MASUKNYA ISLAM KE INDONESIA

MASUKNYA ISLAM KE INDONESIA

I.    PENDAHULUAN.

 Sejarah telah mencatat bahwa semua agama, baik agama samawi atau agama wadl’i disiarkan dan dikembangbiakkan oleh para pembawanya yang disebut utusan Tuhan dan oleh para pengikutnya. Mereka yakin bahwa kebenaran dari Tuhan itu harus disampaikan kepada umat manusia untuk menjadi pedoman hidup.

Para penyebar agama banyak yang menempuh jarak jauh dari tempat tinggal dan kelahirannya sendiri demi untuk menyebarkan dan menyampaikan ajarannya. Misalnya Nabi Ibrahim berhijrah dari daerah Babylonia menuju Palestina,Mesir dan Mekkah. Nabi Musa pulang balik dari Mesir dan Palestina. Nabi Isa hijrah dari Bait Lahm ke Yerussalem dan Nabi Muhammad hijrah dari Mekkah ke Madinah. Para pemeluk agama menyebarkan lagi ke tempat tempat yang jauh secara langsung atau secara beranting ( estafet ) sehingga agama – agama sekarang telah tersebar ke seluruh pelosok dunia.

Di antara agama-agama besar di dunia ini adalah Yahudi, Nasrani, Islam, Hindu, dan Budha, tetapi yang paling luas dan banyak pengikutnya ialah Nasrani dan Islam. Hal tersebut tentu berhubungan dengan usaha penyiarannya oleh para pemeluknya.

Usaha penyiaran agama pasti menghadapi rintangan, hambatan, gangguan bahkan ancaman yang berat, itulah sebabnya maka kadang-kadang penyiaran suatu agama berjalan lancar, kadang-kadang tersendat – sendat dan mengalami kemacetan walaupun tidak total.

Pengembangan dan penyiaran agama Islam termasuk paling dinamis dan cepat dibandingkan dengan agama – agama lainnya.[1] Termasuk akselarasi dan dinamika penyebaran agama Islam di Indonesia yang akan kami bahas dalam makalah ini.

 

II.                  PEMBAHASAN.

 A.     Masuknya Islam Ke Indonesia.

 Mengenai peran perdagangan dan para pedagang dalam mengislamkan Indonesia, dimana pengaruh dan penyebaran Islam sangat efektif sekali. Hal ini disebabkan karena banyak orang yang begitu saja tertarik untuk memeluk agama Islam sebelum mempelajari syari’at agamanya secara rinci dan mendalam. Di tambah pula dengan sikap masyarakat pada umumnya yang tidak suka berfikir lama dan mengadakan pembahasan yang dalam mengenai masalah aqidah, cukup dengan melihat dan mengamati tingkah laku yang diperagakan oleh mereka yang telah memeluk Islam, baik dalam melaksanakan ajaran aqidahnya maupun dapat melaksanakan akhlak dan ajarannya di tengah-tengah masyarakat, mereka sudah tertarik dan ingin memeluk Islam. [2]

Tentang masuknya Islam di Indonesia ada beberapa pendapat dari para ahli diantaranya :

  1. Pendapat pertama yang dipelopori oleh sarjana-sarjana orientalis Belanda di antaranya Snouck Hurgronje yang berpendapat bahwa agama Islam datang ke Indonesia pada abad ke-13 M dari Gujarat ( bukan dari Arab langsung ) dengan bukti ditemukannya makam Sultan yang beragama Islam Pertama yakni Malik As-Sholeh, raja pertama kerajaan Samudera Pasai yang di katakan berasal dari Gujarat.
  2. Pendapat kedua di pelopori sarjana-sarjana muslim, di antaranya Prof Hamka yang mengadakan seminar “sejarah masuknya Islam ke Indonesia” di Medan pada tahun 1963, Hamka dan teman-temannya berpendapat bahwa Islam sudah datang ke Indonesia pada abad pertama Hijriyah           ( kurang lebih abad ke-7 sampai abad ke-8 M ) langsung dari Arab dengan bukti jalur pelayaran yang ramai dan bersifat internasional sudah dimulai jauh sebelum abad ke-13. Jalur pelayaran ini melaui selat Malaka yang menghubungkan dengan Dinasti Tang di Cina ( Asia Timur ). Sriwijaya di Asia Tenggara dan Bani Umayah di Asia Barat.
  3.  Sarjana muslim kontemporer seperti Taufiq Abdullah mengkompromikan kedua pendapat tersebut. Menurut pendapatnya  memang benar Islam sudah datang ke Indonesia sejak abad pertama Hijriyah atau abad ke-7 atau abad ke-8 M, tetapi baru di anut oleh para pedagang Timur Tengah di pelabuhan-pelabuhan. Barulah pada abad ke-13 Islam masuk secara besar-besaran dan mempunyai kekuatan politik dengan berdirinya kerajaan Samudera Pasai. Hal ini terjadi karena akibat arus balik kehancuran Baghdad, ibukota Abasiyyah oleh Halugu. Kehancuran Baghdag menyebabkan pedagang muslim mengalihkan aktivitas perdagangan ke Asia Selatan, Asia Timur dan Asia Tenggara.

Bersamaan dengan para pedagang, datang pula da’i-da’i dan musafir-musafir sufi.  Melalui jalur pelayaran itu pula mereka dapat berhubungan dengan pedagang dari negeri-negeri di ketiga bagian benua Asia tersebut. Hal ini memungkinkan terjadinya hubungan timbal balik sehingga terbentuklah perkampungan masyarakat muslim. Pertumbuhan perkampungan ini semakin meluas sehingga perkampungan itu tidak hanya bersifat ekonomis tetapi embentuk struktur pemerintahan.[3]

Mengenai perbedaan pendapat mengenai asal-usul Islam di Indonesia, telah menyita banyak perhatian sejarawan. Tetapi sejauh itu dipergunakan untuk mencari asal-usul Islam di Indonesia hampir semua teori yang kemudian dikenal dengan teori Gujarat dan teori Arab yang menegaskan masing-masing sebagai hal yang paling benar. Tetapi sebenarnya keduanya mempunyai pengaruh yang sama besarnya. Untuk penjelasan teori-teori ini dapat dilacak dalam beberapa buku. Misalnya T.W Arnold, The Preaching of Islam : A History of  The Propagation of The Muslim Faith. ( Lahore : SA Muhammad Asraf,1968 ). Hlm : 369-371.[4]

Sedangkan menurut Ahmad Mansur Suryanegara dalam bukunya yang berjudul “ Menemukan Sejarah” mengenai proses masuk dan berkembangnya agama  Islam di Indonesia terdapat tiga teori yaitu : teori Gujarat, teori Mekkah dan teori Persia. Ketiga teori tersebut memberikan jawaban tentang permasalahan waktu masuknya Islam ke Indonesia. Asal negara dan tentang penyebar atau pembawa agama Islam ke Nusantara.[5]

Ketiga teori tersebut, pada dasarnya masing-masing mempunyai kebenaran dan kelemahannya tetapiberdasarkan teori tersebut dapatlah disimpulkan bahwa Islam masuk ke Indonesia dengan jalan damai pada abad ke-7 dan mengalami perkembangn pada abad ke-13 M. sebagai pemegang peranan dalam penyebaran agama Islam adalah bangsa Arab,Persia dan Gujarat ( India ).

B.    Proses Masuknya Islam Ke Indonesia.

 Mengenai proses masuknya Islam ke Indonesia petama kali ialah melalui lapisan bawah, yakni masyarakat sepanjang pesisir utara. Dalam hal ini yang membawa dan memperkenalkan Islam kepada masyarakat Indonesia adalah para saudagar-saudagar muslim baik dari Gujarat maupun dari Arab dengan cara berdagang. Dari hubungan berdagang inilah akhirnya mereka saling mengenal dan terjadilah hubungan yang dinamis diantara mereka. Mereka tidak semata-mata berdagang saja tetapi mereka juga berdakwah menyebarkan agama Islam melalui beberapa cara dan saluran yang akan di bahas pada pembahasan berikutnya.

Pada mulanya proses penyebaran agama Islam masih terbatas pada daerah-daerah pesisir pantai, namun sejak abad ke- 15 kota-kota di dekat pantai baik di Jawa, Sumatera maupun daerah-daerah lainnya berubah menjadi wilayah yang berpenduduk muslim. Dari uraian di atas jelaslah bahwa masuknya Islam ke Indonesia melalui dua jalur, yaitu jalur darat dan jalur laut.[6]

Melalui jalur darat Islam di bawa dari Mekkah melalui Baghdad-Kabul-Kashmir, lalu singgah di Siangkiang diteruskan ke Malaka melalui  daerah pesisir. Sedangkan melalui jalur laut mula-mula Islam disebarkan dari Jeddah menuju Aden ( sekarang Yaman ) terus ke Maskat dan Baisut ( keduanya termasuk daerah Oman ). Dari Oman kemudian ke pantai Malabar terus ke Kodonggalor, Qulam Nali ( Qutan ) dan Kalian, kemudian ke negeri Cyilon dan melalui pantai koromandel ( India )  menuju Saptagrum ( dekat Kalkuta ), menuju Chittagong ( Bangladesh ) dan Akhjab ( Birma ) kemudian dari Birma akhirnya Islam sampai ke Nusantara melalui dua jalur yaitu :

  1. Melaui Malaka, Patani, kanton ( Cina Selatan ), Brunai dan akhirnya sampai di kepulauan Mindanau.
  2. Peurelak, Samudera Pasai, Kuta raja, Lamuo, Barus, Padang, Banten, Jepara, gresik, ujung Pandang, ternate dan Tidore.

C.    Cara Dan Saluran Islamisasi Di Indonesia.

 Kedatangan Islam dan penyebarannya kepada golongan bangsawan dan rakyat Indonesia pada umumnya dilakukan secara damai. Berbeda dengan penyebaran Islam di Timur Tengah yang dalam beberapa kasus disertai dengan pendudukan wilayah oleh militer Muslim. Islam dalam batas tertentu disebarkan oleh para pedagang, kemudian di lanjutkan oleh para guru agama ( Da’i ) dan pengembara Sufi. Orang yang terlibat dalam kegiatan dakwah pertama itu tidak bertendensi apapun kecuali bertanggung jawab menunaikan kewajiban tanpa pamrih.

Apabila situasi politik suatu kerajaan mengalami kekacauan dan kelemahan yang disebabkan perebutan kekuasaan di kalangan keluarga istana, maka Islam dijadikan alat politik bagi golongan bangsawan atau pihak-pihak yang menghendaki kekuasaan itu. Mereka behubungan dengan pedagang-pedagang muslim yang posisi ekonominya lebih kuat karena menguasai pelayaran dan perdagangan. Apabila kerajaan Islam sudah berdiri, penguasanya melancarkan perang terhadap kerajaan non Islam. Hal ini bukan karena persoalan agama tetapi karena dorongan politis untuk menguasai kerajaan-kerajaan di sekitarnya.[7]

Menurut Uka Tjandrasasmita, saluran – saluran islamisasi yang berkembang di Indonesia melalui enam cara, yaitu :

1. Saluran Perdagangan.

Pada taraf permulaan, saluran islamisasi adalah melalui perdagangan, kesibukan lalu lintas perdagangan pada abad ke-7 hingga ke-16 M. membuat pedagang-pedagang muslim ( Arab, persia, dan India ) turut ambil bagian dalam perdagangan dari negeri-negeri bagian barat, tenggara dan timur benua Asia. Saluran islamisasi melalui perdagangan ini sangat menguntungkan karena para raja dan bangsawan turut serta dalam kegiatan perdagangan, bahkan mereka menjadi pemilik kapal dan saham.

2. Saluran Perkawinan.

Dari sudut ekonomi, para pedagang muslim memiliki status sosial yang lebih tinggi dan baik daripada kebanyakan masyarakat pribumi, sehingga penduduk pribumi, terutama putri-putri bangsawan tertarik untuk menjadi istri-istri saudagar-saudagar tersebut. Sebelum menikah mereka di islamkan lebih dahulu. Setelah mereka mempunyai keturunan lingkungan mereka semakin meluas dan akhirnya muncul kampung-kampung, daerah-daerah dan kerajaan-kerajaan muslim. Jalur perkawinan ini lebih menguntungkan dan lebih cepat dalam penyebaran agama Islam karena apabila terjadi perkawinan antara anak bangsawan atau anak raja dan adipati, karena mereka adalah orang – orang yang mempunyai kekuasaan dan pengaruh dalam masyarakat dan kemudian turut mempercepat proses islamisasi.

3. Saluran Tasawuf.

Pengajar-pengajar tasawuf, atau para sufi, mengajarkan teosofi yang bercampur dengan ajaran yang sudah dikenal luas oleh masyarakat Indonesia. Mereka mahir dalam soal-soal magis dan mempunyai kekuatan-kekuatan menyembuhkan. Di antara mereka ada yang mengawini puteri  – puteri bangsawan setempat. Dengan tasawuf bentuk Islam yang di ajarkan kepada penduduk pribumi mempunyai persamaan dengan alam pikiran mereka yang sebelumnya menganut agama Hindu, sehingga agama baru tersebut mudah dimengerti dan diterima. Ajaran mistik ini masih berkembang di abad ke- 19 bahkan di abad ke-20 M ini.

4. Saluran Pendidikan.

Islamisasi juga dilakukan melalui pendidikan, baik pesantren maupun pondok yang digunakan dan diselenggarakan oleh guru-guru agama, kiyai-kiyai dan ulama’-ulama’. Di pesantren atau pondok itu calon ulama’, guru, dan kiyai mendapat pendidikan agama. Setelah keluar dari pesantren, mereka pulang ke kampung masing-masingatau berdakwah ke tempat tertentu untuk mengajarkan agama Islam.

5. Saluran Kesenian.

Saluran islamisasi melalui kesenian yang paling terkenal adalah pertunjukan wayang . dikatakan, Sunan Kalijaga adalah tokoh paling mahir dalam mementaskan wayang. Dia tidak pernah meminta upah pertunjukan tetapi ia meminta para penonton untuk mengikuti mengucapkan kalimat syahadat. Sebagian besar cerita wayang masih dipetik dari cerita Mahabharata dan Ramayana, tetapidi dalam cerita itu disisipkan ajaran dan nama-nama pahlawan islam. Kesenian-kesenian lain juga dijadikan alat islamisasi, seperti sastera ( hikayat, babad dan sebagainya ), seni bangunan dan seni ukir.

6. Saluran Politik.

Di beberapa daerah di Indonesia kebanyakan rakyat masuk Islam setelah penguasa atau rajanya masuk Islam terlebih dahulu. Pengaruh politik para raja dan penguasa sangat membantu tersebarnya Islam di nusantara ini. Di samping itu kerajaan-kerajaan yang sudah memeluk agama Islam memerangi kerajaan-kerajaan non Islam. Kemenangan kerajaan Islam secara politis menarik penduduk kerajaan bukan Islam itu masuk Islam.[8]

  

III.                KESIMPULAN.

  Dari pembahasan mengenai masuknya Islam ke Indonesia dapat kita simpulkan bahwa :

  • Ada beberapa pendapat yang mengatakan bahwa Islam masuk ke Indonesia  pada abad pertama Hijriyah ( abad ke-7 sampai abad ke-8 M ). Sedangkan pendapat yang lainnya mengatakan pada abad ke- 13.
  •  Mengenai pembawa dan penyiar Islam juga terjadi perbedan pendapat, ada yang mengatakan dari Arab dan ada juga yang mengatakan dari Gujarat.
  •  Mengenai proses masuknya Islam ke Indonesia petama kali ialah melalui lapisan bawah, yakni masyarakat sepanjang pesisir utara. Dalam hal ini yang membawa dan memperkenalkan Islam kepada masyarakat Indonesia adalah para saudagar-saudagar muslim baik dari Gujarat maupun dari Arab dengan cara berdagang dan jalurnya melalui jalur darat dan melalui jalur laut.
  • Saluran – saluran islamisasi yang berkembang di Indonesia melalui enam cara, yaitu :
  1. Saluran Perdagangan.
  2.  Saluran Perkawinan.
  3. Saluran Tasawuf.
  4. Saluran Pendidikan.
  5. Saluran Kesenian.
  6. Saluran Politik.

DAFTAR PUSTAKA

 

Harun, Yahya M. Drs. Sejarah Masuknya Islam di Indonesia. Kurnia Kalam Semesta. Jakarta. 1999.

  Mansur Suryanegara, Ahmad. Menemukan Sejarah – Wacana Pergerakan Islam Di Indonesia. Mizan. Jakarta. 1996

 Ridwan, Nur Kholik. Islam Borjuis dan Islam Proletar. Galang Press. Yogyakarta. 2001.

 Syukur, Fatah NC. Drs. H M.Ag. Sejarah Peradaban Islam. Fakultas Tarbiyah, IAIN WaliSongo. Semarang. 2008. Cet I.

 Sunarto, Musyrifah. Sejarah peradaban Islam Indonesia. PT. Grafindo Persada. Jakarta. 2005.

 Yatim,  Badri. Dr. M.A. Sejarah Peradaban Islam. PT.RajaGrafindo Persada. Jakarta. 2000. Cet X.

 Zuhairini, Dra. dan Kawan-Kawan. Sejarah Pendidikan Islam. Dirjen Binbaga. Jakarta. 1986.


[1] Dra Zuhairini dan Kawan-Kawan. Sejarah Pendidikan Islam. Dirjen Binbaga. Jakarta. 1986. hlm : 125-126.

[2] Drs. H. Fatah Syukur NC, M.Ag. Sejarah Peradaban Islam. Fakultas Tarbiyah IAIN WaliSongo. Semarang. 2008. Cet I. hlm : 31-32.

[3] Musyrifah Sunarto. Sejarah peradaban Islam Indonesia. PT. Grafindo Persada. Jakarta. 2005 hlm : 10-13.

[4] Nur Kholik Ridwan. Islam Borjuis dan Islam Proletar. Galang Press. Yogyakarta.2001. hlm : 24.

[5] Ahmad Mansur Suryanegara. Menemukan Sejarah - Wacana Pergerakan Islam Di Indonesia. Mizan. Jakarta. 1996. hlm : 24.

[6] Drs. M. Yahya Harun. Sejarah Masuknya Islam di Indonesia. Kurnia Kalam Semesta. Jakarta. 1999. hlm : 3.

[7] Drs. H. Fatah Syukur NC, M.Ag. Op-Cit. hlm : 36.

[8] Dr. Badri Yatim, M.A. Sejarah Peradaban Islam. PT.RajaGrafindo Persada. Jakarta. 2000. Cet X.  hlm : 201-203.

About these ads

About iroelizzta

santai tapi pasti

Posted on 7 April 2012, in sejarah peradaban islam. Bookmark the permalink. Tinggalkan komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: