Monthly Archives: Februari 2012

srebrenica….

Srebrenica 

Di sebuah tempat yang dulu tak dikenal dunia, sekitar 8.000 muslim dibunuh. Sejak itu Srebrenica, sebuah kota kecil pegunungan di sebelah timur Bosnia dan Herzegovina, jadi sebuah nama yang menakutkan. Atau menjijikkan. Atau memalukan.

Di situlah selama tujuh hari di pertengahan kedua Juli 1995, Jenderal Ratko Mladic, panglima tentara yang berdarah Serbia, menjalankan apa yang jadi kehendak dan rencananya. Mungkin baginya inilah penyelesaian final untuk persoalan masa depan Bosnia, seperti endgültige Lösung Hitler untuk masalah Yahudi: orang-orang Bos­nia yang bukan Serbia, terutama yang muslim, harus dihabisi.

Mladic memang perwujudan klise tokoh algojo dalam cerita picisan: tambun dan kasar, ia pernah diceritakan membunuh seseorang dengan tangan telanjang—setelah ia meyakinkan si korban bahwa tak akan terjadi apa-apa, sambil ia melatih otot-otot tangannya untuk membinasakan si tahanan. Ketika pasukannya mengepung Kota Sarajevo, ia perintahkan pasukannya untuk meningkatkan gempuran artileri secara ber-”irama” sampai pikiran penghuni kota itu “terpelintir”.

Dalam salah satu sajaknya, penyair Bos­nia Abdullah Sidran menyebut Mladic sebagai “monster dengan epaulet”. Orang lain menamainya “jagal dari Srebrenica”.

Semula Srebrenica adalah wilayah yang terlindung: orang-orang muslim menemukan tempat yang aman di sana. Ada pasukan PBB yang menjaga orang-orang yang melarikan diri dari perang etnis di Yugoslavia yang pecah itu. Terutama mereka yang melarikan diri dari pembantaian, yang tahu bahwa kaum “nasionalis” Serbia akan menghabisi mereka.

Tapi Juli itu keadaan berubah. Sejak pekan pertama bulan itu, pasukan Serbia mengepung. Berangsur-angsur Srebrenica kehabisan bahan bakar. Persediaan makanan menipis. Dalam Postcards from the Grave Emir Suljagic mengisahkan bagaimana ratusan orang dengan tali dan kapak mendaki tebing yang terjal di atas kota, menuju hutan untuk mencari kayu buat menyalakan api, jauh sebelum kabut hilang….

Di tengah pengepungan itu, pasukan PBB yang bertugas di sana, satu kontingen tentara Belanda yang terdiri atas 600 personel dan tak bersenjata berat, mencoba bertahan. Komandan mereka, Letkol Karremans, meminta ke Panglima Pasukan PBB, Jenderal Bernard Janvier dari Prancis, agar mendapat dukungan dari udara. Tapi yang terjadi adalah kecelakaan prosedur: permintaan Karremans untuk mendapat bantuan udara ternyata ditulis di formulir yang salah. Akhirnya memang dipenuhi, tapi terlambat.

Karremans memang mendapatkan bantuan lain. Dua pesawat tempur F-16 Belanda menjatuhkan dua bom di atas posisi pasukan Serbia yang mengepung. Tapi tentara di bawah Mladic telah berhasil memiliki kartu kuat tersendiri: sebelumnya mereka telah menyerang satu pos pasukan PBB dan menahan 30 prajurit Belanda. Jenderal Serbia itu mengultimatum: jika pengeboman diteruskan, tahanan itu akan mereka bunuh.

Sekitar dua jam setelah itu, menjelang sore hari 11 Juli, Mladic dan tentaranya memasuki Srebrenica. Malamnya ia memanggil Karremans untuk menemuinya dan mendengarkan sebuah tuntutan: orang-orang muslim harus menyerahkan senjata mereka atau dihabisi. Direkam oleh juru kamera Serbia, di malam itu Karremans mengangkat gelas, bersulang dengan Mladic. Terdengar suaranya: “Saya seorang pemain piano. Jangan tembak sang pianis.” Dan Mladic menjawab, entah bergurau entah tidak: “Tuan seorang pianis yang buruk.”

Yang mungkin bisa dikatakan: opsir Belanda itu komandan pasukan yang buruk. Pasukannya meninggalkan Srebrenica, membiarkan orang-orang muslim mulai ditembaki. Tanggal 13 Juli, pembunuhan mulai dilakukan di sebuah gudang dekat Desa Kravica. Di hari yang sama, Karremans menyerahkan 5.000 muslim ke tangan Mladic, untuk dipertukarkan dengan 15 prajurit Belanda yang ditahan di Nova Kasaba. Tiga hari kemudian, mulai masuk laporan pembantaian….

Dan Karremans tak melaporkan peristiwa itu ke atasannya. Seorang wartawan Belanda, Frank Westerman, pengarang buku Srebrenica: Het zwartste scenario, menulis: di saat perpisahan resmi, Karremans bahkan menerima sebuah cendera mata dari Mladic: “Yang ini buat istri saya?” tanyanya, tersenyum.

Tapi mereka yang jadi korban tak diam. Dua muslim Bosnia yang keluarganya dibantai Mladic berusaha mengajukan kasus itu ke pengadilan negeri Den Haag. Persis 16 tahun setelah kebuasan di Srebrenica itu, para hakim Belanda memutuskan: Negara Belanda memang bertanggung jawab atas kesalahan tindakan tentaranya yang membiarkan ribuan orang tak bersenjata dibantai.

Persis 16 tahun juga dunia menyaksikan Mladic bisa dibawa ke Den Haag, untuk diadili di Mahkamah Internasional.

Hari-hari ini, sebuah negeri sedang merasa malu dan menebus kesalahan di masa lalu: kesalahan bangsa sendiri terhadap mereka yang datang dari negeri jauh, dengan iman dan sejarah yang berjarak. Di saat seperti itu, “liyan” tak hanya berarti mereka yang bukan-kami, tapi juga “sesama” yang tak berbeda dari kami. Di wajah-wajah yang tak berdaya di depan para algojo, di deretan kepala yang berlubang ditembak, di tumpukan jasad yang dibantai hanya karena asal-usul yang janggal dan biodata yang beda, seorang muslim di Srebrenica menyerupai seorang Yahudi di kamp Auschwitz.

Srebrenica berlumur darah karena orang macam Mladic tak hendak mengakui bahwa mereka yang paling lemah dan paling dianiaya yang justru mengingatkan apa yang menakjubkan dalam manusia: sebuah pertalian yang tak tampak.

Majalah Tempo Edisi 25 Juli 2011

Bastiat 

Seorang “neo-liberal” adalah orang yang jengkel kepada “Negara”. Tapi ada seorang pendahulunya yang tak jengkel, malah kocak: Frédéric Bastiat, orang Prancis di abad ke-19. Ia mempersamakan Negara dengan tokoh Figaro yang harus mendengarkan tuntutan dari delapan penjuru angin:

“Aturlah buruh dan pekerjaan mereka!”

“Habisi egoisme!”

“Lawan kekurangajaran dan tirani modal!”

“Bikin eksperimen dengan tahi sapi dan telur!”

“Bentangkan jalan kereta api di pedusunan!”

“Tanam pohon di pegunungan!”

“Jadikan Aljazair koloni kita!”

“Setarakan laba usaha industri!”

“Pinjamkan uang tanpa bunga kepada yang perlu!”

“Perbaiki keturunan kuda tunggangan!”

“Hidupkan seni, latih musisi dan penari!”

“Temukan kebenaran dan ketok kepala kami agar berpikir!”

Kutipan saya tak lengkap, tapi cukup banyak, dan Sang Negara akan mendengarkan semuanya dengan agak gelagapan. Ia pun akan mengimbau: “Sabar, tuan, sabar! Akan saya penuhi permintaan tuan semua, tapi saya perlu dana, dong. Saya perlu memungut pajak, dan tentu saja, seperti tuan kehendaki, tak akan membebani.”

Tapi seketika itu juga akan terdengar teriakan menyahut: “Ah, kok gampangan! Apa tak malu! Siapa saja dapat melakukan apa saja dengan dana. Kalau cuma begitu, kamu tak layak disebut ’Negara’! Ayo, jangan bikin pajak baru! Malah hapuskan pajak lama!”

Harus diakui, ada nada simpati terhadap Negara dalam esai Bastiat itu—dan mungkin itu yang membedakannya dengan mereka yang disebut “neo-liberal” atau siapa saja yang dianggap penganut pemikiran ekonomi Milton Friedman. Bastiat melihat kontradiksi dalam tuntutan delapan-penjuru-angin yang saya kutip di atas. Jika ia pun datang dengan rumusannya tentang “Negara” ia tak serta-merta menafikannya.

Negara, tulis Bastiat, adalah “sosok yang misterius, dan yang pasti sosok yang paling banyak menerima permintaan, yang paling tersiksa, paling sibuk, paling dinasihati, paling disalahkan, paling dituntut, dan paling diprovokasi di seluruh dunia”.

Tapi Bastiat tak berhenti di sana. Ia melihat lebih jauh untuk memahami kenapa “Negara” diperlukan. Manusia, menurut Bastiat, adalah makhluk yang menampik kepedihan dan penderitaan. Tapi manusia juga dihukum akan menderita kekurangan jika ia tak bekerja buat hidup. Maka ia menemukan cara: menikmati hasil kerja orang lain.

Perbudakan bermula dari sifat itu. Tapi juga perang, perampasan, penipuan, dan hal-hal lain yang mengerikan tapi cocok dengan akal manusia untuk mengatasi dilemanya. Dengan kata lain: tak aneh. “Kita harus membenci dan melawan penindas,” tulis Bastiat, “tapi kita tak bisa mengatakan mereka absurd, edan, dan tak masuk akal.”

Apalagi dalam perkembangannya, si penindas tak lagi berhubungan langsung dengan si tertindas. Dewasa ini antara penindas dan korbannya ada “perantara”, yaitu Negara. Dari sini Bastiat memberikan definisinya yang orisinal: “Negara adalah satu entitas imajiner yang dipakai tiap orang untuk hidup dengan ongkos (dépens) orang lain.”

Definisi ini menohok tajam. Umumnya orang tak ingin mengakui secara terbuka bahwa, seperti kata Bastiat, ia hidup dengan memanfaatkan kerja orang lain. Orang lebih suka menunjuk ke Negara dan menyuruh, “Hai kamu, yang bisa mengambil dengan adil dan terhormat, ambillah dari masyarakat dan bagikan kepada kami!”

Mengaitkan Negara dengan hubungan eksploitatif—yang tak selamanya tampak—adalah juga yang tersirat dalam pikiran Marx. Saya tak yakin bapak sosialisme modern itu terilhami oleh Bastiat (1801-1850), yang meninggal hampir dua dasawarsa sebelum terbit Das Kapital. Tapi Marx juga melihat Negara bukan sebagai sebuah bangunan suci, melainkan sebagai instrumen represi dari satu kelas terhadap kelas lain.

Hanya Bastiat sedikit lebih jeli: ia tak melihat Negara sebagai “sistem” atau “instrumen” semata-mata. Negara, dalam prakteknya, terdiri atas “para menteri kabinet, birokrat, orang-orang yang, pendek kata, seperti umumnya orang, menyimpan dalam hati mereka hasrat untuk memperbesar kekayaan dan pengaruh, dan dengan bersemangat menangkap kesempatan untuk itu”.

Yang menarik tentulah pandangan yang sejajar tentang Negara itu: di satu sisi Marx, di sisi lain Bastiat yang punya gema dalam pemikiran kubu sebelah “kanan”: Hayek dan Friedman. Tak mengherankan: baik Marx maupun Bastiat bertolak dari pengalaman dalam ruang dan waktu. Marx menampik Hegel yang memandang Negara sebagai penubuhan dari ide; ia merumuskan Negara dari apa yang berlangsung dalam sejarah. Bastiat demikian pula: ia seorang pencatat, bukan teoretikus, bukan filosof. Schumpeter menganggapnya “wartawan ekonomi yang paling cemerlang yang pernah hidup”.

Maka ia menemui fakta dan mencemooh “ilusi ganjil” tentang Negara. Di atas saya kutip ia menyebut Negara sebagai “entitas imajiner”. Saya kira Bastiat melihat Negara sebagai proses politik, bukan satu bangunan yang mandek di atas pergulatan politik di mana ia berdiri. Sebab itu ia punya keterbatasannya sendiri: Negara tak terbentuk untuk bisa memuaskan semua orang di semua sudut sekaligus. Tiap politik punya utopia dan punya kalkulasi—dan di antara itulah hadir Negara.

Bastiat memang seorang “liberal” dalam pengertian politik Eropa—dan ia berbicara dengan nada yang ringan. Ia masih mengakui Negara sebagai “kekuatan polisi bersama” dengan cukup optimisme: baginya, kekuatan itu bisa dipakai bukan untuk merampok dan menindas, melainkan untuk “menjamin tiap orang haknya sendiri dan membuat keadilan dan keamanan menang”.

Memang hanya seorang yang dogmatis yang bisa melihat Negara tanpa ambiguitas.

~Majalah Tempo, Edisi Senin, 04 Juli 2011~

Grrr

Di depan kita pentas yang berkecamuk. Juga satu suku kata yang meledak: ”Grrr”, ”Dor”, ”Blong”, ”Los”. Atau dua suku kata yang mengejutkan dan membingungkan: ”Aduh”, ”Anu”. Di depan kita: panggung Teater Mandiri.

Teater Mandiri pekan ini berumur 40 tahun—sebuah riwayat yang tak mudah, seperti hampir semua grup teater di Indonesia. Ia bagian dari sejarah Indonesia yang sebenarnya penting sebagai bagian dari cerita pem-bangun-an—”bangun” dalam arti jiwa yang tak lelap tertidur. Putu Wijaya, pendiri dan tiang utama teater ini, melihat peran pem-bangun-an ini sebagai ”teror”—dengan cara yang sederhana. Putu tak berseru, tak berpesan. Ia punya pendekatan tersendiri kepada kata.

Pada Putu Wijaya, kata adalah benda. Kata adalah materi yang punya volume di sebuah ruang, sebuah kombinasi bunyi dan imaji, sesuatu yang fisik yang menggebrak persepsi kita. Ia tak mengklaim satu makna. Ia tak berarti: tak punya isi kognitif atau tak punya manfaat yang besar.

Ini terutama hadir dalam teaternya—yang membuat Teater Mandiri akan dikenang sebagai contoh terbaik teater sebagai peristiwa, di mana sosok dan benda yang tak berarti dihadirkan. Mungkin sosok itu (umumnya tak bernama) si sakit yang tak jelas sakitnya. Mungkin benda itu sekaleng kecil balsem. Atau selimut—hal-hal yang dalam kisah-kisah besar dianggap sepele. Dalam teater Putu Wijaya, justru itu bisa jadi fokus.

Bagi saya, teater ini adalah ”teater miskin” dalam pengertian yang berbeda dengan rumusan Jerzy Grotowski. Bukan karena ia hanya bercerita tentang kalangan miskin; Putu Wijaya tak tertarik untuk berbicara tentang lapisan-lapisan sosial. Teater Mandiri adalah ”teater miskin” karena ia, sebagaimana yang kemudian dijadikan semboyan kreatif Putu Wijaya, ”bertolak dari yang ada”.

Saya ingat bagaimana pada 1971 Putu Wijaya memulainya. Ia bekerja sebagai salah satu redaktur majalah Tempo, yang berkantor di sebuah gedung tua bertingkat dua dengan lantai yang goyang di Jalan Senen Raya 83, Jakarta. Siang hari ia akan bertugas sebagai wartawan. Malam hari, ketika kantor sepi, ia akan menggunakan ruangan yang terbatas dan sudah aus itu untuk latihan teater. Dan ia akan mengajak siapa saja: seorang tukang kayu muda yang di waktu siang memperbaiki bangunan kantor, seorang gelandangan tua yang tiap malam istirahat di pojok jalan itu, seorang calon fotograf yang gagap. Ia tak menuntut mereka untuk berakting dan mengucapkan dialog yang cakap. Ia membuat mereka jadi bagian teater sebagai peristiwa, bukan hanya cerita.

Dari sini memang kemudian berkembang gaya Putu Wijaya: sebuah teater yang dibangun dari dialektik antara ”peristiwa” dan ”cerita”, antara kehadiran aktor dan orang-orang yang hanya bagian komposisi panggung, antara kata sebagai alat komunikasi dan kata sebagai benda tersendiri. Juga teater yang hidup dari tarik-menarik antara pathos dan humor, antara suasana yang terbangun utuh dan disintegrasi yang segera mengubah keutuhan itu.

Orang memang bisa ragu, apa sebenarnya yang dibangun (dan dibangunkan) oleh teater Putu Wijaya. Keraguan ini bisa dimengerti. Indonesia didirikan dan diatur oleh sebuah lapisan elite yang berpandangan bahwa yang dibangun haruslah sebuah ”bangunan”, sebuah tata, bahkan tata yang permanen. Elite itu juga menganggap bahwa ke-bangun-an adalah kebangkitan dari ketidaksadaran. Ketika Putu Wijaya memilih kata ”teror” dalam hubungan dengan karya kreatifnya, bagi saya ia menampik pandangan seperti itu. Pentasnya menunjukkan bahwa pada tiap tata selalu tersembunyi chaos, dan pada tiap ucapan yang transparan selalu tersembunyi ketidaksadaran.

Sartre pernah mengatakan, salah satu motif menciptakan seni adalah ”memperkenalkan tata di mana ia semula tak ada, memasangkan kesatuan pikiran dalam keragaman hal-ihwal”. Saya kira ia salah. Ia mungkin berpikir tentang keindahan dalam pengertian klasik, di mana tata amat penting. Bagi saya Teater Mandiri justru menunjukkan bahwa di sebuah negeri di mana tradisi dan antitradisi berbenturan (tapi juga sering berkelindan), bukan pengertian klasik itu yang berlaku.

Pernah pula Sartre mengatakan, seraya meremehkan puisi, bahwa ”kata adalah aksi”. Prosa, menurut Sartre, ”terlibat” dalam pembebasan manusia karena memakai kata sebagai alat mengkomunikasikan ide, sedangkan puisi tidak. Tapi di sini pun Sartre salah. Ia tak melihat, prosa dan puisi bisa bertaut—dan itu bertaut dengan hidup dalam teater Putu Wijaya. Puisi dalam teater ini muncul ketika keharusan berkomunikasi dipatahkan. Sebagaimana dalam puisi, dalam sajak Chairil Anwar apalagi dalam sajak Sutardji Calzoum Bachri, yang hadir dalam pentas Teater Mandiri adalah imaji-imaji, bayangan dan bunyi, bukan pesan, apalagi khotbah. Dan ini penting, di zaman ketika komunikasi hanya dibangun oleh pesan verbal yang itu-itu saja, yang tak lagi akrab dengan diri, hanya hasil kesepakatan orang lain yang kian asing.

Sartre kemudian menyadari ia salah. Sejak 1960-an, ia mengakui bahasa bukan alat yang siap. Bahasa tak bisa mengungkapkan apa yang ada di bawah sadar, tak bisa mengartikulasikan hidup yang dijalani, le vecu. Ia tentu belum pernah menyaksikan pentas Teater Mandiri, tapi ia pasti melihat bahwa pelbagai ekspresi teater dan kesusastraan punya daya ”teror” ketika, seperti Teater Mandiri, menunjukkan hal-hal yang tak terkomunikasikan dalam hidup.

Sebab yang tak terkatakan juga bagian dari ”yang ada”. Dan dari sana kreativitas yang sejati bertolak.

Iklan

Sang Pejuang yang Produktif Menulis

Kiai Hasyim Asy’ari

Kiai Hasyim Asy’ari lahir dari keluarga pesantren. Tepatnya, dia dilahirkan di Gedang Jombang pada hari selasa 24 Dzuhijjah 1287 H. / 14 Februari 1871 M. Ayahnya bernama Kiai Asy’ari, seorang Ulama’ yang berasal dari Demak. Dan ibunya Nyai Halimah, putri Kiai Usman pengasuh pesantren Gedang. Sejak kecil dia hidup di lingkungan pesantren hingga berusia enam tahun. Lalu diajak ayahnya yang mendirikan pondok pesantren di Keras. Di sinilah Hasyim kecil mulai menerima pelajaran dasar-dasar keagamaan yang diberikan ayahnya sendiri.

Disana dirinya juga dapat melihat secara langsung bagaimana ayahnya membina dan mendidik para santri. Hasyim hidup menyatu bersama santri. Dia mampu menyelami kehidupan santri yang penuh kesederhanaan dan kebersamaan. Semua itu memberikan pengaruh yang sangat besar pada pertumbuhan jiwa dan pembentukan wataknya di kemudian hari. Hal itu ditunjang pula oleh kecerdasannya yang memang brilian.

Hasratnya yang besar untuk menuntut ilmu mendorongnya belajar lebih giat dan rajin. Karena kepandaian yang dimilikinya, dirinya diberi kesempatan oleh ayahnya untuk membantu mengajar di pesantren. Lantaran merasa tak puas dengan ilmu yang diterimanya, maka saat berusia 15 tahuun dirinya mulai berkelana dari pesantren satu ke pesantren lainnya. Mulai dari pondok pesantren Wonokoyo Probolinggo, pesantren Pelangitan Tuban, pesantren Trenggilin Semarang, pesantren di Madura, Pesantren Demangan, dan terakhir di pesantren Siwalan Surabaya. Setelah menetap dua tahun di sini, oleh Kiai Ya’kub pengasuh pesantren Siwalan dirinya dinikahkan dengan putrinya.

Pada tahun 1892, anak ketiga dari sebelas bersaudara ini berangkat ke tanah suci dan menetap selama 7 tahun. Di Makkah dia belajar pada para Ulama’ yang terkenal di sana. Seperti Syekh Ahmad Amin al-Athar, Syekh Ibrahim Arab, Syekh Rahmatullah, Syekh Sa’id Yamani, Syekh Sholeh Bafadhol, dan Syekh Sultan Hasyim Daghastani. Selain itu juga berguru kepada para Sayyid; seperti Sayyid Ahmad Zawawi, Sayyid Sultan ibn Hasyim, Sayyid Abbas al-Maliki, Sayyid Ahmad bin Hasan al-Atthas, Sayyid Alwi al-Segaf, Sayyid Abu Bakar Syatha al-Dimyathi, dan Sayyid Husain al-Habsyi yang saat itu menjadi Mufti di Makkah. Selain belajar kepada ulama Hijaz, dia juga berguru kepada Ulama’ Indonesia sendiri yang mengajar disana. Seperti Syekh Syuaib bin Abdurrahman, Syekh Ahmad Khatib Minangkabawi dan Syekh Mahfuz al-Tarmisi asal Jawa Timur.

Karena ilmunya dinilai mumpuni, Kiai Hasyim Asy’ari dipercaya untuk mengajar di Masjidil Haram – bersama tujuh ulama Indonesia lainnya. Di sana beliau mempunyai banyak murid dari berbagai negara. Di antaranya ialah Syekh Sa’dullah al-Maimani (Mufti di Bombay India), Syekh Umar Hamdan (ahli hadits di Mekkah), Al-Syihab Ahmad ibn Abdullah (Syiria), KH. Abdul Wahhab Hasbullah (Tambakberas Jombang), K.H.R. Asnawi (Kudus), KH. Dahlan (Kudus), KH. Bisri Syansuri (Denanyar Jombang), dan KH. Shaleh (Tayu).

Setelah mengantongi berbagai disiplin ilmu keislaman mulai ilmu tafsir, ilmu hadits, teologi, fiqh, tasawuf dan sebagainya, dirinya kembali ke Indonesia. Di sinilah dirinya mulai berjuang mengembangkan masyarakatnya dari kebodohan dan keterbelakangan. Tapi sebelumnya, dia singgah terlebih dahulu di Johor Malaysia untuk mengajar di sana. Baru pada tahun 1899, Kiai Hasyim Asy’ari kembali ke tanah air. Dan tak lama berselang, dirinya mendirikan Pondok Pesantren Tebuireng.

Dirinya banyak mengeterapkan pendidikan pesantren model baru; seperti memperkenalkan sistem pendidikan madrasah. Di tenga-tengah tradisi sorogan dan bandongan, Kiai Hasyim Asy’ari juga memasukkan kurikulum umum. Seperti pelajaran bahasa Indonesia, sejarah, matematika, geografi dan ilmu bumi. Disamping itu juga dikenalkan sistem musyawarah dan diskusi kelas, berorganisasi, serta berpidato.

Selain aktif mengembangkan pendidikan di pondok pesantren, Kiai Hasyim Asy’ari juga aktif menggerakkan umat lewat organisasi kemasyarakatan. Berkat kegetolan berorganisasinya, dirinya pernah menjabat sebagai Rais Akbar pertama organisasi NU, sebagai Ketua Dewan Majelis Islam A’la Indonesia (MIAI), dan juga sebagai Pimpinan Tertinggi Majelis Syura Muslim Indonesia (MASYUMI).

Lantaran makin represifnya perlakuan penjajah Belanda terhadap rakyat Indonesia, dirinya terpaksa melawannya dengan keras. Lalu Belanda pun membikin siasat, dengan mengirim seseorang yang disuruh membuat keonaran di pondok pesantren Tebuireng. Karena orang tersebut dihajar ramai-ramai oleh santri hingga tewas, maka Belanda pun menangkap Kiai Hasyim Asy’ari dengan tuduhan pembunuhan.

Dalam pemeriksaan, Kiai Hasyim yang sangat piawai dengan hukum-hukum Belanda ini, sanggup menepis semua tuduhan tersebut dengan taktis. Akhirnya beliau pun dilepaskan dari jeratan hukum. Pihak Belanda pun marah, sehingga mengirimkan beberapa kompi pasukan untuk memporak-porandakan pesantren Tebuireng. Hampir seluruh bangunan pesantren porak-poranda, serta kitab-kitab kuning yang ada dihancurkan dan dibakar. Perlakuan represif Belanda ini terus berlangsung hingga masa-masa revolusi fisik Tahun 1940-an.

Pada bulan Maret 1942, Pemerintah Hindia Belanda menyerah kepada Jepang. Karena Kiai Hasyim Asy’ari menolak melakukan Seikerei (kewajiban membungkukkan badan ke arah Tokyo sebagai penghormatan ke Kaisar Hirohito dan ketaatan kepada Dewa Matahari), dirinya dijebloskan Jepang ke dalam penjara. Penahanannya dilakukan secara berpindah-pindah, mulai dari penjara Jombang, Mojokerto, dan akhirnya ke penjara Bubutan Surabaya. Selama dalam tahanan, Kiai Hasyim mengalami banyak penyiksaan fisik sehingga salah satu jari tangannya menjadi patah tak dapat digerakkan.

Setelah 4 bulan dipenjara, pada tanggal 18 Agustus 1942 dirinya dibebaskan – lantaran banyak berdatangan protes dari para Kiai, santri dan masyarakat. Itu juga berkat lobi yang dilakukan putranya Wahid Hasyim dan Kiai Wahab Hasbullah dalam menghubungi pembesar-pembesar Jepang, terutama Saikoo Sikikan di Jakarta.

Ketika tentara NICA (Netherland Indian Civil Administration) yang dibentuk oleh pemerintah Belanda membonceng pasukan sekutu yang dipimpin Inggris datang kembali ke Indonesia pada tanggal 22 Oktober 1945, Kiai Hasyim Asy’ari bersama para Ulama’ mengeluarkan fatwa yang kemudian dikenal dengan Fatwa Resolusi Jihad. Fatwa tersebut berisi: “Bagi umat Islam yang telah dewasa berjuang melawan Belanda adalah fardhu ‘ain. Dan mati di medan perang dalam rangka memerangi musuh Islam adalah syahid dan masuk surga.”

Segera ribuan Kiai dan para santri bergerak ke Surabaya. Umat Islam yang mendengar Resolusi Jihad itu keluar dari kampung-kampung, dengan membawa senjata apa adanya untuk melawan pasukan gabungan NICA dan Inggris. Maka pada tanggal 7 Nopember 1945, umat Islam membentuk partai politik bernama Majelis Syuro Muslim Indonesia (Masyumi), dan memilih Kiai Hasyim Asy’ari sebagai Ketua Umumnya. Pembentukan Masyumi merupakan salah satu langkah konsolidasi umat Islam dari berbagai faham.

Dipilihnya Kiai Hasyim Asy’ari karena dirinya memang dikenal sebagai penganjur, penasehat, sekaligus jenderal dalam gerakan laskar-laskar perjuangan. Dirinya adalah sosok yang tak mau tinggal diam dalam membangun masyarakat, negara, dan bangsa. Lewat organisasi massa dan partai politik beliau memperjuangkan nilai-nilai keadilan, kemerdekaan, kesejahteraan, keamanan, dan kebahagiaan umat manusia sebagaimana cita-cita Islam.

Bahkan Jenderal Sudirman dan Bung Tomo senantiasa meminta petunjuk kepada Kiai Hasyim Asy’ari. Seperti ketika akan menentukan tanggal penyerbuan di Surabaya. Bung Tomo dan beberapa tokoh waktu itu datang di kediaman beliau. Maka malam itu juga mereka diajak melakukan shalat istikharah. Dan keesokan harinya, ditentukanlah waktu penyerangan itu adalah tanggal 10 Nopember 1945.

Maka Bung Tomo pun menggelorakan semangat untuk melakukan perlawanan bersenjata, melalui siaran radio. Melalui radio pula Bung Tomo memompa semangat “Arek-Arek Suroboyo”, yang punya semboyan lebih baik berjuang dan mati daripada hidup kembali dijajah. Kisah heroik pertempuran 10 Nopember 1945, adalah perang terbesar dalam rangka mempertahankan kemerdekaan. Itulah sebabnya, setiap tahunnya 10 Nopember diperingati sebagai hari Pahlawan.

Dua tahun setelah kemerdekaan, beliau pulang kepangkuan rahmatullah. Tepatnya, wafat pada tanggal 7 Ramadhan 1366 H. / 25 Juli 1947 M. Sebelum meninggal, beliau menerima seorang utusan Jenderal Sudirman dan Bung Tomo. Mendengar paparan situasi di medan pertempuran, yang waktu itu Belanda banyak membantai rakyat tidak berdosa di Surabaya dan Malang, beliau langsung pingsan dan menghembuskan nafas terakhir pada saat menjelang Shubuh hari ketujuh Ramadhan. Guna mengenang jasa-jasa almarhum, Pemerintah Indonesia menganugerahkan penghargaan sebagai Pahlawan Kemerdekaan.

Disamping aktif mengajar, berdakwah, dan berjuang, Kiai Haji Hasyim Asy’ari juga termasuk sebagai penulis yang produktif. Karya-karya beliau merupakan jawaban atas berbagai problematika masyarakat. Misalnya ketika umat Islam banyak yang belum faham persoalan tauhid dan aqidah, beliau lalu menyusun kitab tentang aqidah; di antaranya al-Qalaid fi Bayani ma Yajib min al-Aqaid, ar-Risalah al-Tauhidiyah, Risalah Ahli Sunnah Wa al-Jama’ah, al-Risalah fi al-Tasawwuf.

Karya-karya beliau yang dapat ditelusuri hingga kini meliputi; at-Tibyan fi an-Nahy ‘an Muqatha’ah al-Arham wa al-Aqarib wa al-Ikhwan, Mukaddimah al-Qanun al-Asasy Li Jam’iyyah Nahdhatul Ulama, risalah fi Ta’kid al-Akhdz bi Madzhab al-A’immah al-Arba’ah, Mawaidz, Arba’in Haditsan Tata’allaq bi Mabadi’ Jam’lyah Nahdhatul Ulama’, an-Nur al-Mubin fi Mahabbah Sayyid al-Mursalin, at-Tanbihat al-Wajibat liman Yashna’ al-Maulid bi al-Munkarat, Risalah Ahli Sunnah Wal Jama’ah fi Hadits al-Mauta wa Syarat as-Sa’ah wa Bayan Mafhum al-Sunnah wa al-Bid’ah, Ziyadat Ta’liqat a’la Mandzumah as-Syekh ‘Abdullah bin Yasin al-Fasuruani, Dhau’ul Misbah fi Bayan Ahkam al-Nikah, ad-Durrah al Muntasyiroh Fi Masail Tis’a ‘Asyarah, ar-Risalah fi al-’Aqaid, ar-Risalah fi at-Tasawwuf, dan Adab al-‘Alim wa al-Muta’allim fima Yahtaju ilaih al-Muta’allim fi Ahwal Ta’limih wama Yatawaqqaf ‘alaih al-Muallim fi Maqat Ta’limih.

Karya yang tersebut terakhir itu, berisi tentang etika bagi para pelajar dan pendidik. Ini merupakan resume dari Adab al-Mu’allim karya Syekh Muhammad bin Sahnun, Ta’lim al-Muta’allim fi Thariq at-Ta’allum karya Syeikh Burhanuddin al-Zarnuji, dan Tadzkirat al-Saml wa al-Mutakallim fi Adab al-‘Alim wa al-Muta’allim karya Syeikh Ibn Jama’ah. Selain kitab-kitab tersebut, terdapat pula beberapa naskah manuskrip seperti Hasyiyah ‘ala Fath ar-Rahman bi Syarh Risalah al-Wali Ruslan li Syeikh al-Islam Zakariya al-Anshari, ar-Risalah at-Tawhidiyah, al-Qala’id fi Bayan ma Yajib min al-Aqa’id, ar-Risalah al-Jama’ah, Tamyiz al-Haqq min al-Bathil, al-Jasus fi Ahkam al-Nuqus dan Manasik Shughra

Fana,, isak,, kebakhilan ..,,,

Fana

Selalu ada yang pergi. Kematian adalah momen luar biasa bagi yang tak bisa kembali, tapi, akhirnya, ia peristiwa yang tak istimewa bagi dunia.

Biarlah orang melakukan yang diinginkannya,
lalu mereka mati, semua, satu-satu.
Bagi awan, himpunan itu, tak ada
yang ganjil di saat itu.

Dan Wislawa Szymborksa meninggal dalam usia 88 tahun pekan lalu, beberapa puluh tahun setelah ia menuliskan bait itu. Saya kira ia tak akan berkeberatan jika kita katakan bahwa kepergiannya tak terasa seperti direnggutkan. Dalam Wielka Liczba (‘Jumlah Besar’) ia menulis bahwa di antara milyaran manusia yang melewati sejarah, hidup hanya ‘terentang sepanjang bekas cakar kita pada pasir.’

Di ujung bekas cakar itu ada garis yang putus. Senafas dengan itu, penyair Polandia ini juga menulis tentang ‘lenyap’ — tentang hilangnya sambungan yang tak bisa diubah. Di sebuah ruang, demikian baris-baris dalam Kot W Pustym Mieszkaniu, (“Kucing di Apartemen”),

seseorang pernah selalu ada di sana,
selalu ada di sini, kemudian
tiba-tiba lenyap
dan terus menerus lenyap.

Lenyap. Atau lebih baik: mati. Tapi kematian punya batas. Dengan ironi dan nada rendah, Szymborska memberitahu, ‘siapapun yang mengatakan bahwa maut maha kuasa ia sendiri bukti bahwa tak demikian halnya’. Sebab baginya,

Tak ada hidup
yang tak bisa kekal
meskipun cuma sebentar

Mungkin itu sebabnya penyair ini menulis — dengan kalimat yang bersahaja, tak melambung, tak berliku — tentang hal-hal yang fana, tapi kita temukan di antara itu bayang-bayang kekekalan.

Bukan karena ia seorang yang percaya kepada yang transendental. Saya tak tahu benar apakah ia seorang yang beriman. Baginya, ‘kekal’ yang ‘cuma sebentar’ itu tampak pada materia, dalam alam (‘lanskap’) yang berubah terus. Awan tak pernah mengulangi bentuknya semula. Pada ‘alir kali, bentuk hutan, pantai, gurun, dan glasir’, kita merasa seakan-akan ada ‘ruh yang kecil’ yang mengembara di sela-selanya, ‘menghilang, kembali, mendekat, menjauh, mengelak dan jadi asing bagi dirinya sendiri’.

Seorang penyair acapkali punya sejenis animisme dalam dirinya: menemukan sesuatu yang membuat alam terasa terkadang akrab terkadang ganjil, terkadang menantang, terkadang membujuk. Tak ada yang ‘jadi’. Yang ada ‘men-jadi’. Ya, ‘ruh yang kecil’ itu ada di sana.

Karena merasakan ‘ruh yang kecil’ itu pula agaknya Szymborska merekam percakapan dengan batu dalam Rozmowa z Kamieniem’:

Kuketuk pintu-depan batu itu.
Ini aku, izinkan memasukimu.

Dalam sajak ini, sang tamu ingin masuk ke dalam batu antara lain karena ingin tahu. Tapi juga, ‘masuk’ baginya berarti berperan sebagai subyek yang menyaksikan apa yang di dalam.

Kudengar ada balairung kosong dalam dirimu,
sesuatu yang tak tampak: indah, namun percuma,
sesuatu yang tak bersuara: ruang yang tak punya gema.

Sang pengetuk tampaknya berasumsi bahwa kesaksiannya begitu menentukan: hanya dengan kehadirannya dunia yang terhampar bisa punya nilai dan makna. Tapi bagi sang batu, justru asumsi itulah yang harus ditolak. Yang ada dalam dirinya tak memerlukan kesaksian dari jauh. Mungkin ruang itu indah, sahutnya, tapi tidak buat seleramu yang hanya sebegitu saja. ‘Pergilah’, katanya, ‘aku tertutup rapat’. Lalu ia patahkan ambisi di depan pintu itu:

Kau mungkin akhirnya mengenalku,
tapi tak akan sepenuhnya mengetahuiku.
Seluruh permukaaanku menyambutmu.
Yang di dalam diriku melepaskan diri.

‘Masuk’ berarti ‘invasi’, usaha menduduki, bila disertai hasrat ‘sepenuhnya mengetahui’. Dan ini penting ditunjukkan kepada sang pengetuk pintu, yang menganggap ‘tak mengetahui’ sebuah cacat, sebagaimana ia nyatakan kepada sang batu: Akuilah, bahwa kau sendiri tak mengetahui balairung di dalam dirimu.

‘Tak mengetahui’…Haruskah itu disesali? Dalam pidatonya waktu menerima Hadiah Nobel Kesusatraan 1996, Szymborska justru menegaskan pentingnya posisi itu. ‘Aku-tak-tahu’, katanya, adalah kalimat yang harus selalu diulang penyair. ‘Tiap sajak menandai sebuah usaha menjawab pernyataan itu. Tapi begitu tahap terakhir sampai di halamannya, sang penyair mulai ragu, mulai menyadari bahwa jawabannya itu hanyalah sesuatu yang dibangun seadanya…’

Maka yang penting bukanlah ambisi ‘aku-tahu’. Ambisi itu akhirnya cuma bisa sejenak ‘masuk’ mencapai sebuah penguasaan kognitif (‘tahu’). Lagipula, ambisi itu — dan akhirnya sebuah klaim — hanya akan meletakkan dunia dan liyan sebagai obyek. Padahal di dunia yang dirundung kekuasaan ini (kita anak ‘zaman politik’, kata Szymborska) yang dibutuhkan adalah sebuah laku yang lebih akrab, lebih hangat.

Dalam sajak di atas, sang batu menyalahkan tamunya: kau tak memiliki ‘rasa ikut ambil bagian’ (a sense of taking part), ujarnya. Di saat ‘ikut ambil-bagian’, aku bukan obyekmu, kau bukan obyekku. Kita sama-sama aktif dalam sebuah proses yang disebut ‘ada’, atau lebih tepat, ‘men-jadi’.

Dengan itu, yang fana mendapatkan artinya. Dan kerja seorang penyair adalah ‘ikut ambil bagian’ dalam yang fana itu: keragaman dan kesementaraan benda-benda dari saat ke saat. Szymborska mengutip Rilke, yang sajaknya, ‘Musim Gugur’, pernah diterjemahkan Chairil Anwar dengan indah itu. Rilke menasihati para penyair muda agar tak menuliskan konsep-konsep besar, tapi justru menyambut yang sehari-hari. ‘Jika kehidupan sehari-hari sepertinya memiskinkan engkau’, tulis Rilke, ‘jangan salahkan kehidupan. Salahkan dirimu. Kau tak cukup memadai sebagai penyair untuk mencerap kekayaannya’.

Szymborska sendiri adalah contoh penyair yang seperti itu.

~Majalah Tempo Edisi Senin, 06 Februari 2012~

Isak

Sering tak terduga: kemurnian menghendaki kekerasan. Bahkan kematian. Meskipun pada awalnya ini bukan tema kisah Isak, orang dalam cerita ini, yang berjalan naik ke hutan:

“Lelaki itu datang, berjalan ke utara. Seorang yang wungkul dan kuat, dengan jenggot kemerahan yang kaku, dan bekas luka di tangan dan wajahnya… sosok laki-laki dalam kesendirian yang gagah….”

Isak, itulah tokoh novel Markens GrØde Knut Hamsun (terbit 1917, diterjemahkan W.W. Worster menjadi Growth of the Soil). Isak menjauh dari “peradaban”—karena “adab” telah ditentukan oleh abad ke-20. Dengan kata lain, inilah peradaban dengan ekonomi kapitalis yang dilecut loba dan laba, gemuruh mesin yang menggusur apa yang alami, keberisikan suara sumbang karena bunyi-bunyi dari luar yang tak cocok.

Isak masuk hutan: daerah Almenning yang belum dipecah jadi milik yang bisa diperjualbelikan. Ia sampai ke kaki sebuah bukit, tempat kali kecil mengalir dan kelinci meloncat-loncat di antara pakis dan kembang bintang berpucuk tujuh.

Di situ lelaki itu berhenti. Di situ ia menginap. Ia mulai menyiapkan tempat, termasuk membawa tiga ekor kambing. Suatu ketika seorang Lapp pengembara lewat dan melihatnya. “Akan tinggal di sini selamanya?” tanyanya. “Ya,” jawab Isak.

Dari orang-orang Lapp yang lewat itu juga Isak mendapatkan seorang pembantu perempuan yang dibutuhkannya. Namanya Inger. Perempuan ini bersedia hidup dengan lelaki wungkul itu karena ia tak punya banyak pilihan di desanya. Bibirnya mencong, cacat.

Tapi pelan-pelan, Isak mencintainya, meskipun hubungan mereka tak lepas dari kepentingan praktis. Suatu hari Inger datang membawakannya seekor sapi. Merasa berutang, Isak membawakan seekor kuda.

Mereka akhirnya beranak, meskipun dengan tragedi. Inger selalu takut anaknya akan mewarisi cacat tubuhnya, dan ketika itu benar terjadi pada anak ketiga, bayi itu dibunuhnya.

Kemudian perempuan ini beroleh kemahiran menjahit. Ia mulai hidup lepas dan riang. Akhirnya Inger, yang memperbaiki bentuk mulutnya dengan operasi, pada usia sekitar 30 meninggalkan Isak. Bisiknya kepada diri sendiri tentang lelaki gunung itu: “Uh, kamu, tetap saja macam dulu….”

Sebenarnya Isak juga berubah. Ia tak bisa lepas dari abad ke-20 dan “kemajuan”. Bersama Geissler, temannya yang terdidik, mahir berbisnis, dan seperti tak terikat pada lokalitas mana pun, Isak mengubah hubungannya dengan tanah: ia memiliki dan menguasainya. Ia jadi tuan tanah Sellanraa, lengkap dengan sistem irigasi. Ia bahkan jadi kaya setelah tanahnya, yang mengandung tembaga, ia jual ke pengusaha Swedia.

Tapi kemudian hartanya habis dan ia kembali mengolah tanah. Isak menyesali anaknya, Eleseus, yang jadi pedagang, hidup dari komoditas, benda yang cuma dihargai dengan nilai tukar. Isak lebih akrab ke bumi, sesuatu yang tak bergantung pada harga tapi punya makna. “Bumi yang tumbuh…,” kata Isak, “adalah satu-satunya sumber, asal dari semuanya.”

Asli, murni. Pada dasarnya ia tokoh ideal Knut Hamsun.

Yang asli dan yang murni memang bisa mempesona sebagai sesuatu yang tanpa najis—walau keaslian dan kemurnian sebenarnya tak pernah mungkin. Tapi Hamsun percaya itu sebagaimana ia percaya ke masa sebelum “peradaban”, dan sebab itu ia menentang kapitalisme yang membawa mesin dan ketamakan. Menjelang akhir novelnya, ia gambarkan Isak sebagai hero:

“Seorang penggarap ladang, jasad dan jiwa; seorang pekerja di tanah yang tanpa jeda. Sesosok hantu yang bangkit dari masa lalu yang menuju ke masa depan… tapi, dengan semua itu, seorang manusia hari ini.”

Hamsun tak menyebut, “hantu” itu tak punya masa lalu yang murni, juga bukan makhluk yang tak tersentuh. Sejarah Isak dibangun dari pertemuan dengan orang Lapp, Inger, Geissler, orang Swedia, dan entah apa lagi. Dan sebenarnya tak jelas benarkah Isak di akhir novel itu masih asli seperti bumi.

Tapi Hamsun memegang mithos tentang “asli” dan “murni” dalam hidupnya. Pada 1882 ia berkelana di Amerika Serikat dan melihat orang-orang “Indian”. Ia makin yakin, perbedaan ras itu soal yang hakiki. Bukunya tentang “kehidupan budaya Amerika modern” yang terbit pada 1889 menganjurkan agar orang Hitam, makhluk “setengah-monyet” itu, dikembalikan ke Afrika. Tak hanya itu. Dalam majalah Nationalt Tidsskrift 1925 Hamsun menyatakan pentingnya orang Yahudi dipindahkan dari Eropa, agar “ras Putih dapat menghindarkan percampuran darah lebih jauh”.

Ia, tentu saja, mengagumi Naziisme.

Juga sebaliknya. “Pemikir” Nazi terkemuka, Alfred Rosenberg, menganggap Markens GrØde sebagai “epos besar masa kini tentang kemauan bangsa Nordik dalam bentuknya yang primordial dan kekal”. Bahkan Hitler mengirimkan ucapan selamat ketika Hamsun mencapai usia 80.

Pada 1921 Hamsun menerima Hadiah Nobel Kesusastraan, terutama karena novel yang kita bicarakan di sini. Medalinya ia kirimkan ke Goebbels, tangan kanan Hitler. Ia bertemu dengan Hitler sendiri tiga tahun sebelum pemimpin besar Nazi itu bunuh diri. Setelah kematian itu, Hamsun masih menulis memuja pahlawannya. Hitler, katanya, “seorang pendekar perang untuk umat manusia, seorang nabi dengan syi’ar baik bagi semua bangsa.”

Hamsun tak peduli bahwa syi’ar tentang kemurnian, keaslian, dan primordialisme dari iman Naziisme akhirnya membinasakan: yang tak murni dan tak asli harus dihabisi.

2011: kita ketemu Anders Behring Breivik, sang pembunuh 77 pemuda. Tak mustahil Hamsun hidup lagi di hatinya. Hanya kini yang harus disingkirkan bukanlah Yahudi, melainkan muslim—sebagai “najis” Eropa.

Kemurnian: alasan yang tua untuk pembunuhan baru.

~Majalah Tempo Edisi Senin, 08 Agustus 2011~

Kebakhilan


Ia tak gila. Atau ia bagian dari patologi yang tak tersendiri. Anders Behring Breivik, memakai seragam polisi, membidik dengan tepat anak-anak muda yang sedang berkemah di Pulau Utoeya. Sebanyak 68 orang terbunuh di pulau di Danau Tyrifjorden, 38 kilometer dari Oslo, itu pekan lalu. Delapan lain mati karena ledakan bom. Breivik ditangkap. Pengacaranya membelanya dengan mengatakan: orang ini sakit jiwa.

Pada kesan pertama, orang Norwegia itu memang ganjil. Kekerasan dengan darah dingin di sebuah negeri tempat pemberian Hadiah Nobel Perdamaian? Gerakan sayap Kanan? Begitu kuatkah gerakan itu di bagian dunia yang pernah dianggap tauladan sosialis-demokrat ini?

Tapi zaman berubah. Sosialisme, dan bersama paham ini semangat yang lebih toleran, tengah surut di Skandinavia. Juga di seluruh Eropa. Tembakan Breivik yang membunuh para kader Partai Buruh itu berbareng dengan keruwetan jiwa yang setengah tersembunyi di masyarakatnya. Sinting atau tidak, apa yang dilakukannya sebuah isyarat: kita tengah memasuki zaman kebakhilan. Eropalah yang memulainya.

Breivik tak sendirian, meskipun tak semua orang yang sepaham akan mau membunuhi sejumlah pemuda yang kesalahannya hanya karena mereka pendukung Partai Buruh. Bagi Breivik, Partai Buruh harus dihabisi; partai inilah yang dengan mudah membiarkan kaum imigran, terutama yang muslim, masuk ke Norwegia.

Breivik dulu anggota Partai Kemajuan Norwegia, Fremskrittspartiet. Partai ini tak jauh pandangannya dari sang pembantai, meskipun pemimpinnya, Siv Jensen, menyatakan merasa sedih bahwa bekas anggotanya bertindak demikian. Yang menegaskan bahwa Breivik tak sendirian: Partai Kemajuan kini berada dalam posisi yang naik.

Di bagian Eropa lain, seorang tokoh politik sayap Kanan Italia, Francesco Speroni—yang pernah duduk dalam kabinet Berlusconi yang berkuasa—menyebut gagasan Breivik bertujuan “membela peradaban Barat”. Eropa sedang terancam oleh Islam, kata mereka, Eropa sedang berubah jadi “Eurabia”….

Kecemasan itu adalah ekspresi kebakhilan—yang membuat pandangan Kanan kembali jadi antitesis gerakan Kiri. Inti pandangan ala Breivik dan Speroni adalah eksklusivisme. Bagi mereka, pelbagai hal di dalam hidup—lapangan kerja, bantuan sosial, peradaban Barat—adalah milik eksklusif.

Eksklusivisme atau kebakhilan menampik orang lain ikut dalam ruang dan waktu, di sebuah wilayah yang batasnya mereka tentukan dan tutup sepihak.

Batas itu mereka beri dasar agama; mereka menyebutnya “Kristen”. Seperti halnya di sementara kalangan Islam, mereka anggap kebenaran dan Tuhan milik eksklusif mereka. Batas itu mereka beri wilayah: “Eropa”. Dan waktu mereka adalah waktu yang “dulu”—artinya terbatas, bukan waktu yang berlanjut dan membawa perubahan.

Itu sebabnya mereka konservatif. Konservatisme juga eksklusivisme. Bila pemikiran Breivik hendak mengembalikan perempuan ke status yang lebih rendah ketimbang yang telah berlaku sejak akhir abad ke-20, itu juga menunjukkan bahwa konservatisme itu bergabung dengan kebakhilan: bagi mereka, hak-hak tertentu hanya hak kaum lelaki. Orang harus kembali seperti dulu, kata mereka. Yang tak mereka sebut, “dulu” itu adalah “dulu” dalam ingatan yang eksklusif. Ingatan pihak lain, misalnya ingatan kaum perempuan, tak boleh ikut.

Dibandingkan dengan itu semua, kaum Kiri punya tradisi anti-kebakhilan. Tradisi itu bisa ditarik ke gagasan komunisme awal. Dalam The Idea of Communism (editor: Slavoj Zizek dan Costas Douzinas), Jean-Luc Nancy menyebut “the Diggers” di Inggris abad ke-16, yang menganggap tanah sebagai “common treasure” atau harta bersama. Dari sini pula kata “commonwealth” lahir dan dibawa oleh Republik pertama.

Dalam semangat commonwealth, kekayaan bukanlah semata-mata milik eksklusif. Sosialisme menegaskan sah dan adilnya redistribusi sumber-sumber material dan intelektual. Dan untuk beberapa dasawarsa, sosialisme didengar.

Tapi sejarah sosial dan ekonomi Eropa tak membiarkan itu berlanjut. Kini sosialisme yang ingin adil pada gilirannya dituduh tak berlaku adil. Agenda partai-partai sosialis adalah membagikan dana yang ditakik, dalam bentuk pajak, dari hasil jerih payah orang. Hasil itu dibagikan kepada orang miskin, yang umumnya tak punya kerja dan sebab itu dianggap tak berjerih payah. Para penerima subsidi—sebagian besar orang yang datang sebagai imigran—dengan mudah dianggap parasit. Para pembayar pajak marah. Mereka mulai menentang agenda sosialis. Tak mengherankan bila partai-partai Kanan merebut posisi. Kebakhilan bergema.

Yang paling mencolok di Belgia. Partai Kepentingan Vlaams dan Partai Aliansi Vlaams Baru berteriak bukan saja untuk membatasi masuknya imigran dari Dunia Ketiga. Mereka juga berjuang agar orang berbahasa Vlaams, sebagai “suku” tersendiri, memisahkan diri dari Kerajaan Belgia. Tapi bukan soal bahasa yang memicunya. Pada dasarnya yang diutarakan adalah sikap menolak membiayai. Mereka tak mau membiarkan uang pajak mereka dipakai untuk subsidi bagi orang-orang yang berbahasa Prancis di Belgia Selatan yang lebih miskin. Dengan kata lain, persoalan yang dihadapi Belgia bukanlah taal, “bahasa”, melainkan betaal, “bayar”.

Kebakhilan macam itu kini mudah mendapatkan legitimasi. Pada mulanya adalah milik—yang jadi bagian kerja kelas borjuis yang mengubah sejarah. Tak semua menyenangkan. “Kaum borjuis itu seperti babi,” kata sebaris lagu Jacques Brel, penyanyi Belgia termasyhur itu. Tak terlalu tepat: babi tak ditandai oleh sikap eksklusif. Dari babi tak akan muncul kebakhilan yang agresif—kebakhilan kaum Kanan baru.

Tak Goyah Oleh Tekanan Siapapun

Prof. Dr. Moh. Mahfud MD, SH, SU 2


Keseriusan hidup yang telah dijalaninya semasih remaja, nyatanya tak pernah sia-sia. Keseriusan itulah yang mengantarkan Prof. Dr. Moh. Mahfud MD, SH, SU, sejak 1 April 2008 menjalani karir barunya sebagai Hakim Konstitusi. Kehadiran dirinya ini, tentu akan menambah kewibawaan dan kekuatan tersendiri bagi Mahkamah Konstitusi. “Semenjak dilantik, saya sering membaca komentar berbagai berita lewat internet. Dan ternyata sangat mengasyikkan dan terkadang pula agak mengejutkan,” tuturnya bersahaja.

“Memikir negara”, memang sudah menjadi pembawaannya sejak belia. Itulah sebabnya, ketika menjadi mahasiswa di UII Yogyakarta, pria kelahiran Sampang Madura 13 Mei 1957 ini dikenal sebagai sosok yang sangat serius. Waktunya lebih banyak dihabiskan di ruang perpustakaan kampus dan berdiskusi. “Karakter yang demikian, ya.. mana bisa menarik buat seorang cewek?” kelakar Zaizatun Nihayati, SH sambil mengulum senyum.

Tapi di tahun 1978, nyatanya perempuan ini naksir padanya. Meskipun waktu itu, tubuhnya tampak kurus kering, hitam, kusut dan lengkap dengan baju lusuh yang tak pernah diseterika. Maklum, keduanya sama-sama aktif di HMI Fakultas Hukum UII. Dan gayung pun bersambut. Setahun kemudian dijalinlah sebuah ikatan cinta a la aktivis Islam. “Saya tak pernah diajak jalan-jalan. Kalau pacaran, acaranya kalau nggak ke tempat pengajian ya seminar,” kenang wanita yang kini telah menjadi istrinya ini sambil tertawa lirih. Dari pernikahannya itulah, pasangan serasi ini telah dikaruniai tiga anak; Muhammad Ikhwan Zein, Vina Amalia dan dan Royhan Akbar.

Hingga saat ini, Mahfud MD tetap konsisten dengan keseriusannya tersebut. Bahkan ketika diminta untuk memberikan Kata Pengantar untuk sebuah buku, dirinya juga melakukannya secara serius. Tak seperti kebanyakan tokoh lainnya, yang hanya dengan membaca satu dua tulisan saja, Mahfud MD bahkan membacanya hingga halaman terakhir. Sehingga hasil tulisannya, demikian utuh hingga dapat merangkai dan meliputi seluruh isi tulisan.

Konsistensi itu pula yang tampak pada dirinya setiap kali memegang amanah jabatan. Dia selalu menunjukkan, bahwa untuk menjadi pejabat yang menguasai bidangnya, seseorang harus terus menerus belajar. Baik itu melalui bacaan buku, berdiskusi memperkaya wawasan, atau dengan memperdalam analisisnya melalui beragam cara.

Yang mengagumkan, ketika aktif terjun ke dunia politik praktis, dia masih tetap konsisten dengan etika dan dunia intelektualitasnya. Dirinya jauh dari kesan pragmatis seperti kebanyakan politisi lainnya. “Selama ini etika berpolitik hanya ada di bangku sekolah. Itulah sebabnya, dalam politik tidak dikenal istilah kawan atau lawan. Yang ada adalah kepentingan dalam politik,” kritiknya. “Peran agama sangatlah penting, karena bisa menjadi kendali dan arah yang benar dalam berpolitik. Politik tanpa agama, akan dapat memunculkan tindakan amoral,” tandasnya.

Jenjang pendidikan Guru Besar Hukum Tata Negara UII Yogyakarta ini, S1nya diselesaikan di Fak. Hukum di kampus tersebut. Sedangkan S2nya mengambil bidang Ilmu Politik di program Pasca Sarjana Universitas Gajah Mada. Sementara untuk program doktornya, dia kembali ke “khittah”-nya, mengambil bidang Hukum Tata Negara juga di UGM Yogyakarta.

Dari hobinya membaca dan analisisnya yang kritis, telah banyak pula menelorkan berbagai tulisan di media massa dan penerbitan buku. Diantara buku-bukunya yang telah terbit, adalah Dasar & Struktur Ketatanegaraan Indonesia (Jakarta, UII Press, 1993), Politik Hukum di Indonesia (Jakarta, LP3ES, 1998) dan Amandemen 1945 untuk Reformasi Hukum Tata Negara (Yogyakarta, UII Press, 1998). Sedangkan di tahun 1999, dirinya juga menulis buku yang berjudul; Hukum dan Pilar-pilar Demokrasi (Gama Media dan Ford Foundation), Pergulatan Politik dan Hukum di Indonesia (Gama Media dan Ford Foundation), serta Karakter Produk Hukum Zaman Kolonial, (Jakarta, UII Press).

Sedangkan buku-bukunya yang lain, adalah Demokrasi dan Konstitusi di Indonesia (Jakarta, Rineka Cipta, 2000) dan Setahun Bersama Gus Dur (Jakarta, Pustaka LP3ES, 2003). Pada ulang tahun ke-50nya – setahun lalu, dia juga meluncurkan buku Retrospeksi Masalah Hukum dan Ketatanegaraan, Perdebatan Hukum Tata Negara Pasca Amandemen Konstitusi, serta buku yang merupakan kumpulan artikel; Hukum Tak Kunjung Tegak.

Mengenai karirnya, dimulai dari Asisten Pembantu Rektor III UII Yogyakarta (1984-1986), lantas sebagai Pembatu Dekan II FH UII (1988-1990), lalu menjadi Asisten Pembantu Rektor I UII (1990-1993). Setahun kemudian dirinya diserahi jabatan sebagai Direktur Karyasiswa UII (1993-1994), Pembantu Rektor I UII (1998-2002), Direktur Pascasarjana UII (1998-2001), serta menjabat sebagai Plt. Staf Ahli Meneg HAM (sejak Januari 2000).

Tentang organisasi yang pernah dipimpinnya, di tahun 1995 s/d 1998 dirinya pernah menjabat Ketua Umum Badan Kerjasama Perguruan Tinggi Islam (BKPTIS) Jateng-DIY. Lalu menjadi Wakil Ketua Pembina Pimpinan Pusat Badan Kerjasama Perguruan Tinggi Islam (1997-2001), serta menduduki jabatan Ketua Parliament Watch Indonesia (ParWi) Wilayah Yogyakarta.

Yang aneh dari sosok Mahfud MD ini, berpindah-pindahnya peran jabatan ternyata jauh dari kesan sebagai kutu loncat. Bayangkan, dia pernah mengemban jabatan ekskutif sebagai Menteri Pertahanan. Kemudian menginjakkan kakinya di legislatif, dengan menjadi anggota DPR RI. Dan kini menduduki jabatan yudikatif, sebagai Hakim Konstitusi. “Sebagai Hakim Konstitusi, saya tidak akan berpolitik praktis. Saya akan memilih berperan pada arena politik inspiratif,” tegasnya. “Saya hanya mau masuk ke wilayah konsep, seperti penataan politik menurut konstitusi, etika politik, politik hukum dan sebagainya, tanpa mau melibatkan diri pada tataran praktisnya,” ujarnya menambahkan.

Prof. Dr. Moh. Mahfud MD, SH, SU, oleh banyak kalangan, memang dikenal sebagai orang yang sangat konsisten dalam memegang prinsip. Sikap konsisten itulah yang membuatnya kaget saat diminta Gus Dur untuk menjadi Menteri Pertahanan. Dia bahkan sempat “menawar”, jangan-jangan perintah itu keliru. Yang dimaksudkannya mungkin Menteri Pertanahan, bidang yang lebih dekat dengan permasalahan hukum.

Tetapi setelah mengerti dirinya tidak mengurus masalah-masalah teknis dan strategi pertahanan – karena masalah tersebut ditangani oleh Panglima TNI, baru dia mau menerimanya. Tugasnya berkenaan dengan pengelolaan bidang administrasi dan birokrasi pertahanan. Setelah mengetahui dirinya berkompeten untuk hal itu, dia lantas bekerja dengan sangat serius. Dan terbukti, dirinya mampu mengemban tugas tersebut dengan baik. Semula dirinya memang menganggap, bahwa tugasnya itu hanya berurusan dengan tentara dan senjata. “Padahal sejak kecil saya tidak pernah pegang senjata. Yang saya pegang cuma ketapel,” kilahnya.

Sebelum dilantik, waktu itu Mahfud telah menunjukkan i’tikad baiknya. Dia umumkan seluruh harta kekayaannya. Dirinya mengaku punya dua rumah yang berdampingan di Sambilegi, Maguwoharjo, Sleman, dengan luas tanah 1.500 meter persegi dan luas bangunan 700 meter persegi. Juga tanah kosong seluas 400 meter persegi dan sepetak sawah seluas 470 meter persegi. Termasuk gajinya 3,5 juta rupiah dari UII, 2,5 juta rupiah sebagai Staf Ahli Meneg HAM, serta dari seminar, menulis di berbagai media massa, gaji mengajar di Pasca Sarjana UII dan tabungannya yang berjumlah 60 juta rupiah di bank.

Konsistensi itu juga terlihat pada setiap kali berpindah jabatan. KH Malik Madany, dosen UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta, yang selalu diminta untuk membacakan doa baginya. Baik ketika dirinya mau berangkat memangku jabatan Menteri Pertahanan, saat berperan sebagai anggota legislatif, maupun ketika pamitan untuk menempati jabatan barunya di Mahkamah Konstitusi. “Beliau adalah sahabat saya, yang selalu saya minta untuk mendoakan setiap kali akan mengemban tugas baru,” katanya singkat.

Sosok Kiai, baginya, adalah merupakan sosok yang sangatlah agung. Itulah sebabnya, ketika diminta untuk mengupas buku perjalanan kepemimpinan Kiai Kholil AG di Madura, dia mengakui bahwa beliau adalah sosok yang sangat patut untuk diteladani. “Sekarang ini kita banyak kehilangan idola uswah tentang sosok pemimpin masa depan. KH Kholil AG adalah contoh sosok pemimpin yang muncul dari bawah dan atas dukungan rakyat,” ungkapnya. “Beliau tidak pernah memanfaatkan posisinya untuk kepentingan pribadi, serta bisa memposisikan profesionalitas pada posisi yang tepat,” tandasnya.

Lantas, apa yang akan dilakukan oleh Mahfud MD dengan posisi barunya tersebut? “Yang pasti, garisnya sudah jelas. Setiap Hakim Konstitusi dituntut independen. MK juga tidak boleh tunduk kepada LSM atau opini pers,” tegasnya. “Prinsip independen harus dimaknai, seorang hakim MK mempunyai pendirian sendiri. Dia tidak boleh goyah oleh tekanan siapa pun. Dan nanti itu akan saya buktikan,” tambahnya bernada janji.

Hidup Seperti Lautan

KH. Moh. Hasan Mutawakkil Alallah, SH. MM

Barangkali, sejarah akan selalu mencatat nama dan peristiwa yang terpenting saja dalam kehidupan. Dan, kalaupun ada nama KH. Moh. Hasan Mutawakkil Alallah, SH.MM dalam sejarah bangsa ini, itu karena pimpinan Pondok Pesantren Zainul Hasan Genggong Pajarakan Probolinggo ini telah memahatkan sejarahnya sendiri.

Namanya begitu penting, ketika dirinya ditunjuk oleh Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) untuk menjembatani pertemuan antara penguasa Orde Baru yakni presiden Soeharto dan Ketua PBNU Gus Dur – panggilan akrab Alm. KH. Abdurrahman Wahid – yang saat itu saling berseberangan. Peristiwa tahun 1996 yang merupakan simbol wujud rekonsiliasi (islah) Nasional antara Pemerintah dan NU itu pun lantas dikenal dengan “Salaman Genggong”.

Lantas, apa kelebihan KH. Mutawakkil ini sehingga para kyai lebih memercayakan kesuksesan moment penting itu pada dirinya? Anak pasangan KH. Hasan Saifourridzal dan Nyai Hajjah Himami Habshowati ini, ternyata memiliki hubungan yang dekat dengan keluarga Cendana, lewat jalinan bisnis yang dilakoninya.

Sementara di kalangan kyai NU, ia dikenal sebagai santri sekaligus kyai muda yang tawadlu’ dengan ulama’ sepuh. Dia dinilai cakap dan berhasil dalam mengemban beberapa amanat yang dipasrahkan kepadanya. Langkah besar pertama diawal sejarah perjalanan hidupnya terjadi tahun 1991, saat kyai Mutawakkil dipercaya PBNU untuk menjadi tuan rumah pergelaran Musyawarah Nasional (Munas) LPS NU Pagar Nusa – tepat pada peringatan 100 hari wafatnya almarhum KH. Hasan Saifourridzal.

Berkat keberhasilannya itu, selang setahun kemudian, tepatnya bulan Oktober 1992, ia kembali dipercaya Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama (PWNU) Jawa Timur sebagai shahibul bait Konferensi Wilayah (Konferwil) NU Jawa Timur. Konferwil yang tengah mengagendakan pergantian fungsionaris PWNU Jawa Timur beserta penyusunan program lima tahun ke depan itu, lantas mengantarkan Drs. KH. A. Hasyim Muzadi terpilih sebagai ketua Tanfidziyah PWNU Jawa Timur masa khidmat 1992-1997. Dari Konferwil ini, Kyai Mutawakkil mulai memperoleh kepercayaan membantu kyai Hasyim di PWNU Jawa Timur dan juga di Pusat Koperasi Pondok Pesantren (Puskopontren) Jawa Timur. Selain itu, ia juga pernah menghidupkan Jami’atul Qura oleh PBNU dengan menyelenggarakan Munas di Genggong.

Tapi, berbekal pengalaman seperti itu masih dirasa belum cukup baginya. Sebab mempertemukan dua tokoh yang berseberangan, bukanlah persoalan gampang. Demi meyakinkan Pak Harto, dia harus menembus tembok birokrasi yang tebal dan mesti menghadapi warning (peringatan) dari tentara untuk keamanan. Sementara dengan Gus Dur, ia seperti berhadapan dengan benteng kepribadian yang kokoh.

Maka, dipilihlah acara Musyawarah Kerja Nasional Rabithah Ma’ahid Al-Islamiyah (RMI) – perhimpunan pesantren-pesantren NU – sebagai tilas sejarah bangsa di awal November 1996 itu. Dalam acara yang dibuka oleh Gus Dur itu, Kyai Mutawakkil juga mengundang Presiden HM. Soeharto dan sejumlah Menteri ke Ponpes Zainul Hasan Genggong Probolinggo. Tentu saja, acara itu juga disaksikan seluruh ulama’ NU.

Drama yang sangat mendebarkan itu pun seperti berlangsung lambat. Barisan tentara keamanan berikut persenjataannya disiagakan. “Bahkan di belakang dan depan rumah saya ada beberapa tank yang ikut berjaga,” tuturnya.

Pertemuan keduanya, diperkirakan berlangsung formal dan kaku. Ada keraguan dalam hatinya – juga sejumlah ulama’, kalau-kalau Presiden enggan bertemu apalagi berjabat tangan dengan Gus Dur. “Syukur alhamdulillah, dengan senyumnya yang khas, bagitu turun dari mobil kepresidenan di pintu gerbang pesantren, Pak Harto bersalaman dan berbincang akrab dengan Gus Dur,” ujarnya. “Bahkan sebelum naik mimbar VVIP Munas RMI, Pak Harto menggandeng tangan kanan dan menuntun Gus Dur berjalan menuju ndalem kesepuhan,” tambahnya dengan nada haru.

Peristiwa “Salaman Genggong”, bagi KH Mutawakil adalah sebuah pelajaran yang begitu penting dan sangat mengesankan dirinya hingga saat ini. “Peristiwa itu memberi pelajaran penting bagi saya, bahwa kita tidak boleh hanya mengandalkan rasio dan strategi yang bersifat rasional, namun juga harus percaya barokah dari para ulama,” katanya mengenang.

Keyakinannya pada barokah ulama’ itu, dikarenakan dirinya telah lama hidup di pesantren. Pria yang dilahirkan di Probolinggo, 22 April 1959 itu pun merasa bersyukur karena telah dipondokkan ayahnya sejak kecil. Sebab, pendidikan semasa bocah itulah yang menjadi pondasi langkahnya menjalani kehidupan. “Hidup di pesantren, mendidik saya menjadi pribadi mandiri. Tidak selalu tergantung kepada orang lain, terutama mengandalkan uluran tangan dan bantuan dari orangtua,” terangnya.

Ketika baru berusia sebelas tahun, Mutawakkil kecil sudah dipondokkan ayahandanya ke Ponpes Madrasatul Ilmi Syari’ah Sarang, Rembang Jawa Tengah pimpinan Kyai Imam. Namun pendidikannya di pesantren ini berjalan singkat, hanya 9 bulan. Anak kedua dari enam bersaudara itu pun lantas melanjutkkan pendidikan agamanya di Ponpes Hidayatul Mubtadi’ien Lirboyo Kediri, sekaligus menempuh pendidikan menengah pada Madrasah Tsanawiyah dan Aliyah Lirboyo. Saat di Lirboyo, ia sudah menyenangi pelajaran Nahwu, Sharaf, Balaghah (ilmu alat), Ilmu Fiqh, Tafsir dan Hadits.

Selama sebelas tahun (1979-1981), dirinya mendalami agama di bawah asuhan KH. Marzuki dan Romo Kyai Mahrus Ali. Pemuda Mutawakkil juga sempat mengenyam pendidikan tinggi di Fak. Syari’ah Universitas Tribhakti Kediri dan ikut aktfi di organisasi PMII (Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia). Setelah berhasil menggamit Sarjana Mudanya, dirinya melanjutkan kuliah di Universitas Islam Indonesia (UII) Yogyakarta. Baru setahun menempuh kuliah, dirinya mendapat beasiswa untuk belajar di Al Azhar Kairo, Mesir.

Pada tahun 1983, ia berkesempatan untuk mencari pengalaman study tour ke luar negeri, semisal ke Frankrut-Jerman, Polandia, Belgia dan Belanda. Saat itu, suami Nyai Hj. Muhibbatul Lubabah ini mengambil inisiatif untuk study banding dengan biaya sendiri. Karena tidak mempunyai biaya yang cukup, suami ayah enam putri itu kemudian mencari tambahan dana dengan bekerja apa saja. “Saat itu saya bekerja menjadi pelayan restoran di beberapa negara yang saya kunjungi,” tuturnya sambil senyum dikulum.

Dari pengalaman itu, ia mendapat pelajaran berharga. ”Ternyata akhlak Islam ada di Barat, bukan di Saudi,” tukasnya singkat. Kesimpulan itu dilontarkan setelah memperhatikan hubungan kerja antara buruk dan majikan. “Akhlak yang ada di Saudi itu tidak sesuai dengan tuntunan Islam. Walau pun tidak semua, mereka rata-rata kasar, tidak menghargai, egois dan tidak memberikan hak sepenuhnya pada pekerja. Itu kasusnya banyak dan saya lihat dengan mata kepala sendiri,” katanya menyodorkan bukti.

Di tengah keasyikannya menikmati pengalaman keilmuan itu, secara mendadak dia diminta pulang karena ayahnya sakit. Demi dharma bhaktinya kepada orangtua, dia rela mengorbankan kesempatan emasnya mengakhiri kuliahnya di ibukota Mesir itu. Tak berselang lama, ayahnya wafat. Sejak saat itulah, Mutawakkil mulai mengajar dan mengasuh santriwan-santriwati di pesantren menggantikan ayahnya.

Sebelum meninggal, ayahnya memberikan wasiat kehidupan yang tak kan pernah bisa dilupakannya. “Hendaklah kamu selalu ikhlas dan mengharap ridho Allah semata dalam tiap langkah perjuanganmu. Jangan mengutamakan ridho manusia,” ucapnya lirih menirukan pesan ayahnya.

Membuat semua orang senang dan puas, terangnya, adalah sesuatu yang mustahil. “Walaupun kita sampai menjadikan kaki di atas dan kepala di bawah agar semua orang senang, kita tak kan pernah berhasil. Sebab keinginan manusia itu sesuatu yang tiada batasnya,” katanya. Maka yang menjadi prioritas utama, lanjutnya menjelaskan, adalah diridhoi Allah dan tidak melanggar syari’at.

Dalam menjalani kehidupan selanjutnya, dia pun mencoba melakukan seperti apa yang diwasiatkan sang ayah kepadanya. “Ayah menginginkan agar saya memiliki hati seperti lautan. Selalu ada gelombang, walaupun tidak ada sampan atau perahu di situ,” ujarnya. Garam lautan, lanjutnya, juga bisa dimanfaatkan oleh semua orang. Di dalamnya ada kandungan mutiara dan beraneka ragam kekayaan laut yang tidak ternilai. “Tapi hebatnya, air laut tak pernah berubah rasa, walaupun dimasuki oleh limbah dan sampah,” terang mantan Ketua RMI tahun 1999-2004 itu.

Pesan filosofis itu begitu dihayati dan diamalkannya. Maka, penguatan akidah islamiyah berhaluan ahlussunnah wal jamaah pun begitu kokoh dia tancapkan mengakar ke dalam hatinya. Sehingga apa pun bentuk perjuangannya, selalu dalam niatan mencari ridho ilahi dan mengikuti sunnah nabi.

Maka, ketika menjadi Ketua Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama’ (PWNU) Jatim, dirinya tidak hanya membangun pondasi keimanan dan ketakwaaan, tapi juga konsen pada masalah-masalah keumatan yang lain. “Kita harus mampu merespon persoalan-persoalan kemasyarakatan dengan kreativitas yang tinggi. Baik di bidang keagamaan, ekonomi, pendidikan, teknologi dan politik, dalam hal ini politik kebangsaan,” tuturnya. “Islam akan kuat jika dibangun oleh iman dan takwa yang kokoh, serta ditopang oleh kekuatan ekonomi,” tuturnya.

Dirinya juga berkeinginan untuk memajukan koperasi pesantren. “Namun itu tidak mudah. Kita masih kekurangan SDM yang bisa mengelola ekonomi,” ucapnya prihatin. Sebenarnya dengan tersebarnya kopontren di beberapa pesantren, terangnya, hal itu sudah merupakan langkah maju untuk menjadikan pesantren sebagai sentral keagamaan dan sentral ekonomi umat. “Islam akan kuat jika dibangun oleh iman dan takwa yang kokoh, serta ditopang oleh kekuatan ekonomi,” tukas Ketua Pusat Koperasi Pondok Pesantren (Puskopontren) wilayah Jawa Timur ini