PENULISAN SEJARAH

PENULISAN SEJARAH

(THE WRITING OF A HISTORY)

M. Ja’far Nashir, M.Ag

   A.     PENDAHULUAN

Dalam penelitian sejarah, seorang peneliti harus memperhatikan beberapa hal yang berkaitan dengan penelitian. Penulisan sejarah adalah tahap terakhir dimana sejarah tersebut sudah memasuki tahap penyelesaian. Dalam penulisan sejarah sendiri seorang peneliti mempunyai banyak kontribusi, baik dari latar belakang kultur sampai dengan pengaruh lingkungan dimana penulis tersebut berkembang.

Penulisan Babad Jaka Tingkir misalnya, sebagaimana yang akan di paparkan oleh Nancy K. Florida di bawah ini, mempunyai versi (kaca-mata pandang) yang berbeda-beda. Ini dikarenakan penulisan yang dilakukan terdapat dua pandangan dan kultur peneliti yang berbeda, yang satu berasal dari Belanda dan yang satu berasal dari Jawa. Walaupun data dan model penelitian yang digunakan pada dasarnya sama, namun mempunyai banyak perbedaan. Sehingga hasilnyapun mempunyai beberapa perbedaan.

Dalam penulisan sejarah hal semacam itu dikatakan sangat wajar, sebut saja seorang peneliti asal Belanda Snouck Horgroje[1] yang meneliti tentang cultur masyarakat Aceh dengan mempergunakan sistem penelitian Atnografi (penelitian tentang cultur masyarakat tertentu) hasilnya pun akan mempunyai perbedaan dengan peneliti yang lain, walaupun pada hakekatnya (substansinya) sama. Sehingga apa yang harus dilakukan seorang peneliti dalam melakukan Penelitian Sejarah, perlu memperhatikan beberapa hal yang berkaitan dengan sistematikan penelitian sejarah itu sendiri.

Karena seorang peneliti lahir setelah sejarah yang diteliti berlalu, maka tidak menutup kemungkinan ada beberapa hal yang mungkin tidak tercover dalam hasil penelitiannya (terutama dalam penulisan sejarahnya). Sehingga yang terjadi adalah sebagaimana dikatakan Nancy K. Florida, banyak kejanggalan-kejanggalan.

 

  1. B.     PENULISAN SEJARAH (BABAD JAKA TINGKIR)

Penulisan segala hal yang berkaitan dengan dan tentang sejarah terjadi dalam peristiwa sejarah itu sendiri. Penulisan sejarah tradisional Jawa adalah kesadaran diri akan kebenaran lebih dari pada praktek penulisan sejarah dalam era pasca pencerahan di Barat. Proyek ini telah dimengerti sebagai penyajian secara obyektif tentang peristiwa-peristiwa dimasa lalu yang dijelaskan oleh konteks kesejarahan dimana peristiwa itu dianggap benar-benar terjadi. Seperti halnya proyek-proyek sejarah yang disimpulkan pada asumsi absolut atau tidak ada dimasa lampau. Suatu masa dimana diketahui dan dibenarkan dalam penulisan oleh ilmuwan yang keberadaan mereka sendiri berada ditempat di luar sejarah.

Penulisan sejarah Jawa Tradisional muncul untuk memiliki hubungan yang signifikan pada hubungan dimasa lampau. Pengenalan kehidupan dimasa lampau secara historis aktual ketika di tulis. Para penulis sejarah tradisional di Jawa memahami catatan / naskah ini sebagai peristiwa sejarah, dan teks-teks mereka sendiri sebagai konsep-konsep yang indah. Dalam pengenalan sejarah mereka sendiri, para penulis itu secara sadar memperlakukan penulisan untuk menimbulkan akibat pada transformasi sejarah itu sendiri karena secara sadar melakukan penulisan terhadap sejarah itu sendiri.[2]

Lalu, cerita Babad Jaka Tingkir itu apakah sebuah susunan naskah? Bagaimana cerita itu bisa digolongkan penulisan sejarah?

Dalam naskah aslinya “Babad Jaka Tingkir” bercerita tentang cerita unik tentang orang-orang Jawa di masa lampau. Di perpustakaan Istana Surakarta ada buku berjudul : “Kupiya Iber Warna-warni Sampeyan Dalem Kaping VI (Salinan berbagai naskah Yang Mulia Pakubuwano VI) menampilkan arsip diplomatik Raja Surakarta yang diasingkan di tahun 1830, dari cerita inilah latar belakang Babad Jaka Tingkir di ceritakan.

 

Ingkang Sinuhun Kanjeng Sunan (I.S.K.S) Pakubuwana VI

Lahir di tahun 1807 dari istri selir Pakubuwana V. Pakubuwana VI adalah Raja Surakarta dari tahun 1823-1830. ia bukan raja yang populer. Diangkat menjadi raja ketika berusia 16 tahun karena akal bulus ayah angkatnya Sastradiningrat II (data resmi tahun 1812-1846) menjadi seorang raja muda yang penurut yang sering berpakaian belanda. Liutenan gubernur Jenderal H. M. De Kock mengeluh, dia sering pergi berburu dan memancing dan sering berpakaian seperti orang-orang eropa dan istrinya pun demikian juga, maka bisa dikatakan dia melakukan apapun agar tidak populer. Raja yang sedikit cerdas tapi menggali pengetahuan Jawa sedemikian luasnya yang di tulis dengan cerdasnya, Pakubuwana VI di kenal sebagai dalang dan tidak berdansa lualta dengan baik.

Pakubuwana VI naik tahta pada september 1823, tidak lama setelah ayahnya wafat. Setelah pangeran Diponegoro berontak pada Belanda. Saat itu Raja Surakarta itu sudah berumur 18 tahun. Pangeran Diponegoro yang memiliki dukungan besar dalam perjuangannya oleh sejumlah besar bangsawan dan ulama. Perang Diponegoro yang berlangsung 5 tahun memberi tekanan sering pada Belanda dan hegemoninya di Jawa. Meski Pakubuwana VI mendukung Belanda melawan pemberontakan itu tapi bagaimanapun juga ia bersimpati dan diam-diam membantu Pangeran Diponegoro.

Pakubuwana VI di tangkap di bulan juni 1830 pada usia 23 tahun di pantai Selatan Jawa di mana dia sedang bersemedi untuk Ratu Kidul. Sang raja kemudian diasingkan ke pulau yang jauh di Ambon + 1.200 mil di timur Jawa Tengah. Bersama istrinya Ratu Anom dan satu adik perempuannya. Setelah pengasingan Pakubuwana VI, Pengeran Purbaya pamannya diangkat Belanda sebagai Pakubuwana VII (1830-1858) dimana kekuatan politik Surakarta melemah. 15 tahun perang melemahkan rakyat Jawa. Saat itu penduduk Jawa 7 juta dan perang telah menghabiskan penduduk (gugur) 200.000 dan Jogja setengahnya. Setelah perang, dibawah Kultur Stelsel (sistem tanam paksa) penduduk Jawa dipaksa menanam padi untuk ekspor dimana seluruh keuntungannya masuk ke kas Belanda. Tahun 1830 adalah tahun-tahun penderitaan orang-orang Jawa, menandai berakhirnya kekuatan politik para bangsawan.

Pakubuwana VI tidak pernah diijinkan kembali ke Surakarta, dia meninggal di pengasingan di tahun 1849 di usia 42 tahun. Jenazahnya tidak di pulangkan ke Jawa sampai tahun 1957 setelah Indonesia merdeka. Bulan desember 1830, 6 tahun setelah penangkapannya, anak laki-lakinya lahir oleh istri yang dia tinggalkan di Surakarta. Anak laki-lakinya itu yang pernah melihat ayahnya yang nantinya menjadi Pakubuwana IX (1861-1893). Lebih dari 100 tahun setelah kematiannya Pakubuwana VI ditetapkan sebagai pahlawan Nasional Indonesia dengan Keppres tahun 1964.[3]

Dalam penulisan Babad Jaka Tingkir tersebut di atas, menurut Nancy K. Florida ada beberapa perbedaan dari yang di tulis di Ambon yang sekarang berada di perpustakaan kraton Surakarta dengan tulisan yang ada di Belanda. Berikut beberapa catatan yang dilakukan oleh Nancy K. Florida tentang penulisan Babad Jaka Tingkir. Yang penjelasannya dibagi dalam beberapa bagian, antara lain : (1) Naskah; (2) Kumpulan; (3) Kumpulan lain dan Salinannya; (4) Surat Menyurat dalam Pengasingan;  (5) Penanggalan dan Asal Mula Babad Jaka Tingkir; (6) Sisipan; dan (7) Penanggalan dan Situasi Naskah Sejarah.

a)      Naskah

Catatan-catatan tentang Pakubuwana VI dalam naskah ukuran 34,5 x 22 cm sebanyak 304 halaman (152 bolak-balik). Teks asli 5 halaman isi ejaannya mengacu pada kesepakatan abad ke-19 Surakarta, yang dicetak dalam kertas eropa ringan.

Bungkus naskahnya berbeda, papannya ditutup dengan kain putih dan yang belakang dengan beludru merah. Cocok dengan motif bendera kerajaan di Jawa “Merah Putih / Gula Kelapa”. Penggunaan motif ini sangat jarang. Dalam naskah yang berjudul Serat Rama : “Tilaran Dalem Sampeyan Dalem I.S.K.S Pakubuwana Kaping VI”, naskah itu adalah salinan Almarhum Yosodipuro pada abad ke 18 macapat Serat Rama, yang ditulis di Surakarta dan di simpan di perpustakaan di Istana Surakarta yang dibuat di Ambon. Penyalinan tersebut ditugaskan oleh Pakubuwana VI (dalam pengasingan) bulan mei 1846, 3 tahun setelah kematiannya (Juni 1849), lalu oleh istri dan anak-anaknya dibawa ke Jawa pada bulan juni 1850.

b)      Kumpulan

Yang Mulia Pakubuwana VI” yang berisi 63 item-item kontekstual adalah Babad Jaka Tingkir yang paling panjang. Sebanyak 61 halaman adalah berbahasa Jawa dan berhubungan dengan keluarga keraton Surakarta. Kebanyakan dokumen asli dari sana. Dokumen-dokumen kerajaan yang termasuk adalah surat raja-raja berikut ini “Pakubuwana V (1820-1823), Pakubuwana VI (1823-1830), Pakubuwana VII (1830-1858). Bagian terbesar dari surat menyurat ini berisi surat-surat dari raja-raja ke pejabat Hindia Belanda, Sultan Yogyakarta dan sejumlah bangsawan Surakarta yang Isi suratnya bersifat resmi. Surat resmi terakhir ditulis dengan macapat oleh Pakubuwana VI, satu oleh anak perempuannya yang mengikutinya di pengasingan (Gusti Raden Ayu Timur), satu oleh anak laki-lakinya (Pakubuwana IX) dan satu oleh saudara laki-lakinya.

Isi terbuka dengan satu salinan lengkap tentang kekuasaan tahun 1812 antara penguasa keraton Surakarta dan Pemerintah Kolonial Inggris. Pada masa ini Sir Stamford Rafless, melakukan tekanan pada raja Surakarta melakukan pengontrolan militer, pasar, hak atas keraton dan sejumlah lahan. Penguasaan Inggris tahun 1812 untuk mendirikan sebuah yayasan pada abad 19 untuk menjalin hubungan dengan Pemerintah Belanda.

c)      Kumpulan Lain dan Salinannya

Kebanyakan surat-surat berbahasa Jawa dalam bentuk naskah dan teks cetakan. Satu buku di rak keraton Surakarta diterbitkan pertama di Netherland tahun 1845. buku dari T. Roorda’s tentang surat-surat, catatan, laporan, petisi, proklamasi, publikasi, tanda terima, dokumen resmi, kontrak dan dokumen lain yang serupa, diterbitkan dari naskah, surat dan lain-lain, diketahui dari Brieven Boek. Melengkapi koleksi 233 dokumen bahasa Jawa dari tahun 1812 s.d. 1843 dihasilkan dari Teks Book pendidikan bahasa Jawa untuk pegawai sipil Belanda. Roord’s membuka dengan :

“Tidak perlu untuk membuang banyak kata untuk menunjukkan kegunaan dan kepentingan koleksi ini pada siswa-siswa Jawa, institusi-institusinya, tapi kebanyakan belajar dalam persiapan menjadi pegawai di Pemerintahan Hindia Belanda.”[4]

 

Roorda’s yang tidak pernah menginjakkan kakinya di Jawa mendapatkan dokumen-dokumen dari Surakarta karena dia adalah seorang Profesor. Dalam pembukaan dokumennya dia melanjutkan untuk mengetahui 3 individu yang menyediakan mayoritas 233 dokumen yang lengkap. Penerusnya yang bernama Baron Nahuys Van Burgst (Residen Surakarta tahun 1820-1822 dan 1827-1830), JFC Gericke (sarjana Sastra Jawa, penerjemah kitab suci dan direktur Institut Bahasa Jawa Surakarta) dan CF.Winter Sr.  (pustakawan, sarjana sastra Jawa, penerjemah resmi untuk residen Surakarta dan Wakil Direktur dari Institusi di atas)

Terbitan Belanda kadang-kadang terlihat kabur dan tidak dikenal. Perbandingan hati-hati diantara 2 isi naskah (Belanda dan Jawa) memunculkan kenyataan bahwa 47 dokumen salinan naskah keraton Surakarta sama dengan dokumen yang ditampilkan dalam terbitan Belanda. 9 dokumen yang pertama dari “Yang Mulia Pakubuwana VI” mengikuti rangkaian 9 dari 11 dokumen Brieven Boek.

Dari 2 teks, (1 terbitan Belanda dan lainnya naskah arsip istana yang lebih asli. Tentu prioritas adalah terbitan Belanda), 47 dokumen yang setara terbitan Belanda belum dapat dikopi dari naskah istana seperti yang ditunjukkan dalam “Yang Mulia Pakubuwana ke VI” yang ditulis 3 atau 4 tahun setelah penerbitan Brieven Boek.

Brieven Boek membandingkan beberapa dokumen 233 hanya 47 yang setara dengan  “Yang Mulia Pakubuwana ke VI”. 186 dokumen terbitan tidak di naskah keraton sebagai akibat dari hubungan kenangan yang erat antara para bangsawan keraton dan penduduk Cina.

d)      Surat Menyurat dalam Pengasingan

Dari 47 items dalam “Yang Mulia Pakubuwana ke VI” ada 16 dokumen tambahan, tidak ada yang bisa ditemukan dalam Brieven Boek. Dokumen-dokumen ini ada 47 surat kerajaan yang dimiliki saat pengasingan Pakubuwana VI dengan huruf Jawa yaitu Babad Jaka Tingkir.

Fokus dari ke 14 dokumen itu cenderung semi resmi dari pada 47 dokumen sebelumnya. Surat-surat ini cenderung mengirimkan informasi pribadi dari pada salinan dokumen Brieven Boek. Enam dari surat-surat ini dari permulaan pengasingan raja di tahun 1830, isinya menyatakan ketidak-berdayaan situasi.

  • ·        Tanggal 11 juni 1830, 3 hari setelah Pakubuwana VI ditangkap, Saudara Tua Raja, Residen Nahuys menulis bahwa tidak ada waktu untuk mengunjungi raja dalam penjara (item 48).
  • ·        Dalam surat tanggal 1 juli salah satu dari paman Pakubuwana VI menggambarkan padanya tentang penobatan Pakubuwana VI (item 53).
  • ·        Dalam surat perpisahan november 1830, Pakubuwana yang baru (PB VII) menginformasikan Pakubuwana VI menolak dilayani. Pakubuwana yang baru (PB VII) terus melaporkan bahwa tidak satupun dari istri-istrinya mau menemaninya di pengasingan kecuali Ratu Anom. (item 49-50)

Delapan dokumen yang tersisa dari tahun 1847 dan 1848 waktu yang pendek setelah publikasi tahun 1845 sampai dengan kematian raja di tahun 1849.

  • ·        Surat penuh air mata pada sang Pakubuwana VI oktober 1847 (item 57)
  • ·        Saudara laki-laki Pakubuwana VI menulis untuk mengetahui bahwa tanda terima, hadiah-hadiah sang raja untuk istana (dimana 4 dari isi hadiahnya adalah 4 gigi Pakubuwana VI dipengasingan).
  • ·        Menjawab surat itu di bulan juni 1848 (item 58) Pakubuwana VI menamai dirinya sendiri sebagai I.S.K.S. (H.R.H) Sayyidi Maulana Mokahamat Salim, menggambarkan bagaimana menderita keadaannya. Menulis dalam gubuk reot ditengah ladang kering, berusia 41 tahun sang raja sudah merasa sangat tua.
  • ·        Pakubuwana VI mengirim surat cinta (item 59) pada salah satu istri yang ditinggalkannya di Surakarta, sebuah sarung yang telah dia pakai yang mungkin dia pakai juga sebagai bantal untuk istrinya yang lain.
  • ·        Mantan raja ini menulis pada tanggal 27 juli 1848 bahwa aku mungkin tidak lama lagi di dunia, hidupku tanpa harapan dan lebih baik aku mati. Dia memerintahkan untuk merawat anaknya (nantinya Pakubuwana IX) dan menasehatinya untuk mendidiknya dengan pendidikan agama Islam (item 60).
  • ·        Item terakhir adalah surat dari Gusti Timur (anaknya yang mengikutinya di pengasingan) untuk adik tengahnya Pangeran Prabu Wijaya (nantinya Pakubuwana IX). Tertulis tanggal 4 Jimawal 1848, dengan lirik yang indah, sang Putri menjamin adiknya untuk mendahuluinya menikah.

Diantara 2 surat tidak ada yang menaruh perhatian pada pengasingan. Nama Pakubuwana VI dalam huruf arab menggambarkan kebangsawanan.

 

e)      Penanggalan dan Asal mula Babad Jaka Tingkir

Naskah paling lama dari 63 dokumen bersejarah berisi 143 halaman naskah dari 304 yang ada, berisi puisi-puisi indah yang menggambarkan kondisi Jawa di masa lalu di abad ke-16, siapa penulis dan kapan atau dimana sejarah itu ditulis tidak ada yang tahu. Isi dokumen itu antara lain :

Hari minggu ketika penulisan sejarah itu dimulai

20 detik safar

Pada serangan ke sebelas

Bintang terang adalah Jupiter saat itu

Pada tahun jim awal

Pada putaran tahun 8 sancaya

Bulan ketiga tahun matahari

Ke 16 dalam konogram : “orang sempurna yang jahat di dunia”

Di tahun Hijrah Nabi, : “orang bijak di dunia”

Di bulan agustus Belanda pada 23 bulan yang diberikan.[5]

 

Masing-masing penanggalan, sesuai dengan konvensi tidak dalam bentuk angka tapi sangkala (kronogram). Sangkala adalah “aphoristik pharases” kata-kata yang jika dibaca terbalik, adalah sistem logis dari sebuah konvensi berisi nilai-nilai angka yang berbeda untuk menyediakan data dalam sangkala menandai peringatan dalam waktu. Sangkala bekerja untuk membuat waktu menjadi tepat. Pada tempat pertama, meminta perhatian pada mereka sendiri sebagai kode-kode yang bermakna yang harus dibaca. Sangkala memberikan sebuah konteks dalam waktu yang bermakna. Ini karena nama Sangkala adalah jenis waktu tertentu yang tanggali olehnya. Untuk menandai beberapa event dalam Sangkala ditandai dengan peringatan atau pengingatan.

Jumlah yang berlebihan pada sistem itu semua memutar bersama-sama untuk memperingati sebuah moment atau peristiwa (jam 11 pagi minggu 23 agustus 1829). Mengacu istilah ilmiah tentang kebenaran. Namun kebenaran sangat kontraktif antara tanggal di atas. Tanggal Jawa 22 safar jimawal 1757 jatuh pada windu Sangara bukan Sancaya. Dan tahun Hijrah 1245 bukan 1237. tanggal 22 Safar 1237 AH adalah 22 Safar Jimawal 1749, Windu kunthara dan 18 november 1812 M. Tanggal 16 bulan ketiga Jawa adalah 9/10 september, lebih dari 23 agustus.

Penetapan dari minggu sejarah dimulai menggambarkan lokasinya diwaktu lampau. Dengan kata DUK, menandai waktu lampau. Idiom linguistik dan puitis di mana sejarah berlangsung dalam sebuah tradisi di kota Surakarta adalah kenyataan yang harus dilihat dalam penulisan sejarah. Gaya pencerahan ala Surakarta pada abad pertengahan ke 19.

f)       Sisipan

Dua puluh lima (25) halaman Babad Jaka Tingkir adalah halaman yang disisipkan pada 3 lembar kertas, 3 permukaan kertas adalah kosong. Ada gambar Gubernur Jenderal yang disimpan di perpustakaan Mangkunegaran adalah contoh gambar dari semua naskah besar yang ada. Lembar ketiga berisi : Ini adalah peringatan mimpi yang Mulia pada Bulan Maulud, di tahun Wuku tahun 1777 (Pebruari 1849)

Tinta pertama yang dipakai adalah sebuah gambar dengan tinta itu, dimana gambar terlihat dari depan mengenakan jubah, turban dan mendali besar dalam bentuk bintang segi delapan. Sedang gambar Pangeran Purbaya, Sultan Malikul Saleh Banjarmas mengenakan kanigura Fez dan busana Sikepan Ageng, di dada ada tanda bintang Kanjeng Kyai Suryawasesa.

Di belakang 2 tokoh kecil dengan berpakaian jaket militer dengan lencana emas di leher dan dhestar Jawa. Ini adalah Pangeran Purbaya paman dan musuh Pakubuwana VI. Berikutnya adalah gambar Pangeran Harya Mangkubumi Mataram. Adik Pakubuwana IV paman Pakubuwana VII, paman Pakubuwana VI. Mangkubumi diasingkan ke Ambon karena anti Eropa. Tahun 1825 Dia diijinkan kembali ke Surakarta dan meninggal tahun 1826. selama hidup dia tinggal bersama anak laki-lakinya yang namanya sama. Dia adalah ipar dan sepupu Pangeran Purbaya.

Dari 233 dokumen yang dibandingkan dengan Javanesh Brieven Book satu yang tidak bertanggal. Namun dari sebuah survey dalam komplikasi ini tanggal ruwah 1776. 2 surat ditulis oleh Pakubuwana VI sendiri lainnya oleh Gusti Ayu Timur, surat tersebut berisi mimpi-mimpi Raja dalam bulan pebruari 1849.

g)      Penanggalan dan SituasiNaskah Sejarah

Karena hubungannya dengan teks sebelumnya, naskah Babad Jaka Tingkir disusun di Ambon antara agustus 1848 dan juni 1850. naskah sejarah ini mengikuti salinan surat Pakubuwana VI pada tanggal 27 juli 1848. 25 halaman teks sejarah ini terbagi oleh gambar-gambar. Juni 1950 saat keluarnya Pakubuwana VI kembali ke Jawa mereka membawa naskah-naskah itu ditangan.

Bagaimana naskah itu di produksi atau dibuat? Dari pengasingannya di Ambon penulis Jawa bekerja dari berbagai sumber-sumber untuk mengumpulkan naskah itu. Dalam salinan naskah di Ambon itu diketahui ada kontradiksi tanggal, yang satu berasumsi bahwa indikasi adanya tahun hijriyah dan lainnya tahun windu tahun 1829.

 

  1. C.     ANALISIS

Sebelum kita berbicara tentang bagaimana Penulisan Sejarah yang disampaikan Nancy K. Florida tersebut diatas, terlebih dahulu kita harus mengerti dan memahami Apa itu Penelitian? Apa itu Sejarah? dan Bagaimana tahapan-tahapan dalam Penelitian Sejarah?. Penelitian secara sederhana diartikan sebagai pemeriksaan yang teliti atau penyelidikan/ dalam aplikasinya, istilah tersebut terkadang diidentikkan dengan metode ilmiah, karena banyaknya elemen yang relatif sama diantara keduanya.[6] Secara terminologis, penelitian pada dasarnya adalah usaha untuk menemukan, mengembangkan dan menguji kebenaran suatu pengetahuan yang dilakukan dengan menggunakan metode-metode ilmiah.[7]

Adapun Sejarah (History) menurut definisi umum adalah berarti masa lampau umat manusia.[8] Secara terminologis, sejarah memiliki dua pengertian, yakni sejarah dalam arti subyektif dan sejarah dalam arti obyektif. Sejarah dalam arti subyektif atau sejarah sebagai gambaran (disebut juga history as written) adalah cerita, uraian, hasil renungan pikiran seseorang (mind of man) yang merupakan hasil rekonstruksi secara narrative, berdasarkan atas hasil pandangan, pendekatan, teori dan metode yang dianut (oleh seseorang) dari gejala empiris masa lampau.[9] Sedangkan dalam arti obyektif, sejarah menunjuk kepada kejadian atau peristiwa itu sendiri, yaitu proses sejarah dalam aktualisasinya.[10] Selanjutnya, jika kedua istilah tersebut digabungkan menjadi satu istilah (penelitian Sejarah), maka berarti kajian logik terhadap peristiwa-peristiwa setelah peristiwa itu terjadi.

Setelah kita memahami apa itu penelitian Sejarah, maka tahap selanjutnya adalah memahami bagaimana tahapan dalam penelitian Sejarah. Sebagaimana penelitian yang lain, penelitian sejarah dimulai dari penemtuan topik penelitian yang secara kongkrit dirumuskan dalam sebuah permasalahan penelitian. Dalam penentuan topik penelitian tersebut, secara praktis Louis Gottaschalk memberikan acuan empat pertanyaan yang harus dijawab oleh calon peneliti : (1) Pertanyaan yang bersifat geografis (“di mana”); (2) Pertanyaan yang bersifat biografis (“siapa”); (3) Pertanyaan yang bersifat kronologis (“kapan”); dan (4) Pertanyaan yang bersifat fungsional atau okupasional (“apa”).

Apabila topik dan permasalahan penelitian telah terumuskan, maka seorang peneliti baru bisa memasuki tahap-tahap penelitian sejarah yang menurut sejarawan dibagi menjadi empat tahap, yaitu : 1) Heuristik,; 2) Kritik; 3) Interpretasi; dan 4) Historiografi.[11]

Heuristik, adalah menghimpun bukti-bukti sejarah (sumber-sumber sejarah). Sumber-sumber tersebut dapat dikategorikan menjadi dua, yakni sumber primer (primary sources) adalah saksi mata dari suatu peristiwa, dalam penelitian sejarah dibagi menjadi dua, yaitu : Record adalah kesaksian mata yang disengaja, dan Relics adalah rekaman peristiwa yang tidak dimaksudkan untuk kerekam peristiwa, sejarah seperti neraca keuangan, bahada dan tradisi masyarakat;[12] dan sumber sekunder (secundary sources) adalah sumber yang mengutip dari sumber lain atau sumber yang disampaikan oleh yang bukan saksi mata.

Kritik, setelah melewati heuristik seorang peneliti memasuki tahap berikutnya yaitu kritik yang pada umumnya dibagi dalam dua fase, (1) Kritik Ekstern, dilakukan untuk meneliti keaslian atau otentisitas sumber data, apakah sumber itu asli atau salinan; (2) Kritik Intern, yaitu berusaha mengetahui tingkat kredibilitas atau kebenaran isi (data) dari sumber data yang dipergunakan.

Dalam kaitannya dengan kritik terhadap sumber data, kita dapat melihat bahwa apa yang ditulis oleh Roorda’s (seorang peneliti sekalgus profesor Belanda) tentang sejarah Babad Jaka Tingkir – versi Belanda, sebagaimana yang dijelaskan Nancy K. Florida kurang dapat dipertanggung jawabkan, sebab sumber data yang diperoleh walaupun berasal dari Jawa keontetikannya perlu dipertanyakan. Apalagi sebagai seorang penulisan sejarah Roorda’s tidak pernah datang langsung ke Jawa bahkan ia tidak pernah tahu Jawa. Sehingga apa yang ditemukan Nancy K. Florida ketika membandingkan dengan tulisan orang Jawa tentang “Babad Jaka Tingkir” ada perbedaan-perbedaan.

Interpretasi, merupakan upaya menafsirkan fakta-fakta sejarah, sehingga ditemukan struktur logisnya berdasarkan fakta yang ada. Fakta sejarah yang telah ditemukan perlu dikaitkan satu sama lain, sehingga terjadi rekonstruksi sejarah.

Historiografi, adalah tahap terakhir dalam penelitian sejarah. Secara literal historiografi berarti penulisan sejarah. Secara terminologis, historiografi didefinisikan sebagai rekonstruksi imajinatif terhadap masa lampau berdasarkan data yang diperoleh dengan cara menguji dan menganalisis secara kritis rekaman dan peninggalan masa lampau tersebut.[13] Tahap historiografi ini dalam penelitian sosial pada umumnya barangkali identik dengan penulisan laporan penelitian.

Pada tahap historiografi ini perlu diperhatikan cara-cara sebagai berikut :

  1. a.       Menyeleksi fakta yang relevan dan penting;
  2. b.      Membuat urutan-urutan peristiwa (serialisasi);
  3. c.       Menyusun fakta berdasar urut-urutan waktu (kronologi);
  4. d.      Mencari hubungan sebab akibat dari peristiwa yang satu dengan lainnya (dekausasi); dan
  5. e.       Mencari jalinan dari berbagai fakta yang ditemukan (imajinasi).

Dalam penulisan sejarah, agar sesuai dengan pengertian sejarah yang sebenarnya, yaitu sejarah sebagai ilmu, terdapat pembatasan-pembatasan tertentu tentang peristiwa masa lampau itu. Menurut Taufik Abdullah, ada empat hal yang membatasi peristiwa masa lampau itu sendiri.[14] Pertama, pembatasan yang menyangkut dimensi waktu; Kedua, pembatasan yang menyangkut peristiwa; Ketiga, pembatasan yang menyangkut tempat; dan Keempat, pembatasan yang menyangkut seleksi.

Penulisan sejarah adalah usaha rekonstruksi peristiwa yang terjadi di masa lampau.[15] Penulisan ini bagaimana-pun baru dapat dikerjakan setelah dilakukan penelitian, karena tanpa penelitian penulisan menjadi rekonstruksi tanpa pembuktian. Baik dalam penelitian dan penulisan membutuhkan keterampilan. Dalam penelitian dibutuhkan kemampuan untuk mencari, menemukan, dan menguji sumber-sumber yang benar. Sedangkan dalam penulisan dibutuhkan  kemampuan menyusun fakta-fakta, yang bersifat fragmentaris itu, ke dalam suatu uraian yang sistematis, utuh, dan komunikatif. Ini yang mungkin tidak dilakukan Roorda’s sehingga apa yang ia tulis banyak sekali tidak ada kaitannya dengan sesuatu yang berlangsung / terjadi pada saat itu (sebagaimana dijelaskan oleh Nancy K. Florida).

Disamping itu ada beberapa faktor tertentu yang mempengaruhi penulisan sejarah. Seorang sejarawan memandang suatu peristiwa, biasanya dari sudut pandang tertentu. Dengan demikian, gambaran yang dihasilkan tidak utuh. Dari sini muncul persoalan tentang obyektivitas dan subyektivitas. Ada beberapa faktor yang membatasi obyektivitas sejarah, yaitu :

1)      Sejarawan menulis sejarah untuk tujuan tertentu. Misalnya, sejarawan menulis sejarah atas permintaan raja. Oleh karena itu terjadi proses selektivitas tertentu. Tujuan itu bisa untuk kepentingan pribadi, atau untuk meningkatkan kehormatan bangsa atau golongannya. Namun sejarah dapat juga ditulis sesuai dengan pesanan di samping dapat pula ditulis atas inisiatif sejarawan sendiri.

2)      Sejarawan dalam menulis sejarah dipengaruhi oleh lingkungan budayanya, karena setiap sejarawan hidup dalam lingkungan budaya tertentu (golongan, bangsa, dan lain sebagainya). Misalnya, di Eropa masa silam, sejarawan atau para penulis sejarah adalah agamawan, oleh karena itu karya-karya sejarah penuh dengan peristiwa-peristiwa keagamaan.

3)      Sejarawan dipengaruhi oleh etnosentrisme. Misalnya, para penulis yang berasal dari Belanda menulis sejarah Indonesia dari sudat pandang Belanda pada masa penjajahan dulu.[16]

Pengaruh tujuan penulisan, lingkungan budaya, dan etnosentrisme ini tidak dapat dihilangkan sama sekali, tetapi dalam penulisan sejarah yang baik pengaruh-pengaruh ini harus dapat dikurangi menjadi sekecil mungkin. Dengan menggunkan konsep inilah Nancy K. Florida mengkritik terhadap penulisan “Babad Jaka tingkir” yang ditulis oleh dua penulis yang berbeda (satu berada di Belanda dan yang satu berada di Jawa)

 

 

 

  1. D.    KESIMPULAN

Dari beberapa analisis tersebut di atas dapat disimpulkan sebagai berikut :

(1)   Bahwa dalam penulisan sejarah “Babad Jaka Tingkir”, menurut Nancy K. Florida terdapat dua versi, yang masing-masing mempunyai substansi yang sama yaitu penulisan sejarah kerajaan Mataram (Pakubuwana V, Pakubuwana VI, dan Pakubuwana VII)

(2)   Dalam penelitian sejarah menurut sejarawan ada empat tahapan yang harus dilakukan, antara lain : 1) Heuristik,; 2) Kritik; 3) Interpretasi; dan 4) Historiografi

(3)   Sebagai tahap terakhir dalam penelitian sejarah, penulisan sejarah (Historiografi) mempunyai posisi yang sangat menentukan. Untuk itu pada tahap ini ada beberapa cara yang harus diperhatikan, antara lain : Menyeleksi fakta yang relevan dan penting; Membuat urutan-urutan peristiwa (serialisasi); Menyusun fakta berdasar urut-urutan waktu (kronologi); Mencari hubungan sebab akibat dari peristiwa yang satu dengan lainnya (dekausasi); dan Mencari jalinan dari berbagai fakta yang ditemukan (imajinasi).

(4)   Dalam penulisan sejarah, faktor penting lainnya adalah obyektifitas dan subyektifitas seorang penulis sejarah. Dari sini ada beberapa faktor yang mempengaruhi obyektifitas sejarah, antara lain : (a) Sejarawan menulis sejarah untuk tujuan tertentu; (b) Sejarawan dalam menulis sejarah dipengaruhi oleh lingkungan budayanya; dan (c) Sejarawan dipengaruhi oleh etnosentrisme;

(5)   Untuk itu sebagai seorang sejarawan, sebisa mungkin memperhatikan sistematika dan obyektifitas dalam penelitian dan penulisan sejarah.

 

 

 


DAFTAR PUSTAKA

 

 

Gottschalk Louis, Understanding History : A Primer of Historical Methode, diterjemahkan oleh Nugroho Notosusanto dengan judul Mengerti Sejarah (Cet. IV), Jakarta, UI Press, 1985.

H. Badri Yatim, Drs. MA, Historiografi Islam, Jakarta, Logos Wacana Ilmu, 1997.

Hariyono, Mempelajari Sejarah Secara Efektif, Cet. I, Jakarta, Pustaka Jaya, 1995.

Herman Warsito, Pengantar Metodologi Penelitian, Jakarta, Gramedia Pustaka Utama, 1992.

Jalaludin Rakhmad, Metodologi Penelitian Komunikasi, Cet II, Bandung, Remaja Rosda Karya, 1993.

John W. Best, Research in Education, diterjemahkan oleh Sanapiah Faisal dan Mulyadi Guntur dengan judul Metodologi Penelitian Pendidikan, Surabaya, Usaha Nasional, 1982

Nancy K. Florida, History as Prophecy in Colonial Java.

Penjelasan Prof. Dr. James Rush Dalam Kuliah Penelitian Sejarah Kelas Non-Reguler Anggatan 2004 di Pasca Sarjana IAIN Walisongo Semarang tahun Akademik 2004/2005 hari : Sabtu, tanggal : 26 Maret 2005 mengenai Opium To Java (Candu Tempo Doloe).

Sartono Kartodirdjo et al, Metode Ilmiah Sejarah dan Penelitian Sejarah (dalam Parsudi Suparlan, Pengetahuan Budaya, Ilmu-ilmu Sosial dan Pengkajian Masalah-masalah Agama), Jakarta, Litbang Depag, 1982.

Sartono Kartodirdjo, Pendekatan Ilmu Sosial dalam Metodologi Sejarah. Jakarta, Gramedia Pustaka Utama, 1992.

Taufik Abdullah dan Abdurrachman Surjomihardjo (Ed), Ilmu Sejarah dan Historiografi : Arab dan Perspektif, Jakarta, PT. Gramedia, 1985.


[1] Penjelasan Prof. Dr. James Rush Dalam Kuliah Penelitian Sejarah Kelas Non-Reguler Anggatan 2004 di Pasca Sarjana IAIN Walisongo Semarang tahun Akademik 2004/2005 hari : Sabtu, tanggal : 26 Maret 2005 mengenai Opium To Java (Candu Tempo Doloe).

[2] Nancy K. Florida, History as Prophecy in Colonial Java, hlm. 52.

[3] Ibid., hlm. 57

[4] Ibid., hlm. 62

[5] Ibid., hlm. 66

[6] John W. Best, Research in Education, diterjemahkan oleh Sanapiah Faisal dan Mulyadi Guntur dengan judul Metodologi Penelitian Pendidikan, Surabaya, Usaha Nasional, 1982. hlm 27-28.

[7] Herman Warsito, Pengantar Metodologi Penelitian, Jakarta, Gramedia Pustaka Utama, 1992. hlm 06.

[8] Gottschalk Louis, Understanding History : A Primer of Historical Methode, diterjemahkan oleh Nugroho Notosusanto dengan judul Mengerti Sejarah (Cet. IV), Jakarta, UI Press, 1985. hlm.27.

[9] Sartono Kartodirdjo et al, Metode Ilmiah Sejarah dan Penelitian Sejarah (dalam Parsudi Suparlan, Pengetahuan Budaya, Ilmu-ilmu Sosial dan Pengkajian Masalah-masalah Agama), Jakarta, Litbang Depag, 1982. hlm. 95.

[10] Sartono Kartodirdjo, Pendekatan Ilmu Sosial dalam Metodologi Sejarah. Jakarta, Gramedia Pustaka Utama, 1992. hlm. 15.

[11] Hariyono, Mempelajari Sejarah Secara Efektif, Cet. I, Jakarta, Pustaka Jaya, 1995. hlm. 109.

[12] Jalaludin Rakhmad, Metodologi Penelitian Komunikasi, Cet II, Bandung, Remaja Rosda Karya, 1993. hlm. 23.

[13] Louis Gottschalk, Op_Cit., hlm. 102.

[14] Taufik Abdullah dan Abdurrachman Surjomihardjo (Ed), Ilmu Sejarah dan Historiografi : Arab dan Perspektif, Jakarta, PT. Gramedia, 1985. hlm. x-xii.

[15] Drs. H. Badri Yatim, MA, Historiografi Islam, Jakarta, Logos Wacana Ilmu, 1997. hlm. 03.

[16] Ibid., hlm. 07.

Tentang iroelizzta

santai tapi pasti

Posted on 7 April 2012, in sejarah peradaban islam. Bookmark the permalink. Tinggalkan komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: