Islam sebagai agama yang rahmatal lil’alamin

  1. A.    PENDAHULUAN

Islam adalah agama rahmatalil’alamin, yang didalamnya mengandung ajaran cinta dan kasih sayang terhadap sesama.Semuanya itu telah dicontohkan oleh nabi Muhammad Saw lewat akhlaq mulia beliau.Yang mana Allah telah menitahkan perintah agung kepadanya sebagai suri tauladan dan memberi petunjuk bagi umat sejagad.Semuanya ditunjukkan lewat sabda-sabda yang dikenal dengan hadist Rasul.

Rasulullah saw telah berwasiat dalam sabdanya : “Aku tinggalkan untukmu dua perkara; tidak sekali-kali kamu sesat selama kamu berpegang/berpedoman kepada keduanya, yakni Kitabullah (Al-Qur’an dan Sunnah Rasul-Nya).”[1]

Manusia merupakan makhluk sosial yang tidak mungkin bisa hidup sendiri. Manusia memerlukan orang lain dalam rangka memenuhi kebutuhan hidupnya. Karena tidak mungkin seorang manusia bisa memenuhi kebutuhan hidupnya tanpa bantuan orang lain.

Tingkat keimanan seseorang dapat dilihat dari sejauh mana ia bisa merealisasikan keimanan dalam kehidupannya sehari-hari. Hal itu bisa terlihat dari bagaimana ia mencintai sesamanya, baik dalam bertutur kata, bergaul dengan tetangga, maupun dalam bagaimana ia menghadapi tamunya.

Dalam ajaran Islam, tetangga memiliki peran dan arti penting dalam kehidupan seorang Muslim. Islam mengajarkan, hak tetangga atas tetangga lainnya begitu agung.[2]

Dan dalam islampun, kita diajarkan untuk saling mencintai atas dasar karena Allah. Kita dilarang menyakiti orang lain, seperti menfitnah, mencaci, merusak harta orang lain, memukul dan lain sebagainya.

Apabila seorang muslim selalu mencintai orang lain, tak ada saling menyakiti, saling menfitnah, atau yang lainnya, insya allah kehidupan di dunia ini akan berjalan dengan damai. Tak akan ada peperangan, perebutan jabatan, ataupun daerah kekuasaan.

                                    Terlepas dari semua itu, penulis mencoba untuk menguraikan kandungan hadits-hadits nabi yang berhubungan dengan permasalahan diatas, yaitu bagaimana kita merealisasikan keimanan dalam kehidupan sosial kita sehari-hari.

  1. B.     PEMBAHASAN
    1. 1.      Cinta Sesama Muslim Sebagian dari Iman

وعن ابن عمر رضى الله عنهما : أن رسول الله ص.م. قا ل : المسلم أخوالمسلم لايظلمه ولا يسلمه , من كا ن فى حاجة أخيه كا ن الله فى حا جته , ومن فرج عن مسلم كربة فرج الله عنه بها كربة من كرب يوم القيامة , ومن ستر مسلما ستره الله يوم القيامة .

(متفق عليه )                                                              

Dari Ibnu Umar ra., ia berkata : Rasulullah saw. Bersabda : “sesama muslim itu bersaudara. Karena itu, jangan menganiaya dan mendiamkannya. Siapa saja yang memperhatikan kepentingan saudaranya, maka Allah akan memperhatikan kepentingannya. Siapa saja yang melapangkan satu kesulitan terhadap sesama muslim, maka Allah akan melapangkan satu kesulitan dari beberapa kesulitan di hari kiamat. Dan siapa saja yang menutupi kejelekan orang lain, maka Allah akan menutupi kejelekannya di hari kiamat.” (HR. Bukhari dan Muslim)[3]

Hadist di atas menjelaskan bahwasanya muslim satu dengan yang lain adalah saudara. Dan sesama saudara janganlah menganiaya dan mendiamkan satu sama lain. Sudah sepantasnya haruslah saling tolong-menolong, saling membantu kepentingan serta melapangkan kesulitan saudaranya atas dasar iman kepada Allah, tanpa harus ada perintah dari orang lain. Karena pada hakikatnya Allah swt. menciptakan makhluk di dunia ini tidak hanya sebagai makhluk individu, melainkan sebagai makhluk sosial yang mana tidak bisa hidup sendiri tanpa bantuan dari yang lain. Seorang mukmin, kita bagaikan sebuah bangunan antara yang satu dengan yang lain saling menguatkan. Sebagaiman dijelaskan dalam hadist berikut :

عن أبى موسى رضى الله عنه قا ل : قا ل رسول الله ص.م. : المؤمن للمؤمن كالبنيان يشد بعضه بعضا وشبك بين أصا بعه , متفق عليه

Artinya: “Dari Abu Musa ra., ia berkata, Rasulullah saw. Bersabda : “Orang mukmin dengan mukmin yang lain bagaikan satu bangunan, satu bagian dengan yang lain saling mengokohkan.” Sambil memperagakan dengan menyusupkan jari-jemarinya.” (HR. Bukhari dan Muslim)[4]

Selain diumpamakan sebagai sebuah bangunan, sesama mukmin juga bagaikan satu tubuh dalam hal saling mengasihi dan menyayangi. Seperti sabda Rasulullah Saw. yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari dan Muslim: “perumpamaan orang yang beriman yang saling mencintai dan saling menyayangi serta saling mengasihi bagaikan satu tubuh, apabila satu anggota menderita sakit, maka yang lain ikut merasakan hingga tidak bisa tidur dan merasa demam.”[5]

Dari beberapa hadist di atas yang menjelaskan cinta dan saling tolong-menolong sesama muslim merupakan bentuk realisasi iman terhadap Tuhan-Nya yang ditunjukkan dalam kehidupan.

  1. 2.      Ciri Seorang Muslim tidak Mengganggu Orang Lain

Salah satu ciri seorang muslim yang baik adalah orang lain akan selalu nyaman berada dekat dengannya. Karena mereka merasa aman dari gangguan tangan dan lisannya seperti sabda nabi berikut:

وعن عبد الله بن العا ص رضى الله عنهما عن النبى ص.م. قا ل : المسلم من سلم المسلمون من لسانه ويده , والمهاجر من هجر ما نهى الله عنه . (متفق عليه )

Dari Abdullah bin ‘Amr bin Al-‘Ash ra., dari Nabi saw., beliau bersabda : “Orang Islam adalah orang yang menjaga umat Islam lainnya selamat dari lisannya dan tangannya. Dan orang yang berhijrah adalah orang yang meninggalkan apa saja yang dilarang Allah.”(HR. Bukhari dan Muslim)[6]

Hadits diatas mempunyai dua kandungan pokok yaitu bagaimana seorang muslim membangun hubungan dengan muslim lainnya (hablum minan naas)yang harmonis dan membina aktivitas dalam membina bingkai ketaatan kepada tuhannya (hablum minallah).

Seseorang yang telah mengucapkan dua kalimat syahadat sudah termasuk muslim. Akan tetapi, untuk dikatakan sebagai muslim yang sebenarnya ia harus memiliki tingkah laku yang sesuai dengan syariat islam. Tanpa harus memilih ataupun membedakan syariat yang disukai atau tidak disukai olehnya.

Dari hadits diatas, kita mendapatkan sebuah pesan yang berorientasikan moral (moral oriented) bahwa muslim yang sebenarnya selain menjaga hubungan dengan Sang Kholiq, tetapi ia juga akan selalu menjaga hubungannya dengan sesamanya.

Keimanan seseorang tidak  bisa dikatakan sempurna apabila ia hanya terpaku terhadap kewajibannya kepada Allah Swt, tetapi ia masih meremehkan hubungan dengan sesama manusia. Karena pada dasarnya ajaran islam tidak hanya beorientasi pada hubungan illahiyah saja, tetapi juga berorientasi pada hubungan insaniyah.Meskipun semuanya bermuara kepada ketaatan kepada Allah Swt. Oleh karena itu berperilaku baik kepada sesama manusia merupakan bagian dari ajaran islam yang tidak pantas bila diabaikan.

Seorang muslim yang baik tidak akan menyakiti orang lain. Adapun menyakiti orang lain itu bermacam-macam. Hadits diatas hanya menyebutkan dua anggota tubuh secara simbolik, yaitu tangan dan lisan. Karena dua anggota tubuh inilah yang paling banyak menyakiti orang lain.

                                    Oleh sebab itu, seorang muslim sejati akan selalu menjaga orang lain agar tidak terdzalimi oleh keburukan lisannya maupun keburukan yang ditimbulkan oleh kedua tangannya. Dengan kata lain ia harus menjaga agar orang lain merasa nyaman hidup berdampingan dengannya.

                                    Menyakiti orang lain dengan tangan, misalnya dengan memukulnya, merusak harta bendanya dan lain-lain. Adapun menyakiti orang lain dengan ucapan atau lisannya, misalnya dengan fitnah, cacian, umpatan, hinaan, dan lain-lain. Perasaan sakit yang disebabkan oleh ucapan lebih sulit dihilangkan dari pada sakit akibat pukulan fisik. Tidak jarang terjadinya perpecahan, perkelahian, bahkan peperangan di berbagai daerah akibat tidak dapat mengatur lisan sehingga menyebabkan orang lain sakit hati.[7]

                                    Oleh karena itu seseorang harus berhati-hati untuk tidak menyakiti orang lain, kapanpun, dimanapun, dan dengan cara apapun. Karena apabila ia menyakiti orang lain seperti dengan menghianati, mendustai ataupun menghina ia termasuk orang-orang yang jahat. Sebagaimana sabda Rasulullah Saw :

وعن أبى هريرة رضى الله عنه قا ل : قا ل رسول الله ص.م. : المسلم أخو المسلم لايخونه ولا يكذبه ولا يخذ له , كل المسلم على المسلم حرام : عرضه , وما ل, ودمه , التقوى ههنا , بحسب امرئ من الشر أن يحقر أخاه المسلم .

(رواه الترمذى)

Dari Abu Hurairah ra., ia berkata : Rasulullah saw. Bersabda :”sesama muslim, jangan menghianati, mendustai dan membiarkannya. Sesama muslim haram mengganggu kehormatan, harta dan darahnya. Taqwa itu ada di sini (sambil menunjuk dadanya). Seseorang cukup dianggap jahat apabila ia menghina saudaranya yang muslim.” (HR. Tirmidzi)[8]

            Dari hadits diatas dapat kita ketahui bahwa sebagai seorang muslim kita tidak diperbolehkan untuk menghianati, dan mendustai. Kita juga sebagai sesama muslim diharamkan mengganggu kehormatan orang lain.

            Karena tidak mengganggu orang lain termasuk sebagian dari ciri seorang muslim. Dan itu pula sebagai realisai dari keimanan kita.

  1. 3.      Realisasi Iman dalam Menghadapi Tamu, Tetangga, dan Bertutur Kata

عن ابى هريرةرضى الله عنه عن النبي ص.م. قال: من كان يوءمن بالله واليوم الاخر فليقل خيرا أو ليصمت, ومن كان يوءمن بالله واليوم الاخر فليكرم جاره, ومن كان يوءمن بالله واليوم الاخرفليكرم ضيفه (متفق عليه )

Dari Abu Hurairah ra,. Ia berkata : Rasulullah  saw. bersabda :”Barang siapa beriman kepada Allah dan hari akhir maka hendaklah berkata baik atau diam, barang siapa beriman kepada Allah dan hari akhir maka hendaklah ia memuliakan tetangganya dan barang siapa beriman kepada Allah dan hari akhir maka hendaklah ia memuliakan tamunya.”(HR.Bukhari dan Muslim)[9]

Hadist di atas menjelaskan adanya perintah dalam menghadapi tamu, adab bertetangga, dan bertutur kata yang baik.

Kalimat “barang siapa yang beriman kepada Allah dan hari akhirat”, maksudnya adalah barang siapa beriman dengan keimanan yang sempurna, yang (keimanannya itu) menyelamatkannya dari adzab Allah dan membawanya mendapatkan ridha Allah, “maka hendaklah ia berkata baik atau diam” karena orang yang beriman kepada Allah dengan sebenar-benarnya tentu dia takut kepada ancaman-Nya, mengharapkan pahala-Nya, bersungguh-sungguh melaksanakan perintah dan meninggalkan larangan-Nya. Yang terpenting dari semuanya itu ialah mengendalikan gerak-gerik seluruh anggota badannya karena kelak dia akan dimintai tanggung jawab atas perbuatan semua anggota badannya, sebagaimana tersebut dalam firman Allah SWT :“Sesungguhnya pendengaran, penglihatan, dan hati semuanya kelak pasti akan dimintai tanggung jawabnya”. (QS. Al Isra’ : 36)

Kalimat “maka tidak boleh mengganggu tetangganya…….., maka hendaklah ia memuliakan tamunya” , menyatakan adanya hak tetangga dan tamu, keharusan berlaku baik kepada mereka dan menjauhi perilaku yang tidak baik terhadap mereka. Allah telah menetapkan didalam Al Qur’an keharusan berbuat baik kepada tetangga, sebagaimana sabda  Rasulullah saw. Yang diriwayatkan oleh Ibnu Umar dan Aisyah ra.:

 مازا ل جبريل يوصينى با لجار حتى ظننت أنه سيورثه . (متفق عليه )

“Malaikat Jibril selalu berpesan kepadaku untuk senantiasa berbuat baik kepada tetangga, sehingga aku menyangka bahwa tetangga itu akan ikut mewarisinya.”(HR.Bukhari dan Muslim)[10]

Sebagaimana yang telah dijelaskan terdahulu bahwa kita ini makhluk sosial yang tidak bisa hidup tanpa bantuan orang lain. Jika kita mendapati kesulitan ada orang pertama menolong sebelum keluarga kita yang notabene jauh dari kita, yaitu tetangga.Mereka pertama dimintai bantuan jika kita menemui kesulitan.

Bertamu itu merupakan ajaran Islam, kebiasaan para nabi dan orang-orang shalih.Sebagian ulama mewajibkan menghormati tamu tetapi sebagian besar dari mereka berpendapat hanya merupakan bagian dari akhlaq yang terpuji.

Pengarang kitab Al Ifshah mengatakan : “Hadits ini mengandung hukum, hendaklah kita berkeyakinan bahwa menghormati tamu itu suatu ibadah yang tidak boleh dikurangi nilai ibadahnya, apakah tamunya itu orang kaya atau yang lain. Juga anjuran untuk menjamu tamunya dengan apa saja yang ada pada dirinya walaupun sedikit. Menghormati tamu itu dilakukan dengan cara segera menyambutnya dengan wajah senang, perkataan yang baik, dan menghidangkan makanan. Hendaklah ia segera memberi pelayanan yang mudah dilakukannya tanpa memaksakan diri”.

Selanjutnya kalimat “maka hendaklah ia berkata baik atau diam”, menunjukkan bahwa perkatan yang baik itu lebih utama daripada diam, dan diam itu lebih utama daripada berkata buruk.Demikian itu karena Rasulullah Saw.dalam sabdanya menggunakan kata-kata “hendaklah untuk berkata benar” didahulukan dari perkataan “diam”. Berkata baik dalam Hadits ini mencakup menyampaikan ajaran Allah dan rasul-Nya dan memberikan pengajaran kepada kaum muslim, amar ma’ruf dan nahi mungkar berdasarkan ilmu, mendamaikan orang yang berselisih, berkata yang baik kepada orang lain. Dan yang terbaik dari semuanya itu adalah menyampaikan perkataan yang benar di hadapan orang yang ditakuti kekejamannya atau diharapkan pemberiannya.

            Bahaya lisan itu sangat banyak. Rasulullah Saw juga bersabda: “Bukankah manusia terjerumus kedalam neraka karena tidak dapat mengendalikan lidahnya”.

Barang siapa memahami hal ini dan beriman kepada-Nya dengan keimanan yang sungguh-sungguh, maka Allah akan memelihara lidahnya sehingga dia tidak akan berkata kecuali perkataan yang baik atau diam.

Demikianlah sebagian dari realisasi iman, yakni berusaha untuk menghormati tamu, tetangga, dan dalam bertutur kata sehari-hari. Sebagaimana telah dijelaskan pada hadits terdahulu bahwa kita ini merupakan makhluk sosial yang tidak bisa hidup tanpa bantuan orang lain, tapi ada orang yang pertama menolong kita sebelum keluarga kita, yang jauh dari kita, yaitu tetangga, mereka pertama dimintai bantuan jika kita mendapatkan kesulitan. Demikian juga, jika ada yang bertamu ke rumah kita maka perlakukanlah dia dengan sebaik mungkin, tapi yang pertama kita harus tunjukan yaitu sikap baik kita terutama dalam bertutur kata, karena sebagaimana dijelaskan dalam sebuah keterangan, “selamatnya seorang insan dalam terletak pada lidahnya”, meskipun kita tidak memiliki sesuatu untuk bisa dihidangkan maka berikanlah atau perlihatkanlah muka yang manis dan tutur kata yang baik.


 

  1. C.    KESIMPULAN

Islam sebagai agama yang rahmatal lil’alamin mengajarkan kepada umatnya  untuk selalu menyebarkan kasih sayang antar sesama. Sebagaimana misi agama islam itu sendiri yaitu sebagai rahmat di seluruh alam.

Sebagai perwujudan iman kita, kita harus merealisasikannya dalam kehidupan sosial ini.Karena pada dasarnya manusia adalah makhluk sosial. Yang mana ia pasti membutuhkan orang lain. Dalam kodisi bagaimana pun, kapanpun, dan dimanapun ia tidak akan mungkin bisa menjalani hidup seorang diri.

Dalam kehidupan sosial, kita harus bisa berbaur dengan yang lain dengan baik sesuai dengan ajaran islam. Karena semua itu merupakan sebuah perwujudan atau realisasi keimanan kita.

Dalam kehidupan sehari-hari kita tidak mungkin bisa terlepas dari orang lain, baik itu tetangga dekat, tetangga jauh dan lain sebagainya. Oleh karena itu, sebagai muslim yang haqiqi kita harus bisa membina hubungan yang harmonis dengan mereka semua.

Kita harus menjaga perilaku kita baik dalam bertingkah laku  ataupun bertutur kata, agar kita tidak menyakiti atau menyinggung perasaan mereka.

 

  1. D.    DAFTAR PUSTAKA

 

Drs. H. Muhammad Ahmad-Drs. M. Mudzakir.Ulumul Hadis.Bandung : CV. Pustaka Setia. 2000

Idrus H. Alkaf. Ikhtisar Hadits Shahih Muslim. Surabaya: CV Karya Utama.tt.

Ahmad Sunarto. Terjemah Riyadhus Shalihin. Jakarta: Pustaka Amani. 1994

Abu ‘Abdillah, Hadits Arba’in Nawawi dengan Syarah Ibnu ‘Daqiqil ‘Ied. Buku digital, Bandung: 2005

http://Mengenal%20Adab%20Bertetangga%20dalam%20Ajaran%20Islam%20%20%20Republika%20Online.htm

http://blog.re.or.id/ciri-ciri-orang-yang-matang-beragama-islam.htm


[1] Drs. H. Muhammad Ahmad-Drs. M. Mudzakir, Ulumul Hadist, CV. Pustaka Setia,Bandung: 2000. Hal. 14

[2]http//:Mengenal%20Adab%20Bertetangga%20dalam%20Ajaran%20Islam%20%20%20Republika%20Online.htm

[3]Ahmad Sunarto.Terjemah Riyadhus Shalihin.Jakarta: Pustaka Amani. 1994, cet. 1, hlm 257

[4]Ibid, hlm. 253

[5]Ibid, hlm. 254

[6]Ibid. Hal. 243

[7]http//:Catatan%20Erfin%20Yuliana%20%20Ciri%20Seorang%20Muslim%20Tidak%20Mengganggu%20Orang%20Lain.htm

[8]Ahmad Sunarto.ibid.Hal. 257

[9]Idrus H. Alkaf. Ikhtisar Hadits Shahih Muslim. Surabaya: CV Karya Utama ,tt, hlm. 39

[10] Ahmad Sunarto. ibid. Hal 318

About these ads

Tentang iroelizzta

santai tapi pasti

Posted on 29 Mei 2012, in islam..... Bookmark the permalink. Tinggalkan komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: