IMAN, ISLAM, DAN IHSAN

PEMBAHASAN

HADITS TENTANG IMAN, ISLAM, DAN IHSAN

 

Dalam sebuah hadits dikatakan :

حَدَّثَنَا مُسَدَّدٌ قَالَ حَدَّثَنَا إِسْمَاعِيلُ بْنُ إِبْرَاهِيمَ أَخْبَرَنَا أَبُو حَيَّانَ التَّيْمِيُّ عَنْ أَبِي زُرْعَةَ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ قَالَ: كَانَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بَارِزًا يَوْمًا لِلنَّاسِ فَأَتَاهُ جِبْرِيلُ فَقَالَ: مَا الإِيمَانُ قَالَ الإِيمَانُ أَنْ تُؤْمِنَ بِاللَّهِ وَمَلائِكَتِهِ وَكُتُبِهِ وَبِلِقَائِهِ وَرُسُلِهِ وَتُؤْمِنَ بِالْبَعْثِ، قَالَ: مَا الإِسْلاَمُ قَالَ: الإِسْلاَمُ أَنْ تَعْبُدَ اللَّهَ وَلاَ تُشْرِكَ بِهِ شَيْئًا وَتُقِيمَ الصَّلاَةَ وَتُؤَدِّيَ الزَّكَاةَ الْمَفْرُوضَةَ وَتَصُومَ رَمَضَانَ، قَالَ: مَا الإِحْسَانُ، قَالَ: أَنْ تَعْبُدَ اللَّهَ كَأَنَّكَ تَرَاهُ فَإِنْ لَمْ تَكُنْ تَرَاهُ فَإِنَّهُ يَرَاكَ، قَالَ: مَتَى السَّاعَةُ، قَالَ: مَا الْمَسْئُولُ عَنْهَا بِأَعْلَمَ مِنْ السَّائِلِ وَسَأُخْبِرُكَ عَنْ أَشْرَاطِهَا: إِذَا وَلَدَتْ الأَمَةُ رَبَّهَا وَإِذَا تَطَاوَلَ رُعَاةُ الإِبِلِ الْبُهْمُ فِي الْبُنْيَانِ، فِي خَمْسٍ لاَ يَعْلَمُهُنَّ إِلاَّ اللَّهُ ثُمَّ تَلاَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِنَّ اللَّهَ عِنْدَهُ عِلْمُ السَّاعَةِ الآيَةَ ثُمَّ أَدْبَرَ فَقَالَ رُدُّوهُ فَلَمْ يَرَوْا شَيْئًا فَقَالَ هَذَا جِبْرِيلُ جَاءَ يُعَلِّمُ النَّاسَ دِينَهُمْ

Artinya :

Musaddad telah menceritakan kepada kami, ia berkata bahwa Isma’il ibn Ibrahim telah menceritakan kepada kami, Abu Hayyan al-Taimiy dari Abi Zur’ah telah menyampaikan kepada kami dari Abu Hurairah r.a berkata:

Pada suatu hari ketika Nabi saw. sedang duduk bersama sahabat, tiba-tiba datang seorang laki-laki dan bertanya, “apakah iman itu?”. Jawab Nabi saw.: “iman adalah percaya Allah swt., para malaikat-Nya, kitab-kitabnya, dan pertemuannya dengan Allah, para Rasul-Nya dan percaya pada hari berbangkit dari kubur. ‘Lalu laki-laki itu bertanya lagi, “apakah Islam itu? Jawab Nabi saw., “Islam ialah menyembah kepada Allah dan tidak menyekutukan-Nya dengan suatu apapun, mendirikan shalat, menunaikan zakat yang difardhukan dan berpuasa di bulan Ramadhan.” Lalu laki-laki itu bertanya lagi: “apakah Ihsan itu?” Jawab Nabi saw., “Ihsan ialah bahwa engkau menyembah kepada Allah seakan-akan engkau melihat-Nya, kalau engkau tidak mampu melihat-Nya, ketahuilah bahwa Allah melihatmu.

Lalu laki-laki itu bertanya lagi: “apakah hari kiamat itu? “Nabi saw. menjawab: “orang yang ditanya tidak lebih mengetahui daripada yang bertanya, tetapi saya memberitahukan kepadamu beberapa syarat (tanda-tanda) akan tibanya hari kiamat, yaitu jika budak sahaya telah melahirkan majikannya, dan jika penggembala onta dan ternak lainnya telah berlomba-lomba membangun gedung-gedung megah. Termasuk lima perkara yang tidak dapat diketahui kecuali oleh Allah, selanjutnya Nabi saw. membaca ayat: “Sesungguhnya Allah hanya pada sisi-Nya sajalah yang mengetahui hari kiamat… (ayat).

Kemudian orang itu pergi. Lalu Nabi saw. bersabda kepada para sahabat: “antarkanlah orang itu. Akan tetapi para sahabat tidak melihat sedikitpun bekas orang itu. Lalu Nabi saw.bersabda: “Itu adalah Malaikat Jibril a.s. yang datang untuk mengajarkan agama kepada manusia.” (HR. Bukhari, Muslim, Abu Dawud, at-Turmudzi, Ibnu Majah dan Ahmad bin Hambal).[1]

 

 

A. Iman

Kata iman berasal dari bahasa arab, yang merupakan masdar dari madli Amana, Yu’minu, Imanan, yang artinya percaya.[2] Sedangkan menurut hadits pokok yang telah kami paparkan diatas, iman adalah percaya (adanya) Allah swt., para malaikat-Nya, kitab-kitabnya, dan pertemuannya dengan Allah, para Rasul-Nya serta percaya pada hari berbangkit dari kubur.

Pada redaksi lain juga disebutkan, yakni hadits yang diriwayatkan oleh bukhori muslim, selain yang telah disebutkan pada hadits pokok diatas, ada tambahan mengenai obyek iman, yaitu beriman adanya qodlo dan qodar, baik maupun buruk.  Wal hashil, dari sinilah para ulama’ menyimpulkan bahwa rukun iman ada enam,  yang mana setiap mu’min wajib mempercayainya untuk menyandang sebuah titel mu’minnya. Yakni :

  1. 1.       Iman kepada Allah
  2. 2.       Iman kepada malaikat Allah
  3. 3.       Iman kepada rusul Allah
  4. 4.       Iman kepada kitab-kitab Alla
  5. 5.       Iman kepada hari akhir (kiamat)
  6. 6.       Iman kepada qodo’ dan qobar Allah, baik maupun buruk keberadaannya.

Banyak sekali hadits yang memuat tentang iman, yang tak mungkin kami sajikan disini, maka kami hanya mengambil sebagian saja, diantaranya :

حدثنا عبد الله بن محمد قال حدثنا أبو عامر العقدي قال حدثنا سليمان بن بلال عن عبد الله بن دينار عن أبي صالح عن أبي هريرة رضي الله عنه عن النبي صلى الله عليه و سلم قال  : ( الإيمان بضع وستون شعبة والحياء شعبة من الإيمان )

Artinya : Abdulloh bin Muhammad telah bercerita kepada kita, seraya berkata; Abu Amir al  Aqdi bercerita kepada kita seraya berkata ; sulaiman bin bilal telah bercerita kepada kita dari abdulloh bin dinar dari abu sholih dari abu hurairoh ra.  Dari Nabi SAW. Beliau bersabda : “iman terdiri dari 70 lebih sekian cabang, sedangkan malu termasuk salah satu cabang darinya”.[3]

Hadits pertama ini, memberi aba aba bahwa iman itu banyak sekali cabangnya. Ada lebih dari 70 cabang iman, diantaranya adalah malu. Walau malu kelihatanyya sepele, tapi  ternyata banyak  sekali yang tidak bisa melakukannya, tercermin dalam kehidupan keseharian yang terjadi diantara kita. Lebih-lebih malu pada sang kuasa. Karena bila seseorang masih punya malu pada sang pencipta, niscaya tidak akan berani maksiat pada-Nya, apalagi berani meninggalkan perintah. Inilah urgensi tentang malu, banyak yang tahu, tapi tak sedikit yang tak mau tahu, dalam arti tidak mengindahkannya.

حدثنا يعقوب بن إبراهيم قال حدثنا ابن علية عن عبد العزيز بن صهيب عن أنس عن النبي صلى الله عليه و سلم ( ح ) . وحدثنا آدم قال حدثنا شعبة عن قتادة عن أنس قال قال النبي صلى الله عليه و سلم  : ( لا يؤمن أحدكم حتى أكون أحب إليه من والده وولده والناس أجمعين )

Ya’kub bin ibrahim teah bercerita kepada kita, beliau berkata ; ibnu ulaiyah bercerita kepada kita, dari abdul aziz bin zuhaib dari anas dari nabi saw., Adam juga bercerita kepada kita, beliau berkata ; telah bercerita kepada kita syu’bah, dari qotadah dari sahabat anas, beliau berkata ; nabi saw. Bersabda : “ tidak (sempurna) iman diantara kamu sehingga aku lebih dicintai baginya melebihi orang tuanya, anaknya, dan manusia sekalian”.

 

Hadits ini menjelaskan tentang urgensi cinta terhadap nabi, karena termasuk ciri ciri iman seseorang sempurna bila mana dia lebih mencintai nabinya melebihi cintanya terhadap selain tuhan dan nabinya. Bila kita tarik mafhum dari hadits ini, kama orang tidak bisa dikatakan mempunyi iman sempurna sebelum dia mencintai nabinya melebihi segala-galanya.

حدثنا مسدد قال حدثنا يحيى عن شعبة عن قتادة عن أنس رضي الله عنه عن النبي صلى الله عليه و سلم وعن حسين المعلم قال عن النبي صلى الله عليه و سلم قال  : ( لا يؤمن أحدكم حتى يحب لأخيه ما يحب لنفسه )

Musaddad telah menceritakan kepada kita, dia berkata ; telah bercerita kepada kita yahya, dari syu’bah dari qotadah dari annas dari nabi saw. Dan dari husain al Mualim, dia berkata : dari nabi saw. Beliau bersabda : “tidak dikatakan (sempurna) iman seorang diantara kalian sehingga mencintai saudara (muslim) nya sebagaimana kecintaannya kepada dirinya”.

Sedang hadits yang satu ini, menyinggung tentang kecintaan seseorang terhadap saudara muslinya, maka tidak dikatakan sempurna iman seseorng mana kala orang tersebut belum bisa mencintai saudara muslimnya sebagaimana dia mencintai dirinya sendiri.

 

حدثنا محمد بن المثنى قال حدثنا عبد الوهاب الثقفي قال حدثنا أيوب عن أبي قلابة عن أنس عن النبي صلى الله عليه و سلم قال ( ثلاث من كن فيه وجد حلاوة الإيمان أن يكون الله ورسوله أحب إليه مما سواهما وأن يحب المرء لا يحبه إلا لله وأن يكره أن يعود في الكفر كما يكره أن يقذف في النار )

Muhammad bin mutsanna telah berkata ; telah bercerita kepada kita  abdul wahab as tsaqofi, telah bercerita kepada kita Ayyub dari abi qolabah d ari annas dari nabi saw. Beliau bersabda : “tiga perkara bila mana terdapat diri seseorang akan merasakan manisnya iman : yaitu bila Allah dan rasulnya lebih ia cinta daripada selain keduanya, dan hendaknya ia mencintai orang yang tidak cinta kepadanya kecuali karena Allah semata, dan ia enggan / benci untuk kem bali kepada kekafiran sebagaimana kebenciannya bila di masukkan ke neraka”.

 

Terakhir, dibahas pada hadits ini tentang bagaimana seseorang dapat merasakan manisnya iman, yakni dengan mencintai Allah dan rasulnya melebihi segalanya,  mencintai seseorang yang mencintainya hanya karena Allah semata, serta hendaknya ia benci untuk kembali kepada kekafiran sebagaimana ia benci bila dimasukan ke neraka.

 

 

B. Islam

Sebagaimana telah maklum, islam berasal dari bahasa arab juga, dari madli Aslama yuslimu islaman, yang berarti  selamat. Sedangkan menurut hadits pokok diatas, islam diartikan sebagai Islam ialah menyembah kepada Allah dan tidak menyekutukan-Nya dengan suatu apapun, mendirikan shalat, menunaikan zakat yang difardhukan dan berpuasa di bulan Ramadhan.

Dilain redaksi, ada yang mencantumkan perihal haji, sehingga dapat disimpulkan bahwa rukun iman berjumlah lima, yaitu :

  1. Syahadat.
  2. Sholat.
  3. Zakat
  4. Puasa.
  5. Dan haji

Sebagaimana hadits nabi yang berbunyi :

حدثنا عبيد الله بن موسى قال اخبرنا حنظلة بن أبي سفيان عن عكرمة بن خالد عن ابن عمر رضي الله عنهما قال

 : قال رسول الله صلى الله عليه و سلم ( بني الإسلام على خمس شهادة أن لا إله إلا الله وأن محمدا رسول الله وإقام الصلاة وإيتاء الزكاة والحج وصوم رمضان )

Abdulloh bin musa telah bercerita kepada kita, dia berkata ; handlolah bin abi sufyan telah memberi kabar kepada kita d ari ikrimah bin kholid dari abi umar ra. Berkata : rasul saw. Bersabda : islam dibangun atas lima perkara : persaksian sesungguhnya tidak ada tuhan selain Allah dan sesungguhnya nabi Muhammad adalah utusannya, mendirikan sholat, memberikan zakat, hajji dan puasa ramadlan”.

 

 

Islam merupakan agama terakhir dari syariat yang telah dirurunkan oleh Allah kepada rasul sekaligus nabinya yang terakhir pula. Disini, eksistensi islam sebagai agama yang paling benar telah tak diragukan lagi adanya. Banyak kaum orientalis yang berusaha menyerang islam, dengan mempelajari islam itu sendiri, dengan tujuan mencari celah untuk meruntuhkan islam melalui kekurangan-kekurangan yang ada dalam islam, tapi apa yang terjadi, banyak diantara mereka yang malah berbalik kiblat kemudian masuk islam tanpa ragu. Karena islam merupakan agama yang sempurna, sekaligus sebagai penyempurna dari agama-agama masawi yang terdahulu. Allah berfiman :

¨bÎ) šúïÏe$!$# y‰YÏã «!$# ÞO»n=ó™M}$# 3 $tBur y#n=tF÷z$# šúïÏ%©!$# (#qè?ré& |=»tGÅ3ø9$# žwÎ) .`ÏB ω÷èt/ $tB ãNèduä!%y` ÞOù=Ïèø9$# $J‹øót/ óOßgoY÷t/ 3 `tBur öàÿõ3tƒ ÏM»tƒ$t«Î/ «!$#  cÎ*sù ©!$# ßìƒÎŽ|  É>$|¡Ïtø:$# ÇÊÒÈ

Artinya : Sesungguhnya agama (yang diridhai) disisi Allah hanyalah Islam. tiada berselisih orang-orang yang telah diberi Al Kitab[4] kecuali sesudah datang pengetahuan kepada mereka, karena kedengkian (yang ada) di antara mereka. Barangsiapa yang kafir terhadap ayat-ayat Allah Maka Sesungguhnya Allah sangat cepat hisab-Nya.[5]

 

c. Ihsan

kata ihsan, lahir dari madli ahsana yuhsinu ihsanan, yaitu bahasa arab yang berarti bebuat baik, atau memperbaiki. Sedangkan bila memandang dri hadits pokok diatas, ihsan diartikan sebagai menyembah Allah seakan akan kita melihat-Nya, atau setidaknya kita merasa selalu diawasi oleh Allah.

 

Disini terdapat indikasi lebih mengenai ihsan dibanding dengan yang lain. Karena ihsan sendiri merupakan usaha untuk selalu melakukan yang lebih baik, yang lebih afdol, dan bernilai lebih sehingga seseorang tidak hanya berorientasi untuk menggugurkan kewajiban dalah beribadah, melainkan justru berusaha bagaimana amal ibadahnya diterima dengan sebaik-baiknya oleh Allah. SWT. Karena dia akan merasa diawasi oleh Allah, maka akan terus timbul dihatinya tuntutan untuk selalu meng upgrade amal perbuatannya dari yang kurang baik menjadi yang  baik, dari yang sudah baik, terus berusaha untuk yang lebih baik demi diterimanya amal perbuatan mereka.

 

Sebagai contoh, seseorang yang melakukan sholat, cukup dengn melakukan syarat dan rukun sholat saja, tanpa  hartus khusu’ maupun khudu’. Orang itu sudah tidak dituntut lagi kelak karena dia sudah melakukan kewajibannya walaupun hanya sebatas menggugurkan kewajiban belaka. Beda dengan orang yang muhsin (ihsan), maka dia akan melakukan sholat tersebut dengan sesempurna mungkin, dia tidak hanya memperhatikan syarat dan rukun saja, melainkan adab dalam sholat, kekhusyu’an, khudu’, dan hal-hal yang dapat menghalangi sampainya ibadah tersebut sampai kepada hadroh sang kholiq.

 

D. Korelasi Iman, Islam, dan Ihsan

Diatas telah dibahas tentang ketiga hal tersebut, disini, akan dibahas hubungan timbal balik  antara ketiganya. Iman yang merupakan landasan awal,  bila diumpamakan sebagai pondasi dalam keberadaan suatu rumah, sedangkan islam merupakan entitas yang berdiri diatasnya. Maka, apabila iman seseorang lemah, maka islamnya pun akan condong, lebih lebih akan rubuh. Dalam realitanya mungkin pelaksanaan sholat akan tersendat-sendat, sehingga tidak dilakukan pada waktunya, atau malah mungkin tidak terdirikan. Zakat tidak tersalurkan, puasa tak terlaksana, dan lain sebagainya. Sebaliknya, iman akan kokoh bila islam seseorang ditegakkan. Karena iman terkadang bisa menjadi tebal, kadang pula menjadi tipis, karena amal perbuatan yang akan mempengaruhi hati. Sedang hati sendiri merupakan wadah bagi iman itu. Jadi, bila seseorang tekun beribadah, rajin taqorrub, maka akan semakin tebal imannya, sebaliknya bila seseorang berlarut-larut dalam kemaksiatan, kebal akan dosa, maka akan berdampak juga pada tipisnya iman.

Dalam hal ini, sayyidina Ali pernah berkata :

قال علي كرم الله وجهه إن الإيمان ليبدو لمعة بيضاء فإذا عمل العبد الصالحات نمت فزادت حتى يبيض القلب كله وإن النفاق ليبدو نكتة سوداء فإذا انتهك الحرمات نمت وزادت حتى يسود القلب كله

Artinya : Sahabat Ali kw. Berkata : sesungguhnya iman itu terlihat seperti sinar yang  putih, apabila seorang hamba melakukan kebaikan, maka sinar tersebut  akan tumbuh dan bertambah sehingga hati (berwarna) putih. Sedangkan kemunafikan terlihat seperti titik hitam, maka bila seorang melakukan perkara yang diharamkan, maka titik hitam itu akan tumbuh dan bertambah hingga hitamlah (warna) hati. [6]

Adapun ihsan, bisa diumpamakan sebagai hiasan rumah, bagaimana rumah tersebut bisa terlihat mewah, terlihat indah, dan megah. Sehingga padat menarik perhatian dari banyak pihak. Sama halnya dalam ibadah, bagaimana ibadah ini bisa mendapatkan perhatian dari sang kholiq, sehingga dapat diterima olehnya. Tidak hanya asal menjalankan perintah dan menjauhi larangannya saja, melainkan berusaha bagaimana amal perbuatan itu bisa bernilai plus dihadapan-Nya. Sebagaimana yang telah disebutkan diatas kedudukan kita hanyalah sebagai hamba, budak dari tuhan, sebisa mungkin kita bekerja, menjalankan perintah-Nya untuk mendapatkan perhatian dan ridlonya. Disinilah hakikat dari ihsan.


[1]

[2]

[3]

[4] Maksudnya ialah Kitab-Kitab yang diturunkan sebelum Al Quran.

[5] Lihat Al-Qur’an surat  Ali Imron  ayat  21

[6] Lihat Ihya Ulumiddin, juz 1 hal.121 Maktaba Syamela

About these ads

Tentang iroelizzta

santai tapi pasti

Posted on 29 Mei 2012, in islam..... Bookmark the permalink. Tinggalkan komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: