan-aturan bersama yang harus ditaati. Negara ini punya tata pemerintahan, yang setiap bidang memiliki tugas, tanggung jawab dan wewenangnya masing-masing. Nah, dari bagian-bagian itulah yang seharusnya melakukan musyawarah secara baik. Dari kebijakan yang diambil dari jalan musyawatah inilah, yang nantinya hasil dan manfaatnya bisa dipetik dan dirasakan oleh masyarakat luas. Sehingga dalam mengeterapkan setiap kebijakan, tidak boleh diterapkan dengan kekerasan. Ketika Nabi Muhammad SAW diangkat menjadi Rasul, beliau tak lantas langsung menghancurkan berhala-berhala yang ada di lingkungan masijidil Haram.

Saat ini umat Islam masih dalam suasana Idul Fitri. Sebelum menanyakan lebih dalam soal tersebut, apa sebenarnya makna fitrah itu sendiri?

Arti fitrah itu adalah untuk mensucikan, baik dari segi lahiriah maupun bathiniah. Itupun sesuai dengan takaran yang ditentukan oleh hukum fitrah itu sendiri. Dan ketentuan agama adalah untuk mensucikan diri. Jadi meskipun sudah bersih dibasuh oleh Ramadhan, namun akan lebih disucikan lagi dengan ditambah nilai-nilai kesucian Idul Fitri.

 

Lantas apa yang semestinya kita lakukan, agar dapat memasuki kondisi al-Fitrah tersebut?

Dengan cara memperbaiki dari karya amal yang kita lakukan selama Ramadhan. Itulah yang kita jadikan sebagai bekal dalam berkehidupan sehari-hari. Dalam konteks Haji, berarti kita harus menjadi seorang Haji yang mabrur. Dan kemabruran inilah yang kita jadikan sebagai bekal kehidupan sehari-hari. Jadi.. bekas dan buahnya mabrur itulah yang kita jadikan sebagai bekal sehari-hari. Begitupun dengan buah Ramadhan. Hasil kefitrahan itulah yang kita ambil dan kita ujudkan dalam amal nyata. Artinya kain yang sudah putih itu jangan pernah kita kotori lagi, sehingga bisa kita gunakan kembali untuk menyongsong Ramadhan mendatang.

Tahapan-tahapan apa saja yang mesti kita lalui untuk mencapai kondisi fithrah tersebut?

Yang paling awal, kita harus banyak belajar mengenal tentang Allah SWT. Mungkin kita sudah yakin bahwa Allah itu tidak beranak dan diperanakkan. Dan juga kita telah yakin bahwa Allah itu tiada sekutu bagiNya. Namun sejauh mana sebenarnya kita telah benar-benar mengenalNya? Jadi tahapannya itu dari belajar mengenal, lalu benar-benar mengenalNya, dan lantas kita dikenal oleh Allah SWT.

Lalu mengenai cara belajar mengenal Allah?

Kita mengenali tentang apa yang diciptakan oleh Allah terlebih dahulu.  Dari mengenali ciptaanNya itulah, lantas kita mengenali siapa yang menciptakannya. Nah, di situlah kita akan melihat kebesaran-kebasaran Allah SWT yang ditunjukkan kepada kita semua. Setelah kita sudah mengenalnya, lalu kita tingkatkan lagi. Sadarkah kita sebagai hamba, mengertikah kita sebagai  hamba, tentang apa kewajiban kita sebagai seorang hamba? Lantas bagaimana seharusnya perilaku seorang hamba yang telah mengenal kepada Tuhannya? Setelah itu kita tingkatkan lagi ke atas. Kita ini sejatinya diundang oleh waktu. Maka kita harus menghormati waktu. Begitu tingkat kesadarannya sudah tinggi, maka kalau waktu shalat sudah datang kenapa kita mesti menunda waktu untuk bergegas melakukannya? Seharusnya kita kan justru bersiap-siap untuk menunggu datangnya waktu tersebut, menghormat panggilan Allah SWT untuk shalat. Bukankah setiap kali berkumandang adzan, itu merupakan panggilan yang telah memperingatkan kita? Sehingga ketika terdengar suara adzan, kita merasa senang dan gembira, lantas bersiap-siap untuk hormat akan datangnya panggilan Allah tersebut.

Tetapi dalam kenyataannya, hal demikian itu teramat sulit untuk dilakukan…

Untuk meraih tingkat demi tingkat semacam itu, memang bukan hal yang gampang.  Oleh karenanya, kita perlu sering datang ke suatu majlis dengan para ulama’, para shalihin, untuk mendengarkan fatwa-fatwanya. Kita harus sering pula mendengar petuah dan pandangan-pandangan para auliyaus-shalihin. Rasanya terlalu sulit untuk dapat meraihnya lebih jauh, jika kita jauh dari beliau-beliau itu. Sebab mereka bagaikan ruang yang memiliki lentera, mempunyai baterainya. Nah, kita ini bagian yang dioborinya. Semakin kita dekat kepada orang-orang shalihin, maka akan lebih jauh lagi kita dapat mengenal Allah SWT dan RasulNya.

 

Jalan tercepat yang bagaimanakah, sehingga manusia merasa dirinya senantiasa bersama dengan Allah SWT Dzat yang selalu membimbingnya?

Saya sendiri masih bingung, melihat bagaimana proses orang yang makan langsung sepiring sekali telan? Padahal seharusnya kita menelannya sesuap demi sesuap. Yang penting kan sepiring bisa habis. Namun apa jadinya di pencernaan, jika mulut kita tidak pernah mengunyah untuk membantu pencernaan? Apa hasilnya atau apa yang akan terjadi dalam proses pencernaan tersebut. Memang menarik, waktu makan yang lebih singkat dan lebih cepat. Jalan yang paling cepat dan tepat untuk mencapai proses makan, apa nasinya yang lebih baik dibubur saja ya.. biar lebih encer, supaya menelannya lebih mudah. Tapi nyatanya semua itu sudah ada tempatnya. Yang mempercepat dan sebagainya itu, sudah ada bagiannya masing-masing. Nah.. maka dari itu, tahapan untuk secepat itu tidak mungkin mudah. Contohnya ya.. seperti orang yang makan sepiring langsung telan tadi.

Lalu apa yang mesti dilakukan, agar dalam beraktivitas kita masih tetap bisa mengingat Allah?

Kalau tidak dilatih ya mana mungkin? Pada awalnya hati itu harus dikasih latihan untuk senantiasa mengingatNya. Itu memang tak mudah. Terkadang sering lupa. Tetapi setelah terbiasa, maka bagian tubuh yang kita latih ini punya refleks sendiri sesuai dengan tempatnya masing-masing. Gerak tangan saja yang tak berhati, juga mengikuti gerakan ruh. Apalagi dengan hati kita yang terbiasa dengan latihan-latihan. Insya-Allah hati kita tidak akan pernah lupa dzikir kepada Allah SWT. Sebab itu sudah terjadi secara refleks. Maka latihlah senantiasa hati kita. Sebab jika hati itu biasa memandang sesuatu yang baik, berpikiran baik, berprasangka yang baik, selamanya hati kita akan timbul secara reflek dengan pandangan-pandangan yang baik sehingga akan selalu jernih.

 

Apa pandangan-pandangan Al-Habib tentang Tasawuf?

Tasawuf adalah pembersih hati. Dan tasawuf itu ada tingkatan-tingkatannya. Yang terpenting, bagaimana kita bisa mengatur diri kita sendiri. Semisal memakai baju dengan tangan kanan dahulu, lalu melepaskannya dengan tangan kiri. Bagaimana kita masuk masjid dengan kaki kanan dahulu. Dan bagaimana membiasakan masuk kamar mandi dengan kaki kiri dulu dan keluar dengan kaki kanan. Artinya bagaimana kita mengikuti sunnah-sunnah Nabi. Itu sudah merupakan bagian dari tasawuf.

Bukankah hal semacam itu sudah diajarkan orang tua kita sejak kecil?

Para orang tua kita dulu sebenarnya sudah mengeterapkan tasawuf. Hanya saja hal itu tak dikatakannya dengan memakai istilah tasawuf. Mereka terbiasa mengikuti tuntunan Rasulullah. Seperti ketika mereka menerima pemberian dengan tangan kanan, berpakaian dengan memakai tangan kanan dahulu. Mereka memang tak mengatakan, bahwa itu merupakan tuntunan Nabi SAW. Tapi mereka mengajarkan untuk langsung diterapkannya. Kini kita tahu kalau yang diajarkannya itu adalah merupakan tuntunan Nabi. Itu adalah tasawuf. Sebab tasawuf itu tak pernah terlepas dari nilai-nilai akhlaqul karimah. Sumber tasawuf itu adalah adab. Bagaimana adab kita terhadap kedua orang tua, bagaimana adab pergaulan kita dengan teman sebaya, bagaimana adab kita dengan adik-adik atau anak-anak kita. Bagaimana adab kita terhadap lingkungan kita. Termasuk ucapan kita dalam mendidik orang-orang yang ada di bawah kita. Kepada anak-anak kita yang baru aqil baligh, kita harus benar-benar menjaganya agar jangan sampai mengeluarkan ucapan yang kurang tepat kepada mereka. Sebab ucapan itu yang diterima dan akan hidup di jiwa anak-anak kita.

Bagaimana sikap kita ketika berada di tengah-tengah lingkungan masyarakat yang sudah carut marut?

Mampukah ketika kita berhadapan dengan lingkungan yang demikian itu? Ketika kita asyik-asyiknya bergurau, maka berhentilah sejenak. Kita koreksi apakah ada sesuatu yang kurang pantas? Agar hal yang demikian itu tak dicontoh atau ditiru oleh anak-anak kita. Itu sudah merupakan tasawuf. Jadi dalam rangka pembersihan hati, bisa dimulai dari hal-hal kecil semacam itu. Lalu kita tingkatkan dengan tutur sikap kita terhadap orang tua. Ketika kita makan bersama dengan orang tua, janganlah kita menyantap terlebih dahulu sebelum bapak-ibu kita memulai dulu. Janganlah kita mencuci tangan dahulu sebelum kedua orang tua kita mencuci tangannya. Makanlah dengan memakai tangan kanan. Dan jangan sampai tangan kiri turut campur kecuali itu dalam kondisi darurat. Sebab Rasulullah tak pernah makan dengan kedua tangannya sekaligus. Ini sudah tasawuf.

Apa yang sebenarnya menarik diri Al-Habib, sehingga begitu getol menekuni dunia Tasawuf?

Yang menarik, karena tasawuf itu mengajarkan pembersihan hati. Saya ingin mempunyi hati yang sangat bersih. Jadi tak sekedar bersih tidak sombong karena ilmunya, tidak sombong karena statusnya, tidak sombong karena ini dan itu. Namun hati ini betul-betul mulus, selalu melihat kepada kebesaran Allah SWT yang diberikan kepada kita. Itu semua karena fadhalnya Allah SWT. Sehingga kita tidak lagi mempunyai prasangka-prasangka yang buruk, apalagi berpikiran jelek dalam pola pikir dan lebih-lebih lagi di hati. Sebab tasawuf itu adalah tazkiyatul qulub, yakni untuk membersihkan hati. Jika hati kita ini bersih, maka hal-hal yang selalu menghalang-halangi hubungan kita kepada Allah itu akan sirna dengan sendirinya. Sehingga kita senantiasa mengingat Allah. Ibarat besi, hati kita itu sebenarnya putih bersih. Hanya karena karatan yang bertumpuk-tumpuk lantaran tak pernah kita bersihkan, sehingga cahaya hati itu tertutup oleh tebalnya karatan tadi. Na’udzubillah kalau sampai hati kita seperti itu.

Lantas dari mana kita mesti memulai untuk pembersihan hati tersebut?

Ikutlah dahulu ajaran fiqih yang tertera dalam kitab-kitab fiqh. Seperti arkanus shalat, arkanul wudlunya, mubtilatul wudlunya, mubtilatus shalat. Lalu adabus shalat, adabut thaharah dan seterusnya. Marilah itu semua kita pelajari dan kita laksanakan dengan sebaik-baiknya. Ketika kita diundang untuk menghadiri acara walimah di sebuah gedung misalnya, maka kenakanlah pakaian yang bagus-bagus. Sebab itu demi menghormat dan untuk menyaksikan atas kehalalan kedua mempelai di pelaminan. Untuk menghormati acara tersebut, kita menggunakan pakaian yang rapi. Sebab pada hakekatnya, kita tengah menghormati Allah SWT yang telah menghalalkan tersebut. Kita juga menghormati yang telah mengundang kita, serta menghormati sesama kita dalam gedung atau dalam jamuan tersebut. Kalau kita bisa menyaksikan aqdun nikah secara demikian, mengapa kalau kita menghadap langsung kepada Allah SWT, tidak pernah melakukan penghormatan yang demikian itu?

Al-Habib dikenal sebagai mursyid Thariqah, tetapi terkadang kelihatan masih gemar memainkan alat musik…

Disana kita akan menemukan kekaguman. Ilmullah yang ada dalam musik itu sendiri. Diantaranya, notnya itu hanya ada 7; do re mi fa so la si do, do si la sol fa mi re do. Sedangkan oktafnya ada 7 dan suara miringnya 5. Jadi ada 12. Yang memakai adalah orang dari seluruh dunia, dan mengeluarkan lagu yang macam-macam. Itu merupakan satu hal yang sangat menarik. Ketika orang mendengarkan musik, mereka bisa menangis dan tertawa, bisa bersedih dan bersuka ria. Nah, yang berupa benda saja bisa menghasilkan efek semacam itu. Lantas bagaimana kalau kita tengah mendengarkan lantunan ayat al-Qur’an sedang dibacakan? Mestinya akan jauh lebih dari itu.

About iroelizzta

santai tapi pasti

Posted on 29 Februari 2012, in islam..... Bookmark the permalink. Tinggalkan komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: