Arsip Bulanan: April 2012

Karakter Nabi Muhammad

Karakter Nabi Muhammad

            Tercatat dalam sejarah dunia bahwa Nabi Muhammad adalah termasuk salah seorang yang sukses membawa perubahan besar pada bangsanya. Sukses dalam mengentaskan bangsanya dari kebodohan, kemiskinan, dan permusuhan. Sukses membawa kaumnya dari kesesatan menuju ajaran yang sempurna untuk kehidupan dunia dan akhirat. Kesuksesan yang dibawanya telah mencengangkan dunia. Hanya orang besar yang bisa membawa perubahan besar. Hanya orang benar yang bisa mengemban amanat kebenaran. Sungguh merupakan suatu perpaduan yang sangat sempurna antara karakter sang pembawa risalah dengan risalah yang dibawanya. Muhammad disiapkan untuk sesuatu yang agung. Muhammad disiapkan untuk sesuatu yang suci. Muhammad diciptakan untuk menjadi tokoh dunia.

 

Pertama, shidiq

Nabi Muhammad adalah seorang yang jujur, benar, tidak pernah berbohong dan tidak pernah mengajari umatnya untuk berbohong. Dalam sebuah hadits yang diriwayatkan Ibnu Mas’ud, Nabi bersabda:

إن الصدق يهدي إلى الـبر وإن البر يهدي إلى الجنـة وإن الرجل ليصـدق حتى يكتب عند الله صـديقا, وإن الكذب يهدي إلى الفجور وإن الفجور يهدي إلى النار وإن الرجل ليكذب حتى يكتب عند الله كذابا

            Artinya: “Sesungguhnya kejujuran akan mengantarkan pada jalan kebaikan dan kebaikan akan mengantarkan pada jalan surga. Dan seseorang yang selalu berbuat jujur akan ditulis di sisi Allah sebagai orang yang jujur. Sedangkan kebohongan akan mengantarkan pada kejahatan dan kejahatan akan mengantarkan pada jalan neraka. Dan orang yang berbohong akan ditulis di sisi Allah sebagaj seorang pembohong.”

Nabi terkenal dengan kejujurannya. Kejujuran inilah yang bisa membuat Islam cepat dipeluk oleh bangsa Arab. Kejujuran inilah yang membuat Abu Thalib bersikeras melindungi Nabi Muhammad dari gangguan kafir Quraisy, walaupun ia sendiri belum bisa memeluk ajaran Nabi Muhammad. Karena Abu Thalib yakin bahwa Muhammad yang jujur tidak akan membawa berita yang bohong bahkan dalam masalah kepercayaan. Kejujuran inilah yang bisa menentramkan jiwa Khadijah ketika Nabi menerima wahyu pertama kali. Khadijah yakin mengenai kejujuran Muhammad, sehingga yang diterimanya pun tidak sampai merupakan kedustaan.

 

Masyarakat yang dibangun oleh Nabi adalah masyarakat yang dipenuhi dengan jiwa-jiwa yang jujur, yang selalu dibayangi oleh Allah yang Maha Mengetahui dalam segala aktifitasnya. Dalam keramaian maupun dalam keadaan sepi. Di hadapan banyak orang maupun dalam kesendirian. Bukan masyarakat yang penuh dengan kebohongan. Masyarakat yang dibangun adalah masyarakat yang satu dalam kata dan perbuatannya, bukan masyarakat yang berkata yes  dalam ucapannya namun dalam hatinya menolak. Al-Qur`an sangat mengecam orang-orang yang tidak sekata dan seamalan.

Artinya: “Wahai orang-orang yang beriman, kenapakah kamu mengatakan sesuatu yang tidak kamu kerjakan? Amat besar kebencian di sisi Allah bahwa kamu mengatakan apa-apa yang tidak kamu kerjakan.” (ash-Shaff: 2-3)

Masyarakat yang ingin dibangun Nabi adalah masyarakat yang selalu melakukan apa yang pernah mereka katakan, yang selalu menepati apa yang pernah mereka janjikan. Bukan masyarakat yang mengumbar janji namun mereka dengan mudah melupakan jika meraih ambisi. Bukan masyarakat yang menggombali karena untuk sebuah misi. Bukan masyarakat yang mimpi tanpa bukti.

Kedua, amanat

Nabi adalah orang yang dapat dipercaya. Tidak ada yang meragukan ke- aminan seorang Muhammad. Kaum muslimin dan orang-orang kafir Makkah semua mengakui hal tersebut. Sebuah kasus misalnya ketika semua kabilah berebut dan bersitegang tentang siapa yang akan menaruh Hajar Aswad di dinding Ka’bah setelah terkena banjir, maka Muhammad-lah yang menjadi pilihannya. Dalam memikul amanat besar tersebut, beliau tidak lantas semena-mena. Namun beliau meminta kabilah untuk menyiapkan kain panjang. Hajar Aswad ditaruh di tengahnya dan setiap dari kabilah Arab memegang sudut-sudut kain tersebut. Kepercayaan yang diberikan kepada beliau tidak lantas membuat beliau lupa akan keadilan. Amanat yang dipercayakan kepada beliau tidak lantas membuat beliau lupa akan kebijaksanaan. Amanat yang diberikan kepada beliau tidak lantas membuat lupa akan orang yang memberi amanat. Karakter al-Amin inilah  yang membuat Nabi sukses menjadi agamawan sekaligus negarawan. Dengan al-Amin-nya semua umat Islam pada saat itu rela mengorbankan segala yang dimilikinya untuk Islam. Mereka yang mempunyai kekuatan siap melindungi Islam dengan kekuatannya. Mereka yang berilmu siap menumpahkan pikirannya untuk kemajuan Islam. Bahkan mereka yang tidak mempunyai apapun rela menjalankan hukum Islam dengan ta’at dan ikhlas. Mereka percaya bahwa pengorbanan mereka tidak akan sia-sia. Mereka percaya bahwa pengorbanan mereka tidak salah amanat. Mereka percaya pengorbanan mereka adalah untuk kepentingan Islam secara keseluruhan, bukan hanya dinikmati oleh sekelompok manusia tertentu. Mereka yakin bahwa semua pengorbanan mereka hasilnya akan mereka nikmati kembali. Mereka berkorban dan mereka yang akan menikmati hasilnya. Tidak pernah terlintas dibenak mereka bahwa Nabi dan orang–orang dekatnya akan menikmati hasil jerih payah rakyatnya tanpa peduli nasib mereka.

Allah berfirman:

            Artinya: “Sesungguhnya Allah menyuruh kamu menyampaikan amanat kepada yang berhak menerimanya, dan (menyuruh kamu) apabila menetapkan hukum di antara manusia supaya kamu menetapkan dengan adil. Sesungguhnya Allah memberi pengajaran yang sebaik-baiknya kepadamu. Sesungguhnya Allah adalah Maha Mendengar lagi Maha Melihat.” (an-Nisa`: 58)

Alangkah bahagianya sebuah bangsa yang dipenuhi dengan jiwa-jiwa yang amanah. Di sana ada kepercayaan, di sana ada ketenangan, di sana tidak ada saling mencurigai, tidak ada saling menuduh dan menuding untuk kepentingannya sendiri.

 

Ketiga, tabligh

Nabi bersifat menyampaikan wahyu. Apa yang diterima dari Allah selalu disampaikan kepada umatnya. Tak ada satu perintahpun yang tidak disampaikan kepada mereka. Apa yang datang dari Allah selalu disosialisasikan pada umatnya. Baik berupa perintah maupun larangan, kabar gembira atau kabar yang menyedihkan.

$pkš‰r’¯»tƒ ãAqߙ§9$# õ÷Ïk=t/ !$tB tA̓Ré& šø‹s9Î) `ÏB y7Îi/¢‘ ( bÎ)ur óO©9 ö@yèøÿs? $yJsù |Møó¯=t/ ¼çmtGs9$y™Í‘ 4 ª!$#ur šßJÅÁ÷ètƒ z`ÏB Ĩ$¨Z9$# 3 ¨bÎ) ©!$# Ÿw “ωöku‰ tPöqs)ø9$# tûï͍Ïÿ»s3ø9$# ÇÏÐÈ

            Artinya: “Hai rasul, sampaikanlah apa yang diturunkan kepadamu dari Tuhanmu. Dan jika tidak kamu kerjakan (apa yang diperintahkan itu, berarti) kamu tidak menyampaikan amanat-Nya. Allah memelihara kamu dari (gangguan) manusia. Sesungguhnya Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang kafir.” (al-Ma`idah: 67)

Karakter ini yang kemudian menjadi konsep amar ma’ruf nahi munkar, menyeru kepada kebaikan dan mencegah dari kemunkaran. Nabi mengajarkan kepada umatnya untuk saling mengingatkan dan menasehati. Untuk saling mengajak dan mencegah. Nabi tidak mengajarkan manusia untuk memikirkan kebahagiaan pribadi. Nabi mengajarkan umatnya untuk menciptakan kebahagiaan kolektif. Kebahagiaan bersama di dunia dan di akhirat. Pepatah mengatakan teman sejati bukanlah yang selalu membenarkan kita. Teman sejati adalah yang berkata benar kepada kita ( ليس الصديق من يُصّدقك ولكن الصديق من يَصُدقك  ).

Bangsa yang diimpikan Nabi adalah sebuah bangsa besar yang saling peduli, bukan bangsa individual. Bukan  bangsa yang hanya memikirkan pribadi, bukan bangsa yang hanya memikirkan golongannya. Namun bangsa yang berpandangan bahwa kepentingan rakyat jauh lebih penting dari kepentingan pribadi dan golongannya. Bahwa kepentingan bangsannya itulah yang harus diutamakan.

 

 

Keempat, fathanah

Nabi adalah orang yang cerdas dan pandai. Kecerdasan ini sangat mempengaruhi kesuksesan Nabi dalam dakwahnya. Dan kecerdasan inilah yang selanjutnya Nabi juga terkenal dengan negarawan handal. Muhammad Husain Haikal dalam bukanya Hayatu Muhammad menegaskan bahwa metode dakwah Nabi penuh dengan ilmiah. Nabi mampu meyakinkan pada pengikutnya bahwa yang menciptakan alam ini bukanlah berhala yang disembah oleh orang–orang Quraisy, bukanlah api yang dipuja oleh mereka yang menganut paganisme. Alam dan isinya, satu sama lain saling berhubungan. Perputaran dan ketertiban hukum alam ini sangat menakjubkan. Matahari tidak mengejar bulan, malam juga tidak akan mendahului siang dan lain sebagainya. Hal ini menunjukan bahwa yang menciptakan alam ini adalah Dzat yang Maha Esa, yaitu Allah SWT. Ajaran Muhammad merupakan perpaduan kebenaran yang dilukiskan dengan bahasa yang sangat indah. Sehingga membuat orang–orang Arab bangkit dari kejahiliyahannya, bangkit dari kebodohannya. Jiwa mereka meningkat lebih tinggi, berhubungan dengan Dzat yang Maha Mulia. Kecerdasan ini pula yang menjadi rahasia kenapa umat Islam dianjurkan untuk berhijrah, dan kenapa hijrah pertama kali harus ke Abisinia yang berada di bawah kekuasaan Najasyi. Ketika ditanya kenapa harus ke Abisinia ya Rasulullah? Beliau menjawab, “Tempat itu diperintah seorang raja dan tak ada orang yang dianiaya di situ. Itu bumi jujur sampai nanti Allah membukakan jalan buat kita”. Nabi berhijrah bukan karena takut menghadapi musuh. Nabi berhijrah bukan karena pengecut. Nabi berhijrah karena pada saat itu umat Islam masih sangat lemah dan belum sebanding dengan kekuatan kafir Quraisy. Nabi berhijrah guna mengumpulkan kekuatan, menggalang solidaritas. Dan pada saat yang tepat nanti akan kembali ke Makkah untuk mendakwahi mereka. Islam mengajarkan umatnya untuk menjadi bangsa yang pandai, bangsa cerdas. Islam tidak membiarkan umatnya berada dalam jurang kebodohan.

من أراد الدنيا فعليه بالعلم , ومن أراد الأخرة فعليه بالعلم , ومن أرادهما فعليه بالعلم

            Artinya: “Barangsiapa yang ingin menguasai dunia, maka ia harus berilmu. Barangsiapa yang menginginkan akhirat, maka ia harus berilmu. Dan barangsiapa  yang menginginkan keduanya, maka ia harus berilmu.”

 

 

Al-qur’an dan Namanya

BAB I

PENDAHULUAN

Al-Qur’anmerupakan salah satu mukjizat Nabi Muhammad SAW yang diberikan oleh Allah kepadanya sebagai tanda kenabian serta untuk mengalahkan musuh-musuh beliau. Pada saat pra islam, manusia yang disebut sebut sebagai jahiliyah bukanlah orang orang yang bodoh tidak memiliki kemampuan apapun, bahkan mereka sangat pandai dalam hal setrategi peperangan perdagangan terutama dalam hal sastra. Hingga setiap setahun sekali di kalangan jahiliyah tersebut diadakan beberapa lomba yang bertempat di sebuah pasar yang disebut pasar ukaz. Diantaranya adalah lomba gulat dan lomba sastra. Merupakan kehormatan yang bernilai tinggi apabila seseorang bisa membuat karya yang bersastra tinggi, karena bagi pemenang lomba sastra tersebut, karyanya akan digantungkan di dinding ka’bah.

Kejahiliahan masa tersebut adalah kesalah kaprahan dalam hal kepercayaan. Mereka memegang teguh keyakinan nenek moyang yang menyimpang. Mereka juga sangat menjunjung tinggi nama baik kelompoknya dan akan bangga apabila memiliki anak laki laki yang gagah dan kuat. Mereka akan membunuh anak perempuan yang baru lahir karena merasa malu dengan beranggapan bahwa wanita adalah mahluk yang lemah dan tidak bisa melindungi dan membela sukunya karena tidak bisa berperang.

Melihat keadaan yang semakin memburuk dan berkeyakinan pada tuhan yang sebenarnya tidak bisa mendatangkan kemnafaatan apabila mereka sembah dan tidak akan bisa mendatangkan kemadlorotan apabila tidak menyembahnya. Nabi Muhammad bertahannus di sebuah gua yang disebut dengan gua hira, dengan harapan mendapatkan petunjuk dari Tuhan pencipta langit, bumi dan seisinya. Berhari hari beliau berada di gua tersebut. Hingga suatu ketika datanglah malaikat Jibril mehampirinya dan menyampaikan wahyu dari Allah SWT. Sejak itulah beliau diangkat menjadi Nabi dan agama yang haq diturunkan, tak lain adalah awal pertama Al-Qur’an diturunkan.

Dari pemaparan singkat diatas, marilah kita memahami tentang Al-Qur’an serta penurunanya baik dari devinisi-devinisi , nama nama lain dari Al-Qur’an, awal penurunan serta bagaimana penurunannya.

BAB II

PEMBAHASAN

  1. Pengertian Al-Qur’an
    1. Pengertian Al-Qur’ansecara etimologi.

Merupakan mashdar (kata benda) dari kata kerja Qoro-’a (قرأ) yang bermakna Talaa (تلا) [keduanya berarti: membaca], atau bermakna Jama’a (mengumpulkan, mengoleksi). Anda dapat menuturkan,قرأ يقرأ قرآنا sama seperti Berdasarkan makna pertama (Yakni: Talaa) maka ia adalah mashdar (kata benda) yang semakna dengan Ism Maf’uul, artinya Matluw (yang dibaca). Sedangkan berdasarkan makna kedua (Yakni: Jama’a) maka ia adalah mashdar dari Ism Faa’il, artinya Jaami’ (Pengumpul, Pengoleksi) karena ia mengumpulkan/mengoleksi berita-berita dan hukum-hukum[1].

  1. Pengertian Al-Qur’ansecara etimologi

Ada beberapa pengertian tentang alqur’an, di dalam kitab At Tasrihul Yasir Fi Al Ilmi Al Tafsir memberikan devinisi bahwa alqur’an adalah kalam allah yang diturunkan pada Nabi Muhammad SAW sebagai mukjizat dari surat suratnya. Dari sini pengertian ini mengecualikan kitab kitab yang turun kepada selain nabi Muhammad dan mengecualikan hadist-hadist Robbani (hadist qudsi) seperti hadist:

انا عند ظن عبدى بى

“saya (Allah) berada pada perasangka hambaku terhadapku”

Meskipun ini adalah kalam Allah yang diturunkan kepada nabi tetapi ini bukan termasuk Ai-Qur’an. Sebagian ulama Kholaf menambahkan sedikit pengertian yaitu bernilai ibadah saat membacanya[2].

            Namun juga ada yang memberikan devinisi yang lebih rinci yaitu:

Al-Qur’anadalah kalam allah yang diturunkan kepada nabi secara berangsur angsur dengan dimulai dari surat al fatihan dan di akhiri dengan surat An nas dan bernilai ibadah ketika membacanya.

Dari pengertian ini mungkin lebih berlebihan karena menyebutkan bahwa Al-Qur’an dimulai dari surat al fatihah dan diakhiri dengan surat an Nas. Dari sini seakan bukan member devinisi pada Al-Qur’an melainkan memberikan devinisi pada mushaf Al-Qur’an seperti yang dikemukakan oleh ahli fiqh.

            Di dalam Al-Qur’an terdapat beberapa surat dan ayat, surat adalah bagian yang memiliki nama tertentu dan memiliki awalan ayat dan akhir ayat. Sedangkan paling sedikitnya ayat dalam satu surat adalah tiga ayat. Ayat adalah bagian yang berupa kalimat-kalimat Al-Qur’an yang dipisah-pisahkankan pada akhir ayat.

  1. Nama nama Al-Qur’an

Al Qur’an, kitab suci agama Islam memiliki banyak nama. Nama-nama ini berasal dari ayat-ayat tertentu dalam Al Qur’an itu sendiri yang memakai istilah tertentu untuk merujuk kepada Al Qur’an itu sendiri.

Nama-nama tersebut adalah:

  1. Al-Kitab (buku)

Kitab (Al-Qur’an) ini tidak ada keraguan padanya; petunjuk bagi mereka yang bertaqwa (QS. Al-Baqarah [2]:2)

  1. 2.      Al-Furqan (pembeda benar salah)

Maha suci Allah yang telah menurunkan Al-Furqaan (Al-Qur’an) kepada hamba-Nya, agar dia menjadi pemberi peringatan kepada seluruh alam. (QS. Al Furqaan [25]:1)

  1. 3.      Adz-Dzikr (pemberi peringatan)

Sesungguhnya Kami-lah yang menurunkan Adz-Dzikr (Al-Qur’an), dan sesungguhnya Kami benar-benar memeliharanya. (QS. Al Hijr [15]:9)

  1. 4.      Al-Mau’idhah (pelajaran/nasihat)

Hai manusia, sesungguhnya telah datang kepadamu pelajaran dari Tuhanmu dan penyembuh bagi penyakit-penyakit (yang berada) dalam dada dan petunjuk serta rahmat bagi orang-orang yang beriman. (QS. Yunus [10]:57)

  1. 5.      Asy-Syifa’ (obat/penyembuh)

Hai manusia, sesungguhnya telah datang kepadamu pelajaran dari Tuhanmu dan penyembuh bagi penyakit-penyakit (yang berada) dalam dada dan petunjuk serta rahmat bagi orang-orang yang beriman. (QS. Yunus [10]:57)

  1. 6.      Al-Hukm (peraturan/hukum)

Dan demikianlah, Kami telah menurunkan Al-Qur’an itu sebagai peraturan (yang benar) dalam bahasa Arab. Dan seandainya kamu mengikuti hawa nafsu mereka setelah datang pengetahuan kepadamu, maka sekali-kali tidak ada pelindung dan pemelihara bagimu terhadap (siksa) Allah. (QS. Ar Ra’d [13]:37)

  1. 7.      Al-Hikmah (kebijaksanaan)

Itulah sebagian hikmah yang diwahyukan Tuhanmu kepadamu. Dan janganlah kamu mengadakan tuhan yang lain di samping Allah, yang menyebabkan kamu dilemparkan ke dalam neraka dalam keadaan tercela lagi dijauhkan (dari rahmat Allah). (QS. Al Israa’ [17]:39)

  1. Al-Huda (petunjuk)

Dan sesungguhnya kami tatkala mendengar petunjuk (Al-Qur’an), kami beriman kepadanya. Barangsiapa beriman kepada Tuhannya, maka ia tidak takut akan pengurangan pahala dan tidak (takut pula) akan penambahan dosa dan kesalahan. (QS. Al Jin [72]:13)

  1. 9.      At-Tanzil (yang diturunkan)

Dan sesungguhnya Al Quran ini benar-benar diturunkan oleh Tuhan semesta alam, QS. Asy Syu’araa’ [26]:192)

  1. 10.  Ar-Rahmat (karunia)

Dan sesungguhnya Al Qur’an itu benar-benar menjadi petunjuk dan rahmat bagi orang-orang yang beriman. (QS. An Naml [27]:77)

  1. 11.  Ar-Ruh (ruh)

Dan demikianlah Kami wahyukan kepadamu ruh (Al-Qur’an) dengan perintah Kami. Sebelumnya kamu tidaklah mengetahui apakah Al Kitab (Al-Qur’an) dan tidak pula mengetahui apakah iman itu, tetapi Kami menjadikan Al-Qur’an itu cahaya, yang Kami tunjuki dengan dia siapa yang kami kehendaki di antara hamba-hamba Kami. Dan sesungguhnya kamu benar-benar memberi petunjuk kepada jalan yang lurus. (QS. Asy Syuura [42]:52)

  1. 12.  Al-Bayan (penerang)

(Al-Qur’an) ini adalah penerangan bagi seluruh manusia, dan petunjuk serta pelajaran bagi orang-orang yang bertakwa. (QS. Ali Imran [3]:138)

  1. 13.  Al-Kalam (ucapan/firman)

Dan jika seorang di antara orang-orang musyrikin itu meminta perlindungan kepadamu, maka lindungilah ia supaya ia sempat mendengar firman Allah, kemudian antarkanlah ia ketempat yang aman baginya. Demikian itu disebabkan mereka kaum yang tidak mengetahui. (QS. At Taubah [9]:6)

  1. 14.  Al-Busyra (kabar gembira)

Katakanlah: “Ruhul Qudus (Jibril) menurunkan Al-Qur’an itu dari Tuhanmu dengan benar, untuk meneguhkan (hati) orang-orang yang telah beriman, dan menjadi petunjuk serta kabar gembira bagi orang-orang yang berserah diri (kepada Allah)”. (QS. An Nahl [16]:102)

  1. 15.  An-Nur (cahaya)

Hai manusia, sesungguhnya telah datang kepadamu bukti kebenaran dari Tuhanmu. (Muhammad dengan mukjizatnya) dan telah Kami turunkan kepadamu cahaya yang terang benderang. (Al-Qur’an). (QS. An Nisaa’ [4]:174)

  1. 16.  Al-Basha’ir (pedoman)

Al-Qur’an ini adalah pedoman bagi manusia, petunjuk dan rahmat bagi kaum yang meyakini. (QS. Al Jaatsiyah [45]:20)

  1. 17.  Al-Balagh (penyampaian/kabar)

(Al-Qur’an) ini adalah kabar yang sempurna bagi manusia, dan supaya mereka diberi peringatan dengan-Nya, dan supaya mereka mengetahui bahwasanya Dia adalah Tuhan Yang Maha Esa dan agar orang-orang yang berakal mengambil pelajaran. (QS. Ibrahim [14]:52)

  1. 18.  Al-Qaul (perkataan/ucapan)

Dan sesungguhnya telah Kami turunkan berturut-turut perkataan ini (Al-Qur’an) kepada mereka agar mereka mendapat pelajaran. (QS. Al Qashash [28]:51)

  1. Turunnya Ai-Qur’an
    1. Al-Qur’anditurunkan secara berangsur amgsur.

Sesuai dengan devinisi yang telah disebutkan bahwa Alqur’an adalah kalam Allah yang diturunkan secara berangsur-angsur sesuai dengan situasi dan kondisi selama 23 tahun. Dalam artian sebagian ayat turun ketika ada pertanyaan dari sahabat kemudian Al-Qur’an diturunkan untuk menjawabnya. Selain itu ayat Al-Qur’an turun ketika ada suatu permasalahan yang terjadi sehingga Al-Qur’an diturunkan sebagai petunjuk dan lain sebagainya. Ketika Al-Qur’an itu diturunkan dengan sebab tertentu, maka disebutlah dengan Asbabun nuzul. Dari sini banyak sekali hikmah yang terkandung diantaranya adalah untuk mempermudah sahabat dalam menghafalkan dan mengamalkannya.

  1. Surat pertama kali yang turun

para ahli sejarah banyak berbeda pendapat tentang kapan waktu pertama kali diturunkannya Al-Qur’an, pada bulan apa dan tanggal berapa, paling tidak ada tiga pendapat :

Pertama: Pendapat yang mengatakan bahwa Nuzulul Qur’an itu ada pada bulan Rabiul Awwal,

Kedua: Pendapat yang mengatakan bahwa Nuzulul Qur’an itu pada bulan Rajab,

Ketiga: Pendapat yang mengatakan bahwa Nuzulul Qur’an itu pada bulan Ramadhan.

Yang berpendapat pada bulan Rabiul Awwal pecah menjadi tiga, ada yang mengatakan awal Rabiul Awwal, ada yang mengatakan tanggal 8 Rabiul Awwal dan ada pula yang mengatakan tanggal 18 Rabiul Awwal (yang terakhir ini diriwayatkan dari Ibnu Umar Radhiallaahu Anhu).

Kemudian yang berpendapat pada bulan Rajab terpecah menjadi dua. Ada yang mengatakan tanggal 17 dan ada yang mengatakan tanggal 27 Rajab (hal ini diriwayatkan dari Abu Hurairah RA.[3]  Al-Hafidz Ibnu Hajar Al-Asqalani di dalam Fathul Bari berkata bahwa: Imam Al-Baihaqi telah mengisahkan bahwa masa wahyu mimpi adalah 6 (enam) bulan. Maka berdasarkan kisah ini permulaan kenabian dimulai dengan mimpi shalihah (yang benar) yang terjadi pada bulan kelahirannya yaitu bulan Rabiul Awwal ketika usia beliau genap 40 tahun. Kemudian permulaan wahyu yaqzhah (dalam keadaan terjaga) dimulai pada bulan Ramadhan.

Sesungguhnya kita menguatkan pendapat yang mengatakan bahwa Nuzulul Qur’an ada pada bulan Ramadhan karena Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman, artinya, “Bulan Ramadhan, bulan yang di dalamnya diturunkan (permulaan) Al-Qur’an” (Al-Baqarah: 185). Dan Allah berfirman, artinya, “Sesungguhnya Kami telah menurunkannya (Al-Qur’an) pada malam kemuliaan” (Al-Qadr :1). Seperti yang telah kita maklumi bahwa Lailatul Qadr itu ada pada bulan Ramadhan yaitu malam yang dimaksudkan dalam firman Allah yang artinya: “Sesungguhnya Kami menurunkannya pada suatu malam yang diberkahi dan sesungguhnya Kami-lah yang memberi peringatan” (Ad-Dukhaan: 3). Dan karena menyepinya Rasulullah Shallallahu alaihi wasallam di gua Hira’ adalah pada bulan Ramadhan, dan kejadian turunnya Jibril as adalah di dalam gua Hira’. Jadi Nuzulul Qur’an ada pada bulan Ramadhan, pada hari Senin, sebab semua ahli sejarah atau sebagian besar mereka sepakat bahwa diutusnya beliau menjadi Nabi adalah pada hari Senin. Hal ini sangat kuat karena Rasulullah Shallallahu alaihi wasallam ketika ditanya tentang puasa Senin beliau menjawab: “Di dalamya aku dilahirkan dan di dalamnya diturunkan (wahyu) atasku” (HR. Muslim). Dalam sebuah lafadz dikatakan “Itu adalah hari dimana aku dilahirkan dan hari dimana aku diutus atau diturunkan (wahyu) atasku”(HR. Muslim, Ahmad, Baihaqi dan Al-Hakim). Akan tetapi pendapat ketiga inipun pecah menjadi lima, ada yang mengatakan tanggal 7 (hari Senin), ada yang mengatakan tanggal 14 (hari Senin), ada yang mengatakan tanggal 17 (hari Kamis), ada yang mengatakan tanggal 21 (hari Senin) dan ada yang mengatakan tanggal 24 (hari Kamis). Pendapat “17 Ramadhan” diriwayatkan dari sahabat Al-Bara’ bin Azib dan dipilih oleh Ibnu Ishaq, kemudian oleh Ustadz Muhammad Huzhari Bik. Pendapat “21 Ramadhan” dipilih oleh Syekh Al-Mubarakfuriy, karena Lailatul Qadr ada pada malam ganjil, sedangkan hari Senin pada tahun itu adalah tanggal 7, 14, 21 dan 28. Sedangkan pendapat “24 Ramadhan” diriwayatkan dari Aisyah, Jabir dan Watsilah bin Asqo’ , dan dipilih oleh Ibnu Hajar Al-Haitamiy, ia mengatakan: “Ini sangat kuat dari segi riwayat”.

Namun ada pendapat yang mengemukakan bahwa lailatul qodar itu adalah malam turunnya alqur’an secara keseluruhan dengan memandangi bahwa Al-Quran turun dua periode dan keduanya sama-sama terkait dengan bulan Ramadhan.

Periode pertama, Al-Quran turun dari sisi Allah ke langit dunia. Ini yang kemudian dikenal dengan Lailatul Qadar. Turun secara keseluruhan dalam satu waktu. Kejadiannya bukan di masa Nabi melainkan di masa lalu, yang menurut sebagian riwayat pada sebelum terjadi penciptaan manusia.

Periode kedua, Al-Quran turun dari langit dunia ke muka bumi (kepada Rasulullah saw), secara berangsur-angsur selama 23 tahun, dimulai dengan 5 ayat pertama surat Al-’Alaq. Kejadiannya pada tahun 632 Masehi bertepatan dengan malam 17 Ramadhan, menurut kebanyakan analisa sejarah dan pendapat para ulama. Oleh karenanya bukanlah hal yang sangat penting tetapi juga bukan hal yang sepele, karena Al-Qur’anditurunkan bukan untuk diperingai tetapi untuk memperingatkan kepada kita yang selama ini masih lupa.

BAB III

Penutup

Alhamdulillahirobbil alamin, wallahu a’lamu bi sowab


[1] al-Qur’an adalah ukuran untuk menentukan benar tidaknya ayat-ayat yang diturunkan dalam kitab-kitab yang sebelumnya. (al-Qur’an dan terjemahannya, DEPAG RI)

[2] kitab At Tasrihul Yasir Fi Al Ilmi Al Tafsir hal 6 – 7

[3] lihat Mukhtashar Siratir Rasul, Syaikh Abdullah bin Muhammad bin Abdul Wahhab An-Najdy, hal. 75

MASA KHOLIFAH UTSMAN BIN AFFAN DAN ALI BIN ABI THOLIB

MAKALAH

KEBUDAYAAN ISLAM PADA MASA KHOLIFAH UTSMAN BIN AFFAN DAN ALI BIN ABI THOLIB

Diajukan Untuk Memenuhi Tugas Makalah Pada Mata Kuliah Sejarah Peradaban Islam Yang Diampu Oleh Dosen Muhammad Yunus Bakhtiar Rifai, S.Ag

Disusun Oleh:

Nama

NIM

: Khoirul Anwar

: 11000100          

Nama

NIM

: Sukron Ala Niam

: 110001016

Nama

NIM

: Moh Abdul Azis Sahlan

: 110001017

   
   

STAI KHOZINATUL ‘ULUM BLORA

TAHUN AKADEMIK 2011/2012

BAB I

PENDAHULUAN

  1. 1.          Latar belakang

Banyak apa yang kita ketahui adalah apa yang kita dengar dan dan kita lihat. Dari banyaknya kita mendengar, maka banyak pula kita akan mengetahui isi dunia. Kita mengetahui suatu hal pastinya ada seseorang yang memberitahu baik dengan cara apapun, bercerita, membaca karya seseorang, melihat dan lain sebagainya. Akan menjadi sebuah pelajaran yang sangat berharga dan bahkan tak ternilai harganya apabila kita mempelajari sebuah sejarah. Karena dari sejarah itu kita akan mendapatkan berbagai informasi yang bisa memotifasi kita dalam berjuan dalam kehidupan.

Ir. Soekarno juga mengingatkan kepada kita dengan wejangan “ JAS MERAH” Jangan Sekali-kali Melupakan Sejarah. Dari sejarah pula kita mengetahi akibat-akibat yang timbul dari suatu perbuatan baik perbuatan itu buruk atau baik. Terutama kita sebagai mahluk yang hidup setelah para mahluk yang terdahulu, tentunya sangat memerlukan pengetahuan tentang mereka yang telah sukses dalam kehidupannya. Mereka adalah cermin bagi kita untuk panutan uamat selanjutnya.

Kholafaur Rosidin adalah para sahabat nabi yang setia mendampingi perjuangan Nabi, mereka menggantikan perjuangan dengan tetap memegang ajaran Nabi Muhammad SAW. Terkhususkan pada makalah ini Kholifah Utsman bin Affan dan Ali bin Abi Thalib, Pada masa itu mereka mengembangkan peradaban sebagai bentuk kemajuan agama islam yang telah dikembangkan kholifah sebelumnya yaitu Abu Bakar dan Umar bin Khattab. Maka kita sebagai umat yang hidup setelah mereka akan mendapatkan jalan lurus apabila mengikuti perjalannya.

  1. 2.          Rumusan masalah

Dari latar belakang yang kami paparkan sedemikian rupa, ada beberapa cakupan masalah yang timbul yang dapat kami rumuskan, yaitu:

  • Siapakah Utsman Bin Affan Dan Ali bin Abi Thalib?
  • Bagaimana Proses pemilihan mereka sebagai Kholifah?
  • Apa yang beliau sampaikan setelah dibaiat?
  • Bagaimana kebijakan mereka dalam hal politik, ekonomi dan sebagainya?
  • Bagaimana gaya kepemimpinanya?
  • Peristiwa apa yang terjadi pada kekholifahannya, peperangan, pemberontakan, dan peristiwa oenting lainnya?
  • Kapan dan mengapa kekholifahan mereka berakhir terkait pembunuhan Utsman Dan Ali?
  1. 3.          Tujuan

Makalh sederhana ini megurai berbabagi hal yang meliputi:

  • Masa pemerintahan Kholifah Utsman dan Ali
  • Proses pemilihan Kholifah Utsman dan Ali
  • Isi pidato mereka setelah dibaiat dan analisis isi pidatonya
  • Beberbagai kebijakan dari berbagai segi baik politik, ekonomi, pendidikan, kebudayaan dan lainnya
  • Gaya kepemipinan mereka
  • Peristiwa-peristiwa yang terjadi pada masa kekholifahan mereka
  • Berakhirnya kekholifahan terkain pembunuhan terhadap Utsman dan Ali

 

BAB II

PEMBAHASAN

 

  1. A.         Kholifah Ustman Bin Affan

Setelah Umar wafat karena ditikam oleh Abu Lu’luah, maka estafet kepemimpinannya akhirnya dilanjutkan oleh Ustman bin affan. Namun kali ini system pengangkatan utsman berbeda dengan pada masa Umar atau bakar. Utsman bin affan tidak diangkat melalui system penujukan atau wasiat , melainkan oleh dewan formatur yang terdiri dari lima dari enam orang yang ditunjuk oleh Umar sebelum beliau meninggal dunia.

Penunjukan tersebut tidak berdasarkan perwakilan golongan, tetapi atas dasar pertimbangan kualitas pribadi masing masing, yakni karena mereka menurut nabi adalah calon calon penghuni surga. Hingga akhirnya Utsmanlah yang dipilih menggantikan Umar bin Khottob sebagai kholifah yang ketiga.[1]

Utsman bin affan dikenal sebagai seorang pemimpin yang familier dan mhumanis. Namun gaya kepimimpinan yang familier berdampak kurang baik, yaitu munculnya nepotisme dalam pemerintahan Ustman, sebab Utsman kemudian banyak mengangkat pejabat-pejabat Negara dari kerabatnya sendiri dan kurang mengkomodir pejabat di luar kerabat beliau. Inilah yang kemudian menyebabkan munculnya kerusuhan dan pergolakan pemerintahannya.[2]

Pada kekholifahan Utsman banyak sebagian umat menganggap pejabat yang diangkat oleh utsman bertindak tidak adil dan dholim, sehingga mereka meminta kepada Utsman agar mengganti pejabatnya tersebut. Mereka adalah penduduk mesir, kufah dan basrah yang sepakat pergi ke madinah untuk meminta secara langsung pencabutan pejabat yang diangkatnya atau mengundurkan diri dari kekholifahan, tetapi Utsman menilaknya. Atas penolakan tersbeut mereka berdemo dan megepug rumah beliau. Sebagian dari mereka menyusup kedalam rumah dan membunuh Utsman yang sedang membaca Al-Qur’an bertepatan beliau sedag berpuasa.[3]

  1. 1.    Proses Pemilihan Kholifah Utsman

Setelah ditikam oleh abu Lu’luah dan merasa dirinya akan meninggal dunia, maka Umar bin Khottob memilih tujuh orang yang terdiri dari enam orang yaitu Ali bin abi thalib, utsman bin affan, Sa’at bin abi Waqosh, Abdurrahman bin Auf, Zubair bin Awwan dan tholhah bin Ubaidillah. Keenam orang tersebut memiliki kewajiban memilih dan berhak untuk dipilih, dan satu orang yang hanya berhak memilih yaitu putra beliau sendiri Abdullah bin Umar.

Setelah Umar wafat, maka mereka segera berunding untuk membahas siapa yang akan meneruskan tongkat estafet kepemimpinan (kekholifahan). Ketika itu ada pemikiran dari abdurrahmanbin auf agar mereka dengan suka rela mengundurkan diri dan memberikan kesempatan kepada orang yang benar-benar paling memenuhi persyaratan untuk dipilih sebagai kholifah. Tetapi rupanya usul tersebut tidak berhasil, dan ternyata tidak ada satupun yang mau mengundurkan diri. Kemudian Abdurrahman bin Auf mengundurkan diri, tetapi yang lain enggan mengundurkan diri.

Ketika itu sempat terjadi oksi dukung mendukung antara kelompok Ali da kelompok Utsman. Namun akhirnya, Utsman bin Affan terpilih menjadi kholifah mengantikan Umar bin Khottob. Dalam pengankatan Utsman tampak bahwa musyawaroh itu dilaksanakan oleh tokoh-tokoh senior (tim formatur) tetapi terkesan tidak ada peluang untuk berbeda pendapat, sebagaimana yang pernah diwariskan oleh Umar bin Khattab, karena khawatir terjadi keributan.[4]

Setelah disepakati bersama, mereka membai’at Utsman dan diikuti oleh umat islam. Pada saat pembaiatan telah selesai, Utsman berpidato di depan kaum muslimin diantara pidatonya adalah:

“ Alhamdulillah, wahai para manusia bertaqwalah kalian kepada allah!, sesungguhnya dunia yang telah diberitahukan kepada kita oleh Allah bahwa ia hanyalah permainan, hiburan,penghias, keangkuhan diantara kalian dan memperbanyak harta dan anak. Seperti hujan lebat yang membuat orang kafir terlena kepada tumbuhan yang tumbuh dan dikemudian hari berubah menguning dan hancur (membusuk), di akhirat nanti ada tiga hal, siksa Allah yang sangat pedih, pengampunan dan ridhoNya. Tiada kehidupan dunia kecuali hanyalah kenikmatan yang menipu, hamba yang paling baik adalah orang yang menyerah dan menyandarkan diri pada Allah dan kitabNya waktu di dunia”[5]

  1. 2.    Gaya kepemimpinan

Utsman bin affan dikenal sebagai seorang pemimpin yang familier dan mhumanis. Namun gaya kepimimpinan yang familier berdampak kurang baik, yaitu munculnya nepotisme dalam pemerintahan Ustman, sebab Utsman kemudian banyak mengangkat pejabat-pejabat Negara dari kerabatnya sendiri dan kurang mengkomodir pejabat di luar kerabat beliau. Inilah yang kemudian menyebabkan munculnya kerusuhan dan pergolakan pemerintahannya. Namun demikian, semasa kepemimpinannya Kholifah Utsman berhasil mengkodifikasikan mushaf Al-Qur’an yang merupakan salah satu keberhasilan yang luar bisaa.[6]

  1. 3.    Ekspansi Daerah Kekuasaan

Utsman bin Affan Menjabat sebagai khalifah semenjak 23-35 H atau 644-656 Masehi. Ia merupakan khalifah yang memerintah terlama, yaitu 12 tahun. Dari segi politik, pada masa pemerintahannya ia banyak melakukan perluasan daerah islam dan merupakan khalifah yang paling banyak melakukan perluasan. Hal ini sebanding dengan lamanya ia menjabat sebagai khalifah. Pada masanya, Islam telah berkembang pada seluruh daerah Persia, Tebristan, Azerbizan dan Armenia. Pesatnya perkembangan wilayah Islam didasarkan karena tingginya semangat dakwah menyebarkan agama Islam. Selain itu, sikap para pendakwah Islam yang santun dan adil membuat Islam mudah untuk diterima para penduduk wilayah-wilayah tersebut.

Selain banyak melakukan perluasan daerah, dari segi politik, Utsman adalah khalifah pertama yang membangun angkatan laut. Alasan pembuatan angkatan laut tersebut masih berhubungan dengan keinginan untuk memperluas daerah Islam. Karena untuk mencapai daerah-daerah yang akan ditaklukkan harus melalui perairan, Utsman berinisiatif untuk membentuk angkatan laut. Selain itu, pada saat itu banyak terjadi serangan-serangan dari laut.[7] Hal ini semakin memperkuat alasan Utsman untuk membentuk angkatan laut dan Utsman memberkan kepercayaan tersebut kepada Muawiyah bin Abi Sofyan.[8]

  1. 4.    Perekonomian

Dari segi ekonomi, yaitu tentang pelaksanaan baitul maal, Ustman hanya melanjutkan pelaksanaan yang telah dilakukan pada masa sebelumnya, yaitu Abu Bakar dan Umar. Namun, pada masa Utsman, Ia dianggap telah melakukan korupsi karena terlalu banyak mengambil uang dari baitul maal untuk diberikan kepada kerabat-kerabatnya. Padahal, tujuan dari pemberian uang tersebut karena Utsman ingin menjaga tali silaturahim. Selain itu, disamping dari segi baitul maal, Utsman juga meningkatkan pertanian.Ia memerintahkan untuk menggunakan lahan-lahan yang tak terpakai sebagai lahan pertanian.

Dari segi pajak, Utsman, sama seperti dari segi baitul maal, melanjutkan perpajakan yang telah ada pada masa Umar. Namun sayangnya, pada masa Utsman pemberlakuan pajak tidak berjalan baik sebagaimana ketika masa Umar. Pada masa Utsman, demi memperlancar ekonomi dalam hal perdagangan, ia banyak melakukan perbaikan fasilitas, seperti perbaikan jalan-jalan dan sebagainya.

  1. 5.    Sosial budaya dan pendidikan

Dari dimensi sosial budaya, ilmu pengetahuan berkembang dengan baik. Pertumbuhan dan perkembangan ilmu pengetahuan erat kaitannya dengan perluasan wilayah Islam[9]. Dengan adanya perluasan wilayah, maka banyak para sahabat yang mendatangi wilayah tersebut dengan tujuan mengajarkan agama Islam.Selain itu, adanya pertukaran pemikiran antara penduduk asli dengan para sahabat juga menjadikan ilmu pengetahuan berkembang dengan baik.Dari segi sosial budaya, Utsman juga membangun mahkamah peradilan.Hal ini merupakan sebuah terobosan, karena sebelumnya peradilan dilakukan di mesjid.Utsman juga melakukan penyeragaman bacaan Al Qur’an juga perluasan Mesjid Haram dan Mesjid Nabawi.

Penyeragaman bacaan dilakukan karena pada masa Rasulullah Saw, Beliau memberikan kelonggaran kepada kabilah-kabilah Arab untuk membaca dan menghafalkan Al Qur’an menurut lahjah (dialek)  masing-masing. Seiring bertambahnya wilayah Islam, dan banyaknya bangsa-bangsa yang memeluk agama Islam, pembacaan pun menjadi semakin bervariasi[10].Akhirnya sahabat Huzaifah bin  Yaman mengusulkan kepada Utsman untuk menyeragamkan bacaan. Utsman pun lalu membentuk panitia yang diketuai oleh Zaid bin Tsabit untuk menyalin mushaf yang disimpan oleh Hafsah dan menyeragamkan bacaan Qur’an. Perluasan Mesjid Haram dan Mesjid Nabawi sendiri dilakukan karena semakin bertambah banyaknya umat muslim yang melaksanakan haji setiap tahunnya.

  1. 6.    Akhir Kekholifahan

Para pencatat sejarah membagi masa pemerintahan Utsman menjadi dua periode, enam tahun pertama merupakan masa pemerintahan yang baik dan enam tahun terakhir adalah merupakan masa pemerintahan yang buruk. Pada akhir pemerintahan Utsman, terjadi banyak konflik, seperti tuduhan nepotisme dan tuduhan pemborosan uang Negara.Tuduhan pemborosan uang Negara karena Utsman dianggap terlalu boros mengambil uang baitul maal untuk diberikan kepada kerabatnya, dan tuduhan nepotisme karena Utsman dianggap mengangkat pejabat-pejabat yang merupakan kerabatnya.Padahal tuduhan ini terbukti tidak benar karena tidak semuanya pejabat yang diangkat merupakan kerabatnya. Selain itu, meski kerabatnya sendiri, jika pejabat tersebut melakukan kesalahan, maka Utsman tidak segan-segan untuk menghukum dan memecatnya.

Sayangnya, tuduhan nepotisme itu terlalu kuat. Sehingga banyak yang beranggapan bahwa Utsman melakukan nepotisme. Hal ini diperkuat dengan adanya golongan Syiah, yaitu golongan yang sangat fanatik terhadap Ali dan berharap Ali yang menjadi khalifah, bukan Utsman. Fitnah yang terus melanda Utsman inilah yang memicu kekacauan dan akhirnya menyebabkan Utsman terbunuh di rumahnya setelah dimasuki oleh sekelompok orang yang berdemonstrasi di depan rumahnya. Setelah meninggalnya Utsman, Ali lalu ditunjuk menjadi penggantinya untuk mencegah kekacauan yang lebih lanjut.[11]

  1. 7.    Terbunuhnya Kholifah Utsman

Utsman bin Affan terbunuh di rumahnya sendiri pada saat penduduk mesir dan kuffah beranggapan bahwa Utsman telah melakukan nepotisme dan didukungnya golongan yang fanatik terhadap Ali bin Abi Thalib dan berharap Ali yang menjadi kholifah. Anggapan tersebut muncul dari seorang berdarah yahudi yang bernama Abdullah bin Saba’, hingga akhirnya mereka pergi ke Madinah untuk meminta Utsaman memecat pejabat yang dianggap menyeleweng atau mengundurkan diri dari kekholifahan, tetapi permitaan itu ditolak oleh Utsman.

Penolakan tersebut mengakibatkan konflik yang sangat besar. Mereka mengepung rumah Utsman dan menyusup kedalam. Utsman yang saat itu sedang membaca Al-Qur’an dan berpuasa dibunuh oleh Hamron bin Sudan As Syaqy yang kemudian membuka pintu perpecahan antara kaum muslimin.[12]

 

  1. B.          Kholifah Ali Bin Abi Thalib

Setelah Utsman bin Affan wafat maka kepemimpinan dipegang oleh Ali bin Abi Tholib. Ali bin abi thalib diangkat menjadi kholifah pada bulan juni tahun 565 M melalui pemilihan dan pertemuan terbuka.[13] Pengukuhan Ali menjadi khalifah tidak semulus pengukuhan tiga orang khalifah sebelumnya. Ali dibai’at di tengah-tengah suasana berkabung atas meninggalnya Utsman bin Affan, pertentangan dan kekacauan , serta kebingungan umat Islam Madinah. Sebab, kaum pemberontak yang membunuh Utsman mendaulat Ali agar bersedia dibai’at menjadi khalifah. [14]

Sejarah mencatat bahwa pengolahan urusan pemerintahan ali juga selalu mengutamakan tradisi musyawarah sebagaimana pendahulunya, meskipun sudh kurang efektif, sebab telah terjadi friksi-friksi yang tajam dikalangan umat islam, yaitu antara kelompok Umayyah (pendukung Muawiyah) dan hasyimiyah (pendukung Ali)[15]

Tidak mengherankan jika kemudian diakhir kepemimpinan ali, sempat terjadi konflik-konflik, seperti perang jamal (onta) antara Ali dan Aisyah, perang shiffin antara Ali dan Muawiyah yang membelot sampai terjadinya tahkim(masing-masing pihak memilih seorang hakim) pada tahun 34 H.[16]

  1. 1.    Proses pemilihan Kholifah Ali bin Abi Tholib

Setelah Utsman terbunuh, kaum pemberontak mendatangi para sahabat senior satu per satu yang ada di kota Madinah, seperti Ali bin Abi Thalib, Thalhah, Zubair, Saad bin Abi Waqqash, dan Abdullah bin Umar bin Khaththab agar bersedia menjadi khalifah, namun mereka menolak. Akan tetapi, baik kaum pemberontak maupun kaum Anshar dan Muhajirin lebih menginginkan Ali menjadi khalifah. Ali didatangi beberapa kali oleh kelompok-kelompok tersebut agar bersedia dibai’at menjadi khalifah. Namun, Ali menolak. Sebab, Ali menghendaki agar urusan itu diselesaikan melalui musyawarah dan mendapat persetujuan dari sahabat-sahabat senior terkemuka. Akan tetapi, setelah massa mengemukakan bahwa umat Islam perlu segera mempunyai pemimpin agar tidak terjadi kekacauan yang lebih besar, akhirnya Ali bersedia dibai’at menjadi khalifah. [17]

Ali dibai’at oleh mayoritas rakyat dari Muhajirin dan Anshar serta para tokoh sahabat, seperti Thalhah dan Zubair, tetapi ada beberapa orang sahabat senior, seperti Abdullah bin Umar bin Khaththab, Muhammad bin Maslamah, Saad bin Abi Waqqash, Hasan bin Tsabit, dan Abdullah bin Salam yang waktu itu berada di Madinah tidak mau ikut membai’at Ali. Abdullah dan Saad misalnya bersedia membai’at kalau seluruh rakyat sudah membai’at. Mengenai Thalhah dan Zubair, mereka membai’at secara terpaksa. Mereka bersedia membai’at jika nanti mereka diangkat menjadi gubernur di Kufah dan Bashrah.

Pada hari Jum’at di Masjid Nabawi, mereka melakukan pembai’atan.Setelah pelantikan selesai, Ali menyampaikan pidato visi politiknya dalam suasana yang kurang tenang di Masjid Nabawi. Setelah memuji dan mengagungkan Allah, selanjutnya Ali berkata:“Sesungguhnya Allah telah menurunkan Kitab sebagai petunjuk yang menjelaskan kebaikan dan keburukan. Maka ambillah yang baik dan tinggalkan yang buruk. Allah telah menetapkan segala kewajiban, kerjakanlah! Maka Allah menuntunmu ke surga. Sesungguhnya Allah telah mengharamkan hal-hal yang haram dengan jelas, memuliakan kehormatan orang muslim dari pada yang lainnya, menekankan keikhlasan dan tauhid sebagai hak muslim. Seorang muslim adalah yang dapat menjaga keselamatan muslim lainnya dari ucapan dan tangannya. Tidak halal darah seorang muslim kecuali dengan alasan yang dibenarkan. Bersegeralah membenahi kepentingan umum, bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya kamu dimintai pertanggungjawaban tentang apa saja, dari sejengkal tanah hingga binatang ternak. Taatlah kepada Allah jangan mendurhakai-Nya. Bila melihat kebaikan ambillah, dan bila melihat keburukan tinggalkanlah.”

“Wahai manusia, kamu telah membai’at saya sebagaimana yang kamu telah lakukan terhadap khalifah-khalifah yang dulu daripada saya. Saya hanya boleh menolak sebelum jatuh pilihan. Akan tetapi, jika pilihan telah jatuh, penolakan tidak boleh lagi. Imam harus kuat, teguh, dan rakyat harus tunduk dan patuh. Bai’at terhadap diri saya ini adalah bai’at yang merata dan umum. Barang siapa yang mungkir darinya, terpisahlah dia dari  agama Islam.”[18]

 

  1. 2.    Gaya Kepemimpinan

Syayyidina Ali dikenal sebagai kholifah yang pemberani (brave), cerdas (smart) pandai bermain pedang dan pandai menulis. Beliau juga seorang orator ulang. Beliau adalah orang yang pertama kali masuk islam dan golongan anak muda.

Gaya kepemimpinan ali boleh dibilang sangat tegas dan berani mengambil langkah-langkahyang cukupberesiko. Gaya kepemimpinannya juga memang mencerminkan pribadi yang berakhlak dan berbudi pekerti. Beliau adalah tipe orang yang suka berterus terang,tegas bertindak dan tidak suka “berminyak air”. Ia tidak takut kepada celaan siapapun dalam menjalankan kebenaran, meskipun hal itu cukup beresiko bagi dirinya.

Setelah diangkat sebagai kholifah, Ali bin Abi Thalib mengambil langkah tegas diantaranya mencatat kepala-kepala daerah yang diangkat oleh Utsman dan dikirimkanlah kepala baru untuk menggantikannya, termasuk Muawiyah yang digantikan oleh Sabi’ bin Junaif sebagai gubernur Syam. Demikian juga hibah atau pemberian Utsman kepada siapapun yang tidak beralasan diambil kembali oleh Ali untuk dikemblikan kepada Negara.[19]

Tidak mengherankan jika kemudian diakhir kepemimpinanya, sempat terjadi konflik-konflik, seperti terjadinya perang saudara antra friksi Ali dan Muawiyah, ataupun dengan Aisyah istri Rosulullah SAW. Hingga pada akhirnya Ali terbunuh pada saat mengimami sholat subuh di masjid Kuffah pada tanggal 20 Ramadlan tahun 41 H (661 M).[20]

  1. 3.    Perkembangan kebudayaan dan pendidikan
    1. Ilmu Nahwu Dan Shorof

Ali yang dikenal sebagai orang jenis (gerbang ilmu/  Bab al-ilm) menempati posisi yang unik sebagai intelektalitas terbesar di antara para sahabat Nabi.  Selain itu, ia juga dikenal sebagai Bapak Ilmu pengetahuan, karena itulah pada masa pemerintahannya mulai muncul dan berkembang beberapa ilmu pengetahuan, di antaranya adalah sebagia berikut:

Ilmu nahwu dan ilmu lughah lahir  dan berkembang di Basrah dan Kufah. Hal ini disebabkan karena kedua kota tersebut banyak bermukim berbagai kabilah Arab yang berbicara dengan bermacam-macam dialeg bahasa, bahkan di sana juga banyak bermukim orang-orang Ajam yang berbahasa Persia. Khalifah Ali bin Abi Thalib adalah Pembina dan penyusun pertama bagi dasar-dasar ilmu tata bahasa Arab tersebut yang kemudian dilanjutkan oleh Abu Aswad ad-Duali.  Dengan adanya ilmu itu, khalifah Ali berjasa dalam memperbaharui gramatika tulisan Arab, dengan membuat rumus-rumus tanda baca, seperti titik dan harakat untuk memudahkan kaum muslimin membaca al-Qur’an atau berkomunikasi melalui tulisan.[21]

  1. Ilmu Hadits

Dalam bidang ilmu hadis, khalifah Ali bin Abi Thalib berusaha untuk memelihara hadis, dengan cara berhati-hati  dalam meriwayatkan suatu hadis. Hal ini terbukti dengan perkataannya: “Jika aku mendengar suatu dari Rasul, maka semoga Allah memberi manfaat kepadaku dengan apa yang Beliau  kehendaki  dari hadis itu. Jika orang lain meriwayatkan kepadaku, maka aku memintanya bersumpah, dan jika mau bersumpah, maka aku membiarkannya”. Masa pemerintahan khalifah Ali diwarnai dengan masa permulaan pemalsuan hadis, yang mayoritas dibuat oleh pendukungnya, Syiah yang bertujuan untuk melawan politik dari musuh-musuh mereka. Golongan Syi’ah ini membuat keuatamaan (fadha’il) dari sisi-sisi positif Ali dan menonjolkan sisi-sisi negatif Muawiyah dan para pendukung Bani Umayyah. Dari kejadian inilah, maka  ‘ulmu al-hadis dibuat dan dikembangkan oleh muhadditsin pada masa itu.[22]

  1. Ilmu Mistik

Ahli mistik terkenal, Junaid al-Baghdadi mengakui bahwa Ali memiliki otoritas paling tinggi dalam ilmu mistik. Ali menghabiskan banyak waktu untuk mistik.   Dari ilmu mistik inilah, maka akan melahirkan apa yang disebut sekarang dengan ilmu tasawuf.[23]

  1. Berkembangnya Pemikiran Rasional (Teologi)

Proses perkembangan pemikiran muslim tidak lepas dari adanya pergolakan politik pada masa kekhalifahan Ali, yang menimbulkan perang Shiffin dan memunculkan golongan Khawarij. Golongan Khawarij inilah yang pertama kali memprakarsai terhadap berkembangnya teologi/ilmu kalam, yaitu tentang kufr.

Selama pemerintahan  Ali bin Abi Thalib berlangsung, tidak ada masa sedikit pun dalam masa pemerintahannya itu yang dapat dikatakan stabil.  Ia menghadapi berbagai pergolakan dan konflik internal di kalangan umat Islam. Walaupun demikian, tidak berarti bahwa pada masanya tidak ada peradaban yang penting dan tidak dihasilkan. Ada beberapa peradaban yang dihasilkan ada masa Ali bin Abi Thalib, adalah sebagai berikut:

  1. 4.    Bidang Politik
    1. Mulai berkembangnya paham demokrasi.

Paham demokrasi ini merupakan paham yang dikembangkan dan dianut oleh kaum Khawarij.   Menurut mereka khalifah atau imam harus dipilih secara bebas oleh umat Islam.[24]

  1. Berdirinya partai-partai politik

Adanya partai-partai politik di kubu umat Islam disebabkan oleh:

  • Golongan Utsman dibawah pimpinan Muawiyah bin Abu Sufyan yang mengumandangkan semboyan menuntut darah Utsman. Dua sahabat terkenal (Zubair dan Thalhah) dan isteri Nabi Aisyah berpihak kepada golongan Utsman.
  • Golongan Ali, yang mana dalam  golongan tersebut terdapat dua golongan yang terkemuka, yaitu golongan Syi’ah dan Khawarij[25].

Partai-partai politik tersebut berdampak pada adanya gangguan dan goncangan terhadap sendi-sendi  dalam  Daulah Islamiyah yang masih berusia muda ini.

  1. 5.    Budaya

Dengan  berkembangnya sistem politik di masa khalifah  Ali, maka hal tersebut mewarnai pola dan corak kehidupan masyarakat pada waktu itu. Ali dikenal sebagai orang yan memiliki sikap egalitarian yang sangat tinggi dan memberikan contoh sebagai sosok seorang kepala negara yang berkedudukan sama dengan rakyat lainnya.

Ali ingin mengembalikan citra pemerintahan Islam  sebagaimana pada masa Abu Bakar dan Umar sebelumnya. Namun kondisi masyarakat yang kacau balau dan tidak terkendali lagi menjadikan usaha Ali tidak banyak berhasil.  Adapun usasha-usaha yang dapat dilakukannya adalah sebagai berikut:

  • Mendirikan beberapa  madrasah sebagai tempat memberikan pelajaran dalam bentuk khalaqah di masjid atau tempat pertemuan lainnya
  • Mengembangkan hukum Islam. Selain sebagai khalifah, Ali juga dikenal sebagah seorang mujtahid yang agung dan ahli hukum pada zamannya, dan terbesar di segala zaman. Ia mampu menetapkan aturan-aturan pokok untuk kepentingan umat Islam secara keseluruhan dan  menyelesaikan semua masalah rumit dan yang paling musykil sekalipun. Hal ini tergambar pada suatu riwayat yang mengisahkan  tentang dua wanita bertengkar memperebutkan seorang bayi laki-laki. Masing-masing menyatakan bayi itu  anaknya. Kemudian kedua perempuan itu dibawa menghadap Ali. Sesudah mendengarkan penjelasan dari masing-masingnya, ia memerintahkan agar bayi itu dipotong-potong. Mendengar hal ini, seorang dari wanita tadi langsung menangis sambil memohon agar khalifah menyelamatkan bayi. Kemudian khalifah langsung memberikan bayi itu, karena ia tahu bahwa itulah ibu yang sesungguhnya.  Selain itu, Ali bin Abi Thalib dikenal juga sebagai ahli fuqaha (ahli dalam bidang ilmu fiqih)[26]
  1. 6.    Bidang kesenian
    1. Seni Sastra

Ali bin Abi Thalib merupakan salah satu tokoh sastra yang hebat.  Ia menulis syair dan beberapa prosa (terutama dalam bentuk  surat atau nasehat). Selain itu ia juga dikenal sebagai ahli retorika di kalangan kaum muslimin, beliau mengayakan dunia dengan beratus-ratus pidatonya yang mempunyai nilai sastera yang tinggi.

  1. Seni Kaligrafi

Diketahui bahwa masa pemerintahan Ali merupakan kelanjutan dari pemerintahan Utsman, di mana pada masa khalifah Utsman tersebut teknik penulisan al-Qur’an  sangat berkembang sampai kepada masa khalifah Ali. Adapun kaligrafi yang berkembang pada saat itu adalah kufi. Khat  kufi  memiliki ciri-ciri yang spesifik, yakni berbentuk kaku, bersiku-siku atau bersudut-sudut dengan garis lengkung  pada huruf-huruf tertentu saja.

  1. 7.    Bidang Pemerintahan dan Ekspansi Militer

Dalam bidang pemerintahan ini, Ali berusaha mengembalikan kebijaksanaan khalifah Umar bin Khattab pada tiap kesempatan yang memungkinkan. Ia melakukan beberapa hal, yaitu:

  1. Membenahi dan menyusun arsip negara dengan tujuan untuk mengamankan dan menyelamatkan dokumen-dokumen khalifah.
  2. Membentuk kantor hajib (perbendaharaan)
  3. Mendirikan kantor shahib al-Shurta (pasukan pengawal)
  4. Mendirikan lembaga  qadhi al-Mudhalim  (Usman Said: 85), suatu unsur pengadilan yang kedudukannya lebih tinggi dari qadhi (memutuskan hukum) atau muhtasib  (mengawasi hukum). Lembaga ini bertugas untuk menyelesaikan perkara-perkara yang tidak dapat diputuskan oleh qadhi atau penyelesaian perkara banding.
  5. Mengorganisir polisi sekaligus menetapkan tugas-tugas mereka. Mengenai bidang kemiliteran, kaum muslimin pada masa khalifah Ali  telah berhasil meluaskan wilayah kekuasaan Islam.  Misalnya setelah pemberontakan di Kabul dan Sistan ditumpas, orang Arab mengadkan penyerangan laut atas Konkan (pantai Bombay). Negarawan yang juga ahli perang ini mendirikan pemukiman-pemukiman militer di  pebatasan Syiria. Sambil memperkuat daerah perbatasan negaranya, ia juga membangun benteng-benteng yang tangguh di Utara perbatasan Parsi.[27]
  6. 8.    Bidang Ekonomi
    1. Perdagangan

Sistem kebijaksanaan perdagangan yang diterapkan Ali tidak jauh berbeda dengan yang diterapkan oleh khalifah sebelumnya, Umar bin Khattab. Ia hanya melanjutkan beberapa kebijakan yang telah dibuat oleh Umar bin Khattab.

  1. Pertanian

Dalam sektor pertanian ini, khalifah Ali mengelola beberapa tanah atau lahan yan telah diambilnya dari Bani Umayyah dan para penduduk lainnya. Hal ini digunakan untuk menambah devisa negara.

  1. Mengelola dan melestarikan kembali Baitul Mal[28]

Baitul Mal merupakan suatu karya budaya Islam yang berupa perbendaharaan negara dan mempunyai tanggung jawab atas pengelolaan keuangan dan kas negara. Pada masa pemerintahan khalifah Ali, ia dengan teguh mengikuti prinsip-prinsip yang telah diterapkan oleh khalifah kedua Umar bin Khattab.  Harta dan kekayaan masyarakat dikembalikan kepada rakyat dengan adil dan merata.

  1. 9.    Peperangan Pada Masa Kholifah Ali Bin Abi Tholib
    1. Perang Jamal

Dinamakan demikian, karena dalam prang itu Aisyah sebagai pemimpin mengendarai unta. Dalam memimpin pasukan, ia dibantu oleh Zubair bin Awwam dan Thalhah bin Ubaidilah

Asal mula perang ini adalah munculnya rasa tidak puas di kalangan sahabat terhadap Ali yang menunda pengusutan terhadap pembunuh Utsman bin Affan. Dengan pengangkatannya sebagai khalifah, mereka berharap masalah  itu segera ditangani secara tuntas. Namun, Ali sendiri ingin menyelesaikannya setelah keadaan menjadi tenang. Pada suasana demikian menurutnya, penyelidikan dapat dilakukan dengan seksama. Prinsip tersebut tidak dapat diterima oleh mereka yang menghendaki  pengusutan sesegera mungkin dan mereka langsung membentuk pasukan untuk menentang Ali.

Adapun tujuan mereka tidak lain adalah untuk memaksa khalifah agar segera mengusut pembunuhan Utsman bin Affan yang merupakan syarat utama dari baiat yang mereka berikan. Ali tidak juga memperlihatkan sikap yang pasti untuk menegakkan hukum syariat Islam terhadap para pembunuh Utsman. Sehingga Aisyah bergabung dengan Thalhah dan Zubair menggerakkan kabilah-kabilah Arab untuk menuntut balas atas kematian Utsman. Setelah dirasa mempunyai kekuatan yang besar, Aisyah dan pasukannya memutuskan menyerang pasukan Ali di Kufah, yang sebetulnya pasukan Ali dipersiapkan untuk menghadapi tantangan Mu’awiyah bin Abi Sufyan di Syiria. Ali sebenarnya ingin menghindari peperangan. Beliau mengirim surat kepada Thalhah dan Zubair agar mereka mau berunding untuk menyelesaikan perkara itu secara damai. Namun, ajakan tersebut ditolak. Akhirnya pertempuran dahsyat antara keduanya pecah, yang selanjutnya dikenal dengan “Perang Jamal”.[29] Dalam perang tersebut yang terjadi  di Basrah, pasukan Aisyah (kurang lebih sebanyak 20.000 orang) terbunuh. Thalhah bin Ubaidilah terpanah dan meninggal dalam perjalanan mengundurkan diri. Zubain bin Awwam terbunuh pada akhir pertempuran.[30]

Pertempuran inilah yang terjadi pertama kali diantara kaum muslimin. Walaupun pasukan Aisyah mengalami kekalahan, Aisyah tetap dihormati oleh Ali dan pengikutnya sebagai Ummul Mu’minin. Bahkan setelah pertempuran usai, Khalifah Ali mendirikan perkemahan khusus untuk Aisyah. Dan keesokan harinya Aisyah dipersilahkan pulang kembali ke Madinah yang dikawal oleh saudaranya sendiri, Muhammad bin Abi Bakar. Demikianlah sejarah terjadinya perang jamal yang merupakan perang pertama antara sesama umat Islam dalam sejarah Islam.

  1. Perang Siffin

Dari Basrah, Ali kemudian membawa pasukannya ke Kufah[31]. Perhatiannya kini tertuju pada Muawiyah bin Abu Sufyan yang bermarkas di Damaskus. Tindakan pertama yang dilakukan oleh khalifah Ali adalah mengutus Jarir bin Abdullah untuk menyampaikan surat  kepadanya dan menawarkan perundingan. Akan tetapi, Muawiyah tetap pada pendiriannya dan terkesan untuk membuka perang saudara. Hal ini disebabkan karena ia merasa kecewa terhadap kebijakan Ali bin Abi Thalib tentang pemberhentiannya sebagai gubernur di Syam (yang jabatannya digantikan oleh Sabi bin Junaif). Selain itu, Muawiyah bin Abu Sufyan juga menuntut qisas para pembunuh Utsman bin Affan.[32] Bahkan mereka menuduh Ali turut campur dalam pembunuhan Utsman. Selain itu mereka tidak mengakui kekhalifahan Ali.Hal ini bisa dilihat dari situasi kota Damaskus pada saat itu. Mereka menggantung jubah Utsman yang berlumuran darah bersama potongan jari janda almarhum di mimbar masjid. Sehingga hal itu menjadi tontonan bagi rombongan yang berkunjung.

.Pada akhir Dzulhijjah 36 H/657 M, khalifah Ali dengan pasukan gabungan menuju keSyiria utara. Dalam perjalanannya mereka menyusuri arus sungai Euprate, namun arus sungai tersebut telah dikuasai oleh pihak Mu’awiyah dan pihak Mu’awiyah tidak mengizinkan pihak Ali memakai air sungai tersebut. Awalnya Ali mengirim utusan pada Mu’awiyah agar arus sungai bisa digunakan oleh kedua pihak, namun Mu’awiyah menolak. Akhirnya Ali mengirim tentaranya dibawah pimpinan panglima Asytar al-Nahki dan dia berhasil merebut arus sungai tersebut. Meskipun sungai tersebut dikuasai pihak Ali, mereka ini tetap mengizinkan tentara Mu’awiyah memenuhi kebutuhan airnya.

Setelah sengketa tersebut selesai maka pihak Ali mendirikan garis pertahanan di dataran Shiffin, dan Ali masih berharap dapat mencapai penyelesaian dengan cara damai. Ali mengirim utusan dibawah pimpinan panglima Basyir bin Amru untuk melangsungkan perundingan dengan pihak Mu’awiyah. Pada bulan Muharram 37 H/658 Mmereka mencapai persetujuan yakni menghentikan perundingan untuk sementara dan masing-masing pihak akan memberi jawaban pada akhir bulan Muharram. Sebenarnya hal ini sangat merugikan Ali karena akan mengurangi semangat tempur tentaranya dan pihak lawan bisa memperbesar kekuatannya. Maka bulan Saffar 37 H/685 M terjadilah perang siffin dengan kekuatan 95.000 orang dari pihak Ali dan 85.000 orangdari pihak Mu’awiyah. Pada saat perang, Imar bin Yasir (orang pertama yang masuk Islamd i kota Mekkah) tewas. Tewasnya tokoh yang sangat dikultuskan ini membangkitklan semangat tempur yang tak terkirakan pada pihak pasukan Ali, sehingga banyak korban pada pihak Mu’awiyah dan panglima Asytar al-Nahki berhasil menebas pemegang panji-panji perang pihak Mu’awiyah dan merebutnya. Bila panji perang jatuh pada pihak lawan maka akan melumpuhkan semangat tempur. Pada saat terdesak itulah pihak Mu’awiyah[33], Amru bin Ash memerintahkan mengangkat al-mushaf pada ujung tombak dan berseru marilah kita bertahkim kepada kitabullah. Namun pada saat itu Ali memerintahkan untuk tetap berperang karena beliau tahu itu hanya tipu muslihat musuh.Tapi sebagian besar tentaranya berhenti berperang dan berkata jikalau mereka telah meminta bertahkim kepada kitabullah apakah pantas untuk tidak menerimanya, bahkan diantara panglima pasukannya Mus’ar bin Fuka al Tamimi mengancam: “Hai Ali, mariberserah kepada kitabullah jikalau anda menolak maka kami akan berbuat terhadap andaseperti apa yang kami perbuat pada Usman.”Akhirnya Ali terpaksa tunduk karena beliau menghadapi orang-orang sendiri. Sejarah mencatat korban yang tewas dalam perang ini 35.000 orang dari pihak Ali dan 45.000 orang dari pihak Mu’awiyah.Peperangan ini diakhiri dengan takhkim (arbitrase).Akan tetapi hal itu tidak dapatmenyelesaikan masalah, bahkan menyebabkan terpecahnya umat Islam menjadi tigagolongan. Diantara ketiga golongan itu adalah golongan Ali, pengikutMu’awiyah dan Khawarij (orang-orang yang keluar dari golongan Ali). Akibatnya, diujungmasa pemerintahan Ali, umat Islam terpecah menjadi tiga kekuatan politik.[34]

  1. Peristiwa Tahkim

Peristiwa tahkim berawal dari pidato Ali bin abi thalib kepada para pasukan yang bertujuan untuk member support semangat karena beliau yakin bahwa beliau berjuan di atas kebenaran.

Kabar pidato Ali bin Abi Thalib itu terdengar oleh Muawiyah. Ia melihat kekalahan sudah di depan mata pasukannya. Segera ia memanggil Amr bin Ash sebagai konsultannya agar mencarikan rencana peperangan esok hari. Amr bin Ash berkata: “Menurutku, pasukanmu sudah tidak seperti bala tentara Ali, dan kau juga bukan dia. Ali akan memerangimu karena kebenaran, sedangkan kau memeranginya karena perkara lain. Kau berperang untuk tetap hidup, tetapi dia berperang agar cepat mati. Orang-orang Irak takut kepadamu bila kau memenangkan peperangan ini. Sementara penduduk Syam tidak takut bila Ali yang memenangkan peperangan ini. Sekarang, lemparkan sebuah isu yang bila diterima oleh pasukan Ali sekaligus membuat mereka berselisih satu dengan lainnya, dan bila mereka menolaknya, tetap saja dampaknya sama; mereka akan berselisih. Ajak mereka untuk meletakkan Al-Quran sebagai pemutus dan hakim antara engkau dan mereka”.

Muawiyah segera memerintahkan pasukannya untuk mengangkat mushaf (kitab) Al-Quran ke atas dengan cara menancapkannya di ujung tombakdan berseru bahwa Al-Qur’anlah yang akanmenjadi pemutus diantara Ali dan Muawiyah. Seruan yang penuh dengan tipu muslihat ini bagaikan petir yang menyambar kepala pasukan Ali bin Abi Thalib. Keadaan mulai tidak tenang, timbul bisik-bisik di sana sini. Akhirnya, mereka pun terpengaruh dengan seruan tersebut Menyaksikan keadaan yang semakin kacau dan tak terkendali, Ali bin Abi Thalib tetap tidak mau melaksanakan tahkim tersebut dan tetap menyerukan peprangan harus dilanjutkan karena sudah akan memasuki pintu kemenangan. Tetapi mayoritas orang irak meminta agar Ali mengabulkan keinginan mereka. Dan hingga akhirnya dengan terpaksa ali menyetujui tahkim tersebut.

Ternyata, ujian yang menimpa Ali bin Abi Thalib tidak hanya datang dari pasukannya yang telah teperdaya. Karena, mungkin sekali setelah itu pasukan musuh akan  mendapatkan kepentingan politis lewat perundingan yang akan diadakan sebagai konsekuensi menerima seruan sebelumnya. Peluang tersebut akan semakin terbuka bila para pembangkang perintah Ali a.s. mau mengikuti permainan yang sedang dijalankan musuh; dengan memilih seorang juru runding dalam proses rekonsiliasi tersebut. Bila itu sampai terjadi, Ali sudah mempersiapkan orang untuk berunding dengan pihak Muawiyah. Orang itu adalah Abdullah bin Abbas atau Malik Al-Asytar, sebab ia percaya pada keikhlasan dan kewaspadaan dua sahabat ini.

Namun pada saat yang sama, orang-orang yang telah teperdaya oleh provokasi Muawiyah bersikeras agar Abu Musa Al-Asy’ari dijadikan sebagai juru runding mereka. Ali bin Abi Thalib segera berbicara tegas: “Sebelum ini, kalian telah membangkang perintahku, maka sekarang jangan kalian membangkang lagi. Aku tidak mengutus Abu Musa karena dia tidak bisa dipercaya. Dia telah memisahkan dirinya dariku dan menjauhkan orang-orang dariku; ketika hendak berperang dengan pasukan Aisyah di Kufah, kemudian ia lari dariku lalu aku memberi jaminan keamanan kepadanya beberapa bulan setelah kejadian itu”.

Muawiyah dan Amr bin Ash mampu memorak-porandakan kubu Ali bin Abi Thalib karena dibantu dari dalam oleh Al-Asy’ats bin Qais yang memainkan peran musuh dalam selimut. Secara aklamatif, Amr bin Ash terpilih menjadi juru runding kubu Muawiyah untuk merumuskan poin-poin kesepakatan bersama Abu Musa Al-Asy’ari.

Poin penting dalam perjanjian itu adalah gencatan senjata dan pembubaran perang, dan kedua pihak harus kembali kepada Kitab Allah dan Sunah Nabi dalam menyelesaikan masalah-masalah yang dihadapi. Pelaksanaan kesepakatan yang telah ditandatangani oleh kedua belah pihak ditunda hingga bulan Ramadhan tahun 37 H. Perjanjian itu sendiri ditulis pada bulan Safar di tahun yang sama.

Yang aneh adalah masalah penuntutan balas atas pembunuhan Utsman bin Affan. Masalah ini sama sekali tidak dicantumkan, walaupun hanya sekedar sinyalemen saja. Padahal sebelumnya, penuntutan balas ini telah dijadikan alasan peperangan oleh orang-orang seperti Muawiyah dan kroni-kroninya.Dan telah disepakati bahwa tempat perundingan dua juru itu untuk proses tahkim akan diadakan di Daumatul Jandal.namun dibalik semua itu Malik Al-Asytar yang diminta untuk menjadi saksi tidak mau menandatangani perjanjian tersebut.

  1. Perang Nahrawain

Setelah terjadi tahkim sebagian tentara Ali tidak terima dengan sikap Ali yang menerima arbitrase karena itulah mereka keluar dari pihak Ali yang selanjutnya dikenal dengan nama Khawarij. Pihak Khawarij berkesimpulan bahwa:

ü  Mu’awiyah dan Amru bin Ash beserta pengikutnya adalah kelompok kufur karena telah mempermainkan nama Allah dan kitab Allah dalam perang Shiffin, maka mereka wajib dibasmi.

ü  Ali dan pihak-pihak yang mendukung terbentuknya majlis tahkim adalah ragu terhadap kebenaran yang telah diperjuangkan , padahal banyak korban yang jatuh untuk membelanya. Untuk itu Ali telah melakukan dosa besar.

ü  Dan yang membenarkan pembentukan majlis tahkim adalah mengembangkan bid’ahdan membasmi kaum bid’ah adalah kewajiban setiap Muslim.

ü  Pemuka kelompok ini adalah Abdullah bin Wahhab al Rasibi. Sebenarnya Ali tidak ingin memerangi kelompok Khawarij tapi karena kelompok ini keterlaluan dalam bersikap diantaranya membunuh keluarga shahabat Abdullah bin Wahhab dengan sadis sekali hanya karena menolak untuk menyatakan keempat khalifah sepeningggal Nabi adalah kufur, selain itu mereka juga membunuh utusan yang diutus oleh Ali.

ü  Ali menggerakkan pasukannya dan kedua pasukan bertemu pada suatutempat bernama Nahrawan, terletak dipinggir sungai tigris (al dajlah).[35]

Sebelum perang diumumkan, Ali masih punya harapan untuk menyadarkankaum Khawarij. Dan Ali memberikan amnesti bersyarat yang berbunyi: “Barang siapa pulang kembali ke Kufah, akan memperoleh jaminan keamanan.”Sejarah mencatat setelahitu 500 orang diantara mereka ber-iktijalsebagian pulang ke Kufah dan sebagian lagipindah ke pihak Ali sehingga kelompok Khawarij tinggal 1.800 orang.Dengan begitu pecahlah perang Nahrawan, korban berjatuhan dari pihak Ali karenakeberanian kelompok Khawarij sangatlah terkenal, walaupun demikian kemenanganberada dipihak Ali dan tokoh/pemuka Khawarij, Mus’ar al Tamimi, Abdullah bin Wahhabtewas dalam peperangan ini.Golongan Khawarij ( orang-orang yang keluar dari barisan Ali bin Abi Thalib) yang bermarkas di Nahrawain benar-benar merepotkan Ali sehingga memberikan kesempatan pada pihak Mu’awayah untuk memperkuat dan memperluas kekuasannya sampai mampumerebut Mesir. Akibatnya sangat fatal pada pihak Ali. Tentara Ali semakin lemah, sementara kekuatan Mua’wiyah bertambah besar, keberhasilan Mu’awiyah mengambil posisi Mesir berarti merampas sumber-sumber kemakmuran dan suplai ekonomi dari pihakAli.[36]

  1. 10.    Terbunuhnya Ali Bin Abi Tholib

Kaum khowarij tidak henti hentinya membuat gaduh di dalam kalangan islam, mereka berpendapat bahwa pangkal kekacauan yang banyak membawa korban umat islam adalah tiga orang imam yaitu Ali bin abi thalib, Muawiyah bin Abi sofyan dan Amr bin Ash. Kaum khowarij mengirim tiga orang[37] yang disuruh untuk membunuh ketiga imam tersebut. Namun dari ketiga utusan tersebut hanya  Abdurrahman bin Muljam yang berhasil menikam Ali bin Abi tholib saat mengimami sholat subuh di masjid Kuffah. Sedangkan Al Barak bin Abdillah At Tamimy menunggu Muawiyah selesai sholat subuh dan menikam Muawiyah, tetapi hanya terkena pinggul dan Al Barak mati terbunuh ditangan Muawiyah. Yang terakhir adalah Amr bin Bakri membunuh wakil yang dikira Amr bin Ash karena Amr bin Ash tidak berangkat mengimami Sholat lantaran sakit perut.[38]

 

 

BAB III

PENUTUP

KESIMPULAN

Dari sejarah peradaban pada masa kholifah Utsman dan Ali, kita melihat berbagai pengetahuan tentang bagaimana agama islam berkembang pada masa kekholifahan mereka. Ada berbagai perkembangan yang ada pada saat itu, diantaranya perkembangan dari segi ekonomi, politik, pendidikan, dan lain sebagainya. Mereka juga memiliki gaya kepemimpinan yang tersendiri, hal itu sesuai dengan karakter dan pendirian mereka masing-masing.

Pada masa keduanya juga terjadi berbagai peristiwa yang menjadi sebuah sejarah penting bagi umat setelahnya sebagai pelajaran yang berharga. Dari berbagai peristiwa itu mereka menyikapi dengan penuh ikhlas dan perjuangan. Walaupu hingga akhirnya mereka terbunuh karena agama Allah.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

DAFTAR PUSTAKA

Zainudin Muhadi, Abd. Mustaqim, Studi kepemimpinan Islam, Semarang, Toha putra, 2008.

Abdul Jabar Umar, khulasotun Nuril Yaqin juz 3, Surabaya, Maktabah Al Hikmah, 1965.

Santoso Agus, Modul Hikamah SKI kelas XII semester ganjil, Sragen, Akik Pusaka, 2009.

Abdurrahman Dudung, Sejarah Peradaban Islam, Yogyakarta: Lesfi, 2009

Hj.Shafiah, Ittihad Jurnal Kopertis Wilayah XI Kalimantan, Oktober 2008.

http://majelispenulis.blogspot.com/2011/11/sejarah-peradaban-islam-masa-utsman-dan.html

http://www.balaghah.net/nahj-htm/id/id/bio-imam/002.htm

 


[1] Muhadi Zainudin dan Abd Mustaqim, “Studi Kepemimpinan Islam,” Putra Mediatama Press, 2008, hal. 69.

[2] Ibid, hal 73

[3] Umar Abdul Jabbar, “Kholasotu Nuril Yaqin juz tiga,” Maktabah Al Hikmah, 1985,  hal. 47.

[4] Ibid, hal. 70.

[5] Umar Abdul Jabbar, “Kholasotu Nuril Yaqin,” Maktabah Al Hikmah,1985, hal 44.

[6] Abd Mustaqim, “Studi Kepemimpinan Islam,” Putra Mediatama Press, 2008, hal 73-74.

[7] Raja Roma mempersiapkan tentara yang sangat besar sekali untuk menyerang kaum muslimin, ia mengirim enam ratus perahu untuk melawan pasukan muslim yang dipimpin oleh Abdullah bin Sa’d bin Abi Sarah. Mendengar hal tersebut Muawiyan bin Abi Sofyan datang membantu. Hingga akhirnya pasukan roma dapat dikalahkan dan daerah tersebut menjadi kekuasaan Utsman yang akhirnya disebut dengan daulah bahriyyah.

[8] Ibid, hal47.

[9] Dudung Abdurrahman, Sejarah Peradaban Islam, Yogyakarta: Lesfi, 2009, hal.59..

[10] Ibid, hal.58.

[12] Ibid, hal. 48.

[13] Ibid, hal. 70.

[15] Ibid, hal. 71.

[16] Ibid, hal. 71.

[19] Ibid,hal. 74.

[21] Hj.Shafiah, Ittihad Jurnal Kopertis Wilayah XI Kalimantan, Volume 6 No.10 Oktober 2008.

[22] Ibid.

[23] Ilmu yang berhubungan dengan akhlaq baik terhadap manusia terutama kepada Tuhan.

[24]  Hj.Shafiah, Ittihad Jurnal Kopertis Wilayah XI Kalimantan, Volume 6 No.10 Oktober 2008.

[25] Pada awalnya kaum syiah dan khowarij adalah front Ali bin abi tholib, tetapi setelah terjadinya peristiwa tahkim muncullah kedua kaum ini, kaum syiah  adalah kaum yang tetap memikuti ali bin Abi Tholib, sedangkan Khowarij adalah kaum yang keluar dari kelompok Ali karena tidak setuju atas perjanjian tahkim yang dilaksanakan di dumatul jandal, baca  Hikmah, modul team musyawaroh Guru bina PAI ,2009, hal. 25.

[26] Ibid, hal. 98.

[27] Ibid, hal. 78.

[28] Baitul mal digunakan sebagai pusat perekonomian Negara dalam menyimpan keuangan Negara. Lembaga ini meneruskan dari kholifah Umar bin Khotob.

[29]  Jamal adalah salah satu nama dari unta yang masih muda.

[30]  http://majelispenulis.blogspot.com/2011/05/sejarah-peradaban-imlam-masa-ali-bin,html

[31]  Kuffah adalah daerah yang dianggap oleh Ali bin  Abi Tholib sebagai daerah yang strategis melihat Perluasan wilayah negeri Islam yang harus diimbangi dengan sebuah ibukota yang terpusat secara administratif dan politis. Untuk itu, ibukota harus berada di wilayah yang strategis sehingga dapat bergerak cepat mencapai semua titik di negeri Islam.

[32]  Ibid, hal. 74.

[33] Melihat pasukan Muawiyahyang diambang pada kekalahan segera ia menemui Amr bin Ash untuk meminta agar segera mengambil tindakan dalam strategi lain, Amr bin Ash menyuruh agar mengangkat Al-Qur’an diujung tumbak.

[34] Ibid.

[35] Ibid, hal. 99.

[36] Ibid, hal. 76.

[38] Umar Abdul Jabbar, “Kholasotu Nuril Yaqin  juz tiga,” Maktabah Al Hikmah,1985, hal. 47.

 

Makalah Asbabun Nuzul

BAB I

PENDAHULUAN

            Al-Qur’an adalah kitab suci kaum muslimin dan menjadi sumber ajaran Islam yang pertama dan utama yang harus mereka imani dan aplikasikan dalam kehidupan mereka agar mereka memperoleh kebaikan di dunia dan di akhirat. Karena itu, tidaklah berlebihan jika selama ini kaum muslimin tidak hanya mempelajari isi dan pesan-pesannya. Tetapi juga telah berupaya semaksimal mungkin untuk menjaga otentitasnya. Upaya itu telah mereka laksanakan sejak Nabi Muhammad Saw masih berada di Mekkah dan belum berhijrah ke Madinah hingga saat ini. Dengan kata lain upaya tersebut telah mereka laksanakan sejak al-Qur’an diturunkan hingga saat ini. Mengenai mengerti asbabun nuzul sangat banyak manfaatnya. Karena itu tidak benar orang-orang mengatakan, bahwa mempelajari dan memahami sebab-sebab turunnya  al-Qur’an itu tidak berguna, dengan alasan bahwa hal-hal yang berkaitan dengan ayat-ayat al-Qur’an itu telah masuk dalam ruang lingkup sejarah. Di antara manfaatnya yang praktis ialah menghilangkan kesulitan dalam memberikan arti  ayat-ayat al-Qur’an.

Imam al-Wahidi menyatakan; tidak mungkin orang mengerti tafsir suatu ayat, kalau tidak mengetahui ceritera yang berhubungan dengan ayat-ayat itu, tegasnya untuk mengetahui tafsir yang terkandung dalam ayat itu harus mengetahui sebab-sebab ayat itu diturunkan.

Ulama salaf tatkala terbentur kesulitan dalam memahami ayat, mereka segera kembali berpegang pedoman asbabun nuzulnya. Dengan cara ini hilanglah semua kesulitan yang mereka hadapi dalam mempelajari al-Qur’an tentang “Asbabun Nuzul”.

Dalam hal ini penulis mencoba menuangkan dalam bentuk makalah yang berjudul “ASBABUN NUZUL” dengan harapan semoga makalah ini dapat menambah keimanan dan keilmuan kita baik di dunia maupun di akhirat kelak. Amien.

BAB II

PEMBAHASAN

 A.     Pengertian Al-Qur’an Menurut Bahasa

               Al-Qur’an Menurut Bahasa berarti  “bacaan  sempurna”  merupakan  suatu  nama  pilihan  Allah  yang  sungguh tepat,karena tiada satu bacaan pun sejak  manusia  mengenal  tulisbaca  lima  ribu  tahun  yang  lalu  yang  dapat  menandingi Al-Quran Al-Karim, bacaan sempurna lagi mulia itu.[1]

Di kalangan para ulama dan pakar bahasa Arab tidak ada kesepakatan tentang ucapan, asal pengambilan dan arti kata al-Qur’an.[2] Di antara mereka berpendapat bahwa kata al-Qur’an itu harus diucapkan tanpa huruf hamzah. Termasuk mereka yang berpendapat demikian adalah al-Syafi’i[3] dan al-Farra[4] dan al-Asy’ari.[5] Para pakar lain berpendapat bahwa kata al-Qur’an tersebut harus diucapkan dengan memakai huruf hamzah. Termasuk mereka yang berpendapat seperti ini adalah al-Zajjaj[6] dan al-Lihyani.[7]

al-Lihyani.[6]

 B.     Definisi Al-Qur’an

Kalau berkenaan dengan al-Qur’an menurut bahasa, para ulama telah berbeda pendapat, demikian pula sikap mereka dalam memberikan definisinya. Misalnya, Prof. DR. Syekh mahmud Syaitut mendifinisikan al-Qur’an dengan:

اللفظ العربي المنزل على نبينا محمد صلى الله عليه وسلم المنقول إلينا بالتوات[8]

Artinya:    “Lafaz Arab yang diturunkan kepada nabi Muhammad Saw dan disampaikan kepada kita secara mutawatir.”

Al-Qur’an juga mengandung sebab-sebab diturunkannya suatu ayat yang dikenal dengan istilah “Asbabun Nuzul”. Tetapi dalam keseluruhan isi al-Qur’an, tidak semuanya ada ayat yang mengandung asbabun nuzul, hanya sebagian ayat saja.

C.     Pengertian Asbabun Nuzul

Secara etimologis, asbabun nuzul ayat itu berarti sebab-sebab turun ayat. alam pengertian sederhana turunnya suatu ayat disebabkan oleh suatu peristiwa, sehingga tanpa adanya peristiwa itu, ayat tersebut itu tidak turun.[9] Sedangkan menurut Subhi Shalih misalnya menta’rifkan (ma’na) sababun nuzul ialah:

ما نزلة الأية او الآيات بسببه متضمنة له أو مجيبة عنه أو مبينة لحكمه زمن وقوعه.[10]

“Sesuatu yang dengan sebabnyalah turun sesuatu ayat atau beberapa ayat yang mengandung sebab itu, atau memberi jawaban tentang sebab itu, atau menerangkan hukumnya; pada masa terjadinya peristiwa itu.”

Yakni, sesuatu kejadian yang terjadi di zaman Nabi Saw, atau sesuatu pertanyaan yang dihdapkan kepada Nabi dan turunlah suatu atau beberapa ayat dari Allah Swt yang berhubungan dengan kejadian itu, atau dengan penjawaban pertanyaan itu baik peristiwa itu merupakan pertengkaran, ataupun merupakan kesalahan yang dilakukan maupun merupakan suatu peristiwa atau suatu keinginan yang baik.

Definisi yang dikemukakan ini dan yang diistilahi, menghendaki supaya  ayat-ayat al-Qur’an, dibagi dua:

  1. Ayat yang ada sebab nuzulnya.
  2. Ayat yang tidak ada sebab nuzulnya.

Memang demikianlah ayat-ayat al-Qur’an. Ada yang diturunkan tanpa didahului oleh sesuatu sebab dan ada yang diturunkan sesudah didahului sebab. Tetapi hal ini tidak berarti bahwa setiap orang harus mencari sebab turun setiap ayat, karena tidak semua ayat al-Qur’an diturunkan. Karena timbul suatu peristiwa dan kejadian.[11] Oleh karena itu, tujuan studi al-Qur’an mencakup beberapa permasalahan yang hendaknya harus dipelajari bukan saja masalah asbabun nuzul. Tetapi juga mempelajari masalah bagaimana cara membaca al-Qur’an, bagaimana tafsirnya dan juga tidak kalah penting masalah nasakh dan mansukh.[12]

Pembahasan dimensi sejarah. Kisah-kisah al-Qur’an ini tidak dimaksudkan untuk mempelajari makna historis kisah-kisah al-Qur’an. Namun di sini akan mencoba mengungkapkan nilai historis sejarah turunnya suatu ayat. Ada perselisihan pendapat di antara ulama tafsir, pada ungkapan sahabat: “Turunnya ayat ini dalam kasus begini”. Apakah pengertian ini masuk dalam musnad yakni sesuai bila disebutkan dengan tegas, bahwa turunnya ayat ini berkaitaan erat dengan kasus tersebut. Jadi masalah mempelajari turunnya suatu ayat bukan hanya dipahami sebagai doktrin normatif semata, tetapi juga harus dapat dikembangkan menjadi konsepsi operatif.[13]

 D.    Latar Belakang Turunnya Ayat

Di antara sekian banyak aspek yang banyak memberikan peran dalam menggali dan memahami makna-makna ayat al-Qur’an ialah mengetahui sebab turunnya. Oleh karena itu, mengetahui asbabun nuzul menjadi obyek perhatian para ulama. Bahkan segolongan diantara mereka ada yang mengklarifikasikan dalam suatu naskah, seperti Ali Al-Maidienie, guru besar imam Bukhari.

Dari sekian banyak kitab dalam masalah ini, yang paling terkenal ialah: karangan Al-Wahidie, Ibnu Hajar dan As-Sayuthi. Dan As-Sayuthi telah menyusun dalam suatu kitab besar dengan judul “Lubaabun Nuquul fie Asbabin Nuzuul”.

Boleh dikata, untuk mengetahui secara mendetail tentang aneka corak ilmu-ilmu al-Qur’an serta pemahamannya, tidak mungkin dicapai tanpa mengetahui asbabun nuzulul,[14] seperti pada firman Allah yang artinya: “Dan kepunyaan Allah-lah timur dan barat, maka kemana pun kamu menghadap disitulah wajah Allah”. (Q.S. Al-Baqarah: 115)

Ayat ini kadang kala diartikan, boleh menghadap ke arah mana pun saja selain kiblat. Pengertian ini jelas salah, sebab di antara syarat sahnya sembahyang ialah menghadap kiblat.

Akan tetapi dengan mengetahui sebab-sebab turunnya, akan jelas pengertian ayat ini, di mana ayat ini diturunkan bagi siapa yang sedang di tengah perjalanan dan tidak tahu mana arah kiblat. Maka ia harus berijtihad dan menyelidiki, kemudian sembahyang kemana saja ia menghadap, sahlah shalatnya. Dan tidak diwajibkan kepadanya bersembahyang lagi setelah bersembahyang apabila ternyata salah.

 E.     Ilmu Asbabun Nuzul

Allah menjadikan segala sesuatu melalui sebab-musabbab dan menurut  suatu ukuran. Tidak seorang pun manusia lahir dan melihat cahaya kehidupan tanpa melalui sebab-musabbab dan berbagai tahap perkembangan. Tidak sesautu pun terjadi di dalam wujud ini kecuali setelah melewati pendahuluan dan perencanaan. Begitu juga perubahan pada cakrawala pemikiran manusia terjadi setelah melalui persiapan dan pengarahan. Itulah sunnatullah (hukum Allah) yang berlaku bagi semua ciptaan-Nya, “dan engkau tidak akan menemukan perubahan pada sunnatullah” (al-Ahzab, 62).

Tidak ada bukti yang menyingkap kebenaran sunnatullah itu selain sejarah, demikian pula penerapannya dalam kehidupan. Seorang sejarahwan yang berpandangan tajam dan cermat mengambil kesimpulan, dia tidak akan sampai kepada fakta sejarah jika tidak mengetahui sebab-musabbab yang mendorong terjadinya peristiwa.

Tapi tidak hanya sejarah yang menarik kesimpulan dari rentetan peristiwa yang mendahuluinya, tapi juga ilmu alam, ilmu sosial dan kesusastraan pun dalam pemahamanya memerlukan sebab-musabbab yang melahirkannya, di samping tentu saja pengetahuan tentang prinsip-prinsip serta maksud tujuan.[15]

 F.      Pedoman Mengetahui Asbabun Nuzul

Pedoman dasar para ulama dalam mengetahui asbabun nuzul ialah riwayat shahih yang berasal dari Rasulullah Saw atau dari sahabat. Itu disebutkan pemberitahuan seorang sahabat mengenai hal seperti ini, bila jelas, maka hal itu bukan sekedar pendapat, tetapi ia mempunyai hukum marfu’ (disandarkan pada Rasulullah. Al-Wahidie mengatakan, “Tidak halal berpendapat mengenai asbabun Nuzul kitab kecuali dengan berdasarkan pada riwayat atau mendengar langsung dari orang-orang yang menyaksikan turunnya, mengetahui sebab-sebabnya dan membahasnya tentang pengertiannya serta bersungguh-sungguh dalam mencarinya”. Al-Wahidie telah menentang ulama-ulama zamannya atas kecerobohan mereka terhadap riwayat asbabun nuzul. Bahkan ia menuduh mereka pendusta dan mengingatkan mereka akan ancaman berat, dengan mengatakan “Sekarang setiap orang suka mengada-ngada dan berbuat dusta: ia menempatkan kedudukannya dalam kebodohan, tanpa memikirkan acaman berat bagi orang yang tidak mengetahui sebab turunnya ayat”.[16]

 G.    Kisah Nuzulnya Ayat

Menanamkan sebab turunnya ayat dengan kisah nuzulnya ayat, sungguhlah mengisyaratkan kepada dzauq yang tinggi. Sebenarnya, asbabun nuzul tidaklah lain daripada kisah yang dipetik dari kenyataan dan kejadian, baik mengenai peristiwanya, maupun mengenai orang-orangnya. Dan kisah nuzul menimbulkan kegemaran untuk membaca kisah itu di setiap masa dan tempat, serta menghilangkan kejemuan, karena merasakan bahwa kisah-kisah (kejadian-kejadian itu) seolah baru saja terjadi.[17]

 H.    Perbedaan Pendapat Para Ulama Tentang Beberapa Riwayat Mengenai (Asbabun Nuzul)

 Terkadang terdapat banyak riwayat mengenai sebab nuzul suatu ayat. Dalam keadaan demikian, sikap seorang mufasir kepadanya sebagai berikut:

1.      Apabila bentuk-bentuk redaksi riwayat itu tidak tegas, seperti: “Ayat ini turun mengenai urusan ini”, atau “Aku mengira ayat ini turun mengenai urusan ini”, maka dalam hal ini tidak ada kontradiksi di antara riwayat-riwayat itu. Sebab maksud riwayat-riwayat tersebut adalah penafsiran dan penjelasan bahwa hal itu termasuk ke dalam makna ayat dan disimpulkan darinya, bukan menyebutkan sebab nuzul, kecuali bila ada karinah atau indikasi pada salah satu riwayat bahwa maksudnya adalah penjelasan sebab nuzulnya.

2.      Apabila salah satu bentuk redaksi riwayat itu tidak tegas, misalnya “Ayat ini turun mengenai urusan ini”. Sedang riwayat yang lain menyebutkan sebab nuzul dengan tegas yang berbeda dengan riwayat pertama, maka yang menjadi pegangan adalah riwayat yang menyebutkan sebab nuzul secara tegas; dan riwayat yang lain dipandang termasuk di dalam hukum ayat. Contohnya ialah riwayat tentang asbabun nuzul :

“istri-istrimu adalah ibarat tanah tempat kamu bercocok tanam, maka datangilah tanah tempat bercocok tanammu itu bagaimana saja kamu kehendaki”. (Q.S. Al-Baqarah, 2 : 223)

Dari nafi disebutkan “Pada suatu hari aku membaca (istri-istri adalah ibarat tempat kamu bercocok tanam), maka kata Ibnu Umar: “Tahukah engkau mengenai apa ayat ini diturunkan?” Aku menjawab: “Tidak”, ia berkata ayat ini turun mengenai persoalan mendatangi istri dari belakang”.[18]

Bentuk redaksi riwayat dari Ibnu Umar ini tidak dengan tegas menunjukkan sebab nuzul. Sementara itu terdapat riwayat yang sangat tegas menyebutkan sebab nuzul yang bertentangan dengan riwayat tersebut. Melalui Jabir dikatakan             orang-orang Yahudi berkata: “Apabila seorang laki-laki mendatangi istrinya dari arah belakang maka anaknya nanti akan bermata juling”, maka turunlah ayat tersebut”.[19]

Maka Jabir inilah yang dijadikan pegangan, karena ucapannya merupakan pernyataan tegas tentang asbabun nuzul. Sedangkan ucapan Ibnu Umar, tidaklah demikian. Karena itulah ia dipandang sebagai kesimpulan atau penafsiran.

 Diriwayatkan oleh Ibnu jarir, Abu Ya’la, Ibnu Mardaweh, Bukhari,  Ath-Thabrany dalam Al-Ausath bahwa pada masa Nabi Saw ada seorang laki-laki mendatangi istrinya dari arah belakang, kemudian orang-orang membencinya. Kemudian turunlah ayat 223 surah al-Baqarah. Dari beberapa riwayat tersebut jelaslah terdapat beberapa perbedaan tentang turunnya suatu ayat. Namun apabila riwayat itu banyak dan semuanya menegaskan sebab nuzul, sedang salah satu riwayat di antaranya itu shahih, maka yang menjadi pegangan adalah riwayat yang shahih.

DAFTAR PUSTAKA

Al-Aththar, Dawud, Dr., Perspektif Baru Ilmu Al-Qur’an, Pengantar DR. M. Quraish Shihab, Beirut, Pustaka Hidayah, 1979.

 Al-Qattan, Manna’ Khalil, Studi Ilmu-ilmu Qur’an, Litera Antarnusa, Pustaka Islamiyah, 1973.

 Ash-Shabunie, Moh. Ali, Pengantar Ilmu-ilmu Al-Qur’an, Surabaya, Al-Ikhlas, 1983.

 Ash-Shidieqy, T. M. Hasbi, Prof., Ilmu-Ilmu Al-Qur’an Media Pokok dalam Menafsirkan Al-Qur’an, Jakarta, Bulan Bintang, 1973.

 As-Shalih, Subhi, Dr., Membahas Ilmu-ilmu Al-Qur’an, Beirut, Pustaka Firdaus, 1985.

 Athaillah, A., Sejarah Al-Qur’an dan Verifikasi Tentang Otentitas Al-Qur’an, Banjarmasin, Antasari Press, 2007.

 Bakar, Rohadi Abu, Asbabun Nuzul (Sebab-sebab Turunnya Ayat-ayat Al-Qur’an), Semarang, Wicaksana, 1986.

 Depag RI, Al-Qur’an dan Terjemahnya, Jakarta, Yayasan Penyelenggara Al-Qur’an, 1997.

 Hadits Riwayat Bukhari dan lainnya, h. 15.

 Hasan, Muhammad Tholhah, Prospek Islam dalam Menghadapi Tantangan Zaman, Jakarta, Lantabora Press, 2005.

 Khalafullah, Muhammad A., Al-Qur’an Bukan Kitab Sejarah Seni, Sastra dan Moralitas dalam Kisah-Kisah Al-Qur’an, Jakarta, Paramadina, 2002.

 Mudzhar, M. Atho, Dr., H., Pendekatan Studi Islam dalam Teori dan Praktek, Yogyakarta, Pustaka Pelajar, 1998.

 Syafi’i, Rachmat, MA., Prof. DR. H., Pengantar Ilmu Tafsir, Bandung, Pustaka Setia, 1973.

 Syaitut, Mahmud, Al-Islam ‘Aqidah wa Syari’ah, h. 14.


[1] Dr. M. Quraish Shihab, M.A, Tafsir Maudhu’i atas Pelbagai Persoalan

[2] A. Athaillah, Sejarah Al-Qur’an dan Verifikasi Tentang Otentitas Al-Qur’an, (Banjarmasin: Antasari Press, 2007), h. 11.

[3] Al-Syafi’i adalah seorang pakar fiqih dan ushul fiqih, hadits, tafsir, dan bahasa Arab, dan pendiri mazhab Syafi’i. beliau wafat pada tahun 204 H.

[4] Al-Farra adalah seorang pakar tafsir dan pakar bahasa Arab yang wafat pada tahun 2007 H.

[5] Al-Asy’ari adalah seorang pakar ilmu kalam dan pendiri aliran Asy’ariyah yang wafat pada tahun 224 H.

[6] Al-Zajjaj adalah seorang pakar bahasa Arab yang wafat pada tahun 311 H.

[7] Al-Lihyani adalah seorang ahli bahasa Arab yang wafat pada tahun 215 H.

[8] Mahmud Syaitut, Al-Islam ‘Aqidah wa Syari’ah, h. 14

[9] Prof. Dr. H. Rachmat Syafi’, MA., Pengantar Ilmu Tafsir (Bandung: Pustaka Setia, 1973), cet. Ke-1, h.24.

[10] Prof. T. M. Hasbi Ash-Shidieqy, Ilmu-Ilmu Al-Qur’an Media Pokok dalam Menafsirkan Al-Qur’an, (Jakarta: Bulan Bintang, 1973), cet. Ke-1, h. 25.

 

[11] Manna’ Khalil Al-Qattan, Studi Ilmu-ilmu Qur’an, (Litera Antarnusa: Pustaka Islamiyah, 1973), cet. Ke-3, h. 107.

[12] Dr. H. M. Atho Mudzhar, Pendekatan Studi Islam dalam Teori dan Praktek, (Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 1998), cet. Ke-8, h. 19.

[13] Muhammad Tholhah Hasan, Prospek Islam dalam Menghadapi Tantangan Zaman, (Jakarta: Lantabora Press, 2005), h. 50.

[14] Moh. Ali Ash-Shabunie, Pengantar Ilmu-ilmu Al-Qur’an, (Surabaya: Al-Ikhlas, 1983), h. 40.

 

[15] Dr. Subhi As-Shalih, Membahas Ilmu-ilmu Al-Qur’an, (Beirut: Pustaka Firdaus, 1985),  h. 153.

[16] Ibid., h. 159.

[17] Ibid., h. 160.

[18] Hadits Riwayat Bukhari dan lainnya, h. 15.

[19] Hadits Riwayat Bukhari, op. cit., h. 18

Qira’ah Sab’ah dan Sejarahnya

A. Pengertian Qira’at dan Perbedaanya dengan Riwayat dan Tariqah

Menurut bahasa, Qira’at(قراءات) adalah bentuk jamak dari qira>’ah (قراءة) yang merupakan isim masdar dari qaraa (قرأ), yang artinya : bacaanPengertian Qira’at menurut istilah cukup beragam. Hal ini disebabkan oleh keluasan makna dan sisi pandang yang dipakai oleh ulama tersebut. Berikut ini akan diberikan dua pengertian Qira’atmenurut istilah. Qira’atmenurut al-Zarkasyi merupakan perbedaan lafal-lafal al-Qur’an, baik menyangkut huruf-hurufnya maupun cara pengucapan huruf-huruf tersebut, sepeti takhfif, tasydid dan lain-lain.

Dari pengertian di atas, tampaknya al-Zarkasyi hanya terbatas pada lafal-lafal al-Qur’an yang memiliki perbedaan Qira’atsaja. Ia tidak menjelaskan bagaimana perbedaan Qira’atitu dapat terjadi dan bagaimana pula cara mendapatkan Qira’atitu.

Ada pengertian lain tentang Qira’atyang lebih luas daripada pengertian dari al-Zarkasyi di atas, yaitu pengertian Qira’atmenurut pendapat al-Zarqani.

Al-Zarqani memberikan pengertian Qira’atsebagai : “Suatu mazhab yang dianut oleh seorang imam dari para imam qurra’ yang berbeda dengan yang lainnya dalam pengucapan al-Qur’an al-Karim dengan kesesuaian riwayat dan thuruq darinya. Baik itu perbedaan dalam pengucapan huruf-huruf ataupun pengucapan bentuknya.”

Ada beberapa kata kunci dalam membicarakan qiraat yang harus diketahui. Kata kunci tersebut adalah Qira’atriwayatdan tariqah. Berikut ini akan dipaparkan pengetian dan perbedaan antara Qira’atdengan riwayatdan tariqah, sebagai berikut :

a. Qira’ata dalah bacaan yang disandarkan kepada salah seorang imam dari qurra’ yang tujuh, sepuluh atau empat belas; seperti Qira’atNafi’, Qira’atIbn Kasir, Qira’atYa’qub dan lain sebagainya.

b. Sedangkan Riwayat adalah bacaan yang disandarkan kepada salah seorang perawi dari para qurra’ yang tujuh, sepuluh atau empat belas. Misalnya, Nafi’ mempunyai dua orang perawi, yaitu Qalun dan Warsy, maka disebut dengan riwayatQalun ‘anNafi’ atau riwayatWarsy ‘an Nafi’.

c. Adapun yang dimaksud dengan tariqah adalah bacaan yang disandarkan kepada orang yang mengambil Qira’atdari periwayat qurra’ yang tujuh, sepuluh atau empat belas. Misalnya, Warsy mempunyai dua murid yaitu al-Azraq dan al-Asbahani, maka disebut tariq al-Azraq ‘an Warsy, atau riwayat Warsy min thariq al-Azraq. Bisa juga disebut dengan Qira’atNafi’ min riwayati Warsy min tariq al-Azraq.

B. Sejarah Perkembangan Ilmu Qira’at

Pembahasan tentang sejarah dan perkembangan ilmu Qira’atini dimulai dengan adanya perbedaan pendapat tentang waktu mulai diturunkannya qira>’at. Ada dua pendapat tentang hal ini; Pertama, Qira’atmulai diturunkan di Makkah bersamaan dengan turunnya al-Qur’an. Alasannya adalah bahwa sebagian besar surat-surat al-Qur’an adalah Makkiyah di mana terdapat juga di dalamnya Qira’atsebagaimana yang terdapat pada surat-surat Madaniyah. Hal ini menunjukkan bahwa Qira’atitu sudah mulai diturunkan sejak di Makkah.

Kedua, Qira’atmulai diturunkan di Madinah sesudah peristiwa Hijrah, dimana orang-orang yang masuk Islam sudah banyak dan saling berbeda ungkapan bahasa Arab dan dialeknya. Pendapat ini dikuatkan oleh hadis yang diriwayatkan oleh Imam Muslim dalam kitab shahihnya, demikian juga Ibn Jarir al-Tabari dalam kitab tafsirnya. Hadis yang panjang tersebut menunjukkan tentang waktu dibolehkannya membaca al-Qur’an dengan tujuh huruf adalah sesudah Hijrah, sebab sumber air Bani Gaffar – yang disebutkan dalam hadis tersebut–terletak di dekat kota Madinah.

Kuatnya pendapat yang kedua ini tidak berarti menolak membaca surat-surat yang diturunkan di Makkah dalam tujuh huruf, karena ada hadis yang menceritakan tentang adanya perselisihan dalam bacaan surat al-Furqan yang termasuk dalam surat Makkiyah, jadi jelas bahwa dalam surat-surat Makkiyah juga dalam tujuh huruf.

Ketika mushaf disalin pada masa Usman bin Affan, tulisannya sengaja tidak diberi titik dan harakat, sehingga kalimat-kalimatnya dapat menampung lebih dari satu Qira’atyang berbeda. Jika tidak bisa dicakup oleh satu kalimat, maka ditulis pada mushaf yang lain. Demikian seterusnya, sehingga mushaf Usmani mencakup ahruf sab’ah dan berbagai Qira’atyang ada.

Periwayatan dan Talaqqi (si guru membaca dan murid mengikuti bacaan tersebut) dari orang-orang yang tsiqoh dan dipercaya merupakan kunci utama pengambilan Qira’atal-Qur’an secara benar dan tepat sebagaimana yang diajarkan Rasulullah SAW kepada para sahabatnya. Para sahabat berbeda-beda ketika menerima Qira’atdari Rasulullah. Ketika Usman mengirimkan mushaf-mushaf ke berbagai kota Islam, beliau menyertakan orang yang sesuai qiraatnya dengan mushaf tersebut. Qira’atorang-orang ini berbeda-beda satu sama lain, sebagaimana mereka mengambil Qira’atdari sahabat yang berbeda pula, sedangkan sahabat juga berbeda-beda dalam mengambil Qira’atdari Rasulullah SAW.

Dapat disebutkan di sini para Sahabat ahli Qira’atantara lain adalah : Usman bin Affan, Ali bin Abi Thalib, Ubay bin Ka’ab, Zaid bin Tsabit, Ibn Mas’ud, Abu al-Darda’, dan Abu Musa al-‘Asy’ari.

Para sahabat kemudian menyebar ke seluruh pelosok negeri Islam dengan membawa Qira’atmasing-masing. Hal ini menyebabkan berbeda-beda juga ketika Tabi’in mengambil Qira’atdari para Sahabat. Demikian halnya dengan Tabiut-tabi’in yang berbeda-beda dalam mengambil Qira’atdari para Tabi’in.

Ahli-ahli Qira’atdi kalangan Tabi’in juga telah menyebar di berbagai kota. Para Tabi’in ahli Qira’atyang tinggal di Madinah antara lain : Ibn al-Musayyab, ‘Urwah, Salim, Umar bin Abdul Aziz, Sulaiman dan’Ata’ (keduanya putra Yasar), Muadz bin Harits yang terkenal dengan Mu’ad al-Qari’, Abdurrahman bin Hurmuz al-A’raj, Ibn Syihab al-Zuhri, Muslim bin Jundab dan Zaid bin Aslam.

Yang tinggal di Makkah, yaitu: ‘Ubaid bin’Umair, ‘Ata’ bin Abu Rabah, Tawus, Mujahid, ‘Ikrimah dan Ibn Abu Malikah.

Tabi’in yang tinggal di Kufah, ialah : ‘Alqamah, al-Aswad, Maruq, ‘Ubaidah, ‘Amr bin Surahbil, al-Haris bin Qais,’Amr bin Maimun, Abu Abdurrahman al-Sulami, Said bin Jabir, al-Nakha’i dan al-Sya’bi.

Sementara Tabi’in yang tinggal di Basrah , adalah Abu ‘Aliyah, Abu Raja’, Nasr bin ‘Asim, Yahya bin Ya’mar, al-Hasan, Ibn Sirin dan Qatadah.

Sedangkan Tabi’in yang tinggal di Syam adalah : al-Mugirah bin Abu Syihab al-Makhzumi dan Khalid bin Sa’d.

Keadaan ini terus berlangsung sehingga muncul para imam qiraat yang termasyhur, yang mengkhususkan diri dalam Qira’at– Qira’attertentu dan mengajarkan Qira’atmereka masing-masing.

Perkembangan selanjutnya ditandai dengan munculnya masa pembukuan qira’at. Para ahli sejarah menyebutkan bahwa orang yang pertama kali menuliskan ilmu Qira’at adalah Imam Abu Ubaid al-Qasim bin Salam yang wafat pada tahun 224 H. Ia menulis kitab yang diberi nama al-Qira’atyang menghimpun qiraat dari 25 orang perawi. Pendapat lain menyatakan bahwa orang yang pertama kali menuliskan ilmu qiraat adalah Husain bin Usman bin Tsabit al-Baghdadi al-Dharir yang wafat pada tahun 378 H. Dengan demikian mulai saat itu Qira’atmenjadi ilmu tersendiri dalam ‘Ulum al-Qur’an.

Pada penghujung Abad ke III Hijriyah, Ibn Mujahid menyusun Qira’atSab’ah dalam kitabnya Kitab al-Sab’ah. Dia hanya memasukkan para imam qiraat yang terkenal siqat dan amanah serta panjang pengabdiannya dalam mengajarkan al-Qur’an, yang berjumlah tujuh orang. Tentunya masih banyak imam Qira’atyanng lain yang dapat dimasukkan dalam kitabnya.

Abu al-Abbas bin Ammar mengecam Ibn Mujahid karena telah mengumpulkan Qira’atsab’ah. Menurutnya Ibn Mujahid telah melakukan hal yang tidak selayaknya dilakukan, yang mengaburkan pengertian orang awam bahwa Qiraat Sab’ah itu adalah ahruf sab’ah seperti dalam hadis Nabi itu. Dia juga menyatakan, tentunya akan lebih baik jika Ibn Mujahid mau mengurangi atau menambah jumlahnya dari tujuh, agar tidak terjadi syubhat.

Banyak sekali kitab-kitab qiraat yang ditulis para ulama setelah Kitab Sab’ah ini. Yang paling terkenal diantaranya adalah : al-Taysir fi> al-Qira’atal-Sab’i yang diisusun oleh Abu Amr al-Dani, Matan al-Syatibiyah fi> Qira’atal-Sab’i karya Imam al-Syatibi, al-Nasyr fi> Qira’atal-‘Asyr karya Ibn al-Jazari dan Itaf Fudala’ al-Basyar fi> al-Qira’atal-Arba’ah ‘Asyara karya Imam al-Dimyati al-Banna. Masih banyak lagi kitab-kitab lain tentang Qira’atyang membahas qiraat dari berbagai segi secara luas, hingga saat ini.

C. Pembagian Qira’at dan Macam-macamnya

Ibn al-Jazari, sebagaimana dinukil oleh al-Suyuti, menyatakan bahwa Qira’at dari segi sanad dapat dibagi menjadi 6 (enam) macam, yaitu :

a) Qira’at Mutawatir

Qira’at Mutawatir adalah Qira’atyang diriwayatkan oleh orang banyak dari banyak orang yang tidak mungkin terjadi kesepakatan diantara mereka untuk berbuat kebohongan.

Contoh untuk Qira’atmutawatir ini ialah Qira’atyang telah disepakati jalan perawiannya dari imam Qiraat Sab’ah

b) Q ira’at Masyhur

Qira’atMasyhur adalah Qira’atyang sanadnya bersambung sampai kepada Rasulullah SAW. diriwayatkan oleh beberapa orang yang adil dan kuat hafalannya, serta Qira’at-nya sesuai dengan salah satu rasam Usmani; baik Qira’atitu dari para imam Qira’at sab’ah, atau imam Qiraat’asyarah ataupun imam-imam lain yang dapat diterima Qira’at-nya dan dikenal di kalangan ahli Qira’atbahwa Qira’atitu tidak salah dan tidak syadz, hanya saja derajatnya tidak sampai kepada derajat Mutawa>tir

Misalnya ialah Qira’atyang diperselisihkan perawiannya dari imam Qira’atSab’ah, dimana sebagian ulama mengatakan bahwa Qira’atitu dirawikan dari salah satu imam Qira’atSab’ah dan sebagian lagi mengatakan bukan dari mereka.

Dua macam Qira’atdi atas, Qira’atMutawatir dan Qira’atMasyhur, dipakai untuk membaca al-Qur’an, baik dalam shalat maupun diluar shalat, dan wajib meyakini ke-Qur’an-annya serta tidak boleh mengingkarinya sedikitpun.

c) Q ira’at Ahad

Qira’at Ahad adalah qiraat yang sanadnya bersih dari cacat tetapi menyalahi rasam Utsamani dan tidak sesuai dengan kaidah bahasa Arab. Juga tidak terkenal di kalangan imam qiraat.

Qira’at Ahad ini tidak boleh dipakai untuk membaca al-Qur’an dan tidak wajib meyakininya sebagai al-Qur’an.

d) Qira’at Syazah

Qira’at Syazah adalah Qira’atyang cacat sanadnya dan tidak bersambung sampai kepada Rasulullah SAW.

Hukum Qiraat Syazah ini tidak boleh dibaca di dalam maupun di luar sholat.

Qira’atSyazah dibagi lagi dalam 5 (lima) macam, sebagai berikut :

1. Ahad, yaitu Qira’atyang sanadnya sahih tetapi tidak sampai mutawatir dan menyalahi rasam Usmani atau kaidah bahasa Arab.

2. Syaz, yaitu Qira’atyang tidak mempunyai salah satu dari rukun yang tiga.

3. Mudraj, yaitu Qira’atyang ditambah dengan kalimat lain yang merupakan tafsirnya.

4. Maudu’, yaitu Qira’at yang dinisbahkan kepada orang yang mengatakannya (mengajarkannya) tanpa mempunyai asal usul riwayat qiraat sama sekali.

5. Masyhur, yaitu Qira’atyang sanadnya shahih tetapi tidak mencapai derajat mutawatir serta sesuai dengan kaeidah tata bahasa Arab dan Rasam Usmani.

e) Qira’at Maudu’

Qira’at Maudu’ adalah Qira’atyang dibuat-buat dan disandarkan kepada seseorang tanpa mempunyai dasar periwayatan sama sekali.

f) Qira’at Syabih bil Mudraj

Qiraat Sabih bil Mudraj adalah Qira’atyang menyerupai kelompok Mudraj dalam hadis, yakni Qira’atyang telah memperoleh sisipan atau tambahan kalimat yang merupakan tafsir dari ayat tersebut.

D. Beberapa bembagian qiro’at menurt tingkatan

Berikut ini adalah pembagian tingkatan qiraat para imam qiraat berdasarkan kemutawatiran qiraat tersebut, para ulama telah membaginya ke dalam 3 (tiga) kategori, yaitu :

1. Qira’atyanng telah disepakati kemutawatirannya tanpa ada perbedaan pendapat di antara para ahli Qira’atyaitu para imam Qira’atyang tujuh orang (Qira’atSab’ah)

2. Qira’at yang diperselisihkan oleh para ahli Qira’at tentang kemutawatirannya, namun menurut pendapat yang shahih dan masyhur qiraat tersebut mutawatir, yaitu Qira’atpara imam Qira’atyang tiga; imam Abu Ja’far, Imam Ya’kub dan Imam Khalaf.

3. Qira’at yang disepakati ketidak mutawatirannya (Qira’atsyaz) yaitu Qira’atselain dari Qira’atpara imam yang sepuluh (Qira’at‘Asyarah).

E. Mengenal Imam-Imam Qira’at

Berikut ini adalah para imam Qira’atyang terkenal dalam sebutan Qira’atSab’ah dan Qiraat ‘Asyarah , serta Qira’atArba’ ‘Asyara :

1. Nafi’al-Madani

Nama lengkapnya adalah Abu Ruwaim Nafi’ bin Abdurrahman bin Abu Nu’aim al-Laitsi, maula Ja’unah bin Syu’ub al-Laitsi. Berasal dari Isfahan. Wafat di Madinah pada tahun 177 H.

Ia mempelajari Qira’atdari Abu Ja’far Yazid bin Qa’qa’, Abdurrahman bin Hurmuz, Abdullah bin Abbas, Abdullah bin ‘Iyasy bin Abi Rabi’ah al-Makhzumi; mereka semua menerima qiraat yang mereka ajarkan dari Ubay bin Ka’ab dari Rasulullah.

Murid-murid Imam Nafi’ banyak sekali, antara lain : Imam Malik bin Anas, al-Lais bin Sa’ad, Abu ‘Amar ibn al-‘Alla’, ‘Isa bin Wardan dan Sulaiman bin Jamaz.

Perawi Qira’atImam Nafi’ yang terkenal ada dua orang, yaitu Qaaluun (w. 220 H) dan Warasy (w.197 H).

2. Ibn Kasir al-Makki

Nama lengkapnya adalah Abdullah ibn Kasir bin Umar bin Abdullah bin Zada bin Fairuz bin Hurmuz al-Makki. Lahir di Makkah tahun 45 H. dan wafat juga di Makkah tahun 120 H.

Beliau mempelajari Qira’atdari Abu as-Sa’ib, Abdullah bin Sa’ib al-Makhzumi, Mujahid bin Jabr al-Makki dan Diryas (maula Ibn ‘Abbas). Mereka semua masing-masing menerima dari Ubay bin Ka’ab, Zaid bin Sabit dan Umar bin Khattab; ketiga Sahabat ini menerimanya langsung dari Rasulullah SAW.

Murid-murid Imam Ibn KAsir banyak sekali, namun perawi qiraatnya yang terkenal ada dua orang, yaitu Bazzi (w. 250 H) dan Qunbul (w. 251 H).

3. Abu’Amr al-Basri

Nama lengkapnya Zabban bin ‘Alla’ bin ‘Ammar bin ‘Aryan al-Mazani at-Tamimi al-Bashr. Ada yang mengatakan bahwa namanya adalah Yahya. Beliau adalah imam Bashrah sekaligus ahli qiraat Bashrah. Beliau lahir di Mekkah tahun 70 H, besar di Bashrah, kemudian bersama ayahnya berangkat ke Makkah dan Madinah. Wafat di Kufah pada tahun 154 H.

Beliau belajar Qira’atdari Abu Ja’far, Syaibah bin Nasah, Nafi’ bin Abu Nu’aim, Abdullah ibn Kasir, ‘Ashim bin Abu al-Nujud dan Abu al-‘aliyah. Abu al-‘Aliyah menerimanya dari Umar bin Khattab, Ubay bin Ka’ab, Zaid bin Sabit dan Abdullah bin Abbas. Keempat Sahabat ini menerima Qira’atlangsung dari Rasulullah SAW.

Murid beliau banyak sekali, yang terkenal adalah Yahya bin Mubarak bin Mughirah al-Yazidi (w. 202 H.) Dari Yahya inilah kedua perawi qiraat Abu ‘Amr menerima qiraatnya, yaitu al-Duuri (w. 246 H) dan al-Suusii (w. 261 H).

4. Abdullah bin ‘Amir al-Syami

Nama lengkapnya adalah Abdullah bin ‘Amir bin Yazid bin Tamim bin Rabi’ah al-Yahshabi. Nama panggilannya adalah Abu ‘Amr, ia termasuk golongan Tabi’in. Beliau adalah imam qiraat negeri Syam, lahir pada tahun 8 H, wafat pada tahun 118 H di Damsyik.

Ibn ‘Amir menerima Qira’atdari Mugirah bin Abu Syihab, Abdullah bin Umar bin Mugirah al-Makhzumi dan Abu Darda’ dari Utsaman bin Affan dari Rasulullah SAW.

Di antara para muridnya yang menjadi perawi qiraatnya yang terkenal adalah Hisyam (w. 145 H) dan Ibn Zakwaan (w. 242 H).

5. ‘Ashim al-Kufi

Nama lengkapnya adalah ‘Ashim bin Abu al-Nujud. Ada yang mengatakan bahwa nama ayahnya adalah Abdullah, sedang Abu al-Nujud adalah nama panggilannya. Nama panggilan ‘Ashim sendiri adalah Abu Bakar, ia masih tergolong Tabi’in. Beliau wafat pada tahun 127 H.

Beliau menerima Qira’atdari Abu Abdurrahman bin Abdullah al-Salami, Wazar bin Hubaisy al-Asadi dan Abu Umar Saad bin Ilyas al-Syaibani. Mereka bertiga menerimanya dari Abdullah bin Mas’ud. Abdullah bin Mas’ud menerimanya dari Rasulullah SAW.

Di antara para muridnya yang menjadi perawi qiraatnya yang terkenal adalah Syu’bah (w.193 H) dan Hafs (w. 180H).

6. Hamzah al-Kufi

Nama lengkapnya adalah Hamzah bin Habib bin ‘Ammarah bin Ismail al-Kufi. Beliau adalah imam qiraat di Kufah setelah Imam ‘Ashim. Lahir pada tahun 80 H., wafat pada tahun 156 H di Halwan, suatu kota di Iraq.

Beliau belajar dan mengambil qiraat dari Abu Hamzah Hamran bin A’yun, Abu Ishaq ‘Amr bin Abdullah al-Sabi’I, Muhammad bin Abdurrahman bin Abu Ya’la, Abu Muhammad Talhah bin Mashraf al-Yamani dan Abu Abdullah Ja’far al-Shadiq bin Muhammad al-Baqir bin Zainul ‘Abidin bin Husein bin Ali bin Abi Thalib serta Abdullah bin Mas’ud dari Rasulullah SAW.

Di antara para muridnya yang menjadi perawi Qira’at-nya yang terkenal adalah Khalaf (w. 150 H) dan Khallad (w. 229 H).

7. Al-Kisa’i al-Kufi

Nama lengkapnya adalah Ali bin Hamzah bin Abdullah bin Usman al-Nahwi. Nama panggilannya Abul Hasan dan ia bergelar Kisa’i karena ia mulai melakukan ihram di Kisaa’i. Beliau wafat pada tahun 189 H.

Beliau mengambil Qira’atdari banyak ulama. Diantaranya adalah Hamzah bin Habib al-Zayyat, Muhammad bin Abdurrahman bin Abu Laia, ‘Ashim bin Abun Nujud, Abu Bakar bin’Ilyasy dan Ismail bin Ja’far yang menerimanya dari Syaibah bin Nashah (guru Imam Nafi’ al-Madani), mereka semua mempunyai sanad yang bersambung kepada Rasulullah SAW.

Murid-murid Imam Kisaa’i yang dikenal sebagai perawi yang dikenal sebagai perawi qira>’at-nya adalah al-Lais (w. 240 H) dan Hafsh al-Duuri (w. 246 H).

Untuk melengkapi jumlah Qira’atmenjadi Qira’at‘Asyarah, maka ditambahkan imam-imam Qira’atberikut ini :

8. Abu Ja’far al-Madani

Nama lengkapnya adalah Yazid bin Qa’qa’ al-Makhzumi al-Madani. Nama panggilannya Abu Ja’far. Beliau salah seorang Imam Qiraat ‘Asyarah dan termasuk golongan Tabi’in. Beliau wafat pada tahun 130 H.

Beliau mengambil qiraat dari maulanya, Abdullah bin ‘Iyasy bin Abi Rabi’ah, Abdullah bin Abbas dan Abu Hurairah, mereka bertiga menerimanya dari Ubay bin Ka’ab. Abu Hurairah dan Ibn Mas’ud mengambil qiraat dari Zaid bin Tsabit, dan mereka semua menerimanya dari Rasulullah SAW.

Murid Imam Abu Ja’far yang terkenal menjadi perawi qiraatnya adalah Isa bin Wardaan (w. 160 H) dan Ibn Jammaz (w. 170 H).

9. Ya’qub al-Bashri

Nama lengkapnya adalah Ya’qub bin Ishaq bin Zaid bin Abdullah bin Abu Ishaq al-Hadrami al-Mishri. Nama panggilannya Muhammad. Beliau seorang imam qiraat yang besar, banyak ilmu,shalih dan terpercaya. Beliau merupakan sesepuh utama para ahli qiraat sesudah Abu ‘Amr bin al-‘Alla’. Beliau wafat pada bulan Zul Hijjah tahun 205 H.

Beliau mengambil qiraat dari Abdul Mundir Salam bin Sulaiman al-Muzanni, Syihab bin Syarnafah, Abu Yahya Mahd bin Maimun dan Abul Asyhab Ja’far bin Hibban al-‘Autar. Semua gurunya ini mempunyai sanad yang bersambung kepada Abu Musa al-Asy’ari dari Rasulullah SAW.

Murid sekaligus perawi dari qiraat Imam Ya’qub yang terkenal adalah Ruwas (w. 238 H) dan Ruh (w. 235 H).

Dan masih banyak lg yang lainnya yang tidak mungkin kami sebutkan.

F. Syarat-Syarat Sahnya Qiraat

Para ulama menetapkan tiga syarat sah dan diterimanya qiraat. yaitu :

1) Sesuai dengan salah satu kaidah bahasa Arab.

2) Sesuai dengan tulisan pada salah satu mushaf Usmani, walaupun hanya tersirat.

3) Shahih sanadnya.

Yang dimaksud dengan “sesuai dengan salah satu kaidah bahasa Arab“ ialah: tidak menyalahi salah satu segi dari segi-segi qawa’id bahasa Arab, baik bahasa Arab yang paling fasih ataupun sekedar fasih, atau berbeda sedikit tetapi tidak mempengaruhi maknanya. Yang lebih dijadikan pegangan adalah qiraat yang telah tersebar secara luas dan diterima para imam dengan sanad yang shahih.

Sementara yang dimaksud dengan “sesuai dengan salah satu tulisan pada mushaf Usmani” adalah sesuainya qiraat itu dengan tulisan pada salah satu mushaf yang ditulis oleh panitia yang dibentuk oleh Usman bin ‘Affan dan dikirimkannya ke kota-kota besar Islam pada masa itu.

Mengenai maksud dari “shahih sanadnya” ini ulama berbeda pendapat. Sebagian menganggap cukup dengan shahih saja, sebagian yang lain mensyaratkan harus mutawatir.

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.