Bom Bunuh Diri Itu Haram Dilakukan

Bom Bunuh Diri Itu Haram Dilakukan Masalah TERORISME, memang kerap dihubung-hubungkan dengan ajaran Jihad dalam Islam. Itulah yang membuat mereka berani melakukan bom bunuh diri, demi mengharap mati syahid untuk meraih surga. Tetapi benarkah terorisme itu berkaitan dengan ajaran jihad? Lantas apakah pelaku bom bunuh diri tersebut juga akan menggapai surgaNya? Untuk mengorek masalah tersebut lebih dalam, Tim dari MIMBAR Pembangunan Agama menemui KH. Abdullah Faqih di Langitan Tuban. “Tapi ini bukan sebagai fatwa atau taushiyah. Yaa.. anggap saja ini hanya nyumbang wawasan atau urun rembug saja,” pinta Pengasuh pondok pesantren Langitan ini bersahaja. Berikut petikan wawancaranya:

 

Apakah benar terorisme itu berkaitan erat dengan ajaran Islam tentang Jihad?

Masalah terorisme itu nggak ada kaitannya sama sekali dengan ajaran jihad. Sebab jihad itu merupakan sesuatu yang diperintahkan agama, dan besar sekali pahalanya. Jihad tidak bisa dilakukan dengan cara-cara yang bertentangan dengan ajaran Islam itu sendiri. Sedangkan terorisme dengan segala tindakan yang dilakukannya itu, jelas-jelas telah melanggar agama. Mereka telah melakukan kerusakan di muka bumi. Ini jelas melanggar ayat: “Dan janganlah kamu berkeliaran di muka bumi dengan berbuat kerusakan” (QS. Al Baqarah: 60). Bahkan aksi teror itu terbukti telah menyebabkan terbunuhnya orang lain tanpa hak yang semestinya. Baik itu orang mukmin yang tidak bersalah, maupun orang kafir yang bukan harbi (memusuhi umat Islam). Sebagaimana firman Allah SWT: “Dan janganlah kamu membunuh jiwa yang diharamkan Allah (membunuhnya) melainkan dengan sesuatu (sebab) yang benar” (QS. Al An’am: 151). Juga pada surah yang lain: “Dan barangsiapa yang membunuh seorang mukmin dengan sengaja, maka balasannya ialah Jahannam, kekal ia di dalamnya dan Allah murka kepadanya, dan mengutukinya serta menyediakan azab yang besar baginya” (QS. An Nisa: 93).

 

Tindakan kaum teroris juga kerap membikin orang lain jadi ketakutan…

Nah, itu juga termasuk yang tidak diperbolehkan oleh agama. Allah sangat melarang seseorang berbuat sesuatu yang bisa membuat orang lain merasa ketakutan. Tak hanya pihak yang mereka teror saja, melainkan semua orang juga menjadi ketakutan. Adanya unsur irhab atau tarwi’ (menakut-nakuti, mengancam atau membuat keresahan) terhadap masyarakat baik Muslim maupun non Muslim, ini jelas merupakan sebuah dosa yang besar. Sebagaimana disabdakan Rasulullah SAW: “Barangsiapa menakut-nakuti atau mengancam orang mukmin, maka Allah tidak akan memberi rasa aman (kepadanya) atas ancamannya pada hari Kiamat.” Jadi meskipun teroris itu punya tujuan yang baik menurut mereka, tetapi yang mereka lakukan itu bukanlah jalan yang baik. Sesuatu yang tujuannya baik, tetapi cara yang digunakan untuk meraihnya adalah dengan tindakan yang tak benar, tetap saja hal itu dilarang oleh agama. Sebab dalam memerintah kebaikan itu harus dengan jalan yang bagus pula. Begitupun untuk mencegah kemungkaran, nggak bisa dilakukan dengan cara dan tindakan yang mungkar pula.

Termasuk tindakan dengan bom bunuh diri itu, Kyai?

Iya. Termasuk pelaku bom bunuh diri itu. Semua tindakan yang dilakukannya itu, sangat bertentangan dengan ajaran Islam. Bahkan jika mereka menganggap benar jalan bom bunuh diri tersebut, ini malah sangat dikhawatirkan mereka bisa menjadi murtad. Sebab itu termasuk menghalalkan sesuatu yang jelas-jelas diharamkan oleh agama. Allah berfirman: “Dan janganlah kamu membunuh dirimu; sesungguhnya Allah adalah Maha Penyayang kepadamu” (QS. An Nisa’: 29). Rasulullah SAW sendiri juga bersabda: “Barangsiapa membunuh dirinya dengan suatu apa pun di dunia, maka dia pada hari Kiamat akan disiksa dengan sesuatu tersebut” (HR. Bukhari). Dalam riwayat yang lain disebutkan: “Barangsiapa membunuh dirinya dengan sebuah besi, maka besi itu akan ditusukkan ke dalam perutnya di neraka jahannam selama-lamanya” (HR. Bukhari).

Apalagi yang dibunuhnya itu adalah orang yang tak bersalah dan tak berdosa…

Lebih-lebih yang meninggal itu adalah jelas-jelas orang yang beriman dan Islam. Sabda beliau, “Langit bumi seisinya ini lebih ringan dibandingkan dengan kematian seorang mukmin yang dibunuh tanpa salah.” Juga nggak bisa mereka seenaknya dengan membunuhi para turis yang ada di sini. Mereka itu bukanlah kafir Harbi. Sebab yang bisa diperangi dan dibunuh itu, adalah orang kafir yang memusuhi kita. Tetapi orang-orang kafir yang mau menjunjung perdamaian bersama-sama, seperti yang ada di negeri ini, ya nggak boleh diperangi.

Jadi intinya… tindakan teror itu tidak ada kaitannya dengan ajaran jihad?

Benar. Sama sekali keduanya tak berkaitan.

 

Lalu apa sebenarnya pengertian atau makna dari jihad itu sendiri?

Dalam Islam jihad itu ada dua, yaitu jihadun nafsi dan jihadul a’dail kafirin. Jihadun nafsi adalah bersungguh-sungguh mengalahkan nafsunya supaya tunduk kepada perintah Allah dan menjauhkan diri dari maksiat. Sebagaimana sabda Rasulullah SAW: “Mujahid adalah orang bersungguh-sungguh melawan hawa nafsu. Orang yang berhijrah adalah orang yang berpindah dari apa yang dilarang oleh Allah.” Jadi.. jihadun nafsi itu memerangi nafsu sendiri. Melakukan kebaikan dan meninggalkan kemaksiatan.

Yang jihadul a’da’il kafirin…

Adapun jihadul a’da’il kafirin, adalah berperang melawan orang-orang kafir pada saat agama, negara atau jiwa kita diserang oleh mereka. Ini berdasarkan pada firman Allah SWT: “Telah diizinkan (berperang) bagi orang-orang yang diperangi, karena sesungguhnya mereka telah dianiaya. Dan sesungguhnya Allah benar-benar Maha Kuasa menolong mereka itu” (QS. Al Haj: 39). Jadi.. dalam kondisi semacam itu, semua umat Islam wajib berjihad. Atau berperang melawan mereka, yang menghalang-halangi usaha dakwah yang dilakukan oleh orang-orang Islam. Bahkan terhadap mereka yang menantang orang-orang Islam untuk melakukan perang terbuka. Maka dalam kondisi seperti itu, jika umat Islam mempunyai kekuatan maka wajib untuk memeranginya. Dulu ketika Nabi mengirim para da’i ke suatu kabilah, 70 sahabat itu dibunuh di sana. Nah, ini baru dinamakan jihad. Allah SWT berfirman: “Dan perangilah di jalan Allah orang-orang yang memerangi kamu sekalian, (tetapi) janganlah kamu melampaui batas. Karena sesungguhnya Allah itu tidak menyukai orang-orang yang melampaui batas” (QS. Al Baqarah: 190). Juga sabda Rasulullah SAW: “Perangilah orang-orang musyrik dengan harta, jiwa dan lisanmu.” Jadi kalau orang-orang kafir itu menjajah, memerangi atau merusak agama Islam, kita wajib memerangi mereka. Namun itu tak boleh dilakukannya dengan cara-cara yang melampaui batas.

Lalu batasan dari kalimat yang melampaui batas itu, Kyai?

Batasannya ketika mereka mengucap kalimah syahadat. Jadi bila orang-orang kafir itu sudah tunduk dan memastikan masuk Islam, sudah mengucap laailaaha illallah, ya sudah berhenti di situ. Jangan sampai dendam keterusan. Sebab mereka sudah tidak boleh diperangi dan bahkan harus dilindungi jiwa dan hartanya. Inilah yang dimaksud dari sabda Nabi SAW: “Saya diperintah untuk memerangi manusia sampai mereka mengucapkan Laa ilaaha illallah (HR. Bukhori). Jika mereka telah mengucapkannya maka darah dan harta mereka dilindungi, kecuali dengan hak Islam dan perhitungan mereka ada pada Allah. Jadi hadits ini bukan berarti bahwa Rasul diperintah memerangi orang kafir sampai mereka mengucapa kalimat syahadat semua. Bukan seperti itu pengertiannya. Akan tetapi maksudnya, Nabi memerangi orang yang telah memerangi beliau terlebih dahulu. Namun kalau mereka telah menyatakan Islam, maka tak boleh diperangi lagi.

Meskipun itu cuma sebagai siasat agar tak dibunuh?

Iya. Meskipun itu cuma sebagai siasat saja. Dulu pernah ada seorang yang mengucap syahadat, tapi Khalid bin Walid masih tetap membunuhnya karena menganggap itu hanya sebagai siasat saja. Maka Rasul pun berdoa: “Ya Allah, saya tak ikut campur dengan yang diperbuat oleh Khalid bin Walid.” Jadi bukan dipaksa agar semua orang-orang kafir itu nenyatakan diri untuk masuk Islam. Pada semasa Rasulullah berada di Madinah, kan di sana juga masih banyak orang-orang yang masih kafir.

 

Lantas kenapa kaum teroris itu bersikukuh meyakini dan mengatasnamakan Jihad untuk mendukung semua tindakannya tersebut?

Yaa.. karena mereka itu biasanya tak memahami ajaran Islam yang sebenarnya. Jadi.. itu semua karena kurangnya pengetahuan mereka tentang Islam. Sebab mereka tak mau berguru kepada para ulama’ dan para kyai. Sehingga mereka banyak mempelajari Islam bukan dari sumber yang orisinil. Padahal Rasulullah sudah mengingatkan hal ini dalam sabdanya: “Umatku akan senantiasa dalam kebaikan, selama mereka belajar ilmu agama dari para ulama’nya.” Juga dengan sabdanya pula: “Sesungguhnya ilmu adalah agama, maka cermatilah dari mana kamu semua belajar ilmu agama.” Sedangkan mereka kan sukanya melakukan ijtihad sendiri, dengan menafsir al-Qur’an sendiri, sehingga menimbulkan faham-faham yang semacam itu. Dari sanalah sehingga muncul pengertian syahid yang seharusnya dilakukan di pertempuran medan perang, bisa mereka lakukan di mana saja dengan cara membunuh dirinya sendiri.

Jadi tindakan bom bunuh diri itu jelas-jelas dilarang oleh agama, Kyai?

Pada zaman Nabi SAW dulu ada seorang yang ketika di medan pertempuran sangat luar biasa. Tapi Rasulullah justru mengatakan bahwa dia adalah ahli neraka. Seorang sahabat ingin membuktikannya, dengan menguntitnya terus. Tepat pada sebuah pertempuran, lelaki tadi badannya tercabik-cabik penuh luka hingga tak kuat lagi menahan tubuhnya. Lalu ditancapkannya sebuah pedang ke dalam tubuhnya dengan tangannya sendiri. Nah, bom bunuh diri itu ya seperti itu. Hukumnya haram. Kalau ada yang mengatakan itu adalah jihad, ya tadi.. itu karena minimnya pengetahuan agamanya. Makanya biasanya yang melakukan itu adalah anak-anak muda yang jiwanya mudah untuk dipengaruhi. Mereka itu memang pintar-pintar, tapi pemahaman agamanya sangat kurang. Sehingga kalau diambilkan dalil al-Qur’an semisal waqaatilul musyrikiina kaffah, mereka langsung memahaminya dengan memerangi dan membunuh orang-orang musyrik semuanya. Seandainya mereka mau mengkaji kitab-kitab yang diajarkan di pondok pesantren, insya Allah tak akan terpengaruh dengan provokasi semacam itu.

 

Namun bukankah mereka yang melakukan bom bunuh diri itu, justru kebanyakan dari lulusan pesantren?

Umumnya pondok pesantren yang kemasukan “aliran jihad” semacam itu, bukan pondok pesantren yang model ahlus sunnah wal jamaah. Pesantren yang mereka masuki itu rata-rata usia berdirinya masih baru. Yaa.. baru muncul beberapa puluh tahun belakangan saja. Cara pengelolaan dan sistemnya pun juga model baru. Tapi kalau pondok-pondok kuno yang berdirinya sudah mencapai hitungan abad, nggak ada ajaran yang semacam itu. Jadi… saya berharap jangan digebyah-uyah semuanya. Jangan sampai tumbuh anggapan semua pesantren ya semacam itu. Mungkin ini juga ada usaha dari pihak lain untuk menjatuhkan nama baik pondok pesantren.

Untuk mendukung pemahaman terorisme sebagai tindakan jihad, bukankah mereka juga merujuk pada kitab-kitab…

Betul. Tapi kitab-kitab yang dijadikan sebagai rujukan itu tak sama dengan kitab-kitabnya ahlus-sunnah. Sehingga penafsirannya pun bisa berseberangan dan bertentangan. Cara mengetahui ciri mereka itu tak sulit. Sebab mereka biasanya sangat mudah mengkafirkan orang lain. Kalau sudah dianggap kafir semacam itu, maka halallah darahnya sehingga nggak apa-apa kalau dibunuh. Anak-anak muda tak memahami dengan dalil-dalil yang mereka berikan. Makanya mereka lantas ikut dan mengiyakannya saja. Padahal mereka itu hanya dikasih dalil yang sepotong-sepotong dan bahkan ada yang dipenggal. Ya seperti  ayat waqaatilul musyrikiina kaffah tadi. Padahal ayat itu bersambung dengan kama yuqaatiluunakum kaffah. Mereka juga tak mengerti tentang asbabun nuzulnya (sebab-sebab turunnya ayat al-Qur’an). Padahal ayat tersebut berhubungan dengan peristiwa, ketika yang mengepung Nabi dalam perang Khandaq bukan hanya kaum kafir Quraisy Mekkah saja, melainkan juga dari kabilah-kabilah lainnya. Jadi yang diperangi seluruhnya itu adalah mereka yang telah memerangi Rasulullah. Sedangkan bagi orang kafir yang tak memusuhi Nabi, mereka ya dibiarkan saja.

 

Lantas cara mengtasai agar pondok pesantren tak kemasukan faham semacam itu?

Para ustadz haruslah memberikan pemahaman kepada para santrinya, bahwa tindak terorisme itu bukanlah merupakan ajaran Islam. Mereka hendaknya juga diberi informasi dari perkembangan yang ada di masyarakat perihal terorisme tersebut. Tindakan seperti itulah yang mengakibatkan orang Barat menuduh Islam itu tempatnya kekerasan. Padahal itu adalah anggapan yang jelas-jelas keliru. Sebab Islam itu agama yang rahmatan lil ‘alamin.

Himbauan kepada masyarakat dan pemerintah, Kyai?

Untuk masyarakat, jangan jauh-jauh dari ajaran agama Islam yang diberikan oleh para ulama’ dan kyai. Jadi jangan gara-gara merasa tak puas dengan pemerintah, lalu melakukan tindakan-tindakan yang nggak benar. Sedangkan bagi pemerintah sendiri, agar menampakkan keberpihakan terhadap orang-orang yang tertindas nasibnya. Jadi tampakkanlah keberpihakan terhadap rakyat. Ini yang harus lebih ditonjolkan. Di sisi lain, juga senantiasa mau mendengarkan nasehat para ulama’. Untuk ulama’nya sendiri, jangan pernah bosan-bosan untuk selalu beramar ma’ruf nahi munkar. Namun sebaiknya jangan sendiri-sendiri. Hendaknya mereka itu terhimpun pada sebuah jam’iyah atau apapun namanya guna menyatukan langkah bersama guna mengatasi masalah terorisme tersebut.

About iroelizzta

santai tapi pasti

Posted on 29 Februari 2012, in islam..... Bookmark the permalink. Tinggalkan komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: